Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTIKUM

IMUNOLOGI

PERCOBAAN III

PEMERIKSAAN TB

NAMA :CHIKA PRATIWI

NIM :A201401004

KELOMPOK :I (SATU)

DOSEN :ROLLY ISWANTO, AMAK.,S.ST

PROGRAM STUDI D-IV ANALIS KESEHATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN

MANDALA WALUYA

KENDARI

2017
BAB I

PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang
Tuberkulosis (TB) adalah penyakit infeksi yang bersifat kronik dan
menular langsung yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. M.
tuberculosis dapat menyerang paru, tetapi dapat juga mengenai organ tubuh
lainnya. Penularan penyakit ini umumnya melalui perantaraan ludah atau dahak
penderita yang mengandung basil TB.
TB merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting di dunia
menurut laporan WHO tahun 2004 menyebutkan bahwa terdapat 8,8 juta kasus
baru TB dan 3.9 juta kasus BTA positif. Kasus TB dengan BTA positif di
Indonesia sebanyak 557.000 oraNG. Laporan update singkat WHO global TB
pada tahun 2009 menyatakan bahwa pada tahun 2008 terdapat sekitar 8.9-9.9 juta
insiden kasus baru dengan kasus kematian akibat TB diantara orang HIV-negatif
sekitar 1.1-1.7 juta dan 0.45-0.62 juta akibat HIV-positif. Penyakit ini menyerang
semua golongan umur dan jenis kelamin. Profil Kesehatan Indonesia tahun 2008
menggambarkan presentase penderita TB terbesar adalah usia 25 34 tahun
(23,67%), diikuti 35 44 tahun (20,32%), 15 24 tahun (18,08%), 45 54 tahun
(17,48%), lebih dari 65 tahun (6,68%) dan yang terendah adalah 0 14 tahun
(1,31%).
Diagnosis TB paru ditegakkan melalui pendekatan klinis, radiologis,
mikroskopis dan kultur kuman M. tuberculosis dimana pemeriksaan kultur masih
menjadi baku emas diagnostik TB. Pada program penanggulangan TB dengan
strategi Directly Observed Treatment Shortcourse Chemotherapy (DOTS)
pemeriksaan mikroskopik merupakan metode standar yang dianjurkan. Berbagai
macam jenis tes laboratorium yang digunakan untuk pemeriksaan TB yang terdiri
dari Tes Mikrobiologi seperti tes seluler (Tes BTA sputum, tes biakan dan tes
kepekaan Antibiotik), tes molekuler dan tes serologis (semirapid dan rapid).
Sekarang ini upaya pengembangan pemeriksaan yang handal, cepat dan
murah masih terus dikembangkan seperti pemeriksaan serologis dengan berbagai
metode seperti tes semirapid (ELISA, TB-Dot) dan tes rapid (Mycodot, Rapid Tes
TB). Rapid Tes TB merupakan pemeriksaan serologis yang menggunakan prinsip
Immunochomatography yang mendeteksi antibodi terhadap TB di dalam serum
atau plasma secara kualitatif dengan tingkat sensitifitas 99,2% dan spesifitas
100%. Pemeriksaan ini memiliki kelebihan yaitu dapat mendeteksi dini dan cepat
Antibodi spesifik TB, sampel mudah diperoleh terutama pada anak anak, dan
pengerjaannya mudah.

1.2.Tujuan percobaan
Untuk melakukan pemeriksaan laboratorium Tuberculosis dengan
menggunakan metode Immunokromatografi
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi Tuberkulosis


Penyakit tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular langsung yang
disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Sebagian besar bakteri TB
menyerang paru-paru tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya.

2.2. Mycobacterium tuberculosis


Mycobacterium tuberculosis adalah sejenis bakteri berbentuk batang tipis,
lurus atau agak bengkok, bergranula atau tidak mempunyai selubung, tetapi
mempunyai lapisan luar tebal yang terdiri dari lipid (terutama asam mikolat)
berukuran kira - kira 0,5 4 um x 0,3 - 0,6 um.
Bakteri ini mempunyai sifat istimewa, yaitu dapat bertahan terhadap
pencucian warna dengan asam alkohol, sehingga sering disebut basil tahan asam
(BTA), serta tahan terhadap zat kimia dan fisik. Kuman tuberkulosis juga tahan
dalam keadaan kering dan dingin, bersifat dorman atau aerob.
Bakteri tuberkulosis ini mati pada pemanasan 100C selama 5-10 menit
atau pada pemanasan 60C selama 30 menit, dan dengan alkohol 70 - 95% selama
15-30 detik. Bakteri ini tahan selama 1 2 jam di udara terutama di tempat
lembab dan gelap (bisa berbulan - bulan), namun tidak tahan terhadap sinar
matahari langsung.

2.3. Patogenesis
Tuberkulosis primer terjadi pada individu yang terpapar pertama kali
dengan bakteri tuberkulosis, sedangkan tuberkulosis paru kronik (reaktivasi atau
pasca primer) adalah hasil reaktivasi infeksi tuberkulosis pada suatu fokus
dormant yang terjadi beberapa tahun lalu.
Organ tubuh yang paling banyak diserang tuberkulosis adalah paru.
Beberapa penelitian menunjukkan adanya kenaikan limfosit alveolar, netrofil pada
sel bronko alveolar pada pasien tuberkulosis paru. Patogenesis tuberkulosis
dimulai dari masuknya bakteri sampai timbulnya berbagai gejala klinis yang
digambarkan sebagai berikut:

Infeksi biasanya terjadi melalui debu atau titik cairan (droplet) yang
mengandung bakteri tuberkulosis. Bakteri yang berhasil masuk melalui inhalasi
akan berkembang biak dengan cara membelah diri dan selanjutnya akan terjadi
peradangan pada jaringan terinfeksi. Saluran limfe akan membawa
Mycobacterium tuberculosis ke kelenjar limfe disekitar hilus paru, selanjutnya
bakteri akan menetap dan berkembang biak dalam paru, kelenjar limfe atau organ
lain. Perkembangan penyakit ditentukan oleh jumlah bakteri yang masuk dan daya
tahan serta hipersensitivitas hospes.
Pada sebagian orang dengan sistem imun yang baik, bentuk ini akan tetap
dormant sepanjang hidupnya. Sedangkan pada orang-orang dengan sistem
kekebalan tubuh yang kurang, bakteri ini akan mengalami perkembangbiakan
sehingga tuberkel bertambah banyak. Tuberkel yang banyak ini membentuk
sebuah ruang di dalam paru - paru. Ruangan ini nantinya akan menjadi sumber
produksi sputum (dahak). Masa inkubasinya selama 3 6 bulan.

2.5. Tuberkulosis Paru Serta Respon Imun


Bakteri Mycobacterium Tuberculosis masuk ke dalam tubuh manusia
melalui saluran napas, bakteri tuberkulosis yang masuk kedalam tubuh akan
difagositosis oleh netrofil dan makrofag. Bakteri tidak mati di dalam netrofil
karena netrofil tidak mampu menghancurkan selubung lipid dinding bakteri,
bahkan tumbuh baik di dalamnya. Bakteri tersebut akan segera keluar lagi dan
masuk lebih dalam kemudian di fagosit oleh makrofag alveolar, selanjutnya
makrofag akan melakukan 3 fungsi penting, yaitu:
1. Menghasilkan enzim yang mempunyai efek bakterisidal
2. Menghasilkan mediator terlarut (sitokin) sebagai respon terhadap
Mycobacterium tuberculosis berupa IL-1, IL-6, TNF-a (Tumor Necrosis
Factor Alfa), dan TGF-(3 (Transforming Growth Factor Beta)
3. Memproses dan mempresentasikan antigen mikobakterial pada limfosit
Bakteri tuberkulosis di dalam makrofag mengalami endositosis dan
selanjutnya masuk kedalam sitoplasma membentuk kantong (fagosom). Fagosom
akan mengadakan fusi dengan lisosom membentuk fagolisosom yang
mengandung enzim-enzim proteinase dan hidrolase sehingga dapat
menghancurkan lapisan peptidoglikan dinding sel bakteri-bakteri tuberkulosis.
Bakteri tuberkulosis mempunyai kemampuan menghalangi fusi tersebut sehingga
tidak terbentuk fagolisosom dan bakteri tetap dapat bertahan hidup dalam
makrofag.
Bila makrofag tidak mampu membunuh bakteri, maka bakteri-bakteri
tuberkulosis tersebut akan tumbuh dalam makrofag dan berakhir dengan kematian
makrofag. Selanjutnya bakteri-bakteri tuberkulosis tersebut akan keluar dari
makrofag dan difagositosis oleh makrofag-makrofag yang lain.
Perjalanan imunologis dimulai ketika makrofag bertemu dengan bakteri
tuberkulosis, memprosesnya lalu menyajikan antigen kepada limfosit. Dalam
keadaan normal, makrofag yang telah memfagosit bakteri tuberkulosis akan
melepaskan interleukin-1 (IL-1) yang akan merangsang limfosit T. Limfosit T
akan melepaskan interleukin-2 (IL-2) yang selanjutnya merangsang makrofag
agar lebih aktif dalam membunuh bakteri dan limfosit T lain untuk
memperbanyak diri, matang dan memberi respon lebih baik terhadap antigen.
Sel limfosit T adalah mediator utama pertahanan imun melawan
Mycobacterium tuberculosis. Secara imunofenotipik sel limfosit T terdiri dari
limfosit T helper, disebut juga clusters of differentiation 4 (CD4) karena
mempunyai molekul CD4+ pada permukaannya. Sel T helper (CD4)
berproliferasi dan berdiferensiasi menjadi sel T helper 1 (Th1) dan sel helper 2
(Th2). Sel limfosit T tidak dapat dibedakan secara morfologrk tetapi dapat
dibedakan dari perbedaan sitokin yang diproduksinya atau dengan flowcytometry
yang menggunakan antibodi monoklonal berlabel fluoresen dapat juga untuk
membedakan limfosit T dan B. Sel Th1 membuat dan membebaskan sitokin tipe 1
meliputi IL-2, IL-12, IFN-y dan tumor nekrosis factor alfa (TNF-). Sitokin yang
dibebaskan oleh Th1 adalah aktivator yang efektif untuk membangkitkan respon
imun seluler. Sel Th2 membuat dan membebaskan sitokin tipe 2 antara lain IL-4,
IL-5, IL-6, dan IL-10. Sitokin tipe 2 menghambat proliferasi sel Th1, sebaliknya
sitokin tipe 1 menghambat produksi dan pembebasan sitokin tipe 2.
Berdasarkan fungsinya sel T CD4+, sel Th1 menghasilkan IFN-y, IL-2 dan
lainnya yang berfungsi meningkatkan aktivitas mikrobisidal makrofag serta
menimbulkan hipersensitifitas tipe lambat. Sedangkan sel Th2 menghasilkan IL-4,
IL-5, IL-6 dan IL-10 yang berfungsi merangsang deferensiasi dan pertumbuhan
sel limfosit B.
Sel Th2 yang memproduksi sitokin akan mengaktifkan sel limfosit B untuk
berproliferasi dan berdiferensiasi menjadi sel plasma yang akan mengeluarkan
antibodi yang spesifik terhadap bakteri Mycobacterium tuberculosis. Sitokin yang
dihasilkan makrofag mempunyai potensi untuk menekan efek imunoregulator dan
menyebabkan manifestasi klinis terhadap tuberkulosis. lnterleukin-1 (IL-1) selain
dapat merangsang sel limfosit T juga merupakan penyebab demam sebagai
karakteristik tuberkulosis. lnterleukin-6 (IL-6) akan meningkatkan produksi
immunoglobulin oleh sel B yang teraktivasi. TGF- berfungsi sama dengan IFN-
y untuk membunuh bakteri serta diperlukan untuk pembentukan granuloma dalam
mengatasi infeksi mikobakteria. Selain itu TNF- juga dapat menyebabkan efek
seperti demam dan nekrosis jaringan yang merupakan ciri khas tuberkulosis.
Fungsi dari granuloma yaitu memblokade atau memagari infeksi untuk
mencegah penyebaran bakteri tuberkulosis ke bagian lain dari paru atau organ lain
dan untuk memfokuskan respon imun langsung pada tempat infeksi
Antibodi atau Immunoglobulin merupakan substansi pertama yang
diidentifikasi sebagai molekul dalam serum yang mampu menetralkan sejumlah
mikroorganisme penyebab infeksi. Molekul disintesis oleh sel B dalam 2 bentuk
yang berbeda, yaitu sebagai reseptor permukaan (untuk mengikat antigen), dan
sebagai antibodi yang disekresikan ke dalam cairan ektraseluler.
Immunoglobulin terdiri atas molekul-molekul protein yang walaupun satu
dengan lain memiliki banyak persamaan dalam hal struktur dan sifat biologik,
berbeda dalam susunan asam amino yang membentuk molekul, sesuai kelas dan
fungsinya. Antibodi yang dibentuk sebagai reaksi terhadap salah satu jenis antigen
mempunyai susunan asam amino yang berbeda dengan antibodi yang dibentuk
terhadap antigen lain, dan masing-masing hanya dapat berikatan dengan antigen
yang relevan. Sifat inilah yang disebut spesifisitas antibodi.
Immunoglobulin merupakan molekul glikoprotein yang terdiri atas
komponen polipeptida sebanyak 82 - 96 % dan selebihnya karbohidrat. Fungsi
utama dalam respon imun adalah mengikat dan menghancurkan antigen.
Opsonisasi antigen oleh immunoglobulin sehingga meningkatkan fagositosis,
memudahkan Antigen Precenting Cell (makrofag) memproses dan menyajikan
antigen ke sel limfosit T.
Hingga sekarang Ig dikenal dalam 5 kelas utama dalam serum manusia,
yaitu IgG, IgA, IgM, IgD dan IgE. Klasifikasi ini didasarkan atas perbedaan
dalam struktur kimia yang mengakibatkan perbedaan dalam sifat biologik maupun
sifat fisika immunoglobulin. Di laboratorium, kelas immunoglobulin ini
ditentukan berdasarkan sifat migrasi masing-masing pada elektroforesis dan sifat-
sifat serologik.
Antibodi yang pertama kali diproduksi oleh tubuh yaitu IgM yang
selanjutnya diikuti oleh IgG dan IgA. orang dengan kasus telah mendapat vaksin
akan mengalami pembentukan IgM lebih cepat dan diikuti dengan kenaikan IgG
dan IgA lebih cepat pula.
Berdasarkan struktur molekulnya, antibodi digolongkan pada golongan
protein globuler; yaitu protein berbentuk bulat atau elips dengan rantai polipeptida
yang berlipat. Umumnya, protein globular larut dalam air, asam, basa, atau etanol.
Protein sangat peka terhadap pengaruh-pengaruh fisik dan zat kimia,
sehingga mudah mengalami perubahan bentuk. Perubahan pada struktur molekul
protein disebut denaturasi. Hal-hal yang dapat menyebabkan terjadinya
denaturasi adalah: panas, pH, dan adanya bahan kimia seperti alkohol atau sabun.
Proses denaturasi dapat berlangsung secara reversibel, tetapi ada pula yang
irreversibel, tergantung pada penyebabnya. Protein yang mengalami denaturasi
akan menurunkan aktivitas biologinya dan berkurang kelarutannya.
BAB III

METODOLOGI

3.1.Waktu dan Tempat


Praktikum Imunologi Pemeriksaan TB dilakukan pada hari Rabu,
tanggal 20 Juni 2017 pukul 09.00 WITA sampai selesai bertempat di
Laboratorium Klinik Terpadu Stikes Mandala Waluya Kendari.

3.2.Prosedur Kerja
a. Pra analitik
1. Prinsip: Rapid Test TB Cassette menggunakan prinsip
Immunokromatografi yang mendeteksi antibody TB dalam
serum/plasma manusia. Tes ini menngunakan konjugat
gold colloidal particle yang bergerak menuju area tes yang
telah dilapisi beberapa antigen TB rekombinasi 38 kDa, 16
kDa, dan 6 kD begitu sampel diteteskan kedalam sumur
sampel. Bila sampel pasien yang diperiksa berwarna
merah muda atau ungu diarea garis tes (T). Sisa dari
kompleks yang tidak terikat dengan antibodi TB tersebut
akan terus bergerak kearah area kontrol (C) sehingga
terbentuk garis warna merah muda atau ungu di area
kontrol.
2. Metode : Immunochromatography Assay
3. Persiapan sampel : Tidak ada persiapan khusus
4. Alat dan bahan : -tes cassete TB
-serum/plasma
b. Analitik
1. Kit dan serum/plasma disiapkan diatas meja yang bersih dan kering
2. kemudian pipet serum/plasma sebanyak 100 l
3. dimasukkan kedalam sumur aplikasi
4. setelah itu tunggu selama 15 menit kemudian baca hasil tes.
c. Pasca Analitik
1. Positif : Tampak 2 garis warna merah di area test (T) dan area kontrol
(C).
2. Grey Zona : Tampak 1 garis halus di garis test (T) dan 1 garis merah
tepat di garis kontrol (C).
3. Negatif : Hanya tampak 1 garis warna merah di area kontrol (C).
4. Invalid : Tidak tampak garis di area kontrol (C).
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1.Hasil Pengamatan

4.2.Pembahasan
Salah satu dari sekian banyak tes atau pemeriksaan yang menggunakan
metode immunokromatografi, yang banyak beredar di pasaran dan digunakan di
laboratorium kesehatan adalah pemeriksaan dengan menggunakan Rapid Test TB
Cassette (Fokus Diagnostik) Perangkat diagnostik Rapid Test TB Cassette (Fokus
Diagnostik) adalah tes secara imunokromatografi untuk mendeteksi antibodi
terhadap tuberkulosis aktif dalam serum atau plasma manusia secara kualitatif.
Penggunaan beberapa antigen recombinan memungkinkan pengikatan semua
isotypes antibodi terhadap tuberkulosis, sehingga tes ini dapat digunakan untuk
mendeteksi tuberkulosis paru dan juga di luar paru.
Tes ini menggunakan konjugat gold colloidal particle yang akan bergerak
menuju area tes yang telah dilapisi beberapa antigen tuberkulosis rekombinan (38
kDa, 16 kDa, dan 6 kDa). Jika sampel penderita yang diperiksa mengandung
antibodi terhadap tuberkulosis, maka akan terbentuk garis berwarna merah muda
atau ungu pada area tes (T), sisa dari kompleks yang tidak terikat dengan antibodi
tuberkulosis tersebut akan terus bergerak ke arah area kontrol (C) sehingga
terbentuk garis berwarna merah muda atau ungu di area kontrol (C). Hal tersebut
menandakan bahwa tes bereaksi dengan baik.
Perangkat diagnostik Rapid Test TB Cassette (Fokus Diagnostik) akan
tetap stabil pada suhu 4 - 30C (36 - 86F), jika kemasannya belum dibuka. Tes
dapat digunakan sampai batas kadaluarsa yang tertera pada etiket kemasannya.
Penyimpanan di freezer (dalam keadaan beku), atau pada suhu terlalu panas
sangat tidak dianjurkan.
Rapid Test TB Cassette (Fokus Diagnostik) memerlukan serum atau
plasma manusia sebagai sampel. Serum atau plasma yang segar akan memberikan
hasil yang terbaik. Serum atau plasma dapat disimpan sampai 3 hari pada suhu 2 -
8C (36 - 46F), penyimpanan serum dapat dilakukan pada suhu - 20C atau lebih
bila pengetesan tidak memungkinkan dilakukan dalam waktu 3 hari. Pemeriksaan
antibodi tuberkulosis dengan Rapid Test TB Cassette (Fokus Diagnostik) telah
melewati penelitian menurut standar panel referensi dari WHO yang
menunjukkan hasil sensitivitas 99,2% dan spesifisitas 100%.
Pada hasil pemeriksaan menunjukaan hasil negatif (-) pada rapid Tes TB,
kejadian tersebut diindikasikan bahwa tubuh tidak memberikan respon imun
sebagai wujud perlawanan tubuh terhadap serangan bakteri sehingga ketika tubuh
terinfeksi oleh M. tuberculosis secara spontan sitokin diproduksi untuk
mengaktifkan sel B untuk memproduksi antibodi, sehingga pada pemeriksaan
serologis kuman tersebut tidak dapat terdeteksi dan menunjukkan hasil negatif
pada rapid tes TB.
Berdasarkan literatur dimana M. tuberculosis menyebar dari organ ke
organ melalui rute aerosol, dimana paru merupakan tempat infeksi pertama.
Bakteri yang berasal dari percikan batuk penderita TB menyebar dan terhirup oleh
orang sehat kemudian masuk ke paru-paru dan mengalami diingesti oleh
makrofag, Namun bakteri M. tuberculosis dapat lolos dari fagolisosom untuk
kemudian bermultiiplikasi dalam sitoplasma. Selanjutnya terjadi pelepasan sitokin
membentuk antibodi sebagai respon tubuh terhadap benda asing yang masuk, jika
makrofag teraktivasi maka M. tuberculosis berhenti tumbuh dan akan terjadi
supresi imun lebih lanjut yang menyebabkan reaktivasi penyakit. Bakteri yang
tidak mengalami reaktivasi akan terus membentuk granula dalam proses perkijuan
menyebabkan terjadi respon imun yang hebat yang menyebabkan destruksi
jaringan setempat dan efek sistemik yang diperantarai oleh sitokin (demam dan
penurunan berat badan). Bakteri yang mengalami leukefaksi ada yang menyebar
kealiran darah dan ada yang dilepaskan kedalam bronkus membentuk tuberkel.
Seseorang dengan sistem kekebalan tubuh rendah menyebabkan bakteri
berkembangbiak dengan baik sehingga tuberkel bertambah banyak. Tuberkel yang
banyak ini akan membentuk sebuah ruang didalam paru-paru yang menjadi
sumber produksi sputum (dahak) dan menyebabkan penderita batuk. Ketika
tuberkel pecah maka sputum yang mengandung antigen M. tuberculosis akan
terdeteksi dengan pewarnaan Ziehl Neelsen.
Pemeriksaan serologis dengan rapid tes TB merupakan pemeriksaan
dengan menggunakan prinsip Immunokromatografi yang mendeteksi adanya
antibodi didalam serum/plasma pasien. Pasien yang telah mendapat vaksin
Bacillus Calmette-Guerin (BCG) memungkinkan memberikan hasil positif pada
pemeriksaan serologis rapid tes TB atau dapat dikatakan memberikan hasil positif
palsu, dimana pada saat pemberian vaksin BCG tubuh pasien akan mengakifkan
sel limfosit T-CD4 helper (Th2). Sel Th2 yang telah aktif ini, akan memproduksi
sitokin yaitu IL4, IL5, IL10 yang dapat mengaktifkan sel limfosit B dalam bentuk
rangkaian reaksi biokimia dengan cepat melibatkan enzim tyrosin kinase dan
mengakibatkan reproduksi/ multiplikasi bentuk serupa serta memperbanyak diri
menjadi plasma yang akan mengeluarkan antibodi dan membentuk sel memori.
Antibodi yang pertama diproduksi yaitu IgM yang selanjutnya diikuti oleh IgG
dan IgA. Antibodi ini akan menmberikan signal pada makrofag atau sel fagosit
untuk menghancurkan bakteri tersebut dan mengakhiri infeksi.
Jika kadar immunoglobulin yang dihasilkan oleh sel plasma telah
mencukupi kebutuhan sehingga infeksi dapat diatasi, akan dikeluarkan signal
untuk sel T suppressor yang akan memproduksi sitokin yang dapat menekan sel
plasma sehingga produksi immunoglobulin dapat dikurangi atau tidak terjadi
produksi immunoglobulin yang berlebihan. Bila pasien tersebut terpapar kembali
oleh kuman Mycobaterium tuberculosis pathogen yang sama, maka dengan
adanya sel memori, akan terjadi respon imun sekunder, dengan pembentukan
antibodi kelas IgG yang terjadi lebih cepat (segera setelah IgM terbentuk) dan
dalam kadar yang jauh lebih tinggi daripada IgM pada respon imun primer. IgG
inilah yang akan berikatan dengan antigen yang ada pada bantalan konjugat dalam
alat rapid tes TB.
Dari hasil penelitian yang dilakukan terhadap pemeriksaan serologis
metode rapid tes TB, diperoleh hasil sesuai dengan yaitu memberikan hasil negatif
atau tidak terdapat antibodi terhadap bakteri M. Tuberculosis pada sampel pasien.
BAB V
PENUTUP
5.1.Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang dilakukan maka dapt disimpulkan bahwa
diperoleh hasil pemeriksaan TB pada sampel pasien yaitu Negatif ditandai dengan
tidak terdapat garis warna pada daerah Tes (T) hanya pada daerah Control (C).

5.2.Saran
Adapun saran yang dapat saya ajukan pada praktikum ini adalah
diharapkan kepada instruktur laboratorium agar hadir tepat waktu.
DAFTAR PUSTAKA

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2002. Pedoman Nasional


Penanggulangan Tuberkulosis ed.8. PPTI. Jakarta. hal. 9-36
Hardjoeno, Esa T, Nurhayana, dkk. 2007. Kumpulan Penyakit Infeksi dan Tes
Kultur Sensitivitas Kuman serta Upaya Pengendaliannya. Cahya Dinan
Rucitra. Makassar. hal. 251-329.
Crofton J, Norman H, Fred M. 2002. Tuberkulosis Klinis. Ed.2. Widya Medika.
Jakarta.
Misnadiarly. 2006. Pemeriksaan Laboratorium Tuberkulosis dan Mikobaktehum
Atipik. Dian Rakyat. Jakarta. hal. 70-83.
Jawetz, Melnick and Adelberg. 2006. Mikrobiologi Kedokteran. Ed. 20. Jakarta;
EGG; hal. 302-309
Sardjono E, Suradi, Eddy S.2008. Nilai Sensitivitas, Spesifitas Pemeriksaan
Serologis TB Dan Sputum BTA Mikroskopik Pada Klinis Tuberculosis
Paru. Jurnal tubekulosis Indonesia
Santoso M, Hanafi, Susana C. 2005. Pola Penyakit TB pada Pasien Rawat Inap
Di RSUD Koja. Majalah Kedokteran Fakultas Kedokteran Ukrida
World Health Organization. Global Tuberculosis Control. A short update the
2009 report
Widoyono. 2008. Penyakit Tropis Epidemologi, Penularan, Pencegahan Dan
Pemberantasannya. Penerbit Erlangga. Jakarta.
Retno dr. 2001. Diagnostik Serologik pada Tuberkulosis Paru. Jurnal llmu
Pendidikan
Hiswani. 2004. Tuberkulosis Merupakan Penyakit Infeksi yang Masih Menjadi
Masalah Kesehatan Masyarakat. Cermin Dunia Kedokteran; Vol. 3. hal.
8-12.
Todar K. 2008. Texbook Of Bacteriology.
Chatim A. 1994. Klasifikasi dan Taksonomi Kuman. Binarupa Aksara. Jakarta..