Anda di halaman 1dari 15

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa. karena
kami dapat membuat laporan ini, dan atas berkat dan perkenaan-Nta kita dapat
merasakan kehidupan sekarang ini, sehingga memotivasi kami untuk membuat
laporan ini.

Kami menyadari bahwa laporan ini tidak mungkin terwujud tanpa bantuan
dan dukungan dari berbagai pihak, khususnya dosen pembimbing kami yang telah
memberikan arahan dan inspirasi untuk membuat laporan ini. Oleh karena itu,
kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pihak-pihak yang
telah berpartisipasi dalam pembuatan laporan ini, sehingga laporan ini dapat
terselesaikan dengan baik.

Dan kami juga menyadari bahwa isi dari penulisan laporan ini masih jauh
dari kesempurnaan, dan oleh karena itu saran dan kritikan dari berbagai pihak
yang bersifat membangun sangat diharapkan demi kesempurnaan karya kami
selanjutnya.

Semoga Tuhan Yang Maha Esa melimpahkan rahmat-Nya kepada kita


semua. Amin

Makale, 16 Juni 2017

` Penyusun
DAFTAR ISI
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Seiring dengan semakin berkembangnya sains dan teknologi,


perkembangan di dunia farmasi pun tak ketinggalan. Semakin hari semakin
banyak jenis dan ragam penyakit yang muncul. Perkembangan pengobatan
pun terus dikembangkan. Berbagai macam bentuk sediaan obat, baik itu
liquid, solid, dan semi solid telah dikembangkan oleh ahli farmasi dan
industri.

Ahli farmasi mengembangkan obat untuk pemenuhan kebutuhan


masyarakat, yang bertujuan untuk memberikan efek terapi obat, dosis yang
sesuai untuk dikonsumsi oleh masyarakat. Selain itu, sediaan semisolid
digunakan untuk pemakaian luar seperti krim, salep, gel, pasta dan supositoria
yang digunakan melalui rektum. Kelebihan dari sediaan semisolid ini yaitu
praktis, mudah dibawa, mudah dipakai, mudah pada pengabsorbsiannya. Juga
untuk memberikan perlindungan pengobatan terhadap kulit.

Berbagai macam bentuk sediaan semisolid memiliki kekurangan, salah


satu diantaranya yaitu mudah di tumbuhi mikroba. Untuk meminimalisir
kekurangan tersebut, para ahli farmasis harus bisa memformulasikan dan
memproduksi sediaan secara tepat. Dengan demikian, farmasis harus
mengetahui langkah-langkah yang tepat untuk meminimalisir kejadian yang
tidak diinginkan. Dengan cara melakukan, menentukan formulasi dengan
benar dan memperhatikan konsentrasi serta karakteristik bahan yang
digunakan dan dikombinasikan dengan baik dan benar.
1.2 Maksud dan Tujuan Percobaan
1.2.1 Maksud Percobaan
Maksud dari percobaan ini adalah agar mahasiswa mampu
mengetahui rancangan formulasi sediaan pasta, cara pembuatan pasta
dan cara mengevaluasi sediaan pasta.
1.2.2 Tujuan Percobaan
Adapun tujuan dari percobaan ini, yaitu:
1. Mahasiswa mampu merancang suatu formula sediaan pasta
2. Mahasiswa mampu membuat suatu sediaan pasta
3. Mahasiswa mampu mengevaluasi sediaan pasta
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 TEORI

Definisi Pasta

Pasta adalah salep yang mengandung lebih dari 50% zat padat serbuk.
Karena merupakan salep yang tebal, keras dan tidak meleleh pada suhu badan
maka digunakan sebagai salep penutup atau pelindung. (buku farmasetika,
prof. Drs. Moh. Anief,Apt.)

Menurut Farmakope Indonesia Edisi ke-3, pasta adalah sediaan berupa


masa lembek yang dimaksudkan untuk pemakaian luar. Biasanya dibuat
dengan mencampurkan bahan obat yang berbentuk serbuk dalam jumlah
besar dengan vaselin atau parafin cair atau dengan bahan dasar tidak
berlemak yang dibuat dengan gliserol, musilago atau sabun. Digunakan
sebagai antisepti atau pelindung.

Menurut farmakope edisi ke-4, pasta adalah sediaan semi padat yang
mengandung satu atau lebih bahan obat yang digunakan untuk pemakaian
topikal.

Menurut DOM, pasta adalah sediaan semi padat dermatologis yang


menunjukkan aliran dilatan yang penting. Ketika digunakan, pasta memiliki
nilai yield tertentu dan tahan untuk mengalir meningkat dengan meningkatnya
gaya pada penggunaan. Pasta biasanya disiapkan dengan menambahkan
sejumlah serbuk yang tidak larut yang signifikan (biasanya 20% atau lebih)
pada basis salep konvensional sehingga akan merubah aliran plastis dari salep
menjadi aliran dilatan.

Menurut Scovilles, pasta terkenal pada daerah dermatologi dan tebal,


salep kental dimana pada dasarnya tidak melebur pada suhu tubuh, sehinggah
membentuk dan menahan lapisan pelindung pada area dimana pasta
digunakan.

Menurut Prescription, pasta terbagi menjadi dua kelas seperti sediaan


salep untuk penggunaan luar. Pasta berlemak seperti pasta ZnO dan pasta
tidak berlemak mengandung gliserin dengan pektin, gelatin, tragakan dan
lain-lain. Pasta biasanya sangat kental atau kaku dan kurang berlemak
dibandingkan dengan salep dimana bahan-bahan serbuk seperti pati, ZnO dan
kalsium karbonat pada basisnya memiliki bagian yang tinggi.

Sehinggah secara umum pasta adalah sediaan semi padat yang


mengandung satu atau lebih bahan obat yang digunakan secara topikal.
Biasanya mengandung serbuk sampai 50% hinggah pasta lebih kaku dan
kental dan kurang berminyak dibandingkan salep. Pasta tidak melebur pada
suhu tubuh dan memberi perlindungan berlebih pada daerah dimana pasta
digunakan.

Pasta dibuat dengan cara yang sama dengan salep. Tetapi, bila bahan
untuk menggerus dan menghaluskan digunakan untuk membuat komponen
serbuk menjadi lembut, bagian dari dasar ini sering digunakan lebih banyak
daripada minyak mineral sebagai cairan yang akan melembutkan pasta. Oleh
karena kualitas pasta yang keras dan absorptif, pasta tersebut akan tetap
tinggal pada tempatnya setelah pemakaian dengan sedikit kecenderungan
melunak dan mengalir, oleh karena itu efektif digunakan untuk mengabsorbsi
sekresi cairan serosal pada tempat pemakaian. Pasta lebih disukai daripada
salep untuk luka akut yang cenderung mengeras, menggelembung atau
mengeluarkan darah. Akan tetapi karena sifatnya yang kaku dan tidak dapat
ditembus, pasta pada umumnya tidak sesuai untuk pemakaianpada bagian
tubuh yang berbulu. Diantara pasta yang digunakan sekarang ini adalah Pasta
Gigi Triamsinolon Asetonid, preparat anti inflamasi dipakai secara topikal
pada mukosa di selaput mulut dan Pasta Zink Oksida (Ansel:515)

Karakteristik Pasta
a. Daya adsorbsi pasta lebih besar.
b. Sering digunakan untuk mengadsorbsi sekresi cairan serosal pada
tempat pemakaian, sehinggah cocok untuk luka akut.
c. Tidak sesuai dengan bagian tubuh yang berbulu.
d. Mengandung satu atau lebih bahan obat yang ditujukan untuk
pemakaian topikal.
e. Konsistensi lebih kenyal dari unguentum.
f. Tidak memberikan rasa berminyak seperti unguentum.
g. Memiliki persentase bahan padat lebih besar daripada salep yaitu
mengandung bahan serbuk (padat) antara 40%-50%.

Kelebihan dan Kekurangan Pasta

a. Kelebihan
1) Pasta mengikat cairan secret, pasta lebih baik dari unguentum
untuk luka akut dengan tendensi mengeluarkan cairan.
2) Bahan obat dalam pasta lebih melekat pada kulit sehinggah
meningkatkan daya kerja lokal.
3) Konsentrasi lebih kental dari salep.
4) Daya adsorbsi sediaan pasta lebih besar dan kurang berlemak
dibandingkan dengan sediaan salep.
b. Kekurangan
1) Karena sifat pasta yang kaku dan tidak dapat ditembus, pasta
pada umumnya tidak sesuai untuk pemakaian pada bagian
tubuh yang berbulu.
2) Dapat mengeringkan kulit dan merusak lapisan epidermis kulit.
3) Dapat menyebabkan iritasi kulit.

Cara Absorbsi pasta

a. Penetrasi
Penetrasi pasta ke dalam kulit dimungkinkan melalui dinding
folikel rambut. Apabila kulit utuh maka cara utama untuk penetrasi
masuk umumnya melalui lapisan epidermis lebih baik daripada
melalui folikel rambut atau kelenjar keringat. Absorpsi melalui
epidermis relatif lebih cepat karena luas permukaan epidermis 100
sampai 1000 kali lebih besar dari rute lainnya. Stratum korneum,
epidermis yang utuh, dan dermis merupakan lapisan penghalang
penetrasi obat ke dalam kulit. Penetrasi ke dalam kulit ini dapat terjadi
dengan cara difusi melalui penetrasi transeluler (menyebrangi sel),
penetrasi (antar sel), penetrasi transepidageal (melalui folikel rambut,
kelenjar keringat, dan perlengkapan pilo sebaseus).
b. Disolusi
Disolusi didefinisikan sebagai tahapan dimana pasta mulai masuk
ke dalam larutan dari bentuk padatnya atau suatu proses dimana suatu
bahan kimia atau obat menjadi terlarut dalam pelarut. Dalam sistem
biologis pelarut obat dalam media aqueous merupakan bagian penting
sebelum kondisi absorpsi sistemik. Supaya partikel padat terdisolusi
molekul solut pertama-tama harus memisahkan diri dari permukaan
padat, kemudian bergerak menjauhi permukaan memasuki pelarut.
c. Difusi
Difusi adalah suatu proses perpindahan massa molekul suatu zat
yang dibawa oleh gerakan molekul secara acak dan berhubungan
dengan adanya perbedaan konsentrasi aliran molekul melalui suatu
batas, misalnya membran polimer. Difusi pasif merupakan bagian
terbesar dari proses trans-membran bagi umunya obat. Tenaga
pendorong untuk difusi pasif ini adalah perbedaan konsentrasi obat
pada kedua sisi membran sel. Menurut hukum difusi Fick, molekul
obat berdifusi dari daerah dengan konsentrasi obat tinggi ke daerah
konsentrasi obat rendah.

Basis Pasta

Pada dasarnya basis yang digunakan dalam formulasi sediaan pasta tidak
jauh berbeda dengan basis yang digunakan dalam formulasi sediaan salep,
yaitu:

a. Basis Hidrokarbon
Karakteristik:
1) Tidak diabsorbsi oleh kulit inert.
2) Tidak bercampur dengan air.
3) Daya absorbsi air rendah.
4) Menghambat kehilangan air pada kulit dengan membentuk lapisan
tahan air dan meningkatkan absorbsi obat melalui kulit.
5) Dibagi menjadi 5, yaitu: Soft paraffin, Hard paraffin, Liquid
paraffin, Paraffin substitute, Paraffin ointment. Contoh: Vaselin,
White Petrolatum/paraffin, White Ointment.
b. Basis Absorbsi
Karakteristik:
Bersifat hidrofilik dan dapat menyerap sejumlah tertentu air dan
larutan cair. Terbagi: Non emulsi co, basis ini menyerap air untuk
memproduksi emulsi air dalam minyak.
c. Basis Larut Air
Misalnya PEG (polyethylene Glycol) yang mampu melarutkan zat
aktif yang tak larut dalam air dan meningkatkan penyebaran obat.
Bersifat stabil, tersebar merata, dan mengikat pygmen dan higroskopis
(mudah menguap), sehinggah dapat memberikan kenyamanan pada
pemakaian sediaan pasta.

Komposis Pasta

Komposisi dari sediaan pasta yang sering diformulasikan diantaranya


adalah:

a. Sediaan pasta dengan menggunakan satu jenis bahan aktif yaitu ZnO
sebagai zat aktif yang berfungsi sebagai astrigen atau pelindung pada
penggunaan topikal. Sedangkan bahan dasar lemak yang digunakan
adalah Vaselin Flavum yang berfungsi sebagai zat pembawa, dan
Amylum tritici diperlukan sebagai zat pengembang.
b. Sediaan pasta dengan menggunakan dua jenis bahan aktif, yaitu ZnO
dan Asam Salisilat. Selain itu, juga ditambahkan dengan zat pembawa
yaitu paraffin, dan ditambahkan dengan zat pengembang Amylum
tritici.

Metode Pembuatan Pasta dalam Skala Laboratorium dan Industri

a. Skala Laboratorium
Umumnya pasta dibuat dengan cara yang sama dengan salep.
Tetapi bahan untuk menggerus dan menghaluskan digunakan untuk
membuat komponen serbuk menjadi lembut, bagian dari dasar ini
sering digunakan lebih banyak daripada minyak mineral sebagai
cairan untuk melembutkan pasta. Untuk bahan dasar yang berbentuk
setengah padat, dicairkan terlebih dahulu, setelah itu baru kemudian
dicampur dengan bahan padat dalam keadaan panas agar lebih
tercampur dan homogen.
Pembuatan pasta dilakukan dengan dua metodel:
1) Pencampuran
Komponen dari pasta dicampur bersama-sama dengan segala
cara sampai sediaan yang rata tercapai.
2) Peleburan
Semua atau beberapa komponen dari pasta dicampurkan
dengan meleburkannya secara bersamaan, kemudian didinginkan
dengan pengadukan yang konstan sampai mengental. Komponen-
komponen yang tidak dicairkan biasanya ditambahkan pada
campuran yang sedang mengental setelah didinginkan dan diaduk.
b. Skala Industri
1) Penentuan bahan yang berkualitas
2) Tes sterilisasi awal
3) Sterilisasi terminal dari pasta
4) Filtrasi agar jernih
5) Pengerjaan penampilan
6) Penggunaan LAF
7) Uji stabilitas obat
8) Tonisitas
9) Viscositas
10) Pengemasan
11) Pemeriksaan hasil dengan teliti

Peralatan yang dibutuhkan untuk pembuatan sediaan pasta untuk skala


keci (laboratorium) maupun skala besar (industri) pada prinsipnya sama.
Perbedaannya hanya pada kapasitas alatnya, pada skala laboratorium
kapasitas peralatannya lebih kecil.

Evaluasi Sediaan
Untuk mengetahui kestabilan sediaan pasta, perlu dilakukan beberapa
pengujian, yakni:

a. Organoleptik
Merupakan pengujian sediaan dengan menggunakan pancaindra
untuk mendiskripsikan bentuk atau konsistensi (misalnya padat,
serbuk, kental, cair), warna (misalnya kuning, coklat) dan bau
(misalnya aromatik, tidak berbau). (Anonim, 2000).
b. pH
Prinsip uji derajat keasaman (pH) yakni berdasarkan pengukuran
aktivitas ion hidrogen secara potensiometri/ elektrometri dengan
menggunakan pH meter (Anonim, 2004).
c. Viskositas
Viskositas adalah suatu pernyataan tahanan dari suatu cairan untuk
mengalir, makin tinggi viskositas, akan makin besar tahanannya
(Martin et al., 1993).
d. Penghamburan/daya sebar
Uji penghamburan diartikan sebagai kemampuan untuk disebarkan
pada kulit. Penentuannya dilakukan dengan Extensometer. Caranya
yakni salep dengan volume tertentu dibawa ke pusat antara dua
lempeng gelas, lempeng sebelah atas dalam interval waktu tertentu
dibebani oleh peletakan dari anak timbang. Permukaan penyebaran
yang dihasilkan dengan menaiknya pembebanan menggambarkan
suatu karakteristik untuk daya hambur (Voigt, 1994).
e. Resitensi panas
Uji ini untuk mempertimbangkan daya simpan suatu sediaan salep
atau gel dalam daerah iklim dengan perubahan suhu (tropen) nyata dan
terus menerus. Caranya yakni salap dalam wadah tertutup diulang dan
ditempatkan dalam pertukaran kontinue suhu yang berbeda-beda
(misalnya 20 jam pada 370C dan 4 jam pada 400C) dan ditentukan
waktunya (Voigt, 1994).

2.2 URAIAN BAHAN

2.2.1 Asam Salisilat (FI edisi III, 1979, Hal: 56)


Nama Resmi : ACIDUM SALICYLICUM

Nama Lain : Asam salisilat

RM/BM : C7H6O3/138,12

Pemerian : Hablur ringan tidak berwarna atau serbuk


berwarna putih, hampir tidak berbau, rasa agak
manis dan tajam.

Kelarutan : Larut dalam 550 bagian air dan dalam 4 bagian


etanol (95%) P, mudah larut dalam kliroform P dan
dalam eter P, larut dalam larutan amonium asetat P,
dinatrium hidrogenfosfat P, kalium sitrat P dan
natrium sitrat P.

Khasiat : Keratolitikum, Anti fungi.

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.

Stabilitas : Stabil pada tekanan dan suhu normal.

Inkom : Inkompatibel dengan oksidator, dapat bereaksi


dengan oksidator tercampurkan.

II.2.2 Zinci Oxyd (FI edisi III, 1979, Hal: 636)

Nama Resmi : ZINCI OXYDUM

Nama Lain : Seng Oksida

RM/BM : ZnO/81,38

Pemerian : Serbuk amorf, sangat halus, putih atau putih


kekuningan, tidak berbau, tidak berasa, lambat laun
menyerap karbondioksida dari udara.
Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air dan dalam etanol (95%)
P, larut dalam asam mineral encer dan dalam larutan
alkali hidroksida.

Khasiat : Antiseptikum lokal

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik

Stabilitas : Jika dipanaskan dengan kuat, terjadi warna kuning


yang akan hilang pada pendinginan. Ketika kontak
dengan udara, ZnO perlahan menyerap uap lembap
dan CO2.

Inkom : Inkompatibel dengan Benzil Penisilin.

Reaktivitas : Bereaksi lambat dengan asam lemak dalam minyak


dengan lemak untuk membuat ester asam lemak.

2.2.3 Amylum Tritici (FI edisi IV, Hal: 109)

Nama Resmi : Amylum Tritici

Nama Lain : Pati Gandum, Pati Terigu

Pemerian : Serbuk halus kadang-kadang berupa gumpalan kecil,


putih tidak berbau dan tidak berasa.

Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air dingin dan dalam etanol
(95%)

Khasiat :

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik di tempat sejuk dan


kering.

Inkom : Inkompatibilitas dengan zat pengoksidasi kuat.

2.2.4 Vaselin Flavum (FI edisi III, 1979, Hal: 633)


Nama Resmi : VASELINUM FLAVUM

Nama Lain : Vaselin Kuning

Pemerian : Massa lunak, lengket, bening, kuning muda smpai


kuning, sifat ini tetap setelah zat dileburkan dan
dibiarkan hingga dingin tanpa diaduk,
berfluoresensi lemah juga jika dicairkan, tidak
berbau, hampir tidak berasa.

Kelarutan : Praktis tidak larut air dan dalam etanol (95%) P,


larut dalam kloroform P, dalam eter P dan dalam
eter minyak tanah P, larutan kadang-kadang
beropalesensi lemah.

Khasiat : Zat tambahan

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik

Stabilitas : Bagian stabil dari komponen hidrikarbon alam non-


reaktif, banyak masalah stabilitas terjadi karena
adanya sejumlah kecil kontaminan.

Inkom : Inkompatibilitas dengan klorobutanol.

2.2.5 Etanol (FI edisi III, 1979, Hal: 65)

Nama Resmi : AETHANOLUM

Nama Lain : Etanol, Alkohol

RM/BM : C2H6O/46,07

Pemerian : Cairan tak berwarna, jernih, mudah menguap dan


mudah bergerak, rasa panas, mudah terbakar dengan
memberikan nyala biru yang tidak berasap
Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air, dalam kloroform P
dan dalam eter P.

Khasiat : Zat tambahan

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya,


di tempat sejuk, jauh dari nyala api.

Stabilitas : Mudah menguap walaupun pada suhu rendah

Inkom : Alumunium, material oksidasi, alkali, garam


organik.