Anda di halaman 1dari 33

MODEL-MODEL ASUHAN KEBIDANAN

MAKALAH

DISUSUN OLEH:

UPI SEHATI SARUMAHA

NIM : 1601032922

PROGRAM STUDIN D-IV KEBIDANAN

INSTITUT ILMU KESEHATAN HELVETIA

MEDAN

2016
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa. Karena atas berkat rahmat dan

kasihNya, sehingga akhirnya dapat menyelesaikan makalah yang berjudul MODEL

MODEL ASUHAN KEBIDANAN makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu

tugas mata kuliah Konsep Kebidanan. Kami menyadari banyak kekurangan dan hal-

hal yang perlu ditambahkan pada tugas makalah ini.

Kesempurnaan hanya milik Tuhan Yang Maha Esa, oleh karena itu kritik dan

saran sangat diharapkan dari para pembaca. Akhirnya penyusun mengucapkan terima

kasih banyak kepada semua pihak yang telah membantu penyusunan makalah ini dan

besar harapan penyusun, semoga makalah ini dapat memberikan manfaat dan

menambah pengetahuan tentang pembahasan Model Konseptual Asuhan Kebidanan

kepada Klien. Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa bersama kita amin.
DAFTAR ISI :

Kata pengantar....................................................................................................i
Daftar Isi.............................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
Latar Belakang........................................................................................1
Tujuan.....................................................................................................1
Rumusan Masalah...................................................................................2

BAB II PEMBAHASAN
A. Definifisi Konseptual model-model asuhan Kebidanan...............................3
a. Model-model konseptual asuhan Kebidanan................................................4
b. Kegunanaan Model-model konseptual asuhan kebidanan..................... ..5
B. Asuhan kebidanan........................................................................................6
C. Bentuk-bentuk Asuhan Kebidanan................................................................7
a. Asuhan Kebidanan pada Ibu Hamil..........................................................8
b. Asuhan Kebidanan pada Ibu Bersalin......................................................9
c. Asuhan Kebidanan pada Bayi Baru Lahir...............................................10
d. Asuhan Kebidanan Pada Ibu Nifas.........................................................11
e. Asuhan Kebidanan Pada Pelayanan KB.................................................12

BAB III PENUTUP.............................................................................................13


KESIMPULAN...................................................................................................14
DAFTAR PUSTAKA..........................................................................................15
BAB I

PENDAHULUAN

Model Asuhan Kebidanan berdasarkan pada kenyataan bahwa

kehamilan dan kelahiran adalah peristiwa kehidupan yang normal. Model asuhan

kebidanan termasuk : memantau keadaan fisik, psikologis, spiritual dan kesejahteraan

sosial ibu/keluarga melalui siklus reproduksi, memberikan pendidikan dan penyuluhan

antenatal care (asuhan sebelum melahirkan) pada ibu secara individu, mendampingi

secara terus-menerus selama persalinan, dukungan lanjutan selama masa nifas,

mengurangi tindakan-tindakan yang bersifat teknologi dan identifikasi serta merujuk ibu

yang membutuhkan penanganan spesialis obstetric atau yang lain. Model asuhan ini

ialah berorientasi pada wanita dan disinilah letak tanggung jawabnya.

Batasan tentang asuhan kebidanan yang disepakati oleh bidan-bidan di

seluruh dunia adalah:

1. Memahami bahwa kelahiran bayi merupakan suatu proses alamiah dan fisiologis.

2.Dalam memberikan asuhan harus menggunakan cara-cara yang sederhana,

noninterventif sebelum berpaling ke berbagai teknologi.

3. Asuhan harus aman, berdasarkan fakta dan memberikan konstribusi terutama pada

keselamatan jiwa ibu.

4. Asuhan terpusat pada ibu bukan terpusat pada pemberi asuhan/lembaga (sayang

ibu)

5. Selalu menjaga privasi (kerahasiaan) ibu sejauh mungkin.

6.Membantu ibu agar selalu merasa aman, nyaman dan ada dukungan

psikologis/emosi.
7. Memastikan bahwa setiap ibu akan mendapat informasi, penjelasan dan konseling

yang cukup.

8. Mendorong setiap ibu dan keluarganya agar menjadi peserta yang aktif dalam

membuat keputusan setelah mendapat penjelasan mengenai asuhan yang akan

diberikan.

9. Tetap menghadapi prosedur budaya dan keyakinan agama ibu.

10.Memantau kesejahteraan fisik dan psikologis, spiritual dan sosial ibu beserta

keluarganya selama masa kelahiran.

11. Memfokuskan perhatian kepada peningkatan kesehatan (health promotion) dan

pencegahan penyakit (health prevention).


BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Pengertian

Model adalah suatu contoh, peraga untuk menggambarkan sesuatu. Tujuan

model adalah membuat kerangka pengertian dalam memberikan pelayanan.

Sedangkan, Asuhan Kebidanan berdasarkan body of knowledge nya yang unik dan

pengetahuan gabungan dari dasar disiplin ilmu yang luas termasuk keperawatan,

kesehatan masyarakat dan kedokteran. Asuhan berasal dari yang solid dari

pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh melalui kombinasi pembelajaran,

observasi dan pengalaman yang memberikan asuhan kebidanan yang aman dan bijak

dalam pilihan pengaturan dalam keluarga sendiri. Asuhan kebidanan berfokus pada

pencegahan dan promosi kesehatan dan bersifat holistic.

Memberikan kepada wanita informasi yang relevan, objektif dan konseling,

memfasilitassi pilihan setelah terinformasi. Asuhan kebidanan harus diberikan dengan

cara yang kreatif, fleksibel, sportif, caring, bimbingan, monitor dan pendidikan dengan

berpusat pada kebutuhan wanita yang unik dan bersifat pribadi dalam masa suburnya.

Asuhan kebidanan harus berkesinambungan, sesuai selera dan tidak otoriter dan

menghormati pilihan wanita tentang tempat bersalinnya.

Asuhan harus diberikan dengan keyakinan bahwa dengan dukungan dan

perhatian wanita akan bersalin dengan aman dan bermartabat. Oleh karena itu, asuhan

kebidanan harus aman, memuaskan, menghormati dan memberdayakan manusia dan


keluarganya. Tujuan utama dari asuhan kebidanan adalah untuk menurunkan angka

kematian ibu dan bayi.

1.Untuk menggambarkan beberapa aspek (konkrit maupun abstrak). Dengan

mengartikan persamaannya seperti struktur, gambar, diagram dan rumus. Model tidak

seperti teori, tidak memfokuskan pada hubungan antara 2 fenomena tapi lebih

mengarah pada struktur dan fungsi. Sebuah model pada dasarnya analogi atau

gambar simbolik sebuah ide. (Wilson, 1985)

2. Merupakan gagasan mental sebagai bagian teori yang memberikan bantuan ilmu-

ilmu sosial dalam mengkonsep dan menyamakan aspek-aspek dalam proses sosial.

(Galt dan Smith, 1976).

3. Menggambarkan sebuah kenyataan, gambaran abstrak sehingga banyak digunakan

ilmu lain sebagai parameter garis besar praktek (Berner, 1984).

Model kebidanan dapat digunakan untuk :

1. Menyatakan data secara lengkap

a. Tindakan sebagai bantuan dalam komunikasi antara bidan dan pimpinan

b. Dalam pendidikan untuk mengorganisasikan program belajar

c. Untuk komunikasi bidan dengan klien.

2. Menjelaskan siapa itu bidan, apa yang dikerjakan, keinginan dan kebutuhan untuk:

a. Mengembangkan profesi

b. Mendidik siswi bidan

c. Komunikasi klien dengan pimpinan.


C. Komponen Dan Macam Model Kebidanan

Model kebidanan dibagi menjadi lima komponen, yaitu:

1. Memonitor kesejahteraan ibu

2. Mempersiapkan ibu dengan memberikan pendidikan dan konseling

3. Intervensi teknologi seminimal mungkin

4. Mengidentifikasi dan member bantuan obstetric

5. Lakukan rujukan

Beberapa macam model kebidanan

1. Model dalam mengkaji kebutuhan dalam praktik kebidanan.

Model ini memiliki 4 unit yang penting, yaitu:

a. Ibu dalam keluarga

b. Konsep kebutuhan

c. Partnership

d. Faktor kedokteran dan keterbukaan

2. Model medical

Merupakan salah satu model yang dikembangkan untuk membantu manusia

dalam memahami proses sehat sakit dalam arti kesehatan. Tujuannya adalah sebagai

kerangka kerja untuk pemahaman tindakan.

3. Model sehat untuk semua (Health For All=HFA)

Model ini dicetuskan oleh WHO dalam deklarasi Alma Ata tahun 1978. Focus

pelayanan ditujukan kepada wanita, keluarga dan masyarakat serta sebagai sarana
komunikasi dari bidan-bidan Negara lain. Tema HFA menurut Euis dan Simment

(1992) :

a. Mengurangi ketidaksamaan kesehatan

b. Perbaikan kesehatan melalui usaha promotif dan preventif

c. Partisipasi masyarakat

d. Kerjasama yang baik pemerintah dengan sector lain yang terkait

e. Primary Health Care (PHC) adalah dasar pelayanan utama dari system pelayanan

kesehatan. PHC adalah pelayanan kesehatan pokok yang didasarkan pada praktik

ilmu pengetahuan yang logis dan metode sosial yang tepat serta teknologi universal

yang dapat diperoleh oleh individu dan keluarga dalam komunitas melalui partisipasi

dan merupakan suatu value dalam masyarakat dan Negara yang mampu menjaga

setiap langkah perkembangan berdasarkan kepercayaan dan ketentuannya.

D. Teori Model Kebidanan

Teori adalah seperangkat konsep atau pernyataan yang dapat secara jelas

menguraikan fenomena yang penting dalam sebuah disiplin teori.

1. Ruper, Lagan dan Tietney, Activity of Living Model : Model yang dipengaruhi oleh

Voirginia Handerson Model, terdiri dari lima elemen:

a. Rentang kehidupan

b. Aktivitas kehidupan

c. Ketergantungan atau kebebasan individu

d. Faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas individu

Dalam model ini diidentifikasi adanya 12 macam kebutuhan manusia sebagai


proses kehidupan, yaitu :

a. Mempertahankan lingkungan yang aman

b. Komunikasi

c. Bernafas

d. Makan dan minuman

e. Eliminasi

f. Berpakaian dan kebersihan diri

g. Pengaturan suhu tubuh

h. Mobilisasi

i. Bekerja dan bermain

j. Seksualitas

k. Tidur

2. Rosefmary Methuen

Merupakan aplikasi dari Oream dan Handerson, model terhadap asuhan

kebidanan, diamana dalam system perawatan ada lima metode pemberian bantuan,

yaitu:

a. Mengerjakan untuk klien

b. Membimbing klien

c. Mendukung klien (secara fisik dan psikologis)

d. Menyediakan lingkungan yang mendukung kemampuan klien untuk memenuhi

kebutuhan sekarang dan masa yang akan dating.


e. Mengajarkan klien Peran bidan adalah mengidentifikasi masalah klien dan

melakukan ssuatu untuk membantu klien untuk memenuhi kebutuhannya. Manfaat

model ini adalah sebagai bukti praktik pengkajian kebidanan yang tidak didasarkan

pada kerangka kerja dari tradisi manapun.

3. Roy Adaption Model

Pencetusnya adalah suster Callista Roy (1960), sebagai dasarnya makhluk

biopsikososial yang berhubungan dengan lingkungan. Dikemukakan tiga macam

stimulasi yang mempengaruhi adaptasi kesehatan dari individu, yaitu:

a. Vokal stimuli

Yaitu stimuli dari lingkungan dekat individu, contohnya : kesehatan bayi akan

mempengaruhi ibu yang baru saja melakukan fungsinya.

b. Kontekstual stimuli

Yaitu faktor-faktor umum yang mempengaruhi wanita, contohnya : kondisi

kehidupan yang buruk.

c. Residual stimuli

Yaitu faktor internal meliputi kepercayaan, pengalaman, dan sikap. Model ini

berguna bagi bidan dalam melakukan pengkajian secara menyeluruh (holistic).

4. Neman System Model

Yaitu model yang merupakan awal dari kesehatan individu dan komunitas

(system klien) yang digambarkan sebagai pusat energy yang dikelilingi oleh garis

kekuatan dan pertahanan.


a. Pusatnya adalah variable fisiologis, psikologis, sosial cultural dan spiritual.

b.Garis kekuatan adalah kemampuan system klien untuk mempertahankan

keseimbangan tubuh.

c. Garis pertahanan nenunjukkan status kesehatan umum dari individu.

E. Teori-Teori Yang Mempengaruhi Model Kebidanan

1. Teori Reva Rubin

Menekan pada pencapaian peran sebagai ibu, untuk mencapai peran ini

seorang wanita memerlukan proses belajar melalui serangkaian aktivitas atau latihan.

Dengan demikian, seorang wanita terutama calon ibu dapat mempelajari peran yang

akan di alaminya kelak sehingga ia mampu beradaptasi dengan perubahan-perubahan

yang terjadi khususnya perubahan psikologis dalam kehamilan dan setelah persalinan.

Menurut Reva Rubin, seorang wanita sejak hamil sudah memiliki

harapanharapan antara lain:

a. kesejahteraan ibu dan bayi

b. penerimaan dari masyarakat

c. penentuan identitas diri

d. mengetahui tentang arti memberi dan menerima

Perubahan umum pada perempuan hamil:

Cenderung lebih tergantung dan membutuhkan perhatian yang lebih untuk dapat

berperan sebagai calon ibu dan seorang memperhatikan perkembangan janinnya.

Membutuhkan sosialisasi
Tahap-tahap psikologis yang biasa dilalui oleh calon ibu dalam mencapai

perannya:

a. Anticipatory Stage

Pada tahap ini seorang ibu mulai melakukan latihan peran dan memerlukan

interaksi dengan anak yang lain.

b. Honeymoon Stage

Ibu mulai memahami sepenuhnya peran dasar yang dijalaninya. Pada tahap ini

ibu memerlukan bantuan dari anggota keluarga yang lain.

c. Plateu stage

Ibu akan mencoba apakah ia mampu berperan sebagai seorang ibu. Pada

tahap ini ibu memerlukan waktu beberapa minggu sampai ibu kemudian melanjutkan

sendiri.

d. Disengagement

Tahap ini merupakan tahap penyelesaian dimana latihan peran dihentikan. Pada

tahap ini peran sebagai orang tua belum jelas. Aspek-aspek yang diidentifikasi dalam

peran ibu adalah gambaran tentang idaman, gambaran diri dan tubuh. Gambaran diri

seorang wanita adalah pandangan wanita tentang dirinya sendiri sebagai bagian dari

pengalaman dirinya, sedangkan gambaran tubuh adalah berhubungan dengan

perubahan fisik yang tejadi selama kehamilan.

Arti dan efek kehamilan pada pasangan.

1. Pasangan merasakan perubahan tubuh pasanganya pada kehamilan 8 (delapan)

bulan sampai dengan 3(tiga) bulan setelah melahirkan.


2. Lelaki juga mengalami perubahan fisik dan psikososial selama wanita hamil.

3. Anak-anak akan di lahirkan merupakan gabungan dari tiga macam perbedaan:

a. hubungan ibu dengan pasangan

b. hubungan ibu dengan janin yang berkembang

c. hubungan ibu dengan individu yang unik

4. Ibu tidak pernah lagi menjadi sendiri

5. Tugas yang harus di lakukan ibu atau pasangan dalam kehamilan:

a. percaya bahwa ia hamil dan berhubungan dengan janin dalam satu tubuh

b. persiapan terhadap pemisahan secara fisik pada kelahiran janin

c. penyelesaiaan dan identifikasi kebinggungan dengan peran transisi.

6. Reaksi yang umum pada kehamilan:

a. Trimester satu

Ambivalen, takut, tantasi, khawatir.

b. Trimester dua

Perasaan lebih enak

Kebutuhan untuk mempelajari tentang perkembangan dan pertumbuhan janin

meningkat

Menjadi narsistik, pasif, introvert, kadang kelihatan egosentrik dan self centered.

c. Trimester tiga

Berperasaan aneh, semberono, jelek, menjadi introvert, merefleksikan terhadap

pengalaman masa kecil.

Aspek yang diidentifikasi dalam peran ibu:

a. gambaran tentang idaman bayi sehat.


b. gambaran tentang diri memandang tentang pengalaman yang dia lakukan.

c. gambaran tubuh, gambaran ketika hamil dan setelah nifas.

Beberapa tahapan aktifitas penting sebelum seseorang menjadi seorang ibu,

diantaranya:

1. Taking on (tahapan meniru)

Seorang wanita dalam pencapaiaan sebagai ibu akan memulainya dengan meniru

dan melakukan peran seorang ibu.

2. Taking in

Seorang wanita sedang membayangkan peran yang dilakukannya . introjektion,

projection dan rejection merupakan tahap di mana wanita membedakan model model

yang sesuai dengan keinginannya.

3. Letting go

Wanita mengingat kembali proses dan aktifitas yang sudah dilakukannya. Pada tahap

ini seorang akan meninggalkan perannya di masa lalu. Adaptasi psikososial pada masa

post partum: Periode post partum menyebabkan stress emosional terhadap ibu baru,

bahkan lebih menyulitkan bila terjadi perubahan fisik yang hebat.

Keberhasilan masa transisi menjadi orang tua pada masa post partum di

pengaruhi oleh:

a. respon dan dukungan dari keluarga

b. hubungan antara melahirkan dengan harapan-harapan

c. pengalaman melahirkan dam membesarkan anak yang lalu

d. budaya

Reva rubin mengklasifikasikan tahapan ini menjadi tiga tahap yaitu:


a. Periode Taking In (hari pertama hingga kedua setelah melahirkan)

Ibu masih pasif dan tergantung pada orang lain

Perhatian ibu tertuju pada ke khawatiran pada perubahan tubuhnya

Ibu akan mengulangi pengalaman-pengalaman ketika melahirakan

Memerlikan ketenangan dalam tidur untuk mengembalikan keadaan tubuh kekondisi

normal

Nafsu makan ibu biasanya bertambah sehingga membutuhkan peningkatan nutrisi.

Kurangnya nafsu makan menandakan proses pengembalian kondisi tubuh tidak

berlangsung normal.

b. Periode Taking Hold (hari kedua hingga ke empat setelah melahirkan)

Ibu memperhatikan kemampuan menjadi orang tua dan meningkatkan tanggung

jawab akan bayinya

Ibu memfokuskan perhatian pada pengontrolan fungsi tubuh, BAK, BAB dan daya

tahan tubuh

Ibu cenderung terbuka menerima nasihat bidan dan kritikan pribadi

Ibu berusaha untuk menguasai keterampilan merawat bayi seperti menggendong,

menyusui, memandikan dan mengganti popok

Kemungkinan ibu mengalami depresi postpartum karena merasa tidak mampu

membesarkan bayinya

Pada tahap ini Bidan penting memperhatikan perubahan yang mungkin terjadi
c. Periode Letting Go

Terjadi setelah ibu pulang ke rumah dan di pengaruhi oleh dukungan serta perhatian

keluarga

Ibu sudah mengambil tanggung jawab dalam merawat bayi dan memahami

kebutuhan bayi sehingga akan mengurangi hak ibu dalam kebebasan dan hubungan

social.

Depresi post partum umumnya terjadi pada periode ini.

Depresi post partum:

Banyak ibu mengalami perasaan let-down setelah melahirkan, sehubungan dengan

seriusnya pengalaman waktu melahirkan dan keraguan akan kemampuan untuk

mengatasi secara efektif dalam membesarkan anak.

Umumnya depresi ini sedang dan mudah berubah, dimulai 2-3 hari setelah

melahirkan dan dapat diatasi antara 1-2 minggu kemudian.

2. Teori Ramona Marcer

Teori ini lebih menekan pada stress antepartum (sebelum melahirkan)

dalam pencapaiaan peran ibu, Marcer membagi teorinya menjadi dua pokok bahasan:

a. Efek stress Anterpartum

Stress Anterpartum adalah komplikasi dari resiko kehamilan dan

pengalaman negative dari hidup seorang wanita, tujuan asuhan yang diberikan adalah :

memberikan dukungan selama hamil untuk mengurangi ketidakpercayaan ibu. Penilitian

Mercer menunjukkan ada enam faktor yang berhubungan dengan status kesehatan

ibu, yaitu:
Hubungan Interpersonal

Peran keluarga

Stress anterpartum

Dukungan social

Rasa percaya diri

Penguasaan rasa takut, ragu dan depresi

Maternal role menurut mercer adalah bagai mana seorang ibu mendapatkan

identitas baru yang membutuhkan pemikiran dan penjabaran yang lengkap dengan

dirinya sendiri.

b. Pencapaian peran ibu

Peran ibu dapat di capai bila ibu menjadi dekat dengan bayinya termasuk

mengekspresikan kepuasan dan penghargaan peran, lebih lanjut mercer menyebutkan

tentang stress anterpartum terhadap fungsi keluarga, baik yang positif ataupun yang

negative. Bila fungsi keluarganya positif maka ibu hamil dapat mengatasi stress

anterpartum, stress anterpartum karena resiko kehamilan dapat mempengaruhi

persepsi terhadap status kesehatan, dengan dukungan keluarga dan bidan maka ibu

dapat mengurangi atau mengatasi stress anterpartum.

Perubahan yang terjadi pada ibu hamil selama masa kehamilan

(Trisemester I, IIdan III) merupakan hal yang fisiologis sesuai dengan filosofi asuhan

kebidanan bahwa menarche, kehamilan, nifas, dan monopouse merupakan hal yang

fisiologis.
Perubahan yang di alami oleh ibu, selama kehamilan terkadang dapat

menimbulkan stress anterpartum, sehingga bidan harus memberikan asuhan kepada

ibu hamil agar ibu dapat menjalani kehamilannya secara fisiologis (normal), perubahan

yang di alami oleh ibu hamil antara lain adalah:

a. Ibu cenderung lebih tergantung dan lebih memerlukan perhatian sehingga dapat

berperan sebagai calon ibu dan dapat memperhatikan perkembangan bayinya.

b. ibu memerlukan sosialisasi

c. ibu cenderung merasa khawatir terhadap perubahan yang terjadi pada tubuhnya

d. Ibu memasuki masa transisi yaitu dari masa menerima kehamilan kehamilan ke

masa menyiapkan kelahiran dan menerima bayinya.

Empat tahapan dalam melaksanakan peran ibu menurut Mercer:

a. Anticipatory

Saat sebelum wanita menjadi ibu, di mana wanita mulai melakukan penyesuaian

social dan psikologis dengan mempelajri segala sesuatuyang di butuhkan untuk

menjadi seorang ibu.

b. Formal

Wanita memasuki peran ibu yang sebenarnya, bimbingan peran di butuhkan

sesuai dengan kondisi system social

c. Informal

Di mana wanita telam mampu menemukan jalan yang unik dalam

melaksanakan perannya

d. Personal
Merupakan peran terakhir, di mana wanita telah mahir melakukan perannya

sebagai ibu.

Sebagai bahan perbandingan, Reva Rubin menyebutkan peran ibu telah di

mulai sejak ibu menginjak kehamilan pada masa 6 bulan setelah melahirkan, tetapi

menurut Mercer mulainya peran ibu adalah setelah bayi bayi lahir 3-7 bulan setelah

dilahirkan.

Wanita dalam menjalankan peran ibu di pengaruhi oleh faktor faktor sebagai

berikut:

a. Faktor ibu

1. Umur ibu pada saat melahirkan

2. Persepsi ibu pada saat melahirkan pertama kali

3. Stress social

4. Memisahkan ibu pada anaknya secepatnya

5. Dukungan social

6. Konsep diri

7. Sifat pribadi

8. Sikap terhadap membesarkan anak

9. Status kesehatan ibu.

b. Faktor bayi

1. Temperament

2. Kesehatan bayi

c. Faktor-faktor lainnya

1. Latar belakang etnik


2. Status pekawinan

3. Status ekonomi

Dari faktor social support, Mercer mengidentifikasikan adanya empat factor

pendukung:

a. Emotional support

Yaitu perasaan mencintai, penuh perhatian, percaya dan mengerti.

b. Informational support

Memberikan informasi yang sesuai dengan kebutuhan ibu sehingga dapat

membantu ibu untuk menolong dirinya sendiri

c. Physical support

Misalnya dengan membantu merawat bayi dan memberikan tambahan dana

d. Appraisal support

informasi yang menjelaskan tentang peran pelaksanaan, bagaimana ia

menampilkannya dalam peran. Hal ini memungkinkan individu mampu mengevaluasi

dirinya sendiri dan pencapaiaan peran ibu

Mercer menguraikan 4 faktor dalam masa adaptasi yaitu :

a. Physical Recovery Phase (Lahir-1 Bulan).

Merupakan adaptasi terhadap fungsi tubuh. Selain pemulihan sendiri juga

termasuk di dalamnya perkembangan bayi. Secara psikologis ibu khawatir terhadap

resiko menjadi seorang ibu. Masa pemulihan sangat penting karena bila fungsi tubuh

tidak kembali seperti semula akan menimbulkan keluhan psikologis dan sosiologis yang

berkepanjangan bagi ibu.

b. Achievement Phase (2- 4/5 Bulan)


c. Disruption phase (6-8 bulan)

d. Reorganisation Phase (8 -12 Bulan).

Mercer menegaskan bahwa umur, tingkat pendidikan, ras, status perkawinan,

status ekonomi dan konsep diri adalah faktor-faktor yang sangat berpengaruh dalam

pencapaiaan peran ibu.

Peran bidan yang diharapkan oleh Mercer:

Membantu wanita dalam melaksanakan tugas dan adaptsi peran fungsi ibu

Mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi peran ibu dalam pencapaiaan

peran fungsi ini dan kontribusi dari stress antepartum.

3. Teori Ela Joy Lehrman Dan Morten

Dalam teori ini Lehrman menginginkan agar bidan dapat melihat semua aspek

praktik memberikan asuhan pada wanita hamil dan memberikan pertolongan pada

persalinan. Menurut Lehrman menyelelidiki bahwa pelayanan antenatal menunjukkan

perbedaan antara prosedur administrasi yang dibebankan dengan manfaat antenatal

dan jenis pelayanan yang dialami seorang wanita di klinik kebidanan karena

berhubungan antara identifikasi factor resiko dan keefektifan dari antenatal care

terhadap hasil yang diinginkan belum terpenuhi.

Lehrman dan koleganya ingin menjelaskan perbedaan antara pengalaman

seorang wanita dengan keseorangan bidan untuk mengaplikasikan konsep kebidanan

dalam praktek. Teori ini mengharapkan bidan dapat melihat semua aspek dalam

memberikan asuhan pada ibu hamil dan bersalin,

Lehrman dan Morten mengemukakan delapan konsep penting dalam

pelayanan antenatal:
a. Asuahan kebidanan yang berkesinambungan

b. Keluarga sebagai pusat kebidanan

c. Pendidikan dan konseling merupakan sebagian dari asuhan

d. Tidak ada intervensi dalam asuhan kebidanan

e. Keterlibatan dalam asuhan kebidanan

f. Advokasi dari pelayanan kebidanan

g. Waktu

Asuhan partisipative Bidan dapat melibatkan klien dalam pengkajian,

evaluasi dan perencanaan. Pasien / klien ikut bertanggung jawab atau ambil dalam

pelayanan antenetal. Dalam pemeriksaaan fisik, misalnya palpasi klien akan melakukan

pada tempat tertentu atau ikut mendengarkan denyut jantung. Kedelapan komponen

yang dibuat Leherman ini kemudian diuji cobakan oleh

Morten (1991) pada pasien post partium. Dari hasil penerapan tersebut

morten menambahkan 3 komponen lagi ke dalam 8 komponen yang telah dibuat oleh

Leherman, yaitu:

a. Teknik teurapetik

Proses komunikasi sangat bermanfaat dalam proses perkembangan dan

penyembuhan, misalnya:

Mendengar aktif

Mengkaji

Klasifikasi

Humor

Sikap yang tidak menuduh


Pengakuan

Fasilitasi

Pemberian izin

b. Pemberdayaan (Empowerment)

Suatu proses memberi kekuasaan dan kekuatan, bidan melalui penampilan dan

pendekatannya akan meningkatkan kemampuan pasien dalam mengkoreksi,

memvalidasi, menilai dan memberi dukungan.

c. Hubungan dengan sesama (Lateral Relationship)

Menjalin hubungan yang baik dengan pasien, bersikap terbuka, sejalan dengan

pasien, sehingga bidan dan pasien terlihat akrab. Misalnya sifat empati dan

membagi pengalaman.

4. Teori Ernestine Wiedenbach

Ernestine Wiedenbach sudah pernah bekerja dalam suatu proyek yang

mempersiapkan persalinan berdasarkan teori dr. Dick Read. Wiedenbach

mengembangkan teorinya secara induktif berdasarkan pengalaman dan observasinya

dalam praktek.

a. The agent-the midwife

Meliputi : perawat, bidan atau orang lain. Filosofi yang di kemukakan adalah

tentang kebutuhan ibu dan bayi yang segera untuk mengembangkan kebutuhan yang

lebih luas yaitu kebutuhan untuk persipan menjadi orang tua.

b. The recipient

Meliputi : wanita, keluarga dan masyarakat. Wanita / masyarakat yang oleh

sebab tertentu kadang tidak mampu memenuhi kebutuhannya. Wiedenbach sendiri


berpandangan bahwa recipient adalah individu yang berkompeten dan mampu

menentukan kebutuhannya akan bantuan.

c. The Goal / purpose

Disadari bahwa kebutuhan masing-masing individu perlu diketahui sebelum

menentukan goal. Bila sudah diketahui kebutuhan ini, maka dapat diperkirakan goal

yang akan dicapai dengan mempertimbangkan tingkah laku fisik, emosianal atau

fisiological yang berbeda dari kebutuhan normal. Di sesuaikan dengan kebutuhan

masing-masing individu dengan memperhatikan tingkah laku fisik, emosional atau

fisiologikal.

d. The Means

Metode untuk mencapai tujuan asuhan kebidanan ada empat tahapan yaitu:

1. Identifikasi kebutuhan klient, memerlukan keterampilan dan ide

2. Memberikan dukungan dalam mencapai pertolongan yang di butuhkan (ministration)

3. Memberikan bantuan sesuai kebutuhan (validation)

4. Mengkoordinasi tenaga yang ada untuk memberikan bantuan (coordination)

Untuk mengidentifikasi kebutuhan ini diperlukan:

Pengetahuan

Judgement

Ketrampilan

5. Teori Jean Ball

Teori kursi goyang , keseimbangan emosional ibu. Menurut Jean Ball

emosional terhadap perubahan setelah melahirkan akan dipengaruhi personaliti

seseorang.
Hal ini terjadi karena perubahan setelah melahirkan.Tujuan asuhan maternitus

agar ibu mampu melaksanakan tugasnya sebagai ibu baik fisik maupun psikologis.

Psikologis dalam hal ini tidak hanya pengaruh emosional tetapi juga proses emosional

agar tujuan akhir memenuhi kebutuhan untuk menjadi orang tua terpenuhi. Kehamilan

dan persaingan dan masa post partum adalah masa untuk mengadopsi peran baru.

Ada dua teori Jean Ball yaitu:

Teori stress

Teori dasar

Hipotesa Ball, respon emotional wanita terhadap perubahan yang terjadi

bersamaan dengan kelahiran anak yang mempengaruhi personality seseorang dan

dengan dukungan yang berarti mereka mendapatkan sistem keluarga dan sosial.

Persipan yang telah di lakukan bidan pada masa postnatal akan mempengaruhi respon

emotional wanita terhadap perubahan akibat proses kelahiran tersebut. Kesejahteraan

wanita setelah melahirkan tergantung pada personality dan kepribadian, sistem

dukungan pribadi dan dukungan dari pelayanan maternitas.

Ball menemukan teori kursi goyang terdiri dari tiga elemen, yaitu:

1. Pelayanan maternitas

2. Pandangan masyarakat terhadap keluarga

3. Sisi penyangga atau support terhadap kepribadian keluarga Kesejahteraan keibuan

seorang wanita sangat tergantung terhadap efektifitas ketiga elemen: tersebut. Jika

kursi goyang tidak bisa ditegakkan maka tidak nyaman untuk diduduki.

Teori jean ball dalam konsep


Women : Ball memusatkan perhatiannya terhadap perkembangan emosional, sosial

dan psikological serang wanita dalam proses melahirkan.

Health : Merupakan pusat dari model Ball. Tujuan dari post natal care agar wanita

seorang menjadi seorang ibu.

Environment : Lingkungan sosial dan organisasi dalam sistem dukungan. Asuhan

post natal misalnya membutuhkan dukungan sangat penting untuk mencapai

kesejahteraan.

Midwifery : Penelitian asuhan post natal misalnya dikhawatirkan kurang efektif

karena kurangnya pengetahuan tentang kebidanan.

Self : Secara jelas kita dapat melihat bahwa peran bidan dalam memberikan

dukungan dan membantu seorang wanita untuk menjadi yakin dengan perannya

sebagai seorang ibu.

Factor-faktor yang mepengaruhi keseimbangan emosional: Dari hasil penelitian

dapat disimpulkan bahwa wanita yang boleh dikatakan sejahtera setelah melahirkah

sangat tergantung pada personality kepribadiannya, system dukungan pribadi dan

dukungan yang dipersiapkan pelayanan maternitas.

6. Teori Orem atau Teori Self Care Deficit

Orem menamakan teori self-care deficit sebagai teori umum. Ada tiga yang terkait

di dalamnya:

a. Self care teori

b. Self care dafisit teori

c. Nursing system teori

a. Self care teori adalah :


Konstribusi yang terus menerus dari seorang dewasa terhadap kelanjutan aksistensi

kesehatan dan kesejahteraan.

Individu pribadi yang memperkasai dan melakukan sendiri aktifitas yang diperlukan

untuk mempertahankan kehidupan kesehatan dan kesejahteraan.

Self care model menekanakan bahwa setiap omg mempunyai kebutuhan untuk

merawat dirinya sendiri dan mereka mempunyai hak untuk memnuhi kebutuhan itu

sendiri, kecuali bila tidak memungkinkan. Orang yang dapat memenuhi kebutuhan self

care sendiri disebut sefl-care agent. Orang dewasa yang normal dan sehat merupakan

agent untuk dirinya sendiri: Sedangkan untuk bayi, anak dan orang tidak sadar atau

luka berat, keluarga atau perawat merupakan dependent care agent.

Menurut Orem kebutuhan self care di bagi tiga keterangan

1. Universal Self Care

Pemeliharaan kebutuhan udara

Pemeliharaan kebutuhan makanan

Penerapan dengan proses eliminasi

Pemeliharaan keseimbangan aktifitas dan istirahat

Keseimbangan antara kesendirian dan interaksi sosial

Pemeliharaan dari yang membahayakan

Peningkatan fungsi dan pengembangan manusia dalam kelompok sosial.

2. Developmental Self-Care

Kebutuhan ini timbul menurut tahap perkembangan individu dan lingkungan

dimana individu tersebut berada dan mempengaruhi perkembangan hidup sesearang

dihubungkan dengan perubahan hidup seseorang atau siklus kehidupan.


3. Health deviation self care

Kebutuhan ini dibutuhkan karena kesehatan seseorang terganggu, misalnya

keadaan sakit yang mengakibatkan perubahan dalam perilaku self-care.

b. Self Care Deficit Theory

Bila ada tuntutan merawat dirinya sendiri dan individu tersebut seorang

memenuhi tuntutan maka self-care ini memungkinkan, tetapi bila tuntutan lebih besar

dari keseorangan individu untuk memenuhinya maka akan terjadi ketidakseimbangan

dan hal ini disebut self-care deficit.

Tujuan untuk memenuhi kebutuhan self care dapat dicapai dengan :

1. Menurunkan kebutuhan self care ketahap dimana pasien dapat memenuhinya

2. Meningkatkan kemampuan pasien untuk dapat memenuhi self care

3. Mengizinkan keluarga atau orang lain untuk memberikan dependent care bila self

care tidak memungkinkan.

4.Bidan membantu dan berperan mengajak, membimbing, mendukung dan

menciptakan lingkungan yang menunjang tumbuh kembang

Lima metode bantuan untuk memenuhi kebutuhan self care:

1. Berperan melakukan

2. Mengajak atau menyuluh

3. Membimbing

4. Mendukung

5. Menciptakn lingkungan yang dapat menunjang tunjangan untuk dapat

melaksanakan bantuan kepada orang sakit dan aspek yang perlu di perhatikan:
Menjalin hubungan yang baik dengan pasien, keluaraga sampai pasien dapat

melepaskan diri atau melaksanakan sendiri

Menentukan bantuan yang di butuhkan pasien dalam memenuhi kebutuhan

Memberikan bantuan langsung bersama pasien atau keluarga, orang lain yang akan

melakukan asuhan sesuai kebutuhan pasien

Merencanakan bantuan langsung bersama pasien, keluarga atau orang lain yang

akan melakukan asuhan.

Mengintegrasikan asuhan dengan kegiatan sehari-hari pasien dengan pelayanan

kesehatan lainnya.

F. Model Kebidanan Di Beberapa Negara

1. United Kingdom

Bidan Inggris menuntut adanya pelayanan mandiri dan menolak medical model

karena dianggap tidak cocok dengan praktik kebidanan.

Lebih banyak menggunakan Oream Self Care Model

Keuntungan bagi wanita adalah menempatkan kebutuhan wanita sebagai prioritas

utama, wanita berhak memilih asuhan yang diinginkan dan rencana kelahirannya.

Keuntungan bagi bidan adalah memudahkan bidan dalam memberikan asuhan yang

berkesinambungan dan menetapkan Women Center Care, memudahkan dalam

melakukan asuhan mandiri dan komprehensif pada ibu, bayi dan keluarga.

2. Australia

Menggunakan model partnership kebidanan dimana wanita sebagai partner bidan

dalam berbagai pengalaman tentang proses yang normal dalam kebidanan.

Prinsip-prinsip yang mendasari partnership dalam kebidanan :


Mengetahui dan mendukung kesatuan antara tubuh, fikiran, jiwa, lingkungan fisik dan

sosial budaya sebagai satu.

sebagian besar wanita dapat melahirkan bayi tanpa intervensi

Mendukung proses alamiah dalam tubuh

Pelayanan kebidanan adalah seni dan ilmu, pendekatan pemecahan masalah

digunakan bila diperlukan.

Pelayanan kebidanan berpusat pada wanita

Berhubungan dengan proses pencapaian peran ibu

Memberdayakan wanita dalam pengambilan keputusan

Pelayanan kebidanan dibatasi oleh hokum dan ruang lingkup praktik. Individu

yang mengacu pada wanita dan petugas kesehatan lain jika dibutuhkan.

3.New Zealand

Menggunakan model partnership bidan dengan ibu. Adapun filosofi yang

mendasari:

Kehamilan dan persalinan adalah proses kehidupan yang normal

Tugas kebidanan secara profesional adalah pendamping ibu dalam kehamilan,

persalinan dan periode post natal normal

Kebidanan memberikan pelayanan kepada wanita secara berkesinambungan

Kebidanan berpusat pada wanita


BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Model adalah suatu contoh, peraga untuk menggambarkan sesuatu. Tujuan model

adalah membuat kerangka pengertian dalam memberikan pelayanan.

Asuhan berasal dari yang solid dari pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh

melalui kombinasi pembelajaran, observasi dan pengalaman yang memberikan asuhan

kebidanan yang aman dan bijak dalam pilihan pengaturan dalam keluarga sendiri.

Asuhan kebidanan berfokus pada pencegahan dan promosi kesehatan dan bersifat

holistic.

Beberapa macam model kebidanan

Model dalam mengkaji kebutuhan dalam praktik kebidanan.

Model medical

Model sehat untuk semua (Health For All=HFA)

Teori Model Kebidanan

Ruper, Lagan dan Tietney, Activity of Living Model

Rosefmary Methuen

Roy Adaption Model

Neman System Model

Teori-Teori Yang Mempengaruhi Model Kebidanan

anwar matombura

Teori Reva Rubin

Teori Ramona Marcer


Teori Ela Joy Lehrman Dan Morten

Teori Ernestine Wiedenbach

Teori Jean Ball

Teori Orem atau Teori Self Care Deficit

Model Kebidanan Di Beberapa Negara

1. United Kingdom

2. Australia

3. New Zealand

B. Saran

Semoga makalah yang penulis buat ini dapat bermanfaat sebagai acuan

untuk mencapai peran sebagai seorang ibu nantinya.

Anda mungkin juga menyukai