Anda di halaman 1dari 5

HAL 5-6

CONTROL CONDITION

.. (perut) pernapasan dan menahan nafas mereka selama 4 detik. Lalu, mereka

menghembuskan kapaasitas vital paksa selama 6 detik,dengan mengerucutkan bibir. Pernapasan

ini menghasilkan pada frekuensi 0,1 Hz, sesuai dengan bernapas 6 kali per menit. Setelah menit

ini, ada periode pernapasan normal sampai nadi dan pernapasan normal dan partisipan siap untuk

langkah selanjutnya.

Pengukuran Latihan

Nadi

Mengukur reaksi kardiovaskular pada latihan., nadi diukur sebelum dan setiap 5 menit selama

ekstensi lutut isometrik. Dalam latihan sepeda aerobic, nadi diukur setiap 5 menit. Dalam

intervensi pernapasan dalam, pengukuran nadi digunakan untuk memantau aktivasi sistem saraf

parasimpatis, ditunjukan dengan penurunan nadi. Untuk ,menunjukan aktivasi vagal, nadi pada

saat mulai dan terendah di setiap perputaran napas dicatat.

Borg

Rentang kemampuan di skala Borg Perceived Exertion berkisar antara 6 sampai 20 untuk

mengikuti nadi orang dewasa sehat pada umumnya dengan cara mengalikan dengan 10. Dalam

skala ini 6 berarti tidak ada tenaga sama sekali dan 20 berarti tenaga maksimal. Peserta

diminta untuk fokus pada seluruh rasa pada aktifitas dan tidak hanya pada satu faktor, seperti

nyeri otot. Skor dicatat setiap 5 menit selama latihan sepeda aerobic dan 2,5 menit selama
ekstensi lutut isometrik. Skala Borg tidak digunakan pada kondisi terkontrol karena intervensi ini

tidak sesuai dengan pengeluaran tenaga.

Statistika

Hasil absolut dan hasil koreksi awal (nilai dasar dikurangi dari pengukuran rasa sakit)

dibandingkan antara intervensi dan kontrol kondisi menggunakan RM-ANOVA dua arah. Untuk

stimulasi visceral, dianalisis faktor intervensi (3 level) dan skor VAS (4 tingkat). Untuk tekanan

algometri, faktor intervensi (3 level) dan lokasi (5 level). Jika ditemukan perbedaan secara

keseluruhan, analisis post hoc (Stundents T-test dibandingkan dengan nilai-nilai p value

Bonferroni) digunakan untuk menggambarkan perbedaan dalam pengukuran rasa sakit. Uji one-

way ANOVA digunakan untuk membandingkan perbedaan antara intervensi (3 level) tentang

perubahan ambang sakit sebelum dan sesudah uji pressor hawa dingin. Nilai p<0,05 dianggap

signifikan. Dalam penelitian eksploratif ini, ukuran efek dihitung dengan menggunakan Cohens

d sebagai standar perbedaan mean. Ukuran efek dihitung dengan menggunakan data standar

deviasi. Dimana untuk kondisi pernapasan dalam dikurang rata-rata untuk 2 intervensi latihan.

Dibagi dengan standar deviasi. Ini dihitung untuk sensitivitas nyeri visceral pada nyeri sedang

(VAS 7), rata-rata PPT dari tekanan algometri dan rata-rata relatif peningkatan PPT setelah CPM

Hasil

Karakterisktik dasar dan kuisioner

Karakteristik dasar dari prnrlitian ini ada pada tabel 1

Tes Psikofisik

Data disajikan sebagai mean (SD) di teks dan di tabel 2


Sensitivitas nyeri visceral

Tidak ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata standar deviasi dari kondisi kontrol dan

intervensi latihan pada stimulasi eshopageal (F2,78)=2.0;p=0.15) yang ditampilkan di garafik 3.

Ukuran efek apada nyeri visceral sedang untuk sepeda aerobic aadalah d=0,39 dan untuk latihan

isometrik d=0,18. Hasil ini menunjukan bahwa olahraga tidak menimbulkan hipoalgesia

visceral.

Tekanan algometri

Ketika membandingkan rata-rata standar deviasi dari PPT di 5 lokasi seperti di grafik 4, tidak

ada perbedaan signifikan yang ditemukan antara kondisi terkontrol dan intervensi latihaan

(F(2,112)=0.37; p=0.7). ukuran efek untuk sepeda aerobic adalah d=0.09 dan untuk latihan

isometrik d=0.06. data ini menunjukan tidak ada hypoalgesia yang ditimbukan dari latihan

Tabel 1 karakteristik dasar dari peserta sehat (n=15)


CPM

Kecuali satu, semua peserta bisa menyelesaikan tes pendinginan selama 2 menit. Peningkatan

keseluruhan pada PPT ditemukan setelah induksi CPM (F(1,42)=14,8; p=0.02; grafik 5). Rata-

rata (SD) relatif meningkat untuk baseline adalah 9.3% (20.1), untuk sepeda aerobik 10.2%

(15.4), untuk ekstensi lutut isometrik 16.1% (15.9) dan untuk pernapasan dalam 25.5% (22.5).

Bagaimanapun, tidak ada perbedaan signifikan antara efek CPM yang ditemukan diantara

kondisinya (F(2,28)=29;p=0.07). Ukuran efek untuk sepeda aerobik adalah d=0.81 dan untuk

latihan isometrik d=0.49. tidak ada perbedaan signifikan yang ditemukan anatara rata-rata skor

VAS selama uji tekanan dingin, yaitu 6.7 (1.8) di baseline, 6.6 (2.1) setelah sepeda aerobik, 6.8

(1.9) setelah ekstensi isometrik dan 7.0 (1.8) setelah pernapasan dalam (F=1.0; p=0.4).