Anda di halaman 1dari 5

Pemilihan Umum 1955, Pemilu Demokratis Pertama Indonesia.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1953, Pemilu 1955 dilakukan untuk memilih anggota-
anggota parlemen (DPR) dan Konstituante (Lembaga yang diberi tugas dan wewenang untuk melakukan
perubahan terhadap konstitusi negara). Tercatat ada 43.104.464 warga yang memenuhi syarat masuk bilik
suara. Dari jumlah itu, sebanyak 87,65% atau 37.875.299 yang menggunakan hak pilihnya pada saat itu.
PEMILU 1955. Hasil penghitungan suara dalam Pemilu tahun 1955 menunjukkan bahwa Masyumi mendapatkan
suara yang signifikan dalam percaturan politik pada masa itu. Masyumi menjadi partai Islam terkuat, dengan
menguasai 20,9 persen suara dan menang di 10 dari 15 daerah pemilihan, termasuk Jakarta Raya, Jawa Barat,
Sumatera Selatan, Sumatera Tengah, Sumatera Utara, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tenggara
Selatan, dan Maluku.
Hasil Pemilu Tahap I (29 september 1955)
Pada tanggal 29 September 1955 lebih dari 39
juta rakyat Indonesia memberikan suararanya
dikotak-kotak suara. Hasil pemilihan Umum I
yang diikuti 172 kontestan Pemilu 1955, hanya
28 kontestan (tiga diantaranya perseorangan)
yang berhasil memperoleh kursi. Empat partai
besar secara berturut-turut memenangkan
kursi: Partai Nasional Indonesia (57
kursi/22,3%), Masyumi (57 kursi/20,9%),
Nahdlatul Ulama (45 kursi/18,4%), dan Partai
Komunis Indonesia (39 kursi/15,4%).
Selama masa pemerintahanPresiden Soekarno
(1945-1965), yang melewati beberapa era seperti
Revolusi Nasional, Demokrasi Parlementer, dan
Demokrasi Terpimpin, hanya sekali terjadi
Pemilu, yaitu Pemilu 1955 yang merupakan
pemilu pertama bagi bangsa Indonesia setelah
10 tahun merdeka. Pemilu ini terjadi pada masa
pemerintahan Perdana Menteri Buhanuddin
Harahap dari Masyumi (29 Juli 1955 - 2Maret
1956)
Jakarta - Dijadwalkan pada Januari 1946, pemilu pertama sejak Indonesia merdeka baru digelar pada 1955. Diikuti 29
partai politik dan individu.Rakyat diminta 2 kali memilih. Pada 29 September 1955, rakyat memilih anggota DPR.
Lalu, pada 15 Desember 1955, memilih anggota Konstituante.Tingkat partisipasi terbilang mengagumkan, mencapai
91,41%. Fenomena golput belum dikenal saat itu. Jumlah pemilih 43 juta tapi yang sah hanya sekitar 38 juta.
Soekarno menggunakan hak pilihnya pada pemilu 1955