Anda di halaman 1dari 19

TUGAS MATA KULIAH

ASPEK HUKUM PELAYANAN KESEHATAN

DOSEN : DR. HARUSTIATI A. MOEIN, S.H, M.H

OLEH

Muhammad Wirasto Ismail

P0906216001

PASCASARJANA FAKULTAS HUKUM


JURUSAN HUKUM KESEHATAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2017
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dewasa ini dapat dilihat semua bidang kehidupan masyarakat sudah terjamah
aspek hukum. Hal ini disebabkan karena pada dasarnya manusia mempunyai hasrat untuk
hidup teratur. Akan tetapi keteraturan bagi seseorang belum tentu sama dengan
keteraturan bagi orang lain. Apalagi di Negara kita yang multietnik dan menganut paham
keseragaman, oleh karena itu diperlukan kaidah-kaidah yang mengatur hubungan antar
manusia melalui keserasian antara ketertiban dan landasan hukum yang diatur oleh
Pemerintah.

Tujuan Nasional Negara Indonesia adalah melindungi segenap bangsa Indonesia


dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum,
mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang
berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.1Untuk mencapai tujuan
dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, bangsa Indonesia melaksanakan
pembangunan nasional.Dalam pelaksanaan pembangunan nasional, tujuan utama yang
hendak dicapai adalah memajukan kesejahteraan umum.Dalam upaya memajukan
kesejahteraan umum, aspek kesehatan merupakan salah satu aspek pokok yang dijadikan
sebagai fokus utama dalam upaya pembangunan nasional.
Kesehatan merupakan bagian penting dari kesejahteraan masyarakat. Kesehatan
juga merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia, disamping sandang, pangan dan
papan. Dengan berkembangnya pelayanan kesehatan dewasa ini, memahami etika
Kesehatan merupakan bagian penting dari kesejahteraan masyarakat. Kesehatan juga
merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia, disamping sandang, pangan dan papan.
Dengan berkembangnya pelayanan kesehatan dewasa ini, memahami etika kesehatan
merupakan tuntunan yang dipandang semakin perlu, karena etika kesehatan membahas
tentang tata susila dokter dalam menjalankan profesi, khususnya yang berkaitan dengan
pasien. Oleh karena itu tatanan kesehatan secara normatif menumbuhkan pengembangan
hukum kesehatan bersifat khusus (Lex specialis) yang mengandung ketentuan
penyimpangan/eksepsional jika dibandingkan dengan ketentuan hukum umum (Lex
generale).

Konsep dasar hukum kesehatan mempunyai ciri istimewa yaitu beraspek: (1) Hak
Azasi Manusia (HAM), (2) Kesepakatan Internasional, (3) Legal baik pada level nasional
maupun internasional, (4) Iptek yang termasuk tenaga kesehatan professional. Komponen
hukum kesehatan tumbuh dari keterpaduan hukum administrasi, hukum pidana, hukum
perdata dan hukum internasional. Dalil yang berkembang dalam hukum kesehatan dan
pelayanan kesehatan dapat mencakup legalisasi dalam moral dan moralisasi dalam
hukum sebagai suatu dalil yang harus mulai dikembangkan dalam pelayanan kesehatan.
Secara normatif menurut Undangundang Kesehatan Nomor 23 Tahun 1992, harus
mengutamakan pelayanan kesehatan: 1. Menjadi tanggung jawab pemerintah dan swasta
dengan kemitraan kepada pihak masyarakat. 2. Semata-mata tidak mencari keuntungan.
Dua batasan nilai norma hukum tersebut perlu ditaati agar tidak mengakibatkan reaksi
masyarakat dan tumbuh konflik dengan gugatan/tuntutan hukum.

B. Rumusan Masalah
1. Aspek Hukum dan Pelayanan Kesehatan
2. Hubungan Hukum Dokter dan Pasien
BAB II
PEMBAHASAN
A. Aspek hukum dalam pelayanan kesehatan
1. Pelayanan kesehatan
Pelayanan kesehatan dapat diperoleh mulai dari tingkat Puskesmas, rumah sakit,
dokter praktek swasta dan lain-lain. Masyarakat dewasa ini sudah makin kritis
menyoroti pelayanan kesehatan dan profesional tenaga kesehatan. Masyarakat
menuntut pelayanan kesehatan yang baik dari pihak rumah sakit, disisi lain
pemerintah belum dapat memberikan pelayanan sebagaimana yang diharapkan
karena adanya keterbatasan-keterbatasan, kecuali rumah sakit swasta yang
berorientasi bisnis, dapat memberikan pelayanan kesehatan dengan baik. Untuk
meningkatkan Pelayanan kesehatan dibutuhkan tenaga kesehatan yang trampil
dan fasilitas rumah sakit yang baik, tetapi tidak semua rumah sakit dapat
memenuhi kriteria tersebut sehingga meningkatnya kerumitan system pelayanan
kesehatan dewasa ini. Salah satu penilaian dari pelayanan kesehatan dapat kita
lihat dari pencatatan rekam medis atau rekam kesehatan. Dari pencatatan rekam
medis dapat mengambarkan kualitas pelayanan kesehatan yang diberikan pada
pasien, juga meyumbangkan hal penting dibidang hukum kesehatan, Pendidikan,
Penelitian dan Akriditasi Rumah Sakit. Yang harus dicatat dalam rekam medis
mencakup hal-hal seperti di bawah ini: 1. Identitas Penderita dan formulir
persetujuan atau perizinan. 2. Riwayat Penyakit 3. Laporan pemeriksaan Fisik 4.
Instruksi diagnostik dan terapeutik dengan tanda tangan dokter yang berwenang 5.
Catatan Pengamatan atau observasi 6. Laporan tindakan dan penemuan 7.
Ringkasan riwayat waktu pulang 8. Kejadian-kejadian yang menyimpang Rekam
medis mengandung dua macam informasi yaitu: 1. Informasi yang mengandung
nilai kerahasiaan, yaitu merupakan catatan mengenai Hasil pemeriksaan,
diagnosis, pengobatan, pengamatan mengenai penderita, mengenai hal tersebut
ada kewajiban simpan rahasia kedokteran. 2. Informasi yang tidak mengandung
nilai kerahasiaan Suatu hal yang harus diingat bahwa berkas catatan medik asli
tetap harus disimpan di rumah sakit dan tidak boleh diserahkan pada pasien,
pengacara atau siapapun. Berkas catatan medik tersebut merupakan bukti penting
bagi rumah sakit apabila kelak timbul suatu perkara, karena memuat catatan
penting tentang apa yang telah dikerjakan dirumah sakit. Catatan medik harus
disimpan selama jangka waktu tertentu untuk dokumentasi pasien. Untuk suatu
rumah sakit rekam medis adalah penting dalam mengadakan evaluasi Pelayanan
kesehatan, peningkatan efisiensi kerja melalui penurunan mortalitas, morbiditas
dan perawatan penderita yang lebih sempurna. Pengisian rekam medis serta
penyelesaiannya adalah tanggung jawab penuh dokter yang merawat pasien
tersebut, Catatan itu harus ditulis dengan cermat, singkat dan jelas. Dalam
menciptakan rekam medis yang baik diperlukan adanya kerja sama dan usaha-
usaha yang bersifat koordinatif antara berbagai pihak yang samasama melayani
perawatan dan pengobatan terhadap penderita
2. Aspek Hukum Tatanegara Dalam Pelayanan Kesehatan

Pembangunan pelayanan kesehatan bersifat komprehensif dan struktural. Hal


tersebut dilakukan melalui isntrumen hukum yang sesuai dengan cara
pembentuan, jenis dan hierarki peraturan perundang-undangan. Pasal 1 angka 1
undang-undang no.12 tahun 2011 tentang pembentukan peraturan perundang-
undangan menyebutkan bahwa pembentukan Peraturan Perundang-undangan
adalah pembuatanPeraturan Perundang-undangan yang mencakup tahapan
perencanaan,penyusunan, pembahasan, pengesahan atau penetapan,
danpengundangan.
Pasal 7 undang-undang no.12 tahun 2011 tentang pembentukan peraturan
perundang-undangan menyebutkan bahwa hierarki peraturan perundang-
undangan antara lain :
a. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
b. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat;
c. Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-
Undang;
d. Peraturan Pemerintah;
e. Peraturan Presiden;
f. Peraturan Daerah Provinsi; dan
g. Peraturan Daerah Kabupaten/Kota.

Pasal 8 undang-undang no.12 tahun 2011 tentang pembentukan peraturan


perundang-undangan menyebutkan bahwa :
jenis Peraturan Perundang-undangan selain sebagaimana dimaksud
dalamPasal 7 ayat (1) mencakup peraturan yang ditetapkan oleh
MajelisPermusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan
PerwakilanDaerah, Mahkamah Agung, Mahkamah Konstitusi, Badan
PemeriksaKeuangan, Komisi Yudisial, Bank Indonesia, Menteri, badan,
lembaga, ataukomisi yang setingkat yang dibentuk dengan Undang-Undang
atauPemerintah atas perintah Undang-Undang, Dewan Perwakilan
RakyatDaerah Provinsi, Gubernur, Dewan Perwakilan Rakyat
DaerahKabupaten/Kota, Bupati/Walikota, Kepala Desa atau yang
setingkat.

Sebagai contohnya, dalam pelayanan kesehatan di Indonesia secara mendasar


diatur dalam pasal 28H ayat (1) yang menyebutkan bahwa setiap orang memiliki
hak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan
lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan
kesehatan. Kemudian, Pasal 34 ayat (3) yang menyebutkan bahwa negara
bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas
pelayanan umum yang layak.
Kemudian secara atribusi, ketentuan tersebut diatur dalam bentuk undang-undang
yang bersifat sektoral seperti undang-undang no. 36 tahun 2009 tentang
kesehatan, undang-undang no.25 tahun 2009 tentang pelayanan publik, undang-
undang no.44 tahun 2009 tentang rumah sakit, undang-undang no.29 tahun 2004
tentang praktik kedokteran,undang-undang 18 tahun 2014 tentang kesehatan
jiwa.undang-undang no.9 tahun 2014 tentang klinik, dan undang-undang no.38
tahun 2014 tentang keperawatan.
Peraturan pelaksana dari ketentuan yang terdapat dalam undang-undang kemudian
secara delegasi diatur dalam peraturan pemerintah, peraturan presiden sampai
dengan peraturan daeran baik tingkat provinsi maupun tingkat kabupaten/kota.
3. Aspek Hukum Lingkungan Dalam Pelayanan Kesehatan

Aspek hukum lingkungan dalam pelayanan kesehatan, khususnya bagi


penyelenggaraan kesehatan di rumah sakit dapat dilihat dalam pasal 8 undang-
undang no.44 tahun 2009 tentang rumah sakit yang berbunyi :
(1) Persyaratan lokasi sebagaimana dimaksud dalamPasal 7 ayat (1)
harus memenuhi ketentuanmengenai kesehatan, keselamatan lingkungan,
dantata ruang, serta sesuai dengan hasil kajiankebutuhan dan kelayakan
penyelenggaraan RumahSakit.
(2) Ketentuan mengenai kesehatan dan keselamatanlingkungan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1)menyangkut Upaya Pemantauan
Lingkungan, UpayaPengelolaan Lingkungan dan/atau dengan
AnalisisMengenai Dampak Lingkungan dilaksanakan sesuaidengan
peraturan perundang-undangan.

Pasal 8 ayat (2) diatas mengacu kepada undang-undang no.32 tahun 2009
tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Dalam pasal 1 angka 11
disebutkan bahwa :
Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) adalah kajian
mengenaidampak penting suatu usaha dan/atau kegiatanyang direncanakan
pada lingkungan hidup yangdiperlukan bagi proses pengambilan
keputusantentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan.

Sedangkan menurut pasal 1 angka 12, yang dimaksud dengan upaya


pengelolaan lingkungan hidup dan upayapemantauan lingkungan hidup, yang
selanjutnyadisebut UKL-UPL, adalah :
pengelolaan danpemantauan terhadap usaha dan/atau kegiatanyang tidak
berdampak penting terhadap lingkunganhidup yang diperlukan bagi proses
pengambilankeputusan tentang penyelenggaraan usahadan/atau kegiatan.

4. Aspek Hukum Perdata Dalam Pelayanan Kesehatan


Aspek hukum perdata dalam pelayanan kesehatan antara tenaga kesehatan dan
pasien dapat dilihat dalam suatu transaksi terapeutik yang dibuat oleh kedua belah
pihak.Adapun yang dimaksud dengan transaksi terapeutik adalah transaksi
(perjanjian atau verbintenis) untuk menentukan mencari terapi yang paling tepat
bagi pasien oleh dokter.2Transaksi secara umum diatur dalam Kitab Undang-
Undang Hukum Perdata (Het Burgerlijk Wetboek) yang selanjutnya disebut
sebagai KUHPerdata, yang untuk berlakunya secara sah transaksi tersebut secara
umum harus memenuhi 4 (empat) syarat dalam Pasal 1320 KUHPerdata, yaitu:

(1) Kata sepakat dari mereka yang mengikatkan dirinya (toesteming van
degene die zich verbinden);
(2) Kecakapan untuk membuat suatu perikatan (bekwaamheid om en
verbindtenis aan te gaan);
(3) Mengenai suatu hal tertentu (een bepaald onderwerp);
(4) Karena suatu sebab yang halal (een geoorloofde oorzaak).

Dalam transaksi terapeutik tersebut kedua belah pihak harus memenuhi syarat-
syarat tersebut di atas, dan bila transaksi sudah terjadi maka kedua belah pihak
dibebani dengan hak dan kewajiban yang harus dipenuhi.Seperti yang disebutkan
dalam pasal 1338 KUHPerdata yang berbunyi :
Semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi
mereka yang membuatnya.Suatu perjanjian tidak dapat ditarik kembali selain
dengan sepakat kedua belah pihak, atau karena alasan-alasan yang oleh

5. Aspek Hukum Pidana Dalam Pelayanan Kesehatan

Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (Wetboek van Strafrecht) yang selanjutnya


disebut KUHP berlaku untuk penduduk dan warganegara Indonesia dengan tiada
kecualinya berdasarkan Pasal 7 Undang-Undang No.1 Tahun 1946 Tentang
Peraturan Hukum Pidana.Asas-asas umum hukum pidana yang terdapat dalam
pasal 1 sampai dengan pasal 9 KUHP.Profesi dokter yang merupakan penduduk
dan warganegara Republik Indonesia tidak luput dari ketentuan KUHP, apalagi
bila dokter tersebut merupakan bagian dari subsistem profesi kedokteran yang
merupakan salah satu subsistem dari masyarakat Indonesia sebagai
suprasistemnya.
Terdapat perbedaan penting antara tindak pidana biasa dan tindak pidana medik,
yaitu :
a. Pada tindak pidana biasa terutama diperhatikan adalah akibatnya (gevolg)
sedangkan pada tindak pidana medik yang penting bukan akibatnya, tetapi
penyebabnya atau kausanya. Walaupun akibatnya fatal, tetapi tidak ada unsur
kesalahan baik berupa kesengajaan atau kelalaian maka dokternya tidak dapat
dipersalahkan;
b. Dalam tindak pidana biasa dapat ditarik garis langsung antara sebab dan
akibatnya, karena biasanya sudah jelas.
Di Indonesia, masalah pertanggungjawaban pidana seorang dokter diatur dalam
KUHP yang mencakup tanggung jawab hukum yang ditimbulkan oleh
kesengajaan maupun kealpaan/kelalaian. Pasal-pasal tersebut antara lain :
Pasal 267

1) Seorang dokter yang dengan sengaja memberikan surat keterangan palsu


tentang ada atau tidaknya penyakit, kelemahan atau cacat, diancam dengan
pidana penjara paling lama empat tahun
2) Jika keterangan diberikan dengan maksud untuk memasukkan seseorang
ke dalam rumah sakit jiwa atau untuk menahannya di situ, dijatuhkan pidana
penjara paling lama delapan tahun enam bulan.
3) Diancam dengan pidana yang sama, barang siapa dengan

Pasal 299

1) Barang siapa dengan sengaja mengobati seorang wanita atau menyuruh


supaya diobati, dengan diberitahukan atau ditimbulkan harapan bahwa karena
pengobatan itu hamilnya dapat digugurkan, diancam dengan pidana penjara
paling lama empat tahun atau pidana denda paling banyak empat puluh lima ribu
rupiah.
2) Jika yang bersalah berbuat demikian untuk mencari keu tungan, atau
menjadikan perbuatan tersebut sebagai pencarian atau kebiasaan, atau jika dia
seorang tabib, bidan atau juruobat, pidmmya dapat ditambah sepertiga
3) Jika yang bersalah melakukan kejahatan tersebut dalam menjalankan
pencariannya, dapat dicabut haknya untuk menjalakukan pencarian itu.

Pasal 304

Barang siapa dengan sengaja menempatkan atau membiarkan seorang dalam


keadaan sengsara, padahal menurut hukum yang berlaku baginya atau karena
persetujuan dia wajib memberi kehidupan, perawatan atau pemeliharaan kepada
orang itu, diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan
atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.

Pasal 322

1) Barang siapa dengan sengaja membuka rahasia yang wajib disimpannya


karena jabatan atau pencariannya, baik yang sekarang maupun yang dahulu,
diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau pidana denda
paling banyak sembilan ribu rupiah.
2) Jika kejahatan dilakukan terhadap seorang tertentu, maka perbuatan itu
hanya dapat dituntut atas pengaduan orang itu.

Pasal 344

Barang siapa merampas nyawa orang lain atas permintaan orang itu sendiri
yang jelas dinyatakan dengan kesungguhan hati, diancam dengan pidana penjara
paling lama dua belas tahun.

Pasal 346
Seorang wanita yang sengaja menggugurkan atau mematikan kandungannya atau
menyuruh orang lain untuk itu, diancam dengan pidana penjara paling lama
empat tahun.

Pasal 347

1) Barang siapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan


seorang wanita tanpa persetujuannya, diancam dengan pidana penjara paling
lama dua belas tahun.
2) Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita tersebut diancam
dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun.

Pasal 348

1) Barang siapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan


seorang wanita dengan persetujuannya, diancam dengan pidana penjara paling
lama lima tahun enam bulan.
2) Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita tersebut, diancam
dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun.

Pasal 349

Jika seorang dokter, bidan atau juru obat membantu melakukan kejahatan
berdasarkan pasal 346, ataupun melakukan atau membantu melakukan salah satu
kejahatan yang diterangkan dalam pasal 347 dan 348, maka pidana yang
ditentukan dalam pasal itu dapat ditambah dengan sepertiga dan dapat dicabut
hak untuk menjalankan pencarian dalam mana kejahatan dilakukan.

Ketentuan pidana yang dituliskan dalam undang-undang no.29 tahun 2004


tentang praktik kedokteran merupakan ketentuan khusus (lex specialis) dari
ketentuan KUHP.Ketentuan pidana tersebut hanya mencakup kepada pelanggaran
administratif yang dikenai sanksi pidana.

B. HUBUNGAN HUKUM DOKTER DAN PASIEN


Berbagai faktor yang turut mempengaruhi hubungan antara dokter dan pasien
adalah faktor ekonomis, perubahan dalam masyarakat, sikap pribadi pasien terhadap
dokter baik terhadap pelayanannya maupun dalam hal berkomunikasi dengan pasien. Di
samping itu, para dokter seringkali mempunyai perasaan tertentu yang tidak dapat
ditunjukkan dalam hubungannya dengan seorang pasien, misalnya kekecewaan mengenai
hasil perawatan yang telah diberikan, antipati dan simpati, perasaan takut, khawatir untuk
mengatakan yang sebenarnya. Kebiasaan untuk menahan perasaan seperti itu mempunyai
pengaruh terhadap sikap dokter terhadap pasien. Selanjutnya, posisi yang lebih kuat dari
para dokter juga mempunyai pengaruh terhadap hubungan antara dokter dan pasien,
karena baik disadari maupun tidak terbuka peluang bagi dokter untuk dapat
memanipulasi pasiennya, terlebih lagi didukung oleh perasaan takut oleh pasien
mengenai pasiennya. Dengan demikian, dokter seringkali mengabaikan kenyataan bahwa
pasien itu mempunyai pengetahuan yang tidak dimiliki oleh dirinya, misalnya aspek
esensial dan aspek kemanusiaan dari penyakitnya itu sendiri. Terlebih pengetahuan yang
dimiliki oleh pasien dengan penyakit yang telah menahun (kronik).

Adakalanya sikap pasien juga mempengaruhi hubungan dokter dengan pasien.


Pasien seringkali kurang mau melihat masalah kemungkinan pemberian bantun itu
menurut pandangan seorang dokter, dan kurang terbuka terhadap dokter yang
merawatnya karena kurangnya pengertian. Oleh karena itu, menurut Leenen, hubungan
antara dokter dan pasien harus dipandang sebagai hubungan kerja sama yang berada di
bawah pengaruh faktor-faktor tersebut di atas, sehingga dapat dikatakan bahwa
kedudukan para pihak dalam kerja sama yang demikian adalah tidak sederajat. Meskipun
sebenarnya kedudukan dokter dan pasien dalam memberikan pelayanan medik adalah
sederajat menurut pandangan hukum perdata. Hukum pada hakikatnya mengatur semua
hubungan hukum yang dilakukan oleh setiap subjek hukum, termasuk dokter dalam
melaksanakan profesinya yaitu dalam pengobatan (terapeutik) dan dalam penelitian
klinik serta penelitian bio-medik non-klinik.( H.J.J. Leenen dan P.A.F. Lamintang, Op.
Cit., h. 65-66).
Hubungan antara dokter dan pasien selain hubungan medik, terbentuk pula
hubungan hukum. Pada hubungan medik, hubungan dokter dan pasien sebenarnya adalah
hubungan yang tidak seimbang, dalam arti pasien adalah orang sakit dan dokter adalah
orang sehat; pasien adalah awam & dokter adalah pakar. Namun dalam hubungan hukum
terdapat hubungan yang seimbang, yakni hak pasien menjadi kewajiban dokter dan hak
dokter menjadi kewajiban pasien dan keduanya adalah subyek hukum pribadi.
Hak dan kewajiban dokter diatur dalam Undang Undang sebagai berikut :

Hak-hak yang dimiliki pasien sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor


29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran, yang dalam pasal 52 adalah : UU Nomor 29
Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran.

1. Mendapatkan penjelasan secara lengkap tentang tindakan medis;


2. Meminta pendapat dokter atau dokter gigi lain;
3. Mendapatkan pelayanan sesuai dengan kebutuhan medis;
4. Menolak tindakan medis; dan
5. Mendapatkan isi rekam medis.

Kewajiban pasien yang diatur dalam Pasal 53 Undang-Undang Praktik

Kedokteran ini adalah :

1. Memberikan informasi yang lengkap dan jujur tentang masalah kesehatannya;


2. Mematuhi nasehat dan petunjuk dokter atau dokter gigi;
3. Mematuhi ketentuan yang berlaku disarana pelayanan kesehatan; dan
4. Memberikan imbalan jasa atas pelayanan yang diterima.

Demikian pula bagi dokter, sebagai pengemban profesi, maka ia memiliki hak dan
kewajiban yang melekat pada profesinya tersebut. Dalam menjalankan profesinya,
seorang dokter memiliki hak dan kewajiban sebagaimana diatur dalam Pasal 53 Undang-
Undang Nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan, yang menyebutkan :
1. Tenaga kesehatan berhak memperoleh perlindungan hukum dalam melaksanakan
tugas sesuai dengan profesinya.
2. Tenaga kesehatan dalam melakukan tugasnya berkewajiban untuk
mematuhi standar profesi dan menghormati hak pasien.
3. Ketentuan mengenai standar profesi dan hak-hak pasien sebagaimana dimaksud
dalam ayat (2) ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.

Secara khusus hak-hak dokter dalam menjalankan praktik kedokteran diatur


dalam Undang-Undang Nomor 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran Pasal 50 yang
mengatur bahwa seorang dokter mempunyai hak :

1. Memperoleh perlindungan hukum sepanjang melaksanakan tugas sesuai dengan


standar profesi dan standar prosedur operasional;
2. Memberikan pelayanan medis menurut standar professional dan standar prosedur
operasional;
3. Memperoleh informasi yang lengkap dan jujur dari pasien atau keluarganya; dan
4. Menerima imbalan jasa.

Diantara hak-hak yang dimiliki oleh dokter yang terdapat di beberapa literatur
dapatlah dikemukakan beberapa, antara lain :

1. Hak untuk bekerja menurut standar profesi medik.


2. Hak untuk menolak pelaksanaan tindakan medis yang tidak dapat Dipertanggung
jawabkannya secara professional.
3. Hak menolak suatu tindakan medis yang menurut suara hatinya tidak baik.
4. Hak mengakhiri hubungan dengan pasien, kecuali dalam keadaan gawat darurat.
5. Hak atas Privacy.
6. Hak atas imbal jasa (honorarium).
7. Hak atas informasi / Keterangan dari pasien.
8. Hak memperoleh Perlindungan hukum.

Sedangkan kewajiban dokter diatur lebih lanjut dalam Pasal 51 Undang- Undang
Nomor 29 Tahun 2004, yaitu :
1. Memberikan pelayanan medis sesuai dengan kebutuhan standar profesi atau
standar prosedur operasional serta kebutuhan medis pasien;
2. Merujuk pasien ke dokter atau dokter gigi lain yang mempunyai keahlian atau
kemampuan lebih baik, apabila tidak mampu melakukan suatu pemeriksaan atau
pengobatan;
3. Merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang pasien, bahkan juga
setelah pasien itu meninggal dunia;
4. Melakukan pertolongan darurat atas dasar perikemanusiaan, kecuali bila ia yakin
ada orang lain yang bertugas dan mampu melakukannya; dan
5. Menambah ilmu pengetahuan dan mengikuti perkembangan ilmu kedokteran atau
kedokteran gigi.

Dilihat dari jenis pekerjaan yang ada di dalam hubungan dokter dan pasien, maka
jelas terbentuk hubungan untuk melakukan pekerjaan (jasa) tertentu, yakni dokter sebagai
pemberi jasa pelayanan kesehatan dan pasien sebagai penerima pelayanan kesehatan.
Pekerjaan dokter dapat dikatakan sebagai profesi, sebab dilakukan berdasarkan
pendidikan formal di pendidikan tinggi kedokteran dan dokter sebagai professional
mempunyai kewenangan profesional dalam menjalankan profesinya. Selain itu terdapat
etika profesi yang menjadi pedoman tingkah laku dokter dalam menjalankan profesinya
sebagai dokter. Kata dokter bukanlah titel, sarjana kedokteran adalah titel, sama dengan
yuris adalah kata untuk profesi dari sarjana hukum. Hubungan hukum antara dokter dan
pasien dapat terbentuk perikatan yang lahir karena perjanjian dan dapat pula terbentuk
perikatan yang lahir karena UU. Contoh hubungan hukum dokter dan pasien yang lahir
karena perjanjian adalah apabila pasien datang ke tempat praktik dokter yang melakukan
penawaran jasa pelayanan kesehatan dengan memesang papan nama. Dalam arti pasien
menerima penawaran dari dokter, maka terbentuklah perikatan yang lahir karena
perjanjian.
Perikatan antara dokter dan pasien yang lahir karena UU, apabila dokter secara
sukarela membantu orang yang menderita karena kecelakaan, di mana dokter sebagai
misal, sedang lewat di tempat kecelakaan, tanpa ada perintah atau permintaan dari siapa
pun. Dokter menyelenggarakan kepentingan yang menderita kecelakaan, maka dokter
mempunyai kewajiban untuk sampai menyelesaikan pekerjaan sampai orang yang celaka
atau keluarganya dapat mengurusnya.
Doktrin ilmu hukum mengatakan ada dua macam perikatan, yaitu perikatan hasil
di mana prestasinya berupa hasil tertentu dan perikatan ikhtiar di mana prestasinya
berupa upaya semaksimal mungkin. Perikatan antara dokter dengan pasien hampir
seluruhnya berupa perikatan ikhtiar, di mana dokter berupaya semaksimal mungkin untuk
mengobati penyakit yang diderita oleh pasien. Apabila dokter telah berupaya semaksimal
mungkin dan pasien tidak sembuh juga, maka dokter telah cukup bekerja dengan baik,
karena perikatannya berupa ikhtiar. Dengan perkataan lain, pasien tidak dapat menuntut
dokter untuk menyembuhkan penyakitnya. Dokter harus berupaya semaksimal mungkin
untuk mengobati pasien. Sepakat mereka yang mengikatkan diri sebagai adalah syarat
pertama bagi sahnya perjanjian, seringkali diartikan bahwa sepakat ini harus dinyatakan
dengan tegas, namun ada sepakat yang dinyatakan dengan diam-diam, dalam arti apabila
pasien tidak menolak, maka telah terjadi sepakat yang dinyatakan dengan diam-diam.
Dengan perkataan lain, kalau pasien menolak pelayanan kesehatan harus dinyatakan
dengan tegas. Sehubungan dengan sahnya perjanjian antara dokter dan pasien, terdapat
hal yang menarik dan seringkali terjadi, bahwa syarat kecakapan untuk membuat suatu
perikatan di dalam Pasal 1320 KUHPer mensyaratkan cakap berdasarkan hukum, yaitu
usia dewasa, dalam arti menurut KUHpdt adalah 21 tahun & menurut UU no. 1/1974
tentang Perkawinan adalah 18 tahun.
Apabila seorang anak belum dewasa, datang sendirian ke tempat praktik dokter
dan membutuhkan jasa pelayanan kesehatan, apakah dokter dapat menolaknya dengan
alasan belum dewasa, Padahal dokter tidak boleh menolak permintaan bantuan jasa
pelayanan kesehatan dari siapa pun juga. Tentunya dokter tidak dapat menolak, terlebih
dalam keadaan darurat, ketentuan ini dapat diabaikan, namun untuk tindakan invasif,
sebaiknya diupayakan agar ada wali yang mendampingi anak. Perlu diketahui bahwa di
beberapa negara telah memberikan hak kepada anak berumur 14 tahun untuk mandiri
dalam bidang pelayanan kesehatan.
Mengenai syarat yang ketiga, suatu hal tertentu, pelayanan kesehatan yang
menjadi obyek perjanjian (suatu hal tertentu), adalah pelayanan kesehatan untuk
mengobati pasien yang harus dapat dicapai, kalau pengobatan itu tidak dapat/tidak
mungin dilaksanakan, maka obyeknya perikatan menjadi tidak tertentu. Syarat yang
terakhir, mengenai suatu sebab (kausa) yang halal, dimaksudkan bahwa
diselenggarakannya pelayanan kesehatan yang menjadi tujuan dari pelayanan kesehatan
itu sendiri, harus diperbolehkan oleh hukum, ketertiban dan kesusilaan. Contoh
pelayanan kesehatan yang melanggar hukum adalah tindakan pengguguran kandungan
tanpa alasan medik, yang dikenal sebagai pengguguran kandungan buatan yang
kriminalis. Kemudian pembahasan mengenai akibat hukum perjanjian yang sah, diatur di
dalam Pasal 1338 KUHPer. Namun dalam pelayanan kesehatan mengalami
penyimpangan, sebab perjanjian pelayanan kesehatan antara dokter & pasien yang telah
dibuat secara sah, yang berlaku sebagai UU bagi para pihak, dapat diputuskan tanpa
sepakat pihak yang lainnya oleh pasien, karena pasien kapan saja dapat memutuskan
perjanjian tanpa alasan apa pun juga. Dokter tidak dapat memaksakan kehendak kepada
pasien, pasien mempunyai hak untuk menentukan diri sendiri (the right of self
determination), yang merupakan hak asasi pasien. Dokter hanya dapat memberikan
informasi kepada pasien dan harus meminta persetujuan tindak medik (informed consent)
untuk diteruskan pelayanan kesehatan. Pemberian persetujuan atau penolakan persetujuan
pelayanan kesehatan adalah sepenuhnya hak dari pasien. Meskipun dokter tahu bahwa
dengan diputuskannya perjanjian pelayanan kesehatan, dapat menyebabkan pasien
meninggal dunia, dokter tidak berhak memaksakan pelayanan kesehatan.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Untuk mencapai derajat kesehatan yang sesuai dengan amanat Undang-Undang
,maka upaya kesehatan secara umum dan menyediakan pelayanan kesehatan secara
khusus dan komprehensif dengan dukungan oleh Pemerintah serta peran serta masyarakat
yang terkait .Terdapat beberapa aspek hukum dalam pelayanan kesehatan di Indonesia.
Pelayanan kesehatan di Indonesia bersifat komprehensif dan struktural karena disusun
oleh beberapa aspek hukum.
Timbulnya hubungan antara dokter dan pasien bisa berdasarkan dua hal, yaitu
berdasarkan perjanjian dan karena Undang-undang. Dokter dan pasien akan berhubungan
lebih sempurna sebagai partner. Sebenamya pola dasar hubungan dokter dan pasien,
terutama berdasarkan keadaan sosial budaya dan penyakit pasien dapat dibedakan dalam
tiga pola hubungan, yaitu: Activity passivity, Guidance Cooperation, dan Mutual
Partipation. Hubungan Dokter-Pasien tidak dapat dilepaskan dengan apa yang dinamakan
dengan Pelayanan Kesehatan.
Perikatan antara dokter dengan pasien hampir seluruhnya berupa perikatan ikhtiar,
di mana dokter berupaya semaksimal mungkin untuk mengobati penyakit yang diderita
oleh pasien. Apabila dokter telah berupaya semaksimal mungkin dan pasien tidak
sembuh juga, maka dokter telah cukup bekerja dengan baik, karena perikatannya berupa
ikhtiar. Dengan perkataan lain, pasien tidak dapat menuntut dokter untuk
menyembuhkan penyakitnya. Dokter harus berupaya semaksimal mungkin untuk
mengobati pasien
DAFTAR PUSTAKA

(Jurnal Ilmu Hukum USU, M Thalal, Iswani ,Aspek Hukum Dalam Pelayanan Kesehatan
Juni 2010, ).

.(Wila CH, Supriadi . Aspek Hukum Pelayanan Kesehatan, :


https://hukumkes.wordpress.com/2008/03/15/aspek-hukum-pelayanan-kesehatan/).

(R. Subekti, Hukum Perjanjian, Intermasa, Jakarta,1992, hal ):

(Harustiati A Mole. Hak Informasi pada hubungandokter pasien. Jurnal Amanna Gappa
vl.17.2009. hl.290)

(Hubungan Hukum antara dokter dan pasien


:https://hukumkes.wordpress.com/2008/03/15/aspek-hukum-pelayanan-kesehatan/.)

(Etika Profesi dan Hukum Kesehatan Bab VIII Aspek Pelayanan Kesehatan )