Anda di halaman 1dari 12

KOMISI PEMBERANTASAN KORUPSI

REPUBLIK INDONESIA
UNTUK KEADILAN

PENDAPAT PENUNTUT UMUM

TERHADAP KEBERATAN

TIM PENASIHAT HUKUM TERDAKWA

IR. ERLANGGA ADISOEMARTA

Jakarta, 18 Agustus 2017


PENDAHULUAN

Majelis Hakim yang Mulia,


Saudara Penasihat Hukum yang Kami Hormati.

Pertama-tama kami panjatkan puji dan rasa syukur kepada Tuhan Yang
Maha Esa, yang telah memberikan nikmat dan karunia-Nya sehingga persidangan
atas nama Terdakwa Ir. Erlangga Adisoemarta dapat terlaksana dengan baik, dan
tertib tanpa ada kendala yang berarti.

Penghormatan tertinggi dan rasa terima kasih kami sampaikan kepada


Majelis Hakim yang telah memberikan kesempatan kepada kami selaku Penuntut
Umum untuk menyampaikan Pendapat atas Keberatan yang diajukan Penasihat
Hukum Terdakwa, terhadap Surat Dakwaan yang kami susun. Tidak lupa, kami
juga memberikan apresiasi kepada saudara Penasihat Hukum yang telah berusaha
dengan kerja keras dalam menjalankan tugasnya mendampingi Terdakwa dalam
persidangan yang mulia ini.

Kami selaku Penuntut Umum akan memanfaatkan kesempatan yang telah


diberikan oleh Majelis Hakim berdasarkan amanat Undang-Undang Nomor 8
Tahun 1981 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP),
untuk dapat mengajukan Pendapat atas Keberatan Penasihat Hukum Terdakwa,
guna meluruskan pemahaman saudara Penasihat Hukum terhadap Surat Dakwaan
yang telah kami susun.

Terlebih dahulu kami akan memberikan dasar filosofis dari pemberian


pendapat yang diberikan oleh kami, Penuntut Umum. Secara Umum, berdasarkan
Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan, sebagai salah satu
institusi peradilan, kewenangan jaksa dalam melakukan penuntutan dalam suatu
perkara seharusnya dapat langsung dirasakan oleh masyarakat karena terkait

Halaman 2 dari 10 Pendapat Atas Keberatan Penasihat Hukum Terdakwa Ir. Erlangga
Adisoemarta dengan Nomor Register Perkara: 70/Pid.Sus-TPK/2017/PN Jkt.Pst
dengan penegakan hukum yang beririsan dengan nilai-nilai keadilan di mata
masyarakat. Pendapat atas jawaban Penasihat Hukum yang secara tegas dan nyata
disebutkan dalam Pasal 156 ayat (1) KUHAP, bertujuan sebagai salah satu bentuk
pelaksanaan dari tugas mulia Penuntut Umum yang memiliki fungsi utama untuk
menuntut seseorang yang dianggap bersalah untuk mencapai keadilan sebagaimana
yang dicita-citakan oleh masyarakat. Tanpa mengurangi rasa hormat kami kepada
rekan sejawat kami, pendapat ini akan menjadi bentuk manifestasi dari pelaksanaan
wewenang kami yang telah diamanatkan oleh Undang-Undang.

Selanjutnya, kami akan menjelaskan ketentuan yang mengatur Keberatan


terhadap suatu Dakwaan dalam perkara pidana. Ketentuan mengenai materi pokok
Keberatan telah diatur secara limitatif dalam Pasal 156 ayat (1) KUHAP, yang
intinya bahwa materi pokok Keberatan Penasihat Hukum telah ditentukan hanya
meliputi tiga hal, yaitu:

1. Pengadilan tidak berwenang mengadili perkaranya;


2. Surat dakwaan tidak dapat diterima; dan
3. Surat dakwaan harus dibatalkan.

Dengan berpedoman pada ketentuan diatas, maka kami selaku Penuntut


Umum tidak akan menanggapi alasan Keberatan yang berada diluar koridor
ketentuan Pasal 156 Ayat (1) KUHAP lebih lanjut. Apabila dalam Keberatannya
saudara Penasihat Hukum menyampaikan hal-hal yang menyangkut materi pokok
perkara, maka hal tersebut menunjukkan bahwa Penasihat Hukum Terdakwa tidak
memahami tugasnya sebagai pendamping dari Terdakwa. Demikian pula halnya
jika Keberatan yang diajukan oleh Penasihat Hukum hanya berisi hal-hal yang
sifatnya hanya membangun opini belaka, bahwa Terdakwa tidak bersalah sebelum
materi pokok perkara diperiksa, hal tersebut sesungguhnya menunjukkan bahwa
Penasihat Hukum tidak memahami ketentuan Pasal 156 ayat (1) KUHAP, dan
seolah-olah ingin mendahului kewenangan Majelis Hakim dalam memutus perkara
a quo.

The way to combat noxious ideas is with other


ideas. The way to combat falsehood is with truth.

(Untuk memerangi gagasan sesat adalah


dengan menggunakan gagasan lainnya. Untuk
memerangi kebohongan adalah dengan kebenaran)

-William O. Douglas

Halaman 3 dari 10 Pendapat Atas Keberatan Penasihat Hukum Terdakwa Ir. Erlangga
Adisoemarta dengan Nomor Register Perkara: 70/Pid.Sus-TPK/2017/PN Jkt.Pst
Halaman 4 dari 10 Pendapat Atas Keberatan Penasihat Hukum Terdakwa Ir. Erlangga
Adisoemarta dengan Nomor Register Perkara: 70/Pid.Sus-TPK/2017/PN Jkt.Pst
Terlepas dari berbagai perbedaan pemikiran antara kami selaku Penuntut
Umum dan Penasihat Hukum Terdakwa, sudah selayaknya sebagai aparat penegak
hukum dapat menempatkan diri sesuai dengan tugas serta kewenangan masing-
masing, dan menyerahkan segala keputusannya kepada Majelis Hakim yang telah
diberi wewenang oleh Undang-Undang, untuk menilai segala perbedaan tersebut
sehingga dapat tercipta keputusan yang adil dan bijaksana. Layaknya tujuan
daripada hukum pidana itu sendiri, semoga persidangan ini terus menunjukkan
kewibawaannya untuk menemukan kebenaran materiil dalam perkara ini.

Halaman 5 dari 10 Pendapat Atas Keberatan Penasihat Hukum Terdakwa Ir. Erlangga
Adisoemarta dengan Nomor Register Perkara: 70/Pid.Sus-TPK/2017/PN Jkt.Pst
PENDAPAT PENUNTUT UMUM
TERHADAP KEBERATAN PENASIHAT HUKUM TERDAKWA
IR. ERLANGGA ADISOEMARTA

Nomor Register Perkara: 70/Pid.Sus-TPK/2017/PN Jkt.Pst

Majelis Hakim yang Mulia,


Saudara Penasihat Hukum yang Kami Hormati.
Setelah kami mencermati Keberatan yang diajukan oleh Penasihat Hukum
Terdakwa Ir. Erlangga Adisoemarta, dengan cermat dan seksama, terdapat
beberapa pokok Keberatan yaitu:

1. Pengadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi Jakarta Pusat Tidak


Berwenang Memeriksa dan Mengadilli Perkara A Quo.
2. Penuntut Umum Tidak Cermat dalam Mendakwakan Pasal 2 ayat (1)
Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (UU TIPIKOR)
pada Perkara A Quo.

Kami akan menguraikan Pendapat kami selaku Penuntut Umum terhadap


pokok-pokok Keberatan yang telah disebutkan diatas sebagai berikut:

A. EKSEPSI KEWENANGAN MENGADILI RELATIF


1. Pengadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi Jakarta Pusat Tidak
Berwenang Memeriksa dan Mengadilli Perkara A Quo.

Dalam dalil Keberatannya, Penasihat Hukum Terdakwa menyatakan


bahwa pengadilan yang berwenang untuk mengadili perkara a quo
merupakan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Negeri
Semarang, bukanlah Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan
Negeri Jakarta Pusat. Hal tersebukt dapat dilihat dalam Keberatan Penasihat
Hukum Terdakwa yang pada intinya mengatakan bahwa uraian perbuatan
dalam Surat Dakwaan menggambarkan secara jelas bahwa locus delicti tindak
pidana yang dilakukan oleh Terdakwa berada dalam yurisdiksi Pengadilan
Negeri Semarang dengan berdasarkan pada teori alat dalam penentuan locus
delicti.

Kami selaku Penuntut Umum tidak setuju dengan analisis yang telah
disuguhkan oleh Penasihat Hukum Terdakwa dikarenakan dalam
menentukan locus delicti, yang seharusnya dibuktikan terlebih dahulu adalah
dengan mempergunakan teori perbuatan materiil. Soedarto dalam bukunya
Hukum Pidana I, halaman 37 menjelaskan pengertian teori perbuatan
Halaman 6 dari 10 Pendapat Atas Keberatan Penasihat Hukum Terdakwa Ir. Erlangga
Adisoemarta dengan Nomor Register Perkara: 70/Pid.Sus-TPK/2017/PN Jkt.Pst
materiil yaitu dalam menentukan tempat tindak pidana harus melihat pada
perbuatan fisik yang dilakukan oleh pembuat dalam mewujudkan tindak
pidana itu. Hal ini menandakan bahwa perbuatan aktif dari seorang pelaku
yang dituduh melakukan suatu tindak pidana dijadikan sebagai dasar
penentuan tempat dimana tindak pidana itu dilakukan.

Selaras dengan doktrin di atas, menurut P.A.F. Lamintang dalam


bukunya Pembahasan KUHAP Menurut Ilmu Pengetahuan Hukum Pidana
& Yurisprudensi, halaman 63 menyatakan bahwa menurut ajaran teori
perbuatan materiil, yang harus dipandang sebagai locus delicti adalah tempat
pelaku telah melakukan sendiri tindakannya yang terlarang. Tempat
sebagaimana dimaksud oleh P.A.F. Lamintang adalah tempat dimana suatu
tindakan melawan hukum dilakukan oleh pelaku, sehingga untuk
menentukan locus delicti harus merujuk kembali kepada perbuatan pelaku.

Berdasarkan kedua doktrin diatas, maka kami selaku Penuntut


Umum dalam perkara a quo telah memilih Pengadilan Negeri Tindak Pidana
Korupsi pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat sebagai Pengadilan Negeri
yang memiliki wewenang untuk memeriksa dan memutus perkara a quo,
dikarenakan berdasarkan Surat Dakwaan yang kami susun telah jelas
perbuatan tindak pidana korupsi termasuk ke dalam yurisdiksi Pengadilan
Negeri Jakarta Pusat.

Dalam Surat Dakwaan telah kami uraikan bahwa pada tanggal 22


Januari 2015, bertempat di Star Caffe & Lounge Hotel Indah Permai, Jakarta
Pusat, Terdakwa melakukan pertemuan dengan Roy Fahmi, Junifar Ridwan
Pratama, Indra Maulana, David Monang Trinata, Jaka Hananta, dan Steven
Suherman dimana dalam pertemuan tersebut Terdakwa menyampaikan
rencananya untuk memanfaatkan pengadaan alat kesehatan yang diadakan
oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (vide, Surat Dakwaan
halaman 4 dari 36). Selanjutnya pada tanggal 24 Januari 2015 bertempat di
tempat yang sama, Terdakwa bertemu Jaka Hananta selaku PPK dan David
Monang Trinata selaku Ketua ULP, untuk menyerahkan sebuah USB dengan
merek Kingston berisi daftar 7 jenis alat kesehatan untuk dijadikan dasar
penentuan HPS dalam pelelangan (vide, Surat Dakwaan halaman 7 dari 36)
dan pada tanggal 1 Maret 2015 Terdakwa ketika berada di rumah
kediamannya (red:Jakarta) mengirimkan Surat Pemesanan alat-alat kesehatan
yang sudah diturunkan spesifikasinya melalui e-mail kepada Roy Fahmi
(vide, Surat Dakwaan halaman 12 dari 36).

Halaman 7 dari 10 Pendapat Atas Keberatan Penasihat Hukum Terdakwa Ir. Erlangga
Adisoemarta dengan Nomor Register Perkara: 70/Pid.Sus-TPK/2017/PN Jkt.Pst
Berdasarkan uraian perbuatan Terdakwa di atas dan sesuai dengan
kewenangan kami yang dicantumkan dalam Pasal 137 KUHAP, yang
menyatakan untuk menuntut seseorang atas dugaan melakukan tindak
pidana, dan melimpahkan berkas perkara tersebut ke Pengadilan Negeri
yang berwenang untuk mengadili, maka kami selaku Penuntut Umum telah
tepat melimpahkan pemeriksaan perkara ini ke Pengadilan Tindak Pidana
Korupsi pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat sebagai pengadilan yang
berwenang memeriksa dan mengadili perkara a quo.

Dengan demikian, Keberatan Penasihat Hukum Terdakwa terkait


dengan Pengadilan Negeri Semarang yang memiliki wewenang untuk
memutus dan memeriksa dalam perkara a quo tidak terbukti. Maka sudah
selayaknya Keberatan Penasihat Hukum Terdakwa mengenai Kewenangan
Relatif Tidak Dapat Diterima.

B. SURAT DAKWAAN BATAL DEMI HUKUM

Sebelum masuk ke poin Keberatan Penasihat Hukum Terdakwa


mengenai Surat Dakwaan Batal Demi Hukum, perlu kami tegaskan kepada
saudara Penasihat Hukum bahwa Surat Dakwaan yang kami susun ini
didasarkan pada rangkaian perpaduan fakta-fakta perbuatan yang ditemukan
dari hasil penyidikan sebagaimana telah diamanatkan oleh Pasal 140 ayat (1)
KUHAP yaitu: Dalam hal penuntut umum berpendapat bahwa dari hasil penyidikan
dapat dilakukan penuntutan, ia dalam waktu secepatnya membuat surat dakwaan.

Sejatinya Penasihat Hukum Terdakwa perlu mengevaluasi ulang materi


Keberatan yang disampaikan karena sesungguhnya materi Keberatan yang
disuguhkan oleh Penasihat Hukum Terdakwa tidak memiliki dasar yang kuat,
hal ini menunjukkan ketidakmampuan saudara Penasihat Hukum dalam
mendampingi hak Terdakwa.

1. Penuntut Umum Tidak Cermat dalam Mendakwakan Pasal 2 ayat


(1) pada Perkara A Quo.

Untuk menjawab poin kedua Keberatan Penasihat Hukum


Terdakwa, terlebih dahulu akan kami jelaskan bahwa dalam perkara a quo,
Surat Dakwaan telah kami susun secara cermat, dengan alasan sebagai
berikut:

Halaman 8 dari 10 Pendapat Atas Keberatan Penasihat Hukum Terdakwa Ir. Erlangga
Adisoemarta dengan Nomor Register Perkara: 70/Pid.Sus-TPK/2017/PN Jkt.Pst
Dalam pembuatan Surat Dakwaan, kami selaku Penuntut Umum
telah mengarah pada apa yang diamanatkan dalam Surat Edaran Jaksa
Agung Republik Indonesia Nomor : SE-004/J.A/11/1993 dimana disebutkan
pengertian dari cermat, yaitu:

Uraian secara cermat, berarti menuntut ketelitian Jaksa Penuntut


Umum agar bersikap korek dan teliti dalam mempersiapan Surat
Dakwaan yang akan diterapkan bagi Terdakwa;

Penempatan kata "cermat" dari rumusan Pasal 143 ayat (2) huruf b
KUHAP dicantumkan di depan kalimat yang dilakukan oleh pembuat
Undang-Undang dengan maksud agar Penuntut Umum dalam membuat
Surat Dakwaan selalu bersikap berhati-hati dan teliti. Lebih lanjut, dalam
menerapkan pasal yang didakwakan kami tidak serta-merta mendakwakan
Terdakwa tanpa alasan yang kuat. Dengan berdasarkan pada hasil
penyidikan yang telah kami lakukan, ditemukan fakta bahwa terdapat
indikasi yang kuat bahwa Terdakwa telah melakukan tindak pidana korupsi
pada Pengadaan Alat Kesehatan Pada Rumah Sakit Umum Daerah sehingga
atas dasar itulah kami menarik Terdakwa ke ranah pengadilan. Selain itu,
kami selaku Penuntut Umum melaksanakan setiap amanat dari Undang-
Undang sehingga memeriksa hasil penyidikan yang tertuang dalam Pasal
139 KUHAP merupakan bagian tugas kami lalu menentukan kelayakannya
untuk diajukan ke pengadilan.

Masuk kedalam poin Keberatan saudara Penasihat Hukum, dalam


dalil Keberatannya Penasihat Hukum Terdakwa menyampaikan bahwa
penerapan Pasal dalam Surat Dakwaan yang telah kami buat adalah Tidak
Cermat dikarenakan perbuatan Terdakwa yang memberikan sejumlah uang
kepada David Monang Trinata selaku Ketua ULP merupakan perbuatan
yang menggambarkan unsur dari Pasal 5 UU TIPIKOR dan bukan Pasal 2
ayat (1) TIPIKOR. Hal ini terlihat dari pokok Keberatan poin kedua yang
disampaikan oleh saudara Penasihat Hukum, yang menyatakan bahwa:

Saudara Penuntut Umum telah salah apabila mengkualifikasikan


perbuatan Terdakwa sesuai dengan Pasal 2 ayat (1) UU TIPIKOR.
Sejatinya, uraian perbuatan Terdakwa sebagaimana yang dituduhkan
Penuntut Umum dalam Surat Dakwaan lebih mencerminkan perbuatan
sesuai Pasal 5 UU TIPIKOR.

Perlu diketahui oleh saudara Penasihat Hukum bahwa menurut Roni


Wiyanto dalam bukunya Asas-asas Hukum Pidana Indonesia, halaman 43
menyatakan bahwa:

Halaman 9 dari 10 Pendapat Atas Keberatan Penasihat Hukum Terdakwa Ir. Erlangga
Adisoemarta dengan Nomor Register Perkara: 70/Pid.Sus-TPK/2017/PN Jkt.Pst
tindak pidana selalu terdiri atas unsur-unsur perbuatan atau
rangkaian perbuatan manusia yang bertentangan dengan undang-
undang atau peraturan-peraturan lainnya, terhadap pada pasal mana
yang harus ditegakkan harus melihat pada seluruh perbuatan pelaku

Apabila mengacu pada doktrin di atas dan Surat Dakwaan yang telah
kami buat, tindak pidana yang terjadi dalam perkara a quo merupakan suatu
tindak pidana yang terdiri atas beberapa tindakan yang dilakukan, sehingga
terhadap pasal yang harus diterapkan tidak dapat dilihat dari satu perbuatan
saja. Uraian tindakan memberikan sejumlah uang oleh Terdakwa kepada
David Monang Trinata selaku Ketua ULP untuk tidak menilai kualifikasi
dan evaluasi penawaran harga merupakan salah satu perbuatan yang
dilakukan oleh Terdakwa untuk mewujudkan rencananya dalam mengambil
sebagian uang negara untuk memperkaya dirinya serta para turut serta
sebagaimana perbuatan tersebut telah diatur dalam Pasal 2 Ayat (1) UU
TIPIKOR atau Pasal 3 UU TIPIKOR.

Dengan segala kerendahan hati, harus kami sampaikan


ketidaksepakatan kami terhadap pola berpikir saudara Penasihat Hukum.
Penasihat Hukum Terdakwa dalam hal ini nampaknya kurang teliti dalam
membaca uraian perbuatan Terdakwa dalam Surat Dakwaan yang telah
kami susun, sehingga berakibat pada kurang dipahaminya muatan Surat
Dakwaan serta terlalu cepat menyimpulkan bahwa kami keliru dalam
mengkualifikasikan pasal terhadap serangkaian perbuatan Terdakwa
tersebut.

Apabila memang benar saudara Penasihat Hukum telah membaca


Surat Dakwaan yang kami buat, maka seharusnya Penasihat Hukum
Terdakwa mengetahui bahwa tindakan pemberian uang yang dilakukan
oleh Terdakwa terhadap Ketua ULP yang mana dalam hal ini adalah
saudara David Monang Trinata, merupakan bentuk pembagian keuntungan
yang akan diberikan setelah rencana Terdakwa terealisasikan. Hal ini dapat
dilihat dalam Surat Dakwaan halaman 4-5 dimana terdapat pembagian
tugas dalam tindak pidana perkara a quo. Terdakwa menginstruksikan
David Monang Trinata untuk menunjuk PT Adisoemarta Tbk menjadi
pemenang lelang tanpa mengindahkan hasil evaluasi PT Yabes Asenav
Farma Tbk (vide, Surat Dakwaan halaman 8 dari 36). Oleh karena David
Monang Trinata telah melakukan apa yang ditugaskan oleh Terdakwa (vide,
Surat Dakwaan halaman 8 dari 36), maka David Monang Trinata menerima
sebagian hasil tindak pidana korupsi yang sudah dijanjikan pada awal
pertemuan dengan Terdakwa (vide, Surat Dakwaan halaman 16-17 dari 36).
Halaman 10 dari 10 Pendapat Atas Keberatan Penasihat Hukum Terdakwa Ir. Erlangga
Adisoemarta dengan Nomor Register Perkara: 70/Pid.Sus-TPK/2017/PN Jkt.Pst
Dengan demikian, berdasarkan penjelasan di atas dan dengan
berdasar pada hasil penyidikan yang kami lakukan, Terdakwa tidak hanya
melakukan satu perbuatan saja, namun Terdakwa melakukan suatu
rangkaian perbuatan yang ketika delik tersebut telah terselesaikan akan
bermuara pada adanya indikasi keuangan negara (vide, Surat Dakwaan
halaman 18 dari 36) yang mana hal tersebut tidak diakomodir dalam Pasal 5
UU TIPIKOR sehingga kami selaku Penuntut Umum telah tepat
mendakwakan Terdakwa dengan Pasal 2 ayat (1) UU TIPIKOR atau Pasal 3
UU TIPIKOR yang mengakomodir unsur kerugian keuangan negara dan
unsur-unsurnya telah tergambarkan pada Surat Dakwaan yang kami buat.
Maka, kami selaku Penuntut Umum tetap yakin pada Surat Dakwaan yang
telah kami susun dengan cermat, jelas, dan lengkap, sehingga materi
Keberatan mengenai kekeliruan menerapkan pasal yang dinyatakan oleh
Penasihat Hukum Terdakwa tidak beralasan dan sudah selayaknya Tidak
Dapat Diterima.

Halaman 11 dari 10 Pendapat Atas Keberatan Penasihat Hukum Terdakwa Ir. Erlangga
Adisoemarta dengan Nomor Register Perkara: 70/Pid.Sus-TPK/2017/PN Jkt.Pst
KESIMPULAN

Majelis Hakim yang Mulia,


Saudara Penasihat Hukum yang Kami Hormati.

Berdasarkan Pendapat yang telah kami uraikan diatas, maka kami selaku
Penuntut Umum memohon agar Majelis Hakim yang memeriksa dan mengadili
perkara ini untuk:

1. Menyatakan seluruh Keberatan Penasihat Hukum Terdakwa Tidak


Dapat Diterima;
2. Menyatakan Surat Dakwaan Nomor Register Perkara: DAK-
06/24/08/2017 tertanggal 9 Agustus 2017 telah memenuhi persyaratan
formil maupun materiil sesuai dengan Pasal 143 ayat (2) huruf (a) dan
huruf (b) KUHAP dan secara hukum Surat Dakwaan telah sah untuk
dijadikan sebagai dasar memeriksa dan mengadili perkara atas nama
Terdakwa Ir. Erlangga Adisoemarta; dan
3. Menetapkan pemeriksaan perkara atas nama Terdakwa Ir. Erlangga
Adisoemarta, tetap dilanjutkan.

Demikian Pendapat kami atas Keberatan Penasihat Hukum Terdakwa kami


bacakan dan ajukan di persidangan yang mulia ini, besar harapan kami pada
kearifan Majelis Hakim untuk dapat memberikan suatu keputusan yang bijaksana
demi tercapainya keadilan yang hakiki.

Jakarta, 18 Agustus 2017

PENUNTUT UMUM
PADA KOMISI PEMBERANTASAN
KORUPSI

Silvy Permatasari S.H., M.H., Abisatya Narendra S.H., M.H.,

Halaman 12 dari 10 Pendapat Atas Keberatan Penasihat Hukum Terdakwa Ir. Erlangga
Adisoemarta dengan Nomor Register Perkara: 70/Pid.Sus-TPK/2017/PN Jkt.Pst