Anda di halaman 1dari 65

TUGAS PENDAHULUAN

1. Apa yang dimaksud dengan sediaan steril?

a. Menurut RPS18th, hal : 1470

Steril adalah ketidakhadiran atau tidak adanya mikroorganisme yang

hidup.

b. Menurut SDF, hal : 37

Steril adalah bebas dari mikroorganisme yang dipastikan pada

permukaannya dengan mempengaruhi/menaklukan suatu produk

dalam proses sterilisasi yang sah, kemudian pengemasan produk

dalam suatu bentuk ini menjamin penerimaan dari karakteristiknya.

Istilah steril adalah suatu kemutlakan dan seharusnya tidak

digunakan atau dipertimbangkan secara relatif sebagai suatu bagian

atau kebanyakan steril

c. Menurut Lachman 3, hal : 1254

Steril adalah kondisi yang tercipta sebagai akibat penghancuran dan

penghilangan semua mikroorganisme hidup. Konsep ini mengatakan

bahwa steril adalah istilah yang mempunyai konotasi relatif dan

memungkinkan menciptakan kondisi mutlak bebas dari

mikroorganisme hanya dapat diduga atas dasar proyeksi kinetis

angka kematian mikroba.


d. Menurut Ansel, hal : 399

Steril adalah bebas dari pencemaran mikroba.

2. Apa yang dimaksud dengan sediaan parenteral?

a. Menurut SDF, hal : 203

Sediaan parenteral adalah steril yang digunakan secara berulang

atau lebih dari satu kali dan dikemas dalam wadah 10 ml atau lebih

dan mengandung zat antibakteri.

b. Menurut Scovilles, hal : 190

Parenteral adalah larutan atau suspensi dari obat untuk disuntikkan

dibawah atau menembus satu atau lebih lapisan kulit atau membran

mukosa.

c. Menurut Parrot, hal : 283

Injeksi atau parenteral adalah sediaan steril yang pemberiannya

menembus satu atau lebih lapisan kulit.

d. Menurut DOM Martin, hal : 968

Parenteral adalah sediaan farmasi steril yang bentuk dosisnya

dimaksudkan untuk pemberian dibawah satu atau lebih lapisan kulit

atau membran mucus.

e. Menurut Lachman 3, hal : 1292

Sediaan parenteral adalah sediaan yang unik diantara bentuk obat

terbagi-bagi, karena sediaan ini disuntikkan melalui kulit atau

membran mukosa ke bagian dalam tubuh.


f. Menurut Ansel, hal : 399

Parenteral adalah sediaan dengan pemberian lewat suntikkan, seperti

berbagai sediaan yang diberikan dengan suntikkan.

3. Syarat-syarat sediaan steril

a. Menurut Lachman 3, hal : 1300

1) Zat antibakteri

Zat antibakteri dalam konsentrasi bakteriostatik harus dimasukkan

dalam formulasi.

2) Antioksidan

Antioksidan dimasukkan dalam banyak formulasi untuk melindungi

suatu zat terapeutis yang mudah mengalami oksidasi, terutama

pada kondisi dipercepat dengan sterilisasi panas, dan bisa

berfungsi paling tidak dengan 2 cara, yakni dengan oksidasi

secara istimewa (zat pereduksi) dan dengan demikian digunakan

perlahanlahan, atau dengan memblokir suatu reaksi rantai

oksidatif dimana zat-zat tersebut biasanya tidak dikonsumsi.

3) Steril (Lachman, hal : 1292)

Sediaan ini merupakan sediaan yang unik diantara bentuk obat-

obat yang terbagi karena sediaan ini di suntikkan melalui kulit atau

membran mukosa ke dalam bagian tubuh yang paling efisien,

yakni membuat kulit dan mukosa sediaan tersebut harus bebas

dari kontaminasi mikroba dan dari komponen toksis dan harus


mempunyai tingkat kemurnian tinggi atau luar biasa.

b. Menurut SDF, hal : 37

1) Sterilitas

Semua bentuk sediaan yang diberikan secara paranteral, larutan

ophtalmic dan beberapa alat medis yang digunakan dalam

hubungannya dengan pemberian bahan yang harus steril, bebas

dari semua mikroorganisme hidup.

2) Bebas dari bahan partikulat

Bahan partikulat mengacu pada bahan yang bergerak, tidak larut

dan kehadirannya tanpa sengaja ada dalam sediaan paranteral.

Adanya bahan partikulat dalam larutan paranteral harus

diperhatikan sejak adanya gambaran rute pemberian walaupun

rute paranteral dapat memberikan keamanan, kenyamanan dan

metode efektif dari pemberian namun dipercaya bahwa bahan-

bahan dari luar yang tidak disengaja dapat berbahaya.

3) Pengaruh biologis

Kejernihan atau ketidakhadiran bahan partikel yang tampak selalu

dipertimbangkan sebagai penyesuaian untuk produk paranteral.

4) Tidak mengandung bahan bakteriostatik (SDF, hal : 163)

Karena pemberian cairan infus dalam volume besar bahan

bakteriostatik tidak pernah terkandung untuk mencegah toksisitas

yang ditimbulkan akibat dari jumlah bahan bakteriostatik yang


diberikan.

c. Menurut R. Voight, hal : 462

1. Sesuainya kandungan bahan obat yang dinyatakan di dalam etiket

dan yang ada dalam sediaan, tidak terjadi pengurangan efek

selama penyimpanan akibat perusakan obat secara kimia dan

sebagainya.

2. Penggunaan wadah yang cocok, yang tidak hanya memungkinkan

sediaan tetap steril tetapi juga mencegah terjadinya interaksi

antara bahan obat dan material dinding wadah.

3. Tersatukan tanpa terjadi reaksi. Untuk itu beberapa faktor yang

paling menentukan adalah : bebas kuman, bebas pirogen, bebas

pelarut yang secara fisiologis, tidak netral, isotonis, isohidris, dan

bebas bahan melayang.

d. Menurut Farmasetik, hal : 197

1) Aman, tidak boleh menyebabkan iritasi jaringan atau efek toksik.

2) Harus jernih, tidak ada partikel padat kecuali yang berbentuk.

3) Tidak berwarna, kecuali bila obatnya yang berwarna.

4) Sedapat mungkin isohidris, agar tidak terasa sakit dan

penyerapan obat dapat optimal.

5) Sedapat mungkin isotonis agar tidak terasa sakit.

6) Harus steril. Bila suatu bahan adalah steril bila sama sekali bebas

dari mikroorganisme hidup yang patogen maupun yang tidak, baik


dalam bentuk vegetatif maupun dalam bentuk tidak vegetatif

(spura).

7) Bebas pirogen. Ini harus diperhatikan terutama pada pemberian

banyak, lebih dari 15 ml cairan yang mengandung pirogen dapat

menimbulkan demam.

4. Jelaskan tentang pirogen dan cara menghilangkannya, dan bebas

partikulat, serta dari mana sumber-sumbernya.

a. Tentang pirogen

1. Menurut Farmasetika, hal : 200

Menurut Co Tui, pirogen adalah senyawa kompleks polisakarida

dimana mengandung radikal yang ada unsur N, P. Selama radikal

masih terikat, selama itu masih dapat menimbulkan demam.

Pirogen adalah termostabil.

2. Menurut Scovilles, hal : 195

Pirogen adalah penyebab demam atau bahan yang dibentuk oleh

mikroorganisme yang kadang-kadang ada dalam cairan parenteral

dan menghasilkan panas ketika larutan disuntikkan pada pasien.

3. Menurut SDF, hal : 44

Pirogen adalah produk metabolit dari mikroorganisme hidup dan

mikroorganisme mati yang menyebabkan respon spesifik piretik

setelah penyuntikkan.

4. Menurut Lachman 3, hal : 1296


Pirogen adalah produk metabolisme mikroorganisme hidup,

umumnya bakteri dan kadang serta virus, telah dilaporkan sebagai

penghasil pirogen bakteri gram negatif memberikan zat pirogenik

paten sebagai endotoksin, secara kimia pirogen adalah lemak

yang berhubungan dengan senyawa molekul pembuat yang

biasanya merupakan polisakarida tetap juga merupakan suatu

peptida.

b. Cara menghilangkan pirogen

1) Menurut Farmasetika, hal : 200

Larutan injeksi dikocok dengan penambahan 0,1% carbo

adsorben selama 5-10 menit, kemudian disaring melalui filter

asbes. Metode ini ada kerugiannya, yaitu ada zat obat yang ikut

diserap atau disaring, maka itu lebih baik menjaga kemungkinan

tidak terkena pirogen.

2) Menurut SDF, hal : 147

Komponen pirogen dapat dirusak dengan oksidasi pemanasan

tinggi atau burding up. Dengan menggunakan temperatur tinggi

250C dari 30 - 45 menit atau 170C sampai 180C dari 3 - 4 jam.

Walaupun metode ini efektif untuk kontaminasi pirogen gelas dan

wadah dari logam, tapi itu tidak praktis dari logam. Pirogen

didalam larutan dihilangkan secara kimia oleh oksidasi dengan

peroksida, asam dan alkali tetapi bahan-bahan ini juga dapat


merusak obat-obat dan bahan kimia lainnya dalam larutan.

Penyerapan pirogen didalam asbes dan arang juga efektif

digunakan tetapi obat-obat dan bahan kimia lainnya dalam larutan

juga dapat dihilangkan secara sempurna.

3) Menurut Scovilles, hal : 197

Itu lebih baik mencegah pembentukan pirogen, daripada mencoba

menghilangkan, bagaimanapun dihilangkan melalui

pengabsorbsian dengan filter asbes aktif atau arang aktif. Kedua

metode ini digunakan, ketika ada kemungkinan bahwa bahan

kimia yang mungkin terkontaminasi dengan pirogen. Bahkan

ketika salah satu metode adsorbsi digunakan, tindakan

pencegahan yang penting masih dilakukan penyulingan,

mengumpulkan dan menyimpan air suling, dan dalam

penanganan cepat dari solusi yang disiapkan.

c. Bebas partikulat

1) Menurut SDF, hal : 37

Bahan partikulat mengacu pada bahan yang bergerak, tidak larut

dan kehadirannya tanpa sengaja ada dalam sediaan parenteral.

Adanya bahan partikulat dalam larutan parenteral harus

diperhatikan sejak adanya gambaran rute pemberian walaupun

rute parenteral dapat memberikan keamanan, kenyamanan dan

metode efekif dari pemberian dipercaya bahwa bahan-bahan dari


luar yang tidak disengaja dapat berbahaya.

2) Menurut RPS, hal : 1570

Bahan partikulat berbahaya jika mengandung partikel tidak larut

karena dapat menghambat aliran kapiler (RPS, hal : 1545).

Walaupun bahan tarnbahan tidak lebih dari 50 partikel 1 ml yang

sama atau lebih besar dari 10 mm dan tidak lebih dari 5 partikel/ml

yang sama atau lebih besar dari 25/ml dalam ukuran yang

seimbang.

d. Sumber-sumber partikulat

1) Menurut SDF, hal : 37

Komposisi dari bahan partikulat yang tidak diinginkan bervariasi.

Dalam beberapa hal komposisi ini berasal dari berbagai materi

mengingat yang lain meliputi sumber khusus tersendiri. Bahan dari

luar yang ditemukan pada sediaan parenteral meliputi selulosa,

serat buatan, gelas, karet, logam, partikel plastik, bahan kimia

yang tidak larut, koral, daitom ketombe dan sejenisnya, secara

teoritis mungkin meliputi bahan dari lingkunan dimana produk

tersebut dipasarkan.

5. Jelaskan definisi tentang :

a. Isotonis

1) Menurut Sediaan Farmasi Steril, hal : 126

Larutan isotonis adalah larutan yang mempunyai tekanan osmosa


sama (isoosmotik).

2) Menurut Ilmu Meracik Obat, hal : 195

Isotonis adalah larutan yang mempunyai tekanan osmosa yang

sama dengan darah dan cairan tubuh yang lain.

3) Menurut Scovilles, hal : 152, 154

Isotonis adalah larutan yang mempunyai tekanan osmotik yang

sama dengan cairan dikatakan bahwa yang isotonik dengan yang

lainnya jika suatu larutan yang digunakan berkontak dengan sel,

air akan masuk ke dalam sel karena perbedaan osmotik dan

larutan disekitarnya.

b. Isohidris

1) Menurut Formulasi Steril, hal : 54

Isohidris adalah kondisi suatu larutan zat yang pHnya sesuai

dengan pH fisiologis tubuh, sekitar 7,4.

2) Menurut Ilmu Resep, hal : 20

Isohidris adalah pH optimal untuk darah atau cairan tubuh yang

lain adalah 7,4.

3) Menurut Ilmu Meracik Obat, hal : 194

Isohidris artinya pH larutan injeksi sama dengan darah dan cairan

tubuh lain yaitu 7,4.


c. Hipertonis

1) Menurut Sediaan Farmasi Steril, hal : 125

Larutan hipertonis adalah larutan yang mempunyai tekanan

osmosa lebih besar daripada tekanan osmosa larutan lainnya.

2) Menurut Ilmu Resep, hal : 202-205

Hipertonis adalah tekanan osmosis larutan obat lebih besar

daripada tekanan osmosis cairan tubuh. Jika larutan injeksi

hipertonis disuntikkan, air dalam sel akan ditarik keluar sel

sehingga sel akan mengerut, tetapi keadaan ini bersifat

sementara dan tidak akan menyebabkan kerusakan sel tersebut

dalam keadaan hipertonis.

3) Menurut Formulasi Steril, hal : 50

Hipertonis turunnya titik beku besar yaitu tekanan osmosisnya

lebih tinggi dari serum darah sehingga menyebabkan air keluar

dari sel darah merah melintasi membran semipermibel dan

menyebabkan terjadinya penciutan sel-sel darah merah. Peristiwa

ini disebut plasmolisa.

d. Hipotonis

1) Menurut Ilmu Resep, hal : 202, 203

Hipotonis adalah tekanan osmosis larutan obat lebih kecil

daripada tekanan osmosis cairan tubuh, jika larutan injeksi yang

hipotonis disuntikkan, air dari larutan injeksi akan diserap dan


masuk ke dalam sel, akibatnyasel akan mengandung dan pecah

dan keadaan ini bersifat tetap, jika yang pecah itu sel darah merah

disebut haemolisis. Pecahnya sel ini akan dibawah aliran darah

dan dapat menyumbat pembuluh darah yang kecil.

2) Menurut Formulasi Steril, hal : 50

Hipotonis turunnya titik beku kecil, yaitu tekanan osmosisnya lebih

rendah dari serum darah sehingga menyebabkan air akan

melintasi membran sel darah yang permibel memperbesar sel

darah merah dan menyebabkan peningkatan tekanan dalam sel.

Tekanan yang lebih besar menyebabkan pecahnya sel-sel darah

merah. Peristiwa tersebut disebut haemolisa.

3) Menurut Sediaan Farmasi Steril, hal : 125

Hipotonis yaitu cairan yang mengandung tekanan osmosa yang

lebih kecil terhadap cairan tubuh, maka akan diserap masuk ke

dalam sel-sel tubuh sehingga dapat menyebabkan terjadinya

pengembangan dari sel dan dapat menyebabkan pecahnya sel.

e. Uraian tentang tonisitas

1) Menurut Peracikan Sediaan Steril, hal : 21

Cairan lakrimal memiliki tekanan osmotik atau tonisitas yang sama

dengan larutan NaCl 0,9% dalam air. Jaringan mata dapat

menoleransi tonisitas sebesar 0,5 1,8 % tanpa banyak

menyebabkan ketidaknyamanan.
2) Menurut Kamus Lengkap Kedokteran, hal : 263

Tonisitas adalah tegangan otot yang sehat.

3) Menurut R. Voight, hal : 527

Tonisitas adalah kandungan elektrolit dan kandungan koloid

cairan mata memiliki suatu tekanan osmotik yang nilainya sama

dengan darah dan cairan jaringan.

6. Sebutkan dan jelaskan cara perhitungan tonisitas

a. Menurut R. Voight, hal : 486, 487

1) Penentuan melalui perhitungan turunnya titik beku dan jumlah

natrium klorida.

Penentuan secara perhitungan dilakukan dengan penambahan

zat untuk isotonisasi larutan berdasar pada turunnya titik beku.

Oleh karena itu, mula-mula turunnya titik beku larutan bahan obat

yang diisotonisasikan dihitung dengan harga yang diperoleh

dibanding terhadap turunnya titik beku darah (0,52 K). Dari

perbedaan harga yang telah dihitung tersebut kemudian dapat

ditentukan beberapa banyak natrium klorida (atau bahan lainnya)

yang harus ditambahkan, untuk memperoleh larutan isotonisitas

darah.

Perhitungan turunnya titik beku berlangsung menurut :

K.m.n.1.000
=
M.L
Keterangan :

= turunnya titik beku larutan terhadap bahan pelarut murni

K = turunnya titik beku molar dari bahan pelarut (tetapan

krioskopik untuk air = 1,86 = turunnya titik beku untuk 1

mol zat dalam 1.000 gram larutan).

m = penimbangan (g)

M = berat molekul zat terlarut

L = massa bahan pelarut (g)

n = jumlah ion-ion

Catatan : untuk 100 g air dibutuhkan 0,9 g NaCl ( = 0,52 K)

2) Perhitungan dengan menggunakan tabel informasi turunnya titik

beku bahan obat pada formula

0,52 1
x =
2

Keterangan :

x = jumlah zat (g) yang dibutuhkan untuk mengisotonisasikan

100 g larutan bahan obat

1 = turunnya titik beku larutan bahan obat terhadap air murni

2 = turunnya titik beku larutan bahan, yang ditambahkan untuk

mengisotonisasikan (1 g + air sampai 100 ml); 2 untuk

natrium klorida 0,585 K.

0,52 = turunnya titik beku serum darah terhadap air murni


b. Menurut FI edisi III, hal : 912

Suatu larutan dinyatakan isotonis dengan serum atau cairan mata jika

membeku pada suhu 0,520. Untuk memperoleh larutan isotonik dapat

ditambahkan NaCl atau zat lain yang cocok dapat dihitung dengan

rumus:

0,52b1.C
B =
b2

Keterangan :

B = bobot (g) zat yang ditambahkan dalam 100 ml hasil akhir

b1 = penurunan titik beku yang disebabkan oleh 1% b/v zat khasiat

b2 = penurunan titik beku air yang disebabkan oleh penambahan 1%

b/v zat tambahan

C = kadar zat khasiat dalam % b/v

c. Menurut Scovilles, hal : 168

Persamaan Catalyne

Gm .Solube % W/N M
= [F ( x K)] x
100 ml M K

Keterangan :

% W/N = persentase kekuatan larutan bahan aktif

K = disosiasi faktor bahan aktif

M = berat molekul bahan aktif

K = faktor pemisahan zat ditambahkan

M = berat molekul zat tambahan


F = faktor isotonik

7. Apa itu osmolaritas, dan kenapa sediaan parenteral harus dilebihkan?

a. Menurut SDF, hal : 263

Dalam upaya untuk menyamakan tekanan, air dalam sel-sel jaringan

bergerak secara osmosis dari kurang pekat ke larutan yang lebih

pekat melalui membran semipermibel. Solusi memiliki tekanan

osmotik yang isotonik identik satu sama lain. Jika solusi isotonik

dipisahkan oleh membran semipermibel, tidak ada transfer bersih

cairan dari satu kompartemen yang lain. Osmolaritas

mengungkapkan efek osmotik dan mewakili konsentrasi total zat

terlarut dalam suatu larutan.

b. Menurut R. Voight, hal : 469

Ampul dan juga wadah lainnnya hanya diisi dengan cairan yang

dapat diinjeksikan sampai kepada 90% volume totalnya. Jika tidak

tekanan dalam yang muncul pada sterilisasi panas mengarah kepada

meledaknya gelas. Oleh karena larutan injeksi tidak dapat diambil

secara kuantitatif oleh dokter, karena sebagian kecil larutan tertinggal

sebagai film cairan pada dinding ampul atau pada dasar ampul, maka

volume yang diisikan harus sedikit lebih banyak daripada yang sesuai

dengan yang dinyatakan (volume nominal). Jumlah penambahan

adalah tergantung dari bahan pelarutnya (minyak>air) dan dari

volume nominalnya.
c. Menurut Peracikan Sediaan Steril, hal : 18

Tiap wadah suatu injeksi diisi dengan cairan yang sedikit berlebih dari

ukuran atau volume yang tercantum pada tabel (volume yang akan

ditarik atau digunakan). USP memberikan suatu pedoman yang

menunjukkan kelebihan volume yang dianjurkan baik untuk cairan

encer atau cairan kental.

8. Keuntungan dan kerugian sediaan parenteral

a. Menurut SDF, hal : 11

1) Keuntungan

a) Respon fisiologis yang segera dapat mencapai bila perlu,

yang mana dapat menjadi pertimbangan sama dalam kondisi

klinik, seperti pada gagal jantung, shock dan asma.

b) Terapi parenteral dibutuhkan untuk obat yang tidak efektif

secara oral yang dirusak oleh secret pencernaan, insulin,

hormon-hormon lain dan antibiotik.

c) Obat-obat untuk pasien yang mual atau tidak sadar harus

diberikan melalui injeksi.

d) Jika diperlukan terapi parenteral.

2) Kerugian

a) Bentuk sediaan harus diberikan orang yang terlatih yang

membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan

pemberian dengan rute lain.


b) Pemberian rute parenteral ketelitian yang cukup untuk

pekerjaan secara aseptis dan beberapa rasa sakit tidak dapat

dihindari.

c) Obat yang diberikan secara parenteral menjadi lebih sulit

untuk mengembalikan efek biologinya.

d) Pada pembuatan dan pengemasan merupakan persyaratan

yang rumit dalam bentuk sediaan parenteral dibandingkan

dengan metode lain.

b. Menurut OOP, hal : 19

1) Keuntungan

a) Efek yang diinginkan lebih cepat.

b) Efek obat yang merangsang atau merusak getah lambung

(hormon) atau tidak direabsorbsi usus (Streptomisin).

c) Untuk pasien yang tidak sadar atau tidak mau bekerja sama.

2) Kerugian

Kerugiannya yaitu cara ini lebih mahal, dan nyeri serta sukar

digunakan oleh pasien sendiri. Selain itu, bahaya terkena

infeksi kuman (harus steril) dan bahaya merusak pembuluh

darah atau saraf jika tempat suntikkan tidak dipilih dengan

tepat.
c. Menurut Parrot, hal : 283

Keuntungannya :

Aksi dari obat mempunyai keuntungan yang lebih baik dari pemberian

oral. Pemberian dari rute ini adalah esensial ketika saluran

gastrointestinal tidak dapat gunakan karena operasi atau kekurangan

stabilitas dari obat seperti mielin dan nisilin. G.Respon secara

farmakologi dari injeksi adalah sering kali lebih cepat dan lebih efektif

daripada pemberian obat secara oral. Dalam keadaan darurat untuk

pasien yang lebih sadar atau tidak mampu menerima obat secara

oral. Pemberian injeksi parenteral sifatnya segera dan cepat atau

responya nyata.

d. Menurut Formulasi Steril, hal : 9

Kerugiannya :

1) Rasa nyata pada saat disuntikkan apalagi kalau harus diberikan

secara berulang kali.

2) Memberikan efek psikologis pada penderita yang takut disuntik.

3) Kekeliruan pemberian obat atau dosis hampir tidak mungkin

diperbaiki terutama sesudah pemberian intravena.

4) Obat hanya dapat diberikan pada penderita di RS atau ditempat

praktek dokter dan perawat yang kompeten.


9. Rute pemberian obat sediaan parenteral

a. Menurut Ansel, hal : 400 404

1) Rute intravena

Pemberian obat secara intravena menghasilkan kerja obat yang

cepat dibandingkan dengan cara-cara pemberian lain dan karena

absorpsi obat tidak menjadi masalah, maka tingkatan darah

optimum dapat dicapai dengan ketetapan dan kesegeraan yang

tidak mungkin didapat dengan cara-cara lain.

2) Rute intramuskuler

Pemberian obat lewat intramuskuler menghasilkan efek obat yang

kurang cepat, tetapi biasanya efe berlangsung lebih lama dari

yang dihasilkan oleh pemberian lewat intravena.

3) Rute intradermal

Sejumah zat bisa diinjeksikan dengan efektif ke dalam corium,

yang merupakan lapisan kulit yang lebih vaskular di bawah

epidermis. Zat-zat ini meliputi berbagai zat untuk penentuan

diagnosis, pengurang kepekaan, atau imunisasi. Tempat injeksi

intradermal yang biasa adalah permukaan anterior dari lengan

muka. Biasanya digunakan jarum suntik yang pendek (3/8) dan

sempit (ukuran 23 26 gauge).

4) Rute subkutan

Pemberian rute subkutan digunakan untuk menyuntikkan


sejumlah kecil obat. Obat disuntikkan di bawah permukaan kulit

yang umumnya dilakukan di jaringan interstitial longgar lengan,

lengan bawah, paha atau bokong.

b. Menurut Formulasi Steril, hal : 15

Cara pemberian obat parenteral sebagai berikut :

1) Subkutan atau di bawah kulit (s.c), yaitu disuntikkan ke dalam

tubuh melalui bagian yang lemaknya sedikit dan masuk ke dalam

jaringan di bawah kulit, volume yang diberikan tidak lebih dari 1

ml.

2) Intramuscular (i.m), yaitu disuntikkan ke dalam jaringan otot,

umumnya di otot pantat atau paha.

3) Intravena (i.v), yaitu disuntikkan ke dalam pembuluh darah.

4) Cara pemberian parenteral lainnya :

a) Intraspinal, yaitu disuntikkan ke dalam sumsum tulang

belakang

Larutan harus isotonis dan isohidris

Bila digunakan sebagai anastesi, larutan hipertonis

b) Peritoneal, yaitu keteter dimasukkan ke dalam rongga perut

dengan operasi untuk tempat memasukkan cairan steril CAPD

(Continuos Ambulatory Peritoneal Dialisis).

c) Intraarticular, yaitu disuntikkan ke dalam sendi (larutan harus

isotonis dan isohidris)


d) Intradermal, yaitu disuntikkan ke dalam kulit.

10. Jelaskan anatomi dan fisiologi mata, kulit serta gambar lengkap dengan

bagian-bagiannya?

a. Kulit

1) Menurut Farmasetika, hal : 118

Kulit tersusun oleh banyak macam jaringan, termasuk pembuluh

darah, kelenjar lemak, kelenjar keringat, organ pembuluh, perasa

dan urat saraf, jaringan pengikat, otot polos dan lemak.

Diperkirakan luas permukaan kulit 18 kali kuadrat. Berat kulit

tanpa lemak adalah 8 pound. Kulit manusia terdiri dari 3 lapisan

yang berbeda, yaitu :

a) Epidermis, merupakan lapisan luar, dengan tebal 0,16 mm

pada pelupuk mata sampai 0,8 mm pada telapak tangan dan

telapak kaki. Epidermis berfungsi sebagai sawar pelindung

terhadap bakteri, iritasi kimia, alergi dan lain-lain. Epidermis

terdiri dari 5 lapisan, yaitu :

Stratum corneum (lapisan tanduk), terdiri dari sel mati

berkreatinin berbentuk dan tersusun berlapis-lapis. Stratum

corneum diduga merupakan sawar kulit pokok terhadap

kehilangan air. Beberapa lapis sel mati berkreatinin sangat

hidrofil dan bila tercelup dalam air akan mengembang.

Stratum lucidum (daerah rintangan), menunjukkan sebagai


daerah sawar hanya terlihat pada telapak kaki dan telapak

tangan.

Stratum granulosum (lapisan seperti butir), berpartisipasi

aktif dalam proses kretinisasi, hanya mekanismenya belum

diketahui jelas.

Stratum spinosum (lapisan sel duri) dan stratum

germinativum (lapisan sel basal), disebut lapisan malphigi.

Sedang lapisan basal berfungsi membentuk lapisan yang

menyusun epidermis.

b) Dermis atau corium, tebalnya 3 5 mm, merupakan anyaman

serabut kolagen dan elastin yang bertanggungjawab untuk

sifat-sifat penting dari kulit. Dermis mengandung pembuluh

darah, pembuluh limfe, gelembung rambut, kelenjar lemak

(sebasea), kelenjar keringat dan serabut saraf dan corpus

pacini.

c) Jaringan subkutan berlemak, bekerja sebagai bantalan dan

isolator panas. Kulit yang utuh merupakan sawar yang efektif

terhadap penetrasi. Absorpsi obat terutama tergantung pada

keadaan fisiologi kulit dan sifat fisika-kimia dari obat dan

sedikit sekali tergantung pada dasar salep dimana obat

berada. Absorpsi melalui kulit dapat terjadi menembus daerah

anatomi seperti : menembus langsung epidermis utuh, masuk


diantara atau menembus sel stratum korneum, atau

menembus kulit tambahan seperti kelenjar keringat, kelenjar

lemak dan gelembung rambut.

2) Menurut Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis, hal : 290

Kulit menutupi dan melindungi permukaan tubuh, serta

bersambung dengan selaput lendir yang melapisi rongga-rongga

dan lubang-lubang masuk. Kulit yang didalamnya terdapat ujung

saraf peraba mempunyai banyak fungsi, antara lain membantu

mengatur suhu dan mengendalikan hilangnya air dari tubuh dan

mempunyai sedikit kemampuan eksretori, sekretori dan absorpsi.

Kulit dibagi menjadi 2 lapisan :

a) Epidermis, tersusun atas epitelium berlapis dan terdiri atas

sejumlah lapisan sel yang disusun atas 2 lapis yang jelas

tampak : selapis lapisan tanduk dan selapis zona marginalis.

Lapisan epidermal. Lapisan tanduk terletak paling luar dan

tersusun atas 3 lapisan sel yang membentuk epidermis.

Stratum korneum, selnya tipis, datar, seperti sisik dan terus-

menerus dilepaskan.

Stratum lisidum, selnya mempunyai batas tegas tetapi tidak

ada intinya.

Stratum granulosum, selapis sel yang jelas tampak berisi

inti dan granulosum.


Zona marginalis terletak di bawah lapisan tanduk dan terdiri

atas 2 lapisan epitel yang berbentuk tegas.

Sel berduri, yaitu sel dengan fibril halus yang menyambung sel

satu dengan yang lainnya di dalam lapisan ini, sehingga setiap

sel seakan-akan berduri.

Sel basal, sel ini terus-menerus memproduksi sel epidermis

baru. Sel ini disusun dengan teratur, berderet dengan rapat

membentuk lapisan pertama atau lapisan dua sel pertama dari

sel basal yang duduk diatas papila dermis.

Epidermis tidak berisi pembuluh darah. Saluran kelenjar

keringat menembus epidermis dan mendampingi rambut.

b) Dermis atau korium, tersusun atas jaringan fibrus dan jaringan

ikat yang elastis. Pada permukaan dermis tersusun papil-papil

kecil yang berisi ranting-ranting pembuluh darah kapiler.

Gambar Anatomi Kulit


b. Mata

Menurut Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis, hal : 380

Mata adalah organ penglihat. Bola mata terletak dalam tulang orbita,

serta dilindungi sejumlah struktur, seperti kelopak mata, alis,

konjungtiva dan alat-alat lakrimal.

1) Bola mata

Umumnya mata dilukiskan sebagai bola, tetapi sebetulnya lonjong

dan bukan bulat seperti bola. Bola mata mempunyai garis

menengah kira-kira 2,5 cm, bagian depannya bening, serta terdiri

atas 3 lapisan :

a) Lapisan luar, fibrus, yang merupakan lapisan penyangga

b) Lapisan tengah vaskuler

c) Lapisan dalam, lapisan saraf

Ada 6 otot penggerak mata, empat diantarannya lurus, sementara

dua yang lain agak serong. Otot-otot ini terletak di sebelah dalam

orbita, dan bergerak dari dinding tulang orbita untuk dikaitkan

pada pembungkus sklerotik mata sebelah belakang kornea. Otot-

otot lurus terdiri atas otot rektus mata superior, inferior, medial

dan lateral. Otot-otot ini menggerakkan mata ke atas, ke bawah,

ke dalam dan ke sisi luar bergantian.

Otot-otot oblik adalah otot inferior dan superior. Otot oblik

menggerakkan ke bawah dan ke sisi luar, sementara otot oblik


inferior menggerakkan mata ke atas dan juga ke sisi luar.

Sklera adalah pembungkus yang kuat dan fibrus. Sklera

membentuk putih mata dan bersambung pada bagian depan

dengan sebuah jendela membran yang bening, yaitu kornea.

Sklera melindungi struktur mata yang sangat halus, serta

membantu mempertahankan bentuk biji mata.

Retina adalah lapisan saraf pada mata, yang terdiri atas sejumlah

lapisan serabut, yaitu sel-sel saraf, batang-batang, dan kerucut.

Bagian-bagian bola mata

Kornea, merupakan bagian depan yang transparan dan

bersambung dengan sklera yang putih dan tidak tembus

cahaya. Korne terdiri atas beberapa lapisan. Lapisan tepi

adalah epitelium berlapis yang bersambung dengan

konjungtiva.

Bilik anterior (kamera okuli anterior), yang terletak antara

kornea dan iris.

Iris adalah tirai berwarna di depan lensa yang bersambung

dengan selaput tiroid.

Pupil, bintik tengah yang berwarna hitam, yang merupakan

celah dalam iris, tempat cahaya masuk guna mencapai retina.

Bilik posterior (kamera okuli posterior) terletak diantara iris dan

lensa.
Akues humor. Cairan ini berasal dari korpus siliare dan

diserap kembali ke dalam aliran darah pada sudut antara iris

dan kornea melalui vena halus yang dikenal sebagai saluran

Schlemm.

Lensa adalah sebuah benda transparan bikonveks (cembung

depan belakang) yang terdiri atas beberapa lapisan.

Vitreus humor. Darah sebelah belakang biji mata, mulai dari

lensa hingga retina, diisi cairan penuh albumen berwarna

keputih-putihan seperti agar-agar, yaitu vitreus humor.

Gambar Anatomi Mata

11. Sebutkan dan jelaskan metode sterilisasi dan indicator yang digunakan

a. Menurut Ansel, hal : 411

1) Sterilisasi uap (lembap panas), dilakukan dalam autoklaf dan

menggunakan uap air dengan tekanan. Mekanisme

penghancuran bakteri oleh uap air panas adalah karena


terjadinya denaturasi dan koagulasi beberapa protein esensial

organisme tersebut, adanya uap air yang panas dalam sel

mikroba, menimbulkan kerusakan pada temperatur yang relatif

rendah.

Tekanan 10 pound (115,50C), untuk 30 menit

Tekanan 15 pound (121,50C), untuk 20 menit

Tekanan 20 pound (126,50C), untuk 15 menit.

Dapat dilihat, makin besar tekanan yang dipergunakan makin

tinggi temperatur yang dicapai dan makin pendek waktu yang

dibutuhkan untuk sterilisasi. Metode ini juga dipergunakan untuk

larutan dalam jumlah besar, alat-alat gelas, pembalut operasi

dan instrumen.

2) Sterilisasi panas dan kering

Sterilisasi panas kering biasanya dilakukan dengan oven

pensteril yang dirancang khusus untuk tujuan ini. Oven dapat

dipanaskan dengan gas atau listrik umumnya temperatur diatur

secara otomatis.

Sterilasasi panas kering, biasanya ditetapkan pada temperature

1600C 1700C dengan waktu tidak kurang dari 2 jam.

Sterilisasi panas kering umumnya digunakan untuk senyawa-

senyawa yang tidak efektif disterilkan dengan uap air panas.

Juga efektif untuk sterilisasi alat-alat gelas, dan alat-alat bedah.


Dan merupakan metode pilihan bila dibutuhkan peralatan yang

kering atau wadah yang kering seperti pada pengemasan zat-zat

kimia kering seperti pada pengemasan zat-zat kimia kering atau

larutan bukan air.

3) Sterilisasi dengan pengeringan

Sterilisasi dengan penyaringan tergantung pada penghilangan

mikroba secara fisik dengan adsorpsi pada media penyaring atau

dengan mekanisme penyaringan, digunakan untuk sterilisasi

larutan yang tidak tahan panas.

Sediaan obat yang disterilkan dengan cara ini menjalani

pengesahan yang ketat dan memonitoring karena efek produk

hasil penyaringan dapat sangat dipengaruhi oleh banyaknya

mikroba dalam larutan yang difiltrasi.

Keuntungan utama saringan bakteri meliputi kecepatan pada

penyaringan sejumlah kecil larutan, kemampuan untuk

mensterilkan secara efektif materi-materi yang tidak tahan

panas, peralatan yang dipergunakan relatif tidak mahal dan

mikroba hidup dan mati serta partikel-partikel lengkap semua

dihilangkan dari larutan.

4) Sterilisasi gas

Beberapa senyawa yang tidak tahan panas dan uap dapat

disterilkan dengan memaparkan gas etilen oksida adalah


propilen oksida. Bila dibandingkan dengan cara-cara lain poada

umumnya sterilisasi dengan gas dipertinggi dan waktu

pemaparan yang dibutuhkan memendek dengan meningkatnya

kelembapan relative dari sistem (sampai kira-kira 60 %) dan

dengan peningkatan temperatur memerlukan waktu pemaparan

(sampai antara 500C 600C).

Umumnya sterilisasi dengan gas etiten oksida memerlukan

waktu pemaparan 4 - 16 jam. Diduga kerja etilen oksida sebagai

zat pensteril adalah dengan mengganggu metabolisme sel

bakteri. Pada pemakaian khusus tertentu seperti pada peralatan

operasi dan kedokteran dan alat-alat seperti kateter, jarum, alat

suntik plastik sekali pakai (disposable) pada pengemasan akhir

dengan plastik segera sebelum pengiriman. Gas juga digunakan

untuk mensterilkan berbagai sediaan enzim tertentu yang tidak

tahan panas, antibiotik-antibiotik tertentu dan obat-obat lain,

dengan melakukan pengujian-pengujian untuk menjamin tidak

timbul reaksi kimia atau efek-efek merusak senyawa obat.

5) Sterilisasi dengan reaksi pengionan

Teknik-teknik yang disediakan untuk sterilisasi beberapa jenis

sediaan-sediaan farmasi dengan sinar gama dan sinar-sinar

katoda, tetapi penggunaan teknik-teknik ini terbatas karena

memerlukan peralatan yang sangat khusus dan pengaruh-


pengaruh radiasi seperti produk-produk dan wadah-wadah.

Mekanisme yang pasti mengenai pensterilan obat atau sediaan

dengan radiasi masih diselidiki. Satu dari beberapa teori yang

diajukan adalah, ikut terlibat dalam kegiatan kimiawi atau

membantu mikroorganisme membentuk senyawa kimia baru

yang dapat merusak sel. Teori lain mengatakan bahwa struktur

utama sel seperti neoleoprotein (protein inti), kromosom dirusak

atau dikacaukan seluruhnya dan kerusakan itu menetap.

b. Menurut RPS18th, hal : 1551

Dengan cara merendam alat dalam larutan panas HCl 0,1 N selama

30 menit kemudian dibilas dengan air suling.

12. Standar evaluasi sediaan steril

a. Menurut Peracikan Sediaan Steril, hal : 231

Untuk semua sediaan steril, kebijakan dan prosedur untuk

mengevaluasi sediaan akhir harus mancakup infeksi adanya

kebocoran, keutuhan wadah, kekeruhan partikulat, warna dan volume

oleh apoteker. Selain itu, evaluasi sediaan akhir juga harus meliputi

verifikasi kesesuaian bahan-bahan, kuantitas, wadah, reservoir dan

label, terhadap pesanan obat atau resep : verifikasi ini dilakukan oleh

apoteker.

b. Menurut Formulasi Steril

Obat suntik yang telah diproduksi memerlukan pengujian kualitas


obat suntik untuk menjamin bahwa semua persyaratan produk

parenteral telah dipenuhi sesuai dengan pen gujian kimia, fisika, dan

mikrobiologi, meliputi :

1) Kekedapan

Ampul yang telah disterilkan, seringkali memiliki celah atau

retakan yang tidak terlihat oleh mata atau secara mikroskopik,

khususnya pada lokasi penutup ampul.

2) Kejernihan (Pengotoran tidak terlarut, bahan melayang)

Pengujian visual ditujukan bagi pengotor tidak larut, khususnya

bahan melayang dan serpihan gelas. Pengotor dapat berasal dari

material penyaring, ketidakcermatan membersihkan ampul, dari

udara yang masuk, atau pada saat pembersihan ampul.

3) Zat aktif (kadar)

Terlebih dahulu dilakukan uji identifikasi untuk bahan aktif obat

secara kimia, kemudian pengujian kadar dapat dilakukan dengan

volumetrik, spektrofotometer, HPLC, atau alat lain yang cocok

secara kuantitatif dengan standar farmakope.

4) Sterilitas

Pengujian sterilitas, endotoksin bakteri, partikel partikulan

dilakukan secara mikrobiologis dengan menggunakan medium

pertumbuhan tertentu.

5) Pirogenitas
Pengujian dilakukan dengan tes kelinci (FI) dan tes limulus.

6) Volume

Pengujian dilakukan dengan alat ukur volume. Volume larutan tiap

wadah harus sedikit lebih dari volume yan ditetapkan.

7) Keseragaman bobot

Kita hilangkan etiket 10 wadah, cuci bagian luar wadah dengan

air, keringkan, kemudian timbang satu per satu dalam keadaan

terbuka. Selanjutnya, keluarkan isi wadah, cuci dengan air, lalu

dengan etanol 95 % dan keringkan pada suhu 105 0C hingga bobot

tetap. Dinginkan dan ditimbang isi satu per satu. Bobot isi wadah

tidak boleh menyimpang dari batas tertentu, kecuali satu wadah

yang boleh menyimpang tidak lebih dari 2 kali batas tertentu.

8) pH

pengujian dilakukan dengan menggunakan kertas lakmus atau

kertas universal (secara konvensional) atau dengan alat pH meter.

9) Homogenitas

Pengujian homogenitas diberlakukan bagi suspensi yang harus

menunjukkan tampak luar homogen setelah pengocokan dalam

waktu tertentu menggunakan alat viskometer Brookfield,

sedangkan pengujian homogenitas emulsi dilakukan secara

visual.

10) Toksisitas (khusus untuk produk baru)


Dilakukan pemeriksaan dengan anak udang LD50.

13. Tuliskan struktur industri farmasi CPOB terkini

Menurut Farmasi Industri, hal : 56 122

a. Quality Assurance (QA)

Adalah suatu konsep yang luas mencakup semua aspek yang secara

kolektif maupun individual mempengaruhi mutu, dari konsep design

hingga produk tersebut ditangan konsumen.

1) GCP (Good Clinic Practice)

2) GLP (Good Laboratory Practice)

3) GDP (Good Distribution Practice)

4) GMP (Good Manufacturing Practice)

Merupakan bagian dari QA (Quality Assurance)

b. Departemen Research and Development

Merencanakan dan mengembangkan produk baru, serta produk yang

sudah ada.

c. Departemen PPIC (Production Planning and Inventory Control)

PPIC adalah sistem pemantauan dan pengendalian inventory sehinga

bisa dipertahankan stok minimal yang ideal dan tetap terjamin

pemenuhan kebutuhan produk di pasaran.

d. Departemen Purchasing

Merupakan salah satu departemen yang berada di bawah

Departemen Manufacturing.
e. Departemen Quality Control

Semua upaya pengawasan terencana dan terpadu yang dilakukan

mulai dari awal sampai obat jadi dan dirancang untuk menjamin

keseragaman produk.

f. Departemen Produksi

Produksi adalah semua kegiatan obat mulai dari penerimaan bahan

awal pengolahan, dan pengemasan untuk menghasilkan obat jadi.

Daerah produksi untuk pembuatan obat pada industri farmasis sesuai

dengan CPOB, dibedakan menjadi

1) Kelas 1A / Critical Area

Partikel berukuran lebih 0,5 mikro < 100 CF, mikroba < 1 per m 3,

efisiensi filter udara 99,997 %, suhu 16 25 0C, rH 45 55 % dan

pertukaran udara > 120 x per jam.

2) Kelas 1 B / Critical Area

Support zone partikel berukuran lebih 0,5 mikron < 100 CF,

mikroba < 5 per m3, efisiensi pertukaran udara 99,997 %, suhu 16

250C, rH 45 55 % dan pertukaran udara > 120 x per jam.

3) Kelas 10.000 / White Area

Partikel berukuran lebih 0,5 mikron < 10.000 CF, mikroba < 100

per m3, efisiensi filter udara 99,995 %, suhu 16 250C, rH 45 55

% dan pertukaran udara > 20 x per jam.

4) Kelas 100.000 / grey area


Partikel berukuran lebih 0,5 mikron < 100.000 CF, mikroba < 500

per m3, efisiensi filter udara 95 %, suhu 20 280C, rH 45 55 %

dan pertukaran udara > 20 x per jam.

5) Kelas > 100.000 / black area

Partikel berukuran lebih 0,5 mikron tidak ditetapkan, jumlah

mikroba / m3 tidak ditetapkan, efisiensi filter udara tidak

ditetapkan, suhu 20 -280C, rH 60 80 % dan pertukaran udara per

jam tidak ditetapkan.

14. Cara perhitungan expire date

a. Penentuan expire date

1) Menurut Farmasetika, hal : 210

Tanggal kadaluarsa dinyatakan dalam bulan dan tahun, dan

dimaksudkan bahwa sampai dengan tanggal yang dimaksud,

mutu dan kemurnian obat dijamin masih tetap memenuhi syarat

baku.

2) Menurut Formulasi Steril, hal : 42

Tanggal kadaluarsa obat (expiration date) adalah tanggal yang

menunjukkan effektivitas dan keamanan obat untuk dipergunakan.

Faktor yang mempengaruhi kadaluarsa obat antara lain :

6) Waktu paruh penyimpanan obat (shelf life)

Shelf life adalah waktu yang diperlukan obat agar memiliki

daya kerja hingga tinggal separuhnya. Tiap kenaikan suhu


penyimpanan 100C dapat mengurangi waktu paruhnya

sebanyak 50%. Dengan demikian, bila obat yang seharusnya

disimpan pada suhu 50C dan mempunyai waktu paruh 4 tahun

disimpan pada suhu 150C maka waktu paruh penyimpanan

menurun menjadi 2 tahun, begitu seterusnya. Berkurangnya

waktu penyimpanan obat pun berarti bertambah cepatnya

waktu kadaluarsa obat sudah rusak walaupun tanggal

kadaluarsa masih jauh. Obat-obat yang mempunyai tanggal

kadaluarsa antara lain antibiotik 2 5 tahun, sera, vaksin 6

bulan 1 tahun setelah pembuatan pabrik, dan obat-obatan

injeksi lainnya.

7) Suhu penyimpanan obat

Jika obat tidak disimpan sesuai dengan aturan suhu yang

sesuai maka ada kemungkinan jauh sebelum tanggal

kadaluarsa yang tercantum, obat tersebut sudah rusak.

b. Perhitungan expire date

Menurut Farmasi Industri, hal : 74 76

Untuk menetapkan masa edar berdasarkan penurunan kadar bahan

aktif.

Masa edar didefinisikan sebagai periode waktu yang ditetapkan pada

tingkat konfidensi 95% bahwa dalam periode waktu tersebut produk

tetap mengandung zat aktif tidak kurang dari batas bawah spesifikasi,
misalnya 90% dari jumlah yang tertera pada tabel.

Contoh perhitungan masa edar :

Tiga bets dimasukkan ke dalam program studi stabilitas. Evaluasi

pendahuluan menunjukkan bahwa variasi dari bets telah memuaskan,

karena itu data dapat digabungkan.

Hasil Penetapan Kadar

Waktu (x) Batch I Batch II Batch III


Rata-rata
Bulan (y1) mg (y2) mg (y3) mg
0 51 51 53 51,7
3 51 50 52 51
6 50 52 48 50
9 49 51 51 50,3
12 49 48 47 48
18 47 45 49 47
N = 18 x = 144 y = 849 xy = 6984
x2 = 1782 y2 = 14.476
x=8 y = 49,67
(x x)2 = 630 (y y) = 74

Analisis

1) Dari hasil penetapan kadar dibuat grafik antara kadar obat vs

waktu

C = C0 k.t

Dimana :

C = kadar pada waktu t

C0 = kadar pada waktu awal (t0)


k = konstanta laju pengurangan kadar

t = waktu (waktu penyimpanan)

2) Perkiraan slope (kemiringan) dan perpotongan garis kuadrat

terkecil (regresi)

Persamaan regresi :

y = a + bx

a = berpotongan dengan sumbu y

b = kemiringan (slope)

C = C0 k.t

Maka k = -b atau k = kemiringan (slope)

N .xy xy 18 .(6984) (894)


b= = = - 0,267 mg/bulan
N .x2 (x) 18 .(1782) (144)

k = 0,267

a = y bx = 49,67 (-0,267) 8 = 51,80

3) Persamaan garis lurus, menjadi :

C = C0 k.t = 51,8 . -0,267 . t

4) Untuk menghitung bahan aktif 90% (45 mg) :

t90 = C0 C/k

= 51,8 45 / 0,267 = 25,5 bulan

15. Drug delivery sistem transdermal dan parameter-parameternya

a. Menurut Leon Shargel, hal : 477

Sediaan transdermal dimaksudkan obat-obat yang diberikan secara


topikal untuk absorpsi sistemik melalui kulit dalam suatu laju yang

terkendali selama jangka waktu yang panjang. Pada umumnya,

sediaan terdiri atas obat yang ada diatas lapisan reservoir yang

didukung dengan suatu penyangga. Difusi obat dikendalikan oleh

suatu membran semipermibel yang ada diataslapisan reservoir.

Suatu batasan tentang sediaan transdermal adalah kuantitas dosis.

b. Menurut Ars Prescribendi 3, hal : 49

Obat yang diberikan pada kulit umumnya untuk efek lokal. Absorpsi

obat melalui kulit terbentur pada fungsi kulit sebagai pelintang yang

mengamankan jaringan dibawahnya terhadap pengaruh yang

merugikan dari luar. Tetapi bila bagian luar dari kulit rusak maka

molekul obat mudah masuk; dermis semipermibel terhadap berbagai

molekul obat kecil maupun besar.

Obat yang dapat berpenetrasi melaui kulit yang utuh, ditentukan

terutama oleh koefisien partisi lipid atau air.

16. Jelaskan jalur-jalur dan sistem pertukaran cairan tubuh !

a. Menurut R. Voight, hal : 499

Kira-kira 60% organisme manusia terdiri dari air. Untuk seorang

dewasa dengan massa tubuh 80 kg maka dengan demikian

diperhitungkan dengan sejumlah air ~ 50 L. Maka dibedakan antara

air, yang terdapat didalam bagian sel (intraseluler) dan air yang

terdapat diluar bagian sel (ekstraseluler), yang dijumpai sebagai


cairan interstiel di antara sel-sel. Antara air dari aliran darah dan air

dalam ruang interstisiel berlangsung suatu pertukaran cairan dan

pertukaran ion-ion melalui difusi.

b. Menurut Ars Prescibendi 3, hal : 88,112

Situs utama metabolisme obat ialah di hati, disamping itu juga terjadi

metabolisme di ginjal, jaringan otot, dan dinding usus. Enzim untuk

metabolisme terdapat dalam mitokondria atau fraksi mikrosom. Tetapi

ada juga kemungkinan sedikit metabolisme terjadi dalam saluran

darah, disebabkan kemungkinan enzim melimpah dari sel ke cairan

ekstraseluler.

Obat diberikan pada penderita melalui rute berikut :

1) Intravaskuler : suntikkan intravena. Pada pemberian intravaskuler

obat langsung masuk ke peredaran sistemik dan didistribusikan ke

seluruh tubuh.

2) Ekstravakuler : suntikkan intramuskuler/subkutan/intradermal.

Pada pemberian ekstravaskuler obat harus diabsorpsi terlebih

dahulu sebelum masuk ke peredaran sistemik.

c. Menurut Fater edisi V, hal : 6

Dengan suntikkan i.m atau s.c, obat langsung masuk interstitium

jaringan otot atau kulit pembuluh darah kapiler darah sistemik.

Obat yang larut lemak masuk ke dalam darah kapiler dengan

melintasi membran sel endotel secara difusi pasif. Dalam darah, obat
akan diikat oleh protein plasma dengan berbagai ikatan lemah. Obat

yang terikat pada protein plasma akan dibawa oleh darah ke seluruh

tubuh. Di jaringan, obat yang larut air akan tetap berada di luar sel (di

cairan interstisial), sedangkan obat yang larut lemak akan berdifusi

melintasi membran sel dan masuk ke dalam sel, tetapi karena

perbedaan pH di dalam sel (pH = 7) dan di luar sel (pH = 7,4), maka

obat-obat asam lebih banyak di luar sel dan obat-obat basa lebih

banyak di dalam sel.

17. Jelaskan standarisasi water pro injection !

a. Menurut Formulasi Steril, hal : 42,43

Persyaratan water for injection (WFI) menurut standar BP (2001) dan

EP (2002) tidak boleh mengandung :

1) Total karbon organik tidak boleh lebih dari 0,5 mg/L, kemudian bila

25 ml air untuk injeksi ditambahkan kalsium hidroksida LP maka

selama 5 menit harus tetap jernih.

2) Klorin tidak boleh lebih dari 0,5 ppm kemudian bila 100 ml air

untuk injeksi ditambahkan 1 ml perak nitrat LP, maka setelah

didiamkan 5 ml harus tetap tidak berwarna dan jernih.

3) Amonia tidak boleh lebih dari 0,1 ppm. Kemudian bila 50 ml air

untuk injeksi yang ditambahkan 2 ml kalsium raksa (II) iodida LP

dalam suasana alkalis dan dilihat dalam tabung Nessler mak tidak

memperlihatkan pewarnaan yang lebih kuat daripada pewarnaan


yang diberikan 50 ml air yang bebas amoniak P setelah

penambahan 2 ml pereaksi Nessler LP dan diperiksa pada

keadaan yang sama.

4) Nitrat boleh lebih dari 0,2 ppm. Kemudian 5 ml air untuk injeksi

tidak boleh memberikan warna biru pada batas permukaan

setelah dituangkan dengan hati-hati ke dalam 5 ml fenilalamina

LP.

5) Logam berat (Cu, Fe, Pb) tidak boleh lebih dari 0,1 ppm.

Kemudian bila 100 ml air untuk injeksi ditambahkan 1 tetes larutan

natrium sulfide LP, maka harus tetap jernih dan tidak berwarna.

6) Oksidator tidak lebih dari 5 ppm. Kemudian bila 100 ml air untuk

injeksi didihkan selama 3 menit serta ditambahkan 10 ml asam

sulfat encer P dan 0,5 ml kalium permanganat 0,01 N maka tidak

menghilangkan sama sekali warna larutan.

7) Bebas pirogen

8) pH 5,0 7,0 pemeriksaan dengan 10 ml air untuk injeksi dengan

ditambahkan 2 tetes larutan merah metal LP tidak boleh

memberikan warna merah kemudian 10 ml air untuk injeksi

dengan ditambahkan 5 tetes larutan biru bromtimol LP tidak boleh

memberikan warna biru.


b. Menurut Howard C.Ansel, hal 407

Steril water pro injection, USP, adalah air untuk obat suntik yang telah

disterilkan dan dikemas dalam wadah-wadah dosis tunggal yang tidak

lebih besar dari ukuran 1 liter. Seperti air untuk obat suntik, harus

bebas pirogen dan tidak boleh mengandung zat antimikroba atau zat

tambahan lain. Air ini boleh menganduk sedikit lebih banyak zat padat

total dari pada air untuk obat suntik karena terjadinya pengikisan zat

padat dari lapisan gelas tengki selama proses sterilisasi.

18. Jelaskan cara pengolahan air menurut CPOB dan klasifikasi air untuk

produksi (CPOB 2001)?

a. Menurut Aisyah fatmawati, hal 263-265

1) Cara pengolahan air menurut CPOB yaitu

Proses pembuata air atau pengolahan air untuk diproduksi air dari

sumber artesis dialirkan ke bak penampungan (water tower)

dengan gaya gravitasi air mengalir dan disaring oleh sand filter,

kemudian disalurkan ke karbon filter yang berfungsi untuk

menyaring dan menghilangkan bau, warna dan rasa. Setelah

melewati karbon filter, air delewatkan melalaui cardridge filter

ukuran 5 mikron. Selanjutnya air mengalir ketabung yang berisi

resion kation yang berfungsi untuk mengikat molekul atau senyawa

yang bermuatan negatif, lalu diteruskan ketabung resin anion


untuk mengikat molekul-molekul atau senyawa-senyawa yang

bermuatan positif. Setelah melewati tangki-tangki tersebut, aqua

demineralisata yang dihasilkan dilewatkan pada cardridge 1 mikron

dan UV sterilization yang berfungsi untuk membunuh organisme.

Aqua demineralisata dilewatkan pada alat konduktifity meter untuk

pemeriksaan konduktifitas untuk kemudian ditampung. Aqua

demineralisata dialirkan kebagian produksi setelah melalui

pengujian dari QC (quality control).

2) Klasifikasi air

Grade I : raw water

Fungsi : untuk memadam kebakaran, menyiram tanaman

pembuatan: air sumber PDAM dll

Grade II: potable water (PW)

Fungsi : cuci pakaian, cuci alat nostril, pembersihan ruangan,

kamar mandi dll.

Pembuatan :

Raw Iron Sand Carbon


wate Chiorenasi filter
removal filter
r

Potable
water
Grade III: aquademineralisata

Fungsi : cuci akhir container, produksi, sirup/ tablet/coating

Pembuatan :

Saringan
mikro 3 m

Potable Saringan UV Purified


De-ionisasi lamp water
water mikro 1 m

Saringan
mikro 0,2 m
Grade IV: water for injection (WFI)

Fungsi : cuci akhir container sterile, cuci vial/ampul/produksi

steril, laboratorium dll

Pembuatan :

Unit Water for


Purified water destilasi injection

b. Menurut BPOM

Pengolahan air, yaitu :

1. Hendaklah ulang dilakukan tindakan pencegahan untuk

mengurangi pencemaran pada seluruh tahap pengolahan

termasuk tahap sebelum proses sterilisasi.


2. Pembentukan produk yang berasal dari sumber mikrobiologi

hendaklah tidak diproses atau diisi diarea yang digunakan untuk

obat lain.

c. Menurut Howard C. Ansel, hal : 406-418

Air ini dimurnikan dengan cara penyulingan atau osmosis terbalik

dan memenuhi standar yang sama dengan purified water, dalam hal

jumlah zat padat yang ada yaitu tidak lebih dari 1 mg per 100 ml

water for injection, dan tidak boleh mengandung zat penambah.

Walaupun air untuk obat suntik tidak disyaratkan steril tetapi harus

bebas pirogen.

Uji Pirogen

Pembuatan air untuk obat suntik harus menggunakan cara-cara yang

sesuai untuk menghilangkan pirogen dari produknya. Karena pirogen

adalah senyawa organik, maka satu cara yang lebih umum dalam

memudahkan pemusnahan pirogen adalah dengan mengoksidasi

pirogen menjadi gas yang mudah dibuang atau menjadi padatan

yang tidak mudah menguap.

19. Jelaskan apa itu QA, QC, R and D, PPIC, CPOB, PURCHASING ?

1) Quality Assurance (QA)

Menurut PTM, hal : 199

QA - Total jumlah dari pengaturan terorganisir yang dilakuka untuk


memastikan bahwa produk akan tampil pada aplikasi atau

penggunaan.

Menurut Farmasi Industri (Hal: 54)

QA (Quality Assurance) adalah suatu konsep yang luas yang


mencakup semua aspek yang secara kolektif maupun individual
mempengaruhi mutu, dari konsep design hingga product tersebut
ditangan konsumen.

Menurut WHO

QA (Quality Assurance) adalah perampingan total pada semua


model manajemen untuk menjamin suatu produk yang dikeluarkan
untuk penggunaan yang dikehendaki.

2) Quality Control (QC)

a) Menurut PTM, hal : 199

QC Bagian yang berkaitan dengan pengambilan sampel,

spesifikasi dan pengujian, dan dengan prosedur organisasi,

dokumentasi dan pengeluaran yang benar-benar memastikan

bahwa pengujian yang diperlukan sebenarnya dilakukan tepat

waktu. Bahan harus diterima untuk diproses, disalurkan, dan

digunakan. Produk diracik harus mengalami seluruh proses

peracikan, dan disalurkan untuk penjualan atau pasokan jika,

dan hanya jika, kriteria kualitas yang telah dicapai.


b) Menurut SDF, hal : 106

Jaminan terbaik untuk produk menjadi apa yang dinyatakan pada

label adalah kepatuhan yang ketat oleh personel teliti dengan

prosedur produksi yang baik terlepas dari kulaitas pengujian

kontrol, kualitas tidak dapat diuji menjadi produk kualitas ada

karena komposisi digunakan, prosedur diikuti, dan personel yang

terlibat dalam persiapannya. Aspek ini mengasumsikan

kepentingan yang lebih besar dalam persiapan, tanpa persiapan

produk steril karena waktu terbatas untuk pengujian sebelum

penggunaannya.

c) Menurut Farmasi Industri (Hal: 119)


QC (Quality Control) adalah semua upaya pengawasan
(pemeriksaan) terencana dan terpadu yang dilakukan mulai dari
awal sampai obat jadi dan dirancang untuk menjamin
keseragaman produk obat yang memenuhi spesifikasi identitas,
kekuatan, kemurnian, dan karakteristik lain yang telah ditetapkan
atau diisyaratkan.

3) R and D
Menurut Farmasi Industri (Hal: 69)
R and D merupakan ikon raksasa. Keberhasilan R and D terletak pada
kompetensi organisasional termasuk tim kerja (knowledge
management dan hubungan yang kuat dengan opinion leader).

4) PPIC (Product Planning and Inventory Control)


Menurut Farmasi Industri (Hal: 110)
PPIC (Product Planning and Inventory Control) adalah sistem
pemantauan dan pengendalian Inventory sehingga dipertahankan stok
minimal yang ideal dan tetap terjamin pemenuhan kebutuhan produk
di pasaran.

5) CPOB (Cara Pembuatan Obat yang Baik)


Menurut Farmasi Industri (Hal: 27)
CPOB (Cara Pembuatan Obat yang Baik) atau GMP (Good
Manufacturing Practice) merupakan peraturan, pedoman atau anjuran
yang dibuat oleh pemerintah yang merupakan persyaratan pemastian
mutu untuk sediaan obat dan alat kesehatan.

6) PURCHASING
Menurut Farmasi Industri (Hal: 115)
PURCHASING merupakan salah satu departemen yang berada
dibawah depatremen Manufacturing. Departemen Purchasing
dipimpin oleh seorang menejer dan dibantu oleh dua orang supervisor
serta beberapa staf.

20. Sumber-sumber kontaminasi sediaan steril

a) Menurut Peracikan Sediaan Steril, hal : 2

Kontaminasi mikroorganisme patogen, pirogen

Adanya kontaminasi mikroba dalam komponen steril biasanya tidak

dapat dideteksi secara visual, tetapi adanya kabut tipis, perubahan

warna, kekeruhan, lapisan tipis dipermukaan, bahan partikulat atau

flokulen, atau pembentukan gas merupakan alasan yang cukup untuk


mencurigai kemungkinan terjadinya kontaminasi. Adanya tanda

bahwa keutuhan penutup telah dirusak harus menimbulkan

kecurigaan terjadinya kontaminasi mikroba pada komponen.

21. Tuliskan skema produksi injeksi ?

a. Proses produksi injeksi (Aisyah fatmawati. Farmasi industry, Hal :

213)

bahan baku Air untuk Injeksi Ampul

penimbangan Pengukuran vol

Pencucian

Pembuatan larutan Sterelisation

Penyaringan

Pengisian

Sterilisasi dan pendinginan

Pinole test

Seleksi

Balik produk

Pengemasan
Cek kelengakpan penemasan

Quarantine

Distribusi

b. Proses produksi injeksi (Drs. Stevanus Lukas, M.kes. Apt. Formulasi

Steril, Hal : 96)

Air untuk injeksi

Pencampuran (mixing)

Homogenisasi

Filter

Pengaturan pH

Pengisian

Vakum (pemberian gas inert)

Penutupan/penyegelan kemasan

Sterilisasi dengan autoklaf


22. Sebutkan dan jelaskan cara pemeriksaan produk steril?

Menurut Syamsuni, Ilmu Resep Hal. 221

Setelah larutan injeksi ditutup kedap dan disterilkan, perlu dilakukan


pemeriksaan, yang kemudian terakhir diberi etiket dan dikemas.
Pemeriksaan meliputi:
a. Pemeriksaan Kebocoran
Untuk mengetahui kebocoran wadah, dilakukan sebagai berikut:
1. Untuk injeksi yang disterilkan dengan pemanasan:
a. Ampul: disterilkan dalam posisi terbalik dengan ujung yang
dilebur berada dibawah. Wadah yang bocor isinya akan
kosong/ habis atau berkurang setelah selesai sterilisasi.
b. Vial: setelah disterilkan, masih dalam keadaan panas,
masukkan ke dalam larutan dingin metilen biru 0,1 %.
Wadah akan bocor akan berwarna biru, karena larutan
metilen biru akan masuk ke dalam larutan injeksi tersebut.
2. Untuk injeksi yang disterilkan tanpa pemanasan atau secara
aseptik/ injeksi berwarna, diperiksa dengan memasukkannya
ke dalam eksikator dan divakumkan. Pada wadah yang bocor,
isi akan terisap keluar.
b. Pemeriksaaan Sterilitas
Uji ini dilakukan untuk menetapkan ada tidaknya bakteri, jamur dan
ragi yang hidup dalam sediaan yang diperiksa.Uji dilakukan
dengan teknik aseptik yang cocok.
Sebelum dilakukan uji sterilitas, untuk zat-zat:
1. Pengawet: Larutan diencerkan dahulu sehingga daya
pengawetnya sudah tidak bekerja lagi
2. Antibiotik: Daya bakterisidanya dinonaktifkan dulu, misalnya
pada penisilin ditambah enzim penisilinase.
Menurut FI III, pemeriksaan dilakukan sebagai berikut:
1. Dibuat perbenihan A untuk memeriksa adanya bakteri yang
terdiri dari:
a. Perbenihan tioglikolat untuk bakteri aerob, sebagai
pembanding digunakan Bacillus subtiise atau Sarcina lutea.
b. Perbenihan tioglikolat yang dibebaskan dari oksigen terlarut,
dengan cara memanaskan pada suhu 100 C selama waktu
yang diperlukan untuk bakteri anaerob, sebagai
pembanding digunakan Bacteriodes vulgates atau
Clostridium sporogenus.
2. Dibuat perbenihan B untuk memeriksa adanya jamur dan ragi,
untuk itu dipakai perbenihan asam amino, sebagai
pemabanding digunakan Candida albicans
c. Pemeriksaan pirogenitas
Cara menghilangkan pirogen
1. Untuk alat atau zat yang tahan terhadap pemanasan (jarum
suntik, alat suntik, dan lain-lain) dipanaskan pada suhu 250 C
selama 30 menit
2. Untuk aqua p.i (air untuk injeksi) bebas pirogen
a. Dilakukan oksidasi dengan cara:
1. Dididihkan dengan larutan H2O2 % selama 1 jam.
2. Satu liter air yang dapat diminum, ditambah 10 ml
larutan KMnO4 0,1 N dan 5 ml larutan 1 N, disuling
dengan wadah gelas, selanjutnya kerjakan seperti
pembuatan air untuk injeksi.
b. Bila dilakukan dengan cara absorpsi dengan cara:
Saring dengan penyaring bakteri dari asbes.Lewatkan
dalam kolom Al2O3.Panaskan dalam arang pengabsorpsi
0,1 % (Carbo adsorbens 0,1% pada suhu 60 C selama 5-
10 menit (literature lain 15 menit) sambil sekali-sekali
diaduk, kemudian disaring dengan kertas saring rangkap 2
atau dengan filter asbes.

Cara mencegah terjadinya pirogen

1. Air suling segar yang akan digunakan untuk pembuatan air


untuk injeksi harus segera digunakan setelah disuling.
2. Pada waktu disuling jangan ada menampung air suling harus
seaseptis mungkin.

Sumber pirogen:

1. Air suling yang telah dibiarkan lama dan telah lama tercemar
bakteri dari udara
2. Wadah larutan injeksi dan bahan-bahan seperti gukosa, NaCl
dan Na-sitrat.
d. Pemeriksaan kejernihan dan warna
Diperiksa dengan melihat wadah pada latar belakang hitam-putih,
disinari dari samping. Kotoran berwarna akan terlihat pada pada
latar belakang hitam.

e. Pemeriksaan keseragaman bobot


Hilangkan 10 etiket wadah, cuci bagian luar wadah dengan air,
keringkan pada suhu 105 C, timbang satu per satu dalam
keadaan terbuka, keluarkan isi wadah, cuci wadah dengan air,
kemudian dengan etanol 95%, keringkan lagi pada suhu 105 C
sampai bobot tetap, dinginkan dan kemudian timbang satu per
satu. Bobot isi wadah tidak boleh menyimpang lebih dari batas
yang tertera, kecuali satu wadah yang boleh menyimpang tidak
lebih dari 2 kali batas yang tertera.
Tabel keseragaman bobot
Bobot yang tertera pada etiket Batas penyimpangan (%)

Tidak lebih dari 120 g 10,0


Antara 120 mg dan 300 mg 7,5
300 mg atau lebih 5,0

f. Pemeriksaan keseragaman volume


Untu injeksi dalam bentuk cairan , volume isi netto tiap wada harus
sedikit berlebih dai volume yang ditetapkan. Kelebihan volume
yang dianjurkan tertera dalam daftar berikut ini:
Volume cairan yang dianjurkan
Volume pada etiket
Cairan encer Cairan kental
0,5 ml 0,10 ml (20%) 0,12 ml (24%)
1,0 ml 0,10 ml (10%) 0,15 ml (15%)
0,25 ml
2,1 ml 0,15 ml (7,5 %)
(12,5%)
5.0 ml 0.,30 ml (6%) 0,50 ml (10 %)
10,0 ml 0,50 ml (5%) 0,70 ml (7%)
20,0 ml 0,60 ml (3%) 0,90 ml (4,5%)
30, 0 ml 0,80 ml (2,6%) 1,20 ml (4%)
50,0 ml atau lebih 2,00 ml (4%) 3,00 ml (6%)
Menurut Lachman, Teori dan Praktek Farmasi Industri 3 Hal. 1354
a. Uji Kebocoran
Ampul dimaksudkan sebagai wadah tersegel yang kedap
udara untuk suatu dosis tunggal obat, sehingga secara sempurna
mengahalangi tiap perubahan antara isi ampul yang disegel dan
lingkungannya. Adanya pori-pori kapiler atau retakan halus dapat
menyebabkan masuknya mikroorganisme atau kontaminan lain
yang berbahaya ke dalam ampul, atau isinya dapat bocor keluar
dan merusak penampilan kemasan. Perubahan temperatur selama
penyimpanan dapat menyebabkan ekspansi dan kontraksi ampul
dan isinya, sehingga menonjolkan perubahan jika ada lubang.
Uji kebocoran dimaksudkan untuk mendeteksi ampul yang
belum ditutup dengan sempurna, sehingga ampul-ampul tersebut
dapat dibuang.Ampul yang ditutup pada ujungnya kelihatannya
tidak begitu sempurna penutupannya dibandingkan dengan ampul
yang ditutup dengan segel tarik.Disamping itu, retak kecil bisa
terjadi sekitar segel tersebut atau pada dasar ampul sebagai hasil
dari penanganan yang kurang sempurna.
b. Uji Kejernihan
Kejernihan adalah suatu batasan yang relative, artinya
sangat dipengaruhi oleh penilaian subjektif dari pengamat.Tidak
dapat diragukan, suatu larutan bersih yang sangat mengkilap,
membawa pengaruh bagi pengamat untuk menyimpulkan bahwa
produk tersebut istimewa baik dalam mutu maupun
kemurniaannya.
Tetapi dalam praktek tidak mungkin untuk membuat suatu
produk steril dalam satu lot sedemikian rupa sehingga setiap unit
dari lot tersebut benar-benar bebas dari partikel kecil yang dapat
dilihat dengan mata, yakni partikel-partikel yang berukuran 30
sampai 40 m dan lebih besar dari itu. Akibatnya merupakan
tanggung jawab bagian pengendalian mutu untuk mendeteksi dan
membuang tiap wadah dari suatu produk yang dianggap tidak
bersih oleh pemakai.
c. Uji pirogen
Adanya zat pirogen dalam preparat pearenteral ditentukan
oleh suatu uji biologis kualitatif berdasarkan respons demam pada
kelinci.Kelinci digunakan sebagai binatang percobaan karena
kelinci menunjukkan respon fisiologis terhadap pirogen yang
serupa dengan respons manusia.Jika suatu zat pirogenik
disuntikkan ke dalam vena kelinci, kenaikan temperatur terjadi
dalam waktu 3 jam.Batas spesifikasi dan perincian prosedurnya
diberikan dalam uji resmi di USP.

d. Uji sterilitas
Semua produk yang diberi label steril harus melewati uji
sterilitas setelah mengalami suatu proses sterilisasi efektif. Prinsip-
prinsip yang mendasari uji yang penting ini serta prosedur ujinya.
a. Menurut Aisyah Fatmawaty, Farmasi Industri Hal. 212
Pemeriksaan secara visual adalah pengujian pada produk yang
dihasilkan oleh unit steril pemeriksaan meliputi:
1. Uji visual melihat ukuran partikel
2. Uji kebocoran
3. Uji kejernihan
4. Uji pyrogen
23. Sebutkan dan jelaskan proses pembuatan obat sterilbaik secara aseptic

atau sterilisasi akhir, serta jenis-jenis sterilisasi ?

a. Proses pembuatan obat steril secara aseptik (Anief,2008 Hal.203)


Teknik aseptik digunakan dalam pembuatan injeksi yang obatnya
tidak tahan pemanasan.Teknik ini sulit dilakukan dan tidak ada
kepastian steril hasil akhir. Sterilitas diperoleh setelah memenuhi
syarat uji sterilitas.Pembuatan larutan injeksi dengan proses teknik
aseptik dilakukan seperti berikut: obat steril dilarutkan atau di
dispersikan dalam Zat pembawa steril, dan dimasukkan dalam wadah
steril dan ditutup kedap untuk melindungi kontaminasi bakteri.
b. Proses pembuatan obat steril secara aseptik (Menurut FI III dan FI
IV)
Cara sterilisasi dengan menggunakan teknik yang dapat memperkecil
kemungkinan terjadinya pencemaran atau kontaminasi dengan
mikroba hingga seminimal mungkin.Digunakan untuk bahan obat yang
tidak dapat disterilkan dengan cara pemanasan atau dengan cara
penyaringan.
Caranya :
Bahan obat : jika memenuhi syarat p.i(pro injection), tidak disterilkan
Zat pembawa: Disterilkan tersendiri dahulu
Zat pembantu: Disterilkan tersendiri
Alat-alat : Disterilkan dengan cara yang cocok
Ruang kerja : Bersih, bebas debu, dan angin, disterilkan dengan sinar
UV atau cara lain yang sesuai.

Jenis jenis sterilisasi

a. Menurut Syamsuni, 2012 Hal.182-183)


1. Sterilisasi uap. Sterilisasi cara ini menggunakan suatu autoklaf
yang di dalam farmakope ditetapkan bahwa untuk media atau
pereaksi adalah selama 15 menit pada suhu 121C, kecuali
dinyatakan lain.
2. Sterilisasi panas kering. Sterilisasi cara ini menggunakan suatu
siklus oven modern yang dilengkapi dengan udara yang
dipanaskan dan disaring. Rentang suhu khas yang dapat
diterima didalam bejana sterilisasi kosong adalah sekitar 15C,
jika alat sterilisasi beroperasi pada suhu tidak kurang dari
250C.
3. Sterilisasi gas. Bahan aktif yang digunakan adalah gas
etilenoksida yang dinetralkan dengan gas inert (CO). Gasetilen
oksida ini sangat mudah terbakar, bersifat mutagenik, dan
kemungkinan meninggalkan residu toksik didalam bahan yang
disterilkan terutama yang mengandung ion klorida. Sterilisasi
gas ini digunakan sebagai alternative sterilisasi termal, jika
bahan yang akan disterilkan tidak tahan terhadap suhu tinggi
pada sterilisasi uap atau panas kering.
4. Sterilisasi dengan radiasi ion. Ada dua jenis sterilisasi ion yang
digunakan yaitu disintegrasi radio aktif dari radioisotop (radiasi
gamma) dan radiasi berkas elektron. Pada kedua jenis ini,
dosis yang menghasilkan derajat jaminan sterilitas yang
diperlukan harus ditetapkan sedemikian rupa sehingga dalam
rentang satuan dosis minimum dan maksimum, sifat bahan
yang disterilkan dapat diterima.
5. Sterilisasi dengan penyaringan. Sterilisasi untuk larutan yang
labil terhadap panas dilakukan dengan penyaringan
menggunakan bahan yang dapat menahan mikroba sehingga
mikroba yang dikandungnya dapat dipisahkan secara fisika.
6. Sterilisasi dengan cara aseptik. Proses ini untuk mencegah
masuknya mikroba hidup kedalam komponen steril atau
komponen yang melewati proses antara sehingga produk
setengah jadi atau produk ruahannya bebas dari mikroba
hidup.
b. Menurut loyd V.allen, Jr dkk. 2014 hal 474-478 (bentuk sediaan
farmasetis dan system penghantaran obat)
Lima metode umum yang digunakan untuk mensterilkan produk-
produk farmasi :
Sterilisasi uap
Dilakukan pada suatu autoklaf dan menggunakan uap
bertekanan. Sterilisasi uap umumnya merupakan metode yang
dipilih apabila produk dapat tahan uap. Pada saat ada uap air,
bakteri terkoagulasi dan dirusak pada suhu yang relative
rendah dari pada saat tidak ada uap air. Hampir seluruh
autoklaf secara rutin beroperasi pada suhu 121 C, yang diukur
pada jalur keluarnya uap dari autoklaf.
Sterilisasi panas kering
Umumnya dilakukan didalam oven yang dirancang untuk tujuan
ini. Oven dipanaskan dengan menggunakan gas atau listrik dan
umumnya dikendalikan secara termostatis. Sterilisasi panas
kering umumnya dilaksanakan pada suhu 150 C hingga 170
C, selama waktu tidak kurang dari 2 jam.
Sterilisasi dengan filtrasi, yang bergantung pada pengusiran
mikroorganisme secara fisik melalui absorbsi pada medium
filter atau melaluli mekanisme pengayakan, digunakan untuk
larutan-larutan yang sensitive terhada pemanasan.
Sterilisasi gas
Beberapa bahan yang sensitive terhadap panas dan sensitive
terhadap lembap dapat disterilkan secara lebih baik dengan
pemaparan pada gas etilen oksida atau propilen oksida dari
pada dengan cara-cara lain.
Sterilisasi dengan radiasi ionisasi
Tersedia teknik-teknik sterilisasi dari beberapa jenis sediaan
farmasi yaitu dengan sinar gamma dan dengan sinar katoda,
tetapi penggunaan teknik ini terbatas dikarenakan butuh
peralatan yang sangat khusus dan efek iradiasi pada produk
dan wadahnya.
24. Jelaskan perjalan obat secra oral dan parenteral, serta devinisi dosis
muat/bolus dan dosis maintenance/drip
a. Perjalanan dan Nasib Obat Dalam Badan (Moh.Anief,2002. Hal 15)
1) perjalanan obat secara oral yaitu dengan melalui masuk salura
intestinal (lambung) penyerapan obat melalui membran mukosa
pada lambung dan usus memberi efek sistemik
2) perjalanan obat secara parenteral yaitu melaui selain jalan
lambung dengan merobek beberapa jaringan
- intravena, masuk pembuluh darah blaik (vena), memberi efek
sistemik
- intrakardial, menembus jantung, memberi efek sistemik
- intrakutan, menebus kulit memberi efek sistemik
- subkutan, dibawah kulit memberi efek sistemik
- intramuscular, mene,bus otot daging, memberi efek sistemik
b. Dosis Obat (Dra.Helni.M kes Apt)
a. Dosis muat/bolus adalah sejumlah obat yang digunakan untuk
memacu percepatan waktu penyampaian kadar efektif
minimum
b. Dosis maintenance/drip adalah sejumlah obat yang diberikan
dengan tujuan untuk dapat menjaga kadar obat dalam tubuh
tertentu pada periode tertentu.
25. Tuliskan obat-obat yang tidak bisa dicampurkan dengan infuse NaCL, RL,
glukosa?
1. Menurut Farmasi klinik ( Muhammad Aslam) hal 255 -264)
- Jika vankomisin diinfuskan dalam larutan natrium klorida 0,9 %
dan Amfoterisin diinfuskaan dalam larutan dektrosa 5% maka
dilakukan pembilasan dengan dektrosa 5% diantara pemberian
obat tersebut karena vankomisin dapat bercampur dengan
dekstrosa dan saline tetapi amfoterisin hanya dapat bercampur
dengan dektrosa.
- Hyaluronidase seharusnya tidak ditambahkan ke dalam cairan
infuse, karena dengan ditambahkan kedalam cairan infuse yang
volumenya besar hyaluronidase menjadi terlalu encer untuk dapat
memberikan efek pada jaringan.
2. Menurut Buku pedoman pencampuran obat suntik hal. 7 9
- Acyclovir tidak kompetibel dengan dextrose dan Ringer Lactat
- Aminofilin tidak bisatercampur dengan NaCL
- Ceftriaxone inkompatibel dengan infuse RL
- Ceftadime inkompatibel dengan infuse RL
- Ciprofloxacine inkompatibel dengan infuse RL
- Digoksin inkompatibel dengan infuse RL
- Dopamine inkompatibel dengan infuse glukosa
- Piperacillin-Tazobactam tidak tercampur dengan RL
- Phenytoin tidak tercampur dengan infuse RL dan dektosaa
- Penicillin G tidak tercampur RL