Anda di halaman 1dari 31

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kebutuhan bayi akan zat gizi sangat tinggi untuk mempertahankan

kehidupannya. Kebutuhan tersebut dapat tercukupi dengan memberikan Air Susu Ibu

(ASI) kepada bayi, ASI merupakan makanan yang ideal untuk bayi, sebab ASI

mengandung semua zat gizi untuk membangun dan menyediakan energi dalam

susunan yang diperlukan. ASI Eksklusif harus diberikan pada bulan-bulan pertama

setelah kelahiran bayi, karena pada masa ini terjadi pertumbuhan fisik, pembentukan

psikomotor, dan akulturasi yang sangat cepat. (Solihin, 2000)

Mengingat pentingnya pemberian ASI bagi tumbuh kembang yang

optimal baik fisik maupun mental dan kecerdasannya, maka perlu perhatian agar

dapat terlaksana dengan benar. (Depkes RI, dalam Herlin, 2008).

Organisasi kesehatan dunia (WHO) merekomendasikan agar bayi baru

lahir mendapat ASI Eksklusif selama 6 bulan. WHO mengatakan bahwa ASI adalah

suatu cara yang tidak tertandingi oleh apapun dalam menyediakan makanan ideal

untuk pertumbuhan dan perkembangan seorang bayi. Pemberian ASI Eksklusif

selama 6 bulan adalah cara yang paling optimal dalam pemberian makanan bayi. Pada

titik inilah, nutrisi tambahan bisa diperoleh dari sedikit porsi makanan padat.

1
Meskipun bayi terus menerima imunitas melalui ASI selama mereka terus disusui,

kekebalan paling besar diterima bayi saat ia diberikan ASI Eksklusif. (Amiruddin

dalam Adi.S, 2009)

Dan menurut Resolusi World Health Assembly (WHA) pada tahun 2001

menegaskan bahwa tumbuh kembang anak secara optimal merupakan salah satu hak

azasi anak. Modal dasar pembentukan manusia berkualitas dimulai sejak bayi dalam

kandungan dilanjutkan dengan pemberian Air Susu Ibu (ASI). ASI sebagai makanan

alamiah adalah makanan terbaik yang dapat diberikan oleh seorang ibu pada anak

yang baru dilahirkannya. (Sarwono, 2009:29)

Di Inggris 60-70% dari semua ibu memberikan ASI setelah melahirkan,

namun hanya tinggal 40% yang menyusui hingga minggu keenam, dan hanya 25%

yang mencapai 3 bulan. Variasi pada tingkat menyusui cukup besar. Hampir 90% ibu

kelas sosial memilih untuk menyusui. Di Inggris, pada umumnya menyusui berhenti

pada usia 4-9 bulan, pada negara berkembang aturannya selama 2 tahun. Namun

demikian, tidak ada bukti bahwa bayi yang diberi susu botol mengalami kemunduran,

baik fisik maupun mental. (Roy, 2003:83)

Dari Survei Demografi Dan Kesehatan Indonesia (SDKI), memperlihatkan

hanya 52% ibu yang menyusui bayinnya. Itu pun rata-rata hanya selama 1,7 bulan.

Bahkan menurut data Unicef, hanya 3% ibu yang memberikan ASI secara Eksklusif.

Dipastikan persentase tersebut jauh menurun bila dibandingkan dengan kondisi

sebelumnya. Sebuah penelitian terhadap 460 bayi rawat gabung (rooming in) di

rumah sakit RSCM memperlihatkan 71,1% ibu memberi ASI sampai bayinya usia 2

2
bulan, 20,2% di antaranya memberi ASI secara Eksklusif. Maka hanya 17,4% dari

ibu yang bekerja di ruang publik yang produksi ASI nya masih cukup ketika bayinya

berusia 5-6 bulan. Angka ini lebih rendah dari persentase dikalangan ibu yang bekerja

di ruang domestik, yang mencapai 22,4%. (Susenaz, 2007)

Telah dibuktikan, bahwa komposisi ASI yang diproduksi oleh ibu yang

melahirkan bayi kurang bulan (ASI premature) berbeda dengan ASI yang diproduksi

oleh ibu yang melahirkan bayi cukup bulan (ASI matur). Demikian pula komposisi

ASI yang keluar pada hari-hari pertama sampai hari ke 3-5 (kolustrum) berbeda

dengan ASI yang diproduksi hari ke 3-5 sampai hari ke 8-11 (ASI transisi) dan ASI

selanjutnya (ASI matur). Komposisi tersebut sesuai dengan kebutuhan masing-

masing bayi. (Perinasia, 2004)

Berdasarkan fenomena yang terjadi bahwa rendahnya pengetahuan ibu

tentang manfaat ASI dan manajemen laktasi sejak masa kehamilan sampai pasca

melahirkan berdampak terhadap sikap ibu yang kemudian akan berpengaruh terhadap

perilaku ibu dalam pemberian ASI. Status kesehatan dipengaruhi oleh beberapa faktor

diantaranya adalah sikap seseorang untuk merespon suatu penyakit. Sikap dapat

digunakan untuk memprediksikan tingkah laku apa yang mungkin terjadi. Dengan

demikian sikap dapat diartikan sebagai suatu predisposisi tingkah laku yang akan

tampak aktual apabila kesempatan untuk mengatakan terbuka luas. (Azwar, 2005)

3
Pada kenyataanya, pengetahuan ibu tentang ASI Eksklusif masih sangat

kurang, misalnya pada masyarakat desa. Ibu sering kali memberikan makanan padat

kepada bayi yang baru berumur beberapa hari atau beberapa minggu seperti

memberikan nasi yang dihaluskan atau pisang. Kadang-kadang ibu mengatakan air

susunya tidak keluar atau keluarnya hanya sedikit pada hari-hari pertama kelahiran

bayinya, kemudian membuang ASInya tersebut dan menggantinya dengan madu,

gula, mentega, air, atau makanan lain. Hal ini tidak boleh dilakukan karena air susu

yang keluar pada hari-hari yang pertama kelahiran adalah kolostrum. (Muchtadi

dalam Novi, 2007).

Menurut data Dinas kesehatan kota Palembang, pada tahun 2007 jumlah

bayi 32.886 bayi. Yang mendapatkan ASI Eksklusif sebanyak 27.760 (84,4%). Pada

tahun 2008 jumlah bayi yang mendapatkan ASI Eksklusif sebanyak 23.286 (68,01%)

dari 30.817 bayi. Dan pada tahun 2009, di Kota Palembang jumlah bayi yang

mendapatkan ASI Eksklusif sebanyak 186 (55,0%) dari 338 bayi. (Dinkes kota

Palembang, 2009).

Berdasarkan data kunjungan Puskesmas sekip, tahun 2007 jumlah bayi

561 yang mendapatkan ASI Eksklusif sebanyak 239 (42,6%), pada tahun 2008

jumlah bayi yang mendapatkan ASI Eksklusif 314 (46,2%) dari 679 bayi. Dan di

tahun 2009, jumlah bayi 539 yang mendapatkan ASI Eksklusif sebanyak 186

(34,5%) bayi. (Profil Puskesmas sekip, 2010/2011)

4
Berdasarkan data dan uraian di atas, maka penulis tertarik untuk

melakukan penelitian tentang Gambaran Pengetahuan Dan Sikap Ibu Tentang

Pemberian ASI Eksklusif pada bayi Di Wilayah kerja Puskesmas Sekip Palembang

Tahun 2010/2011.

1.2 Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah Masih rendahnya

Pemberian ASI Eksklusif pada bayi di Wilayah kerja Puskesmas Sekip Palembang

tahun 2010/2011

1.3 Pertanyaan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas maka pertanyaan penelitian adalah:

Mengapa rendahnya Pemberian ASI Eksklusif pada bayi di wilayah kerja

Puskesmas sekip Palembang, Faktor-faktor apa yang mempengaruhinya?

1.4 Tujuan Penelitian

1.4.1 Tujuan Umum

Diketahuinya Gambaran Pengetahuan Dan Sikap Ibu Tentang

Pemberian ASI Eksklusif pada bayi di wilayah kerja Puskesmas sekip

Palembang Tahun 2010/2011.

5
1.4.2 Tujuan Khusus

1. Diketahuinya Gambaran Pengetahuan Ibu Tentang Pemberian ASI

Eksklusif pada bayi di wilayah kerja Puskesmas sekip Palembang

Tahun 2010/2011.

2. Diketahuinya Gambaran Sikap Ibu Tentang Pemberian ASI

Eksklusif pada bayi di wilayah kerja Puskesmas sekip Palembang

Tahun 2010/2011.

1.5 Manfaat Penelitian

1.5.1 Bagi tenaga kesehatan/Puskesmas

Agar dapat digunakan sebagai bahan masukan untuk mengevaluasi

tentang pemberian ASI Eksklusif pada bayi di wilayah puskesmas sekip

palembang bagi ibu menyusui serta dapat digunakan sebagai bahan

pemikiran untuk menentukan upaya peningkatan pemberian ASI

Eksklusif pada bayi di wilayah kerja puskesmas sekip palembang agar

dapat mencapai tujuan pembangunan kesehatan.

1.5.2 Bagi Institusi Pendidikan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah referensi perpustakaan

dan sebagai sumber informasi serta menambah wawasan bagi peneliti

yang akan datang khususnya mengenai Gambaran Pengetahuan Dan

Sikap Ibu Tentang Pemberian ASI Eksklusif pada bayi di wilayah kerja

puskesmas sekip Palembang 2010/2011 .

6
1.5.3 Bagi Peneliti

Untuk menambah pengetahuan dan wawasan tentang ASI Eksklusif dan

manfaat ASI Eksklusif serta pengalaman dalam melaksanakan

penelitian.

1.6 Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif yang bertujuan

untuk mengetahui Gambaran Pengetahuan Dan Sikap Ibu Tentang Pemberian ASI

Eksklusif pada bayi di wilayah kerja Puskesmas sekip Palembang. Penelitian ini

dilakukan pada tanggal 12 Juli 17 Juli tahun 2010/2011.

7
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengertian ASI

ASI (Air Susu Ibu) adalah makanan yang menakjubkan/luar biasa bagi

bayi. (Gondosari, 2010).

Air Susu Ibu merupakan susu buatan alam yang lebih baik daripada susu

buatan manapun. (Hanifa, 2006).

ASI merupakan makanan yang ideal untuk bayi terutama pada bulan-bulan

pertama, karena mengandung zat gizi yang diperlukan bayi untuk membangun dan

menyediakan energi. (Solihin, 2000)

2.2. Pengertian ASI Eksklusif

ASI Eksklusif Artinya, Menyusui secara Eksklusif: hanya ASI, tidak

ditambah makanan atau minuman lain, bahkan air putih sekalipun. (WHO, 2001)

ASI Eksklusif adalah pemberian ASI tanpa makanan dan minuman

tambahan lain pada bayi berumur nol sampai enam bulan. (Depkes RI, 2004).

ASI Eksklusif adalah pemberian ASI pada bayi tanpa tambahan makanan

lainnya ataupun cairan lain, seperti: susu formula, jeruk, madu, teh, biskuit, air putih,

bubur nasi dan tim sampai usia 6 bulan. (Roesli, 2000).

8
2.3. Komposisi ASI

ASI merupakan makanan yang paling ideal bagi bayi karena mengandung

semua zat gizi yang dibutuhkan bayi. Komposisi zat yang terkandung dalam ASI

diuraikan sebagai berikut:

a. Lemak

ASI maupun susu sapi mengandung lemak yang cukup tinggi, yaitu sekitar

3,5%. Namun, keduanya memiliki susunan asam lemak yang berbeda. ASI

lebih banyak mengandung asam lemak rantai pendek dan asam lemak jenuh.

ASI juga mengandung asam lemak omega-3 yang dibutuhkan untuk

perkembangan otak. Lemak air susu ibu mempunyai komposisi asam lemak

unik. Lemak utamanya terjenuh, yang terdiri sekitar 45-50%. (Herlin, 2008)

b.Protein

Protein dalam susu adalah kasein dan whey. Kadar protein ASI 60% adalah

whey, yang lebih mudah dicerna dibanding kasein (protein utama susu sapi).

Kecuali mudah dicerna, dalam ASI terdapat dua macam asam amino yang

tidak terdapat dalam susu sapi yaitu sistin dan taurin. Sistin diperlukan untuk

pertumbuhan somatik, sedangkan taurin untuk pertumbuhan otak. (Roesli,

2005)

9
c.Karbohidrat

Peranan karbohidrat terutama diperlukan untuk memenuhi kebutuhan energi.

Laktosa merupakan salah satu sumber karbohidrat yang terdapat dalam ASI

maupun susu sapi. ASI mengandung laktosa sekitar 7%. Sedangkan

kandungan laktosa dalam susu sapi hanya sekitar 4,4%. Kadar laktosa yang

tinggi akan mengakibatkan terjadinya pertumbuhan lactobacillus dalam usus

sehingga dapat mencegah terjadinya infeksi. Selain itu, kadar laktosa yang

tinggi dapat memperbaiki penahanan (retensi) beberapa mineral penting untuk

pertumbuhan bayi, seperti kalium, fosfor, dan magnesium. (Herlin, 2008)

d.Mineral

ASI mengandung mineral yang lengkap walaupun kadarnya relatif rendah,

tetapi bisa mencukupi kebutuhan bayi sampai berumur 6 bulan. Zat besi dan

kalsium dalam ASI merupakan mineral yang sangat stabil, mudah diserap dan

jumlahnya tidak dipengaruhi oleh diet ibu. Dalam PASI kandungan mineral

jumlahnya tinggi, tetapi sebagian besar tidak dapat diserap, memperberat kerja

usus, menngganggu keseimbanngan usus, dan meningkatkan pertumbuhan

bakteri merugikan (promosikesehatan.com. 2010).

e. Vitamin

ASI mengandung vitamin yang diperlukan oleh bayi. Vitamin K yang

diperlukan untuk proses pembekuan darah terdapat dalam ASI dengan jumlah

yang cukup dan mudah diserap. (Roesli, 2005)

10
2.4. Volume ASI

Selama beberapa bulan terakhir masa kehamilan sering terdapat

produksi kolostrum susu ibu. Setelah lahir waktu bayi mulai menghisap, maka suplai

air susu meningkat dengan cepat. Pada keadaan normal, sekitar 100 ml tersedia pada

hari kedua dan ini meningkat menjadi 500 ml pada minggu kedua. Produksi ASI yang

paling efektif biasanya dicapai padda 10-14 hari setelah melahirkan. Selama beberapa

bulan selanjutnya, bayi yang sehat mengkonsumsi sekitar 700-800 ml per 24 jam.

Namun demikian, konsumsi bayi bervariasi antara satu dengan yang lainnya, ada

yang mengkonsumsi 600 ml atau kurang dan ada pula yang lebih bahkan sampai satu

liter selama 24 jam meskipun keduanya mempunyai laju pertumbuhan yang sama.

(Roesli, 2005).

2.5. Manfaat ASI

a. Bagi bayi

1) ASI sebagai nutrisi

Sebagai makanan (nutrisi), maka air susu ibu tetap menempati tempat

yang tak terkalahkan dan tidak dapat disaingi oleh bentuk makanan

lain terutama yang menopang pertumbuhan bayi (Roesli, 2000)

2) ASI Eksklusif meningkatkan daya tahan tubuh

Kolostrum mngandung zat kekebalan 10-17 kali lebih banyak dari

susu matang (mature). Zat kekebalan yang terdapat pada ASI antara

lain melindungi bayi dari penyakit diare. Pada suatu penelitian di

11
Brazil selatan, bayi-bayi yang tidak diberi ASI mempunyai

kemungkinan meninggal karena diare 14,2 kali lebih banyak dari pada

bayi Eksklusif. ASI juga menurunkan kemungkinan bayi terkena

penyakit infeksi telinga, batuk, pilek, dan penyakit alergi. (Roesli,

2000)

3) ASI Eksklusif meningkatkan kecerdasan

Nutrien yang diperlukan untuk pertumbuhan otak bayi yang tidak ada

atau sedikit sekali terdapat pada susu sapi, antara lain: taurin, laktosa,

asam lemak ikatan panjang (DHA, AA, omega-3, omega-6).

Mengingat hal tersebut, dapat dimengerti kiranya bahwa pertumbuhan

otak bayi yang diberi ASI Eksklusif selama 6 bulan akan optimal

dengan kualitas yang optimal pula (Roesli, 2000)

Hasil penelitian Lucas pada tahun 1993 (dalarn Roesli, 2000) terhadap

300 bayi prematur membuktikan bahwa bayi-bayi premature yang

diberi ASI Eksklusif mempunyai IQ yang lebih tinggi secara

bermakna (8,3 point lebih tinggi) dibanding bayi premature yang tidak

diberi ASI. Begitu pula pada penelitian DR. Riva (1997) ditemukan

bahwa bayi yang diberi ASI Eksklusif, ketika berumur 9,5 tahun

mempunyai tingkat IQ 12,9 point lebih tinggi dibanding anak yang

ketika bayi tidak diberi ASI Eksklusif.

12
4) ASI Eksklusif meningkatkan jalinan kasih sayang

Bayi yang sering dalam dekapan ibu akan merasakan kasih sayang

ibunya. Ia juga akan merasa tentram dan aman, terutama karena masih

dapat mendengar detak jantung ibunya yang telah ia kenal dalam

kandungan (Roesli, 2000)

b. Bagi Ibu

1) Mengurangi perdarahan sesudah melahirkan.

Apabila bayi disusui segera setelah dilahirkan, maka kemungkinan

terjadinya perdarahan setelah melahirkan (post partum) akan

berkurang. Ini karena pada ibu menyusui terjadi peningkatan kadar

oksitosin yang berguna juga untuk kontraksi penutupan pembuluh

darah, sehingga perdarahan akan lebih cepat berhenti, hal ini akan

menurunkan angka kematian ibu yang melahirkan.

2) Mengurangi terjadinya anemia

Mengurangi kemungkinan terjadinya kekurangan darah atau anemia

karena kekurangan zat besi. Menyusu mengurangi perdarahan.

3) Menjarangkan kehamilan

Menyusui merupakan cara kontrasepsi yang aman, murah, dan cukup

berhasil. Selama ibu memberi ASI Eksklusif dan belum haid, 98%

tidak akan hamil sampai bayi berusia 12 bulan.

13
4) Mengecilkan rahim

Kadar Oksitosin ibu menyusui yang meningkat akan sangat membantu

rahim kembali ke sebelum hamil. Proses pengecilan ini akan lebih

cepat dibanding pada ibu yang tidak menyusui.

5) Lebih cepat langsing kembali

Oleh karena menyusui membutuhkan energi, maka tubuh akan

mengambilnya dari lemak yang tertimbun selama hamil. Dengan

demikian berat badan ibu yang menyusui akan lebih cepat kembali ke

berat badan sebelum hamil.

6) Mengurangi kemungkinan menderita kanker

Pada ibu yang memberikan ASI Eksklusif, umumnya kemungkinan

terkena kanker payudara dan indung telur berkurang. Beberapa

penelitian menunjukkan bahwa menyusui akan mengurangi

kemungkinan terjadinya kanker payudara. Pada umumnnya bila semua

wanita dapat melanjutkan menyusui sampai bayi bermur 2 tahun atau

lebih, diduga angka kejadian kanker payudara akan berkurang sampai

sekitar 25%. Beberapa penelitian menemukan juga bahwa menyusui

akan melindungi ibu dari penyakit kanker indung telur. Salah satu dari

penelitian ini menunjukkan bahwa risiko terkena kanker indung telur

pada ibu yang menyusui berkurang sampai 20%.

14
7) Lebih ekonomis dan murah

Dengan memberi ASI berarti menghemat pengeluaran untuk susu

formula, perlengkapan menyusui, dan persiapan pembuatan minum,

susu formula. Selain itu, pemberian ASI juga menghemat pengeluaran

untuk berobat bayi, misalnya biaya jasa dokter, biaya pembelian obat-

obatan, bahkan mungkin biaya perawatan di rumah sakit.

8) Tidak merepotkan dan hemat waktu

ASI dapat segera diberikan pada bayi tanpa harus menyiapkan atau

memasak air, juga tanpa harus mencuci botol, dan tanpa menunggu

agar susu tidak terlalu panas. Pemberian susu botol akan lebih

merepotkan. Terutama pada malam hari. Apalagi kalau persediaan

susu habis pada malam hari maka kita harus repot mencarinya.

9) Portabel dan praktis

Mudah dibawa kemana-mana (portable) sehingga saat berpergian

tidak perlu membawa berbagai alat unutk minum susu formula dan

tidak perlu membawa alat listrik untuk memasak atau menghangatkan

susu. ASI dapat diberikan dimana saja dan kapan saja dalam keadaan

siap dimakan/minum, serta dalam suhu yang selalu tepat.

10) Memberi kepuasan pada ibu

Ibu yang berhasil memberikan ASI Eksklusif akan merasakan

kepuasan, kebanggaan, dan kebahagiaan yang mendalam.

15
c. Bagi Negara

Pemberiaan ASI Eksklusif pada bayi di wilayah kerja sekip palembang

akan menghemat pengeluaran negara karena hal-hal berikut:

1) Penghematan devisa untuk pembelian susu formula, perlengkapan

menyusui, serta biaya menyiapkan susu.

2) Penghematan biaya untuk biaya sakit terutama sakit muntah-mencret

dan sakit saluran nafas.

3) Penghematan obat-obatan, tenaga dan sarana kesehatan.

4) Menciptakan generasi penerus bangsa yang tangguh dan berkualitas

untuk membangun negara.

5) Langkah awal untuk mengurangi bahkan menghindari kemungkinan

terjadinya generasi yang hilang khususnya bagi Indonesia. (Roesli,

2000).

2.6. Resiko Pemberian Makanan Tambahan Terlalu Dini

a. Resiko jangka pendek

Pemberian makanan selain ASI akan mengurangi keinginan bayi untuk

menyusu, sehingga frekuensi dan kekuatan bayi menyusu berkurang akibat

produksi ASI berkurang. Telah diketahui bahwa pemberian sereal dan sayur

mayur akan menghambat penyerapan zat gizi dalam ASI. Pemberian makanan

tambahan terlalu dini juga dihubungkan dengan peningkatan kasus diare.

(Roesli, 2005)

16
b. Resiko jangka panjang

Pemberian tambahan makanan yang tidak tepat dapat juga berakibat dalam

jangka panjang dibagi menjadi 2 cara, yaitu efek kumulatif dan perubahan

yang terjadi di masa dini morbiditasnya baru nampak di kemudian hari, dan

terjadinya kebiasaan makan yang kurang baik yang kemudian menyebabkan

gangguan kesehatan. Resiko jangka panjang yang dihubungkan dengan

pemberian makanan tambahan yang tidak tepat antara lain: obesitas,

atherosklerosis dan alergi makanan.

2.7. Keunggulan Pemberian ASI

Keunggulan pemberian ASI dibanding dengan susu sapi atau susu

buatan lainnya adalah sebagai berikut:

a. . ASI mengandung hampir semua zat gizi yang diperlukan oleh bayi

dengan konsentrasi yang sesuai dengan tubuh bayi.

b. ASI mengandung kadar laktosa yang tinggi, dimana laktosa ini dalam

usus akan mengalami peragian hingga membentuk asam laktat yang

bermanfaat dalam usus bayi, yaitu:

17
1) Menghambat pertumbuhan bakteri yang patologi.

2) Merangsang pertumbuhan mikro organik yang dapat

menghasilkan berbagai asam organik dan mensintesa beberapa

jenis vitamin dalam usus.

3) Memudahkan penyerapan kalsium Casenat (protein susu).

4) Memudahkan penyerapan berbagai jenis mineral.

c. ASI mengandung berbagai zat penolak yang dapat melindungi bayi dari

berbagai penyakit infeksi.

d. ASI lebih aman dari kontaminasi, karena diberikan langsung maka

kemungkinan tercemar zat berbahaya lebih kecil.

e. Resiko alergi pada bayi kecil sekali karena tidak mengandung beta

laktoglobulin. ASI sebagai perantara untuk menjalin hubungan kasih

sayang antara ibu dan bayi.

f. Temperatur ASI sama dengan temperatur bayi.

g. ASI membantu pertumbuhan gigi lebih baik.

h. Kemungkinan bayi tersedak ASI lebih kecil sekali karena payudara ibu

telah diciptakan sedemikian rupa.

i. ASI mengandung laktoferin untuk mengikat zat besi.

j. ASI ekonomis, praktis, tersedia setiap waktu pada suhu yang ideal dan

dalam keadaan segar.

k. Dengan memberikan ASI kepada bayi berfungsi menjarangkan

kelahiran. (Roesli, 2005)

18
2.8. Pengetahuan

2.8.1 Defenisi

Pengetahuan adalah hasil tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan

penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui

pancaindera manusia, yakni: indera penglihatan, pendengaran, penciuman, raba

dan rasa. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan

telinga. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk

terbentuknya tindakan seseorang. (Notoatmodjo, 2007)

Pengetahuan ibu tentang Inisiasi Menyusui Dini (IMD) di Jakarta barat

masih tergolong rendah. Betapa tidak, data suku dinas kesehatan masyarakat

(kesmas) Jakarta barat menyebutkan, ibu yang memberikan ASI Eksklusif selama

enam bulan kepada anaknya masih di bawah 30 persen. Selain karena faktor

ketidaktahuan para ibu, juga tidak bisa memberikan ASI Eksklusif karena

kesibukan. (Berita Jakarta, 2008).

2.8.2 Tingkat Pengetahuan

Pengetahuan yang dicakup dalam domain kognitif mempunyai 6 (enam)

tingkatan, yakni:

1. Tahu (Know)

Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari

sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah kembali

19
(recall) terhadap suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau

ransangan yang telah diterima.

2. Memahami (Comprehension)

Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar

tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterprestasi materi tersebut

secara benar.

3. Aplikasi (Application)

Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah

dipelajari pada situasi atau kondisi riil (sebenarnya).

4. Analisis (Analysis)

Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek

ke dalam komponen-komponen, tetapi masih dalam suatu sruktur organisasi

tersebut, dan masih ada kaitannya satu sama lain.

5. Sintesis (Synthesis)

Sintesis menunjuk pada suatu kemampuan untuk meletakkan atau

menghubungkan bagian-bagian dalam suatu bentuk kesseluruhan yang baru.

6. Evaluasi (Evaluation)

Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau

penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian itu

berdasarkan suatu kriteria yang ditentukan sendiri, atau menggunakan kriteria-

kriteria yang telah ada.

20
Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket

yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau

responden. Kedalaman pengetahuan yang ingin kita ketahui atau kita ukur dapat kita

sesuaikan dengan tingkat-tingkat tersebut. (Notoatmodjo, 2007).

Apabila pengetahuan itu mempunyai sasaran yang tertentu, mempunyai

metode atau pendekatan untuk mengkaji objek tersebut sehingga memperoleh hasil

yang dapat disusun secara sistematis.

Perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng dari perilaku

yang tidak didasari oleh pengetahuan (Notoatmodjo, 2003 :128). Apabila penerimaan

perilaku atau adopsi perlaku yang didasari oleh pengetahuan dan kesadaran, maka

perilaku tersebut akan berlangsung lama.

Untuk menginterpretasikan data digunakan kriteria standar objektif menurut

Nursalam, 2003, yang menyatakan baik (76% - 100%). Cukup (56% - 75%), dan

kurang (0% - 55%).

Sedangkan Lawrence Green, mengidentifikasikan bahwa

perilaku kesehatan di pengaruhi oleh tiga faktor utama yaitu:

1) Faktor predisposisi / fredisposing

Faktor-faktor ini mencakup pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap

kesehatan. Tradisi dan kepercayaan masyarakat terhadap hal-hal yang berkaitan

21
dengan kesehatan, sistem nilai yang dianut masyarakat, tingkat pendidikan,

tingkat sosial ekonomi dan sebagainya.

2) Faktor pendukung / enabling

Faktor-faktor ini mencakup ketersediaan sarana dan prasarana atau fasilitas

kesehatan bagi masyarakat, misalnya air bersih, tempat pembuangan sampah,

pembuangan tinja, ketersediaan makanan bergizi, uang dan sebaginya, termasuk

fasilitas pelayanan kesehatan seperti puskesmas, rumah sakit, poliklinik,

posyandu, polindes, pos obat desa, dokter atau bidan praktek swasta dan

sebagainya.

3) Faktor pendorong / reinforcing.

Faktor ini meliputi faktor sikap dan perilaku tokoh masyarakat, tokoh

agama, sikap dan perilaku petugas termasuk petugas kesehatan. Termasuk juga di

sini undang-undang, peraturan-peraturan baik pusat maupun pemerintah daerah

yang terkait dengan kesehatan ( Notoatmodjo, 2007)

2.9. Sikap (Attitude)

Sikap merupakan reaksi atau respon seseorang yang masih tertutup terhadap

suatu stimulus atau objek. Beberapa batasan lain tentang sikap ini. Perilaku tidak bisa

berubah dengan cepat dalam merespon dan pengetahuan baru, tetapi di dukung juga

oleh pemahaman yang singkat. Setelah motivasi, salah dari kata ilmu perilaku dan

sikap. Sikap sangat di pengaruhi oleh pengetahuan. (Notoadmodjo, 2007).

Seperti halnya dengan pengetahuan, sikap dalam Notoatmodjo (2007:143) ini terdiri

dari berbagai tingkatan yaitu:

22
1. Receiving (Menerima)

Di artikan bahwa orang (subjek) mau dan memperhatikan stimulus yang di

berikan (objek). Misalnya sikap orang terhadap gizi dapat di lihat dari kesediaan dan

perhatian orang itu terhadap ceramah-ceramah tentang gizi.

2. Responding (Merespon)

Memberikan jawaban apabila di tanya, mengerjakan, menyelesaikan tugas

yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap. Karena dengan suatu usaha untuk

menjawab pertanyaan atau mengerjakan tugas yang diberikan, terlepas dari pekerjaan

itu benar atau salah adalah berarti orang menerima ide tersebut.

3. Valuing (Menghargai)

mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan dengan orang

lain terhadap suatu masalah adalah suatu indikasi sikap tingkat tiga.

4. Responsibel (Bertanggung jawab)

Bertanggung jawab atas segala yang telah di pilihnya dengan segala resiko

merupakan sikap yang paling tinggi.

2.9.1. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Terbentuknya Sikap:

Setiap orang mempunyai sikap (Attitude) yang berbeda-beda. Terhadap suatu

peransang dikarenakan adanya faktor-faktor yang mempengaruhi baik yang datang

dari luar (Ekstern) maupun dalam diri sendiri (Intern). Dua faktor ini dapat di

jelaskan sebagai berikut:

23
1. Faktor Intern, yaitu faktor yang terdapat pada diri orang yang bersangkutan. Kita

tidak dapat menangkap seluruh perangsang dari luar melalui persepsi kita, oleh

karena itu kita cenderung melakukan seleksi atas ransangan-ransangan yang ada,

mana yang akan di dekati dan mana yang harus di jauhi.

2. Faktor Ekstern ialah yang berasal dari luar diri orang yang bersangkutan. Menurut

Wirawan (1976), antara lain menyangkut:

a. Sifat objek yang dijadikan sasaran sikap.

b. Kewibawaan orang yang mengemukakan suatu sikap.

c. Sifat orang-orang atau kelompok yang mendukung suatu sikap.

d. Media komunikasi yang digunakan dalam menyampaikan sikap.

e. Situasi pada saat sikap itu terbentuk. ( Ari, 2007)

Menurut Azwar (1998), dalam Ari, 2007. Pengukuran sikap dapat di ukur

dengan mengunakan skala Likert dengan nilai jawaban sebagai berikut:

SS = Sangat setuju dengan nilai 4

S = Setuju dengan nilai 3

KS = Kurang setuju dengan nilai 2

TS = Tidak setuju dengan nilai 1

Corak khas dari skala Likert ini makin tinggi skor yang di peroleh

seseorang, maka makin positif sikap orang dan sebaliknya.

24
BAB III

KERANGKA KONSEP DAN DEFENISI OPERASIONAL

3.1 Kerangka Konsep

Kerangka konsep penelitian pada dasarnya adalah kerangka hubungan konsep-

konsep yang ingin diambil atau diukur melalui penelitian-penelitian yang akan

dilakukan. maka kerangka konsep penelitian ini adalah dengan pertimbangan

keterbatasan kemampuan, waktu dan biaya penelitian. Maka tidak semua faktor

diteliti, peneliti hanya meneliti Gambaran Pengetahuan Dan Sikap Ibu Tentang

Pemberian ASI Eksklusif Di Puskesmas sekip Palembang. Sedangkan faktor-faktor

yang lain tidak diteliti secara skematis kerangka konsep tersebut dapat di lihat pada

bagan di bawah ini:

25
Gambar

Kerangka Teori Menurut Green (1980) dalam Notoatmodjo (2007)

Faktor Predisposisi :
- Pengetahuan
- Sikap
- Kepercayaan
- Nilai
- Pendidikan
- Tingkat social
- Umur
- Jenis kelamin
- Demografi

Faktor Pendukung
- Ketersediaan Sumber
Daya Kesehatan
- Keterjangkauan Suber
Daya Kesehatan Masalah
- Prioritas dan Komitmen perlaku spesifik
mayarakat/pemerintah
- Keterampian yang
berkaitan dengan
kesehatan

Faktor penguat
- Keluarga
- Teman sebaya
- Petugas kesehatan
- Tokoh masyarakat

26
3.2 DEFINISI OPERASIONAL

Alat Skala
No Variabel Definisi Cara Ukur Hasil ukur
Ukur ukur
1 Pengetahuan Semua hal Kuesioner Wawancara 1. Baik, Ibu dapat Ordinal
ibu yang menjawab
diketahui ibu pertanyaan >
tentang ASI, 65% dengan
manfaat ASI, benar.
serta 2. Kurang, Ibu
bagaimana tidak dapat
cara ibu menjawab
memberikan pertanyaan <
ASI Eksklusif 65% dengan
kepada benar.
bayinya
2. Sikap ibu Tanggapan Kuesioner Wawancara 1. Positif, bila skor Ordinal
atau respon > 1.62 mean
ibu terhadap 2. Negatif, bila
pemberian skor < 1.62 mean
ASI Eksklusif
pada bayinya.

27
BAB IV

METODOLOGI PENELITIAN

4.1. Desain Penelitian

Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif kuantitatif yaitu

metodologi penelitian yang dilakukan dengan tujuan untuk membuat Gambaran atau

deskriptif tentang keadaan secara objektif. Metodologi penelitian digunakan untuk

memecahkan atau menjawab permasalahan yang sedang dihadapi sekarang.

(Notoatmodjo, 2002)

4.2. Populasi dan Sampel Penelitian

4.2.1. Populasi Penelitian

Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian. (Arikunto, 2002).

Populasi penelitian ini adalah semua ibu yang membawa bayi berusia > 6 bulan

berkunjung di Puskesmas sekip Palembang tahun 2010/2011.

4.2.2. Sampel Penelitian

Sampel adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan objek yang

diteliti dan dianggap mewakili populasi. (Notoatmodjo, 2002). Sampel penelitian

diambil dengan menggunakan Accidental Sampling (dilakukan dengan mengambil

kasus atau responden yang kebetulan ada atau tersedia). Sampel dalam penelitian ini

28
adalah ibu yang mempunyai bayi berusia > 6 bulan berkunjung ke Puskesmas sekip

Palembang. Dari tanggal 12 Juli sampai dengan 17 Juli 2010.

4.2.3. kriteria inklusi dalam penelitian ini, yaitu:

1. Ibu-ibu yang bersedia menjadi responden

2. Ibu-ibu mempunyai bayi yang berusia > 6 bulan

3. Ibu-ibu yang bisa baca dan tulis

4. Ibu-ibu yang bisa berkomunikasi dengan baik

4.2.4. Lokasi dan Waktu Penelitian

Lokasi penelitian ini dilakukan di Puskesmas sekip Palembang, dan waktu

penelitian mulai 12 Juli sampai 17 Juli 2010/2011.

4.3 Etika Penelitian

Sebelum penelitian dimulai, peneliti memperkenalkan diri dan menjelaskan

tujuan penelitian yang akan dilakukan, kemudian responden akan menandatangi surat

persetujuan untuk menjadi responden. Peneliti berjanji semua data dan identitas

responden akan dirahasiakan. Apabila responden tidak bersedia maka responden

berhak untuk mengundurkan diri. Hal ini dilakukan sebelum peneliti menyerahkan

kuesioner untuk dilakukan wawancara.

4.4 Tehnik dan Instrumen Pengumpulan Data

4.3.1. Tehnik pengumpulan Data

1. Data primer

29
Data primer diambil dengan cara wawancara langsung dan dengan

menggunakan lembar pertanyaan atau kuesioner kepada responden.

2. Data Sekunder

Data sekunder diperoleh melalui profil puskesmas sekip Palembang

tahun 2010/2011.

4.3.2. Instrumen penelitian

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa kuesioner yang

dikumpulkan melalui wawancara yang telah disusun oleh peneliti, pengukuran

pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan

tentang isi materi yang diukur dari subjek penelitian atau responden.

4.5 Pengolahan Data

Data yang terkumpul kemudian diolah melalui tahap-tahap sebagai

berikut:

1. Coding (Pengkodean)

Coding merupakan kegiatan pemberian kode numerik (angka) terhadap

data yang terdiri atas beberapa kategori (Hidayat, 2007).

2. Editing (Memeriksa atau mengoreksi)

Editing adalah upaya untuk memeriksa kembali kebenaran data yang

diperoleh atau dikumpulkan. Editing dapat dilakukan pada tahap

pengumpulan atau setelah data terkumpul. (Hidayat, 2007).

30
3. Entry Data (Masukkan data)

Entry data adalah kegiatan memasukkan data yang telah di kumpulkan

ke dalam data base komputer, kemudian membuat distribusi frekuensi

sederhana. (Hidayat, 2007).

4. Cleaning (Pembersihan data)

Merupakan pengecekan kembali data yang sudah di masukkan, apakah

ada kesalahan atau tidak. (Hidayat, 2007).

4.6 Tehnik Analisa Data

Analisa yang dilakukan adalah analisa univariat yang dilakukan tiap

variabel dari hasil penelitian. Pada penelitian ini distribusi frekuensi dari tiap variabel

data dinyatakan dalam bentuk tabel frekuensi dari tiap variabel penelitian yang di

teliti.

31

Beri Nilai