Anda di halaman 1dari 7

TEGANGAN OTOT DAN PERIODE LATEN

I. Tujuan Pembelajaran
Mahasiswa memahami stimulus elektrik, periode laten, kontraksi dan relaksasi
otot rangka

II.Dasar Teori
Motor unit terdiri dari otot neuron dan syaraf yang mempersyarafinya.
Pertemuan antara motor neuron dan serat otot membentuk neuromuscular
jungtion. Neuromuscular jungtion secara spesifik adalah tempat dimana akson
terminal dari syaraf bertemu dengan plasma membram otot. Daerah ini disebut
motor and plate. Potensial aksi dimotor neuron menyebabkan keluarnya
asetikolin dari terminal. Disebut juga end plate potensial. Asetilkolin kemudian
berdifusi ke plasma membram otot sarkolema dan menempel direseptor
dimotor and plate. Asetilkolin yang menempel akan merubah permeabilitas ion
menyebabkan depolarisasi. Hal ini yang menyebabkan kontraksi pada otot.
Pada percobaan ini untuk menimbulkan kontraksi tidak digunakan asetikolin
tetapi tegangan elektrik. Kita akan mengamati tentang periode laten, kontraksi
dan relaksasi.
1. Periode laten : periode waktu antara potensial aksi hingga mulainya
kontraksi otot, meskipun tidak ada kontraksi selama periode laten namun
ada perubahan kimiawi, yaitu keluarnya kalsium dari reticulum
sarkoplasma.
2. Kontraksi : dimulai sejak akhir periode laten dan berakhir pada
tegangan otot mencapai puncak.
3. Relaksasi : waktu dari tegangan puncak sampai akhir kontraksi.

III.Cara Kerja
1. Buka aplikasi physioEx 9.1 bagian eksperiment.
2. Perhatikan tegangan awal adalah 0 volt, klik stimulate dilihat pergerakan pada
oscilloscope kemudian klik record data.
3. Tingkatkan tegangan dengan cara klik + pada kolom voltage ke 4 volt, klik
stimulate dilihat pergerakan pada oscilloscope kemudian klik record data.
4. Untuk melihat periode latent klik meansure sampai ada garis kuning pada
oscilloscope kemudian ubah tegangan dengan menambah 2 volt sampai
mksimal, klik record data.
5. Print hasilnya dan lihat perbedaanya.

EFEK TEGANGAN ELEKTRIK PADA KONTRAKSI OTOT

I. Tujuan pembelajaran
Mahasiswa dapat mengetahui pengaruh motor neuron, musle twitch,
stimulasi voltase, threshold, stimulasi maksimal.

II.Dasar Teori
Stimulasi elektrik akan menyebabkan tegangan pada otot rangka, tekanan
timbul karena adanya aktivitas motor unit. Kontraksi otot yang kuat timbul
dari banyak motor unit yang teraktivasi. Dimana setiap unit menghasilkan
kekuatan maksimalnya. Jika kontraksi otot lemah hanya sedikit motor unit
yang teraktivasi dengan setiap motor unit menghasilkan kekuatan
maksimalnya. Dengan meningkatkan jumlah motor unit yang aktif kita
dapat membuat peningkatan kekuatan otot. Proses ini disebut motor unit
rekuirtment . Kontraksi tunggal yang akan menstimulasi seluruh otot rangka
disebut muscle twitch yang dibagi menjadi 3 fase yaitu fase latent, fase
kontraksi dan fase relaksasi.
Praktikum pada kali ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh besarnya
stimulasi elektrik pada otot rangka. Tegangan ambang (threshold) adalah
stimulus terkecil yang dibutuhkan untuk menimbulkan rangsang pada
sarkolema. Jika stimulus ditingkatkan, kekuatan yang dihasilkan oleh otot
juga meningkat hal ini menunjukkan bahwa semakin banyak tegangan pada
otot maka semakin banyak serat otot yang teraktivasi sehingga total
kekuatan yang diproduksi serat otot juga akan meningkat.
Kekuatanmaksimal saat seluruh otot sudah teraktivasi oleh stimulus yang
kuat disebut sebagai tegangan maksimal.

III.Cara Kerja
1. Buka aplikasi physioEx 9.1 bagian eksperiment.
2. Perhatikan tegangan awal adalah 0 volt, klik stimulate dilihat
pergerakan pada oscilloscope kemudian klik record data.
3. Naikan voltase dengan cara klik + pada kolom voltase, naikan menjadi
0,2volts, klik stimulate dilihat pergerakan pada oscilloscope kemudian klik
record data.
4. Naikan voltase 0,1volt , klik stimulate kemudian klik record data,
sampai terbentuk gelombang, gelombang pertama muncul disebut
gelombang ambang(threshold).
5. Klik clear tracking
6. Naikkan voltase hingga batas ambang maksimal untuk mengetahui
tegangan maksimal.
.
EFEK FREKUENSI STIMULASI PADA KONTRAKSI OTOT
I. Tujuan Pembelajaran
Mahasiswa mampu mengetahui pengaruh stimulasi frekuensi , gelombang
summasi dan treppe.
II.Dasar Teori

Treppe (staircase effect) merupakan peningkatan progresif dari kekuatan yang


dihasilkan ketika distimulasi berulang dalam waktu singkat. seperti muscle twiche
yang letaknya berdekatan dengan setiap gelombang tingginya lebih dari
sebelumnya. Ketika stimulasi diulang-ulang dalam waktu singkat, antar
gelombang akan overleaping sehingga kontraksi yang dihasilkan semakin besar
yang disebut gelombang summasi. Gelombang summasi terjadi ketika satu
gelombang belum sampai fase relaksasi sudah diberikan stimulasi lagi.
gelombang summasi timbul karena adanya peningkatan frekuensi stimulus ke
otot.

III.Cara Kerja
1. Buka aplikasi physioEx 9.1 bagian eksperiment.
2. Perhatikan tegangan awal adalah 8,5 volt, klik single stimulus dilihat
pergerakan pada oscilloscope kemudian klik record data.
3. Segera klik single stimulate kembali setelah gelombang sudah turun kemudian
klik record data dan dilihat kekuatan gelombang kedua dibandingkan
gelombang pertama.
4. Klik clear tracking
5. Klik single stimulaus kemudian perhatikan gelombang , sebelum gelombang
turun sempurna klik single stimulus kemudian klik kembali single stimulus
dan perhatikan bentuk gelombang(gelombang summasi) kemudian klik record
data.
6. Kemudian naikkan frekuensi dengan cara klik berulang pada single stimulus
kali dengan jarak waktu yang singkat kemudian klik record data.
7. Klik clear tracking
8. Naikkan voltase ke 10volt kemudian klik single stimulus kemudian klik
record data
9. Klik clear tracking kemudian kembalikan ke 8,5volt klik secepat mungkin
single stimulus, lihat bentuk gelombangnya.

TETANUS
I. Tujuan Pembelajaran
Mahasiswa dapat mengetahui pengaruh stimulasi frekuensi, unfused tetanus,
fused tetanus dan maximal tetanic tension.

II.Dasar Teori
Dari percobaan sebelumnya didapatkan bahwa peningkatan frekuensi stimulus
akan menyebabkan peningkatan kekuatan otot rangka. Jika frekuensi
ditingkatkan dalam waktu yang lebih singkat akan menyebabkan kekuatan
yang lebih besar (gelombang summasi). Gelombang summasi terdiri dari 2
jenis komplit (fused tetanus) dan tidak komplit ( unfused tetanus). Unfused
tetanus terjadi karena stimulasi berulang dengan frekuensi tetap saat
gelombang belum sampai fase relaksasi. Jika stimulasi diberikan lebih besar
antara satu gelombang dengan gelombang lain puncak dan lembah akan
menjadi satu sehingga membentuk garis lurus ini yang dinamakan tetanus
komplit (fused tetanus). Ketika frekuensi stimulus maksimal tidak ada
peningkatan disebut kekuatan maksimal tetanus(maximal tetanic tension).

III.Cara Kerja
1. Buka aplikasi physioEx 9.1 bagian eksperiment.
2. Untuk mengamati unfused tetanus perhatikan tegangan awal adalah 8,5 volt
dan number of stimuli per second diset 50, klik multiple stimulus dilihat
pergerakan pada oscilloscope klik stop stimuli kemudian klik record data.
3. Untuk mengamati fused tetanus tingkatkan stimuli/sec menjadi 130, klik
multiple stimulus dilihat pergerakan pada oscilloscope klik stop stimuli
kemudian klik record data.
4. Klik clear tracking
5. Tingkatkan stimuli/sec menjadi 140, klik multiple stimulus dilihat
pergerakan pada oscilloscope klik stop stimuli kemudian klik record data.
6. Tingkatkan 2 stimuli/sec dari 140 hingga 150 kemudian sama seperti no 5
diamati perbedaannya untuk mencari kekuatan tetanus maksimal.

FATIGUE
I. Tujuan Pembelajaaran
Mahasiswa dapat mengerti pengaruh frekuensi stimulus terhadap fused tetanus,
fatigue dan rest period.

II.Dasar Teori
Setelah terjadi tetanus komplit diikuti fatigue. Fatigue merupakan pengurangan
kekuatan otot atau kegagalan pembentukan impuls untuk berkontraksi setelah
beraktivitas lama atau kontraksi berulang-ulang. Fatigue dapat terjadi karena
adanya penumpukan asam laktat, ADP, dan Pi setelah aktivitas dengan intensitas
tinggi.

III.Cara Kerja
1. Buka aplikasi physioEx 9.1 bagian eksperiment.
2. Untuk mengamati unfused tetanus perhatikan tegangan awal adalah 8,5 volt
dan number of stimuli per second diset 120, klik multiple stimulus dilihat
pergerakan pada oscilloscope klik stop stimuli setelah gelombang turun
(fatigue) diangka 0, kemudian klik record data.
PANJANG OTOT DENGAN KEKUATAN OTOT

I. Tujuan Pembelajaran
Mahasiswa dapat mengetahui pengaruh kontraksi isometric, kekuatan aktif,
kekuatan pasif, dan hubungannya dengan panjang otot.

II.Dasar Teori
Kontraksi otot rangka terdiri dari isotonik dan isometrik. Kontraksi
isometric merupakan kontraksi tanpa perubahan dari panjang otot. Contoh
ketika berdiri didepan pintu dan posisi tangan lurus mendorong pintu keluar,
kontraksi tersebut dinamakan isometrik, otot berkontraksi dengan panjang
otot yang sama.
Dalam percobaan ini faktor yang menentukan adalah panjang otot sebelum
diberi stimulasi. Kekuatan pasif didapatkan dari peregangan otot yang
merupakan hasil dari elastic recoil jaringan. Kekuatan pasif disebabkan oleh
protein titin. Sedangkan kekuatan aktif didapatkan dari ATP yang dihasilkan
dari ikatan aktin myosin. Kekuatan total merupakan gabungan dari kekuatan
aktif dan pasif.

III.Cara Kerja
1. Buka aplikasi physioEx 9.1 bagian eksperiment.
2. Perhatikan tegangan awal adalah 8,5 volt dan musle length diset 75,
klik stimulate dilihat pergerakan pada oscilloscope, kemudian klik
record data . Lihat active force dan passive force.
3. Pendekkan muscle length 5mm lakukan seperti langkah 2 sampai
50mm.
4. Klik clear tracking.
5. Panjangkan muscle length 5mm lakukan seperti langkah 2 sampai
100mm.
6. Amati pengaruh panjang pada active force dan passive force.

KONTRAKSI ISOTONIK DENGAN KECEPATAN


I. Tujuan Pembelajaran
Mahasiswa dapat mengetahui hubungan kontraksi isotonik, beban, periode
laten, kecepatan memendek dan hubungannya dengan kecepatan beban
II. Dasar Teori
Kontraksi pada otot rangka terdiri dari 2 jenis yaitu isotonik dan
isometrik . Kontraksi isotonik merupakan kontraksi dengan panjang otot
berubah, ketika memindahkan beban otot berkontraksi sampai beban
berpindah disebut kontraksi isotonik. Dalam kontraksi isotonik ada istilah
periode laten yaitu ketika otot sudah berkontraksi namun beban belum
berpindah. Ketika kita memindahkan beban yang lebih berat butuh waktu
untuk memindahkannya. Kecepatan kontraksi juga bergantung pada berat
beban.

III. Cara Kerja


1. Buka aplikasi physioEx 9.1 bagian eksperiment.
2. Perhatikan tegangan awal adalah 8,5 volt, pindahkan beban 0,5g
disamping simulated ruler , klik stimulate dan amati pemendekan
panjang otot kemudian klik record data.
3. Ganti beban menjadi 1,0 g,1,5g,dan 2,0g lakukan seperti langkah 2
4. Amati perbedaan pada record data.