Anda di halaman 1dari 16

RENCANA PENYEWAAN TRAKTOR TANGAN

(Tugas Mata Kuliah Kewirausahaan)

Oleh :
Kelompok 2
1. Andri Anggawa 1414071010
2. Fatimah Marsela 1414071036
3. Ferdy Indra 1414071037
4. I Made Darma Duta 1414071046

JURUSAN TEKNIK PERTANIAN


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2017
I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Indonesia adalah negara agraris yang sebagian besar penduduknya memiliki mata
pencaharian sebagai seorang petani. Begitu banyaknya pulau dan daratan
membuat bidang pertanian berkembang dengan sangat pesat. Dukungan iklim dan
cuaca yang baik juga menjadi faktor pendorong kemajuan sektor ini. Untuk
meningkatkan hasil pertanian, menggunakan alat dan mesin pertanian merupakan
solusi terbaik.

Teknologi tidak dapat dipisahkan di dalam kehidupan manusia. Kehadiran


teknologi dapat mempermudah seluruh bidang kehidupan manusia. Begitu juga
halnya dengan bidang bercocok tanam ini. Sudah sejak dahulu sektor pertanian
sebagai penopang perekonomian negara. Sampai saat ini pun sektor pertanian
masih tetap menyumbang devisa yang cukup besar bagi perekonomian negara.
Bahkan pada saat Indonesia dilanda krisis ekonomi yang menghancurkan
perekonomian negara, sektor pertanian melalui agribisnis dan agroindustri justru
dapat terus berkembang menjadi penyelamat perekonomian negara. Namun,
dengan sumber daya yang melimpah, proses perkembangan dan modernisasi
sektor pertanian Indonesia berjalan sangat lambat.

Salah satu indikatornya yaitu produktivitas pertanian yang cenderung menurun


dan petani sebagai ujung tombaknya sebagian besar berada di bawah garis
kemiskinan. Penyebabnya antara lain penerapan teknologi disektor pertanian yang
masih rendah.Teknologi dalam pertanian adalah segala sesuatu yang dapat
memudahkan pekerjaan dan menghasilkan output yang lebih baik. Pembangunan
pertanian tanpa teknologi ialah hal yang mustahil. Keduanya berjalan secara
beriringan saling mengikat. Dalam pembangunan pertanian tentu akan sangat
berbeda dalam segi kepraktisan maupun hasil tani apabila petani tersebut
mengadopsi teknologi dibandingkan memakai cara tradisional.
Teknik pertanian meliputi usaha tani (teknik penanaman, pemupukan, pengairan
perlindungan tanaman secara terpadu ) dan pasca panen (pengolahan hasil
pengenalan alat perontol yang dapat menekan kehilangan hasil, penyimpanan
hasil pertanian yang dapat meningkatkan kualitas produk pertanian ) dan
teknologi yang digunakan dalam pertanian, seperti mesin mesin.

Pengolahan tanah merupakan salah satu kegiatan pra panen untuk mengelolah
tanah menjadi lahan yang baru atau lahan yang siap untuk ditanami, guna
memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari manusia. Setiap pengolahan tanah
memerlukan perlakuan yang khusus agar tumbuhan atau tanaman yang ditanam
bisa menghasilkan hasil tanaman yang memuaskan atau yang sesuai dengan
keinginan. Untuk mengelolah tanah atau lahan yang sesuai dengan keinginan
maka perlu perlakuan yang khusus pula yaitu diantaranya menggunakan peralatan
yang mendukung atas penanaman yang akan kita lakukan, berbeda tanaman yang
akan ditanam maka perlakuan pengolahan tanah atau lahan pun sedikit berbeda.
Dari pernyataan diatas maka kita perlu mengetahui analasis biaya ekonomi pada
alat yang akan digunakan yang dapat kita gunakan sebagai salah satu
kewirausahaan.

1.2 Tujuan

Adapun tujuan dengan dilakukannya analisis kelayakan penyewaan terhadap hand


traktor guna membantu petani dalam pra panen.
II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengolahan tanah

Pengolahan tanah adalah proses dimana tanah digemburkan dan dilembekkan


dengan menggunakan bajak ataupun garu yang ditarik dengan berbagai sumber
tenaga seperti tenaga manusia, tenaga hewan, dan mesin pertanian (traktor).
Melalui proses ini kerak tanah teraduk sehingga udara dan cahaya matahari
menyentuh tanah lebih dalam dan meningkatkan kesuburannya. Sekalipun
demikian tanah yang terlalu sering diolah akan berkurang tingkat kesuburannya.
Sistem pengolahan tanah terbagi menjadi tiga jenis berdasarkan sistemnya. Yang
pertama adalah Tanpa Olah Tanah (TOT) bentuk ini adalah yang paling sederhana
karena tanah tidak perlu diolah. Bentuk ini diterapkan pada tanah yang sudah
gembur dengan vegetasi sekitar tidak dipenuhi gulma. Kedua, bentuk Olah Tanah
Minimum (OTM), bentuk ini dilakukan dengan mencangkul tanah pada barisan
yang akan ditanami dengan lebar 40 cm. Tanah dicangkul sedalam 15-20 cm agar
dapat menghancurkan bongkahan tanah yang besar. Biasanya bentuk ini
diterapkan pada tanah bersturktur ringan yang tidak memberikan perbedaaan hasil
dibandingkan pengolahan tanah sempurna. Ketiga, bentuk Olah Tanah Sempurna
(OTS), pengolahan tanah dilakukan sebanyak tiga kali dengan menggunakan
traktor sampai kedalaman mata bajak 30 cm. Tujauannya untuk membalik
sirkulasi udara untuk pertumbuhan akar tanaman. Setelah itu dilakukan
penggaruan dan pencangkulan agar tanah rata (Dahono dkk, 1997).

Adapun tahapan dalam mengolah tanah pertanian adalah dijelaskan sebagai berikut:
1. Land clearing (Membersihkan Areal) pembersihan areal dilakukan
terhadap pepohonan dan semak-semak, alang-alang yang berada disekitar areal
pengolahan tanah. Pembersihan areal ini berfungsi memperlancar aliran arus air,
menekan pertumbuhan biji-biji gulma yang terbawa di areal tanah.
2. Pembajakan tanah adalah proses pengolahan tanah sebelum masa tanam.
Pembajakan tanah adalah membolak balikkan tanah dengan kedalaman yang
ditentukan dengan tujuan menggemburkan tanah dan memperbaiki struktur aerase
dan draenase dalam tanah, pada proses ini juga diharapkan terjadi proses
mineralisasi bahan-bahan organik sehingga tanah siap untuk digunakan dalam
proses budidaya.
3. Proses penggaruan proses pelumatan tanah sehingga tanah menjadi halus
dan rata.

2.2 Pengolahan tanah dengan traktor tangan

Traktor tangan adalah salah satu jenis traktor yang dikendalikan dengan tangkai
kemudi bukan setir, pada saat dioperasikan untuk pengolahan tanah dilahan
pertanian operator mengoperasikan dengan berjalan dibelakangnya. Traktor
tersebut digunakan untuk menarik alat bajak, garu dan rotary. Cara
pengendaliannya dengan menarik kopling kanan untuk belok ke kanan atau
menarik kopling kiri untuk belok ke kiri

Traktor tangan terdiri dari beberapa komponen antara lain:

1. Motor penggerak,
Motor penggerak saat ini digunakan jenis motor pembakaran di dalam dengan
empat langkah dan jenis motor disel dengan bahan bakar solar dan biodisel
Jenis motor otto dengan bahan bakar bensin, gasohol, kerosin, gasbio Besar
daya yang ada di pasaran untuk traktor tangan kurang lebih antara 8,5 - 16 HP.

2. Unit transmisi,
Unit transmisi terdiri dari susunan gigi- gigi yang fungsinya menyalurkan putaran
poros motor penggerak ke roda penggerak yang bertujuan mengurangi kecepatan
putar dan meningkatkan torsi roda penggerak traktor.

3. Roda penggerak
Roda penggerak terdiri dari dua jenis, untuk di jalan digunakan ban karet dan
untuk kerja dilahan sawah digunakan roda sangkar yang terbuat dari besi.
4. Perlengkapan pengolahan tanah.
Sedangkan perlengkapan pengolahan tanah terdiri dari bajak singkal atau bajak
piring, garu besi, gelebeg, brujul, rotari dll

2.3 Cara Operasi dan Perawatan

Cara operasi traktor tangan di lahan untuk beberapa merek produksi yang sejenis
hampir sama, dan biasanya yang perlu diperhatikan hanya pada jenis pengolahan
tanah basah atau kering Jika pengolahan tanah basah maka roda sangkar perlu
dipakai untuk meningkatkan traksi dan pelumpuran tanah, sedangkan untuk
pengolahan tanah tanah kering biasanya digunakan roda karet khusus untuk
operasi di lahan dan tambahan roda sangkar rancang khusus dengan diameter roda
yang hampir sama diameter roda karet.

Hal ini dikarenakan pada pengolahan lahan basah roda traktor masuk ke dalam
tanah sehingga diperlukan diameter yang lebih besar, sedangkan pada lahan
kering roda hampir tidak tenggelam.

Yang perlu diperhatikan sebelum traktor dioperasikan perlu dikontrol: Oli


mesin atau motor, ada atau tidak, jika ada volumenya kurang atau tidak, jika
cukup kualitas oli perlu diganti atau tidak. Penggantian oli motor sebaiknya setiap
100 jam diganti kurang lebih isinya 2 liter. Oli transmisi, ada atau tidak jika ada
volumenya kurang atau tidak, jika cukup kualitas oli perlu diganti atau tidak.
Penggantian ole transmisi setiap 100 jam dengan volume 4 liter.

Air radiator, ada atau tidak jika ada volumenya kurang atau tidak, dan perlu
diperhatikan jika mengisi air radiator harus dicari air yang bersih tidah asam atau
basa, supaya tidak Mudah rusak radiatornya. Belt radiator, kondisinya masih
bagus dapat menghubungkan poros kipas dengan poros penggerak dengan
kekencangan yang optimal. Biasanya jika sudah saatnya diganti belt ini sudah
kendor sehingga putaran kipas tidak optimal sehingga mengurangi kerja
pendinginan radiator. Jika demikian akan mengurangi daya traktor.

Belt yang menghubungkan motor penggerak dengan transmisi, yang perlu


diperhatikan antara puli motor dan puli tansmisi senter tidak, kalau tidak akan
mempercepat umur belt karena geseran samping, secara fisik sudah banyka
retakan- retakan atau tidak, jika ada perlu diganti dari pada putus dilapang dan
mengganggu kerja. Setelan handel kopling harus disesuaikan antara yang posisi
kiri dan kanan dengan mengubah setelan yang ada agar jika digunakan untuk
belok bisa bekerja dengan enak.

Filter udara, filter bahan bakar dan filter yang lain perlu diperhatikan umur
penggunaan. Filter udara harus sering dibersihkan tetapi jangan sampai dilepas
atau tidak digunakan, filter bahan bakar, jika sudah kotor lebih baik diganti, umur
penggantian kurang lebih 100 jam. Mur baut semua harus diperiksa agar jangan
terjadi kecelakaan fatal karena unit traktor merupakan unit yang berbahaya bagi
operator dan orang disekitarnya jika tidah diperhatikan tingkat kekuatan bahan
dan cara operasi yang benar.

Dari pola bajak, ukuran dan luas lahan tersebut akan menetukan kapasitas kerja
dari traktor sehingga nilai finansial perlu memeperhatikan kondisi-kondisi
tersebut karena menyangkut kehilangan waktu yang berpengaruh dengan modal
operasional seperti bahan bakar upah tenaga operator, penyusutan barang,
pelumas dll. Sehingga harga kerja dalam satuan luas atau waktu perlu
memperhatikan lingkungan kerja dimana traktor tersebut menghasilkan uang
dengan kerjanya (Mulyoto H dkk, 1996).

Kapasitas kerja pengolahan tanah :


Perlu juga diperhatikan tingkat kemampuan dan kemauan petani dalam menyewa
traktor sehingga modal kerja dalam rental traktor tangan dapat menguntungkan
dan berkelanjutan dengan ditandai bertambahnya unit traktor dan usaha lain dari
keuntungan rental traktor tersebut. Oleh karena itu perlu menentukan harga sewa
traktor per satuan luas (Ha) atau per satuan jam dengan tepat melalui analisis
finansial.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Analisis Finansial Usaha Persewaan Traktor Tangan

Dalam menentukan harga sewa traktor persatuan luas atau persatuan waktu maka
perlu dilihat kesesuai traktor secara teknis. Melihat jenis traktor yang diberikan
pada kelompok usaha, yaitu dengan perlengkapan roda besi (sangkar), bajak
singkal, gelebeg, dan garu maka traktor tangan ini cocok untuk pengolahan lahan
sawah yang mempunyai irigasi teknis

Sedangkan analisis finansial dihitung dari jumlah biaya usaha dan kemauan dan
kemampuan petani menyewa traktor. Jika dimisalkan harga baru unit traktor
tangan Rp 19.000.000,- (enam belas juta rupiah). Setiap hari bekerja 8 jam,
dalam satu tahun diprediksi bekerja 6 bulan. Harga borongan pengolahan tanah
sawah 1 Ha Rp 800.000,- maka analisis finansial sebagai berikut:

A. Biaya tetap

Biaya tetap antara laian:


Biaya penyusutan = (Harga baru 10% harga baru) : umur ekonomi
Misalnya harga unit traktor baru Rp 19.000.000,- dan setelah umur ekonomi
katakanlah 5 tahun menjadi 10% harga baru = Rp 1.900.000,-.
Umur ekonomi adalah prediksi umur mesin dimana pada umur tersebut biaya
perawatan lebih tinggi jika dibanding beli baru.
Oleh karena itu biaya penyusutan
= (Rp19.000.000,- dikurangi Rp 1.900.000,-) dibagi 5 tahun
= Rp17.100.000,-: 5
= Rp3.420.000,-/ tahun
= Rp3.420.000,-/ (8jam x 25 hari x 6 bl)
= Rp 2.850,-/jam
Bunga Bank, kalau pembeliannya secara Kredit (pinjam uang di bank) tentu
dibebani bunga bank. Diasumsikan bunga bank saat ini 12% dalam 1 tahun
= Harga Traktor baru x 12%
= Rp.19.000.000 x 12%
= Rp2.280.000,-/th
= Rp2.280.000,-/ (365 hari x 24 jam)
= Rp 2.280.000,-/8.760 jam = Rp 260,27/jam

Total biaya tidak tetap per jam


= Rp Rp 2.850 -/jam + Rp 260,27/jam
= Rp 3.110,27 /jam

B. Biaya Tidak Tetap

Biaya tidak tetap adalah biaya yang dikeluarkan untuk operasional yang terdiri
dari biaya bahan bakar, pelumas, biaya tenaga kerja dan spare part
a. BB / Solar 1 lt/jam, bahan bakar diasumsikan harga @ Rp 5.500.
sehingga perjam Rp 5.500,-/jam

b. Oli Mesin tiap 100 jam diganti (isi 2 liter) harga Rp 30.000,-/ liter, sehingga
perjamnya (Rp 30.000,- x 2liter) : 100 jam = Rp 600,-/ jam.

c.Oli Transmisi tiap 200 jam diganti (isi 4 liter) harga Rp 30.000,-/ liter, sehingga
perjamnya (Rp 30.000,- x 4 liter): 200 jam = Rp 600,-/ jam.

d. Spare Part Kita asumsikan 10 % dari kontrak borongan


1 Ha = 10 % x Rp. 800.000 = Rp. 80.000,- .
Sehingga perjamnya jika 1 Ha 3 hari kali 8 jam maka biaya spare part Rp 80.000,-
/24 jam = Rp, 3.333,33 -/jam.

e.Tenaga Operator
Tenaga Operator = 1 orang @ Rp. 70.000
1 Ha= 3 hari x Rp. 70.000,- = Rp. 210.000 ,- .
Jika per hari kerja 8 jam maka biaya tenaga kerja per jam untuk 1 orang
= Rp 210.000,-/ 24 jam
= Rp 8.750 ,-/jam

Total biaya tidak tetap (operasi dan perawatan)


Rp 5.500,- /jam+ Rp 600,- /jam+ Rp 600,- /jam+ Rp 3.300,33/jam + Rp 8.750 ,-
/jam= Rp 18.750,33 /jam

Total Biaya
= Total biaya tetap dan Total biaya tidak tetap
= Rp 3.110,27 /jam + Rp 18.750,33/jam
= Rp 21.861,03/ jam

Biaya per Ha jika dapat diselesaikan dalam 3 hari dan setiap hari 8 jam maka
biaya yang dikeluarkan adalah Rp 21.861,03/ jam x 24 jam = Rp 524.664,72.

Dalam 1 Ha kemampuan dan kemauan petani membayar borongan Rp 800.000,- .


Jadi keuntungannya per Ha
= Rp 800.000-Rp 524.664,72
= Rp 275.335,28 /Ha

Sehingga untuk kembali modal= Rp 19.000.000,- : Rp 275.335,28 = 69,1 Hektar


dibulatkan menjadi kerja 70 Ha. Atau 70 Ha x 3 hari, 210 hari. Dalam 1 tahun
kerja 3 bulan maka 210 hari 90 hari = 2.33 tahun

Asumsi sawah yang akan diolah sudah merupakan langganan tetap atau ada
kerjasama tanpa ada pesaing. Seluas minim Perhitungan tersebut dengan asumsi: -
-Lahan al 70 Ha.
-Pola tanam petani pada areal tersebut minimal tanaman padi dua kali dalam 1
tahun
-Ada sistem irigasi teknis.
-Ada lembaga kerukunan atau himpunan petani yang dapat dijadikan kerjasama
sehingga secara pengaturan jadwal pengolahan tidak tumpang tindih dan adil.
-Terjaminnya pembayaran sewa traktor
-Tidak ada puso tanaman akibat terserang penyakit dan hama.
-Usaha tani padi yang menguntungkan atau tidak rugi.

Oleh karena itu untuk mencapai beberapa hal tersebut perlu ada pertimbangan
yang khusus antara lain: Perlu adanya kerjasama dengan himpunan pemakai air
(kelompok tani yang mengatur air irigasi), karena pengolahan tanah sawah sangat
tergantung dengan keberadaan air.dan mungkin kelompok tani yang mengatur
pola tanam. Penambahan perlengkapan jembatan (berupa papan atah tangga
besi) sebanyak dua buah untuk melompat pematang dan galengan. Dan peralatan
kunci beserta obeng agar dapat memperbaiki kerusakan kecil di lapang.
IV. KESIMPULAN

Dalam 1 Ha apabila kemampuan dan kemauan petani membayar borongan Rp


800.000,- . Jadi keuntungannya per Ha Rp 275.335,28 /Ha. Sehingga untuk
kembali modal selama 2.33 tahun.
DAFTAR PUSTAKA

Dahono dkk, 1997, Pengolahan Tanah Dengan Traktor Tangan, Bagian Proyek
Pendidikan Kejuruan Teknik IV, Jakarta

Mulyoto H dkk, 1996, Mesin-Mesin Pertanian, Bumi Aksara, Jakarta