Anda di halaman 1dari 10

EPIDEMIOLOGI TENTANG KEJADIAN ANEMIA PADA IBU HAMIL DI

PUSKESMAS DESA HILILAZA (TELUK DALAM)

MAKALAH

DISUSUN OLEH:

UPI SEHATI SARUMAHA

NIM : 1601032922

PROGRAM STUDIN D-IV KEBIDANAN

INSTITUT ILMU KESEHATAN HELVETIA

MEDAN

2016
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang senantiasa

melimpahkan rahmat dan hidayah Nya, sehingga kami dapat

menyelesaikan makalah yang berjudul Tinjauan Epidemiologi Tentang Anemia Pada

Ibu Hamil.Dan kami penyusun menyadari bahwa segala yang ada dalam makalah ini

tidak luput dari kesalahan baik dalam penyusunan kata, nama , dan lain-lain sehingga

kritik dan saran selalu kami harapkan sebagai pembangun bagi kami agar kemudian

hari menjadi lebih baik .


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Ibu hamil rentan terkena anemia karena di masa kehamilan kebutuhan akan zat

besi akan meningkat. Bahkan wanita yang tidak memiliki anemia pun berpotensi

mengalami anemia saat hamil. Salah satu cara mengatasi anemia saat hamil ialah

dengan memperhatikan asupan zat besi.

Di masa kehamilan, jumlah darah dalam tubuh akan meningkat 50% lebih

banyak dibandingkan kondisi normal. Zat besi dibutuhkan untuk membentuk

hemoglobin dan mengimbangi kenaikan volume darah dalam tubuh agar tetap terjaga.

Zat besi pun dibutuhkan untuk perkembangan janin dan plasenta.

Penyebab anemia tidak hanya kekurangan zat besi, tetapi juga kurangnya

asupan asam folat atau vitamin B12, akibat penyakit tertentu, hingga kelainan darah

karena faktor keturunan. Cara penanganan anemia pun berbeda, disesuaikan dengan

apa penyebabnya.

Apabila seorang wanita mengalami anemia selama hamil, kehilangan darah

pada saat ia melahirkan, bahkan kalaupun minimal, tidak ditoleransi dengan baik. Ia

beresiko membutuhkan trasfusi darah. Sekitar 80% kasus anemia pada masa hamil

merupakan anemia tipe defisiensi besi (Arias, 1993). Dua puluh persen (20%) sisanya

mencakup kasus anemia herediter dan berbagai variasi anemia didapat, termasuk

anemia defisiensi asam folat, anemia sel sabit an talasemia.


B.Tujuan :

1. Mengetahui bagaimana cara mengatasi ibu hamil dengan kasus anemia selama

kehamilan sehingga dapat menekan terjadinya komplikasi lebih lanjut.

2.Mengetahui apa itu anemia dalam kehamilan

3. Mengetahui epidemiologi anemia dalam kehamilan

4.Mengetahui penatalaksanaan anemia dalam kehamilan

C. Manfaat

1.Bagi Mahasiswa

Makalah ini diharapkan dapat menambah ilmu pengetahuan dan wawasan

mahasiswa, sehingga dapat mengaplikasikannya dalam memberikan asuhan

kebidanan.

2.Bagi Petugas Kesehatan

Makalah ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi petugas kesehatan

khususnya bidan dalam memberikan asuhan kebidanan tentang anemia dan tanda

bahaya anemia pada ibu hamil.


BAB II
PEMBAHASAN

A.Definisi Anemia pada Kehamilan


Anemia merupakan masalah yang dihadapi oleh banyak negara, baik negara
maju maupun berkembang. Di negara maju prevalensi anemia tergolong relatif rendah
dibandingkan dengan negara berkembang yang diperkirakan mencapai 90 % dari
semua individu.
Anemia dalam kehamilan ialah kondisi ibu dengan kadar Hb < 11,00 gr% pada
trimester I dan III atau kadar Hb < 10,50 gr% pada trimester II. Karena ada perbedaan
dengan kondisi wanita tidak hamil karena hemodilusi terutama terjadi pada trimester II
(Sarwono P, 2002).
Anemia pada wanita hamil jika kadar hemoglobin atau darah merahnya kurang
dari 10,00 gr%. Penyakit ini disebut anemia berat. Jika hemoglobin < 6,00 gr% disebut
anemia gravis. Jumlah hemoglobin wanita hamil adalah 12,00-15,00 gr% dan
hematokrit adalah 35,00-45,00 % (Mellyna,2005).

B.Epidimeologi Anemia
Berdasarkan data SKRT tahun 1995 dan 2001, anemia pada ibu hamil sempat
mengalami penurunan dari 50,9 % menjadi 40,1% (Amiruddin, 2007). Angka kejadian
anemia di Indonesia semakin tinggi dikarenakan penanganan anemia dilakukan ketika
ibu hamil bukan dimulai sebelum kehamilan.
Berdasarkan profil kesehatan 2010 didapatkan data bahwa cakupan pelayanan
K4 meningkat dari 80,26% (tahun 2007) menjadi 86,04% (tahun 2008), namun cakupan
pemberian tablet Fe kepada ibu hamil menurun dari 66,03% (tahun 2007) menjadi
48,14% (Depkes, 2008).
Frekuensi timbulnya anemia dalam kehamilan tergantung pada suplementasi
besi. Taylor.dkk melaporkan rata-rata kadar hemoglobin sebesar 12,7 g/dl pada wanita
yang mengkonsumsi suplemen besi sementara rata-rata hemoglobin sebesar 11,2%
g/dl pada wanita yang mengkonsumsi suplemen.

C.Segitiga Epidemiologi
Segitiga epidemiologi adalah modal utama yang harus dimiliki oleh seorang
epideniolog. Ini merupakan teori dasar yang terkenal sejak disiplin ilmu epidemiologi
mulai digunakan di dunia. Dalam bidang epidemiologi terdapat sedikitnya 3 segitiga
epidemiologi yang saling terkait satu sama lain yaitu,
a) Agent-Host-Environment (AHE),
b) Person-Place-Time (PPT),
c) Frekuensi- Distribusi- Determinan (FDD)

1. Host
Faktor host (penjamu) dalam kasus anemia pada ibu hamil adalah yang terdiri dari :
a. Umur
Semakin muda umur kehamilan semakin beresiko untuk terjadinya anemia. Halini
didukung oleh penelitian di USA (2005) bahwa ibu remaja memiliki prevalensi anemia
kehamilan lebih tinggi dibanding ibu berusia 20-35 tahun. Hal ini dpat dikarenakan pada
remaja, Fe dibutuhksn lebih banyak karena pada masa tersebut remaja
membutuhkannya untuk pertumbuhan. Selain itu faktor usia yang lebih muda
dihubungkan dengan pekerjaan, status sosial ekonomi dan pendidikan yang kuarang.
2.Agen
Agens atau sumber penyakit pada anemia ibu hamil diantaranya yaitu:
a.Unsur gizi
Terjadinya anemia pada ibu hamil juga dapat disebabkan karena defisiensi Fe,
asam folat dan vitamin B dalam makanan. Defisiensi ini dapat terjadi karena kebutuhan
Fe yang meningkat, kurangnya cadangan dan berkurangnya Fe dalam tubuh ibu hamil.
3.Lingkungan
Dari ketiga faktor lingkungan (fisik, biologis dan sosial ekonomi) yang dapat
mempengaruhi kejadian anemia pada ibu hamil yaitu faktor sosial ekonomi. Kondisi
sosial berupa dukungan dari keluarga dan komunitas akan mempengaruhi kejadian
anemia pada ibu hamil. Jika keluarga mendukung terhadap intake nutrisi yang adekuat
pada ibu hamil dan memotivasi dalam memeriksakan kehamilannya secara rutin, maka
kemungkinan kecil terjadi anemia.
Jika lingkungan komunitas menyediakan sarana pelayanan kesehatan, tenaga
kesehatan dan kader maka pelayanan kesehatan akan meningkat sehingga kejadian
anemia kemungkinan kecil terjadi. Selain itu, pendidikan ibu hamil yang semakin tinggi
akan mempengaruhi kemampuan dalam mendapatkan informasi. Kondisi ekonomi akan
mempengaruhi kemampuan ibu hamil dan keluarga dalam menyediakan nutrisi yang
adekuat dan memberikan pelayanan kesehatan yang sesuai.

D. Ukuran Epidemiologi
Mengukur kejadian penyakit, cacad ataupun kematian pada populasi. Merupakan
dasar dari epidemiologi deskriptif. Frekuensi kejadian yang diamati diukur dengan
menggunakan Prevalens dan Incidens. Ukuran-ukuran frekuensi penyakit
menggambarkan karakteristik kejadian (occurrence) suatu penyakit atau masalah
kesehatan didalam populasi.
1. Proporsi
Pemberian penyuluhan gizi pada kelas ibu hamil berpengaruh meningkatkan
rerata skor pengetahuan gizi sebesar 63,2%, skor praktik konsumsi gizi 48,5%, rerata
tingkat kecukupan protein 42,4%, tingkat kecukupan Fe 159,5%, Vitamin C 35% dan
Vitamin A 51,4%, menurunkan proporsi anemia sebesar 29,6 %. Rerata tingkat
pencapaian nilai Hb Harapan kelompok perlakuan sebesar 101,47%, dan kelompok
kontrol sebesar 96,6% (p=0,0001).
2.Rate
Sebanyak 53 persen pada anak usia sekolah, 51 persen pada wanita hamil, dan
48 persen anak-anak dibawah usia dua tahun, serta 35 persen pada anak usia pra
sekolah. Di Indonesia 40 persen pada anak usia subur mengalami anemia.
3.Ratio
Berdasarkan Survei Kesehatan RUmah Tangga (SKRT) tahun 2016,
prevalensi anemia ibu hamil di Indonesia masih tinggi yaitu 40,1 persen. Prevalensi
anemia ibu hamil yang cukup tinggi juga ditemukan pada pengunjung pelayanan
asuhan antenatal di Puskesmas Desa hililaza,Teluk Dalam(Nias Selatan)Tahun 2016
yaitu 25,6%. Hasil penelitian menunjukkan variable yang bermakna secara statistic (P
d 0.05) ialah tingkat pendidikan ibu. Secara substansi, enam variable menunjukkan
hubungan faktor risiko (Prevalensi Ratio/PR > 1) diantaranya umur ibu, paritas, ukuran
LILA, tingkat pendidikan, suplementasi tablet Fe dan frekuensi asuhan antenatal,
sedangkan dua variable lain yaitu gravid dan status pekerjaan ibu menunjukkan
hubungan protektif (PR < 1).
4.Prevalence
Prevalensi anemia 61,5%. Terdapat 59 subjek yang anemia (54,2%) memiliki
asupan vitamin A kurang dan 93,2% asupan sengnya juga kurang. Pada analisis
bivariat diperoleh nilai RP defisiensi asupan vitamin A terhadap kejadian anemia
sebesar 9,8 (95%CI: 3,07-31,1). Nilai RP defisiensi asupan seng terhadap kejadian
anemia sebesar 9,4 (95% CI: 2,8-31,4). Analisis multivariat menunjukkan bahwa
variabel-variabel yang mempunyai hubungan bermakna dengan kejadian anemia
adalah asupan vitamin A (RP=8,5) dan seng (RP=7,8).
Pakar gizi sekaligus Direktur Micronutrient Initiative Indonesia Dr Elvina Karyadi
PhD mengatakan, prevalensi anemia pada ibu hamil itu sekitar 40-50% atau 5 dari 10
ibu hamil mengalami gangguan kesehatan anemia. Perempuan hamil rentan
mengalami anemia seiring meningkatnya kebutuhan zat besi dan nutrisi tubuh.
Gejalanya yang sepele seringkali membuat mereka acuh. Mereka tidak sadar bahwa
kurangnya konsentrasi haemoglobin saat hamil bisa berdampak serius bagi janin, ujar
Dr Elvina di Teluk Dalam.
BAB III
PENUTUP

A.Kesimpulan
Setelah dilakukan asuhan kebidanan pada ibu hamil ditemukan bahwa ibu
mengalami anemia ringan dengan tanda-tanda ibu lemas, sering pusinh, konjungtiva
agak pucat, serta setelah dilakukan pemeriksaan lab ditemukan Hb 8,8 gr % dengan
arti ibu terdiagnosa anemia ringan, dengan ibu bidan melakukan KIE agar ibu mau
mengkonsumsi sayur mayur, buah dan susu, serta melakukan kolaborasi dengan ahli
gizi.
B.Saran
Untuk pelaksaan ada kemungkin untuk bia melakukan KIE sebelum hamil tentnag
begitu pentingnya kadar Hb pada ibu hamil, serta bai klien agar dapat aktif membaca,
bertanya atau membuka media elektronik untuk mengetahui tanda bahaya kadar Hb
yang kurang, agar para kita bersama-sama menurunkan AKI dan AKB .
DAFTAR PUSTAKA

Sutarto. 2005. Anemia Defisiensi Besi (ADEBE). Yogyakarta: Medika FK UGM.


Kristiyanasari, Weni. 2010. Gizi Ibu Hamil. Nuha Medika.

Proverawati, Atikah. 2011. Anemia dan Anemia Kehamilan. Yogyakarta: Nuha Medika.

httpwww.kesimpulan.com200904sebab-sebab-dan-epidemiologi-anemia.html.

httpridwanamiruddin.com20071008evidence-base-epidemiologi-anemia-deficiensi-zat-
besi-pada-ibu-hamil-di-indonesia.

Anda mungkin juga menyukai