Anda di halaman 1dari 8

PENGGUNAAN PIL PENUNDA HAID

DALAM PANDANGAN HUKUM ISLAM1


Oleh: Agus Salim, S.H.I.

A. Pendahuluan
Haid (menstruasi) merupakan peristiwa perdarahan secara periodik dan siklik (bulanan)
yang disertai pelepasan selaput lendir (endometrium) rahim. Peristiwa ini merupakan
peristiwa yang alami pada seorang wanita normal. Dikatakan periodik karena datangnya haid
pada seorang wanita mempunyai periodeperiode tertentu, dimana haid pertama kali
(menarche) datang pada usia sekitar 12 tahun yang bisa saja belum teratur, kemudian mulai
teratur saat usia reproduksi (20-35 tahun), mulai jarang saat mendekati menopause
(klimakterik), dan berhenti saat menopause (49-50 tahun).
Bagi seorang wanita datangnya masa haid merupakan saat yang selalu dinantikan. Sebab
apabila haid terlambat datang, maka akan timbul kekhawatiran, jangan-jangan telah terjadi
sesuatu pada tubuh wanita tersebut. Haid merupakan ketetapan Allah SWT atas setiap
wanita, sebagaimana hadits di bawah ini:

-
.
. -







{ }

Kami keluar (dari Madinah), tidak ada yang kami tuju kecuali untuk berhaji. Maka ketika
kami berada di tempat yang bernama Sarif, aku haid. Rasulullah SAW masuk menemuiku
yang ketika itu sedang menangis. Maka beliau bersabda : Ada apa denganmu, apakah
engkau ditimpa haid? Aku menjawab : Ya. Beliau bersabda : Sesungguhnya haid ini
adalah perkara yang Allah tetapkan atas anak-anak perempuan keturunan adam.
Kerjakanlah sebagaimana layaknya orang berhaji. Akan tetapi, janganlah engkau
melakukan thawaf di Baitullah. (HR. Bukhari dari Aisyah r.a.)
Haid yang secara alamiah datang secara periodik dan siklik, namun dengan kemajuan
Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi (IPTEK) haid dapat ditunda maupun dimajukan
kedatangannya. Penundaan ini bisa dilakukan dengan menggunakan obat-obatan maupun
lainnya. Praktek semacam ini sebenarnya sudah berjalan cukup lama dikalangan masyarakat.
Bagi seorang wanita penundaan haid dilakukan karena ada tujuan-tujuan tertentu.
Misalnya, karena ingin melaksanakan ibadah secara sempurna, baik ibadah haji, puasa,
maupun shalat-shalat tertentu, karena akan melangsungkan pernikahan, menghadapi
ujian sekolah maupun lainnya.
Pada masa awal Islam belum ada obat penunda haid agar dapat melaksanakan semua
amalan-amalan ibadah maupun lainnya. Sehingga menurut hukum Islam tidak ada nash yang
jelas (sharih) yang menunjukkan boleh atau tidaknya menunda kedatangan haid. Karena itu
penundaan haid menurut hukum Islam merupakan masalah kontemporer yang membutuhkan
kajian yang mendalam dan komprehensif. Karena ini merupakan persoalan hukum yang
tidak ada dalam kedua sumber hukum Islam, maka solusi pemecahan hukumnya dilakukan
dengan cara ijtihad.2 Menurut al-Amidi dalam kitabnya al-Ihkam fi Usul al-Ahkam
memaknai Ijtihad adalah mencurahkan segenap kemampuan dalam mencari hukum-hukum

1
Disampaikan pada acara Musyawarah Wilayah (Musywil) Tarjih pada tanggal Juli 2008 di Universitas
Muhammadiyah Yogyakarta.
2
KH Sudjari Dahlan dan Sardjana Sp.OG, Kontroversi Pil Tunda Haid Selama Haji, Pontianak Post hari
Selasa, 8 April 2008 , hlm. 2

1
syari yang bersifat dzanni, dalam batas sampai dirinya merasa tidak mampu melebihi
usahanya itu.3
Untuk melaksanakan ijtihad maka harus ditinjau dari beberapa sudut pandang agar
menghasilkan produk hukum yang dapat diterima oleh semua pihak. Tentunya produk
pemikiran hukum itu harus berlandaskan kepada dua sumber ajaran Islam, yaitu Al-Qur'an
dan Hadits. Dengan lain perkataan, segala persoalan hukum harus dikembalikan kepada
keduanya (ar-ruju' ila al-Quran wa as-sunah). Sebab tanpa kedua sumber itu maka produk
pemikiran hukum apapun tidak dapat diterima dan bahkan akan menyesatkan umat,
khususnya umat Islam.
Persoalan ini menarik untuk dikaji dan dicari solusinya karena masih banyak
masyarakat yang menanyakannya. Terlebih lagi dikalangan Muhammadiyah persoalan ini
secara resmi (Munas Tarjih, misalnya) belum dibicarakan oleh Majelis Tarjih dan Tajdid
Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Karena itu Majelis Tarjih dan Tajid Pimpinan Wilayah
Muhammadiyah Yogyakarta mengangkat persoalan tersebut untuk dikaji dalam Musyawarah
Wilayah (Musywil) Tarjih. Dalam makalah ini akan dibicarakan dua hal, yaitu (1) Haid dan
Hukum-Hukum Seputarnya, (2) Penundaan Haid Dalam Tinjauan Medis (Kedokteran), dan
(2) Penundaan Haid Dalam Tinjauan Hukum Islam.

B. Haid dan Hukum-Hukum Seputarnya


Menurut bahasa, haid berarti sesuatu yang mengalir. Dan menurut istilah syara' haid
ialah darah yang terjadi pada wanita secara alami, bukan karena suatu sebab, dan pada
waktu tertentu.4 Jadi haid adalah darah normal, bukan disebabkan oleh suatu penyakit, luka,
keguguran atau kelahiran. Oleh karena ia darah normal, maka darah tersebut berbeda
sesuai kondisi, lingkungan dan iklimnya, sehingga terjadi perbedaan yang nyata pada
setiap wanita.
Seperti yang kita ketahui, darah haid berasal dari penebalan dinding rahim untuk
mempersiapkan proses pembentukan janin yang nantinya berfungsi sebagai sumber makanan
bagi janin yang ada dalam kandungan seorang ibu. Oleh karenanya, seorang wanita yang
hamil, tidak akan mendapatkan haid lagi, Begitu juga dengan wanita yang menyusui,
biasanya tidak akan mendapatkannya terutama diawal masa penyusuan.
Adapun hikmah yang bisa kita petik didalamnya adalah Maha Mulia Allah, Dialah
sebaik-baiknya pencipta, yang telah menciptakan gumpalan darah di rahim seorang ibu
sebagai sumber makanan instant bagi janin didalamnya, yang tentu saja dia belum bisa
mencerna makanan apalagi mendapatkan makanan dari luar kandungan. Maha Bijaksana
Allah Subhanahu wa taala yang telah mengeluarkan darah tersebut dari rahim seorang
wanita yang tidak hamil melalui siklus haid karena memang tidak membutuhkannya. Dengan
begitu, kondisi rahim seorang wanita akan selalu siap bila ada janin didalamnya.
Adapun hal-hal yang dilarang bagi wanita yang sedang haid adalah sebagai berikut:

1. Shalat
Wanita yang sedang haid diharamkan mengerjakan shalat, baik fardhu maupun sunat dan
tidak perlu meng-qadha-nya setelah suci. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda:

3
Al-Amidi, al-Ihkam fi Usul al-Ahkam, (tt.: Dar al-Fikr, 1981), Juz III, hlm. 204.
4
Kata Abu Muhammad bin Hazm rahimahullah dalam Al Muhalla (2/162) : Haid adalah darah hitam yang
kental beraroma tidak sedap. Kapan saja tampak darah ini dari kemaluan wanita, maka tidak halal baginya untuk
shalat, puasa, dan thawaf di Baitullah serta tidak boleh bagi suaminya atau tuannya (bila wanita tersebut berstatus
budak, pent.) untuk menyetubuhinya kecuali bila wanita itu melihat ia telah suci. Al Imam Al Qurthubi
rahimahullah : Darah haid adalah darah hitam yang kental, mendominasinya warna merah. (Lihat Jami Ahkamin
Nisa halaman 129), Selain wanita, di antara jenis hewan ada juga yang mengalami haid seperti yang dikatakan oleh
Al Jahidh dalam Kitab Al Hayawan : Yang mengalami haid dari kalangan makhluk hidup ada empat yaitu wanita,
kelinci, dlaba (sejenis anjing hutan), dan kelelawar. Dan haidnya kelinci ini masyhur dalam syair-syair Arab. (Jami
Ahkamin Nisa halaman 128)

2

}




{
Dari Aisyah r.a. berkata, Nabi SAW bersabda: apabila datang masa haid, maka tinggalkanlah
shalat. (HR. Muttafaq Alaih)
Juga hadits yang diriwayatkan dari Muadzah, dimana ia bercerita:







{}
Aku pernah bertanya kepada Aisyah, bagaimana hukum wanita yang mengqadha puasa dan
tidak mengqadha shalat? Aisyah bertanya: apakah engkau wanita merdeka? Aku menjawab:
tidak, akan tetapi aku hanya sekedar bertanya. Lalu Aisyah berkata: kami pernah menjalani
haid pada masa Rasulullah, maka kami diperintahkan mengqadha puasa dan tidak
diperintahkan mengqadha shalat (HR. Muttafaq Alaih)

2. Puasa
Wanita yang sedang haid diharamkan berpuasa dan berhak mengqadhanya di hari lain
jika yang ditinggalkannya merupakan puasa wajib. Berdasarkan hadist dari Aisyah Radhiyallahu
anha: "Ketika kami mengalami haid, diperintahkan kepada kami mengqadha puasa dan tidak
diperintahkan meng-qadha shalat" (Muttafaqun alaih).
Seorang wanita yang mendapatkan haid ketika dia sedang berpuasa, maka wajib
membatalkannya walaupun hal itu terjadi sesaat menjelang maghrib. Juga jika pada saat terbitnya
fajar dia masih haid maka tidak sah berpuasa, sekalipun sesaat setelah fajar dia sudah suci. Dan
sebaliknya jika seorang wanita mendapati dirinya suci sesaat sebelum fajar, maka dia wajib puasa
(puasa wajib) walaupun baru mandi suci setelah fajar.

3. Membaca Al-Quran.
Walaupun tidak ada dalil qathi yang melarang wanita haid untuk membaca Al-quran,
tetapi banyak ulama yang mengharamkannya. Syaikh utsaimin mengomentari perbedaan
pendapat dikalangan ulama tentang hal ini dengan mengatakan bahwa lebih utama bagi wanita
haid tidak membaca Al-Quran secara lisan, kecuali jika diperlukan. Misalnya seorang guru yang
sedang mengajar murid-muridnya, atau siswa yang sedang belajar dikelas. Adapun aktivitas dzikr
yang lain diperbolehkan bahkan dianjurkan.

}





{
Dari Ibnu Umar, dari Rasulullah SAW bersabda: wanita yang tengah haid dan juga dalam
keadaan junub tidak boleh sama sekali membaca al-Quran. (HR. Turmudzi)

Membaca Al Quran bagi wanita haid itu sendiri, jika dengan mata atau dengan hati tanpa
diucapkan dengan lisan maka tidak apa-apa hukumnya, misalnya mushaf atau lembaran Al
Quran diletakkan lalu matanya menatap ayat-ayat seraya hatinya membaca. menurut An Nawawi
dalam kitab Syarh Al Muhadzdzab Juz 2 hal : 362, hal ini boleh tanpa ada perbedaan pendapat.
Adapun jika wanita haid itu membaca Al Quran dengan lisan, maka banyak ulama
mengharamkannya dan tidak membolehkannya. Tetapi Al Bukhari, Ibnu Jarir At Thabari dan
Ibnul Mundzir membolehkannya. Juga boleh membaca ayat Al Quran bagi wanita haid menurut
Imam Malik dan Asy syafii dalam pendapatnya yang terdahulu, sebagaimana disebutkan dalam
kitab Fathul Bari, serta menurut Ibrahim An Nakhai sebagaimana diriwayatkan Al Bukhari.

3
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Al Fatawa kumpulan Ibnu Qasim mengatakan :
Pada dasarnya tidak ada hadits yang melarang wanita haid membaca Al Quran. Sedangkan
pernyataan wanita yang sedang haid dan orang junub tidak boleh membaca Al Quran adalah
hadits dhaif menurut kesepakatan para ahli hadits. Seandainya wanita yang sedang haid dilarang
membaca Al Quran, seperti halnya shalat, pada hal pada zaman Nabi shollallohu alaihi wa
sallam kaum wanitapun mengalami haid, tentu hal ini termasuk yang dijelaskan Nabi shollallohu
alaihi wa sallam kepada umatnya, diketahui oleh istri beliau sebagai ibu-ibu kaum muminin,
serta disampaikan sahabat kepada orang lain. Namun, tidak ada seorangpun yang menyampaikan
bahwa ada larangan dari Nabi shollallohu alaihi wa sallam dalam masalah ini. Karena itu, tidak
boleh dihukumi haram selama diketahui bahwa Nabi shollallohu alaihi wa sallam tidak
melarangnya, padahal banyak pula wanita haid pada zaman beliau, berarti hal ini tidak haram
hukumnya.
Setelah mengetahui perbedaan pendapat diantara para ulama, seyogyanya, kita katakana,
lebih utama bagi wanita yang sedang haid tidak membaca Al Quran secara lisan, kecuali jika
diperlukan. Misalnya seorang guru wanita yang perlu mengajarkan membaca Al Quran kepada
siswi-siswinya, atau seorang siswi yang pada waktu ujian perlu diuji dalam membaca Al Quran,
dan lain sebagainya.

4. Thawaf
Diharamkan bagi wanita yang sedang haid melakukan thawaf di Kabah, baik yang wajib
maupun sunnah, dan tidak sah thawafnya, berdasarkan sabda Nabi shollallohu alaihi wa sallam
kepada Aisyah :

"
"
lakukanlah apa saja yang dilakukan jamaah haji, hanya saja jangan melakukan thawaf di
Kabah sebelum kamu suci
Adapun kewajiban lainnya seperti sai antara Shafa dan marwah, wukuf di
Arafah, bermalam di Muzdalifah dan Mina, melempar jumrah dan amalan haji dan
umrah selain itu, tidak diharamkan. Atas dasar ini, jika seorang wanita melakukan
thawaf dalam keadaan suci, kemudian keluar darah haid langsung setelah thawaf atau
di tengah-tengah melakukan sai, maka tidak apa-apa hukumnya.

Thawaf wada
Jika seorang wanita mengerjakan seluruh manasik haji dan umroh, lalu datang haid sebelum
keluar untuk kembali ke negerinya dan haid ini terus berlangsung sampai batas waktu pulang,
maka ia boleh berangkat tanpa thawaf wada. Dasarnya hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu
anhuma :

" "
Diperintahkan kepada jamaah haji saat saat terakhir bagi mereka berada di baitullah
(malakukan thawaf wada), hanya saja hal ini tidak dibebankan kepada wanita yang sedang
haid ( hadits muttafaq alaih).

Dan tidak disunnatkan bagi wanita yang sedang haid ketika hendak bertolak, mendatangi
pintu Masjidil Haram dan berdoa. karena hal ini tidak ada dasarnya dari Nabi shollallohu alaihi
wa sallam, sedangkan seluruh ibadah harus berdasarkan pada ajaran ( sunnah ) nabi shollallohu
alaihi wa sallam. Bahkan, menurut ajaran Nabi shollallohu alaihi wa sallam adalah sebaliknya.
Sebagaimana disebutkan dalam kisah Shafiyah Radhiyallahi anha ketika dalam keadaan haid
setelah thawaf ifadhah Nabi shollallohu alaihi wa sallam bersabda kepadanya : kalau
demikian, hendaklah ia berangkat ( hadits muttafaq alaih ) . dalam hadits ini, Nabi tidak

4
menyuruhnya mendatangi pintu Masjidil Haram. Andaikata hal itu disyariatkan, tentu nabi sudah
menjelaskannya.
Adapun thawaf untuk haji dan umrah tetap wajib bagi wanita yang sedang haid,
dan dilakukan setelah suci.

5. Berdiam dalam masjid

Diharamkan bagi wanita yang sedang haid berdiam dalam masjid, bahkan diharamkan
pula baginya berdiam dalam tempat shalat Ied. Berdasarkan hadits Ummu Athiyah Radhiyallahu
anha bahwa ia mendengar Nabi shollallohu alaihi wa sallam bersabda :
" , "
"
Agar keluar para gadis, perawan dan wanita haid tetapi wanita yang sedang haid menjahui
tempat shalat ( muttafaq alaih )

6. Jima (senggama)
Diharamkan bagi seorang suami menggauli istrinya sampai benar-benar dia dalam
keadaan suci. Diharamkan pula bagi sang istri memberi kesempatan kepada suami untuk
melakukan hal tersebut. Dalilnya dapat kita lihat kembali dalam Q.S. Al-Baqarah (2) ayat 222
dan juga sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Muslim, "

( Lakukan apa saja, kecuali nikah)", nikah yang dimaksud disini adalah jima.
Adapun bercumbu diperbolehkan asal tidak sampai jima.

C. Tinjauan Medis Penggunaan Pil Haid

Menurut Prof.dr.Ali Baziad, SpOG (K), pengaturan siklus haid bisa dilakukan
dengan menggunakan pil hormon. Saat ini ada tiga jenis hormon yang bisa dipilih, yakni
progestin (progesteron saja), kombinasi estrogen dan progesterone (pil KB), serta GnRH
agonis yang berbentuk suntik.
"Pil progesteron tersebut dikonsumsi satu bulan sebelum ibadah haji atau 14 hari
sebelum haid," kata Ali dalam acara seminar bertema Pengaturan Haid untuk Ibadah
Haji yang diselenggarakan oleh Bayer Schering Pharma di Jakarta (20/11). Lebih lanjut
Ali menjelaskan cara kerja pil hormon. "Haid berhenti karena tubuh memperoleh
hormon dari luar, akibatnya kerja hormon di otak terhambat dan sel telur tidak bisa
matang," jelasnya.
Riset yang dilakukan Prof.Dr.Biran Affandi, SpOG (K) selama 10 tahun terhadap
45 perempuan berusia 25-42 tahun, yang menginginkan penundaan haid untuk ibadah
haji menunjukkan bahwa pil hormon progesterone Norethisterone efektif menunda haid
hingga 100 persen.
Meski penggunaan pil hormon tergolong aman namun orang yang ingin
mengonsumsinya sebaiknya dikonsultasikan dengan dokter. "Dosis untuk tiap
perempuan berbeda-beda, antara orang yang gemuk dan yang kurus jelas lain," kata Ali.
Selain berat badan, faktor lainnya adalah usia. Menurut Ali calon jamaah haji yang
berusia di atas 40 tahun tidak dianjurkan mengonsumsi pil hormon sintetik. "Di usia
tersebut sudah banyak gangguan kesehatan, jadi sebaiknya memakai pil hormon yang
alami, seperti pil KB," paparnya.
Demikian pula untuk pasien pengidap kanker payudara atau kanker leher rahim.
Mereka tidak diijinkan mengonsumsi pil hormon berbentuk tablet. "Pemberian pil
hormon justru memacu kanker, karenanya disarankan untuk memilih hormon injeksi,"

5
jelas dokter yang menjadi Kepala Divisi Imunoendokrinologi Departemen Obgin
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini.
Kendati penelitian telah menunjukkan keberhasilan pil hormon dalam menunda
haid, namun tetap ada efek samping yang perlu diketahui. "Pada beberapa orang bisa
muncul vlek atau spotting noda darah. Namun hal itu normal dan bukan darah haid
sehingga ibadah tetap bisa dilanjutkan," ujar Ali menegaskan.
Selain untuk pengaturan haid, pil progesteron seperti Norethisterone menurut Ali
banyak digunakan sebagai terapi untuk mengatasi masalah haid, seperti nyeri perut saat
haid yang merupakan gejala endometriosis, perdarahan uterus disfungsional, atau haid
yang tidak teratur.

D. Tinjauan Hukum Islam Tentang Penundaan Haid


Menstruasi atau haid terjadi secara periodik pada semua perempuan sehat yang
memiliki organ reproduksi sehat juga. Haid bahkan bisa menjadi indikator kesuburan.
Namun siklus bulanan tersebut kerap menjadi masalah bagi wanita (misalanya ibadah
haji) karena hukum Islam melarang wanita yang sedang haid melakukan ibadah.
Teknologi terkini di bidang terapi hormonal telah memungkinkan pengaturan
waktu terjadinya haid secara tetap sesuai keinginan, bisa dimajukan atau dimundurkan.
Selain berkaitan dengan ibadah, keinginan mendapatkan "hari bebas haid" juga bisa
berhubungan dengan karir atau acara khusus tertentu, seperti bulan madu.
Dalam menghadapi persoalan ini ternyata para ulama berbeda pendapat tentang hukum
kebolehan mengguanakan obat penunda atau pencegah haid. Sebagian besar ulama membolehkan
namun sebagian lainnya tidak membolehkan.

1. Kalangan yang Membolehkan

Diantara ulama yang berpendapat boleh adalah sebagai berikut:

a. Sayyid Sabiq dalam kitab Fiqih Sunnah

Di kalangan shahabat Nabi SAW ada Ibnu Umar r.a. yang diriwayatkan oleh Said bin
Mansur bahwa beliau telah ditanya orang tentang hukum seorang wanita haid yang meminum
obat agar tidak mendapat haid, lantaran agar dapat mengerjakan tawaf. Maka beliau
membolehkan hal tersebut. Muhibbuddin Thabari berkata, jika terhentinya haid dalam keadaan
seperti ini dapat diakui, maka hendaklah diakui pula terhentinya itu dalam menghitung
berakhirnya massa iddah dan bentuk-bentuk kasus lainya. Demikian pula jika meminum obat
yang merangsang munculnya haid, berdasarkan persamaan diantara keduanya.5

b. Abdullah Abdul Aziz bin Baz dalam kitab Fatawa Tataallaq bi Ahkam al-
Hajji wa al-Umrah wa al-Ziyarah

Seorang wanita boleh menggunakan obat pencegah haid pada waktu haji karena khawatir
akan kebiasaannya (haid) akan tetapi harus berkonsultasi kepada dokter khusus karena untuk
menjaga keselamatan wanita. Demikian juga pada bulan Ramadlan apabila berkeinginan untuk
berpuasa bersama-sama dengan masyarakat umum (orang banyak).

c. Ahmad bin Abdul Rozaq ad-Duwaisy dalam kitab Fatawa al-Lajnah ad-
Daimah Lil-Buhuts al-Ilmiyah Wa al-Ifta

Boleh bagi seorang wanita untuk mengkonsumsi pil penunda haid agar dapat
melaksanakan puasa di bulan Ramadhan. Anda tidak diharuskan untuk mengqadha hari-hari
puasa yang telah Anda lakukan bersama-sama yang lainnya dengan mengkonsumsi pil pencegah
haidh. [Majalah Al-Buhuts Al-Islmiyah, 22/62]
5
Sayyid Sabiq, Fiqh as-Sunah, (Beirut: ), Juz I, hlm.

6
d. Menurut Yusuf al-Qardawi, tokoh fikih kontemporer, bahwa wanita dapat
saja menggunakan obat penunda haid dengan syarat:
1) Kekhawatiran haji dan puasanya tidak sempurna jika ia tidak
menggunakannya.
2) Kekhawatiran akan mengalami kesulitan dalam mengkada
puasanya kelak, dan
3) Obat penunda haid tersebut tidak membawa efek mudarat baginya.
Alasan itu didasarkan kepada tidak adanya nas yang sarih melarang penundaan haid.

e. Keputusan komisi fatwa MUI tahun 1984 tentang kebolehan penggunaan


obat penunda haid untuk kepentingan ibadah haji dan puasa.

2. Pendapat yang Mengharamkan

Salah satu ulama yang melarang penggunaan pil penunda haid adalah Syeikh Al-'Utsaimin
dalam Majmu Fatawa al-Utsaimin sebagai berikut:

: .32

:
: :

:
:

.
Syaikh Ibnu Utsaimin ditanya : Saya seorang wanita yang mendapatkan haid di bulan yang mulia
ini, tepatnya sejak tanggal dua lima Ramadhan hingga akhir bulan Ramadhan, jika saya
mendapatkan haid maka saya akan kehilangan pahala yang amat besar, apakah saya harus
menelan pil pencegah haid karena saya telah bertanya kepada dokter lalu ia menyatakan bahwa
pil pencegah haid itu tidak membahayakan diri saya?

Beliau menjawab: Saya katakan kepada wanita-wanita ini dan wanita-wanita lainnya yang
mendapatkan haid di bulan Ramadhan, bahwa haid yang mereka alami itu, walaupun pengaruh
dari haid itu mengharuskannya meninggalkan shalat, membaca Al-Qur'an dan ibadah-ibadah
lainnya, adalah merupakan ketetapan Allah, maka hendaknya kaum wanita bersabar dalam
menerima hal itu semua, maka dari itu Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepada
Aisyah yang kala itu sedang haid : "Artinya : Sesungguhnya haid itu adalah sesuatu yang telah
Allah tetapkan kepada kaum wanita". Maka kepada wanita ini kami katakan, bahwa haid yang
dialami oleh dirinya adalah suatu yang telah Allah tetapkan bagi kaum wanita, maka hendaklah
wanita itu bersabar dan janganlah menjerumuskan dirinya ke dalan bahaya, sebab kami telah
mendapat keterangan dari beberapa orang dokter yang menyatakan bahwa pil-pil pencegah
kehamilan berpengaruh buruk pada kesehatan dan rahim penggunanya, bahkan kemungkinan
pil-pil tersebut akan memperburuk kondisi janin wanita hamil.

7
: .33

:

. :

.

Syekh al-Utsaimin ditanya oleh seseorang: Apakah boleh seorang wanita menggunakan pil
penunda haid pada bulan Ramadlan dan lainnya?
Beliau menjawab: Menurut hemat saya dalam masalah ini agar para wanita tidak
menggunakannya baik dibulan Ramadlan maupun lainnya, karena menurut para dokter hal itu
menimbulkan bahaya yang sangat besar bagi rahim, urat syaraf dan darah. Dan segala sesuatu
yang menimbulkan bahaya adalah dilarang. Padahal nabi SAW telah bersabda, "Janganlah kamu
melakukan tindakan yang membahayakan dirimu dan orang lain." Dan kami telah mengetahui
dari mayoritas wanita yang menggunakannya bahwa kebiasaan haid mereka berubah, dan
menyibukkan para ulama membicarakan masalah tersebut. Maka yang paling benar adalah
tidak menggunakan obat tersebut selamanya baik di bulan Ramadlan maupun lainnya.

E. Penutup
Demikian makalah singkat ini semoga dapat dijadikan sebagai bahan dalam acara
Musyawarah Wilayah Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Yogyakarta
dan dapat menghasilkan produk hukum Islam yang dapat diterima oleh semua pihak serta dapat
dijadikan sebagai pedoman dalam menjawab problematika penggunaan pil penunda haid bagi
wanita dalam pelaksanaan ibadah.