Anda di halaman 1dari 18

Laporan Praktikum Bahan dan Struktur Beton Kelompok XX

BAB I

PERENCANAAN CAMPURAN BETON

(METODE BRITISH 1986)

A. Karakteristik Bahan Penyusun Beton

a. Semen

Semen yang digunakan dalam praktikum ini adalah semen Portland type I,

yaitu semen biasa (normal cement) yang biasa digunakan untuk pembuatan

beton bagi konstruksi beton yang tidak terpengaruhi oleh sifat-sifat lingkungan

yang mengandung bahan-bahan sulfat dan perbedaan temperatur yang ekstrim.

Penggunaan type I umumnya pada konstruksi beton pada konstruksi :

a) Jalan c) Bangunan beton bertulang

b) Jembatan d) Tangki, waduk, pipa, batako.

b. Air

Air yang digunakan dalam perencanaan campuran beton adalah air dengan

ketentuan sebagai berikut :

- Air yang tidak berbau

- Air yang tidak mengandung bahan organik yang tinggi

- Secara visual terlihat jernih.

Perencanaan Campuran Beton Metode British (1986) BAB I | 1


Laporan Praktikum Bahan dan Struktur Beton Kelompok XX

c. Agregat

- Agregat kasar

Agregat kasar yang dipakai adalah batu pecah yang keadannya cukup baik.

- Agregat halus

Agregat halus yang dipakai adalah pasir alam yang tidak mengandung

lumpur (sedikit) karena lumpur dapat mengurangi daya ikat beton.

B. Karakteristik Beton yang Direncanakan

Campuran beton yang direncanakan adalah campuran dengan mutu K-225.

Untuk menguji disain campuran yang dibuat, maka diadakan pengujian terhadap 6

silinder beton uji yang dibuat sesuai dengan bahan-bahan yang akan digunakan di

lapangan setelah behan-bahan tersebut diperiksa di laboratorium.

Bahan campuran yang dipakai adalah :

Semen type I

Agregat kasar dari batu pecah (crushed)

Agregat halus dari pasir alam.

Perencanaan Campuran Beton Metode British (1986) BAB I | 2


Laporan Praktikum Bahan dan Struktur Beton Kelompok XX

C. Perencanaan Campuran Beton (Metode British 1986)

Pada metode BRITISH 1986 ini persyaratan yang menyangkut gradasi

agregat yang harus harus dipenuhi yang ditunjukkan oleh besarnya persentase

berat lolos kumulatif saringan tertentu untuk beberapa ukuran diameter ukuran

maksimum butiran yang tercantum dalam BS 882 1983 sebagai standar mengenai

Agregat dari Sumber Alam untuk Beton yang disahkan kembali pada tahun

berikutnya, seperti pada tabel berikut :

Tabel 14. Persyaratan Gradasi Agregat Gabungan Menurut BS 882 1983

Ukuran Saringan Persentase Berat Lolos Ukuran Saringan


(mm) 40 mm 20 mm 10 mm 5 mm

50,0 100 - - -

37,5 95 100 100 - -

20,0 45 80 95 - 100 - -

14,0 - - 100 -

10,0 - - 95 - 100 -

5,00 25 50 35 - 55 30 - 65 70 - 100

2,36 - - 20 - 50 25 - 70

1,18 - - 15 - 40 15 - 45

0,60 8 30 10 - 35 10 - 30 5 - 25

0,30 - - 5 - 15 3 - 20

0,15 0 - 8* 0 - 8* 0 - 8* 0 15
* Dapat dipecah hingga 10 % untuk butiran halus dipecah

Perencanaan Campuran Beton Metode British (1986) BAB I | 3


Laporan Praktikum Bahan dan Struktur Beton Kelompok XX

Guna menentukan komposisi campuran untuk setiap unit volume beton

juga diperlukan data bagi tingkat kemudahan pelaksanaan bagi jenis struktur yang

bersangkutan dan ditunjukkan oleh besarnya nilai slump rencana.

Pada metode BRITISH 1986, besarnya slump rencana untuk berbagai tipe

dapat dilihat pada tabel 15 seperti di bawah ini :

Tabel 15. Nilai Slump Yang Disyaratkan Sesuai Dengan Penggunaan Beton

Tingkat Kemudahan Slump


Penggunaan Beton Cocok Untuk
Pelaksanaan (mm)

Jalan yang digetar dengan mesin


penggetar otomatis, dalam kasus
Sangat Rendah 0 - 25
tertentu dapat pula digunakan
mesin penggetar tangan.

Jalan yang digetar dengan mesin


penggetar tangan, dalam kasus
Rendah 25 - 50 umum beton dapat dipadatkan
secara manual baik memakai
agregat bulat atau tak beraturan.
Pelat lantai yang dipadatkan
dengan menggunakan agregat batu
pecah. Beton bertulang normal
Sedang 25 - 100
yang dipadatkan secara manual
dan penampang beton bertulang
yang digetar

Penampang beton dengan tulangan


Tinggi 100 - 175
rapat.

Perencanaan Campuran Beton Metode British (1986) BAB I | 4


Laporan Praktikum Bahan dan Struktur Beton Kelompok XX

Penentuan besarnya semen yang diperlukan untuk 1 m 3 beton didasarkan

atas perbandingan berat air terhadap berat semen sebesar 0,5 sehubungan dengan

kuat tekan kubus beton berisi 150 mm untuk umur, tipe semen dan agregat kasar

yang dilaksanakan pada proses perancangan campuran. Dengan kata lain,

penentuan faktor air-semen sangat tergantung pada jenis agregat kasar yang

digunakan, tipe semen serta umur beton dimana kekuatan tekannya akan ditinjau.

Untuk lebih jelasnya, maka besarnya kekuatan tekan beton bagi faktor air-

semen sebesar 0,5 seperti terlihat pada tabel 16 berikut guna membantu dalam

menentukan faktor air-semen untuk kekuatan tekan yang direncanakan.

Tabel 16. Perkiraan Kekuatan Tekan Beton dengan Faktor Air-Semen

(W/C) = 0,5

Kekuataan Tekan (Mpa) pada Umur


Tipe Jenis Agregat (Hari)
Semen Kasar
3 7 28 91

Tipe I Tidak dipecah 22 31 43 50

Tipe V Dipecah 27 36 48 55

Tidak dipecah 29 37 49 55
Tipe III
Dipecah 34 43 54 60

Penentuan faktor air-semen (W/C) untuk kekuatan tekan rencana tertentu

ditetapkan langkah-langkah berikut :

1. Tentukan kuat tekan rencana, tipe semen, jenis agregat kasar yang digunakan

dan umur kubus beton dimana kekuatan tekan rencananya akan ditinjau.

Perencanaan Campuran Beton Metode British (1986) BAB I | 5


Laporan Praktikum Bahan dan Struktur Beton Kelompok XX

2. Dari tabel 16, maka perkirakan kekuatan tekan kubus beton untuk W/C = 0,5

dapat ditetapkan.

3. Dengan menggunakan kurva hubungan antara kekuatan tekan dan W/C pada

gambar 5, tarik garis vertikal ke atas dari W/C = 0,5 sehingga memotong garis

kurva kekuatan tekan sesuai tabel pada langkah 2.

4. Dari perpotongan antara W/C = 0,5 dan perkiraan kekuatan tekan menurut

tabel 16, gambarkan kurva mengikuti kurva di sebelahnya pada kurva

hubungan kekuatan tekan dengan W/C seperti pada gambar 5.

5. Nilai W/C untuk kekuatan tekan yang direncanakan dapat dicari dengan

menarik garis dari kekuatan tekan rencana hingga memotong kurva yang telah

digambar pada langkah 4, kemudian dari titik potong tersebut ditarik garis

vertikal ke bawah hingga memotong nilai W/C. Nilai W/C inilah yang akan

dijadikan dasar untuk perhitungan jumlah semen bagi kekuatan tekan yang

direncanakan :

Gambar 5. Kurva Hubungan Kekuatan Tekan W/C

Perencanaan Campuran Beton Metode British (1986) BAB I | 6


Laporan Praktikum Bahan dan Struktur Beton Kelompok XX

Dengan telah ditetapkannya nilai W/C, maka kuantitas semen yang

dibutuhkan dalam perencanaan dapat dihitung dengan menggunakan data

banyaknya air bebas yang diperlukan untuk setiap kubikasi beton, seperti

tercantum dalam tabel 17 berikut :

Tabel 17. Perkiraan Jumlah Air Bebas yang Diperlukan untuk Memberikan Tingkat

Workability Tertentu

Ukuran Jumlah Air (Kg/m3) untuk


Maksimum Slump (mm)
Jenis Agregat
Agregat
(mm) 0 - 10 10 - 30 30 - 60 60 - 180
Dipecah 150 180 205 225
10
Tidak Dipecah 180 205 230 250
Dipecah 135 160 180 195
20
Tidak Dipecah 170 190 210 225
Dipecah 115 140 160 175
40
Tidak Dipecah 155 175 190 205

Besarnya jumlah semen yang dihitung atas dasar jumlah air bebas dan W/C

yang sebelumnya telah ditetapkan, tidak boleh kurang dari jumlah semen

minimum yang disyaratkan pada kondisi exposure tertentu untuk menjamin

ketahanan pada kondisi yang disyaratkan pada tabel 18 berikut:

Perencanaan Campuran Beton Metode British (1986) BAB I | 7


Laporan Praktikum Bahan dan Struktur Beton Kelompok XX

Tabel. 18 Jumlah Semen Minimum Untuk Kondisi Terekspos

Kondisi Ekspos Selimut Beton (mm)


Ringan 25 20 20 20 20

Sedang - 35 30 25 20

Buruk - - 40 30 25

Sangat Buruk - - 50 40 30

Ekstrim - - - 60 50

W/C Maksimum 0,65 0,60 0,55 0,50 0,45


Jumlah Semen
275 300 325 350 400
Minimum (kg/m3)
Kekuatan
30 35 40 45 50
Minimum (Mpa)

Langkah selanjutnya dari perancangan beton dengan metode BRITISH

1986 ini adalah memperkirakan berat jenis beton segar dengan memanfaatkan data

jumlah air bebas dan specific gravity agregat gabungannya. Untuk memperkirakan

besarnya berat jenis beton segar, guna menentukan jumlah masing-masing agregat

untuk 1 m3 beton, terlebih dahulu dibutuhkan persentase masing-masing agregat

sehingga langkah untuk memperkirakan berat jenis beton dapat dilakukan.

Perkiraan persentase masing-masing agregat dalam satu unit beton dapat

ditempuh dengan memanfaatkan grafik hubungan antara besarnya faktor air-semen

(W/C) dengan persentase agrgegat halus untuk beberapa nilai slump dan ukuran

maksimum agregat yang dipakai, yang dapat dilihat pada gambar 6a, 6b, 6c

berikut:

Perencanaan Campuran Beton Metode British (1986) BAB I | 8


Laporan Praktikum Bahan dan Struktur Beton Kelompok XX

15
15

40 40
60
60
80 80
100 100

15

15
40

40
60
60
80
80
100
100

Gambar 6a.

Penentuan Persentase Agregat Halus untuk Diameter Maksimum 10 mm

Perencanaan Campuran Beton Metode British (1986) BAB I | 9


Laporan Praktikum Bahan dan Struktur Beton Kelompok XX

15
15
40
40
60 60
80 80
100 100

15

15
40
40
60
60
80
80 100

100

Gambar 6b.

Penentuan Persentase Agregat Halus untuk Diameter Maksimum 20 mm

Perencanaan Campuran Beton Metode British (1986) BAB I | 10


Laporan Praktikum Bahan dan Struktur Beton Kelompok XX

15
15
40
40 60
60 80
80 100
100

15
15 40
40
60
60 80
80 100
100

Gambar 6c.
Penentuan Persentase Agregat Halus untuk Diameter Maksimum 40 mm

Perencanaan Campuran Beton Metode British (1986) BAB I | 11


Laporan Praktikum Bahan dan Struktur Beton Kelompok XX

Angka-angka di sebelah kiri kurva pada gambar 6a, 6b, dan 6c menunjukan

persentase agregat lolos saringan 0,60 mm.

Dengan telah ditentukannya persentase agregat halus, maka persentase

agrgegat kasar adalah 100 % - persentase agregat halus, sehingga besarnya specific

gravity agregat gabungan merupakan jumlah hasil perkalian antara masing-masing

persentase agregat dengan specific gravitynya.

Perkiraan berat jenis beton segar dapat dihitung dengan menggunakan

bantuan grafik Hubungan Antara Jumlah Air Bebas dengan specific gravity

gabungan seperti gambar 7 berikut :

Gambar 7. Grafik Perkiraan Berat Jenis Beton Segar

Berat keseluruhan agregat yang diperlukan untuk setiap m3 beton

merupakan hasil pengurangan jumlah semen dan air dari berat jenis beton segar

yang diperkirakan menurut gambar 7 di atas.


Perencanaan Campuran Beton Metode British (1986) BAB I | 12
Laporan Praktikum Bahan dan Struktur Beton Kelompok XX

PENYELESAIAN SOAL MIX DESIGN

Ketentuan-ketentuan :

Kekuatan tekan beton yang disyaratkan (fc) = 21 Mpa

Slump = 100 mm

Ukuran agregat kasar berupa batu pecah berukuran maksimum 25 mm

Semen Type I

Dari data analisis saringan untuk agregat halus diketahui sebagai berikut :

Analisis saringan bagi butiran antara diameter 9,53 0,08 mm


Berat contoh = 500 gram
Ukuran Persentase Persentase
Saringan

Berat Persentase Spesifikasi


Nomor

Lobang Tertahan Lolos


Tertahan Tertahan ASTM
Ayakan Kumulatif Kumulatif
[gram] [%] C 33 - 90
mm inci [%] [%]
- 9,53 3/8 - - - 100 100
No.4 4,75 - 0 0 0 100 95-100
No.8 2,36 - 13,18 2,672 2,672 97,328 80-100
No.16 1,18 - 20,73 4,203 6,875 93,125 50-85
No.30 0,60 - 44,05 8,932 15,807 84,193 25-60
No.50 0,30 - 115,79 23,478 79,285 60,715 10-30
No.100 0,15 - 216,23 43,844 83,129 16,871 2-10
No.200 0,08 - 2,02 0,410 83,539 16,461 0-2
Pan 81,18 16,46 -
493,18 99,998 231,307 -
Modulus Kehalusan 2,313

Perencanaan Campuran Beton Metode British (1986) BAB I | 13


Laporan Praktikum Bahan dan Struktur Beton Kelompok XX

Menentukan W/C

Kekuatan tekan beton yang diisyaratkan = 21 MPa

Dari hasil pengujian terhadap 6 buah benda uji diperoleh nilai deviasi standar,

s = 29,5 MPa

Koreksi deviasi standar ( table 2 ), s = 1,20 ( 29,5 MPa ) = 35,4 MPa

Kekuatan tekan rata-rata, fcr = fc + 1,64 s = 34,94 MPa

atau Fcr=fc + 8,5 = 29,50 MPa

Fcr = fc + 2,64 s 4 = 39,44 MPa

Maka kekuatan beton yang disyaratkan (fc) = 39,44 Mpa

Dari tabel 16 (Perkiraan Kekuatan Tekan Beton deangan Faktor Air-Semen (W/C) =

0,5) untuk semen type V dan agregat dipecah, untuk W/C = 0,5 perkiraan kuat tekan

pada umur 28 hari adalah 48 Mpa.

Dengan menggunakan kurva pada gambar 5 (Kurva Hubungan Kekuatan Tekan

W/C) untuk kekuatan tekan 34,48 Mpa diperoleh W/C = 0,581.

Dari tabel 18 (Jumlah Semen Minimum Untuk Kondisi Terekspos Ringan) untuk

selimut beton 25 mm, diperoleh W/C maksimum = 0,65

Jumlah semen minimum = 275 kg/m3

Perencanaan Campuran Beton Metode British (1986) BAB I | 14


Laporan Praktikum Bahan dan Struktur Beton Kelompok XX

Menentukan Jumlah Air Bebas

Dari tabel 17 (Perkiraan Jumlah Air Bebas yang Diperlukan untuk Memberikan

Tingkat Workability Tertentu), untuk agregat kasar dipecah berdiameter maksimum

25,40 mm, dengan nilai Slump 60 180 mm, diperoleh bahwa jumlah air bebas yang

diperlukan untuk setiap m3 beton, dengan cara interpolasi didapat :

Kadar air bebas = 195 kg

Menentukan Jumlah Semen

Karena W/C yang diperoleh dari kurva pada gambar 5 yaitu 0,581 lebih kecil dari W/C

menurut tabel 18, maka yang diambil adalah nilai terkecil (W/C minimum), yaitu

0,581.

Jumlah air bebas 195


= 0,581
W/C

= 335,628 kg/m3 > 275 kg/m3

Maka digunakan jumlah semen maksimum.

Menentukan Persentase Agregat Halus

Dari hasil analisis saringan agregat halus, nampak bahwa persentase lolos butiran 0,60

mm adalah 84,193 %, sehingga untuk W/C = 0,581 dengan nilai slump 100 mm (60-

180mm) bagi agregat maksimum berukuran 25,4 mm didapat dari Gambar 6a bahwa

persentase agregat halusnya sebesar 34 %.

Menentukan Berat Jenis Beton Segar


Perencanaan Campuran Beton Metode British (1986) BAB I | 15
Laporan Praktikum Bahan dan Struktur Beton Kelompok XX

Diketahui dari hasil pengujian di laboratorium bahwa Specific Grafity kondisi SSD :

Agregat halus = 2,041 gr/cm

Agregat kasar = 2,579 gr/cm

Sehingga :

Specific Grafity Agregat gabungan = (0,34 x 2,041 + (1-0,34) (2,579)

= 2,4

Dari gambar 7 (Grafik Perkiraan Berat Jenis Beton Segar), untuk jumlah air bebas

195 kg/m3 dan Specific Grafity gabungan 2,4 diperkirakan bahwa berat jenis beton

segar adalah 2225 kg/m3

Menentukan Jumlah Agregat

Jumlah total agregat = Berat jenis beton segar jumlah semen jumlah air bebas

= 2225 335,628 195

= 1694,372 kg/m3

Jumlah agregat halus = 0,34 x (1694,372)

= 576,086 kg/m3

Jumlah agregat kasar = 0,66 x (1694,372)

= 1118,286 kg/m3

Menentukan Campuran Beton Kondisi Lapangan

Dari hasil pengujian di laboratorium, diketahui bahwa :

Agregat Kelembaban Absorpsi


Perencanaan Campuran Beton Metode British (1986) BAB I | 16
Laporan Praktikum Bahan dan Struktur Beton Kelompok XX

Kasar 0,5625 % 1,77 %


Halus 4,276 % 2,88 %

1118,286 x (0,5625 - 1,77)


Jumlah agregat kasar = 1118,286 +
100

= 1104,783 kg/m3

576,086 x ( 4,276 - 2,88)


Jumlah agregat halus = 576,086 +
100

= 584,128 kg/m3

Jumlah Air = 195 -

576,086 x ( 4,276 - 2,88) 1118,286 x (0,5625 - 1,77)


-
100 100

= 200,461 kg/m3

Jumlah Semen = 335,628 kg/m3

Menentukan Takaran Bahan-Bahan Yang Akan Dicampur :

Volume 1 silinder = d2 t

Dimana : d = diameter silinder = 0,15 m

t = tinggi silinder = 0,30 m

Maka :

Volume 1 silinder = d2 t

= (0,15)2 0,30

Perencanaan Campuran Beton Metode British (1986) BAB I | 17


Laporan Praktikum Bahan dan Struktur Beton Kelompok XX

= 0,0053 m3

Volume 7 silinder = 6 x 0,0053 = 0,0318 m3

Berat Semen = 335,628 x 0,0318 = 10,673 kg x 1,15 = 12,274 kg

Berat Air = 200,461 x 0,0318 = 6,375 kg x 1,15 = 7,331 kg

Berat Agregat Kasar = 1104,783 x 0,0318 = 35,132 kg x 1,15 = 40,402 kg

Berat Agregat Halus = 584,128 x 0,0318 = 18,575 kg x 1,15 = 21,361 kg

Perbandingan volume semen : pasir : batu pecah = 1 : 1,74 : 3,3

Perencanaan Campuran Beton Metode British (1986) BAB I | 18