Anda di halaman 1dari 18

1.

Sumber Daya Mineral


Sumber daya mineral (mineral resource) adalah endapan mineral yang
diharapkan dapatdimanfaatkan secara nyata. Sumber daya mineral dengan keyakinan
geologi tertentu dapat berubah menjadi cadangan setelah dilakukan pengkajian
kelayakan tambang dan memenuhi kriteria layak tambang. (SNI). Termasuk
sumberdaya yang tidak dapat diperbaharui lagi, sehingga pada suatu saat sumberdaya
tersebut tidak akan ada lagi di bumi jika terus menerus digunakan.
Cadangan adalah endapan mineral yang telah diketahui ukuran, bentuk,
sebaran, kuantitas dan kualitasnya dan yang secara ekonomis, teknis, hukum,
lingkungan dan sosial dapat ditambang pada saat perhitungan dilakukan. (SNI)
Sumberdaya mineral merupakan sumber yang sangat penting dalam menopang
perekonomian Indonesia, terutama minyak dan gas bumi yang pernah menjadi pilar
utama perekonomian Pemerintah. Dalam skala global, mineral khususnya penghasil
energi utama; umumnya berperan strategis dalam menentukan peta perpolitikan dunia.
Sumberdaya mineral memiliki nilai berbeda diwaktu yang berbeda, dan nilai tambah
yang berbeda pula sesuai proses pengolahannya.

2. Jenis Bahan Galian


Didalam Undang-Undang pertambangan terbaru (revisi dari Peraturan
Pemerintah Nomor 25 Tahun 1964 tentang Penggolongan Bahan-bahan Galian
(Lembaran Negara Tahun 1964 Nomor 57)). Penggolongan bahan galian tambang
dimuat dalam PP nomor 27 tahun 1980 mengenai pembagian Bahan-bahan galian
(pasal 1)
Bahan galian di Indonesia dibagi menjadi 3 golongan sabagai berikut.
a. Bahan Galian Strategis
adalah bahan galian yang mempunyai peranan penting untuk strategis untuk
pertahanan dan Keamanan serta perekonomian negara contohnya :
- minyak bumi, bitumen cair, lilin bumi, gas alam;
- bitumen padat, aspal;
- antrasit, batubara, batubara muda;
- uranium, radium, thorium dan bahan-bahan galian radioaktip lainnya;
- nikel, kobalt;
- timah.
b. Bahan Galian Vital
Artinya bahan galian yang dapat menjamin hajat hidup orang banyak. Berikut
yang termasuk bahan galian vital adalah:
- besi, mangan, molibden, khrom, wolfram, vanadium, titan;
- bauksit, tembaga, timbal, seng;
- emas, platina, perak, air raksa, intan;
- arsin, antimon, bismut;
- yttrium, rhutenium, cerium dan logam-logam langka lainnya;
- berillium, korundum, zirkon, kristal kwarsa;
- kriolit, fluorpar, barit;
- yodium, brom, khlor, belerang;

c. Bahan Galian Yang Tidak Termasuk Golongan Strategis atau Vital


Penggolongan ini berdasarkan sifat bahan galian yang tidak langsung memerlukan
pasaran yang bersifat internasional. Berikut contoh bahan galian yang tidak
termasuk golongan strategis atau vital :
- nitrat-nitrat, pospat-pospat, garam batu (halite);
- asbes, talk, mika, grafit, magnesit;
- yarosit, leusit, tawas (alum), oker;
- batu permata, batu setengah permata;
- pasir kwarsa, kaolin, feldspar, gips, bentonit;
- batu apung, tras, obsidian, perlit, tanah diatome, tanah serap (fullers earth);
- marmer, batu tulis;
- batu kapur, dolomit, kalsit;
- granit, andesit, basal, trakhit, tanah liat, dan pasir sepanjang tidak mengandung
unsur-unsur mineral golongan a amupun golongan b dalam jumlah yang berarti
ditinjau dari segi ekonomi pertambangan.

3. Kebijakan Pengelolaan Sumberdaya Mineral di Indonesia


Peraturan perundangan yang mengatur pengelolaan sumberdaya alam mineral
telah cukup lengkap untuk dapat menjalankan wewenang yang diberikan kepada
Daerah dalam rangka UU No. 22 tahun 1999. Pengaturan meliputi berbagai aspek
pengelolaan, baik berkaitan dengan pemberian perizinan kuasa pertambangan kepada
pihak pemohon dalam negeri, maupun dari luar negeri dalam bentuk Kontrak Karya.
Persyaratan mengenai pertambangan rakyat dinyatakan dengan jelas, baik dalam UU
No. 11 tahun 1967 maupun dalam peraturan pelaksanaannya.
Setiap Daerah mempunyai kekayaan sumberdaya mineral dengan macam dan
ukuran yang berbeda. Jalur-jalur mineralisasi, penyebaran cekungan, penyebaran
batuan gunung api dan batuan sedimen yang menghasilkan berbagai mineral industri
telah diketahui secara umum.
Masalah dampak lingkungan hidup merupakan bagian yang melekat dalam
kegiatan industri eksploitasi sumberdaya mineral. Masalah ini berkaitan erat dengan
peningkatan kualitas hidup. Masyarakat sekitar pertambangan akan merasakan dampak
lingkungan yang timbul karena kegiatan pertambangan baik yang positif maupun yang
negatif. Kegiatan pertambangan pada umumnya dilakukan di daerah yang terpencil,
yang sejak semula relatif tenang akan terjadi peningkatan kualitas hidup sangat
mungkin terjadi dengan adanya kegiatan pertambangan. Program peningkatan kualitas
lingkungan hidup harus mencakup aspek yang lebih luas, yaitu disamping menangani
masalah lingkungan, juga harus mengupayakan agar harapan masyarakat untuk
memperoleh peningkatan kualitas kehidupan direalisasikan.

4. Pengendalian Limbah Pertambangan


Perkembangan teknologi pengolahan menyebabkan ekstraksi bijih kadar rendah
menjadi lebih ekonomis, sehingga semakin luas dan dalam lapisan bumi yang harus di
gali. Hal ini menyebabkan kegiatan tambang menimbulkan dampak lingkungan yang
sangat besar dan bersifat penting. US-EPA (1995) telah melakukan studi tentang
pengaruh kegiatan pertambangan terhadap kerusakan lingkungan dan kesehatan
manusia pada 66 kegiatan pertambangan. Hasil studi disarikan pada t abel 1
dan terlihat bahwa pencemaran air permukaan dan air tanah merupakan
dampak lingkungan yang sering terjadi akibat kegiatan tersebut

Tabel 1. Frekuensi terjadinya dampak lingkungan dari kegiatan pertambangan

Jenis Dampak Persen Kejadian


Pencemaran air permukaan 70
Pencemaran air tanah 65
Pencemaran tanah 50
Pencemaran manusia 35
Pencemaran flora fauna 25
Pencemaran Udara 20
Tidak termasuk pencemaran oleh emisi gas buang yang keluar dari alat
pengendali pencemaran udara (USEPA,1995)

Dalam PP 18 tahun 1999 ,PP 85 tahun 1999 disebutkan bahwa penghasil


limbah B3 wajib mengelola limbah B3 yang dihasilkan, baik dengan memberikannya
pada pengelola atau melakukan pengelolaan secara mandiri.
Pengendalian polusi dari pembuangan tailing selama proses operasi harus
memperhatikan pencegahan timbulnya rembesan, pengolahan fraksi cair tailing,
pencegahan erosi oleh angin, dan mencegah pengaruhnya terhadap hewan-hewan
liar.Isu-isu penting yang perludipertimbangkan dalam evaluasi alternatif pembuangan
tailing meliputi :
Karakteristik geokimia area yang akan digunakan sebagai tempat
penimbunantailing dan potensi migrasi lindian dari tailing.
Daerah rawan gempa atau bencana alam lainnya yang mempengaruhi
keamanan lokasi dan desain teknis.
Konflik penggunaan lahan terhadap perlindungan ekologi peninggalan
budaya,pertanian serta kepentingan lain seperti perlindungan terhadap ternak,
binatang liar dan penduduk lokal.
Karakteristik kimia pasir, lumpur, genangan air dan kebutuhan
untuk pengolahannya.
Reklamasi Pasca Tambang
Mengingat besarnya dampak yang disebabkan oleh aktifitas tambang,
diperlukanupaya-upaya pengelolaan yang terencana dan terukur. Pengelolaan
lingkungan di sektorpertambangan biasanya menganut prinsipBest Management
Practice.
US EPA ( 1995) merekomendasikan beberapa upaya yang dapatdigunakan sebagai upaya
pengendaliandampak kegiatan tambang terhadap sumberdaya air,vegetasi dan hewan
liar. Beberapaupaya pengendalian tersebut adalah :
Menggunakan struktur penahan sedimen untuk meminimalkan
jumlah sedimenyang keluar dari lokasi penambangan.
Mengembangkan rencana sistim pengedalian tumpahan untuk
meminimalkanmasuknya bahan B3 ke badan air.
Hindari kegiatan konstruksi selama dalam tahap kritis.
Mengurangi kemungkinan terjadinya keracunan akibat sia nida
terhadap burung dan hewan liar dengan menetralisasi sianida di kolam
pengendapan tailing atau denganmemasang pagar dan jaring untukmencegah hewan
liar masuk kedalam kolampengendapan tailing.
Minimalisasi penggunaan pagar atau pembatas lainnya yang
menghalangi jalurmigrasi hewan liar. Jika penggunaan pagar tidak dapat
dihindari gunakanterowongan, pintu-pintu, dan jembatan penyeberangan bagi
hewan liar.
Hal-hal pokok yang perlu mendapatkan perhatian di dalam hal menentukan besar dan
pentingnya dampak lingkungan pada kegiatan ekstraksi dan pembuangan limbah agar
sejalan dengan upaya reklamasi adalah:
- Luas dan kedalaman zona mineralisasi
- Jumlah batuan yang akan ditambang dan yang akan dibuang yang akan
menentukan lokasi dan desain penempatan limbah batuan.
- Kemungkinan sifat racun limbah batuan
- Potensi terjadinya air asam tambang
- Dampak terhadap kesehatan dan keselamatan yang berkaitan dengan
kegiatan transportasi,
- penyimpanan dan penggunaan bahan peledak dan bahan kimia racun,
bahan radio aktif di
- kawasan penambangan dan gangguan pernapasan akibat pengaruh debu.
- Sifat-sifat geoteknik batuan dan kemungkinan untuk penggunaannya untuk
konstruksi sipil (seperti untuk landscaping, dam tailing, atau lapisan lempung
untuk pelapis tempat pembuangan tailing).
- Pengelolaan (penampungan, pengendalian dan pembuangan) lumpur (untuk
pembuangan
- overburden yang berasal dari system penambangan dredging dan semprot).
- Kerusakan bentang lahan dan keruntuhan akibat penambangan bawah tanah.
- Terlepasnya gas methan dari tambang batubara bawah tanah.
5. Tahapan Pengolahan Lahan Pasca Tambang
Umumnya treatment/pemulihan terhadap lahan bekas tambang memiliki
beberapa metode yang berbeda tergantung jenis bahan galian yang ditambang. Salah
satu metode yang sering dilakuakan adalah reklamasi. Reklamasi adalah usaha yang
bertujuan untuk memperbaiki atau menata Kegunaan lahan yang terganggu sebagai
akibat kegiatan usaha pertambangan agar dapat berfungsi optimal dan berdayaguna
sesuai dengan peruntukannya. (Permen ESDM No. 18 tahun 2008 tentang Reklamasi
dan Penutupan Tambang).
Tujuan jangka pendek rehabilitasi adalah membentuk bentang alam
(landscape) yang stabil terhadap erosi. Selain itu rehabilitasi juga bertujuan untuk
mengembalikan lokasi tambang ke kondisi yang memungkinkan untuk digunakan
sebagai lahan produktif. Bentuk lahan produktifyang akan dicapai menyesuaiakan
dengan tataguna lahan pasca tambang. Penentuan tataguna lahanpasca tambang
sangat tergantung pada berbagai faktor antara lain potensi ekologis lokasi
tambang dan keinginan masyarakat serta pemerintah. Bekaslokasi tambang yang
telah direhabilitasi harus dipertahankan agar tetap terintegrasi dengan ekosistem
bentang alam sekitarnya.
Tahapan Pengelolaan lahan bekas tambang diantaranya
1.Rekonstruksi tanah
Pada kegiatan ini, lahanyang masih belum rata harus terlebih dahulu
ditatadengan penimbunan kembali (back filling) dengan memperhatikan
jenis dan asal bahan urugan,ketebalan, dan ada tidaknya sistem aliran
air(drainase) yang kemungkinan terganggu. Pengembalian bahan galian ke
asalnya diupayakan mendekati keadaan aslinya. Lereng dari bekas tambang
dibuat bentuk teras, selain untuk menjaga kestabilan lereng, diperuntukan
juga bagi penempatan tanaman revegetasi (Gambar 2 )
Gambar 2. Skema bentuk teras kebun dan guludan (KPP Konservasi, 2006)

Gambar 3. Pengurugan kembali bekas tambang emas di Wetar (Foto koleksi R. Hutamadi)

2. Revegetasi
Kendala yang dijumpai dalam merestorasi lahan bekas tambang yaitu masalah
fisik, kimia (nutrients dan toxicity), dan biologi. Masalah fisik tana mencakup
tekstur dan struktur tanah. Masalah kimia tanah berhubungan dengan reaksi tanah
(pH), kekurangan unsur hara, dan mineral toxicity. Untuk mengatasi pH yang
rendah dapat dilakukan dengan cara penambahan kapur. Sedangkan kendala
biologi seperti tidak adanya penutupan vegetasi dan tidak adanya
mikroorganisme potensial dapat diatasi dengan perbaikan kondisi tanah,
pemilihan jenis pohon, dan pemanfaatan mikroriza. Dalam pemilihan jenis
vegetasi yang ditanam diperlukan pemilihan spesies yang cocok dengan kondisi
setempat,terutama untuk jenis-jenis yang cepat tumbuh contoh cemara laut
untuk kawasan dekat pantai, Penanaman karet pada lahan reklamasi tambang
timah. sengon, yang telah terbukti adaptif untuk tambang. Perkembangan
harga minyak bumi akhir-akhir ini, memberikan peluang untuk
pengembangan bio-energi,diantaranya dengan pengembangan tanaman jarak
pagar untuk menghasilkan minyak. Kelebihan jarak pagar adalah selain mampu
mereklamasi bekas lahan tambang dalam waktu singkat, tanaman ini juga
menghasilkan sumberenergi terbarukan biodisel (Soesilo, 2007 dalam Ridwan,
2007).

Gambar 4. Revegetasi lahan bekas tambang batubara menggunakan tanaman jarak (PT. Berau
Coal, 2007)

Gambar 5 Bimbingan Pembuatan Kompos Reklamasi

3. Penanganan Potensi Air Asam Tambang


Secara kimia kecepatan pembentukan asam tergantung pada pH, suhu, kadar
oksigen udara dan air, kejenuhan air, aktifitas kimia Fe3+, dan luas
permukaan dari mineral sulfida yang terpapar pada udara. Sementara kondisi
fisika yang mempengaruhi kecepatan pembentukan asam, yaitu cuaca,
permeabilitas dari batuan, pori-pori batuan, tekanan air pori, dan kondisi
hidrologi. Penanganan air asam tambang dapat dilakukan dengan mencegah
pembentukannya dan menetralisir air asam yang tidak terhindarkan terbentuk.
Pencegahan pembentukan air asam tambang dengan melokalisir sebaran
mineral sulfide sebagai bahan potensial pembentuk air asam dan
menghindarkan agar tidak terpapar pada udara bebas. Sebaran sulfida
ditutup dengan bahan impermeable antara lain lempung, serta dihindari
terjadinya proses pelarutan, baik oleh air permukaan maupun air tanah. Produksi
air asam sulit untuk dihentikan sama sekali, akan tetapi dapat ditangani
untuk mencegah dampak negatif terhadap lingkungan. Air asam diolah pada
instalasi pengolah untuk menghasilkan keluaran air yang aman untuk
dibuang ke dalam badan air. Penanganan dapatdilakukan juga dengan
bahan penetral, umumnyamenggunakan batugamping, yaitu air asam dialirkan
melewati bahan penetral untuk menurunkan tingkat keasaman (Suprapto,
2006).

4. Pengaturan Drainase
Drainase pada lingkungan pasca tambang dikelola secara seksama untuk
menghindari efek pelarutan sulfida logam dan bencana banjir yang sangat
berbahaya, dapat menyebabkan rusak atau jebolnya bendungan penampung
tailing serta infrastruktur lainnya. Kapasitas drainase harus memperhitungkan
iklim dalam jangka panjang, cura hujan maksimum, serta banjir besar yang biasa
terjadi dalam kurun waktu tertentu baik periode waktu jangka panjang maupun
pendek. Arah aliran yang tidak terhindarkan harus meleweti zona
mengandung sulfida logam, perlu pelapisan pada badan alur drainase
menggunakan bahan impermeabel. Hal ini untuk menghindarkan pelarutan
sulfida logam yang potensial menghasilkan air asam tambang (Gambar 6).

Gambar 6. Penanganan drainase lahan bekas tambang emas Mesel, Minahasa,


Sulawesi Utara (Tain dkk.,2003)
6. Alih Fungsi Tata Guna Lahan
Lahan bekas tambang tidak selalu dekembalikan ke peruntukan semula. Hal ini
tertgantung pada penetapan tata guna lahan wilayah tersebut. Pekembangan suatu
wilayah menghendaki ketersediaan lahan baru yang dapat dipergunakan untuk
pengembangan pemukiman atau kota. Lahan bekas tambang bauksit sebagai salah
satu contoh, telah diperuntukkan bagi pengembangan kota
Tanjungpinang (Gambar 5). Selain itu ada beberapa contoh pengaliahan alai fungsi
lahan seperti budidaya ikan (tambak) ,lahan peternakan sapi, argo wisata dan
sebagainya yang tentunya setelah melewati tahap uji kelayakan lingkungan

Gambar 7. Reklamasi lahan bekas tambang bauksit untuk pemukiman dan pengembangan
kota, Tanjungpinang, Bintan (Rohmana dkk., 2007)

Gambar 8 Pemanfaatan lahan bekas tambang untuk menaikkan ekonomi masyarakat berupa
pembuatan tambak ikan dan pertanian
Gambar 9 rehabilitasi kegiatan penambangan timah di laut penanaman treumbu karang buatan

7. Pengolahan Bahan Galian Sisa (Tailling )


Reklamasi lahan bekas tambang harus mempertimbangkan potensi bahan galian
yang masih ada. Baik bahan galian utama yang karena kualitas atau kadarnya
belum mempunyai nilai ekonomi, bahan galian lain diluar yang diusahakan serta
komoditas bahan galian yang masihterkandung pada tailing.

Gambar 10. Pasir kuarsa, merupakan tailing tambang kaolin (Widhiyatna dkk., 2006)

Pada pasca tambang, kegiatan yang utama dalam merehabalitisai lahan


yaitu mengupayakanagar menjadi ekosistem yang berfungsi optimal atau menjadi
ekosistem yang lebih baik. Reklamasi lahan dilakukan dengan mengurug kembali
lubangtambang serta melapisinya dengan tanah pucuk, dan revegetasi lahan
serta diikuti denganpengaturan drainase dan penanganan/pencegahanair asam
tambang.Penataan lahan bekas tambang disesuaikan dengan penetapan tataruang
wilayah bekastambang. Lahan bekas tambang dapat difungsikan menjadi kawasan
lindung ataupun budidaya. Lahan pasca tambang memerlukanpenanganan yang
dapat menjamin perlindungan terhadap lingkungan, khsususnya potensi timbulnya
air asam tambang, yaitu dengan mengupayakan batuan mengandung sulfida
tidak terpapar padaudara bebas, serta dengan mengatur drainase.
Bahan galian yang mengandung komoditas masih mempunyai peluang
untuk menjadi ekonomisperlu penanganan dan penyimpanan yang baik agar tidak
turun nilai ekonominya, serta apabila diusahakan dapat digali dengan mudah.
Diupayakan agar tidak ada bahan tambang ekonomis yang masih tertinggal. Hal
ini terutamabahan galian yang potensial mengundang masyarakat atau PETI untuk
memanfaatkannya,sehingga akan mengganggu proses reklamasi,maka perlu
disterilkan terlebih dahulu denganmenambang dan mengolahnya.

8. Pengolahan Limbah yang Berasal dari Eksploitasi Emas


Banyak alternatif yang dapat digunakan untuk mengolah limbah yang
mengandung logam berat kususnya mercury diantaranya ialah dengan teknologi Low
Temperature Thermal Desorption (LTTD) atau dengan teknologi Phytoremediation.
Pada sistem thermal desorption, material diuraikan pada suhu rendah (< 300
o
C) dengan pemanasan tidak langsung serta kondisi tekanan udara yang rendah
(vakum). Dengan kondisi tersebut material akan lebih mudah diuapkan dibandingkan
dalam tekanan tinggi. Jadi dalam sistem ini yang terjadi adalah proses fisika tidak ada
reaksi kimia seperti misalnya reaksi oksidasi. Cara ini sangat efektif untuk
memisahkan bahan-bahan organik yang mudah menguap misalnya, (volatile organic
compounds/VOCs), semi-volatile organiccompounds (SVOCs), (poly aromatic
hydrocarbon/PAHs), (poly chlorinated biphenyl/PCBs), minyak, pestisida dan
beberapa logam Cadmium, Mercury Timbal serta non logam misal Arsen, Sulfur,
Chlor dan lain-lain. Material yang telah terpisah dalam bentuk uapnya akan lebih
mudah untuk dikumpulkan kembali dengan cara dikondensasikan, diadsorbsi
menggunakan filter, larutan atau media lain sehingga tidak tersebar kemana-mana.
Dengan sistem thermal desorption material yang berbahaya di pisahkan agar lebih
mudah untuk ditangani entah akan dibuang atau dimanfaatkan kembali, sedangkan
bahan-bahan organik yang sukar menguap akan terkarbonisasi menjadi arang.
Limbah padat yang mengandung polutan mercury dan arsen dimasukkan ke
dalam sistem LTTD, limbah akan mengalami pemanasan tidak langsung dengan
kondisi tekanan udara lebih kecil dari 1 atmosfer. Polutan mercury dan arsen akan
menguap (desorpsi), sedangkan limbah padat yang telah bersih dari polutan dapat
dibuang ke tempat penampungan. Kemudian uap polutan yang terbentuk dialirkan ke
dalam media pengabsorpsi (absorber). Untuk menangkap uap logam mercury dapat
digunakan butiran logam perak atau tembaga yang kemudian membentuk amalgam.
Sedangkan untuk menangkap ion-ion mercury dan arsen dapat digunakan larutan
hidroksida (OH- ) - )sulfida (S2--) yang akan mengendapkan ion-ion tersebut. Dalam
sistem ini perlu ditambahkan wet scrubber dan filter karbon untuk menangkap
partikulat dan gas-gas beracun yang mungkin terbentuk pada proses desorbsi.
Keunggulan sistem ini ialah prosesnya cepat dan biaya investasi peralatan dan
operasionalnya murah, unitnya dapat dibuat kecil sehingga dapat dibuat sistem yang
mobil.
Teknologi mengolah limbah dengan sistem Phytoremediasi, menggunakan
tanaman sebagai alat pengolah bahan pencemar. Pada limbah padat atau cair yang
akan diolah, ditanami dengan tanaman tertentu yang dapat menyerap, mengumpulkan,
mendegradasi bahan-bahan pencemar tertentu yang terdapat di dalam limbah tersebut.
Banyak istilah yang diberikan pada sistem ini sesuai dengan mekanisme yang terjadi
pada prosesnya. Misalnya : Phytostabilization, yaitu polutan distabilkan di dalam
tanah oleh pengaruh tanaman, Phytostimulation : akar tanaman menstimulasi
penghancuran polutan dengan bantuan bakteri rhizosphere, Phytodegradation, yaitu
tanaman mendegradasi polutan dengan atau tanpa menyimpannya di dalam daun,
batang atau akarnya untuk sementara waktu, Phytoextraction, yaitu polutan
terakumulasi di jaringan tanaman terutama daun, Phytovolatilization, yaitu polutan
oleh tanaman diubah menjadi senyawa yang mudah menguap sehingga dapat
dilepaskan ke udara, dan Rhizofiltration, yaitu polutan diambil dari air oleh akar
tanaman pada sistem hydroponic.
Proses remediasi polutan dari dalam tanah atau air terjadi karena jenis
tanaman tertentu dapat melepaskan zat carriers yang biasanya berupa senyawaan
kelat, protein, glukosida yang berfungsi mengikat zat polutan tertentu kemudian
dikumpulkan dijaringan tanaman misalnya pada daun atau akar. Keunggulan sistem
phytoremediasi diantaranya ialah biayanya murah dan dapat dikerjakan insitu, tetapi
kekurangannya diantaranya ialah perlu waktu yang lama dan diperlukan pupuk untuk
menjaga kesuburan tanaman, akar tanaman biasanya pendek sehingga tidak dapat
menjangkau bagian tanah yang dalam.
9. Studi Kasus tentang Dampak Eksploitasi Mineral
BENCANA PENCEMARAN TELUK BUYAT DI DESA BUYAT KABUPATEN
MINAHASA SELATAN PROVINSI SULAWESI UTARA

Teluk Buyat yang berada di Minahasa, Sulawesi Utara adalah lokasi


pembuangan limbah tailing atau lumpur sisa tambang PT Newmont Minahasa Raya
(NMR). Kelompok-kelompok sipil menuduh bahwa Newmont telah membuang 5,5
juta ton merkuri dan arsenik-sarat limbah ke teluk selama 8 tahun masa operasinya.
Newmont telah membantah tuduhan tetapi mengakui melepaskan 17 ton limbah
merkuri ke udara dan 16 ton ke dalam air selama lima tahun, jumlah yang dikatakan
jauh di bawah standar emisi di Indonesia.
Pada Tahun 1997 PT.NMR memasang alat pengolah bijih tambang yang
mengandung merkuri yang tinggi. Menurut Kepala Dinas Pertambangan Sulut, R.L.E
Mamesah, alat ini sengaja dipasang untuk menarik emas yang terbungkus mineral
lain, terutama merkuri yang memang sudah ada di alam. Proses ekstraksi emas pada
badan bijih yang ditambang menghasilkan limbah halus atau tailing. Metode
pelepasan emas ini menggunakan senyawa sianida. Adapun beberapa jenis logam
berat yang ikut terangkat dari perut bumi adalah Hg (merkuri), As (Arsen), Cd
(Cadmium), Pb (timah) dan emas itu sendiri. Dari proses pengolahan tersebut tentu
saja hanya bijih emas yang diambil, dan logam berat yang lain tentu saja dialirkan
menjadi limbah halus melalui pipa tailing ke Teluk Buyat.
Akhir Juli 1998 warga Buyat Pante dikejutkan dengan bocornya pipa limbah
PT NMR. Manajemen PT NMR hanya menjelaskan bahwa pipa limbah bawah laut
yang bocor itu pada sambungan flens di kedalaman 10 meter. Penyebabnya terjadi
penyumbatan saluran pipa pada 25 Juni dan 19 Agustus 1998 akibat kuatnya tekanan
air. Agar saluran dapat berfungsi dengan baik dan dibersihkan pipa limbah di isi
dengan air bor dan diberi tekanan udara. Kerugian yang di derita oleh perusahaan
yang diperkirakan USS 4,9 juta (Rp. 52 Miliar), namun tidak pernah menyentil
sama sekali apa akibat bocornya pipa tersebut terhadap kelangsungan kehidupan biota
laut dan manusia yang ada di sekeliling pipa bocor tersebut.
Hasil kajian kelayakan pembuangan limbah tailing ke Teluk Buyat yang
dilaksanakan oleh Pusat Infomasi Aktif Pendidikan Lingkungan Hidup dan
Universitas Sam Ratulangi tahun 1999 menyatakan Beberapa ancaman limbah
tambang yang dibuang ke dasar laut sebagai berikut:
(1) Limbah lumpur di dasar perairan akan memberikan dampak buruk bagi organisme
benthos dan jenis biota laut lainnya,
(2) Elemen kimia toksik seperti arsenic, cadmium, mercury, lead, nickel dan sianida
dapat merusak ekosistem laut. Lebih berbahaya elemen-lemen kimia yang bersifat
karsinogenik terakumulasi dalam rantai makanan yang akhirnya tiba pada manusia.
Penempatan limbah tailing di perairan Teluk Buyat telah mengakibatkan
perubahan bentuk bathimetri perairan Teluk Buyat, dimana dari hasil pengukuran
ketebalan sendimen diperoleh bahwa telah terjadi tumpukan deposisi limbah tailing
pada kedalaman 80-90 meter atau di sekitar Anus Pipa Buangan terdapat limbah
tailing setebal 10 meter. Limbah Tailing yang terdeposisi memenuhi hampir semua
tempat di dasar laut mulai dari kedalaman > 60 meter ini berarti telah terjadi selisih
kedalaman 10 meter. Tailing tidak membentuk tumpukan melainkan menyebar ke
tempat lain.
Perairan Teluk Buyat dalam kurun 1997 1999 yaitu dari 5 derajat (8,9%)
menjadi 2,2 derajat (3,8%) atau telah mengalami perubahan kemiringan lerengnya.
Melihat kemiringan bentang lahan perairan Teluk Buyat menunjukkan bahwa lokasi
tidak layak untuk dilewati pipa pembuangan limbah tailing memiliki kriteria
kemiringan sebesar 10-20 derajat.
Pipa pembuangan limbah tailing PT. NMR berada pada lapisan zona termoklin
yaitu 82 meter (tahun 2000 sudah menjadi 70 meter) memungkinkan untuk naiknya
partikel-partikel tailing serta ikutannya untuk mencemari area produktif perairan di
teluk Buyat. Ini dibuktikan dengan hasil pengukuran konsentrasi logam Arsen (As) di
sendimen di tiga lokasi yaitu: Teluk Totok, Teluk Buyat dan P. Kumeke-Kotabunan
sudah berada di di atas ambang batas Baku Mutu Air Laut untuk Biota Laut (budidaya
perikanan) Kep.02/MENKLH/1988 dimana nilai ambang batasnya adalah <0,01>.
Dengan berubahnya kemiringan bentang lahan di perairan di Teluk Buyat dan
melihat hasil pengukuran dengan logam Arsen di tiga lokasi pengambilan contoh air,
sedimen dan biota, mengindikasikan adanya transportasi partikel-partikel tailing pada
kedalaman 20 meter. Dan hasil pengukuran yang dilakukan pada 10 ekor ikan
diperoleh bahwa hati dan perut ikan adalah target organ yang mengakumulasi logam
Arsen tertinggi, yaitu sekitar 2,777-51,365 ppb, konsentrasi logam besi terakumulasi
paling banyak pada daging ikan yaitu sekitar 1,03 1,86 ppm sedangkan hati dan
perut ikan diperoleh konsentrasi logam besi sekitar 0,07 0,63 ppm. Dan basil
pengukuran konsentrasi logam berat (Arsen, Cadmium dan Merkuri) diperoleh bahwa
biota yang ditangkap dari perairan Teluk Buyat rata-rata sudah terkontaminasi oleh
ketiga logam berat tersebut. Air raksa (mercury), Cadmium (Cd), Arsen (As) adalah
jenis logam yang apabila terkonsumsi oleh manusia pada konsentrasi tertentu dapat
menimbulkan efek terhadap kesehatan.
Untuk mengetahui sejauh mana kontaminasi/pencemaran material B3
(khususnya Hg dan As) yang terkandung dalam Tailing PT NMR yang dibuang ke
laut, tahun 2000, Wahana Lingkungan Hidup (Walhi Sulut) melakukan pemeriksaan
laboratorium terhadap 20 orang warga Buyat Pante. Hasil pengukuran konsentrasi
arsenic dan mercury dalam darah 20 orang warga Buyat Pante oleh speciality
Laboratories dibawah tanggung jawab James B Peter MD PhD, diperoleh bahwa dari
20 orang yang diambil darahnya, 18 orang telah memiliki konsentrasi arsenic dalam
darah di atas reference range (>11,0 mcg/L) dan 1 orang memiliki konsentrasi arsenic
sama dengan 11 mcg/L Toxic range untuk arsen adalah <100>

Pembuangan limbah tailing ke laut


Tailing merupakan batuan dan tanah yang tersisa dari suatu proses ekstraksi
bijih logam, seperti bijih emas dan bijih tembaga. Tailing dihasilkan dalam jumlah
yang luar biasa besar dari segi volume, mengingat dalam satu ton tanah yang
mengandung bijih emas, hanya terdapat 0,001 ton emas murni. Dapat dibayangkan,
akan tersisa 0,999 ton tanah (yang dikenal sebagai tailing), serta membutuhkan
penanganan lanjut setelah kegiatan penambangan tersebut.
Tailing tidak hanya berisi tanah dan batuan, namun juga mengandung unsur-
unsur logam berat lainnya yang tidak ekonomis untuk diekstraksi dari kawasan
pertambangan tersebut, seperti aluminium (Al), antimony (Sb), dan timah (Sn).
Sesungguhnya logam-logam ini terdapat dalam jumlah yang sangat terbatas dan
rendah dalam tailing, namun volume tailing yang sangat besar menjadikan kuantitas
yang ada akan cukup besar, serta dapat memberikan dampak negatif jika dibuang
tanpa pengolahan yang tepat sebelumnya.
Merkuri dan arsen berasal dari bahan kimia yang ditambahkan selama proses
pengekstraksian bijih emas yang dilakukan. Senyawa arsenik digunakan sebagai
bahan tambahan untuk mengikat emas dengan lebih baik (senyawa amalgam) dalam
kadar yang lebih tinggi. Namun setelah emas terikat pada arsen, dilakukan proses
pemanggangan bijih emas yang terikat arsen.
Saat proses pemanggangan, arsen akan terlepas sebagai gas dan terjadi reduksi
konsentrasi arsen dalam bijih tersebut. Proses pengolahan gas buang hasil
pemanggangan dilakukan dengan penyemprotan (scrubbing) pada alat pengendali
pencemaran udara. Air yang berperan sebagai scrubber dalam proses tadi masih
membutuhkan penanganan lebih lanjut sebelum dibuang ke laut bersama sisa tailing
yang ada.
Senyawa merkuri juga digunakan sebagai senyawa amalgam untuk emas
(membantu pengikatan emas) dalam tailing yang akan diekstraksi. Tailing yang
mengandung bijih emas akan terikat bersama merkuri. Untuk mengurangi kadar
merkuri pada pengolahan tailing tersebut, umumnya dilakukan pemerasan dengan
menggunakan fabric filter. Merkuri sisa perasan yang tersisa dalam bentuk cair
tersebut, juga harus diolah lebih lanjut. Kandungan merkuri dan arsen yang terdapat
dalam tailing juga harus diperhatikan, mengingat recovery percentage dari arsen
maupun merkuri tidak akan pernah mencapai 100 %.
Pembuangan limbah tailing ke laut (Sub Marine Tailing Disposal) dimulai di
Teluk Buyat, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara pada bulan Maret 1996. Ketika
pertama kali tailing dialirkan ke kedalaman 82 meter dan jarak 900 meter tepi pantai,
beberapa perisitiwa yang merugikan masyarakat setempat terjadi. Rangkaian
peristiwa matinya ikan-ikan terjadi setelah Maret 1996 tailing (limbah lumpur
tambang) dialirkan ke laut. Penduduk juga melihat bahwa laut semakin keruh dan
ikan-ikan sulit didapat. Nener (benih bandeng) hilang dan ikan tangkapan sejak tahun
1997 tinggal 13 jenis ikan saja (hasil pemetaan partisipatif masyarakat dan Walhi
Sulut, 2000).
Mitigasi Dampak yang Ditimbulkan Ekspolitasi Emas oleh PT Newmont
Minahasa Raya

Salah satu limbah yang dihasilkan saat proses eksploitasi emas yang dilakukan
olej PT. Newmont Minahasa Raya ini adalah Tailing, yang mana tailing merupakan
batuan dan tanah yang tersisa dari suatu proses ekstraksi bijih logam, seperti bijih
emas dan bijih tembaga. Tailing dihasilkan dalam jumlah yang luar biasa besar dari
segi volume, mengingat dalam satu ton tanah yang mengandung bijih emas, hanya
terdapat 0,001 ton emas murni. Tailing tidak hanya berisi tanah dan batuan, namun
juga mengandung unsur-unsur logam berat lainnya yang tidak ekonomis untuk
diekstraksi dari kawasan pertambangan tersebut, seperti aluminium (Al), antimony
(Sb), dan timah (Sn). Sesungguhnya logam-logam ini terdapat dalam jumlah yang
sangat terbatas dan rendah dalam tailing, namun volume tailing yang sangat besar
menjadikan kuantitas yang ada akan cukup besar.

Dari studi kasus diatas, limbah nya yang merupakan tailing tersebut di buang
ke laut yang dapat menimbulkan dampak yang sangat negative terhadap ekosistem
laut. Sebaiknya taiking yang merupakan batuan atau tanah sisa hasil tambang tersebut
dimanfaatkan dengan cara diolah ataupun di campur dengan beton yang dapat
digunakan untuk pembangunan kantor, rumah, gedung-gedung, kontruksi jalan raya,
ataupun pembangunan yang lainnya yang memanfaatkan beton.
StudiKasus 2 terlampir

Dampak Limbah Cair Hasil Pengolahan Emas Terhadap Kualitas Air dan
Sungai dan Cara Mengurangi Dampak Dengan Menggunakan Zeolit :
Studi Kasus Penambangan Emas Tradisional di Desa Jendi, Kecamatan
Selogiri Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah

Kegiatan penambangan emas dapat memberikan dampak positif dan dampak negatif.
Dampak positif dapat menambah lapangan pekerjaan bagi masyarakat yang tinggal disekitar
area penambangan serta menambah devisa daerah tersebut. Disisi lain adanya penambangan
juga menjadi penyebab utama kerusakan lingkungan sekitar penambangan. Salah satu
pertambangan emas yang keberadaannya menyebabkan terjadinya kerusakan lingkungan
adalah tambang emas tradisional di desa Jendi, Wonogiri.
Proses penambangan emas di Wonogiri ini dilakukan dengan membuat lubang dan
tunnel dimana urat mineral yang mengandung emas diambil sampelnya. Proses pemisahan
emas dengan batuan atau tanah yang bersamanya menggunakan merkuri. Akan tetapi proses
pembuangan dan penanganan limbah hasil pengolahan emas tersebut umumnya dibuang
sembarangan oleh penambang sehingga berdampak pada rusaknya lingkungan. Dalam kasus
ini tercemarnya lingkungan akibat limbah pengolahan emas terjadi di sekitar aliran sungai
yang menjadi tempat pembuangan limbah tersebut.
Dalam studi ini dilakukan percobaan pengurangan kadar limbah merkuri
menggunakan zeolit. Zeolit tersebut dapat mengadsorbsi kadar merkuri sehingga kadarnya
berkurang hingga sesuai dengan nilai baku lingkungan untuk merkuri. Dalam hal ini daya
serap yang optimum dari zeolit adalah pada ukuran 80-100 mesh untuk logam berat merkuri.