Anda di halaman 1dari 4

SEL LISTRIK LARUTAN ELEKTROLIT

A. PELAKSANAAN PRAKTIKUM
1. Tujuan : Membuat baterai sederhana dengan menggunakan uang logam dan
larutan elektrolit dari campuran garam dapur dan cuka
2. Hari, tanggal : Sabtu, 12 April 2014
3. Tempat : Laboratorium, Kimia, FKIP Universitas Mataram.

4. LANDASAN TEORI
Asam berasal dari bahasa latin, yaitu Denfan Ktaacidus yang artinya masam.
Asam menurut Arrhenius adalah senyawa yang menghasilkan ion hidrogen ketika larut
dalam pelarut air. Kekuatan asam ditentukan oleh banyak sedikitnya ion hidrogen yang
dihasilkan. Semakin banyak ion H+ yang dihasilkan, semakin kuat sifat asamnya. Asam
memiliki berbagai kegunaan. Asam sering digunakan untuk menghilangkan karat dari
logam dalam proses yang disebut "pengawetasaman" (pickling). Asam dapat digunakan
sebagai elektrolit di dalam baterai sel basah, seperti asam sulfat yang digunakan di dalam
baterai mobil.
Energi listrik selain dapat diperoleh dari bahan nonorganik, juga dapat diperoleh
dari bahan organik, seperti buah. Kita dapat menggunakan buah jeruk nipis sebagai
sumber listrik pengganti baterai. Jeruk nipis seperti halnya sebuah baterai mengandung
asam yang bersifat elektrolit yang dapat menghasilkan energi listrik. Ketika reaksi kimia
antara asam pada jeruk nipis dan lempengan-lempengan berlangsung, pada saat itulah
energi listrik dapat dihasilkan. Lempengan-lempengan yang digunakan berfungsi sebagai
elektroda negatif (paku yang terbuat dari besi) dan elektroda positif (uang logam dari
tembaga).
Hasil percobaan menggunakan beberapa buah seperti jeruk, kentang, dan salak
ternyata mampu menghasilkan listrik walaupun masih relatif kecil. Sunarto dalam
Kompas.com juga menyebutkan bahwa belimbing wuluh juga bisa dijadikan sebagai
sumber energi alternatif. Penelitian lain menyebutkan bahwa baterai kering yang
menggunakan bahan baku kulit pisang memiliki rata-rata voltase 1,2 V dan ketahanan
rata-rata 5 hari 7 jam dan diantara ketiga jenis pisang tidak memberikan perbedaan
performa (voltase dan ketahanan) yang signifikan.
5. ALAT DAN BAHAN
1. Alat
a. Lampu LED 1 buah
b. Penjepit buaya 2 buah
c. Koin Rp 500 (putih) 10 buah
d. Koin Rp 1000 10 buah
e. Koin Rp 500 (kuning) 10 buah
f. Multimeter 1 buah
g. Kertas HVS secukupnya
h. Wadah
2. Bahan
Cuka 1 sendok
Air 1 sendok
Garam 3 sendok

6. CARA KERJA
Adapun cara kerja yang dilakukan adalah sebagai berikut :
1. Menyiapkan alat dan bahan yang digunakan selama eksperimen;
2. Menghaluskan 3 sendok garam dapur pada wadah;
3. Mencampurkan 1 sendok cuka ke dalam wadah yang berisi halusan garam;
4. Menambahkan 1 sendok air kedalam campuran cuka dan garam;
5. Merendamkan kertas HVS secukupnya yang telah berbentuk koin pada wadah yang
yang berisi larutan garam dan cuka selama 10 menit;
6. Menyusun rangkaian seperti gambar dibawah ini dengan jumlah pasangan koin
sebanyak 10 pasang.

7. Mencatat hasil percobaan apakah LED menyala atau tidak.


8. Mengukur besar tegangan rangkaian tanpa LED menggunakan multimeter kemudian
mencatat hasil percobaan.

7. HASIL PENGAMATAN
1. Tabel untuk percobaan

Jenis Koin
No Tegangan (V) Lampu
Rp 500 Rp 500
Rp 1.000
kuning putih
1. 10 koin 10 koin - 4,6 menyala
2. 10 koin - 10 koin 0,17 Tidak menyala

2. Gambar

8. PEMBAHASAN
Pada Percobaan ini dibuat batu baterai dengan menggunakan kombinasi uang
logam sebagai elektroda dan campuran cuka dan garam dapur sebagai larutan
elektrolitnya. Lampu LED digunakan sebagai alat indikator untuk mengetahui apakah
baterai sederhana yang dibuat mampu menghasilkan tegangan listrik atau tidak.
Sedangkan multimeter digunakan untuk mengetahui besar nilai tegangan yang dihasilkan
oleh batu baterai tersebut. Potongan kertas yang berbentuk lingkaran digunakan sebagai
penghubung setiap elektroda. Percobaan ini dibagi menjadi dua, pertama menggunakan
kombinasi koin Rp 500 kuning dan Rp 500 putih, kedua menggunakan kombinasi Rp 500
kuning dan koin Rp 1000.
Pada praktikum pertama, digunakan uang logam dengan kombinasi Rp 500 kuning
dan Rp 500 putih dengan menggunakan campuran larutan elektrolit dengan kombinasi
garam 3 sendok dan cuka 1 sendok. Dengan kombinasi yang diberikan di atas dapat
menyalakan lampu LED karena tegangan yang dihasilkan batu baterai dengan tegangan
4,6 volt, sehingga lampu LED dapat menyala. Dimana tegangan yang dibutuhkan untuk
menyalakan sebuah lampu LED sekitar 3 volt.
Pada percobaan kedua, digunakan uang logam dengan kombinasi Rp 500 putih dan
Rp 1000 dengan menggunakan campuran larutan elektrolit dengan kombinasi garam 3
sendok dan cuka 1 sendok. Dengan kombinasi yang diberikan di atas tidak dapat
menyalakan lampu LED karena bahan uang logam Rp 1000 memiliki sifat sukar
terionisasi dengan baik. Tegangan yang dihasilkan batu baterai dengan adalah 0, 17 volt,
sehingga tidak dapat menyalakan Dimana tegangan yang dibutuhkan untuk menyalakan
sebuah lampu LED.
Melihat hasil diatas percobaan diatas tidak semua kombinasi logam dapat dibuat menjadi
batu baterai, karena setiap uang logam memiliki sifat ionisasi yang berbeda-beda, ada yang sukar
dan ada yang mudah. Perbedaan sifat uang logam yang dijadikan kombinasi batu baterai ini dapat
dilihat dari tegangan yang dihasilkan setelah diukur. Jadi tegangan yang dihasilkan batu baterai
tergantung dari kombinasi uang logam yang digunakan.

9. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil percobaan di atas dapat disimpulkan bahwa :
a. Tegangan yang dihasilkan kombinasi uang logam Rp 500 kuning dan Rp 500 putih
sebesar 4,6 volt.
b. Tegangan yang dihasilkan kominasi Rp 500 putih dan Rp 1000 sebesar 0,17 volt.
c. Tegangan yang dibutuhkan untuk menyalakan lampu LED 3 volt.
d. Tegangan yang dihasilkan batu baterai tergantung dari kombinasi uang logam yang
digunakan.