Anda di halaman 1dari 4

SATU AYAT YANG TERLUPAKAN

Organisasi publik dibentuk bertujuan untuk memberikan pelayanan kepada

masyarakat. Organisasi publik tentunya mempunyai orientasi yang berbeda dengan

organisasi bisnis. Walaupun kedua organisasi ini mempunyai orientasi yang berbeda,

tetapi dalam menjalankan organisasi tetap menganut prinsip-prinsip efektif dan

efisiensi. Hesel Nogi Tangkilisan berpendapat bahwa birokrasi publik tidak

berorientasi langsung pada tujuan akumulasi keuntungan, namun memberikan

layanan publik dan menjadi katalisator dalam penyelenggaraan pembangunan

maupun penyelenggaraan tugas negara.

Dalam kerangka negara kesatuan Republik Indonesia, organisasi publik identik

dengan organisasi milik pemerintah, baik itu pemerintah pusat maupun pemerintah

daerah.

Pasca otonomi daerah, yang memberikan otonomi yang seluas-luasnya kepada

daerah untuk menjalankan roda pemerintahan di daerah secara bertanggungjawab

dengan tidak mengesampingkan prinsip koordinasi, integrasi, sinkronisasi, dan

simplikasi serta komunikasi kelembagaan antar tingkat dan susunan pemerintahan,

diharapkan dapat meningkatkan kualitas pelayanan dan kemudahan akses terhadap

pelayanan itu sendiri oleh masyarakat.

Pemerintah pusat selaku pemegang roda pemerintahan tertinggi dalam kerangka

negara kesatuan Republik Indonesia telah berupaya untuk membuat regulasi atau

kebijakan yang berpihak kepada masyarakat penerima pelayanan dari pemerintah, baik

itu dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah, sehinggga masyarakat

mendapatkan kemudahan akses terhadap pelayanan.


Salah satu contoh kebijakan dibidang kesehatan yang diambil pemerintah agar

masyarakat, khususnya masyarakat kurang mampu mendapat akses terhadap pelayanan

kesehatan adalah dalam bentuk penyelenggaraan Jaminan Kesehatan Masyarakat

(jamkesmas) dan jaminan kesehatan daerah (jamkesda) yang diselenggarakan oleh

pemerintah daerah.

Kalau kita cermati secara seksama, khususnya organisasi milik pemerintah daerah

yang memberikan pelayanan kesehatan, yang dijadikan dasar dalam melakukan

pungutan atau meminta biaya atas pelayanan kesehatan yang diberikannya kepada

masyarakat adalah peraturan daerah tentang retribusi atau biaya atau tarif

pelayanan kesehatan. Kenapa tidak peraturan daerah tersebut saja yang dihapuskan

atau dirubah dengan menambah beberapa point yang berpihak kepada masyarakat

khususnya masyarakat kurang mampu sehingga sebagian ataupun seluruh masyarakat

dibebaskan dari pungutan atas biaya pelayanan kesehatan, karena salah satu faktor yang

menyebabkan keterbatasan masyarakat terhadap akses pelayanan kesehatan adalah

ketidakmampuan untuk membayar biaya pelayanan kesehatan. Peraturan Pemerintah

Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah mengamanatkan bahwa

organisasi milik pemerintah daerah dilarang melakukan pungutan selain dari yang

ditetapkan dalam peraturan daerah.

Secara tersirat pemerintah pusat juga telah mengeluarkan kebijakan yang memihak

kepada masyarakat untuk mendapatkan pelayanan dari pemerintah daerah khususnya,

salah satunya yaitu dengan diundangkannya Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009

tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah sebagai dasar daerah dalam menyusun

peraturan daerah tentang pajak daerah dan retribusi daerah, sebagai salah satu sumber

pendapatan daerah.
Makna tersirat yang penulis maksud pada Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009

yaitu ada pada Pasal 110 ayat (2) yang berbunyi bahwa Jenis Retribusi sebagaimana

dimaksud pada ayat (1) dapat tidak dipungut apabila potensi penerimaannya kecil

dan/atau atas kebijakan nasional/daerah untuk memberikan pelayanan tersebut

secara cuma-cuma. Jenis retribusi yang dimaksud pada Pasal 110 ayat (1) undang-

undang ini adalah jenis retribusi jasa umum, yang meliputi retribusi pelayanan

kesehatan, retribusi pelayanan persampahan/kebersihan, retribusi penggantian biaya

cetak kartu tanda penduduk dan akta catatan sipil, retribusi pelayanan pemakaman

dan pengabuan mayat, retribusi pelayanan parkir di tepi jalan umum, retribusi pelayanan

pasar, retribusi pengujian kendaraan bermotor, retribusi pemeriksaan alat pemadam

kebakaran, retribusi penggantian biaya cetak peta, retribusi penyediaan dan/atau

penyedotan kakus, retribusi pengolahan limbah cair, retribusi pelayanan tera/tera ulang,

retribusi pelayanan pendidikan, retribusi pengendalian menara telekomunikasi.

Saat ini kita tinggal menunggu kebijakan dan keinginan (good will), khususnya

pemerintah daerah untuk mau atau tidak mengambil kebijakan memberikan pelayanan

secara cuma-cuma kepada masyarakatnya berdasarkan Undang-Undang Nomor 28

Tahun 2009 ini, karena pemerintah daerah-lah yang memahami dan sebagai garda

terdepan yang langsung bersentuhan dan berhubungan dengan masyarakat dalam hal

memberikan pelayanan.

Setiap kebijakan apapun yang diambil akan tetap menimbulkan pro dan kontra

tinggal bagaimana kita menyikapinya.


Nama : REZA EFFENDI NASUTION

Pekerjaan : Mahasiswa Pasca Sarjana Ilmu Administrasi Universitas Riau

No. Telp : 081364284000