Anda di halaman 1dari 5

Bulughul Maram

Kitab Nikah
Ust. Khalid Basalamah

)
, ,
,
!
; (
1. Abdullah Ibnu Mas'ud Radliyallaahu 'anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam
bersabda pada kami: "Wahai generasi muda, barangsiapa di antara kamu telah mampu
berkeluarga hendaknya ia kawin, karena ia dapat menundukkan pandangan dan memelihara
kemaluan. Barangsiapa belum mampu hendaknya berpuasa, sebab ia dapat
mengendalikanmu." Muttafaq Alaihi1

a. Manfaat menikah:
- Lebih menundukkan pandangan
- Lebih memelihara kemaluan
- Dengan menikah, ia telah menyelamatkan setengah agamanya

Dari annas bin malik radhiyallahu anhu, nabi SAW bersbda, Siapa yang diberi
karunia oleh Allah seorang isteri yang sholehah, berarti Allah telah menolongnya
untuk menyempurnakan setengah agamanya. Karena itu, bertaqwalah kepada
Allah di setengah sisanya. (H.R. Baihaqi 1916)

Dalam riwayat lain, juga dari annas bin malik, Nabi SAW bersabda, ketika
seorang hamba menikah, berarti dia telah menyempurnakan setengah agamanya.
Maka bertaqwalah kepada Allah pada setengah sisanya.

- Merupakan solusi yang tepat dalam mencegah tersebarnya penyakit masyarakat,


yaitu perzinahan, pemerkosaan, sex bebas, dan sebagainya.

b. Gharibul Hadits (Istilah-Istilah Asing)

- , artinya sekelompok atau segenap orang yang memiliki sifat tertentu,


- : bentuk plural (jamak) dari Syab, artinya para pemuda.

1 Shohih, diriwayatkan oleh Abdur Razaq (10380), Al-Bukhori (1905), Muslim (1400), Abu Dawud (2046), At-
Tirmidzi (1081), ibnu Majah (1845), Ahmad (4013)
- Secara bahasa berarti jima' (bersenggama) kemudian dipakai untuk menyatakan
akad nikah.

- , artinya tameng. Orang yang berpuasa seolah-olah memiliki tameng yang


dapat melindungi dirinya.

c. Point-point yang menjadi tolak ukur menentukan pasangan:


- Melihat sesuatu yang menarik dari fisiknya
o Wajah mewakili kepala hingga perut
o Telapak tangan (punggung tangan) mewakili perut hingga kaki
- Mengenali keluarganya
o Ayah akan menurunkan fisik
o Ibu akan menurunkan sifat/ karakter
- Mengenali lingkungannya
o Seseorang seperti agama temannya
Agama seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah
kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya (HR. Ahmad 8065,
Abu dawud 4193 dan Tirmidzi 2300)
o Hadits tentang penjual minyak wangi (H.R. Bukhari 5534, Muslim 2628)
- Agama dan akhlaqnya
d. Ada pepatah ulama: seseorang digoda oleh syaitan di luar 10 kali lipat, maka ia akan
digoda dalam rumah 100 kali lipat
e. Rasulullah menggantungkan pahala yang besar dalam berhubungan biologis
sebagaimana digantungkannya dosa besar dalam berzina
Bagaimana sekiranya kalian meletakkannya (kemaluan) pada sesuatu yang
haram, bukankah kalian berdosa? Begitupun sebaliknya, bila kalian meletakkannya
pada tempat yang halal, maka kalian akan mendapatkan pahala (H.R. Muslim 1674,
Ahmad 20508).
f. Hukum menikah bagi setiap orang berbeda beda:
i. Wajib, bagi yang khawatir terjerumus ke dalam perbuatan dosa, sementara ia
mampu menikah.
ii. Haram, bagi yang belum mampu berjima' dan membahayakan kondisi
pasangannya jika menikah.
iii. Makruh, bagi yang belum membutuhkannya dan khawatir jika menikah justru
menjadikan kewajibannya terbengkalai.
iv. Sunnah, bagi yang memenuhi kriteria dalam hadits di atas sedangkan ia masih
mampu menjaga kesucian dirinya.
v. Mubah, bagi yang tidak memiliki pendorong maupun penghalang apapun untuk
menikah. Ia menikah bukan karena ingin mengamalkan sunnah melainkan
memenuhi kebutuhan bilogisnya semata, sementara ia tidak khawatir terjerumus
dalam kemaksiatan.
g. Barangsiapa yang membina anak perempuannya hingga ia menikah, maka baginya
syurga
Diriwayatkan dari sahabat Annas bin Malik r.a. dia berkata bahwa Rasulullah
SAW bersabda: barangsapa yang mengayomi dua anak perempuan hingga dewasa,
maka ia akan datang pada hari kiamat bersamaku (annas bin malik berkata: nabi
menggabungkan jari jemari beliau) (H.R Muslim 2631)
h. Tips mendidik anak:
i. Ajari anak perempuan menikah sedari kecil sepaya ketika ia membutuhkan lelaki ia
akan menikah bukan yang lain, misalnya pacaran
ii. Mengekang anak dengan tidak menjawab pertanyaan tabu yang ia ajukan akan
membuat ia mencari jawaban di tempat lain yang belum tentu baik
iii. Setelah menikah dianjurkan tidak tinggal seatap dengan orang tua/mertua. Jika
punya anak yang telah menikah, anjurkan ia untuk tinggal tidak seatap dengan kita.
iv. Jangan mengatur/mencampuri keluarga anak kita, biar menjadi tanggung jawab
suaminya. Namun, jika minta tolong, bantulah, jika minta saran, beri ia saran.
i. Jangan mengambil alih tugas malaikat roqib dan atid. Tidak perlu mencari-cari
kesalahan pasangan yang tidak kelihatan. Cek HP pasangan lah, dsb.

, , )



,
,
, :
(
2. Dari Anas Ibnu Malik Radliyallaahu 'anhu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam setelah
memuji Allah dan menyanjung-Nya bersabda: "Tetapi aku sholat, tidur, berpuasa, berbuka,
dan mengawini perempuan. Barangsiapa membenci sunnahku, ia tidak termasuk ummatku."
Muttafaq Alaihi.2

Imam Bukhari meriwayatkannya sebagai berikut:

Tiga orang mendatangi kediaman istri Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Mereka ingin
menanyakan tentang ibadah beliau. Setelah diberitahu, mereka menganggap remeh ibadah
tersebut. Mereka mengatakan, "Di mana posisi kita dibandingkan Rasulullah Shallallahu
'Alaihi Wasallam? Beliau telah diampuni dosa-dosanya yang telah lalu maupun yang akan
datang?". Salah seorang di antara mereka mengatakan, "Aku bertekad akan melakukan
shalat selamanya". Seorang yang lain menyahut, "Aku akan berpuasa selamanya tanpa
berbuka". Seorang lainnya menyambung, "Aku akan menjauhi wanita dan tidak akan
menikah selamanya".

2 diriwayatkan oleh
Lalu Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam datang, "Apakah kalian yang mengatakan
demikian dan demikian? Adapun aku, demi Allah, aku adalah manusia yang paling takut
kepada Allah dan paling bertakwa. Akan tetapi aku sholat dan tidur, berpuasa dan berbuka.
Aku menikahi wanita. Barangsiapa membenci sunnahku maka dia bukan termasuk di antara
ummatku".

a. Hadits tersebut memberikan motivasi bagi umat Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi
Wasallam untuk menikah. Hadits itu juga menunjukkan bahwa menikah merupakan
salah satu sunnah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, yaitu jalan ketaatan dan cara
mendekatkan diri kepada Allah yang benar sesuai syariat.

b. Menikah lebih utama daripada menyendiri untuk beribadah, karena menikah sendiri
merupakan salah satu bentuk ibadah. Ini merupakan pendapat mazhab Hanafiyah.
Adapun menurut Syafi'iyah, menyendiri untuk beribadah lebih utama daripada menikah.
Namun bagaimana pun, menikah merupakan amalan yang sangat mulia. Bersusah
payah dalam mencari nafkah untuk membiayai keluarga merupakan amalan yang terpuji
dan dapat mendatangkan pahala jika diniatkan untuk beribadah kepada Allah. Di
samping itu, menikah juga menjadi upaya dalam rangka menghasilkan keturunan shaleh
yang akan membangun peradaban umat.

c. Menyiksa diri dengan beribadah merupakan bid'ah. Islam mengajarkan keseimbangan


dalam beribadah. Memperbanyak tidak sama dengan menyiksa diri, karena
memperbanyak ibadah justru diperintahkan. Akan tetapi melakukan ibadah secara
berlebihan sehingga mengabaikan ibadah-ibadah lainnya itu yang dilarang.

d. Perintah mengikuti pola hidup orang-orang shaleh. Dan orang yang paling shaleh di
dunia ini adalah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, kemudian setelah itu para
ulama. Kehidupan orang-orang shaleh mencerminkan ajaran Islam yang benar sesuai
petunjuk Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam.

e. Tidak dibenarkan berlebih-lebihan dalam perkara yang pada asalnya diperbolehkan,


baik itu berlebih-lebihan dalam menggunakannya maupun meninggalkannya. Terlalu
berlebihan dalam beribadah akan mengakibatkan seseorang menjadi bosan dan futur.
Begitu juga berlebih-lebihan dalam meninggalkan amalan kebaikan juga dapat
mengakibatkan seseorang menjadi malas melakukan ibadah. Sebaik-sebaik perkara
adalah pertengahannya.

f. Perintah untuk memegang erat sunnah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam dan
larangan dari bersikap membangkang. Hadits ini menjadi dalil batalnya ajaran kerahiban
yang menyibukkan diri dengan ibadah-ibadah yang bersifat vertikal dengan
mengenyampingkan ibadah horisontal. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam
mengajarkan kepada kita jalan yang lurus dan berada pada tengah-tengah. Beliau
berbuka demi mempersiapkan kekuatan untuk berpuasa. Beliau tidur demi memulihkan
tenaga agar dapat melakukan shalat. Beliau juga menikah untuk menjaga kesucian diri
dan menyalurkan dorongan seksual pada jalan yang benar sekaligus memperbanyak
keturunan. Beliau mengajarkan pentingnya memenuhi kebutuhan jasmani dan ruhani
secara bersamaan. Wallahu A'lamu Bish Showab.

Kisah imam Ahmad bin Hanbal: ketika istrinya meninggal di pagi hari, malam harinya
beliau menikah. Ditanya sama muridnya kenapa beliau menikah padahal istrinya baru
meninggal. Beliau menjawab: Saya khawatir meninggal malam ini dan saya bertemu
dengan Allah sementara saya bujangan.

Setiap orang akan diberikan sinyal jodoh.

,
) :
, ( : ,
, :
,

3. Anas Ibnu Malik Radliyallaahu 'anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam
memerintahkan kami berkeluarga dan sangat melarang kami membujang. Beliau bersabda:
"Nikahilah perempuan yang subur dan penyayang, sebab dengan jumlahmu yang banyak
aku akan berbangga di hadapan para Nabi pada hari kiamat." Riwayat Ahmad. Hadits shahih
menurut Ibnu Hibban.