Anda di halaman 1dari 7

KONSEP DAN KOMPONEN DASAR MASYARAKAT

A. Pengertian Masyarakat
Istilah masyarakat dalam bahasa Inggris disebut society sedangkan dalam
bahasa Arab disebut syareha artinya ikut serta atau salng bergaul. Dalam istilah
sosiologisnya disebut berinteraksi. Adanya saling bergaul ini tentu karena ada bentuk-
bentuk aturan hidup yang bukan disebabkan oleh manusia sebagai perseorangan,
melainkan oleh unsur-unsur kekuatan lain dalam lingkungan sosial yang merupakan
kesatuan. Masyarakat merupakan suatu sistem sosial atau kesatuan hidup manusia yang
mempunyai banyak faktor dalam pembentukannya, sehingga banyak definisi yang
dikemukakan oleh para ahli.
Berikut ini adalah pengertian dan definisi tentang masyarakat menurut beberapa
ahli :
1. Peter L. Berger
Definisi masyarakat adalah suatu keseluruhan kompleks hubungan manusia
yang luas sifatnya. Keseluruhan yang kompleks sendiri berarti bahwa keseluruhan
itu terdiri atas bagian-bagian yang membentuk suatu kesatuan.
2. Marx
Masyarakat ialah keseluruhan hubungan - hubungan ekonomis, baik
produksi maupun konsumsi, yang berasal dari kekuatan-kekuatan produksi
ekonomis, yakni teknik dan karya
3. Gillin & Gillin
Masyarakat adalah kelompok manusia yang mempunyai kebiasaan, tradisi,
sikap, dan perasaan persatuan yang diikat oleh kesamaan.
4. Harold J. Laski
Masyarakat adalah suatu kelompok manusia yang hidup dan bekerjasama
untuk mencapai terkabulnya keinginan-keinginan mereka bersama
5. Robert Maciver
Masyarakat adalah suatu sistim hubungan-hubungan yang ditertibkan
(society means a system of ordered relations)
6. Selo Soemardjan
Masyarakat adalah orang-orang yang hidup bersama dan menghasilkan
kebudayaan
7. Horton & Hunt
Masyarakat adalah suatu organisasi manusai yang saling berhubungan
8. Mansur Fakih
Masyarakat adalah sesuah sistem yang terdiri atas bagian-bagian yang
saling berkaitan dan masing-masing bagian secara terus menerus mencari
keseimbangan (equilibrium) dan harmoni.
9. Max Weber
Suatu struktur atau aksi yang pada pokoknya ditentukan oleh harapan dan
nilai-nilai yang dominan pada warganya.
10. Emile Durkheim
Masyarakat adalah suatu kenyataan objektifindividu-individu yang
merupakan anggota-anggotanya.
11. Karl Marx
Masyarakat adalah suatu struktur yang menderita ketegangan organisasi
ataupun perkembangan karena adanya pertentangan antarakelompok-kelompok
yang terpecah-pecah secara ekonomis.
12. M.J. Herskovits
Masyarakat adalah kelompok individu yang diorganisasikan dan mengikuti
suatu cara hidup tertentu.
13. Koentjaraningrat (1982)
Masyarakat adalah kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut
suatu sistem adat istiadat tertentu yang bersifat kontinyu dan terikat oleh suatu rasa
identitas yang sama.
14. Ralph
Masyarakat adalah setiap kelompok manusia yang hidup dan bekerja sama
dalam waktu yang relatif lama dan mampu membuat keteraturan dalam kehidupan
bersama dan mereka menganggap sebagai satu kesatuan sosial.
15. Selo Sumarjan (1974)
Masyarakat adalah orang-orang yang hidup bersama menghasilkan
kebudayaan.
16. Nottingham (1954)
Masyarakat adalah setiap kelompok manusia yang hidup bekerja sama
dalam waktu relatif lama dan mampu membuat keteraturan dalam hidup bersama
dan menjadi sebagai satu kesatuan.

Definisi-definisi di atas, mendeskripsikan tentang ciri masyarakat sebagai berikut:


Manusia hidup bersama,
Bergaul dalam jangka waktu yang cukup lama,
Setiap anggotanya menyadari dirinya sebagai satu kesatuan, dan;
Bersama-sama membangun suatu kebudayaan yang menjadi pedoman dalam hidup
bersama.
Untuk arti yang lebih khusus masyarakat disebut pula kesatuan sosial,
mempunyai ikatan-ikatan kasih sayang yang erat. Mirip jiwa manusia yang dapat
diketahui melalui kelakuan dan perbuatannya sebagai penjelmaannya yang lahir dan
melalui pengalaman batin dalam roh manusia perseorangan sendiri. Bahkan lebih
superioritas merasakan sebagai sesuatu yang kokoh dan kuat, suatu perwujudan pribadi
bukan di dalam melainkan di luar bahkan di atas kita.
Kemantapan unsur-unsur masyarakat mempengaruhi struktur sosial. Dalam hal
ini struktur sosial digambarkan sebagai adanya molekul-molekul dalam susunan
membentuk zat yang terdiri dari bermacam-macam susunan hubungan antara individu
dalam masyarakat. Berdasarkan hal tersebut maka terjadilah integrasi masyarakat dimana
tindakan individu dikendalikan dan hanya akan nampak bila diabstrakkan secara induksi
dari kenyataan hidup masyarakat yang konkret. Struktur sosial yang berperan dalam
integrasi masyarakat hidup langsung di belakang individu yang bergerak konkret menurut
polanya. Dapat menyalami latar belakang seluruh kehidupan suatu masyarakat dan
sebagai kriteria dalam menentukan batas-batas suatu masyarakat melalui abstraksi dari
kehidupan kekerabatan.

B. Komponen-komponen Masyarakat
1. Interaksi Sosial
Di dalam suatu masyarakat selalu terjadi interaksi, faktor utama yang
mempengaruhi terjadinya interaksi sosial adalah imitasi, sugesti dan simpatik.
Sedangkan syarat-syarat terjadinya interaksi sosial adalah kontak sosial (social
contact) dan komunikasi sosial (social communication).
Adapun bentuk-bentuk interaksi sosial adalah kerjasama (cooperation),
kompetisi (competition), komplik (complict) dan akomodasi (accomodation).
Kontak sosial dapat berlangsung secara perorangan, perorangan dengan kelompok,
dan sesama kelompok.
2. Pranata Sosial
Pranata sosial ada juga yang menyebutnya lembaga kemasyarakatan (social
institution) yang berarti sistem tata kelakuan yang diatur oleh nilai-nilai atau
norma-norma yang berhubungan dengan aktivitas yang tujuan untuk memenuhi
kompleksitas kebutuhan dalam hidup bermasyarakat.
Fungsi pranata sosial adalah:
Sebagai pedoman bersikap dan berperilaku dalam kehidupan bermasyarakat,
Menjaga kebutuhan masyarakat,
Sebagai sistem pengendalian sosial terhadap perilaku anggota masyarakat.
Pranata sosial dapat diidentifikasi atau diaplikasikan dengan terlebih dahulu
mengetahui karakter dan bentuknya, antara lain sebagai berikut:
a. Norma-norma masyarakat, meliputi:
1. Cara-cara (usage) adalah sejumlah cara individu dalam kelompok yang
selalu dilakukan antara lain; cara makan, minum, dan cara berpakaian, dan
sebagainya yang bila tidak dilakukan mempunyai sanksi yang sangat
lemah.
2. Kebiasaan (folkways) adalah kebiasaan memakai pakaian tertentu pada saat
tertentu pula, kebiasaan melakukan upacara dan sebagainya. Norma-norma
seperti ini memiliki tingkatan yang lebih tinggi daripada usage.
3. Ketatalakuan (mores) adalah perbuatan yang mengandung nilai-nilai
moral, misalnya hormat kepada orang tua, sopan santun kepada orang lain
dan sebagainya. Norma ini apabila dilanggar akan memperoleh celaan dari
anggota masyarakat.
4. Adat istiadat (custom) adalah perilaku yang jelas-jelas dilarang atau tidak
diperbolehkan mengerjakannya, misalnya perzinahan, pencurian, dan
sebagainya. Kalau norma ini dilanggar akan memperoleh sanksi yang
sangat keras karena tingkatannya termasuk hukum adat.
b. Ciri-ciri Pranata Sosial
Adapun ciri-ciri dari pranata sosial, antara lain sebagai berikut:
1. Organisasi pola-pola pemikiran (ide, gagasan) dan perilaku-perilaku
(tindakan, perbuatan) yang diwujudkan dalam aktivitas berserta
produknya.
2. Keberadaannya relatif sulit berubah.
3. Memiliki tujuan tertentu.
4. Memiliki sarana dan prasarana.
5. Memiliki lambang khas sesuai dengan tujuannya, yakni sejumlah aturan
baik yang tertulis maupun tidak tertulis.
c. Tipe-tipe Pranata Sosial
Adapun tipe-tipe dari pranata sosial, antara lain sebagai berikut:
1) Crasscive institution, yaitu pranata yang paling primer bersumber dari adat dan
agama, misalnya hak milik, adat perkawinan dan sebagainya.
2) Enacted institution, misalnya mengenai utang piutang, pendidikan,
perdagangan, dan sebagainya.
3) Basic institution and subsidiary, pertama adalah lembaga yang memelihara tata
tertib dalam masyarakat bersangkutan, misalnya keluarga, sekolah dan negara.
Kedua adalah yang memiliki fungsi kurang penting seperti; kegiatan rekreasi,
kesenian dan sebagainya.
4) General and Restricted institution, misalnya agama yang secara umum
diterima oleh masyarakat, sedangkan untuk agama tertentu seperti Islam,
Kriten, Hindu dan Buddha adalah merupakan restricted institution.
5) Operative institution, menghimpun pola-pola tata cara yang diperlukan untuk
mencapai tujuan lembaga. Contohnya; industrialisasi, sedangkan regulative
institution berfungsi untuk mengawasi adat istiadat dan tata kelakuan yang
tidak langsung menjadi bagian dari lembaga yang bersangkutan.
C. Proses Terbentuknya Masyarakat
Masyarakat dapat terbentuk melalui beberapa cara, antara lain:
1) Masyarakat terbentuk secara sengaja atau dipaksa, misalnya suatu masyarakat atau
negara yang sengaja dibentuk, masyarakat pengungsi terbentuk karena dipaksa.
2) Masyarakat terbentuk dengan sendirinya, misalnya suku terasing, suku bangsa dan
sebagainya. Kemudian masyarakat budidaya, terbentuk karena ada hubungan dengan
lapangan usaha, misalnya masyarakat tani, industri, nelayan.
3) Masyarakat terbentuk karena kepercayaan atau agama, sehingga ada masyarakat
muslim, masyarakat nasrani, buddha dan sebagainya.
Di samping itu, ada juga kesatuan-kesatuan khusus terbentuk yang sebenarnya
merupakan bagian dari masyarakat. Hal ini meliputi kategori yang disebut komunitas
(community), yaitu:
1. Kelompok masyarakat dengan ciri-ciri tertentu yang ditujukan kepadanya,
seperti kelompok yang sudah berhak mengikuti pemilihan umum (umur 18
tahun ke atas),
2. Golongan pemuda dengan ciri-ciri yang ideal dengan vitalitas yang tinggi, dan
masih bebas dari beban hidup,
3. Komunitas yang terikat dari sejumlah norma dan adat istiadat yang melakukan
interaksi sosial antara sesama anggota, misalnya sistem marga (Batak,
Minangkabau) dan masyarakat terasing,
4. Kelompok sosial yang solidaritas sosialnya amat tinggi yang didasari oleh
hubungan-hubungan kekeluargaan, misalnya perkumpulan simpan pinjam,
koperasi dan sebagainya,
5. Komunitas yang menempati suatu wilayah tertentu dengan terikat oleh sistem
adat dan pola hidup, seperti masyarakat desa dan kota (rural community and
urban community).
D. Tujuan dan Manfaat Memahami Masyarakat
Banyak alasan pentingnya membicarakan masyarakat, apa lagi kalau dikaitkan
dengan pembangunan. Jadi untuk memahaminya dapat dilihat tujuan dan manfaatnya,
yaitu:
1. Untuk membangun rasa senasib dan sepenganggungan di antara mereka, khususnya
manusia Indonesia yang mewujudkan rasa persatuan dan kesatuan sebagai suatu
bangsa masyarakat.
2. Agar di antara sesama tertanam rasa toleransi, seorang individu hanya mempunyai
arti manakala ia menjadi bagian integral dalam kelompok atau masyarakat.
3. Agar muncul kesadaran bahwa di antara sesama ada saling ketergantungan yang
berkaitan dengan kepedulian sosial. Sulit diterima bila seseorang bersenang-senang
sedangkan di antara sesamanya ada yang mengalami penderitaan.
4. Salah satu ukuran keberartian seseorang adalah adanya nilai-nilai demokrasi yang
tumbuh dan bisa dimiliki sikap saling menghargai perasaan dan pendapat sesama
masyarakat pada gilirannya menciptakan suatu kesatuan sosial yang seia sekata.