Anda di halaman 1dari 52

PENGARUH PEMBERIAN BERBAGAI DOSIS PROBIOTIK

SEDIAAN CAIR TERHADAP PERFORMA UDANG VANAME


(Litopenaeus vannamei) DAN KUALITAS AIR

USULAN PENELITIAN

SUNENDI
NPM. 230110140069

UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
PROGRAM STUDI PERIKANAN
JATINANGOR

2017
PENGARUH PEMBERIAN BERBAGAI DOSIS PROBIOTIK
SEDIAAN CAIR TERHADAP PERFORMA UDANG VANAME
(Litopenaeus vannamei) DAN KUALITAS AIR

USULAN PENELITIAN
Diajukan untuk Menempuh Seminar Usulan Penelitian

SUNENDI
NPM. 230110140069

UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
PROGRAM STUDI PERIKANAN
JATINANGOR

2017
JUDUL : PENGARUH PEMBERIAN BERBAGAI DOSIS
PROBIOTIK SEDIAAN CAIR TERHADAP PERFORMA
UDANG VANAME (Litopenaeus vannamei) DAN
KUALITAS AIR

PENULIS : SUNENDI
NPM : 230110140069

Jatinangor, September 2017


Menyetujui :

Komisi Pembimbing :
Ketua, Dekan,

Dr. Ir. Iskandar, M.Si Dr. Ir. Iskandar, M.Si


NIP. 19610306 198601 1 001 NIP. 19610306 198601 1 001

Anggota,

Ir. Ibnu Dwi Buwono, M.Si.


NIP. 19621208 198903 1 002

Anggota,

Dr. Ratu Safitri, MS.


NIP. 19620318 198610 2 001
KATA PEGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas berkat rahmat
dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan proposal usulan penelitian
yang berjudul Pengaruh Pemberian Berbagai Dosis Probiotik Sediaan Cair
terhadap Performa Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) dan Kualitas
Air
Selama menyusun usulan penelitian, penulis sangat banyak mendapatkan
masukan, arahan dan dukungan dari berbagai pihak, oleh karena itu penulis
mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah
banyak membantu. Penulis mengucapkan terimakasih kepada :
1. Dr. Ir. Iskandar, M.Si sebagai Ketua Komisi Pembimbing yang telah
memberikan banyak saran, dukungan beserta bimbingannya dalam
penyelesain Usulan Penelitian ini dan selaku Dekan Fakultas Perikanan dan
Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran
2. Ir. Ibnu Dwi Buwono, M.Si. sebagai Anggota Komisi Pembimbing sekaligus
wali dosen penulis yang telah memberikan saran, dukungan beserta
bimbingannya dalam penyelesaian Usulan Penelitian ini
3. Dr. Ratu Safitri, MS. sebagai Anggota Komisi Pembimbing yang telah
memberikan banyak saran, dukungan beserta bimbingannya dalam
penyelesaian Usulan Penelitian ini
4. Dr. Yuli Andriani, S.Pi, MP. sebagai Ketua Komisi Penelaah yaang telah
memberikan koreksi dalam penyusunan Usulan Penelitian ini
5. Prof. Dr. Ir. Junianto, MP. selaku Ketua Program Studi Perikanan Fakultas
Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Padjadjaran
6. Kedua orang tua, Samsudin (ayah) dan Darkinih (ibu) serta Casyatun (Kakak)
yang selalu memberikan doa, semangat serta dukungan materil maupun
moril kepada penulis
7. Keluarga Six Sense, Novi Puspitawati, Imas Siti Nurhalimah, Ristiana Dewi,
Indra Adiwiguna dan Rizki Nugraha Saputra yang telah banyak membantu
dan mendukung dalam usulan Penelitian ini

iii
8. Teman-teman anak satu penelitian yang telah banyak membantu dalam
penyusunan usulan penelitian ini
9. FPIK 2014, yang telah memberikan pengalaman dan kebersamaan sehingga
menjadi pelajaran bagi penulis untuk melangkah kedepannya.
Penulis telah berusaha sebaik mungkin dalam penyusunan usulan
penelitian ini, oleh karena itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang
membangun agar menjadi masukkan yang berguna bagi penulis. Akhir kata,
penulis berharap semoga usulan penelitian ini dapat memberikan manfaat bagi
penulis sendiri sehingga lancar dalam penelitian yang akan dilaksanakan.

Jatinangor, September 2017

Sunendi

iv
DAFTAR ISI

Bab Halaman

v
DAFTAR TABEL

Nomor Judul Halaman

vi
DAFTAR GAMBAR

Nomor Judul Halaman

vii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kegitan budidaya perairan merupakan salah satu komoditas ekonomi yang
menguntungkan dan sangat penting bagi beberapa negara. Menurut data FishstatJ
FAO (2016) Negara Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki
produksi perairan terbesar kedua di dunia setelah China. Hal ini didukung oleh
data statistik dari Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia tahun 2015, bahwa
produksi budidaya akuakultur Indonesia mengalami peningkatan setiap tahunnya.
Pada tahun 2011, produksi perairan Indonesia mencapai 13.643 ton, tahun 2012
sebesar 15.505 ton, dan tahun 2013 sebesar 19.406 ton. Untuk rata-rata kontribusi
dari perikanan budidaya dari tahun 2010-2014 sebesar 62,35% (KKP 2015).
Usaha peningkatan produksi akuakultur juga merupakan salah satu
program strategi pemerintah yang menjadikan produksi akuakultur/perairan
sebagai alternatif ketahanan pangan nasional dalam pemenuhan protein hewani,
mengingat pesatnya peningkatan laju pertumbuhan penduduk Indonesia setiap
tahun sehingga diperlukan adanya diversifikasi pangan. Menurut Rizqi (2016)
upaya peningkatan kualitas produksi perairan meliputi tiga aspek utama yaitu 1).
Kualitas organisme akuatik yang dapat diindikasikan dengan tingginya nilai
sintasan (survival rate), pertumbuhan yang cepat dengan diimbangi pertambahan
panjang & berat, dan terhindar dari penyakit ataupun berpenyakit, 2). Kualitas
lingkungan perairan, dan 3). Efisiensi pakan organisme akuatik.
Salah satu komoditas unggulan yang memiliki profit yang tinggi adalah
budidaya udang vaname (Litopenaeus vannamei). Menurut Asia Pacific
Aquaculture (2015) dimana pada tahun 2014 produksi udang vaname Indonesia
sudah menempati posisi kedua di pasar udang Amerika Serikat (AS) dengan
jumlah 504.000 MT (metrik ton). Produksi udang vaname dari tahun 2010 hingga
tahun 2013 mengalami kenaikan sebesar 19,46% sehingga pemerintah melalui
Dirjen Perikanan Budidaya (DJPB) menargetkan produksi udang vaname sebesar

1
2

671.400 MT pada tahun 2017 dengan kenaikan sebesar 12,00% setiap tahunnya
hingga 2019 (DJPB 2015).
Udang vaname memiliki nama atau sebutan yang beragam di masing-
masing negara, seperti whiteleg shrimp (Inggris), camaron patiblanco (Spanyol)
dan crevette pattes blances (Perancis). Udang yang biasa disebut udang putih
pasifik ini merupakan pengganti udang windu (Penaeus monodon) karena sering
mengalami masalah yang dihadapi salah satunya adalah mudah terserang oleh
penyakit vibriosis dan penyakit virus bercak putih atau systemic ectodhermal
mesodhermal bacculo virus (SEMBV). Peralihan komoditas ini didukung oleh SK
Menteri Kelautan dan Perikanan No. 41/2001 tanggal 12 Juli 2001 yang secara
resmi melepas udang vaname sebagai varietas unggul (Sukenda et al. 2009)
Udang vaname memiliki keunggulan dari udang windu salah satunya lebih
resisten terhadap virus. Menurut Fera (2004) udang vaname memiliki keunggulan
lebih resisten terhadap kondisi lingkungan dan penyakit, mudah dibudidayakan,
pertumbuhan yang cepat dan paling digemari di pasar Amerika Serikat. Hal
tersebut menunjukkan udang vaname memiliki potensi yang besar untuk terus
dikembangkan. Upaya untuk memenuhi target produksi tidak bisa hanya
mengandalkan pemberian pakan. Permasalahan inilah yang perlu diselesaikan
untuk menyokong produksi udang vaname setiap tahunnya. Salah satu solusi
untuk menyelesaikan permasalahan tersebut yaitu dengan adanya penggunaan
probiotik guna mempercepat pertumbuhan dari udang vaname serta
meminimalisir kematian udang vaname sehingga target produksi dapat tercapai.
Probiotik merupakan makanan tambahan berupa sel-sel mikroba hidup
yang memiliki pengaruh menguntungkan bagi inang melalui bentuk keterikatan
(asosiasi) dengan inang dan komunitas mikroba lingkungannya (Verschuere et al.,
2000). Penggunaan probiotik merupakan pengendalian biologis dengan
menggunakan musuh alami untuk mengurangi kerugian yang ditimbulkan oleh
organisme pengganggu hingga batas yang bisa diterima. Mekanisme kerja
probiotik pada akuakultur yaitu menekan atau mencegah berkembangnya
organisme patogen. Efisiensi penerapan probiotik dalam akuakultur akan sangat
bergantung dari pengetahuan spesies dan atau strain dari bakteri probiotik. Prinsip
3

mekanisme kerja probiotik yaitu menggunakan konsorsium mikroba untuk


mengatasi berbagai masalah yang terjadi pada perairan budidaya.
Bakteri probiotik yang digunakan dalam penelitian ini adalah bakteri-
bakteri yang biasa digunakan dalam penambahan terhadap pakan diantaranya
Bacillus sp., Lactobacillus sp., Saccharomyces sp., dan Nitrosomonas. Bakteri
probiotik menghasilkan enzim yang mampu mengurai senyawa kompleks menjadi
senyawa yang lebih sederhana sehingga lebih mudah digunakan oleh ikan. Salah
satu probiotik yang baik untuk pencernaan adalah Bacillus sp. Kurniasih (2011)
menyatakan bahwa enzim yang dihasilkan oleh Bacillus sp. adalah enzim protease
yang memiliki fungsi untuk memecah protein menjadi asam amino. Holt et al.
(1994) menyatakan bahwa Lactobacillus sp., yang digunakan dalam akuakultur
berperan dalam menekan pertumbuhan bakteri patogen. Lactobacillus sp. tersebar
luas di lingkungan terutama pada hewan dan produk makanan, sayur-sayuran,
biasanya mendiami saluran usus burung mamalia, vagina mamalia, dan tidak
bersifat patogen. Shin (1966) dalam Haetami dkk. (2008) menyatakan bahwa
keuntungan umum yang diperoleh dari kultur Saccharomyces hidup ialah dapat
meningkatkan pertumbuhan bobot badan, efisiensi ransum, dan feed intake.
Effendi (2003) menyatakan bahwa nitrit merupakan bentuk peralihan antara
amonia dan nitrat. Oksidasi amonia menjadi nitrit dilakukan oleh bakteri
Nitrosomonas sedangkan oksidasi nitrit menjadi nitrat dilakukan oleh Nitrobacter.
Nitrat ini tidak bersifat toksis terhadap organisme akuatik. Sehingga dengan
pemberian probiotik mampu mengatasi masalah yang timbul akibat budidaya
intensif.
Beberapa penelitian mengenai efektivitas penggunaan berbagai
konsentrasi probiotik pada udang vaname telah dilakukan pada skala laboratorium
dengan menggunakan akuarium atau fiber glass sebagai tempat budidaya udang.
Namun hasil dari penelitian tersebut ketika diterapkan pada tambak budidaya
memiliki potensi hasil yang berbeda. Hal ini disebabkan karena kondisi
lingkungan yang berbeda antara penelitian yang dilakukan di akuarium dan
penerapan pada tambak budidaya.
4

Berdasarkan latar belakang tersebut maka diperlukan penelitian mengenai


sejauh mana pengaruh pemberian probiotik sediaan cair dalam berbagai dosis
yang berbeda terhadap performa udang vaname dan kualitas perairan tambak.

1.2 Identifikasi Masalah


Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan, didapatkan beberapa
permasalahan sebagai berikut :
1. Sejauh mana pengaruh pemberian probiotik sediaan cair terhadap laju
pertumbuhan dan kelangsungan hidup udang vaname.
2. Bagamaina kualitas air media budidaya udang vaname setelah diberikan
probiotik sediaan cair ?

1.3 Tujuan Penelitian


Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian probiotik
dalam sediaan cair terhadap performa udang vaname dan kualitas perairannya
serta untuk mengetahui konsentrasi terbaik probiotik sediaan cair yang diberikan
pada wadah budidaya.

1.4 Kegunaan Penelitian


Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai dosis
terbaik penggunaan probiotik sediaan cair dalam budidaya udang vaname skala
besar terhadap performa udang vaname yang meliputi pertumbuhan dan
kelangsungan hidup udang vaname dan kualitas perairannya.

1.5 Kerangka Pemikiran


Pada kegiatan budidaya udang secara intensif dapat menurunkan daya
dukung lingkungan budidaya, teknologi ini telah menimbulkan masalah kualitas
air yang cukup serius, baik karena ketidaksesuaian lahan maupun karena usaha
petambak yang terus menggenjot produksi tanpa memikirkan daya dukung
lingkungan. Budidaya udang di banyak tempat telah menimbulkan kerusakan
ekosistem mangrove dan pencemaran perairan pesisir yang parah karena
penerapan teknologi budidaya intensif tanpa pertimbangan dampak yang
ditimbulkan.
5

Timbunan bahan organik dari sisa pakan, dan ekskresi yang mengendap di
dasar tambak memicu penurunan daya dukung tambak, khususnya alga bloom
yang menyebabkan deplesi oksigen dan keracunan pada udang (Mulyana 2011).
Hal ini dapat menimbulkan penyakit pada udang budidaya karena disebabkan
meningkatnya BOD (Biological Oxygen Demand) dan protein dari sisa pakan
yang akan meningkatkan kadar amoniak yang membuat kualitas perairan buruk.
Menurut Ghufran (2009), penyakit didefinisikan sebagai segala sesuatu yang
dapat menimbulkan gangguan suatu fungsi atau struktur dari alat-alat tubuh atau
sebagian alat tubuh, baik secara langsung maupun tidak langsung. Dalam
budidaya udang, faktor hama dan penyakit harus menjadi perhatian utama.
Kegagalan usaha budidaya dapat disebabkan oleh hama dan penyakit, karena
dapat menginfeksi dan menganggu pertumbuhan udang yang dipelihara. Sebagian
besar para petani tambak menggunakan bahan kimia untuk mengatasi timbulnya
penyakit pada udang budidaya, seperti penggunaan antibiotik.
Salah satu alternatif untuk menghindari penyakit yang menyerang ikan
budidaya adalah penggunaan probiotik. Probiotik adalah produk yang tersusun
oleh biakan mikroba atau pakan alami mikroskopik yang bersifat menguntungkan
dan memberikan dampak bagi peningkatan keseimbangan mikroba saluran usus
hewan inang yakni dengan cara memodifikasi komunitas mikroba atau berasosiasi
dengan inang, memperbaiki nilai nutrisi dan pemanfaatan pakan, meningkatkan
respon inang terhadap penyakit dan memperbaiki kualitas lingkungan ambangnya
(Fuller 1987 dalam Verschuere et al. 2000). Wang et al. (2008) menyatakan
bahwa bakteri probiotik menghasilkan enzim yang mampu mengurai senyawa
kompleks menjadi sederhana sehingga siap digunakan ikan. Berdasarkan
pengertian tersebut maka aplikasi probiotik tidak hanya berfungsi sebagai agen
biokontrol untuk mengurangi serangan penyakit atau bioremediasi untuk
memperbaiki kualitas lingkungan, melainkan dapat pula meningkatkan nilai
nutrisi pakan dan laju penyerapan nutrien sehingga memungkinkan udang
mencapai pertumbuhan yang maksimum.
Penambahan probiotik dalam pakan dapat mempercepat pertumbuhan ikan
atau udang. Praditia (2009) melaporkan bahwa pemberian probiotik melalui pakan
6

menghasilkan laju pertumbuhan bobot udang windu sebesar 7.47-9.03 %. Arief


dkk. (2014) menyatakan bahwa pemberian probiotik komersil dengan kandungan
bakteri Lactobacillus sp., Acetobacter, Rhodobacter, dan yeast sebanyak 5% pada
ikan lele sangkuriang diperoleh rata-rata pertumbuhan harian sebesar
2,88 gram/hari. Penelitian mengenai probiotik pada pakan juga dilakukan oleh
Arief dkk (2008), yang menyatakan bahwa pemberian probiotik komersil dengan
kandungan bakteri Lactobacillus sebanyak 5% pada ikan nila diperoleh laju
pertumbuhan 3.17 g/hari. Noviana et al. (2014) menyatakan bahwa penambahan
probiotik yang mengandung bakteri Lactobacillius, Actinomycetes sp, dan
Saccharmyces cerevisiae sebesar (10 g/kg) pada benih ikan nila dapat
meningkatkan keberadaan jumlah bakteri yang masuk ke dalam saluran
pencernaan dan mendapatkan hasil laju pertumbuhan sebesar 3.2 gram/hari.
Selanjutnya Andriani et. al (2016) melaporkan bahwa konsorsium mikroba B.
subtilis, B. lichenoformes, L. plantarum dan Nitrosomonas sebesar 5% dalam
bahan pembawa susu skim menghasilkan performa terbaik pada uji biologis udang
vaname PL12 dengan nilai laju pertumbuhan harian 0,58%, kelangsungan hidup
100% dan konversi pakan 0,942.

1.6 Hipotesis
1.6.1 Hipotesis kerja
Jika probiotik cair yang terdiri dari konsorsium mikroba atau terdiri dari
lebih satu jenis mikroba dapat berpengaruh terhadap peningkatan performa udang
vaname dan kualitas air pada wadah budidaya, maka variasi dosis dalam
perlakuan akan memberikan perbedaan hasil pada performa dan sintasan (survival
rate) udang vaname serta kualitas perairannya.

1.6.2 Hipotesis statistik


H0 : Pemberian probiotik dengan dosis dalam setiap perlakuan yaitu 5%
dan 10% tidak memberikan perbedaan performa pada Litopenaeus
vannamei.
7

H1 : Pemberian probiotik dengan dosis dalam setiap perlakuan yaitu 5%


dan 10% memberikan perbedaan performa pada Litopenaeus
vannamei.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Udang Vaname (Litepenaeus vannamei)


2.1.1 Klasifikasi Udang Vaname (Litepenaeus vannamei)
Udang vaname (Gambar 1) merupakan jenis udang yang sudah banyak
dikembangkan di negara-negara bagian Amerika Selatan seperti Meksikio,
Panama, Kolombia dan Ekuador (Nadhif 2016). Kesuksesan budidaya udang
tersebut akhirnya diikuti oleh para pembudidaya di Indonesia sekarang.

Gambar 1. Udang Vaname (Litepenaeus vannamei)


(Sumber : www.afieshsp.com)

Menurut Haliman dan Adijaya (2005) klasifikasi udang yang memiliki


nama atau sebutan yang beragam di masing-masing negara, seperti whiteleg
shrimp (Inggris), crevette pattes blances (Perancis) dan camaron patiblanco
(Spanyol) adalah sebagai berikut:
Kingdom : Animalia
Sub kingdom : Metazoa
Filum : Arthropoda
Sub filum : Crustacea
Kelas : Malacostraca
Sub kelas : Eumalacostraca
Super ordo : Eucarida
Ordo : Decapoda
Sub ordo : Dendrobranchiata
Famili : Penaeidae
Genus : Litopenaeus
Spesies : Litopenaeus vannamei

8
9

2.1.2 Morfologi Udang Vaname (Litepenaeus vannamei)


Morfologi udang vaname atau yang biasa disebut dengan udang putih
memiliki tubuh berbuku-buku dan aktivitas berganti kulit luar (eksoskeleton)
secara periodik (moulting). Bagian tubuh udang putih sudah mengalami
modifikasi sehingga dapat digunakan untuk keperluan makan, bergerak, dan
membenamkan diri kedalam lumpur (burrowing), serta memiliki organ sensor,
seperti pada antenna dan antenula (Haliman dan Adijaya 2004).
Kordi (2007) juga menjelaskan bahwa kepala udang putih terdiri dari
antena, antenula dan 3 pasang maxilliped. Kepala udang putih juga dilengkapi
dengan 3 pasang maxilliped dan 5 pasang kaki berjalan (periopoda). Maxilliped
sudah mengalami modifikasi dan berfungsi sebagai organ untuk makan. Bentuk
periopoda beruas-ruas yang berujung di bagian dactylus. Dactylus ada yang
berbentuk capit (kaki ke-1, ke-2, dan ke-3) dan tanpa capit (kaki ke-4 dan ke-5).
Diantara coxa dan dactylus terdapat ruang berturut-turut disebut basis, ischium,
merus, carpus dan cropus. Bagian ischium terdapat duri yang bisa digunakan
untuk mengidentifikasi beberapa spesies penaeid dalam taksonomi (Haliman dan
Adijaya 2005).
Menurut Wayban dan Sweeney (1991) bentuk rostrum udang putih
memanjang, langsing dan pangkalnya hamper berbentuk segitiga. Uropoda
berwarna merah kecoklatan dengan ujungnya kuning kemerah-merahan atau
sedikit kebiruan, kulit tipis transparan. Warna tubuhnya putih kekuningan terdapat
bintik-bintik coklat dan hijau pada ekor. Spesies ini dapat tumbuh mencapai
panjang tubuh 23 cm. Morfologi udang vaname (Litopenaeus vannamei) dapat
dilihat pada Gambar 2.
10

Gambar 2. Morfologi Udang Vaname (Litepenaeus vannamei)


(Sumber : Warsito 2012)

Ciri khusus yang dimiliki oleh udang vaname adalah adanya pigmen
karotenoid yang terdapat pada bagian kulit. Kadar pigmen karotenoid akan
berkurang seiring dengan pertumbuhan udang, karena saat mengalami molting
sebagian pigmen yang terdapat pada kulit akan ikut terbuang. Keberadaan pigmen
karotenoid memberikan warna putih kemerahan pada tubuh udang
(Haliman dan Adijaya 2005). Udang jantan dan betina dapat dibedakan dengan
melihat alat kelamin luarnya. Alat kelamin luar jantan disebut petasma, yang
terletak di dekat kaki renang pertama, sedangkan lubang saluran kelaminnya
terletak di antara pangkal kaki jalan keempat dan kelima (Adiyodi 1970).

2.1.3 Siklus Hidup Udang Vaname (Litepenaeus vannamei)


Wyban dan Sweeney (1991) menyatakan bahwa siklus hidup udang
vaname sebelum ditebar di tambak yaitu stadia nauplius, stadia zoea, stadia mysis,
dan stadia post larva. Siklus hidup udang vaname dapat dilihat pada Gambar 3.

Gambar 3. Siklus Hidup Udang Vaname (Litepenaeus vannamei)


(Sumber : Warsito 2012)
11

1. Nauplius
Stadia nauplius terbagi atas enam tahapan yang lamanya berkisar 46-50
jam. Larva berukuran 0,32 0,58 mm. Sistem pencernaan belum sempurna dan
memiliki cadangan makanan berupa kuning telur sehingga tidak membutuhkan
makanan dari luar.
2. Zoea
Stadia zoea terbagi atas tiga tahapan, berlangsung selama sekitar 4 hari.
Larva zoea berukuran 1,05 3,30 mm. Pada stadia ini larva mengalami molting
sebanyak 3 kali, yaitu stadia zoea 1, zoea 2 dan zoea 3. Stadia zoea sangat peka
terhadap perubahan lingkungan terutama kadar garam dan suhu air. Zoea mulai
membutuhkan makanan berupa fitoplankton.
3. Mysis
Stadia mysis terbagi atas tiga tahapan, yang lamanya 4-5 hari. Bentuk
udang stadia mysis mirip udang dewasa, bersifat planktonis dan bergerak mundur
dengan cara membengkokkan badannya. Udang stadia mysis mulai menggemari
pakan berupa zooplankton, misalnya Artemia salina.
4. Post larva
Pada stadia post larva sudah seperti udang dewasa. Hitungan stadia
berdasarkan hari, misalnya PL1 berarti post larva berumur satu hari. Stadia larva
ditandai dengan tumbuhnya pleopoda yang berambut (setae) untuk renang. Stadia
larva bersifat bentik atau organisme penghuni dasar perairan, dengan pakan yang
disenangi berupa zooplankton.

2.1.4 Tingkah Laku dan Fisiologis Udang Vaname (Litepenaeus vannamei)


Hendrajat (2003) menyatakan bahwa udang semula digolongkan ke dalam
hewan pemakan segala bangkai (omnivorusscavenger) atau pemakan detritus.
Usus udang menunjukkan bahwa udang vaname adalah merupakan omnivora,
namun cenderung karnivora yang memakan crustacea kecil dan polychaeta.
Menurut Haliman dan Adijaya (2005), beberapa tingkah laku udang yang
perlu diketahui adalah sebagai berikut :
12

1. Sifat Nocturnal
Secara alami udang merupakan hewan nocturnal yaitu sifat binatang yang
aktif mencari makan pada waktu malam dan siang harinya udang vaname lebih
suka beristirahat. Baik membenamkan diri pada lumpur maupun menempel pada
suatu benda yang terbenam.
2. Sifat Kanibalisme
Udang putih suka memangsa sejenisnya. Sifat kanibalisme sering muncul
pada udang sehat yang sedang tidak ganti kulit, kemudian menyerang udang yang
lemah terutama pada saat ganti kulit (moulting) atau udang sakit. Sifat kanibal
akan muncul terutama bila udang tersebut dalam keadaan kekurangan pakan pada
padat tebar tinggi.
3. Ganti Kulit (moulting)
Moulting merupakan suatu proses pergantian kutikula lama digantikan
dengan kutikula yang baru. Kutikula adalah kerangka luar udang yang keras (tidak
elastis). Oleh karena itu, untuk menjadi lebih besar maka udang vaname perlu
melepas kulit lama dan menggantinya dengan kulit baru.
Haliman dan Adijaya (2005) mengatakan bahwa moulting pada udang
ditandai dengan seringnya udang muncul kepermukaan air sambil meloncat-
loncat. Gerakan tersebut bertujuan untuk membantu melonggarkan kulit luar
udang dari tubuhnya. Gerakan tersebut merupakan salah satu cara
mempertahankan diri karena cairan moulting yang dihasilkan dapat merangsang
udang lain untuk mendekat dan memangsa (kanibalisme). Saat moulting
berlangsung, otot perut melentur, kepala membengkak, dan kulit luar bagian perut
melunak. Dengan sekali hentakan, kulit luar udang dapat terlepas.
4. Daya Tahan
Udang pada waktu masih berupa benih sangat tahan pada perubahan kadar
garam (salinitas). Sifat tersebut dinamakan euryhaline atau memiliki toleransi
yang tinggi terhadap perubahan garam. Sifat lain yang menguntungkan adalah
ketahanan terhadap perubahan suhu dan sifat ini dikenal dengan eurythermal.
5. Menyukai hidup di dasar (bentik)
6. Tipe pemakan lambat tetapi terus-menerus (continous feeder).
13

2.1.5 Habitat Udang Vaname (Litepenaeus vannamei)


Haliman dan Adijaya (2005) menyatakan bahwa udang vaname adalah
udang asli dari perairan Amerika Latin yang kondisi iklimnya subtropis. Udang
vaname pada habitat aslinya hidup pada kedalaman kurang lebih 70 meter. Udang
vaname hidup di daerah pasifik Barat, sepanjang Peru bagian utara, melalui
Amerika Tengah dan Selatan sampai Meksiko bagian utara, yang mempunyai
suhu air normal lebih dari 20C sepanjang tahun. Udang vaname ini hidup di
habitat laut tropis. Zakaria (2010) menyatakan bahwaa udang dewasa hidup dan
memijah di habitat laut lepas dan larva akan bermigrasi dan menghabiskan masa
larva sampai post larva di pantai, laguna atau daerah mangrove. Udang vaname
sudah menyebar karena diperkenalkan diberbagai belahan dunia karena sifatnya
yang relatif mudah dibudidayakan, termasuk di Indonesia.
Udang vaname bersifat nokturnal, yaitu aktif mencari makan pada malam
hari. Proses perkawinan pada udang vaname ditandai dengan loncatan betina
secara tiba-tiba. Saat meloncat inilah, betina mengeluarkan sel-sel telur dan saat
yang bersamaan, udang jantan mengeluarkan sperma, sehingga sel telur dan
sperma bertemu. Proses perkawinan berlangsung kira-kira satu menit. Sepasang
udang vaname berukuran 30-45 gram dapat menghasilkan telur sebanyak
100.000-250.000 butir.

2.1.4 Pakan dan Kebiasaan Makan


Pakan merupakan faktor yang sangat penting dalam budidaya udang
vaname karena menyerap biaya yang berkisar antara 60-70% dari total biaya
operasional. Pemberian pakan yang sesuai dengan kebutuhan akan memacu
pertumbuhan dan perkembangan udang vaname secara optimal, sehingga
produktivitasnya bisa ditingkatkan. Prinsipnya adalah semakin padat penebaran
benih udang berarti ketersediaan pakan alami semakin sedikit dan ketergantungan
pada pakan buatan semakin meningkat (Topan 2007). Seiring dengan usaha
intensifikasi budidaya, maka ketergantungan pada sediaan pakan alami semakin
berkurang dan sebaliknya suplai energi semakin banyak ditentukan oleh pakan
buatan yang diberikan. Dalam hal ini diperlukan pakan dengan kadar nutrisi yang
14

seimbang serta pemberian yang cukup untuk mendukung pertumbuhan yang


optimal dan pada akhirnya untuk peningkatan pendapatan hasil usaha budidaya.
Udang vaname membutuhkan pakan dengan kandungan protein yang lebih
rendah daripada udang windu. Kebutuhannya berkisar antara 18-35 persen dengan
rasio konversi pakan 1:1,2 yaitu satu kilogram daging pada ikan dapat dihasilkan
dari pemberian 1,2 kilogram pakan. Hal tersebut tentu saja akan membuat biaya
produksi untuk pakan udang vaname lebih rendah daripada biaya produksi untuk
pakan udang windu (Brown 1991). Salah satu prinsip yang perlu diketahui dalam
penerapan pakan untuk kepentingan budidaya adalah program pemberian pakan
secara efektif (effective feeding program). Hal ini memerlukan pengetahuan
tentang kebutuhan nutrien dari kultivan yang akan dipelihara, kebiasan dan
tingkah laku makan, serta kemampuan kultivan dalam mencerna dan
menggunakan nutrien esensial yang diberikan.
Pakan yang diberikan harus mampu menyediakan nutrien yang dibutuhkan
oleh kultivan seperti protein dan asam amino esensial, lemak dan asam lemak,
energi, vitamin, dan mineral. Pakan yang diberikan selama periode budidaya
berlangsung sangat sulit untuk dikontrol secara tepat baik jumlah maupun waktu.
Oleh karena itu pengaturan jumlah pakan senantiasa dilakukan sesuai dengan
tingkat nafsu makan, pertumbuhan dan mortalitas udang. Jika pakan diberikan
terlalu sedikit dapat berakibat pertumbuhan lambat, bahkan memicu kanibalisme
terutama pada pemeliharaan dengan kepadatan tinggi. Demikian pula sebaliknya,
pemberian pakan berlebih dapat menimbulkan masalah. Selain sebagai limbah,
sisa pakan dapat menyebabkan penurunan mutu air di tambak. Seberapa besar
jumlah pakan yang dikonsumsi oleh udang dipengaruhi oleh beberapa faktor,
yaitu : jenis pakan, ukuran udang, suhu air, padat tebar, cuaca, kualitas air dan
status kesehatan udang itu sendiri. Faktor-faktor tersebut perlu diperhatikan guna
memaksimalkan penggunaan pakan bagi kultivan. Suhu misalnya, mempunyai
efek nyata terhadap konsumsi pakan dan pertumbuhan. Konsumsi pakan udang
vaname mencapai optimal pada suhu 27-31 oC. Suhu di atas atau di bawah kisaran
tersebut menyebabkan konsumsi pakan menurun.
15

Frekuensi pakan ditentukan berdasarkan tingkat kestabilan pakan dalam


air dan laju konsumsi pakan oleh udang. Pemberian pakan lebih sering dapat
memperbaiki rasio konversi pakan, serta mengurangi jumlah nutrien yang hilang
(leaching). Pada stadia benih, frekuensi pakan lebih sering oleh karena laju
metabolisme pada saat itu sangat tinggi. Idealnya, udang stadia post larva diberi
pakan setiap 2-3 jam sekali (12-8 kali sehari). Seiring dengan pertumbuhan udang
di tambak, maka frekuensi pakan dapat dikurangi dan umumnya maksimum 6 kali
selama 24 jam.
FCR (food convertion ratio) merupakan salah satu indikator seberapa jauh
pakan yang diberikan dapat dimanfaatkan oleh udang untuk mendukung
pertumbuhan dan kelulus hidupan. FCR menggambarkan jumlah pakan yang
diperlukan untuk menaikkan 1 kg berat udang. Semakin rendah nilai FCR, maka
pakan digunakan semakin efisien. Umumnya nilai FCR kurang dari 2 masih
dinyatakan baik. FCR yang tinggi kemungkinan disebabkan oleh beberapa faktor,
seperti : over feeding, defisiensi nutrien tertentu, kualitas air yang buruk. Faktor-
faktor tersebut perlu terus dimonitor, sehingga program pemberian pakan lebih
efisien.
Udang vaname termasuk golongan omnivora. Beberapa sumber pakan
udang vaname, antara lain : udang kecil (rebon), fitoplankton, copepoda,
polychaeta, larva kerang dan lumut. Udang vaname juga termasuk dalam
pemangsa sejenis (kanibalisme). Udang makan atas dasar penciuman dan bukan
penglihatan, sehingga pakan harus mengandung atraktan yang baik sehingga
mudah dikenali oleh udang. Pada saat udang mulai mengambil pakan, palatabilitas
(cita rasa) menjadi penting dan menentukan apakah pakan yang diberikan ditelan
atau tidak.
Udang vaname mencari dan mengenali pakan menggunakan sinyal
kimiawi berupa getaran dengan bantuan organ sensor yang terdiri dari bulu-bulu
halus (setae) yang terdapat pada ujung anterior antennulae, bagian mulut, capit,
antenna dan maxilliped. Udang akan berenang menggunakan kaki jalan yang
memiliki capit untuk mendekati sumber pakan. Pakan langsung dijepit
menggunakan capit kaki jalan, kemudian pakan dimasukkan ke dalam mulut.
16

Selanjutnya pakan yang berukuran kecil masuk ke dalam kerongkongan dan


esofagus. Bila pakan yang dikonsumsi berukuran lebih besar, akan dicerna secara
kimiawi terlebih dahulu oleh maxilliped di dalam mulut
(Haliman dan Adijaya 2005). Manajemen pemberian pakan pada udang vaname
dapat dilihat dalam Tabel 1.

Tabel 1. Manajemen Pakan pada Udang Vaname


Umur Frekuensi
Ukuran Bentuk Nomor Dosis pakan
udang pakan /
(gr) pakan pakan (%)
(hari) hari
1-15 PL 10 -01 Crumble 0 25-75% 3
16-30 1,1-2,5 Crumble 1+2 15-25% 4
31-45 2,6-3,0 Pelet 2 10-15% 5
45-60 5,1-8,0 Pelet 2+3 7-10% 5
61-75 8,1-14,0 Pelet 3 5-7% 5
76-90 14,1-18,0 Pelet 3+4 3-5% 5
91-105 18,1-20,1 Pelet 4 3-5% 5
96-120 20,1-22,5 Pelet 4 2-4% 5
Sumber: DJPB, Jumlah presentase pakan yang diberikan dibandingkan berat tubuh
dalam WWF Perikanan (2014)

2.2 Probiotik
Matthews (1988) mendefinisikan probiotik sebagai mikroorganisme hidup
dalam bentuk cair yang mengandung media tempat tumbuh dan produksi
metabolisme. Fuller (1989) menambahkan probiotik adalah suatu mikrobial hidup
yang diberikan sebagai biosuplemen pakan, memberikan keuntungan bagi induk
semang dengan cara memperbaiki keseimbangan populasi mikroba usus.
Haddadin et al. (1996) menyatakan bahwa probiotik adalah organisme beserta
substansinya yang dapat mendukung keseimbangan mikroflora dalam saluran
pencernaan.
Mikroba bisa dikatakan mempunyai status probiotik bila memenuhi
sejumlah kriteria seperti bisa diisolasi dari hewan inang dengan spesies yang
sama, mampu menunjukkan pengaruh yang menguntungkan pada hewan inang,
tidak bersifat patogen, bisa transit dan bertahan hidup dalam saluran pencernaan
hewan inang. Sejumlah mikroba harus mampu bertahan hidup pada periode yang
lama selama masa penyimpanan (Budiansyah 2004).
17

Penggunaan probiotik ada dua macam yaitu melalui lingkungan (air dan
dasar tambak) dan melalui oral (dicampurkan ke dalam pakan). Aplikasi melalui
oral dapat meningkatkan kualitas pakan dengan menambahkan bahan aditif dalam
bentuk probiotik yang berisi mikroba pengurai ke dalam pakan dan juga berfungsi
untuk memperbaiki kualitas pakan dengan cara melalui proses penguraian
sehingga dapat meningkatkan nilai nutrisi pakan (Mansyur dan Malik 2008).
Menurut Soeharsono et al. (2010), mekanisme kerja probiotik pada
akuakultur adalah:
1. Kompetisi eksklusif (competitive exclusion) terhadap bakteri patogen
misalnya Pseudomonas terhadap beberapa Vibrio sebagai patogen pada udang
2. Pengaktifan respon imun atau menstimulasi imunitas
3. Kompetisi untuk reseptor perlekatan pada epitel saluran pencernaan
4. Kompetisi untuk mendapatkan nutrient
5. Mengeluarkan substansi antibakteri
6. Dekomposisi zat organik yang tidak diharapkan, sehingga lingkungan
akuakultur menjadi lebih baik
Wang et al. (2008) dalam Ahmadi (2012) menyatakan bakteri probiotik
menghasilkan enzim yang mampu mengurai senyawa kompleks menjadi
sederhana sehingga siap digunakan ikan. Dalam meningkatkan nutrisi pakan,
bakteri yang terdapat dalam probiotik memiliki mekanisme dalam menghasilkan
beberapa enzim untuk pencernaan pakan seperti amilase, protease, lipase dan
selulose. Enzim tersebut yang akan membantu menghidrolisis nutrien pakan
(molekul kompleks), seperti memecah karbohidrat, protein dan lemak menjadi
molekul yang lebih sederhana akan mempermudah proses pencernaan dan
penyerapan dalam saluran pencernaan ikan (Putra 2010).

2.2.1 Mikroba Probiotik


1. Bacillus subtilis
Bacillus subtilis memiliki bentuk batang dengan ukuran 0,3-3,2 m x1,27
7,0m (Gambar 4). Bacillus subtilis sebagian motil, flagellumnya khas lateral,
membentuk endospora dimana endosporanya tidak lebih dari satu sel sporangium,
18

merupakan bakteri Gram positif dan bersifat aerobik sejati atau anaerobik
fakultatif (Pelczar dan Chan 2012). Ciri pembeda yang menonjol dari bakteri ini
adalah kemampuannya dalam membentuk endospora. Endosporanya memiliki
resistensi tinggi terhadap panas dan dapat bertahan hidup lama (Pelczar dan Chan,
2012).

Gambar 4. Sel Bacillus subtilis dengan SEM.


(Sumber : Morikawa et al. 2006)

Menurut Garrity et al. (2004) secara taksonomi Bacillus subtilis dapat


diklasifikasikan sebagai berikut:
Filum : Firmicutes
Kelas : Bacilli
Ordo : Bacillales
Famili : Bacillaceae
Genus : Bacillus
Spesies : Bacillus subtilis
Bacillus subtilis berperan dalam dekomposisi awal terhadap bahan organic
(Voset et al. 2009). Bacillus subtilis membutuhkan kondisi tertentu untuk
mencapai pertumbuhan yang optimal. Suhu yang diperlukan untuk pertumbuhan
optimal sebesar 28 30 oC, sedangkan suhu minimal pada pertumbuhannya
sebesar 5 20 oC dan suhu maksimal sebesar 45 55 oC. Selain itu, faktor
pertumbuhan yang penting bagi Bacillus subtilis adalah pH, yaitu sebesar 5,5
8,5. Batas pH untuk pertumbuhan Bacillus subtilis belum ditentukan (Voset et al.
2009).
Bacillus subtilis yang diberikan pada hewan akuatik mampu meningkatkan
19

pertumbuhan dan resisten terhadap infeksi bakteri patogen Vibrio. Hal ini
mungkin dipengaruhi oleh keberadaan bakteri probiotik yang meningkatkan
sistem imunitas tubuh inang tersebut. Menurut Rengpipat et al. (2000) aplikasi
probiotik di air pemeliharaan telah dilaporkan mampu memperbaiki kualitas air.
2. Lactobacillus plantarum
Lactobacillus plantarum (Gambar 5) merupakan bakteri Gram positif
dengan sel tidak menghasilkan spora, non-motil, aerob fakultatif, kadang-kadang
mikroaerofilik, tumbuh lebih baik dengan adanya oksigen tereduksi sebagian
anaerob, dan tumbuh optimum pada suhu 30 - 40C yang ditemukan dalam
berbagai relung. Relung ini termasuk susu, daging, sayur fermentasi, dan saluran
pencernaan manusia.

Gambar 5. Sel Lactobacilus plantarum dengan SEM.


(Sumber : Bronze 2008)

Klasifikasi Lactobacillus plantarum menurut Garrity et al. (2004) adalah


sebagai berikut:
Filum : Firmicutes
Kelas : Bacilli
Ordo : Lactobacillales
Famili : Lactobacillaceae
Genus : Lactobacillus
Spesies : Lactobacillus plantarum

Koloni Lactobacillus plantarum pada media agar biasanya 2-5 mm,


konveks, penuh opak dan tidak berpigmen, sel berbentuk batang regular dengan
ukuran 0,5-1,2 x 1,0-10,0 m; kemoorganotrofik, dan tumbuh hanya pada media
kompleks; metabolisme fermentatif dan sakaroklastik, sebagian dari produk
20

akhirnya adalah laktat; tidak mereduksi nitrit, gelatin tidak mencair, katalase dan
sitokrom negatif. Bakteri Lactobacillus plantarum akan mengubah karbohidrat
menjadi asam laktat, kemudian asam laktat dapat menciptakan suasana pH yang
asam. Dalam keadaan asam, Lactobacillus plantarum memiliki kemampuan untuk
menghambat bakteri patogen dan bakteri pembusuk yang ada (Delgado et al. 2001
dalam Rostini 2007). Suasana asam pada usus akan meningkatkan sekresi dari
enzim proteolitik dalam saluran pencernaan yaitu merombak protein menjadi
asam amino yang kemudian diserap oleh usus. Gatesoupe (1999) dalam Mulyadi
(2011) juga menyatakan bahwa aktivitas bakteri dalam pencernaan organisme
budidaya akan berubah dengan cepat apabila ada suatu mikroba yang masuk
melalui pakan atau air yang dapat menyebabkan terjadinya perubahan
keseimbangan bakteri yang sudah ada dengan bakteri yang masuk dalam saluran
pencernaan.
3. Nitrosomonas sp.
Bakteri Nitrosomonas sp. (Gambar 6) merupakan bakteri yang berperan
dalam proses oksidasi amonia menjadi nitrit dalam siklus nitrogen. Secara
morfologis bakteri ini berbentuk batang pendek, motil dan non motil, terdapat
dalam bentuk konsorsium, berpasangan sebagai rantai pendek maupun sendiri.
Bakteri ini adalah bakteri Gram negatif dan memiliki sitomembran. Sel tumbuh
bebas pada medium dan membentuk matriks tipis. Bakteri ini dapat tumbuh
optimum pada suhu 5 - 30 C dan pH optimum 5,8 - 8,5 serta hidup pada habitat
air laut, air tawar dan tanah (Holt et al. 1994).

Gambar 6. Sel Nitrosomonas sp. dengan SEM


(Sumber : Zavarzin et al. 2004)
21

Klasifikasi Nitrosomonas sp. menurut Garrity et al. (2004) adalah sebagai


berikut :
Filum : Proteobacteria
Kelas : -Proteobacteria
Ordo : Nitrosomonadales
Famili : Nitrosomonadaceae
Genus : Nitrosomonas
Spesies : Nitrosomonas sp.

Nitrosomonas sp. adalah bakteri yang mengoksidasi amoniak menjadi


nitrit sebagai proses metabolisme. Nitrosomonas sp. ditemukan di tanah, air tawar
dan pada permukaan bangunan, terutama di daerah yang mengandung tingkat
tinggi senyawa nitrogen. Nitrosomonas sp. lebih menyukai pH optimum 7,5 - 8,5
dan kisaran suhu 20-30 C (Boyd 1990).
Nitrosomonas sp. memiliki kemampuan mengubah amoniak yang
melibatkan bakteri dengan persamaan reaksi (Effendi 2003) sebagai berikut:
2NH3 + 3O2 2NO2- + 2H+ + 2H2O
Nitrosomonas sp.

4. Nitrobacter sp.
Bakteri Nitrobacter sp. (Gambar 7) berperan dalam siklus nitrogen dengan
mengoksidasi nitrit yang merupakan hasil dari oksidasi bakteri Nitrosomonas sp.
menjadi nitrat. Nitrobacter sp. menggunakan energi oksidasi dari ion nitrit
menjadi nitrat.

Gambar 7. Sel Nitrobacter sp.dengan SEM


(Sumber : Zavarzin et al. 2004)

Klasifikasi Bakteri Nitrobacter sp. menurut Garrity et al. (2004) adalah


sebagai berikut :
22

Filum : Proteobacteria
Kelas : -Proteobacteria
Ordo : Rhizobiales
Famili : Bradyrhizobiaceae
Genus : Nitrobacter
Spesies : Nitrobacter sp.

Habitat Nitrobacter sp.berada dalam tanah, air tawar, laut, payau, lumpur
dan batuan berpori-pori. Berbentuk batang, elipsoidal dan spiral, Gram negatif, sel
motil dan non motil serta kemoautotrof. Sel motil memiliki falgel polar atau
lateral. Nitrobacter sp. membutuhkan pH yang optimum untuk pertumbuhannya
antara 5,8 - 8,5 dan 7,3 - 7,5 (Holt et al. 1994).
Pada proses tahap kedua reaksi diperankan oleh bakteri Nitrobacter sp.
yang melakukan oksidasi dari nitrit ke nitrat dengan persamaan reaksi (Effendi
2003) sebagai berikut :
2NO2- + O2 2NO3-
Nitrobacter sp.

5. Saccharomyces
Saccharomyces adalah fungi uniseluler yang juga disebut ragi, berbentuk
bulat atau oval, berukuran 5-12, berfluktuasi membentuk bud, dan setelah
dewasa akan pecah menjadi sel induk. Strukturnya mempunyai dinding
polisakarida tebal yang menutup protoplasma. Shin (1966) dalam Haetami, dkk.,
(2008) mengemukakan bahwa keuntungan umum yang diperoleh dari kultur
Saccharomyces hidup ialah dapat meningkatkan pertumbuhan bobot badan,
efisiensi ransum, dan feed intake. Keuntungan tersebut diperoleh berdasarkan
mekanisme kerja kultur Saccharomyces sebagai berikut (Haetami, dkk. 2008):
1. Menstimulasi appetite (nafsu makan), karena ragi ini memiliki flavor natural
yang menarik (asam glutamat) yang dapat memperbaiki palatabilitas.
2. Mengandung vitamin B komplek
3. Mengasimilasi protein dan mensekresi asam amino
4. Menyediakan mineral dalam bentuk chelat setelah sel ragi mengalami otolisis
dan sejumlah mineral siap diabsorpsi oleh ternak.
5. Memproduksi sejumlah enzim amylase, lipase, protease dan lai-lain
23

6. Sel aktif mempunyai materi absorbative yang kuat dalam dinding selnya dan
dapat berperan sebagai nutrient reservoir dan pH buffer.
7. Meningkatkan homeostatis usus, karena mempunyai kemampuan
memindahkan oksigen untuk menciptakan kondisi anaerob sebagai fasilitas
pertumbuhan bakteri anaerob.
Salah satu mikroba Saccharomyces yang digunakan adalah S. cerevisiae
yang memiliki keuntungan tidak membunuh mikroba bahkan menambah jumlah
mikroba yang menguntungkan, berbeda dengan antibiotik dapat membunuh
mikroba yang merugikan maupun menguntungkan tubuh, dan mempunyai efek
resistensi.
Demikian pula dengan penggunaan S. cerevisiae sebagai bahan
imunostimulan. Imunostimulan berfungsi untuk meningkatkan kesehatan tubuh
dengan cara meningkatkan sistem pertahanan terhadap penyakit-penyakit yang
disebabkan bakteri, cendawan, virus dan yang lainnya, sedangkan penggunaan
antibiotika hanya membunuh bakteri. Meskipun demikian kita harus berhati-hati
dalam menentukan dosis probiotik yang dianjurkan dalam penggunaannya,
dimana bila berlebihan dapat menimbulkan penyakit Saccharomikosis. Hal
tersebut terjadi karena terganggunya keseimbangan mikroflora di dalam tubuh,
akibat populasi khamir meningkat melebihi populasi mikroba lainnya
(Ahmad 2005).
Di perairan alami, nitrit (NO2) biasanya ditemukan dalam jumlah yang sangat
sedikit. Lebih sedikit daripada nitrat, karena bersifat tidak stabil dengan keberadaan
oksigen. Nitrit merupakan bentuk peralihan (intermediate) antara amonia dan nitrat
(nitrifikasi), dan antara nitrat dan gas nitrogen (denitrifikasi). Denitrifikasi
berlangsung pada kondisi anaerob. Nitrifikasi yang merupakan proses oksidasi
amonia menjadi nitrat dan nitrit adalah proses yang penting dalam siklus nitrogen dan
berlangsung pada kondisi aerob.

2.3 Parameter Kualitas Air


Kualitas air secara umum menunjukkan mutu atau kondisi air yang dikaitkan
dengan suatu kegiatan atau keperluan tertentu. Parameter kualitas air yang akan
diamati terdiri dari salinitas, suhu, derajat keasaman, oksigen terlarut dan amonia.
24

2.3.1 Salinitas
Salinitas adalah kadar garam terlarut dalam air. Salinitas juga dapat
mengacu pada kandungan garam dalam tanah. Kandungan garam pada sebagian
besar danau, sungai dan saluran air alami sangat kecil sehingga air di tempat ini
dikategorikan sebagai air tawar. Kandungan garam sebenarnya pada air ini secara
definisi kurang dari 0,05 ppt. Jika lebih dari itu, air dikategorikan sebagai air
payau atau menjadi saline bila konsentrasinya 3 sampai 5 ppt. Lebih dari 5 ppt,
disebut brine. Salinitas dinyatakan dalam satuan g/kg, ppt atau promil ().
Faktor-faktor yang mempengaruhi salinitas:
1. Penguapan, makin besar tingkat penguapan air laut di suatu wilayah, maka
salinitasnya tinggi dan sebaliknya pada daerh yang rendah tingkt penguapan
air lautnya, maka daerah itu rendah kadar garamnya.
2. Curah hujan, makin besar/ banyak curah hujan di suatu wilayah laut maka
salinitas air laut akan rendah dan sebaliknya makin sedikit/ kecil curah hujan
maka salinitas akan tinggi.
Menurut Haliman dan Adijaya (2005) salinitas yang baik untuk
pertumbuhan udang vaname berkisar antara 10-35 ppt, sedangkan menurut
Subyaakto et. al (2009) salinitas 15-20 ppt masih dalam batas yang layak untuk
pemeliharaan udang vaname. Menurut SNI 7246:2006 kisaran salinitas optimal
untuk pemeliharaan udang vaname adalah 15-25 ppt. Perubahan salinitas secara
mendadak dapat menyebabkan kematian pada udang.

2.3.2 Suhu
Suhu adalah besaran yang menyatakan derajat panas dingin suatu benda
dan alat yang digunakan untuk mengukur suhu adalah thermometer. Pengukuran
suhu cenderung menggunakan indera peraba, tetapi dengan adanya perkembangan
teknologi maka diciptakan thermometer untuk mengukur suhu dengan valid. Suhu
suatu badan perairan dipengaruhi oleh musim, lintang, ketinggian dari permukaan
laut, waktu dalam hari, sirkulasi udara,penutupan awan, dan aliran serta
kedalaman badan air.
25

Peningkatan suhu mengakibatkan penurunan kelarutan gas dalam air,


misalnya gas O2, CO2, N2, CH4, dan sebagainya (Haslam 1995 dalam Effendi
2003). Peningkatan suhu perairan sebesar 10C menyebabkan terjadinya konsumsi
oksigen 2-3 kali lipat. Namun, peningkatan suhu juga disertai dengan penurunan
kadar oksigen terlarut sehingga keberadaan oksigen sering kali tidak mampu
memenuhi kebutuhan oksigen bagi organisme akuatik untuk melakukan proses
metabolisme dan respirasi serta menyebabkan terjadinya peningkatan
dekomposisi bahan organik oleh mikroba (Effendi 2003). Menurut Haliman dan
Adijaya (2005) suhu optimum pertumbuhan udang vaname berada pada kisaran
26-32C, sedangkan kisaran yang optimal untuk pemeliharaan udang vaname
menurut SNI7246:2006 yaitu 28,5-31,5C.

2.3.3 Derajat Keasaman (pH)


Derajar Keasaman (pH) adalah salah satu pengukuran yang sangat penting
dalam berbagai bidang (industri, farmasi, manufaktur, produksi makanan dan
sebagainya) yaitu pengukuran ion hidrogen dalam suatu larutan. Merupakan suatu
ekspresi dari konsentrasi ion Hidrogen (H) di dalam air, besarannya dinyatakan
dalam minus logaritma dari konsentrasi ion H. Larutan dengan harga pH rendah
dinamakan asam sedangkan yang harga pH-nya tinggi dinamakan basa. Skala pH
terentang dari 0 (asam kuat) sampai 14 (basa kuat) dengan 7 adalah harga dengan
mewakili air netral.
Derajat keasaman mempengaruhi tingkat kesuburan perairan karena
mempengaruhi kehidupan jasad renik. Perairan asam akan kurang produktif,
malah akan membunuh hewan budidaya. Jika pH rendah akan menyebabkan
konsentrasi DO berkurang, menurunnya konsumsi oksigen, aktivitas pernapasan
naik dan selera makan menjadi berkurang (Kordi dan Tancung 2007).
Derajat keasaman mempengaruhi toksisitas suatu senyawa kimia. Senyawa
amonium yang dapat terionisasi banyak ditemukan pada perairan yang memiliki
pH rendah. Amonium bersifat tidak toksik (innocuous). Namun pada suasana
alkalis (pH tinggi) lebih banyak ditemukan amonia yang terionisasi (unionized)
26

dan bersifat toksik. Amonia tak terionisasi ini lebih mudah terserap ke dalam
tubuh organisme akuatik dibandingkan dengan amonium (Tebbut 1992 dalam
Effendi 2003).
Sebagian besar biota akuatik sensitif terhadap perubahan pH dan
menyukai pH sekita 7-8,5. Nilai pH sangat mempengaruhi proses kimiawi
perairan, misalnya proses nitrifikasi akan berakhir jika pH rendah (Effendi 2003).
Menurut Wardoyo dan Setiyanto 1998 dalam Solihin 2010 nilai pH air yang ideal
untuk budidaya udang windu adalah 6,8-9,0, sedangkan pH antara 4,5-6,0 dan
9,8-11,0 dapat mengganggu metabolisme udang. Pada pH< 4,0 dan >10 udang
akan mati. Menurut Patang (2012) pH 7,35- 7,44 masih layak untuk pemeliharaan
larva udang, sedangkan menurut SNI 7246:2006 kisaran pH optimal untuk
pemeliharaan optimal untuk pemeliharaan udang vaname adalah 7,5-8,5. Tabel 2.
menyajikan hubungan antara pH air dan kehidupan udang budidaya.
Tabel 2. Hubungan Antara pH Air dan Kehidupan Udang Windu
pH air Pengaruhnya terhadap udang
<4,0 Bersifat racun terhadap udang
4,0-4,5 Tidak berproduksi, titik mati asam
4,6-6,0 Produksi rendah
6,1-7,5 Produksi sedang
7,6-8,0 Cukup Baik bagi budidaya udang
8,1-8,7 Baik bagi pemeliharaan udang
8,8-9,5 Produksi mulai menurun
9,0-11 Titik mati alkalis
>11,0 Bersifat racun terhadap udang
(Sumber : Kordi dan Tancung 2007)

2.3.4 Oksigen Terlarut (DO)


Oksigen merupakan salah satu gas yang terlarut dalam perairan. Kadar
oksigen yang terlarut di perairan alami bervariasi, tergantung pada suhu, salinitas,
turbulensi air dan tekanan atmosfer. Semakin besar suhu dan ketinggian (altitude)
serta semakin kecil tekanan atmosfer, kadar oksigen terlarut semakin kecil
(Jeffries dan Mills 1996 dalam Effendi 2003).
Semakin tinggi suatu tempat dari permukaan laut, tekanan atmosfer akan
semakin rendah. Setiap peningkatan ketinggian suatu tempat sebesar 100m diikuti
dengan penurunan tekanan hingga 8-9 mm Hg. Setiap peningkatan kedalaman
27

sebesar 10m pada kolom air disertai dengan peningkatan tekanan sekitar 1
atmosfer (Cole 1988 dalam Effendi 2003). Kadar oksigen terlarut juga
berfluktuasi secara harian (diurnal) dan musiman, tergantung pada pencampuran
(mixing) dan pergerakan (turbulence) massa air, aktivitas fotosintesis, respirasi,
dan limbah (effluent) yang masuk ke badan air.
Peningkatan suhu sebesar 1C akan meningkatkan konsumsi oksigen
sekitar 10% (Brown 1987 dalam Effendi 2003). Dekomposisi bahan organik dan
oksidasi bahan anorganik dapat mengurangi kadar oksigen terlarut hingga
mencapai nol (anaerob). Hubungan antara kadar oksigen terlarut jenuh dan suhu
yaitu semakin tinggi suhu, kelarutan oksigen semakin berkurang. Kelarutan
oksigen dan gas-gas lain juga berkurang dengan meningkatnya salinitas sehingga
kadar oksigen di laut cenderung lebih rendah daripada kadar oksigen di perairan
air tawar.
Menurut Raharjo dkk,. (2003), konsentrasi oksigen terlarut pada tambak
yang baik untuk budidaya udang vaname adalah 3,5 7,5 mg/l. Level oksigen
terlarut (DO) minimum yang dapat ditolerir ikan dengan aman bergantung pada
suhu hingga batas batas tertentu untuk tiap spesies. Kelarutan oksigen dalam air
naik sejalan dengan penurunan suhu. Pada kolam, DO dapat berubah secara
dramatis selama periode 24 jam.

2.3.5 Amonia
Amonia (NH3) dan garam-garamnya bersifat mudah larut dalam air. Ion
amonium adalah bentuk transisi dari amonia. Amonia banyak digunakan dalam
proses produksi urea, industri bahan kimia (asam nitrat, amonium fosfat,
amonium nitrat dan amonium sulfat), serta industri bubur kertas dan kertas (pulp
dan paper). Sumber amonia di perairan adalah pemecahan nitrogen organik
(protein dan urea) dan nitrogen anorganik yang terdapat di dalam tanah dan air,
yang berasal dari dekomposisi bahan organik (tumbuhan dan biota akuatik yang
telah mati) oleh mikroba dan jamur. Proses ini dikenal dengan istilah amonifikasi,
ditunjukkan dalam persamaan reaksi
N organik + O2 NH3 N + O2 NO2 N+ O2 NO3 N
28

Amonifikasi nitrifikasi
Reduksi nitrat (denitrifikasi) oleh aktivitas mikroba pada kondisi anaerob,
yang merupakan proses yang biasa terjadi pada pengolahan limbah, juga
menghasilkan gas amonia dan gas-gas lain, misalnya N2O, NO2, NO dan N2
(Novontny dan Olem, 1994).
Feses dari biota akuatik yang merupakan limbah aktivitas metabolisme
juga mengeluarkan amonia. Sumber amonia yang lain adalah reduksi gas nitroge
yang berasal dari proses difusi udara atmosfer, limbah industri, dan domestik.
Amonia yang terdapat dalam mineral masuk ke badan air melalui erosi tanah. Di
perairan alami, pada suhu dan tekanan normal amonia berada dalam bentuk gas
dan membentuk kesetimbangaan dengan gas amonium. Kesetimbangan antara gas
amonia dan gas amonium ditunjukkan dalam reaksi ini.
NH3 + H2O NH4+ + OH-
Selain terdapat dalam bentuk gas, amonia membentuk kompleks dengan
beberapa ion logam. Amonia juga dapat terserap ke dala bahan-bahan tersuspensi
dan koloid sehingga mengendap di dasar perairan. Amonia yang terukur di
perairan berupa amonia total (NH3 dan NH4+). Amonia bebas tidak dapat
terionisasi, sedangkan amonium (NH4+) dapat terionisasi. Presentase amonia
bebas meningkat dengan meningkatnya nilai pH dan suhu perairan. Pada pH 7
atau kurang, sebagian besar amonia akan mengalami ionisasi. Sebaliknya, pada
pH lebih besar dari 7, amonia tak terionisasi yang bersifat toksik terdapat dalam
jumlah yang lebih banyak (Novontny dan Olem, 1994). Amonia bebas (NH3)
yang tidak terionisasi (unionized) bersifat toksik terhadap organisme akuatik.
Toksisitas amonia terhadap organisme akuatik akan meningkat jika terjadi
penurunan kadar oksigen terlarut, pH, dan suhu. Amonia juga jarang ditemukan
pada perairan yang mendapat cukup pasokan oksigen. Sebaliknya, pada wilayah
anoksik (tanpa oksigen) yang biasanya terdapat di dasar perairan, kadar amonia
relatif tinggi (Effendi 2003). Kualitas air udang vaname dapat dilihat dalam Tabel
3.
Tabel 3. Kualitas Air Udang Vaname
Parameter Optimal Toleransi
DO >4ppm >3 ppm
29

Temperatur 28-32C 20-35C


Salinitas 15-25 ppt 0-35 < 35 ppt
pH 7.5-8 7-8.5
NH3 0 ppm 0.1-0.5 ppm
NO2 0 ppm 0.1-1 ppm
HS2 0 ppm 0.001 ppm
Alkalinitas 100-120ppm 100ppm
Kecerahan 25-40 cm
Sumber : WWF Perikanan, Kualitas Air Udang Vaname (2014)

2.3.6 Kelangsungan hidup dan Pertumbuhan


Perbandingan antara jumlah individu yang hidup pada akhir percobaan
dengan jumlah individu pada awal percobaan atau peluang hidup dalam suatu
faktor biotik maupun abiotik mempengaruhi kelangsungan hidup ikan. Parasit,
kompetitor, umur, kemampuan adaptasi, penanganan manusia dan kepadatan
populasi dipengaruhi oleh faktor biotik, sedangkan sifat kimia dan fisika dari
suatu lingkungan air dipengaruhi oleh faktor abiotik (Rika 2008).
Kelangsungan hidup ikan sangat dipengaruhi oleh kualitas air. Karena air
sebagai media tumbuh sehingga harus memenuhi syarat dan harus diperhatikan
kualitas airnya, seperti: suhu, kandungan oksigen terlarut (DO) dan keasaman
(pH). Air yang digunakan dapat membuat ikan melangsungkan hidupnya (Effendi
2003). Menurut Zonneveld et al. (1991) dalam Solihin (2010) kualitas air yang
tidak stabil akan mempengaruhi kelangsungan hidup organisme perairan. Selain
itu kelangsungan hidup udang juga dipengaruhi oleh pemangsaan (kanibalisme)
pada udang itu sendiri.
Pertumbuhan dalm istilah yang dapat dirumuskan sebagai pertambahan
atau berat dalam suatu waktu, sedangkan pertumbuhan bagi populasi sebagai
pertambahan jumlah Pertumbuhan merupakan proses biologis yang kompleks
dimana banyak faktor yang mempengaruhinya. Faktor yang mempengaruhi
pertumbuhan digolongkan menjadi dua bagian besar yaitu faktor internal dan
eksternal. Faktor-faktor yang mempengaruhi ada yang dapat dikontrol dan ada
juga yang tidak. Faktor internal adalah faktor yang sukar di kontrol, diantaranya
ialah keturunan, sex, umur. Faktor eksternal meliputi faktor kimia, fisika dan
30

biologi perairan dan yang paling utama mempengaruhi pertumbuhan ialah


makanan dan suhu perairan (Effendie 1997).
Pertumbuhan ikan pada lingkungan optimal sangat dipengaruhi oleh pakan
yang diberikana. Pakan yang mengandung nutrisi lengkap dan seimbang akan
memacu pertumbuhan ikan. Pertumbuhan ikan akan terjadi jika pakan yang
dikonsumsi memiliki kadar protein dan imbangan-energi yang tepat sehingga
protein digunakan sebagai bahan penyusun tubuh untuk pertumbuhan, sedangkan
energi non protein dari lemak dan karbohidrat digunakan sebagai sumber energi
(Adelina et. al. 2000). Pertumbuhan terjadi apabila energi yang dikonsumsi lebih
besar dari energi yang digunakan untuk berbagai aktivitas tubuh.
Sari (1999) dalam Patang (2012) menyatakan bahwa pertumbuhan udang
dapat diduga berdasarkan peningkatan ukuran pada waktu dan frekuensi
pergantian kulit. Namun cara tersebut memiliki kelemahan karena pada crustacea
meskipun pertumbuhan berhubungan langsung dengan pergantian kulit, dapat saja
terjadi tanpa adanya pertumbuhan (Wickins 1976 dalam Patang 2012).
Ramadhana et al. (2012) dalam penelitiannya menunjukkan hasil bahwa
penambahan probiotik yang mengandung Lactobacillus sp. ke dalam pakan
dengan dosis 3%, 5% dan 7% mampu meningkatkan kandungan gizi pakan
tersebut dan menurunkan serat kasar dibandingkan tanpa pemberian probiotik,
serta dapat meningkatkan jumlah bakteri dalam mukosa usus dan kecernaan ikan
nila sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan berat dan panjang ikan nila.
Pemberian probiotik melalui pakan berpengaruh nyata terhadap laju pertumbuhan
baik bobot maupun panjang serta konversi pakan, namun tidak mempengaruhi
kelangsungan hidup (Praditia 2009).

2.3.7 Efisiensi Pemberian Pakan


Efisiensi pemberian pakan merupakan perbandingan antara pertambahan
bobot tubuh yang dihasilkan dengan jumlah total pakan yang diberikan selama
pemeliharaan. Semakin besar nilai efisiensi pakan, maka semakin baik ikan
memanfaatkan pakan yang diberikan sehingga semakin besar bobot daging yang
dihasilkan (Djadjasewaka 1985).
31

Perhitungan efisiensi pakan sangat penting dalam proses budidaya ikan


karena dapat menentukan apakah sejumlah pakan yang diberikan telah digunakan
secara efisien. Pakan dapat dikatakan memberikan pertumbuhan yang baik bila
nilai efisiensi pemberian pakan lebih dari 50% atau bahkan mendekati 100%
(Craig dan Helfrich 2002). Pengukuran efisiensi pertumbuhan, baik dilakukan
untuk menganalisa kualitas pakan dalam hubungannya dengan jenis ikan tertentu.
Setiap jenis ikan mungkin memiliki respon yang berbeda terhadap jenis pakan
yang sama (Bey 2007).

2.3.8 Pencernaan Ikan


Pencernaan merupakan suatu proses perubahan molekul dari ukuran besar
menjadi lebih kecil atau senyawa yang tidak dapat diserap oleh usus. Pencernaan
makanan adalah hidrolisis protein menjadi asam amino atau polipeptida
sederhana, dari karbohidrat menjadi gula sederhana, dan lipid menjadi gliserol dan
asam lemak (Almatsier 2005).
Alat pencernaan ikan terdiri atas saluran pencernaan dan kelenjar
pencernaan, pada umumnya saluran pencernaan ikan berturut-turut dimulai dai
segmen rongga mulut, faring, eshopagus, lambung, pylorus, usus, rectum dan
anus. Kemampuan cerna ikan terhadap suatu jenis makanan tergantung kepada
faktor fisik dan faktor kimia makanan, jenis makanan, umur ikan, sifat sisik dan
kimia air serta sejumlah enzim pencernaan (National Research Council 1983).
Enzim pencernaan yang disekresikan ke dalam saluran pencernaan berasal
dari mukosa lambung, pankreas dan mukosa usus. Enzim-enzim tersebut berperan
sebagai katalisator dalam hidrolisis protein, lemak dan karbohidrat menjadi
bahan-bahan yang sederhana (Western dan Jenning 1997 dalam Nurjaman 2011).
Proses kerja enzim dalam pencernaan ikan hampir semuanya sama yaitu
menghidrolisis protein, lemak dan karbohidrat. Enzim amilase dan lipase tidak
hanya terdapat pada ikan herbivor saja tetapi juga terdapat pada ikan karnivor
(Mudjiman 2009).
Tingkat ketercernaan pakan dibentuk oleh kualitas dan kuantitas protein
yang terkandung dalam pakan terutama asam amino esensial (Agung et al. 2007).
32

Menurut Handajani (2010) tersedianya asam amino essensial yang seimbang dan
lengkap dalam pakan akan mempengaruhi kecepatan proses sintesis protein yang
akan menyebabkan laju pertumbuhan meningkat. Sintesis protein di dalam sel
kadarnya berubah-ubah tergantung tersedianya asam amino yang berasal dari
pakan. Semakin banyak pakan yang dicerna berarti semakin baik pula zat pakan
yang dapat diserat oleh tubuh ikan, dan semakin banyak yang diserap makan
sintesis protein di dalam sel akan semakin meningkat, hal tersebut mengakibatkan
volume sel membesar dan pembelahan sel semakin cepat, makan pertumbuhan
meningkat.
BAB III
METODOLOGI

3.1 Tempat dan Waktu Penelitian


Pemeliharaan udang dilakukan di hatchery Laboratorium Kolam
Percobaan Ciparanje Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas
Padjadjaran sedangkan pengujian amonia dilakukan di Laboratorium Manajemen
Sumberdaya Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas
Padjadjaran. Waktu penelitian dimulai pada bulan Maret-April 2017. Waktu yang
digunakan adalah 35 hari, 7 hari untuk persiapan dan 28 hari untuk penelitian.

3.2 Alat dan Bahan


3.2.1 Alat
Alat yang digunakan selama penelitian adalah sebagai berikut :
1. Akuarium kaca berukuran 55 cm x 30 cm x 40 cm sebanyak 15 buah,
digunakan sebagai wadah pemeliharaan hewan uji dengan volume 30 L/
akuarium
2. Aerator, batu aerasi, selang aerasi, digunakan untuk menyuplai oksigen ke
dalam wadah pemeliharaan masing-masing sebanyak 15 buah
3. Blower merk Aquila Q6 dengan kekuatan 4,5 watt digunakan untuk
mengatur tekanan udara yang akan dialirkan ke wadah pemeliharaan
4. Pipa paralon ukuran 1 inchi, digunakan sebagai media penyalur udara
menuju selang aerator
5. Heater merk Rising Heat9000-100W dengan kekuatan 100 watt digunakan
untuk mengatur dan menstabilkan suhu
6. Refraktometer digunakan untuk mengukur salinitas
7. pH meter merk Lutron dengan tipe PH-201 digunakan untuk mengukur pH
air dalam media pemeliharaan
8. DO meter merk Hanna tipe HI 9146 digunakan untuk mengukur Oksigen
Terlarut (DO)
9. Termometer, digunakan untuk mengukur suhu media pemeliharaan

33
34

10. Spektrofotometer, digunakan untuk mengukur kadar amonia dalam media


pemeliharaan
11. Bak fiber sebanyak 2 buah, digunakan sebagai wadah stok air laut dan
udang vaname
12. Timbangan analitik ketelitian 0,001 gram, digunakan untuk menimbang
probiotik
13. Timbangan digital merk scout pro dengan ketelitian 0,01 gram, digunakan
untuk menimbang pakan dan hewan uji
14. Sendok teh, digunakan untuk mengambil pakan probiotik dan pakan udang
vaname
15. Kertas label digunakan untuk memberi keterangan pada wadah
pemeliharaa
16. Penggaris dengan ketelitian 1mm digunakan untuk mengukur panjang
udang vaname
17. Scoop Net digunakan untuk mengambil udang vaname
18. Trashbag digunakan untuk menutup akuarium dan membantu
menstabilkan suhu
19. Kamera digital, digunakan sebagai alat untuk mendokumentasikan setiap
kegiatas hasil penelitian

3.2.2 Bahan
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Hewan uji yang digunakan dalam penelitian adalah udang vaname PL-25
2. Air laut yang digunakan adalah 30 L X 15 unit percobaan yaitu 450 L,
untuk mengantisipasi adanya penguapan air laut, maka air yang disiapkan
yaitu sebanyak 600L. Air laut di ambil dari pantai Batu Hiu, Kabupaten
Pangandaran.
3. EDTA digunakan untuk membersihkan akuarium
4. Pakan yang digunakan adalah pakan udang merk Feng Li Ukuran FL 2A
yang memiliki kadar protein 41%, kadar lemak 5%, kadar serat 2%, kadar
abu 13% dan kadar air sebesar 11% (PT. Matahari Sakti 2017)
35

5. Konsorsium probiotik Bacillus sp., Lactobacillus sp., Saccharomyces sp.,


dan Nitrosomonas yang digunakan berasal dari Mikrobiologi Universitas
Padjadjaran.

3.3 Prosedur penelitian


Tahapan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah tahap persiapan dan
tahap penelitian.

3.3.1 Tahap persiapan


Tahapan pengambilan air laut dan udang vaname PL-25 dilakukan dari
Batu Hiu, Pangandaran menuju ke Jatinangor, Sumedang menggunakan kolbak.
Lama pengangkutan, kepadatan, ratio air dan oksigen serta suhu dalam pengemasan
udang disesuaikan dengan SNI 7586:2010.
Tahapan persiapan penambahan probiotik pada pakan diawali dengan
menghitung biomassa udang vaname pada setiap akuarium. Hasil perhitungan
biomassnya akan menghasilkan berapa jumlah pakan yang akan diberikan kepada
udang vaname. Setelah itu, jumlah probiotik dihitung sesuai dengan perlakuan.
Pakan kemudian dicampurkan dengan probiotik menggunakan putih telur
Tahapan persiapan akuarium diawali dengan pencucian akuarium, selang
aerasi serta baru aerasi menggunakan deterjen dan EDTA. Selang dan batu aerasi
di rendam terlebih dahulu menggunakan EDTA lalu dibilas dengan air dan
dikeringkan. Penempataan perlakuan akuarium dilakukan secara acak dengan
bantuan random pada microsoft excel. Setelah akuarium, selang aerasi dan batu
aerasi kering, pasang semua set aerator pada setiap akuarium. Isi akuarium
sebanyak 30L per akuarium kemudian pasang heater. Kode perlakuan diletakkan
diatas batas air. Hewan uji terlebih dahulu diaklimatisasi selama 1 hari agar dapat
beradaptasi dengan kondisi akuarium.
36

3.3.2 Tahap penelitian


Pemeliharaan hewan uji dilakukan selama 28 hari menggunakan akuarium
dengan masing-masing akuarium diisi 30 ekor udang vaname. Penambahan
probiotik dilakukan pada udang sesuai dengan biomassa dan konsentrasi pada
setiap perlakuan. Pemberian pakan dilakukan selama tiga kali sehari yaitu pukul
07.00, 12.00 dan 19.00 WIB. Jumlah pakan yang diberikan disesuaikan dengan
feeding rate (FR) yaitu sebesar 15% disesuaikan dengan pertumbuhannya. Dosis
pakan yang diberikan mengikuti pertumbuhan udang dan dihitung setiap tujuh
hari sekali. Pengukuran kualitas air berupa suhu, salinitas, oksigen terlarut dan pH
serta survival rate dilakukan setiap hari sedangkan pengukuran pertumbuhan dan
perhitungan kadar amonia dilakukan setiap tujuh hari sekali. Penyiponan
dilakukan untuk mengurangi sisa pakan yang tidak termakan dan kotoran dari
udang vaname agar kualitas air lebih terjaga, penambahan air dilakukan sesuai
jumlah air yang terbuang.

3.4 Metode Penelitian


Metode penelitian dilakukan secara eksperimental dengan menggunakan
metode Rancangan Acak Lengkap (RAL). Penelitian ini terdiri atas lima
perlakuan dengan tiga ulangan, yaitu penambahan probiotik sediaan kering pada
pakan sebesar :
Perlakuan A : kontrol / tanpa pemberian probiotik
Perlakuan B : Penambahan konsentrasi probiotik 4%
Perlakuan C : Penambahan konsentrasi probiotik 6 %
Perlakuan D : Penambahan konsentrasi probiotik 8 %
Perlakuan E : Penambahan konsentrasi probiotik 10%
Model linear dari rancangan ini adalah sebagai berikut ( Gasperz, 1991) :
Xij = + ij + ij
Keterangan :
Xij = Hasil pengamatan pada perlakuan ke-i ulangan ke-j
= Rata-rata umum
ij = Pengaruh perlakuan ke-i
ij = Pengaruh faktor random perlakuan ke-i ulangan ke-j
37

3.5 Parameter Pengamatan


3.5.1 Kelangsungan Hidup
Tingkat kelangsungan hidup hewan uji dapat diketahui dengan
menggunakan rumus Effendie (1997):

SR = X 100%

Keterangan :
SR = Kelangsungan hidup (%)
Nt = Jumlah udang pada akhir penelitian (ekor)
No = Jumlah udang pada awal penelitian (ekor)

3.5.2 Laju Pertumbuhan Harian


Pengukuran laju pertumbuhan harian digunakan menggunakan rumus
Effendie (1997) :
(ln ln)
G= X 100%

Keterangan :
G = Laju pertumbuhan (%)
Wt =Rata-rata bobot harian ikan di akhir penelitian (g)
Wo = Rata- rata bobot harian ikan di awal penelitian (g)
t = Lama pengamatan (hari)

3.5.3 Pertumbuhan Panjang


Perhitungan pertambahan panjang mutlak dilakukan dengan menggunakan
rumus sebagai berikut Effendie (1979) :
L = Lt- Lo
Keterangan :
L = Pertumbuhan panjang mutlak
Lt = Panjang rata-rata individu pada waktu t (mm)
Lo = Panjang rata-rata individu pada awal penelitian (mm)

3.5.4 Pertumbuhan Biomassa Mutlak (W)


Perhitungan Pertumbuhan biomassa mutlak menggunakan rumus Effendie
(1979):
W = Wt Wo
Keterangan :
W = Pertumbuhan mutlak (gram)
Wt = Bobot biomassa pada akhir penelitian (gram)
Wo = Bobot biomassa pada awal penelitian (gram)
38

3.5.5 Efisiensi Pakan


Penghitungan Efisiensi pakan dengan rumus Zonneveld et al.(1991):
(+)0
FE= X 100%

Keterangan :
FE = Efisiensi pakan (%)
Wt = Bobot ikan uji pada akhir penelitian (g)
Wo = Bobot ikan uji pada awal penelitian (g)
D = Bobot total ikan yang mati selama pemeliharaan (g)
F = Jumlah total pakan yang diberikan (g)

3.5.6 Parameter Kualitas Air

Tabel. 4 Parameter Kualitas Air yang diamati selama penelitian


Waktu
Parameter Satuan Alat
Pengamatan
Kimia
- NH3 mg/L Spektrofotometer Setiap 7 hari
- pH pH meter Setiap hari
- DO mg/L DO meter Setiap hari
- Salinitas ppt Refraktometer Setiap hari
Fisik
- Suhu C Thermometer Setiap hari

3.6 Analisis Data


Data penelitian dianalisis berdasarkan parameter yang diukur dalam
penelitian. Parameter kualitas air dianalisis secara deskristif dengan cara
membandingkan dengan standar kualitas air. Pengaruh perlakuan dianalisis
menggunakan analisis sidik ragam dengan uji F dan perbedaan antar perlakuan
diuji dengan uji Duncan dengan taraf kepercayaan 95% (Gasperz 1991).
DAFTAR PUSTAKA

Adelina, I. Mokoginta, R. Affandi d. Jusadi. 2000. Pengaruh Kadar Protein dan


Rasio Energi Protein Pakan Berbeda terhadap Kinerja Pertumbuhan
Benih Ikan Bawal Air Tawar (Colossoma macropomum). Jurnal J.11.
Pert. Indo 9 (2): 31-36.
Agung, M. U. K., K, Haetami dan Y, Mulyani. 2007. Penggunaan Limbah
Kiambang Jenis Duckweed dan Azola dalam Pakan dan Implikasinya
pada Ikan Nilem. Laporan Penelitian Dasar UNPAD. Bandung. 32 hlm.
Ahmadi, H., N Iskandar dan Kurniawati. 2012. Pemberian Probiotik dalam Pakan
terhadap Pertumbuhan Lele Sangkuriang (Clarias sp.) Pada Pendederan
II. UNPAD. 3 (4) : 99-107.
Almatsier, S. 2005. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
37 hlm.
Andriani, Y., R. Safitri., E. Rochima. 2016. Laporan Akhir Penelitian Hibah
Stranas. Universitas Padjadjaran.
Anwar, S., M. Arief dan Agustono. 2014. Pengaruh Pemberian Probiotik
Komersial Pada Pakan Terhadap Laju Pertumbuhan dan Efisiensi Pakan
Udang Vaname (Litopenaeus Vaname). Journal of Aquaculture and Fish
Health Vol 5 No.2
Arief, M., Mufidah dan Kusriningrum. 2008. Pengaruh Penambahan Probiotik
pada Pakan Buatan terhadap Pertumbuhan dan Rasio Konversi Pakan
Ikan Nila Gift (Oreochromis niloticus). Berkala Ilmiah Perikanan 3(2):
53-58.
Arief, M. N., Fitriani., dan S.Subekti. 2014. Pengaruh Pemberian Probiotik
Berbeda Pada Pakan Komersial Terhadap Pertumbuhan Dan Efisiensi
Pakan Ikan Lele Sangkuriang (Clarias sp.). Jurnal Ilmiah Perikanan Dan
Kelautan. 6 (1) : 4 hlm.
Badan Pusat Statistik. 2015. Produksi Perikanan Menurut Subsektor. Dilansir di
http://www.bps.go.id/linkTabelStatis/view/id/1711. Pada tanggal 16 Mei
2017.
Badan Standarisasi Nasional. 2006. Standar Nasional Indonesia (SNI). SNI-01-
7252-2006. Benih Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) Kelas Benih
Sebar. Dewan Standarisasi Indonesia. Jakarta
Badan Standarisasi Nasional. 2009. Standar Nasional Indonesia (SNI). SNI-01-
7311-2009. Produksi Benih Udang Vaname (Litopenaeus vannamei)
Kelas Benih Sebar. Dewan Standarisasi Indonesia. Jakarta
Badan Standarisasi Nasional. 2010. Standar Nasional Indonesia (SNI). SNI-01-
7586-2010. Pengemasan Benih Udang Vanamero Vaname (Litopenaeus

39
40

vannamei) pada Sarana Angkutan Udara. Dewan Standarisasi Indonesia.


Jakarta
Decamp ,O, Moriarty D. 2007. Aquaculture species profit from probiotics. Feed Mix.
15: 20-23.
Direktur Jendral Perikanan Budidaya. 2015. Rencana Strategis Direktorat Jendral
Perikanan Budidaya 2015-2019. DJPB: 38 hlm.
Djajasewaka, H.Y. 1985. Makanan Ikan. Penebar Swadaya. Jakarta. 45 hal.
FishstatJ FAO. 2016. Fishary for Statistical Time Series. Dilansir di
http://www.fao.org/fishery/statistics/software/fishstatj/en. pada tanggal 16
Mei 2017.
Efendi, E. 2005. Fungsi Probiotik dalam Budidaya Perikanan. www.unila.ac.id
Effendie, I. 1997. Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Nustama. Jakarta. 159 hal.
Effendie, I., N.J. Bugri, dan Widanarni. 2006. Pengaruh padat penebaran terhadap
kelangsungan hidup dan pertumbuhan benih ikan gurami Osphronemus
gouramy. ukuran 2 cm. Jurnal Akuakultur Indonesia, 5(2): 127-135.
Effendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air. Kanisius. Yogyakarta. 258 hal.
Fera, V. V. 2004. Pembenihan udang vaname di PT. Birulaut Khatulistiwa Kalianda
Lampung Selatan. [Laporan Magang]. Fakultas Perikanan dan Ilmu
Kelautan, IPB. Bogor.
Fuller, R. 1987. A Review, Probiotics in Man and Animals. J Appl Bacteriol,
66:355-37.
Fuller, R. 1992. Probiotics, The Scientific Basis. Chapman and Hall, London
Gaspersz, V. 1991. Metode Perancangan Percobaan . Bandung : Armico
Ghufran, M. 2009. Sukses Memproduksi Bandeng Super untuk Umpan, Ekspor,
dan Indukan. Yogyakarta: Lily Publisher.
Handajani. 2010. Manajemen Pemberian Pakan Ikan. STIE. 292 hlm.
Hariyadi, B. A. Haryono dan U. Susilo. 2005. Evaluasi efisiensi pakan dan efisiensi
protein pakan ikan karper (Ctenopharyngodon idella) yang diberi pakan
dengan kadar karbohidrat dan energy yang berbeda. Fakultas Biologi.
Universitas Soedirman. Purwokerto Banyumas. Jawa Tengah.
Haliman, R.W. dan S.D Adijaya. 2005. Udang Vaname (Pembudidayaan dan
Prospek Pasar Udang Putih yang Tahan Penyakit). Penebar Swadaya,
Jakarta.
Haliman, R.W. dan S.D Adijaya. 2006. Udang Vaname. Penebar Swadaya.
Depok. 76 halaman.
41

Haetami, K., Abun dan Y. Mulyani. 2008. Studi Pembuatan Probiotik


BASsebagai Feed Suplement serta Aplikasinya terhadap Pertumbuhan
Ikan Nila Merah. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. UNPAD.
Hidayani, A.A., Asmi C.M, Bunga R.T, dan Achmad F.F. 2015. Deteksi
Distribusi White Spot Syndrome Virus Pada Berbagai Organ Udang
Vaname (Litopenaeus Vaname). Torani (Jurnal Ilmu Kelautan dan
Perikanan) Vol.25 (1)
Holt. G., Kreig, N.R., Sneath, P.H.A., Stanley, J.T. and Williams, S.T. 1994. Bergeys
Manual Determinative Bacteriology. Baltimore: Williamn and Wilkins
Baltimore.
Irianto A. 2003. Probiotik Akuakultur. Gajah Mada University Press, Yogyakarta.
Kementrian Kelautan dan Perikanan. 2015. Kelautan dan Perikanan dalam Angka
Tahun 2015. Pusat Data,Statistik dan Informasi 2015: 340 hlm.
Kementrian Kelautan dan Perikanan. 2013. Laporan Tahunan Direktorat Produksi
Tahun 2013. Jakarta. hal 5.
Kordi, G. Dan A. Tancung. 2007. Pengelolaan Kualitas Air dalam Budidaya
Perairan. Jakarta : Rineka Cipta.
Krasaekoopt. W, Bhandari B and Hilton CD. 2006. Survival of Probiotic
Encapsulated in Chitosan-coated Alginate beads in Yoghurt from UHT-
and conventionally treated milk during stroge. International Dairy
Journal. 13:3-13.
Krasaekoopt, W., H. Bhandari and H. Deeth. 2003. Evaluation of encapsulation
techniques of probiotics for yoghurt. Int. Dairy J. 13:3-13.
Kumar SM, Swarnakumar, Silvakumar, Thangaradjou and Kannan. 2008.
Probiotics in Aquaculture : Importance and Future Perspectives. Indian J.
Microbial: review springer
Kurniasih, T. 2011. Seleksi Bakteri Proteolitik dan Aplikasi Enzim Protease untuk
Meningkatkan Kualitas Pakan dan Kinerja Pertumbuhan Ikan Nila.
Thesis. Sekolah Pasca Sarjana. Institut Pertanian Bogor. 61 hlm.
Mansyur, A. dan Abdul Malik Tangko. 2008. Probiotik: Pemanfaatannya untuk
Pakan Berkualitas Rendah. Media Akuakultur Volume 3 Nomor 2 Tahun
2008. Balai Riset Perikanan Budidaya Air payau, Maros.
Merican, Zuridah (Ed.) 2015. Marine Shrimp in Asia in 2014: Production Trends.
Volume 11, Number 1, Page 18, January/February 2015
Mosilhey SH. 2003. Influence of different capsule materials on the physiological
properties of microencapsulated lactobacillus acidophilus. Institute of
Food Technology, Faculty of Agriculture University of Bonn. 153 pages.
Mudjiman, A. 2009. Makanan Ikan. Penebar Swadaya. Jakarta. 191 hlm.
42

Mudjiman, A. 2000. Makanan Ikan. Penebar Swadaya. Jakarta.


Mulyadi, A. E. 2011. Pengaruh Pemberian Probiotik Pada Pakan Komersil
Terhadap Laju Pertumbuhan Benih Ikan Patin Siam. Skripsi. Fakultas
Perikanan dan Ilmu Kelautan. Universitas Padjajaran. Bandung.
Mulyana, D. Y. 2011. Kaya Raya dari Budidaya Ikan dengan Probiotik. Jakarta:
Berlin Media.
National Research Council (NRC). 1983. Nutrient Requirement of Warm Water
Fishes and Shellfish. Nurotional Academy of Science. Washington DC.
102p.
Noviana, P., Subandiyono dan Pinandoyo. 2014. Pengaruh Pemberian Probiotik
dalam Pakan Buatan Terhadap tingkat Konsumsi Pakan dan
Pertumbuhan Benih Ikan Nila (Oreochromis niloticus). Jurnal of
Aquaculture Management and Technology Volume 3, Nomer 4, Tahun
2014, Halaman 183-190.
Nurgana, R. 2005. Pengaruh Pemberian Mikroba Probiotik Aquasimba-D pada
Media Pemeliharaan terhadap Kelangsungan Hidup Ikan Gurami
(Osphronemus goramy). Skripsi. Jurusan Perikanan Fakultas Pertanian
Universitas Padjadjaran, Bandung. 46 hlm.
Praditia, F. 2009. Pengaruh Pemberian Probiotik Melalui Pakan terhadap
Pertumbuhan dan Kelangsungan Hidup Udang Windu (Penaeus
monodon). Skripsi Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. IPB. 52 hlm.
Pasifico, C.J., W. Wu and M. Fraley. 2001. Sensitivesubstance encapsulation. US
Patent 6 281 478.
Patang. 2012. Pengaruh Penggunaan Berbagai Antibiotic dan Probiotik dengan
Dosis Berbeda terhadap Pertumbuhan dan Kualitas Air pada Larva
Udang Windu (Penaeus monodon Fabricius). Jurnal Agrisistem,
Politelnik Pertanian Negeri Pangkep.
Putra, A. N. 2010. Kajian Probiotik, Prebiotik dan Sinbiotik untuk Meningkatkan
Kinerja Pertumbuhan Ikan Nila (Oreochromis niloticus). Tesis. IPB:
Bogor. 109 hlm. (Tidak diterbitkan).
Ramadhana, S., N.A. Fauzana, dan P. Ansyari. 2012. Pemberian Pakan Komersil
dengan Penambahan Probiotik yang Mengandung Lactobacillus sp.
terhadap Kecernaan dan Pertumbuhan Ikan Nila (Oreochromis nilocus).
Program Magister Ilmu Perikanan Program Pasca Sarjana UNLAM.
Rengpipat S, Rukpratanporn S, Piyatiratitivorakul S, Menasveta P. 1998.
Probiotics in Aquaculture: A case study of probitics for larvae of black
tiger shrimp (Penaeus monodon). Di dalam: Flegel TW (ed). Advances in
shrimp biotechnology. Bangkok: National Center for Genetic
Engineering and Biotechnology. hlm 177-181.
43

Rika. 2008. Pengaruh Salinitas terhadap Pertumbuhan dan kelulushidupan Ikan


Hasil Strain GIFT dengan Strain Singapura. Skripsi, Universitas
Diponegoro. Semarang
Rizqi, F. 2016. Pemanfaatan Probiotik Cair pada Akuakultur Sebagai Usaha
Peningkatan Produktivitas dan Efisiensi Pakan Clarias gariepinus (Ikan
Lele Dumbo). Skripsi. Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas
Airlangga. Surabaya

Rostini, I. 2007. Peranan Bakteri Asam Laktat (Lactibacillus plantarum) Terhadap


Masa Simpan Filet Nila Merah pada Suhu Rendah. Fakultas Perikanan dan
Ilmu Kelautan. Universitas Padjadjaran. Jatinangor. 13 hal
Subyakto, D., Sutende., M. Afandi., dan Sofiati. 2009. Budidaya Udang Vaname
(Litopenaeus vaname) Semiintensif dengan Metode Sirkulasi Tertutup
untuk Menghindari Serangan Virus. Jurnal Ilmiah Perikanan dan
Kelautan BBAP Situbondo.
Sukenda, S., H. Dwinanti., dan M. Yuhana. 2009. Keberadaan White Spot
Syndrome Virus (WSSV), Taura Syndrome Virus (TSV) dan Infectious
Hypodermal Haematopoitic Necrosis Virus (IHHNV) di Tambak Intensif
Udang Vaname Litopenaeus vannamei di Bakauheni, Lampung Selatan.
Jurnal Akuakultur Indonesia, 8(2): 1-8 (2009).
Utami, D.A.S. 2015. Aplikasi Kultur Kering Probiotik untuk Pengendalian
Streptococcosis pada Ikan Nila (Oreochromis sp.). Tesis. Sekolah Pasca
Sarjana. IPB Bogor.
Verschuere, L., Rombaut, G., Sorgeloos, P. and Verstraete, W. 2000. Probiotic
Bacteria as Biological Control Agents in Aquaculture. Microbiology And
Molecular Biology Reviews, 64(4): 655-671.
Wang, YB., Li, J.R., and Lin, J. 2008. Probiotics in aquaculture : Challenges and
outlook. Journal Aquaculture 281 : 1-4
WWF-Indonesia. 2014. Budidaya Udang Vaname Tambak Semi Intensif dengan
Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL) . Jakarta.
Widanarni, D. Yuniasari, Sukenda, dan J. Ekasari. 2010. Nursery Culture
Performance of Litopenaeus vaname with Probiotics Addition and
Different C/N Ratio under Laboratory Condition. Journal of Biosciences
Vol. 17 No. 3 p. 115-119.
Widiyanti, N. R. 2015. Penggunaan Probiotik Komersil Epicin Ponds dalam
Media Pemeliharaan Udang Vaname (Litopenaeus vaname) PL 12.
Skripsi. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Unpad. Jatinangor. 60
hlm.
44

Wu L, Dong S, Wang F, Tian X, and Ma S, 2001. The effect of previous feeding


regimes on the compensatory growth response in Chinese shrimp
Fenneropenaeus chinensis. Journal of Crustacea Biology 21(3): 559565
Yudiati, E., Z. Arifin dan I. Riniatsih. 2010. Pengaruh Aplikasi Probiotik
terhadap Laju Kelangsungan hidup dan Pertumbuhan Tokolan Udang
Vaname (Litopenaeus vaname), Populasi Bakteri Vibrio, serta
Kandungan Amoniak dan Bahan Organik Media Budidaya. Jurnal
Fakultas Perikanan dan Kelautan UNDIP, Semarang
Zakaria, A. S. 2010. Manajemen Pembesaran Udang Vannamei di Tambak Udang
Binaan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pamekasan. Budidaya
Perairan Universitas Airlangga. Surabaya.
Zonneveld, N., E.A. Huisman, and J.H. Boon. 1991. Prinsip-prinsip Budidaya
Ikan. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. 318 hlm.