Anda di halaman 1dari 7

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
KB mempunyai peranan dalam menurunkan resiko kematian ibu melalui
pencegahan kehamilan, melalui pendewasaan usia hamil, dan menjarangkan kehamilan
atau membatasi kehamilan bila anak dianggap sudah cukup. Setiap wanita berhak
memperoleh informasi dan mempunyai akses terhadap metode KB yang mereka inginkan,
meliputi keefektifan, keamanan, keterjangkauan, dan juga metode-metode pengendalian
kehamilan yang tidak bertentangan dengan hukum dan perundang-undangan yang berlaku
(Pinem, 2009). Sebagian besar peserta KB mengunakan kontrasepsi jangka pendek yang
membutuhkan pembinaan secara rutin dan berkelanjutan untuk menjaga kelangsungan
pemakaian kontrasepsi. Proporsi pemakai kontrasepsi suntikan cukup besar yaitu 54,2%,
dikarenakan akses untuk memperoleh pelayanan suntikan relatif lebih mudah, sebagai
akibat tersedianya jaringan pelayanan sampai di tingkat desa atau kelurahan sehingga
dekat dengan tempat tinggal peserta KB (Dinkes Jateng, 2011).
Efek samping kontrasepsi suntik yang paling utama gangguan pola haid, sedangkan
efek yang lain tidak kalah pentingnya adalah adanya peningkatan berat badan antara 15
kg. Penyebab peningkatan berat badannya belum jelas. Kenaikan berat badan,
kemungkinan disebabkan karena hormon progesteron mempermudah perubahan
karbohidrat dan gula menjadi lemak, sehingga lemak di bawah kulit bertambah, selain itu
hormon progesteron juga menyebabkan nafsu makan bertambah dan menurunkan
aktivitas fisik (Mudrikati, 2012).

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan kb iud ?
2. Apa efek samping pada kb iud ?
3. Bagaimana penaganan penatalaksanaan kb dengan efek samping peningkatan berat
badan pada aseptor kb?

C. Tujuan Masalah
1. Untuk mengetahui tentang kb iud.
2. Untuk mengetahui efek samping pada kb iud.

1
3. Untuk mengetahui tentang penanganan penatalaksanaan kb dengan efek samping
peningkatan berat badan pada aseptor kb.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Kb IUD
IUD (Intra Uterine Device) adalah atau Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR)
merupakan alat kontrasepsi terbuat dari plastik yang flesibel dipasang dalam rahim.
Kontrasepsi yang paling ideal untuk ibu pasca persalinan dan menyusui adalah tidak
menekan produksi ASI yakni Alat Kontarsepsi Dalam rahim (AKDR)/Intra Uterine
Device (IUD), suntikan KB yang 3 bulan, minipil dan kondom (BkkbN, 2014).
Ibu perlu ikut KB setelah persalinan agar ibu tidak cepat hamil lagi (minimal 3-5
tahun) dan punya waktu merawat kesehatan diri sendiri, anak dan keluarga. Kontrasepsi
yang dapat digunakan pada pasca persalinan dan paling potensi untuk mencegah mis
opportunity berKB adalah Alat Kontrasepsi Dalam rahim (AKDR) atau IUD pasca
plasenta, yakni pemasangan dalam 10 menit pertama sampai 48 jam setelah plasenta lahir
(atau sebelum penjahitan uterus/rahim pada pasca persalinan dan pasca keguguran di
fasilitas kesehatan, dari ANC sampai dengan persalinan terus diberikan penyuluhan
pemilihan metode kontrasepsi. Sehingga ibu yang setelah bersalin atau keguguran, pulang
ke rumah sudah menggunakan salah satu kontrasepsi (BkkbN, 2014).

B. Jenis Kb IUD
Terdapat 2 jenis IUD, antara lain:
1. IUD berlapis tembaga. Tidak mengandung hormon, cara kerja KB ini adalah dengan
mencegah terjadinya pembuahan sel telur dengan melepaskan unsur tembaga secara
perlahan. Tembaga di dalam rahim akan menghalang sel sperma untuk naik dan

3
mencapai sel telur. Kekurang dari KB ini adalah dapat terjadinya peningkatan
perdarahan saat menstruasi, dapat terjadi kram pada perut, dan tidak semua wanita
dapat menggunakannya (tidak boleh digunakan pada wanita yang menderita radang
panggul, kanker serviks, kanker payudara, kelainan panggul, dll)
2. IUD mengandung hormon. KB ini dilapisi hormon progestin, Cara kerjanya adalah
mencegah penebalan dinding rahim sehingga sel telur yang telah dibuahi tidak dapat
bertumbuh. Juga membuat leher rahim dipenuhi lendir sehingga sperma sulit
memasuki rahim. Kekurangan IUD ini adalah, karena mengandung hormon,
kemungkinan dapat menderita kista ovarium, muncul jerawat, sakit kepala, perubahan
mood, nyeri pada payudara, namun umumnya gejala ini akan hilang setelah beberapa
bulan pemakaian.
normal, dengan menarche sebagai titik awal, yang dapat berkisar kurang dari
batas normal sekitar 22 35 hari (Handayani, 2010).
Haid lebih lama dan banyak
Perdarahan menstruasi yang lebih banyak atau lebih lama dari normal (lebih dari 8
hari). Pada keadaan ini AKDR tidak perlu dilepaskan kecuali bila pendarahan terus
berlangsung sampai lebih dari 8 10 minggu (Handayani, 2010) 3. Perdarahan
spotting atau perdarahan bercak antara menstruasi (Handayani,2010)

C. Efek Samping Pada Kb IUD


Efek samping yang terjadi pada pengguna kontrasepsi IUD, yaitu:
1) Perubahan siklus haid (umumnya pada 3 bulan pertama dan akan berkurang setelah 3
bulan). Perubahan siklus haid merupakan suatu keadaan siklus haid yang berbeda
dengan yang sebelumnya, yang diukur mulai dari siklus menstruasi

2) Keputihan
Pada pemakaian AKDR sering dijumpai adanya keputihan yang mungkin merupakan
akibat dari terjadinya reaksi awal terhadap adanya benda asing (Handayani, 2010)

3) Saat haid lebih sakit (disminorea)


Nyeri haid (disminorea) merupakan suatu rasa tidak enak di perut bawah sebelum dan
selama menstruasi dan sering kali disertai rasa mual (Prawirohardjo, 2007).

4
4) Perdarahan
Umumnya setelah pemasangan IUD, terjadi perdarahan sedikit sedikit yang cepat
berhenti. Kalau pemasangan dilakukan sewaktu haid, perdarahan yang sedikit
sedikit ini tidak akan diketahui oleh akseptor, keluhan yang sering terdapat pada
pemakaian IUD ialah perdarahan banyak dapat disertai bekuan darah dalam siklus
normal (menorrhagia), spotting metroraghia (perdarahan diluar siklus haid)
(Prawirohardjo,2010).

5) Rasa nyeri dan kejang di perut


Rasa nyeri atau kejang di perut dapat terjadi segera setelah pemasangan IUD,
biasanya rasa nyeri ini berangsur angsur hilang dengan sendirinya. Rasa nyeri dapat
dikurangi atau dihilangkan dengan jalan memberi analgetik, jika keluhan berlangsung
terus, sebaiknya IUD diganti dengan ukuran yang lebih kecil (Prawirohardjo,2010).

6) Gangguan pada suami


Kadang kadang suami dapat merasakan adanya benang IUD sewaktu bersenggama,
ini disebabkan oleh benang IUD yang keluar dari porsio uteri 9 terlalu pendek atau
terlalu panjang. Untuk mengurangi atau menghilangkan keluhan ini, benang IUD
yang terlalu panjang dipotong sampai kira-kira 3 cm dari porsio, sedang jika benang
IUD terlalu pendek, sebaiknya IUD akan diganti, biasanya dengan cara ini keluhan
suami akan hilang (Prawirohardjo,2010)

7) Ekspulsi (pengeluaran sendiri) (Prawirohardjo,2008,p559)


Ekspulsi IUD dapat terjadi untuk sebagian atau seluruh lebih besar dari pada
sebelumnya, dapat juga diganti dengan IUD jenis lain. Ekspulsi biasanya terjadi pada
waktu haid, yang dipengaruhi oleh :
a. Umur dan Paritas : Pada paritas yang rendah 1 atau 2, kemungkinan ekspulsi dua
kali lebih besar dari pada paritas 5 atau lebih, demikian pula pada wanita muda
ekspulsi lebih sering terjadi dari pada wanita yang umurnya lebih tua.
b. Lama Pemakaian : Ekspulsi paling sering terjadi pada tiga bulan pertama setelah
pemasangan, setelah itu angka kejadian menurun dengan tajam
c. Ekspulsi sebelumnya : Pada wanita yang pernah mengalami ekspulsi lagi ialah kira
kira 50%. Jika terjadi ekspulsi, pasangkanlah IUD dari jenis yang sama, tetapi
dengan ukuran yang

5
d. Jenis dan Ukuran : Jenis dan ukuran IUD yang dipasang sangat mempengaruhi
ekspulsi, makin besar ukuran IUD makin kecil kemungkinan terjadinya ekspulsi
e. Faktor psikis : Oleh karena mortalitas uterus dapat dipengaruhi oleh faktor psikis,
maka frekuensi ekspulsi lebih banyak dijumpai pada wanita wanita yang
emosional dan ketakutan, yang psikis labil. Wanita wanita seperti ini 10 penting
diberikan penjelasan yang cukup sebelum dilakukan pemasangan IUD.

D. Penanganan Penatalaksanaan Kb Dengan Efek Samping Peningkatan Berat Badan


Pada Aseptor Kb
IUD tidak mempengaruhi secara langsung kenaikan berat badan. Namun jika Anda
mengalami perubahan mood selama menggunakan IUD yang mengandung hormon,
kemudian nafsu makan menjadi meningkat, dapat mengakibatkan berat badan meningkat.
Peningkatan berat badan pada Ibu muda setelah melahirkan merupakan masalah yang
sering dijumpai. Hal yang dapat Anda lakukan untuk mencegahnya adalah:
1. Olah raga teratur 3 x seminggu selama 45 menit,
Dapat melakukan yoga, berenang,senam , jalan jalan santai dipagi hari.
2. Konsumsi makanan dengan menu seimbang,
Tingkatkan asupan antioksidan. Hindari makanan yang mengandung lemak tinggi -
Tingkatkan asupan cairan, banyaklah minum air putih, minimal 8 gelas sehari - Batasi
konsumsi makanan yang manis, meskipun menyusui bukan berarti harus meminum
susu untuk melengkapi nutrisi, perlu diingat kandungan pemanis pada susu, lebih baik
Anda memilih mengkonsumsi susu segar yang kadar gulanya sedikit.

6
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dalam pelayanan KB ada berbagaimacam cara untuk mencegah konsepsi salah
satunya dengan menggunakan AKDR. Dalam penggunaan AKDR juga terdapat manfaat,
keuntungan serta kerugian dari penggunaan AKDR tersebut. Masalah yang timbul dari
penggunaan AKDR tersebut juga diharapkan bisa teratasi dengan beberapa cara antara
lain dengan memperhatikan cara pemakaian yang bena, efek samping serta konseling bagi
pengguna oleh tenaga kesehatan.

B. Saran
1. Bagi pengguna alat kontrasepsi AKDR
Pengguna hendaknya mengetahui terlebih dahulu alat kontrasepsi yang akan di pakai
dengan cara bertanya hal yang ingin diketahui ke tenaga kesehatan.
2. Bagi tenaga kesehatan
a. Sebagai tenaga kesehatan hendakna meningkatkan keterampilannya memasang
AKDR yang baik dan sesuai prosedur.
b. Sebelum memasang AKDR pada klien jangan lupa untuk melakukan
infomconsent pada klien.