Anda di halaman 1dari 20

Pengaruh Olahraga pada Nyeri Viseral: Penelitian Eksploratif pada Voluntir Sehat

Abstrak

Latar Belakang dan Objektif

Hasil kontradiktif telah ditemukan tentang efek modalitas yang berbeda olahraga terhadap

nyeri. Tujuan penelitian ini adalah untuk menyelidiki efek awal dari olahraga aerobik dan

isometrik pada berbagai jenis nyeri eksperimental, termasuk nyeri viseral, dibandingkan

terhadap suatu kontrol yang aktif.

Metode

Lima belas subjek sehat (9 pria, 6 wanita, rata-rata usia 25 tahun) menyelesaikan 3 intervensi

yang terdiri atas 20 menit sepeda aerobik, 12 menit ekstensi lutut isometrik, dan prosedur

bernafas dalam sebagai kontrol aktif. Pada awal dan setelah setiap intervensi, tes psikofisik

dilakukan, termasuk rangsangan elektrik esofagus, tes ambang batas nyeri tekan dan cold

pressor test sebagai tolak ukur untuk modulasi nyeri terkondisi. Peserta menyelesaikan

Medical Outcome Study Short-Form 36 dan State-Trait Anxiety Inventory sebelum

eksperimen dilakukan. Data dianalisa menggunakan analisa varian two-way repeated

measures.

Hasil

Tidak ada perbedaan signifikan yang ditemukan pada tes psikofisik setelah intervensi,

dibandingkan tes nyeri dasar dan kondisi kontrol.

Kesimpulan
Tidak ada ditemukan efek hipoalgesik pada olahraga aerobik atau isometrik. Bukti untuk

hipoalgesia terinduksi latihan tidak konsisten seperti yang dipikirkan awalnya, dan

kewaspadaan direkomendasikan ketika menginterpretasikan efek latiha pada nyeri

Kata Kunci

Aktivitas motorik, latihan bernafas, pengukuran nyeri, persepsi nyeri

Singkatan

ANOVA: analysis of variance, BP: blood pressure, CPM: conditioned pain modulation, EIH:

exercise-induced hypoalgesia, HR: heart rate, MCS: mental component score, MOS SF-36:

medical outcomes study short-form-36 health survey, PCS: physical component score, PPT:

pressure pain threshold, STAI: State-Trait Anxiety Inventory, VAS: visual analogue scale,

VO2max: maximal oxygen uptake

Pendahuluan

Efek modulator pada olahraga fisik terhadap persepsi nyeri sudah dipelajari secara

luas. Banyak penelitian yang menemukan efek baik pada voluntir sehat dengan nyeri somatik

ditunjukkan dengan istilah EIH, yang bermanifestasi dengan meningkatnya ambang batas

nyeri dan tingkat toleransi nyeri dan menurunnya tingkat nyeri yang ditimbulkan selama dan

segera setelah olahraga, bertahan selama 10 30 menit sesudah olahraga. Efek ini dilihat

dengan beberapa tipe olahraga, termasuk olahraga aerobik, olahraga isometrik, dan latihan

ketahanan dinamis. EIH sudah diperlihatkan pada individu sehat begitu juga pada pasien

dengan chronic low back pain, myalgia bahu, fibromyalgia, dan nyeri muskuloskeletal

kronik, meskipun banyak variasi yang ditunjukkan diantara sindrom nyeri kronik.
Dalam sebuah meta analisis, Neugle et al menggabungkan ukuran efek ambang batas

nyeri eksperimental yang berbeda dari beberapa penelitian, yang dirata-ratakan untuk tiap

tipe latihan dan metode tes nyeri dan menyesuaikan untuk ukuran sampel. Mereka

menghitung ukuran efek menggunakan Cohens d sebagai rata-rata terstandar untuk

membedakan antara kondisi kontrol dan kondisi latihan dan dilaporkan ukuran efek sedang

0,43 untuk latihan aerobik (4 penelitian), ukuran efek besar 1,05 untuk latihan isometrik (9

penelitian) dan 0,83 untuk latihan ketahanan dinamik (2 penelitian). Selanjutnya ukuran efek

untuk nilai intensitas nyeri dilaporkan oleh peserta yang bervariasi dari 0,64 (7 penelitian)

hingga 0,72 (7 penelitian) sampai 0,75 (2 penelitian) untuk 3 tipe latihan.

Namun, tidak semua penelitian menemukan efek positif. Beberapa penelitian

menemukan efek hypoalgesic hanya pada wanita, bukan pada pria, beberapa hanya

menemukan efek sepele pada latihan yang lebih rendah Intensitasnya dan durasinya dan yang

lainnya menggunakan metode uji nyeri dengan variabilitas lebih banyak pada ukuran efek

seperti stimulasi termal.

Bukti yang kontradiktif dari literatur ini tidak mengejutkan karena banyak variasi

metodologis. Penelitian telah menggunakan berbagai jenis latihan dan olahraga yang berbeda

intensitas, durasi dan ukuran untuk mengendalikan intensitas. Selain itu, berbagai metode

pengujian nyeri digunakan, termasuk tekanan, stimulasi listrik dan panas, yang mana

diterapkan pada berbagai lokasi tubuh dan menghasilkan ambang rasa sakit, peringkat

intensitas suprathreshold atau penilaian intensitas nyeri secara umum. Metode lain untuk uji

nyeri yang digunakan adalah CPM, kemampuannya untuk mempengaruhi sinyal nyeri masuk

dari perifer via descending pain inhibition dari pusat batang otak. Telah ditunjukkan bahwa

CPM dapat menginduksi efek hipoalgesik sementara, yang melibatkan jaringan syaraf yang

terdiri dari nucleus tractus solitarius dan inti batang otak. Rangsangan yang paling sering

diteliti adalah perendaman air dingin sebagai stimulus pengkondisian dan PPTs sebagai test
stimulus, yang mana telah menunjukkan reabilitas antar dan intrasesi yang baik.

Ketidaksamaan antara metode belajar membuat perbandingan antara studi dan interpretasi

hasil yang sulit.

Keterbatasan lain dalam kebanyakan rancangan penelitian adalah kurangnya kondisi

kontrol. Hanya beberapa penelitian yang menggunakan istirahat tenang untuk tujuan ini, yang

man tidak adekuat, karena tidak mengendalika untuk perbedaan perhatian dan perubahan

kardiovaskular selama olahraga. Dalam penelitian eksploratif ini, sebuah prosedur bernafas

dalam digunakan sebagai kontrol aktif untuk memperhitungkan kenaikan laju pernapasan dan

perhatian. Apalagi, kontrol pernapasan dalam untuk meningkatkan HR dalam kondisi latihan

dengan menyebabkan pengurangan HR melalui aktivasi parasimpatis.

Selanjutnya, sejauh ini diketahui, semua penelitian dievaluasi efek olahraga pada

nyeri somatik, sehingga mengabaikan nyeri viseral sebagai penyebab tersering nyeri kronis.

Nyeri viseral sulit dibedakan dengan nyeri somatik, terutama karena penghentian difusi

aferen dan buruknya pengaturan kortikotropik. Hal ini membuat tatalaksana sering sulit bagi

dokter dan pengobatan alternatif menjadi sangat relevan. Untuk mendapatkan informasi rinci

tentang respon nyeri visceral, model nyeri eksperimental dapat digunakan untuk menginduksi

nyeri viseral secara terkontrol, sementara pengukuran psikofisik dan neurofisiologis

dilakukan. Dalam penelitian eksploratif ini, sebuah model eksperimental nyeri viseral akut

digunakan dengan mengirimkan rangsangan elektrik tunggal di esofagus. Untuk mengukur

efek olah raga pada modalitas nyeri lainnya dibandingkan dengan asal nyeri visceral, PPTs

dan CPM juga dinilai. Hipotesisnya adalah latihan aerobik dan isometrik akan menyebabkan

hipoalgesia pada nyeri yang terinduksi secara eksperimental, berdasarkan pengukuran

psikofisik. Makanya, tujuan dari penelitian ini adalah untuk menyelidikinya efek langsung

latihan aerobik dan isometrik dibandingkan dengan bernafas dalam sebagai kondisi kontrol

aktif pada sensitivitas nyeri visceral, PPTs dan induksi inhibisi desendens.
Metode

Peserta

Lima belas peserta (9 laki-laki dan 6 wanita, umur rata-rata 25 tahun) direkrut di

daerah Jutland utara di Denmark. Voluntir sehat ini tidak ada memiliki riwayat gangguan

kardiovaskuler, gastrointestinal, atau neurologik yang dapat mengganggu dalam intervensi

latihan yang diberikan dan dalam pengukuran nyeri. Protokol penelitian disetujui oleh

Regional Ethics Committee of Northern Jutland, Denmark (N-200900), dan semua peserta

menandatangani informed consent. Setiap peserta diinstruksikan untuk menghentikan obat-

obatan yang menghilang nyeri, alkohol, dan latihan fisik 24 jam sebelum eksperimen dimulai.

Selain itu, untuk mengurangi ketidaknyamanan saluran esofageal, makanan, minuman,

nikotin, dan kafein dihentikan 2 jam sebelumnya.

Rancangan Penelitian

Penelitian cross over dengan urutan intervensi yang random dilaksanakan di Mech

Sense, departemen gastroenterologi di Rumah sakit Universitas Aalborg. Sebuah ikhtisar

prosedur penelitian bisa dilihat pada gambar 1. Pengukuran nyeri dasar dilakukan, termasuk

stimulasi elektrik esofageal, tes algometri tekanan, dan cold pressor test. Lima menit

setelahnya, 3 intervensi: latihan sepeda aerobik, ekstensi lutut isometrik dan kondisi kontrol

dilakukan secara random untuk menghindari bias efek periode dan efek urutan. Hasil

pengacakan didapatkan dari http://www.randomisation.com. Langsung setelah setiap

intervensi, pengukuran nyeri diulang, diikuti dengan waktu istirahat 30 menit

Kuesioner

Peserta kuesioner mengisi fomulir Danish MOS SF-36, 36 pertanyaan tentang

kesehatan secara umum. Kuesioner tersebut menciptakan 8 skala, menangani beberapa aspek
kesehatan, dan 2 gabungan skor antara Kesehatan Fisik (PCS) dan Kesehatan Mental (MCS).

Selanjutnya, peserta mengisi formulir Y1 dan Y2 dari Danish translation of STAI, yang dapat

menilai emosional secara umum, kognitif, dan aspek perilaku dari ansietas. Formulir Y1

berisi tentang ansietas masa kini dan formulir Y2 berisi tentang ansietas secara umum 30

Skala visual analog

Skala visual analog (VAS) yang sudah dimodifikasi sehingga terdiri dari skala tidak

nyeri (1-5) dan sensasi nyeri (5-10) pernah digunakan untuk mengukur stimulasi sensasi

listrik dalam esofagus. Skala ini pernah digunakan untuk stimulus nyeri yang kuat untuk

esofagus yang mempunyai resiko dikarenakan muntah yang terlalu banyak, sehingga sulit

untuk menggunakan VAS murni. Sebelumnya VAS yang dimodifikasi juga pernah digunakan

lebih dari 50 kasus traktus gastrointenstinal, dan terbukti menghasilkan hasil yang cukup

akurat dan dapat diandalkan..31,32

Kata-kata kunci berikut telah digunakan untuk membantu skala ini lebih lanjut. 1.

Persepsi yang samar terhadap sensasi yang ringan, 2. Persepsi yang nyata terhadap sensasi

yang ringan, 3. Persepsi yang samar terhadap sensasi sedang, 4. Persepsi yang nyata terhadap

sensasi sedang, 5. Ambang deteksi nyeri, 6. Nyeri ringan, 7. Nyeri sedang, 8. Intensitas nyeri

sedang, 9. Nyeri yang intens, 10. Nyeri yang tak tertahankan.

Untuk tes kenaikan tekanan darah dengan dingin, VAS murni digunakan, dimana 0

mengindikasikan bahwa tidak ada nyeri, 5 nyeri sedang dan 10 rasa nyeri paling parah

yang dapat dibayangkan. Untuk tekanan algometri, skor VAS murni sudah digunakan

untuk mengklarifikasi pada level VAS mana ambang nyeri tekanan pada peserta.

Tes psikofisik

Sensitifitas nyeri viseral


Untuk stimulasi listrik esofagus, probe dengan diamter 2.6 mm digunakan dengan 2

eletktroda cincin platinum bipolar pada 8 dan 9 cm dari akhir distal (Gaeltec transducer;

Gaeltec Ltd., Isle of Skye, Scotland, UK). Probe dimasukkan melalui mulut sampai spasi

interelektroda mencapai posisi 34 cm dari gigi frontal dan ditempelkan ke kulit. Sebelum

stimulasi, impendansi telah dicek terlebih dahulu dan diatur tetap pada <3 kdengan

memberi air atau dengan mengganti posisi peserta. Selama stimulasi, 3 sadapan

elektrokardiogram direkam untuk memonitor jantung.

Stimulasi listrik nadi tunggal pada 2 ms disediakan oleh stimulator arus yang

dikendalikan oleh komputer. Yang dimulai pada intensitas 0 mA dan ditingkatkan secara

bertahap sebesar 0.5 mA, dengan maksimal yang telah ditentukan adalah 60 mA. Skor peserta

dinilai dengan VAS yang dimodifikasi, menunjukkan kapan mereka mencapai skor VAS 1,3,5

dan 7. Pada skor yang sesuai dengan 7, sesuai dengan nyeri sedang, stimulasi listrik

dihentikan.

Algometri tekanan

PPT atau ambang nyeri tekanan diukur menggunakan algometer yang dapat

digenggam dengan probe standar ukuran 1 cm2 (SBMEDIC Electronics, Solna, Sweden).

Algometer ditekan pada 5 daerah dominan, yaitu pada bagian medial otot trapezius, bagian

dorsal dari dermatom T10, otot thenar, otot rektus femoris dan otot abduktor halusis seperti

yang tertera pada gambar 2.

Dimulai pada tekanan 0 kPa, tekanan secara bertahap ditingkatkan dengan kecepatan

30 kPa/detik. Peserta diminta untuk menunjukkan ketika peserta merasakan perubahan

sensasi dari rasa tekanan menjadi rasa nyeri, dimana tes tekanan dihentikan segera dan

tekanan maksimal yang dicapai telah tercatat pada PPT (ambang nyeri tekanan). Rata-rata
dari ambang nyeri tekanan yang didapatkan dari 5 daerah dominan dihitung pada setiap

peserta pada setiap intervensi. Semua pengukuran dilakukan oleh satu orang invetigator.

Tes kenaikan tekanan darah dengan pendinginan (Cold pressor test)

CPM atau modulasi nyeri terkondisi dinilai dengan tes kenaikan tekanan darah

dengan pendinginan, mempelajari kemampuan modulasi penurunan terhambat. Peserta

merendam tangan non dominan sampai ke pergelangan tangan dengan jari-jari menyebar di

dalam air yang berisi air dengan sirkulasi dingin dengan temperatur 2C (0.1C). Peserta

merendam tangannya di dalam air selama 2 menit, atau kurang bila nyeri sudah tidak

tertahankan dan telah mencapai skor VAS maksimum 10 pada skor VAS murni. Sebelum dan

segera setelah tes, ambang nyeri tekanan pada otot quadrisep pada non dominan dinilai.

Selanjutnya, peserta menilai nyeri setiap 30 detik selama tes dan segera setelah tes, dengan

VAS.33 Perubahan relatif antara ambang nyeri tekanan sebelum dan sesudah tes dengan air

dingin dinilai dengan persentasi, termasuk juga rata-rata skor VAS selama pencelupan.

Intervensi

Latihan sepeda aerobik

Setelah pemanasan 10 menit, peserta bersepeda selama 20 menit pada 75-88%

HRmax mereka, dimana pada saat tersebut menyerupai 60%80% VO2max. HR individu

yang sesuai dengan intensitas ini dihitung dengan rumus Karvonen, terkait dengan HRMax

yang diprediksi usia namun memungkinkan perbedaan dalam penghentian HR: Target HR

(220usiaHR saat istirahat)%Intensitas]HR saat istirahat.34 Peserta lalu memiliki

umpan balik visual HR pada oksimeter (Nellcor OxiMax N-65; Tyco Healthcare Group

LP, Pleasanton, CA, AS) dan didorong untuk mempertahankan HR mereka dalam kisaran

75% -88% dengan bersepeda lebih cepat atau menyesuaikan daya tahan sepeda.
Ekstensi lutut isometrik

Para peserta melakukan ekstensi lutut isometrik otot paha depan. Peserta duduk lurus

dengan fleksi 90 di sendi pinggul dan ekstensi 0 di sendi lutut. Berat tali 0,75 kg dilekatkan

di sekitar pergelangan kaki di sisi yang dominan, untuk mendapatkan intensitas berat yang

sama pada semua peserta. Mereka diinstruksikan untuk mengekstensikan lutut, tanpa

mengangkat kaki bagian atas dari tempat tidur, maksimal 12 menit atau sampai kelelahan.

Kondisi kontrol

Pernapasan dalam digunakan sebagai kondisi kontrol aktif. Para peserta melakukan

prosedur pernapasan dalam selama 30 menit, terdiri dari 10 ronde. Selama 1 menit di setiap

putaran, peserta menghirup napas dengan cepat menggunakan pernapasan diafragma dan

menahan nafas mereka selama 4 detik. Lalu, mereka menghembuskan kapaasitas vital paksa

selama 6 detik,dengan mengerucutkan bibir. Pernapasan ini menghasilkan pada frekuensi 0,1

Hz, sesuai dengan bernapas 6 kali per menit. Setelah menit ini, ada periode pernapasan

normal sampai nadi dan pernapasan normal dan partisipan siap untuk langkah selanjutnya.

Pengukuran Latihan

Nadi

Mengukur reaksi kardiovaskular pada latihan., nadi diukur sebelum dan setiap 5 menit

selama ekstensi lutut isometrik. Dalam latihan sepeda aerobic, nadi diukur setiap 5 menit.

Dalam intervensi pernapasan dalam, pengukuran nadi digunakan untuk memantau aktivasi

sistem saraf parasimpatis, ditunjukan dengan penurunan nadi. Untuk ,menunjukan aktivasi

vagal, nadi pada saat mulai dan terendah di setiap perputaran napas dicatat.
Borg

Rentang kemampuan di skala Borg Perceived Exertion berkisar antara 6 sampai 20

untuk mengikuti nadi orang dewasa sehat pada umumnya dengan cara mengalikan dengan 10.

Dalam skala ini 6 berarti tidak ada tenaga sama sekali dan 20 berarti tenaga maksimal.

Peserta diminta untuk fokus pada seluruh rasa pada aktifitas dan tidak hanya pada satu faktor,

seperti nyeri otot. Skor dicatat setiap 5 menit selama latihan sepeda aerobic dan 2,5 menit

selama ekstensi lutut isometrik. Skala Borg tidak digunakan pada kondisi terkontrol karena

intervensi ini tidak sesuai dengan pengeluaran tenaga.

Statistika

Hasil absolut dan hasil koreksi awal (nilai dasar dikurangi dari pengukuran rasa sakit)

dibandingkan antara intervensi dan kontrol kondisi menggunakan RM-ANOVA dua arah.

Untuk stimulasi visceral, dianalisis faktor intervensi (3 level) dan skor VAS (4 tingkat).

Untuk tekanan algometri, faktor intervensi (3 level) dan lokasi (5 level). Jika ditemukan

perbedaan secara keseluruhan, analisis post hoc (Stundents T-test dibandingkan dengan nilai-

nilai p value Bonferroni) digunakan untuk menggambarkan perbedaan dalam pengukuran

rasa sakit. Uji one-way ANOVA digunakan untuk membandingkan perbedaan antara

intervensi (3 level) tentang perubahan ambang sakit sebelum dan sesudah uji pressor hawa

dingin. Nilai p<0,05 dianggap signifikan. Dalam penelitian eksploratif ini, ukuran efek

dihitung dengan menggunakan Cohens d sebagai standar perbedaan mean. Ukuran efek

dihitung dengan menggunakan data standar deviasi. Dimana untuk kondisi pernapasan dalam

dikurang rata-rata untuk 2 intervensi latihan. Dibagi dengan standar deviasi. Ini dihitung

untuk sensitivitas nyeri visceral pada nyeri sedang (VAS 7), rata-rata PPT dari tekanan

algometri dan rata-rata relatif peningkatan PPT setelah CPM


Hasil

Karakterisktik dasar dan kuisioner

Karakteristik dasar dari prnrlitian ini ada pada tabel 1

Tes Psikofisik

Data disajikan sebagai mean (SD) di teks dan di tabel 2

Sensitivitas nyeri visceral

Tidak ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata standar deviasi dari kondisi

kontrol dan intervensi latihan pada stimulasi eshopageal (F2,78)=2.0;p=0.15) yang

ditampilkan di garafik 3. Ukuran efek apada nyeri visceral sedang untuk sepeda aerobic

aadalah d=0,39 dan untuk latihan isometrik d=0,18. Hasil ini menunjukan bahwa olahraga

tidak menimbulkan hipoalgesia visceral.

Tekanan algometri

Ketika membandingkan rata-rata standar deviasi dari PPT di 5 lokasi seperti di grafik

4, tidak ada perbedaan signifikan yang ditemukan antara kondisi terkontrol dan intervensi

latihaan (F(2,112)=0.37; p=0.7). ukuran efek untuk sepeda aerobic adalah d=0.09 dan untuk

latihan isometrik d=0.06. data ini menunjukan tidak ada hypoalgesia yang ditimbukan dari

latihan

Tabel 1 karakteristik dasar dari peserta sehat (n=15)


CPM

Kecuali satu, semua peserta bisa menyelesaikan tes pendinginan selama 2 menit.

Peningkatan keseluruhan pada PPT ditemukan setelah induksi CPM (F(1,42)=14,8; p=0.02;

grafik 5). Rata-rata (SD) relatif meningkat untuk baseline adalah 9.3% (20.1), untuk sepeda

aerobik 10.2% (15.4), untuk ekstensi lutut isometrik 16.1% (15.9) dan untuk pernapasan

dalam 25.5% (22.5). Bagaimanapun, tidak ada perbedaan signifikan antara efek CPM yang

ditemukan diantara kondisinya (F(2,28)=29;p=0.07). Ukuran efek untuk sepeda aerobik

adalah d=0.81 dan untuk latihan isometrik d=0.49. tidak ada perbedaan signifikan yang

ditemukan anatara rata-rata skor VAS selama uji tekanan dingin, yaitu 6.7 (1.8) di baseline,

6.6 (2.1) setelah sepeda aerobik, 6.8 (1.9) setelah ekstensi isometrik dan 7.0 (1.8) setelah

pernapasan dalam (F=1.0; p=0.4).

Respon dan Aktivitas Kardiovaskular selama Intervensi

Data dipresentasikan pada Tabel 3.

Olahraga Sepeda Aerobik

Rata-rata denyut jantung pada partisipan yang bersepeda selama 20 menit berkisar

antara intensitas target 75% hingga 88%. Terdapat peningkatan signifikan dari denyut jantung

saat istirahat ke denyut jantung saat berolahraga (F (2,42) = 801; p<0,001). Skor Borg

meningkat secara signifikan dari 6 (0.5) menjadi 16 (2.2) ; F(2,42)=175; p<0,001).

Ekstensi Lutut Isometrik

Tidak terjadi peningkatan signifikan denyut jantung selama ekstensi lutut isometrik.

Meskipun demikan, Skor Borg meningkat secara signifikan (dari 6 (0.7) menjadi 15 (1.6); F

(2,42)=137; p<0.001)
Kondisi Kontrol

Gambar 6 menunjukkan rata-rata perbedaan absolut antara permulaan denyut nadi

dengan denyut nadi terednda pada setiap ronde pernafasan dalam pada setiap individu.

Figure 6 Heart rate during deep breathing.

Notes: Mean absolute difference between start heart rate (HR) and minimum HR in every

round of deep breathing in the control condition. Data are presented for each participant

individually.

Abbreviation: bpm, beats per minute.

Kecuali pada satu orang partisipan, pada orang ini terjadi penurunan denyut jantung

dengan rata-rata (SD) 5,4 denyut per menit (4,9). Bagaimanapun, tidak ditemukan penurunan

signifikan saat nilai rata-rata dari semua partisipan dibandingkan

Diskusi

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi efek dari modalitas olahraga

yang berbeda terhadap sensitivitas nyeri viseral dan somatis dan CPM, dibandingkan dengan

pernafasan dalam sebagai kondisi kontrol aktif. Namun tidak seperti yang diharapkan, tidak

terdapat efek signifikan dari olahraga aerobik dan isometrik terhadap test nyeri. Lebih lanjut,

tidak ditemukan perbedaan antara kondisi olahraga dan konsis kontrol. Hal ini menunjukkan

bahwa olahraga mungkin tidak mempengaruhi rasa nyeri pada subyek yang sehat. Penemuan

kami berlawanan dengan penelitian lain yang menemukan bahwa nilai PPT lebih tinggi

selama dan setelah olahraga, dengan menggunakan jenis olahraga aerobik dan isometrik yang
2,3,6,9,
serupa. Meskipun demikian , efek ini tidak ditemukan secara konsisten, kemungkinan

diakibatkan banyaknya variasi metodologi yang digunakan dan tidak adanya kondisi kontrol

pada penelitian sebelumnya. Perbedaan lainnya saat membandingkan literatur, adalah bahwa
penelitian kami dilakukan dalam satu hari untuk menjaga kondisi fisik dan emosional yang

sama. Untuk meminialisir efek jangka waktu dan carry over, intervensi dilakukan secara acak

dan terdapat jangka waktu washout selama 30 menit diantara akhir pengukuran nyeri dan

awal dari intervensi berikutnya. Jumlah partisipan yang diikutkan pada penelitian ini

sebanding dengan penelitian sebelumnya dengan intervensi olahraga yang serupa, meskipun

demikian, tersedia asumsi input yang cukup dan terpercaya untuk melakukan analisis

kekuatan prospektif. Jumlah sampel yang relatif kecil dan kekuatan statistik yang relatif

rendah dapat mempengaruhi hasil yang tidak signifikan.

Pada penelitian ini, bernafas dalam digunakan sebagai kondisi kontrol aktif,

dibandingkan dengan tidak adanya kondisi kontrol atau istirahat tenang pada penelitian
2,3,10
sebelumnya. Karakteristik positif bernafas dalam adalah kontrol untuk peningkatan

intensitas bernafas, yang juga terjadi pada saat latihan fisik, tanpa latihan fisik, dan

peningkatan denyut nadi. Selanjutnya, gangguan selama intervensi juga diperhitungkan,

karena peserta diharapkan untuk fokus pada pernapasan mereka. Namun, 2 masalah utama

harus dipertimbangkan untuk penggunaan pernapasan dalam sebagai kondisi kontrol aktif.

Pertama, respons terhadap pernapasan dalam berbeda pada setiap individu dan sulit untuk

mengukur secara obyektif variasi yang tidak diketahui secara luas dalam respons ini. Kedua,

pernapasan dalam bisa menginduksi efek hypoalgesik dari dirinya sendiri, yang membuat

interpretasi efek penelitian menjadi rumit. Telah ditunjukkan bahwa pernapasan yang lambat

dan dalam menghasilkan tingkat intensitas nyeri panas yang lebih rendah36 dan peningkatan
37
ambang batas rasa panas, menginduksi hypoalgesia untuk stimulasi listrik ambang supra 38

dan mencegah berkembangnya hipersensitivitas esofagus yang diinduksi asam.35

Diperkirakan bahwa variabilitas denyut jantung dan aktivitas parasimpatis selama pernapasan

dalam kemungkinan berkontribusi terhadap efek hipoalgesik oleh jalur bersama


35,37
neurofisiologis kardiorespirasi dan nociceptive, meskipun hal ini tidak ditemukan secara

konsisten.38

Berbagai parameter untuk menentukan intensitas latihan fisik dimana hipoalgesik

terjadi telah diselidiki pada individu yang sehat. Naugle dkk 9 menunjukan efek respon-dosis

antara intensitas olahraga sepeda dengan efek hipoalgesik. Menurut American College of

Sports Medicine, intensitas yang sesuai dengan 60% sampai 80% VO2max menguntungkan

untuk mengembangkan kebugaran kardiovaskular sehingga sering digunakan untuk pelatihan.

Sejalan dengan intensitas ini, Swain dkk merekomendasikan penggunaan maksimal

denyutjantung 75% -88%, yang merupakan metode pengukuran intensitas yang lebih praktis.

Oleh karena itu, dalam penelitian kami, denyut jantung digunakan untuk memantau intensitas

exer-cise, dengan menggunakan rumus Karvonen untuk menghitung target denyut jantung

individual, yang memperhitungkan denyut jantung maksimum dan denyut jantung sesuai

usia.9 Namun, intensitas terpantau ini hanya bisa Digunakan untuk latihan aerobik dan bukan

untuk latihan isometrik, yang membuat tidak mungkin untuk membandingkan stres fisiologis

antar kondisi latihan.

Selama latihan isometrik, efek hipoalgesik tertinggi terlihat pada intensitas rendah

hingga sedang yang dilakukan dengan durasi yang lebih panjang, hal ini dikarenakan unit

motorik dengan ambang tinggi menjadi lebih aktif untuk menjaga tenaga yang diperlukan.

Selanjutnya, penjelasan yang masuk akal adalah, untuk menyebabkan hipoalgesia, diperlukan

rekrutmen unit motirik ambang tinggi. 1,3

Secara sinergis, jalur penghambat pusat mungkin teraktivasi, karena beberapa

penelitian menunjukkan adanya efek hipoalgesik ekstrasegmental, sehingga tidak hanya

terbatas pada otot kontraktif saja.1Hasil kami yang tidak signifikan tidak dapat mereproduksi

kembali penemuak sebelumnya ini. Ekstensi lutu isometris dilakukan selama 12 menit

dengan beban 0,75 kg diikatkan di sekitar pergelangan kaki.6 Hal Ini menghasilkan intensitas
berat yang sama untuk setiap peserta sehingga lebih disukai daripada metode lain, di mana

dinamometer digunakan untuk menilai kontraksi volunter maksimal.

Pada penelitian ini, dua jenis latihan yang berbeda digunakan untuk mengevaluasi

perbedaan respon kardiovaskuler. Ditemukan hubungan terbalik antara tekanan darah saat

istirhat dengan persepsi nyeri,40 dan beberapa penelitian meneliti mengenai interaksi antara

latihan fisik, tekanan darah dan hipoalgesia. Terdapat beberapa bukti untuk hipotesis yang

menyatakan bahwa terdapat interaksi antara modulasi nyeri dan sistem kardiovaskular yang

melibatkan neuropeptida (cth. Opioid), neurotransmiter (cth. Monoamin) dan nukleus sel

punca (cth. Nuklesu trakturs solitarius dan lokus coeruleus) yang sama. 1,20,40-42. Denyut

jantung meningkat secara signifikan selama aktivitas sepeda aerobik namun tidak pada

ekstensi isometrik, dengan demikian respon kardiovaskular menjadi berbeda. Namun, tidak

ditemukan adanya perbedaan pada efek hipoalgesik

Model nyeri eksperimental akut digunakan untuk menginduksi nyeri viseral pada

relawan sehat. Pada pasien, nyeri merupakan pengalaman sub-jective, dipengaruhi oleh

banyak faktor, misalnya aspek emosional dan psikologis, genetika dan latar belakang budaya.

Hal ini menyulitkan untuk mengkarakterisasi mekanisme nyeri dan efek hipoalgesik.

Penggunaan model rasa sakit eksperimental mencegah beberapa bias ini dan memfasilitasi

frekuensi, durasi, intensitas, dan lokalisasi rangsangan nyeri yang terkontrol. Untuk meniru

setting klinis sebanyak mungkin, modalitas rasa sakit yang berbeda dapat digunakan, seperti

rangsangan mekanis, termal, listrik dan kimia, dan persepsi nyeri dapat dinilai secara

subjektif (menggunakan VAS) dan secara obyektif (misalnya dengan refleks nociceptive Atau

potensi membangkitkan serebral) .43 Dengan karakteristik ini, model nyeri eksperimental

membantu mengurangi kesenjangan antara studi pra-klinis dan uji klinis.

Terdapat beberapa keterbatasan dalam penelitian ini. Pertama, hanya rangsangan

listrik saja yang digunakan untuk menginduksi nyeri viseral pada model nyeri eksperimental,
karena motif etis dan praktis. Listrik merangsang saraf aferen secara langsung, sehingga

melewati reseptor. Selanjutnya, posisi probe esofagus yang digunakan selama 4 jam selama

latihan tidak dikontrol secara visual, karena penggunaan endoskopi dihindari demi alasan

kenyamanan. Meskipun impendansi dikontrol sebelum stimulasi namun tidak kembali

diperiksa setelah intervensi, hal ini dapat mempengaruhi hasil pengukuran rasa nyeri.

Dikarenakan inervasi dan kepadatan saraf pada esofagus tidak tersebar secara merata,

perubahan kecil pada posisi probe dapat menyebabkan perbedaan. 44 Sangatlah menantang

untuk mengukur sensitivitas nyeri viseral secara objektif karena sulit untuk mengkarakterisasi

pasien dan investigatornya. Namun, tetaplah penting untuk mempelajar jenis nyeri ini, karena

nyeri viseral merupakan penyebab umum nyeri kronik dan memiliki kemungkinan

tatalaksana yang terbatas.

Kesimpulan

Penelitian eksploratid ini merupakan yang pertama yang menyelidiki efek latihan

aerobik dan isometrik terhadap jalur nyeri viseral dan somatik didalam model eksperimental

nyeri, dibandingkan dengan bernafas dalam sebagai kondisi kontrol aktif. Tidak ditemukan

perbedaan signifikan pada perbandingan test psikofisik setelah intervensi 2 latihan fisik yang

dibandingkan dengan kondisi kontrol., meskipun masalah metodologi tidak dapat

dikecualikan. Efek hipoal-gesik dari latihan fisik ternyata tidak sestabil yang diperkirakan

pada awalnya. Penelitian lebih lanjut dianjurkan untuk meningkatkan pengetahuan kita

tentang efek olahraga dan pernapasan dalam pada persepsi nyeri, termasuk perbandingan efek

olahraga terhadap berbagai jenis rasa sakit antara intervensi olahraga dan kondisi kontrol

yang setara.