Anda di halaman 1dari 55

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Air merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia bahkan hampir 70 %


tubuhmanusia mengandung air. Air digunakan sebagai keperluan makan, minum dan
pemenuhan kebutuhannya.Organisasi kesehatan dunia (WHO) menetapkan kebutuhan
per orang per hari untuk hidup sehat adalah 60 liter/hari. Air yang bersih dan sehat dapat
membantu terlaksananya program penyehatan masyarakat Beberapa sumber air untuk
kebutuhan sehari-hari antara lain sumur dangkal, sumur artesis, mata air, air permukaan
dan penampung air hujan. Akan tetapi tidak semua masyarakat mempunyai sumber air
yang memenuhi syarat kesehatan, dan kemudian lebih memilih menggunakan air dari
PDAM dengan harapan akan memperoleh air yang mempunyai kualitas lebih baik dan
memenuhi syarat kesehatan. Seiring dengan bertambahnya penduduk, bertambah pula
kebutuhan air dan berarti bertambah pula masyaraka yang membutuhkan air bersih
untuk keperluan sehari-hari dengan menjadi pelanggan tetap. PDAM memiliki kendala
dalam melayani banyaknya pelanggan dengan sumber air yang jumlahnya terbatas. Oleh
karena itu, banyak masyarakat yang belum mendapatkan layanan PDAM, dan ada juga
yang memang tidak menggunakan layanan PDAM karena mempunyai sumber air
sendiri seperti sumur dangkal, atau menggunakan sumber lain untuk keperluan setiap
harinya. Padahal belum tentu air yang digunakan tersebut layak untuk dikonsumsi dan
tidak memenuhi syarat kesehatan sehingga dapat menimbulkan berbagai macam
penyakit.

1.2 Rumusan Masalah

Permasalahan dalam perencanaan pengembangan distribusi jaringan untuk


kebutuhan air bersih di daerah adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana menghitung proyeksi pertambahan penduduk selama 2015 2024 ?
2. Bagaimana kebutuhan Domestik dan non Domestik penduduk desa ?
3. Bagaimana merencanakan jaringan air bersih yang akan melayani penduduk desa ?

1
4. Bagaimana menghitung debit andalan berdasarkan 12 tahun terakhir ?
5. Bagaimana kriteria perencanaan air bersih sesuai dengan standar perencanaan yang
berlaku ?
6. Bagaimana menghitung dimensi pipa air bersih dan kehilangan tekanan pada pipa ?
7. Bagaimana menghitung kapasitas reservoir yang dibutuhkan untuk melayani
kebutuhan air bersih pada kawasan tersebut ?

1.3 Batasan Masalah


Batasan masalah yang digunakan agar pembahasan tidak menyimpang dari tujuan
dan tidak terlalu kompleks adalah :
1. Pipa-pipa Jaringan yang disertakan dalam pemodelan jaringan distribusi adalah pipa-
pipa jenis transmisi (primer) dan distribusi (sekunder).
2. Pemodelan distribusi aliran air dengan menggunakan metode loop.

1.4 Maksud dan Tujuan

1. Mengetahui rencana kebutuhan air yang akan mengalir di beberapa daerah.


2. Mengetahui desain jaringan perpipaan yang akan dipakai di beberapa daerah.
3. Mengetahui dimensi pipa distribusi yang akan dipakai.
4. Mengetahui kecepatan aliran air pada masing-masing pipa.
5. Mengetahui headloss (kehilangan energi) air selama melewati suatu jaringan pipa.

1.5 Manfaat

Manfaat yang di harapkan muncul dari analisa ini adalah :


1. Manfaat bagi penulis
a. Mengembangkan ilmu pengetahuan di bidang teknik sipil sesuai dengan teori
yang didapat di bangku perkuliahan.
b. Bagi mahasiswa teknik sipil diharapkan pelajaran inin bisa dijadikan sebagai
referensi untuk merencakan airbersih.
c. Dapat menghitung jumlah proyeksi pertumbuhan penduduk dalam kurun
waktu beberapa tahun.
d. Dapat lebih memahami cara perhitungan untuk menganalisa kebutuhan air
bersih.
e. Dapat merencanakan desain rencana jaringan air bersih di suatu daerah.

2
2. Manfaat bagi pembaca
a. Memberikan tambahan ilmu pada pembaca bagaimana cara menganalisa
kebutuhan air bersih dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk.
b. Dapat menjadi bahan referensi untuk merencanakan jaringan air bersih.

3
BAB II

DASAR TEORI

2.1 Pengertian Air Bersih

Berdasarkan keputusan Menteri Kesehatan RI No 1405/Menkes/SK/XI/2002


tentang persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja Perkantoran dan Industri:

Air bersih yaitu air yang dipergunakan untuk keperluan sehari-hari dan kualitasnya
memenuhi persyaratan kesehatan air bersih sesuai peraturan perundang-undangan yang
berlaku dan dapat diminum apabila dimasak.

Berdasarkan SK Menteri Kesehatan 1990, standar kualitas air bersih adalah sebagai
berikut:

Persyaratan kualitas air untuk air minum


Persyaratan kualitas air untuk air bersih
Persyaratan kualitas air untuk air limbah cair bagi operasional

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 16 Tahun


2005 Tentang Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum, didapat beberapa
pengertian mengenai :

Air baku untuk air minum rumah tangga, yang selanjutnya disebut air baku
adalah air yang dapat berasal dari sumber air permukaan, cekungan air tanah
dan/atau air hujan yang memenuhi baku mutu tertentu sebagai air baku untuk air
minum.
Air minum adalah air minum rumah tangga yang melalui proses pengolahan atau
tanpa proses pengolahan yang memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung
diminum.

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 416/Menkes/Per/IX/1990 :


Air bersih yang dikonsumsi dan dipergunakan untuk masyarakat harus mempunyai baku
mutu dan parameter yang dipersyaratkan. Syarat kualitas meliputi

4
Parameter fisik,
Parameter kimia,
Parameter radioaktivitas,
Parameter mikrobiologis

Syarat fisik pada air, antara lain:

Air harus bersih dan tidak keruh.


Tidak berwarna
Tidak berasa
Tidak berbau
Suhu antara 10o-25 o C (sejuk)

Syarat kimiawi pada air, antara lain:

Tidak mengandung bahan kimiawi yang mengandung racun.


Tidak mengandung zat-zat kimiawi yang berlebihan.
Cukup yodium.
pH air antara 6,5 9,2.

Dari segi parameter radioaktifitas, apapun bentuk radioaktifitas efeknya adalah


sama, yakni menimbulkan kerusakan pada sel yang terpapar. Kerusakan dapat berupa
kematian dan perubahan komposisi genetik. Kematian sel dapat diganti kembali apabila
sel dapat beregenerasi dan apabila tidak seluruh sel mati. Perubahan genetis dapat
menimbulkan berbagai penyakit seperti kanker dan mutasi. Syarat bakteriologi pada air,
antara lain: Tidak mengandung kuman-kuman penyakit seperti disentri, tipus, kolera,
dan bakteri patogen penyebab penyakit.

Dalam peraturan tersebut standar air bersih dapat dibedakan menjadi tiga kategori
(Menkes No. 173/per/VII tanggal 3 Agustus 1977) :

Kelas A : Air yang dipergunakan sebagai air baku untuk keperluan air minum.
Kelas B : Air yang dipergunakan untuk mandi umum, pertanian dan air yang
terlebih dahulu dimasak.
Kelas C : Air yang dipergunakan untuk perikanan darat.

5
Berdasarkan petunjuk Program Pembangunan Prasarana Kota Terpadu perihal Pedoman
Perencanaan dan Desain Teknis Sektor Air Bersih Terdapat beberapa sumber air baku
yang perlu diolah terlebih dahulu sebelum dapat dimanfaatkan sebagai air minum.

2.2 Macam Sumber Air Baku


1. Mata air, Yaitu sumber air yang berada di atas permukaan tanah. Debitnya sulit
untuk diduga, kecuali jika dilakukan penelitian dalam jangka beberapa lama.
2. Sumur dangkal (shallow wells), Yaitu sumber air hasil penggalian ataupun
pengeboran yang kedalamannya kurang dari 40 meter.
3. Sumur dalam (deep wells), Yaitu sumber air hasil penggalian ataupun pengeboran
yang kedalamannya lebih dari 40 meter.
4. Sungai, Yaitu saluran pengaliran air yang terbentuk mulai dari hulu di daerah
pegunungan/tinggi sampai bermuara di laut/danau. Secara umum air baku yang
didapat dari sungai harus diolah terlebih dahulu, karena kemungkinan untuk
tercemar polutan sangat besar.
5. Danau dan Penampung Air (lake and reservoir), Yaitu unit penampung air dalam
jumlah tertentu yang airnya berasal dari aliran sungai maupun tampungan dari air
hujan.

2.3 Standar Kebutuhan Air Bersih

Kebutuhan air dapat didefinisikan sebagai jumlah air yang dibutuhkan untuk
keperluan rumah tangga, industri, penggelontoran kota dan lain lain.
Prioritas kebutuhan air meliputi kebutuhan air domestik, kebutuhan air untuk
mengganti kebocoran. ( Moegijantoro, 1995 )

Faktor faktor yang mempengaruhi penggunaan air bersih dapat diuraikan


sebagai berikut ( Linsley, Ray K, Franzini, B.Joseph, 1985 ):

1. Iklim
2. Ciri ciri penduduk
3. Masalah lingkungan hidup
4. Industri dan perdagangan
5. Ukuran Luas wilayah kota

6
Kebutuhan air menurut kategori ukuran kota:

Kategori Ukuran Kota Kebutuhan air/ltr/orang/hari


I Kota Metropolitan 190
II Kota Besar 130
III Kota Sedang 120
IV Kota Kecil 90
V Kota Kecamatan 75
VI Pedesaan 60

Kebutuhan air rencana:

1. Kebutuhan Domestik = 100 lt/orang/hari


2. Kebutuhan non Domestik = (15-30) % keb. Domestik = 30 lt/orang/hari +
Kebutuhan rata-rata harian = 130 lt/orang/hari
3. Kebutuhan langsung = (20-30) % keb. Rata-rata harian = 65 lt/orang/hari +
195lt/orang/hari

Tingkat Pemakaian Air Rumah Tangga Sesuai Kategori Kota (Sk Sni Air Bersih)

7
Konsumsi Kebutuhan Air Sarana Dan Prasarana

Klasifikasi Dan Struktur Kebutuhan Air

8
Tingkat pemakaian air non rumah tangga:

Non Rumah Tangga


No. Tingkat Pemakaian Air
(Fasilitas)
1 Sekolah 10 ltr/hari
2 Rumah Sakit 200 ltr/hari
3 Puskesmas (0,5-1) m2/unit/hari
4 Peribadatan (0,5-2) m2/unit/hari
5 Kantor (1-2) m2/unit/hari
6 Toko (1-2) m2/unit/hari
7 Rumah Makan 1 m3/unit/hari
8 Hotel / Losmen (100 150) m3/unit/hari
9 Pasar (6-12) m3/unit/hari
10 Industri (0,5-2) m3/unit/hari
11 Pelabuhan / Terminal (10-20) m3/unit/hari
12 SPBU (5-20) m3/unit/hari
13 Pertamanan 25 m3/unit/hari

9
2.4 Proyeksi Pelayanan Kebutuhan Air Bersih

Kebutuhan air terbagi atas kebutuhan untuk:


1. Domestik
Penggunaan air untuk rumah, hotel, termasuk urusan dapur, minum, cuci, dan
mandi. Kebutuhan penggunaan air berbeda beda menurut kondisi kehidupan
pengguna.
Tabel Alokasi Prosentase Pelayanan
No Uraian Prosentase Pelayanan Tingkat Pelayanan

1. Hidran Umum / Tergantung dari hasil studi Tergantung dari hasil studi dan

Kran Umum dan kebijakan daerah yaitu kebijakan daerah yaitu berkisar antara

berkisar antara 20% - 40% 50 100 jiwa/KU (30 lt/org/hari)

daerah pelayanan

2. Sambungan Tergantung dari hasil studi Tingkat pemakaian air berdasarkan

Rumah dan kebijakan daerah yaitu kategori kota yaitu:

berkisar antara 60% - 80% Metropolitan 190 lt/org/hari

pelayanan Kota Besar 170 lt/org/hari

Kota Sedang 150 lt/org/hari

Kota Kecil 130 lt/org/hari

Kecamatan 100 lt/org/hari

Dengan perkiraan 1 SR (sambungan

rumah) melayani 4 6 jiwa.

3. Pemadam Kebutuhan pemadam

Kebakaran kebakaran diambil 20% dari

10
kapasitas reservoir atau 5%

dari kebutuhan domestic

2. Non Domestik
a) Industri dan perdagangan
b) Pengguna umum (public use)
Digunakan untuk kebutuhan gedung pemerintah seperti balai kota, penjara,
sekolah, pelayanan umum, dan tempat tempat ibadah. Air yang digunakan
berkisar 50 70 liter perkapita. Dalam perencanaan keperluan non domestic
berkisar 15% dari kebutuhan air.

c) Proyeksi perhitungan = =

3. Kebocoran dan Pemborosan Air (losses and waste)


Kebocoran dan pemborosan air dapat disebabkan meteran rusak, sambungan pipa
tidak benar (tekanan berlebihan), penggunaan yang tidak sah oleh masyarakat
(mencuri). Kebocoran dan pemborosan dapat dikurangi dengan pemeliharaan
yang baik, dan kebocoran serta pemborosan diperhitungkan 10% dari kebutuhan
air.

Pemerintah Indonesia telah menyusun program pelayanan air bersih sesuai dengan
kategori daerah yang dikelompokkan berdasarkan jumlah penduduk. Semakin padat
jumlah penduduk dan semakin tinggi tingkat kegiatan akan menyebabkan semakin
besarnya tingkat kebutuhan air.
Variabel yang menentukan besaran kebutuhan akan air bersih antara lain adalah
sebagai berikut:
Jumlah penduduk
Jenis kegiatan
Standar konsumsi air untuk individu
Jumlah sambungan

11
2.5 Proyeksi Jumlah Penduduk
Dalam memperkirakan jumlah penduduk pada tahun mendatang dapat dilakukan
perhitungan perhitungan dengan beberapa metode.
1. Metode Aritmatika
Metode yang mengasumsikan dengan berdasarkan angka kenaikan penduduk rata
rata setiap tahun.
= ( + . )
Dimana :
Pt = Jumlah penduduk pada akhir periode t (orang)
Po = Jumlah penduduk pada awal periode t (orang)
r = Tingkat pertumbuhan penduduk
n = Jangka waktu / tahun proyeksi
2. Metode Geometrik
Metode ini berdasarkan perbandingan pertumbuhan penduduk rata rata setiap
tahun.
= ( + )
Dimana :
Pt = Jumlah penduduk pada akhir periode t (orang)
Po = Jumlah penduduk pada awal periode t (orang)
r = Tingkat pertumbuhan penduduk
n = Jangka waktu / tahun proyeksi
3. Metode Eksponensial
Metode ini berdasarkan perbandingan pertumbuhan penduduk rata rata setiap
tahun.
= .

Dimana :

Pt = Jumlah penduduk pada akhir periode t (orang)


Po = Jumlah penduduk pada awal periode t (orang)
r = Tingkat pertumbuhan penduduk
n = Jangka waktu / tahun proyeksi

12
e = Bilangan eksponensial (2,718)

Nilai r dari masing masing metode didapat dari rumus :

2.6 Perencanaan Penyediaan Air Bersih

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 173/Men.Kes/Per/


VII/ 1977, penyediaan air harus memenuhi kuantitas dan kualitas, yaitu:

1. Aman dan higienis.


2. Baik dan layak minum.
3. Tersedia dalam jumlah yang cukup.
4. Harganya relatif murah atau terjangkau oleh sebagian besar masyarakat.

2.6.1 Kriteria Perencanaan

Untuk mendapatkan hasil perencanaan sistem penyediaan air bersih yang baik, yaitu
supply air tersedia setiap saat dengan debit dan tekanan yang cukup, serta kualitas memenuhi
syarat, maka diperlukan kriteria perencanaan agar sistem berikut dimensi dan spesifikasi
komponen sistem mempunyai kinerja yang baik.

Kriteria perencanaan yang digunakan berpedoman pada kriteria perencanaan dan


petunjuk teknik bidang air bersih. Secara umum kriteria perencanaan yang digunakan dalam
perencanaan sistem penyediaan air bersih ini meliputi hal-hal sebagai berikut:

1. Penentuan daerah pelayanan disesuaikan dengan kondisi setempat berdasarkan


kepadatan penduduk.
2. Cakupan pelayanan atau banyaknya penduduk yang dilayani sistem air bersih.
3. Tingkat pelayanan atau cara penyampaian air ke konsumen.
Usaha pelayanan air bersih ke konsumen pada umumnya melalui 2 cara yaitu melalui
Sambungan Rumah (SR) dan Hydrant Umum (HU), dengan perbandingan berkisar
antara 50:50

13
4. atau 80:20 dimana faktor cost recovery merupakan faktor yang perlu
dipertimbangkan. Besarnya angka perbandingan tersebut ditetapkan berdasarkan
hasil survey dilapangan.
5. Kebutuhan dasar atau besarnya pemakaian air perhari, tergantung pada jenis kawasan
kota kecil, sedang dan metropolitan. Di daerah perkotaan, pemakaian air untuk
sambungan rumah adalah 100-120 l/org/hari sedangkan untuk hydrant umum adalah
30 l/org/hari.
6. Pelayanan fasilitas non domestik diperhitungkan sebesar 10-30% dari kebutuhan
domestik.
7. Secara umum kriteria perencanaan yang digunakan dalam perencanaan sistem
penyediaan air bersih ini meliputi hal-hal sebagai berikut:
1) Fluktuasi pemakaian air.
a. Pemakaian air pada hari maksimum = (1,10-1,15) x Qtotal.
b. Pemakaian air pada jam maksimum = (1,50-2,00) x Qtotal.
2) Pipa transmisi direncanakan untuk pengaliran air pada saat debit hari maksimum.
3) Pipa distribusi direncanakan untuk pengaliran air pada saat debit jam puncak.
4) Kapasitas reservoir pada umumnya berkisar antara 15-20% dari total produksi
(Qmax).
5) Tekanan air dalam pipa:
a. Tekanan maksimum direncanakan sebesar 75 m kolom air
b. Tekanan minimum direncanakan sebesar 10 m kolom air
6) Kecepatan pengaliran dalam pipa
a. Transmisi 0,6 4,0 m/detik
b. Distribusi 0,6 2,0 m/detik
7) Koefisien kekasaran pipa, untuk perhitungan hidrolis baik untuk pipa transmisi
maupun distribusi, koefisien kekasaran pipa (koefisien Hazen William) digunakan
nilai sebagai berikut:
a. Pipa PVC : 120 -140
b. Pipa Steel : 120
c. Pipa GIP : 110
8) Pipa distribusi, pengaliran pada konsumen dengan menggunakan jaringan pipa
yang direncanakan dapat mengalirkan air dengan jumlah sesuai kebutuhan jam
puncak dengan waktu pengaliran sepanjang 24 jam.

14
9) Tekanan dan kecepatan pengaliran di dalam pipa, tekanan statis maksimum
sebesar 75 mka atau tergantung pada spesifikasi komponen sistem. Kecepatan
pengaliran 0,3-3 m/detik.

Kriteria perencanaan didasarkan pada pedoman perencanaan sektor air bersih yang
dikeluarkan oleh Direktorat Air Bersih PU Cipta Karya.

2.6.2 Tahapan Perencanaan

Dalam pemenuhan kebutuhan prasarana air bersih, maka dilakukan tahapan-tahapan


perencanaan berdasarkan 5 (lima) komponen utama yang terdiri dari:

1. Tahap Perhitungan Kebutuhan Air

Kebutuhan air dihitung berdasarkan kebutuhan untuk rumah tangga (domestik), non
domestik dan juga termasuk perhitungan atas kebocoran air. Analisis kebutuhan air ini
disesuaikan dengan hasil perhitungan proyeksi penduduk, prosentase penduduk yang
dilayani dan besarnya pemakaian air.

2. Tahap Identifikasi Sumber Air Baku


Identifikasi air baku terutama dimaksudkan untuk mendapatkan informasi mengenai:

a. Jarak dan beda tinggi sumber air terhadap daerah pelayanan


b. Debit andalan sumber air
c. Kualitas air baku dan jenis alokasi sumber air baku pada saat ini

3. Tahap Pemeriksaan dan Penilaian Kualitas Air


Sistem pengolahan air yang dibangun harus dapat memproduksi air yang memenuhi
standar kualitas air bersih yang ditetapkan oleh Departemen Kesehatan RI.

4. Tahap Pemilihan Alternatif Sistem


Sistem penyediaan air bersih yang dirancang merupakan sistem terpilih yang diperoleh
berdasarkan hasil pemilihan terhadap beberapa alternatif pilihan sistem. Penentuan
pilihan didasarkan pada penilaian berdasarkan aspek:
a. Teknis

15
b. Ekonomis
c. Lingkungan
5. Tahap Perhitungan Kebocoran/Kehilangan Air
Kehilangan air merupakan banyaknya air yang hilang, hilang yang diperlukan bagi
penjagaan tujuan penyediaan air bersih, yaitu tercukupinya kualitas, kuantitas, dan
kontinuitasnya dan yang disebabkan aktivitas penggunaan dan pengolahan air.

Kehilangan ini ditentukan dengan mengalikan faktor tertentu (15-20%) dengan


angka total produksi air
Kehilangan air yang disebabkan kebocoran teknis dan non teknis diperkirakan
sebesar 20% dari kebutuhan total.

Kehilangan air dapat dibagi menjadi 3 kategori yaitu:

1. Kehilangan air rencana (unacounted for water)


2. Kehilangan air rencana memang dialokasikan khusus untuk kelancaran operasi dan
pemeliharaan fasilitas, faktor ketidaksempurnaan komponen fasilitas dan hal lain yang
direncanakan beban biaya.
3. Kehilangan air insidentil
Penggunaan air yang sifatnya insidentil, misalnya penggunaan air yang tidak
dialokasikan khusus, seperti pemadam kebakaran.
4. Kehilangan air secara administrati
Kehilangan air secara administratif adalah dapat disebabkan oleh:
Kesalahan pencatatan meteran
Kehilangan air akibat sambungan liar
Kehilangan akibat kebocoran dan pencurian illegal

16
2.6.3 Alokasi Prosentasi Pelayanan

No Uraian Prosentase Pelayanan Tingkat Pelayanan


1 Hidran Umum Tergantung dari hasil studi dan Tergantung dari hasil studi dan
kebijakan daerah yaitu kebijakan daerah yaitu berkisar
berkisar antara 20-40% daerah antara 50-100 jiwa/HU
pelayanan
2 Sambungan Tergantung dari hasil studi dan Tingkat pemakaian air berdasarkan
Rumah kebijakan daerah yaitu kategori kota yaitu :
berkisar antara 60-80% Metropolitan 190 l/org/hari
pelayanan Kota Besar 170 l/org/hari
Kota Sedang 150 l/org/hari
Kota Kecil 130 l/org/hari
Kecamatan 100 l/org/hari
Dengan perkiraan 1 SR melayani 4-6
jiwa.
3 Pemadam Kebutuhan pemadam
kebakaran kebakaran diambil 20% dari
kapasitas reservoir atau 5%
dari kebutuhan domestik

Juknis Sistem Penyediaan Air Bersih Kimpraswil 1998

Kategori Kota Berdasarkan Jumlah Penduduknya


Kota Sedang Kota Kecil Perdesaan
No Uraian
100.000 20.000 100.000 3.000 20.000
500.000
1 Konsumsi unit Sambungan 100-150 100-150 90-100
Rumah (SR) l/org/hari
2 Persentase konsumsi unit non 25-30 20-25 10-20
domestik terhadap konsumsi
domestik
3 Persentase kehilangan air (%) 15-20 15-20 15-20
4 Faktor Hari Maksimum 1.1 1.1 1.1-1.25
5 Faktor jam puncak 1.5-2.0 1.5-2.0 1.5-2.0
6 Jumlah jiwa per SR 6 5 4-5
7 Jumlah jiwa per Hidrant Umum 100 100-200 100-200
(HU)
8 Sisa tekan minimum di titik 10 10 10
kritis jaringan distribusi (meter
kolom air)
9 Volume reservoir (%) 20-25 15-20 12-15
10 Jam operasi 24 24 24
11 SR/HU (dalam % jiwa) 80-20 70-30 70-30

PERENCANAAN SISTEM PENYEDIAAN AIR BERSIH

Sistem Penyediaan Air Bersih terdiri dari:


1. Sistem Produksi meliputi Intake dan Instalasi Pengolahan Air
2. Sistem Distribusi meliputi Reservoir dan Pipa Induk
3. Sistem Pemanfaatan melalui Sambungan Rumah dan Hydrant Umum

Faktor-faktor yang mempengaruhi sistem distribusi adalah:


1. Pola tata guna lahan
2. Kepadatan penduduk
3. Kondisi topografi kota
4. Rancangan induk kota

17
2.6.4 Ruang Lingkup Pelayanan Air Bersih

Target pelayanan dapat merupakan potensi pasar atau mengacu pada


kebijaksanaan nasional. Asumsi-asumsi lain yang digunakan mengikuti
kecenderungan data yang ada di lapangan serta kriteria dan standar yang dikeluarkan
oleh lembaga yang berwenang, yaitu seperti:

1. Cakupan pelayanan
2. Jumlah pemakai untuk setiap jenis sambungan
3. Jenis sambungan
4. Tingkat kebutuhan konsumsi air
5. Perbandingan SR/HU
6. Kebutuhan Domestik dan Non Domestik
7. Angka kebocoran
8. Penanggulangan kebakaran

2.7 DEBIT ANDALAN


Debit andalan adalah debit yang tersedia sepanjang tahun dengan besarnya resiko
kegagalan tertentu. Menurut pengamatan dan pengalaman besarnya debit andalan untuk
berbagai keperluan adalah sbb :
Air minum 99% ~ 100%
Industri 95% ~ 98%
Irigasi, setengah lembab 70% ~ 85%
Irigasi , kering 80% ~ 95%
PLTA 85% ~ 90%
1. Metode Debit Rata-Rata Minimum
Kerakteristik Metode Debit Rata-rata minimun antara lain :
Dalam satu tahun hanya diambil satu data (data debit rata-rata harian dalam satu
tahun)
Fluktuasi debit maksimum dan debit minimum tidak terlalu besar dari tahun ke
tahun serta kebutuhan relatif konstan sepanjang tahun

18
Analisa Metode Gumbel
m Tahun Qrerata P (%)
1 2001 9.368 9
2 2006 9.636 18
3 2007 9.661 27
4 2002 9.993 36
5 2009 10.147 45
6 2004 10.280 55
7 2008 10.423 64
8 2005 10.584 73
9 2010 10.656 82
10 2003 10.753 91

Qr = 10.2
Sd = 0.48
Sn = 0.9497
Yn = 0.4952

Dengan Metode Gumbel diperoleh penyelelaian sbb :


Debit andalan 80% berarti peluang terjadinya 80% = 0.8, maka TR = 1/0,8 =1.2 sehingga
nilai Yt = -0,583
Persamaan nilai ekstrim Gumbel,
X = Xr + [(Yt-Yn)/Sn]Sd = 10.2+[(-0.583 - 0.4952)/0.9497]x0.48 = 9.610 m3/dt
Jadi Debit Andalan 80% adalah 9.610 m3/dt, Peluang Keandalan 80% berarti terjadi pada
probabilitas 20% yaitu antara debit 9.368 m3/dt dan 9.636 m3/dt
Analisa Metode Log Pearson III
m Tahun Qrerata P (%) log Q
1 2001 9.368 9 0.972
2 2006 9.636 18 0.984
3 2007 9.661 27 0.985
4 2002 9.993 36 1.000
5 2009 10.147 45 1.006
6 2004 10.280 55 1.012
7 2008 10.423 64 1.018
8 2005 10.584 73 1.025
9 2010 10.656 82 1.028
10 2003 10.753 91 1.032

log Qr = 1.006
Sd = 0.020527
Cs = -0.41856untuk debit andalan 80%
G = -0.81749Lihat tabel G Log Pearson III

log X = log Xr + G x Sd = 1.006 +(-0.8175) x 0.0205


log X = 0.9893 ----> X = 9.756 jadi debit andalan 80% adalah 9.756 m3/dt Jadi Debit
Andalan 80% adalah 9.756 m3/dt, Peluang Keandalan 80% berarti terjadi pada probabilitas
20% yaitu antara debit 9.636 m3/dt dan 9.993 m3/dt . Sebelum dilakukan perhitungan harus
dilakukan uji kesesuaian distribusi menggunakan Smirnov Kolmogorof dan Uji Chi
Square.

19
2. Metode Flow Characeristic
Metode flow characteristic berhubungan dengan basis tahun normal, tahun
kering dan tahun basah.Debit berbasis tahun normal adalah jika debit rata-rata
tahunnya kurang lebih sama dengan debit rata-rata keseluruhan tahun (Qrt = Qr)
Debit berbasis tahun kering adalah jika debit rata-rata tahunnya lebih kecil dari debit
rata-rata keseluruhan tahun (Qrt < Qr) Debit berbasis tahun basah adalah jika bebit
rata-rata tahunnya lebih besar dari debit rata-rata keseluruhan tahun (Qrt > Qr)
Menurut Suyono Sosrodarsono (1990), keandalan berdasarkan kondisi debit
dibedakan menjadi 4 yaitu:
1) Debit air musim kering yaitu debit yang dilampaui oleh debit-debit sebanyak 355
hari dalam 1 tahun, keandalan : (355/365) x 100% = 97,3%
2) Debit air rendah yaitu debit yang dilampaui oleh debit-debit sebanyak 275 hari
dalam 1 tahun, keandalan : (275/365) x 100% = 75,3%
3) Debit air normal yaitu debit yang dilampaui oleh debit-debit sebanyak 185 hari
dalam 1 tahun, keandalan : (185/365) x 100% = 50,7%
4) Debit air cukup yaitu debit yang dilampaui oleh debit-debit sebanyak 95 hari
dalam 1 tahun, keandalan : (95/365) x 100% = 26,0%

Besarnya debit dapat ditentukan berdasarkan metode Gumbel, metode Log Pearson
III dll.

3. Metode Tahun Dasar Perencanaan


Analisa debit andalan dengan menggunakan metode tahun dasar perencanaan
biasanya digunakan dalam perencanaan atau pengelolaan irigasi. Pada umumnya
dibidang irigasi dipakai debit dengan keandalan 80%, sehingga rumus untuk
menentukan tahun dasar perencanaan sbb:
Q80 = (n/5) +1
dengan,
n = jumlah data
Q80 = debit yang terjadi < Q80 adalah 20%
angka 5 berasal dari (100%/(100-80)% = 5

20
Langkah menentukan debit andalan berdasarkan metode tahun dasar perencanaan
sbb :
1. Urutkan data data debit dari kecil ke besar
2. Hitung Q 80 atau sesuai debit andalan yang direncanakan
3. Debit andalana adalah hasil perhitungan langkah 2 tersebut (urutan data)

Contoh :
Data DAS sebagaimana diatas jika diselesaikan dengan metode ini adalah :

Q
m Tahun Debit andalan (Q80)
Rerata
1 2001 9.368
2 2006 9.636
3 2007 9.661 Q80 = (10/5) + 1
4 2002 9.993 = 3 (data ke 3)
5 2009 10.147 = 9.661 (th. 2007)
6 2004 10.280
7 2008 10.423
8 2005 10.584
9 2010 10.656
10 2003 10.753

4. Metode Bulan Dasar Perencanaan


Analisa debit andalan menggunakan metode bulan dasar perencanaan hampir
sama dengan metode flow characteristic, yang dianalisa untuk bulan-bulan tertentu.
Metode ini paling sering dipakai karena keandalan debit dihitung mulai bulan Januari
sampai dengan bulan Desember, jadi lebih menggambarkan keandalan pada musim
kemarau dan musim penghujan.
Diperlukan uji kesesuaian distribusi lihat pembahasan sebelumnya.

21
2.8 Distribusi Air Bersih
1. Data Perencanaan Distribusi
Secara garis besar data-data perencanaan yang dibutuhkan untuk perencanaan distribusi
air bersih meliputi :
1) Peta dengan kontur, lokasi jalan, tanah, kapling saat ini dan yang akan datang
2) Lokasi reservoir
3) Kebutuhan air
4) Ukuran pipa (tertentu yang tersedia di pasaran)
5) Lay out
6) Debit dan tekanan
7) Penyesuaian ukuran pipa
8) Menghitung ulang tekanan
9) Komponen-komponen distribusi
10) Gambar desain akhir
Sedangkan untuk Perencanaan system loop diperlukan data-data sebagai berikut :
1) Wilayah pelayanan : peta, jln, kontur dan kebutuhan airnya
2) Jalur pipa utama (mengikuti jalan raya dan tidak banyak asesoris)
3) Loop
4) No Node dan ketinggian
5) Arah aliran dan titik tapping ( penyadapan)
6) No pipa dan panjang pipa
7) Asumsi diameter pipa
8) Kecepatan dan head loss
9) Ketinggian reservoir

2. Parameter Desain Distribusi Air Bersih.


Parameter desain yang digunakan perencanaan distribusi air didasarkan pada
Kehilangan tekanan (head loss) : mayor losses dan minor losses, kecepatan aliran, sisa tinggi
tekanan dan ketinggian reservoir
1) Kehilangan tekanan (head loss) : mayor losses dan minor losses.
Kehilangan tekanan dalam pipa terjadi akibat adanya friction antara fluida dengan fluida
dan antara fluida dengan permukaan dalam pipa yang dilalui fluida. Kehilangan tekanan
maksimum 10 m/1000 m kolom air, head loss terdiri :

22
a) Mayor losses merupakan kehilangan tekanan yang terjadi di sepanjang pipa
lurus
b) Minor losses merupakan kehilangan tekanan yang terjadi di tempat yang
memungkinkan adanya perubahan karakteristik aliran misalnya valve, belokan,
sambungan dan asesoris lainnya.
2) Kecepatan aliran
Nilai yang diijinkan V = 0,3 3 atau 6 m/det (tergantung jenis pipa).
Apabila V < 0,3 m/det maka akan timbul endapan dan dalam perencanaan bila
kecepatan rendah maka diameter pipa akan besar sehingga biaya akan boros.
Apabila V > 3 atau 6 m/det maka pipa akan aus dan menyebabkan kecil
headlossnya
Kecepatan untuk program (Epanet atau Waternet) akan terjadi trial error dimana bila
terjadi :
Kecepatan <0,3 m/det maka solusi yang bisa dipakai antara lain diameter pipa
asumsi harus diperkecil.
Kecepatan >3 m/det maka solusi yang bisa dipakai antara lain diameter pipa
asumsi harus diperbesar.
3) Sisa tinggi tekanan
Sisa tinggi tekanan minimal pada setiap titik dalam jaringan distribusi 10 m. Apabila
kurang dari 10 m maka aliran tidak akan lancar. Cara untuk mengatasi apabila sisa tinggi
tekanan < 10 m :
Menaikkan elevated reservoir
Pemasangan pompa
Mengatur kecepatan aliran air dan headloss total
Dalam program dapat dicek dengan perhitungan : Tinggi (HGL) Elevasi node
(elevation)= Tinggi tekan (head pressure)
4) Ketinggian reservoir
Terdapat dua Jenis reservoir yang dapat digunakan untuk menampung air bersih yaitu:
a) Reservoir bawah (Ground reservoir) yaitu bangunan penampung air bersih di
bawah permukaan tanah.
b) Reservoir atas (Elevatad reservoir) adalah bangunan penampung air yang
terletak di atas permukaan tanah dengan ketinggian tertentu sehingga tekanan
air pada titik terjauh masih tercapai.

23
Tipe pengaliran sistem distribusi air bersih meliputi aliran gravitasi dan aliran secara
pemompaan. Tipe pengaliran secara gravitasi diterapkan bila tekanan air pada titik
terjauh yang diterima konsumen masih mencukupi. Jika kondisi ini tidak terpenuhi
maka pengaliran harus menggunakan sistem pemompaan.

Konsumen Konsumen

Reservoir
Reservoir
Sistem Gravitasi Sistem Pompa
Pipa distribusi merupakan pipa yang berfungsi mengalirkan air dari reservoir ke
konsumen, yang terdiri dari :
1) Pipa induk distribusi : pipa utama untuk mendistribusikan air bersih dari reservoir
distribusi ke daerah pelayanan melalui titik-titik penyadapan (tapping) sambungan
sekunder.
2) Pipa primer : pipa distribusi air utama pada daerah tertentu sampai ke pipa sekunder.
3) Pipa sekunder : pipa distribusi yang dipergunakan untuk membagi air dari suatu
wilayah pipa primer sampai ke pipa tersier.
4) Pipa tersier : pipa distribusi yang langsung ke rumah-rumah konsumen
2.9 Sistem Jaringan Pipa
1. Kehilangan Tinggi Tekan
Kehilangan tinggi tekan mayor yaitu kehilangan pada saat air mengalir karena
panjang pipa dapat dihitung dengan rumus Hazen-William, Darcy-Weisbach atau
Chezy-Manning
Kehilangan tinggi tekan minor yang diakibatkan sambungan persimpangan
dengan mengitung koefisien kehilangan tinggi tekan minor pada pipa
Penggunaan Rumus
Rumus Hazen-William sering digunakan di US, hanya digunakan untuk jenis
cairan air biasa dan untuk jenis aliran turbulen.
Rumus Darcy-Weisbach secara teori adalah yang paling benar yang dapat
digunakan untuk semua sitem aliran dan semua jenis aliran
Rumus Chezy-Manning biasanya digunakan untuk saluran terbuka

24
Masing-masing rumus menggunakan koefisien kekasaran pipa yang berbeda
yang ditentukan secara empiris, yang tergantung pada material dan usia pipa
Koefisien Kekasaran Pipa

FORMULA RESISTANCE FLOW EXPONENT


COEFFICIENT

Hazen-William 4.727 C -1.582 d -4.871 L 1.852

Darcy-Weisbach 0.0252 f(e,d,q) d -5 L 2

Chezy-Manning 4.66 n2d -5.33 L 2

Notes :
C = Hazen-William Rougness Coefficient
e = Darcy-Weisbach Rougness Coefficient (ft)
f = Friction factor (tegantung e,d dan q)
n = Manning Rougness Coefficient
d = pipe diameter (ft)
L = pipe length (ft)
q = flow rate (cfs)

25
Diagram Hazen Wiliam

Gambar Diagram Hazen Wiliam


Pipa Hubungan Seri
Apabila suatu saluran pipa terdiri dari pipa-pipa dengan ukuran yang berbeda, pipa
tersebut adalah dalam hubungan seri.

26
Panjang, diameter, dan koefisien gesekan masing-masing pipa adalah L1, L2, L3; D1, D2,
D3; dan f1, f2, f3.

Dengan menggunakan persamaan Bernaulli untuk titik 1 dan 2 (pada garis aliran adalah

Pada kedua titik tinggi tekanan adalah H1 dan H2 dan kecepatan V1=V2=0 (tampang aliran
sangat besar) sehingga persamaan diatas menjadi :

Dengan menggunakan persamaan Darcy-Weisbach diperoleh :

Kecepatan aliran untuk masing-masing pipa adalah :

Dengan mensubtitusikan pada persamaan V1, V2 dan V3 didapat :

Debit aliran adalah

Kehilangan Tenaga Pipa Ekivalen


Kehilangan tenaga dalam pipa ekivalen :
Dimana,

27
H = Kehilangan Tenaga (m)
Q =Debit (m3/dt)

g = gravitasi, 9,81 m/dt2


fe = Koefisien ekivalen
Le= Panjang ekivalen (m)
De= Diameter ekivalen (m)
f 1,2,3 = koef kekasan pipa 1, 2, 3
L 1, 2, 3 = panjang pipa 1, 2, 3 (m)
D 1, 2, 3 = panjang pipa 1,2,3 (m)

Pipa Hubungan Paralel


Pada pipa yang dihubungkan secara paralel, persamaan kontinuitas berlaku :

Persamaan Energi Pipa Paralel :

2.1 Perhitungan Jaringan Pipa


1. Konsep Dasar Loop
Dari beberapa metode yang telah dikembangkan untuk analisis jaringan pipa,
diantaranya adalah metode keseimbangan head, yang merupakan metode yang paling
awal digunakan untuk analisis jaringan pipa.
Metode keseimbangan head dipakai untuk sistem pipa yang membentuk loop
tertutup.

28
2. Prosedur Perhitungan Metode Hardy Cross
Pilih pembagian debit melalui tiap-tiap pipa Q0 hingga terpenuhi syarat kontinuitas.
Hitung kehilangan tenaga pada tiap pipa dengan rumus hf = k Q2.
Jaringan pipa dibagi menjadi sejumlah jaring tertutup sedemikian sehingga tiap pipa
termasuk dalam paling sedikit satu jaring.
Hitung jumlah kerugian tinggi tenaga sekeliling tiap-tiap jaring, yaitu hf =0.
Hitung nilai 2kQuntuk tiap jaring.
Pada tiap jarring diadakan koreksi debit Q supaya kehilangan tinggi tenaga dalam
jaring seimbang. Adapun koreksinya adalah :

Dengan debit yang telah dikoreksi sebesar Q = Qo + Q, prosedur dari no.1 sampai
no.6 diulangi hingga akhir Q = 0, dengan Q adalah debit sebenarnya, Qo adalah
debit dimisalkan, dan Q adalah debit koreksi.
Penurunan Rumus Q

29
BAB III

PENGOLAHAN DATA

3.1 Proyeksi Jumlah Penduduk

JUMLAH PENDUDUK
TAHUN
(ORANG)

2003 3011
2004 3372
2005 3777
2006 4230
2007 4611
2008 4768
2009 5149
2010 5561
2011 6395
2012 7355
2013 8458
2014 9726

JUMLAH PENDUDUK
TAHUN R
(ORANG)

2003 3011
2004 3372 0.120
2005 3777 0.120
2006 4230 0.120
2007 4611 0.090
2008 4768 0.034
2009 5149 0.080
2010 5561 0.080
2011 6395 0.150
2012 7355 0.150
2013 8458 0.150
2014 9726 0.150
R RATA-RATA 0.113

30
PERHITUNGAN RATA - RATA JUMLAH PENDUDUK

JUMLAH
TAHUN PENDUDUK R
(ORANG)
2003 3011
2004 3372 0,120
2005 3777 0,120
2006 4230 0,120
2007 4611 0,090
2008 4768 0,034
2009 5149 0,080
2010 5561 0,080
2011 6395 0,150
2012 7355 0,150
2013 8458 0,150
2014 9726 0,150
R RATA-RATA 0,113

(Tahun2004 Tahun2003)
R1
Tahun2003

(3372 3011)
R1
3011

R1 0,120

31
PERHITUNAGAN PROYEKSI JUMLAH PENDUDUK

A.METODE ARITMATIK

Pt=Po(1+.)
N Tahun (X-Xr)
1 2015 10825,881 24497209,148
2 2016 11925,762 14819299,361
3 2017 13025,644 7560867,021
4 2018 14125,525 2721912,128
5 2019 15225,406 302434,681
6 2020 16325,287 302434,681
7 2021 17425,169 2721912,128
8 2022 18525,050 7560867,021
9 2023 19624,931 14819299,361
10 2024 20724,812 24497209,148

X RATA - RATA = 15775,347 TOTAL 99803444,677


Sd 3330,0558

keteranagan
Po = Jumlah penduduk awal
r ...= rata - rata pertumbuhan penduduk
n...= Jumlah tahun perencanaan
Pt..= Jumlah penduduk pada tahun perencanaan

Pt = 9726*(1 + 0,113*10)

= 10825,881

Standard Deviasi (Xi xr) 2

n 1

32
B.METODE GEOMETRIK

N Tahun (= (1+)) (X-Xr)


1 2015 10825,881 56979157,330
2 2016 12050,144 39995389,283
3 2017 13412,855 24616281,326
4 2018 14929,671 11865711,512
5 2019 16618,018 3084649,418
6 2020 18497,295 15119,116
7 2021 20589,093 4905152,294
8 2022 22917,446 20639852,125
9 2023 25509,104 50904923,942
10 2024 28393,844 100390560,818
X RATA - RATA = 18374,335 TOTAL 313396797,162
Sd 5901,01

Keteranagan
Po = Jumlah penduduk awal
r ...= rata - rata pertumbuhan penduduk
n...= Jumlah tahun perencanaan
Pt..= Jumlah penduduk pada tahun perencanaan
e ..= 2.718282

Standard Deviasi
(Xi xr) 2

n 1

33
C.METODE EKSPONENSIAL

N Tahun (= ) (X-Xr)
1 2015 10890,484 67173026,327
2 2016 12194,391 47499777,617
3 2017 13654,414 29506469,340
4 2018 15289,243 14418395,442
5 2019 17119,809 3867476,885
6 2020 19169,547 6913,552
7 2021 21464,698 5656305,245
8 2022 24034,646 24485138,789
9 2023 26912,290 61244562,133
10 2024 30134,472 122059906,196
X RATA - RATA = 19086,400 TOTAL 375917971,525
Sd 6462,87

Keteranagan :
Po = Jumlah penduduk awal
r ...= rata - rata pertumbuhan penduduk
n...= Jumlah tahun perencanaan
Pt..= Jumlah penduduk pada tahun perencanaan
e ..= 2.718282

Standard Deviasi (Xi xr) 2

n 1

34
3.2 Perhitungan Kebutuhan Air

Dalam perhitungan kebutuhan air . data yang diambil untuk jumlah


penduduk diambil dari perhitungan methode aritmatik. Karena perhitungan
standar davisiasinya paling kecil.

Kebutuhan Domistik (QD)

jumlah penduduk tahun 2024 = 20724,81 Orang

Kategori ukuran KOTA KECAMATAN dengan kebutuhan air


= 90 lt/orang/hari

QD = Jumlah penduduk tahun 2024 x kebutuhan air

=20724,81 Org x 90 lt/orang/hari

=1865233 lt/hari

=21,58835 lt/detik

Kebutuhan Non Domistik (Qnd)


Kebutuhan non domistik 15% s/d 30% dari Q domistik

Qnd =30% x QD

=6,4765 lt/detik

Kebutuhan karena kehilangan air


pada sistem Baru 20% dari kebutuhan rata rata

kebutuhan rata rata = kebutuhan domistik + kebutuhan non domistik

= 21,58835 + 6,476504

= 28,06485 lt/detik

kebutuhan karena kehilangan air

=20% x 28,06485 lt/detik

=5,61297 lt/detik

35
Kebutuhan hidran
Kebutuhan hidran = 30 lt/detik
Kebutuhan hidran = 30 x jumlah penduduk 2024

= 621744,4 lt/hari

= 7,196115 lt/dtk

jadi Qtotal = kebutuhan QD +Kebutuhan Qnd + Kebutuhan kehilangan


air + Kebutuhan hidran

= 21,58835+ 6,476504+ 5,61297+ 7,196115

= 40,87394 lt/dtk

= 3531508 lt/hr

= 3531,508 m3/hr

36
3.3 Perhitungan Elevasi

Elevasi Titik Beda Tinggi Panjang Panjang asli Kemiringan


Saluran
Awal Akhir (m) (autocad) (m) (%)
A-1 36,32 36,576 -0,256 47367,3362 47,3673362 -0,54%
1-2 36,576 36,574 0,002 99839,1519 99,8391519 0,00%
2-3 36,574 35,276 1,298 104013,2067 104,0132067 1,25%
3-4 36,428 37,824 -1,396 144162,6725 144,1626725 -0,97%
3-5 36,428 35,763 0,664 228300,369 228,300369 0,29%
2-6 36,574 35,276 1,298 147120,2859 147,1202859 0,88%
6-7 35,276 35,349 -0,073 46000,6379 46,0006379 -0,16%
7-8 35,349 34,830 0,519 284833,4036 284,8334036 0,18%
8-9 34,830 30,244 4,585 435140,2744 435,1402744 1,05%
7-13 35,349 31,400 3,949 431878,616 431,878616 0,91%
13-9 31,400 30,244 1,156 288956,9821 288,9569821 0,40%
9-10 30,244 28,043 2,202 246269,6137 246,2696137 0,89%
10-11 28,043 26,219 1,824 141075,008 141,075008 1,29%
10-12 28,043 27,518 0,525 77876,474 77,876474 0,67%


Elevasi Node 1 : ( Elevasi Terendah) +

129,0159
= (36,00) + 2
117,4600

= 36,576 m


Elevasi Node 2 : ( Elevasi Terendah) +

117,4600
= (36,00) + 2
409,2957

= 36,547m


Kemiringan tanah asli saluran 1-2 :
()

36,57636,574
=
99,839

= 0,000018 m

= 0,002 %

37
3.4 Perhitungan Luas Area Distribusi Pipa & Debit Tiap Pipa

Keterangan Luas Prosentase Q Pipa


saluran(Pipa) Area Debit (%) (m3/hari) (L/detik) M3/dt
A-1 14603,7836 2% 79,52 0,92 0,00092032
1-2 19815,8989 3% 107,89 1,25 0,00124878
2-3 21268,3614 3% 115,80 1,34 0,00134031
3-4 29681,6659 5% 161,61 1,87 0,00187051
3-5 56464,4832 9% 307,44 3,56 0,00355833
2-6 13199,9223 2% 71,87 0,83 0,00083185
6-7 5564,9762 1% 30,30 0,35 0,00035070
7-8 37820,3634 6% 205,93 2,38 0,00238340
8-9 130287,5831 20% 709,39 8,21 0,00821059
7-13 91050,0035 14% 495,75 5,74 0,00573788
13-9 75425,803 12% 410,68 4,75 0,00475325
9-10 65527,9444 10% 356,79 4,13 0,00412950
10-11 40859,278 6% 222,47 2,57 0,00257491
10-12 47027,4615 7% 256,06 2,96 0,00296362
TOTAL 648597,5284 100% 3531,51 40,87 0,04087394

(1)
Luas Area Distribusi Pipa Saluran A-1 (%) : 100 %

14603,78
= 100 %
648597,53

= 2%

38
Debit (Q) aliran A-1 : Q total x Luas Area Distribusi A-1 (%)

= 40,87 x 2%

= 0,92 l/dt

= 0,0092 m3/dt

3.5 Perhitungan Debit Metode Gumbel

Langkah perhitungan

1. Kumpulkan data minimal 10 th terakhir yang telah melalui proses


penyiapan dan juga telah diurutkan dari data kecil ke besar

DATA DEBIT RATA-RATA

No Tahun Qrerata
1 2003 45
2 2009 50
3 2004 56
4 2010 63
5 2011 69
6 2005 74
7 2013 74
8 2006 80
9 2012 82
10 2007 78
11 2008 77
12 2014 89

39
2. Hitung peluang dan kala ulang masing masing data

cara gumbel
no tahun debit x-xr (x-xr)2 (x-xr)3 (x-xr)4
1 2003 45 -24.750 612.563 -15160.922 375232.816
2 2004 50 -19.750 390.063 -7703.734 152148.754
3 2005 56 -13.750 189.063 -2599.609 35744.629
4 2006 63 -6.750 45.563 -307.547 2075.941
5 2007 69 -0.750 0.563 -0.422 0.316
6 2008 74 4.250 18.063 76.766 326.254
7 2009 74 4.250 18.063 76.766 326.254
8 2010 80 10.250 105.063 1076.891 11038.129
9 2011 82 12.250 150.063 1838.266 22518.754
10 2012 78 8.250 68.063 561.516 4632.504
11 2013 77 7.250 52.563 381.078 2762.816
12 2014 89 19.250 370.563 7133.328 137316.566
jml 1649.688 -21760.953 606807.168

RUMUS
S = 11,647 ( )
Cs = 0,2651 1,1396 Gumbel S=
(1)
Ck = 3,43126 5,4002 Tipe I
n = 12 . ( )3
Yn = 0,5035 = 3
1 2.
Sn = 0,9833
TR = 1,111
2 . ( )4
Yt = -0,834 = 4
1 2 ( ).

Xr 69.750
Sd 12.24629
Cs 0.86886
Ck 3.92428
Yn 0.5035 tabel
Sn 0.9833 tabel
TR 1.111111

40
Yt
ln TR= 2.302585
Yt= -0.83403
d ranc
Yt-Yn= -1.33753 RUMUS
S = (Yt-Yn)/Sn
11,647= -1.36025 ( )
Cs = dranc=0,2651 1,1396
53.092 Gumbel S=
(1)
Ck = 3,43126 5,4002 Tipe I
n = 12
. ( )3
Yn = 0,5035 = 3
()2 1649,688 1 2.
Sn Sd= (1) = (121) =12,246
=0,9833
TR = 1,111
2 . ( )4
Yt = -0,834 = 4
Cs = (n x (x-xrata-rata)3) : ((n-1) x (n-2) x Sd3) 1 2( ).

= (12 x (21760,953)) : ((12-1) x (12-2) x 12,2463)

= 0,8689

Ck = (n2 x (x-xrata-rata)4) : ((n-1) x (n-2) x (n-3) x Sd4)

= (122 x 606807,17) : ((12-1) x (12-2) x (12-3) x 12,2464)

= 3,924

Yn = 0,5035 (Tabel) KETERANGAN

P =peluang
Sn = 0,9833 (Tabel)
TR = kala ulang
TR = 1 : 0,9 = 1,111
M =data urut ke...
Yt = (-LN(-LN((TR-1)/TR)))
n =jumlah seluruh data

= (-LN(-LN((1,111-1)/1,111)))

= -0,834

41
yn = 0.5035
sn = 0.9833
yt = -0.84
s= 11.0687
cs = -0.2679 Cs < 1,1396 Distribusi Log Pearson Tipe III
ck = 3.0915 Ck < 5,4002 Gumbel Type 1 Cs 0

Debit andalan 90%

X = Xr + [(Yt-Yn)/Sn] Sd

X = 69,75 + [(-0.834-0.5035)/0.9833] 12,246 = 53,09 lt/detik

Jadi debit andalan 90% adalah adalah 53,09 lt/detik

Peluang keadaan 90% berarti terjadi pada probabilitas 10% yaitu antara debit 53
lt/detik dan 54 lt/detik.

3.6 Perhitungan debit Rancangan Metode Log Pearson Tipe III

Langkah langkah perhitungan


Urutkan data debit (d) dari terkecil ke terbesar

DATA DATA DEBIT RATA-RATA


diurutkan

No Tahun Qrerata
1 2003 45
2 2009 50
3 2004 56
4 2010 63
5 2011 69
6 2005 74
7 2013 74
8 2006 77
9 2012 78
10 2007 80
11 2008 82
12 2014 89

42
Ubah data hujan (d) menjadi log
Hitung rata rata lod d (log x)
Hitung standar davisiasi lod d(s)
Hitung koefisiesien ke pencengn /skewness log d (cs)
Buat persamaan log d ( lod d rancangan = log d + G.s)
Berapa kala ulang yang dikehendaki (TR)
Cari nila G dari tabel berdasarkan cs dan TR
Hitung nilai log d dan d rancangan untuk TR yang dikehendaki

Tabel perhitungan Perhitungan debit RancanganMetode Log


Pearson Tipe III RancanganMetode Log Pearson Tipe III

Q Rerata Q P-
Log x - log Log x - logx
n (Belum Rerata empiris Log x Log x - log x^2
Urut) x ^3
(Urut) (%)
1 45 45 7.69 1.653 -0.182 0.0331 -0.0060
2 50 50 15.38 1.699 -0.136 0.0185 -0.0025
3 56 56 23.08 1.748 -0.087 0.0076 -0.0007
4 63 63 30.77 1.799 -0.036 0.0013 0.0000
5 69 69 38.46 1.839 0.004 0.0000 0.0000
6 74 74 46.15 1.869 0.034 0.0012 0.0000
7 74 74 53.85 1.869 0.034 0.0012 0.0000
8 80 77 61.54 1.886 0.051 0.0026 0.0001
9 82 78 69.23 1.892 0.057 0.0032 0.0002
10 78 80 76.92 1.903 0.068 0.0046 0.0003
11 77 82 84.62 1.914 0.079 0.0062 0.0005
12 89 89 92.31 1.949 0.114 0.0130 0.0015
x rata" 69.75 50.00 1.835 Jumlah 0.0926 -0.0066
S 0.0917
Cs -0.928

43
Persamaan

log X rancangan log x G.s

kala ulang (TR)= 10 tahun


DARI TABEL

Log Qr = 1,835
Sd = 0,0917
Cs = -0,928
G = -1,339

X Rancangan

Log X = log Qr + G x Sd

Log X = 1,835 + (-1,339) x 0.928

log X= 1,712305058

X= 63,973

Jadi debit andalan 90% adalah 63,973 ltr/dt

44
3.7 Perhitungan debit Metode Tahun Dasar Perencanaan

m Tahun Q Rerata(Urut)
1 2003 45
2 2004 50
3 2005 56
4 2006 63
5 2007 69 Q90=(12/10)+1
6 2008 74 Q90=2.2
7 2009 74 = DATA KE TIGA
8 2013 77 56.00 l/detik
9 2012 78
10 2010 80
11 2011 82
12 2014 89

KETERANGAN

DATA diurutkan mulai dari yang


terkecil ke terbesar

3.8 Perhitungan Q Kumulatif Tiap Pipa

Keterangan Debit Total


Debit PIPA(m3/detik) Debit Sebelumnya
saluran(Pipa) PIPA
A-1 0.00092 0.03995 0.04087
1-2 0.00125 0.03870 0.03995
2-3 0.00134 0.00543 0.00677
3-4 0.00187 0.00000 0.00187
3-5 0.00356 0.00000 0.00356
2-6 0.00083 0.03110 0.03194
6-7 0.00035 0.03075 0.03110
7-8 0.00238 0.01304 0.01543
8-9 0.00821 0.00483 0.01304
7-13 0.00574 0.00959 0.01533
13-9 0.00475 0.00483 0.00959
9-10 0.00413 0.00554 0.00967
10-11 0.00257 0.00000 0.00257
10-12 0.00296 0.00000 0.00296
0.04087

45
Gambar

Contoh perhitungan debit kumulatif pipa 2-6

Debit total = (debit pipa sebelumnya + debit pada pipa 2-6)

= 0,00083 + 0,03110

= 0,03194 m

Q rencana pada setiap pipa loop

Q 13-9 = ((Q sebelumnya pada pipa 9-10) / 2) + Q pada pipa 13-9)

= (0,00967 / 2) + 0,00475

= 0,00959 m/dt

Q 7-13 = ( Q pipa sebelumnya 13-9 + Q pada pipa 7-13)

= 0,00959 + 0,00574

= 0,001533 m/dt
46
Q 8-9 = ((Q sebelumnya pada pipa 9-10) / 2) + Q pada pipa 8-9)

= (0,00967 / 2) 0,00821

= 0,01304 m/dt

Q 7-8 = ( Q pipa sebelumnya 8-9 + Q pada pipa 7-8)

= 0,01304 0,00238

= 0,01543 m/dt

3.9 Perhitungan Kecepatan dan Dimensi tiap Saluran Pipa

Dimensi
Keterangan Kemiringan Panjang Debit Kontrol
(Diameter, Kecepatan pipa
saluran(Pipa) (%) asli (m) (m3/detik) Kecepatan
m) (inchi)
A-1 -0.540% 47.37 0.04087 0.3 0.58 BENAR 12
1-2 0.002% 99.84 0.03995 0.3 0.57 BENAR 12
2-3 1.247% 104.01 0.00677 0.15 0.38 BENAR 6
3-4 -0.968% 144.16 0.00187 0.08 0.37 BENAR 3
3-5 0.291% 228.30 0.00356 0.1 0.45 BENAR 4
2-6 0.882% 147.12 0.03194 0.3 0.45 BENAR 12
6-7 -0.158% 46.00 0.03110 0.3 0.44 BENAR 12
7-8 0.182% 284.83 0.01543 0.25 0.31 BENAR 10
8-9 1.054% 435.14 0.01304 0.2 0.42 BENAR 8
7-13 0.914% 431.88 0.01533 0.25 0.31 BENAR 10
13-9 0.400% 288.96 0.00959 0.2 0.31 BENAR 8
9-10 0.894% 246.27 0.00967 0.15 0.55 BENAR 6
10-11 1.293% 141.08 0.00257 0.1 0.33 BENAR 4
10-12 0.674% 77.88 0.00296 0.1 0.38 BENAR 4

47
Contoh perhitungan kecepatan saluran pipa A-1

V = Q kumulatif / dimensi pipa

= (Q kumulatif saluran pipa A-1) / (1/4..D)

= (0,04087) / (1/4.3,14.0,3^2)

= 0,58 m/dt

Kecepatan yang disyaratkan adalah antara 0,3 m/dt 0,6 m/dt

Perhitungan dimensi dilakukan dengan coba-coba dan memeperhatikan syarat dari


kecepatan

Contoh : pada saluran pipa A-1 mencoba dimensi sebesar 0,3 m didapat kecepatan sebesar
0,58 m/dt maka dimensi tersebut sesuai karena kecepatan yang dihasilkan masuk pada
syarat yang ditentukan.

3.10 Perhitungan Kehilangan Mayor

Kehilangan Mayor PIPA PVC

Keterangan diameter Luas debit Panjang Pipa


k hf
saluran(Pipa) CH m m" m3/Detik m
A-P1 150 0.3 0.07065 0.04087 47.37 16.68 0.045 ###
P1-P2 150 0.3 0.07065 0.03995 99.84 35.15 0.09 ###
P2-P3 150 0.15 0.0176625 0.00677 104.01 1071.26 0.10 ###
P3-P4 150 0.08 0.005024 0.00187 144.16 31715.91 0.28 ###
P3-P5 150 0.1 0.00785 0.00356 228.30 16941.17 0.50 ###
P2-P6 150 0.3 0.07065 0.03194 147.12 51.80 0.09 ###
P6-P7 150 0.3 0.07065 0.03110 46.00 16.20 0.03 ###
P7-P8 150 0.25 0.0490625 0.01543 284.83 243.73 0.11 ###
P8-P9 150 0.2 0.0314 0.01304 435.14 1103.92 0.36 ###
P7-P13 150 0.25 0.0490625 0.01533 431.88 369.56 0.16 ###
P13-P9 150 0.2 0.0314 0.00959 288.96 733.06 0.14 ###
P9-P10 150 0.15 0.0176625 0.00967 246.27 2536.40 0.48 ###
P10-P11 150 0.1 0.00785 0.00257 141.08 10468.56 0.17 ###
P10-P12 150 0.1 0.00785 0.00296 77.88 5778.87 0.12 ###

TOTAL 2.67 m

48
Kehilangan Tekanan (Head Loss)

Secara umum didalam suatu instalasi jaringan pipa dikenal dua macam kehilangan energi,
yaitu:
a). Kehilangan Tinggi Tekan Mayor (Major Losses)
Ada beberapa teori dan formula unruk menghitung besarnya kehilangan tinggi tekan mayor
ini, akan tetapi yang sering digunakan adalah persamaan Hazzen Williams, sebagai
berikut:

Q = 2.2785 x Chw x D2.63 x S 0.54

S = Hf / L

Persamaan kehilangan tekanan diatas dapat ditulis sebagai berikut:

Menggunakan Pipa PVC dengan CH 140

Contoh Perhitungan Koefisien Hazen Williams pada Saluran Pipa A-1

0,54 1
K = ( 0,354 0,63 )^ 0,54

1
47,570,54
= (0,07065 0,354 150 0,30,63 )0,54

= 16,68

Contoh Perhitungan Hf Pada Saluran Pipa A-1

Hf = K . 1,85

= 16,68 x 0,040871,85

= 0,045 m

49
3.11 Perhitungan Loop

Saluran Pipa
Panjang (ft) Dimensi (Inch) Q1 (Lt/Dt Q1 (Gal/mnt) H/100 H (ft) H/Q Q Q2 (Lt/Dt Q2 (Gal/mnt) H/100 H (ft) H/Q Q
Awal Akhir
Kiri
7 8 934.253564 10 15.428 240.6768389 0.034 0.031765 0.002059 -1.45076 13.97725 218.0450605 0.032 0.029616 0.002119 -0.01776
8 9 1427.2601 8 13.0446 203.4958051 0.072 0.102763 0.007878 -1.45076 11.59385 180.8640267 0.062 0.087776 0.007571 -0.01776
H Kiri 0.134527 0.009937 H Kiri 0.117392 0.00969
Kanan
7 13 1416.56186 10 15.32515 239.0722892 0.032 0.04533 0.002958 1.450755 16.7759 261.7040676 0.04 0.059921 0.003572 0.017761
13 9 947.778901 8 9.587271 149.5614291 0.045 0.04265 0.004449 1.450755 11.03803 172.1932075 0.06 0.056867 0.005152 0.017761
H Kanan 0.08798 0.007406 H Kanan 0.116787 0.008724

50
Contoh Perhitungan :

Saluran Pipa P9 P10

Menghitung Q1 = 15,428lt/dt

= 15,428 x 60 x 0,26

= 240,677 Gal/mnt

Mengeplotkan debit yang telah dikonversi menjadi gal/mnt, dan menghubungkan dengan
diameter pipa yang telah diketahui, pada pipa 9-10 adalah adalah 8 inch. Dengan
menghubungkan kedua titik dan meneruskan garis tersebut, maka akan diketahui nilai head
loss pipa tersebut.

H = Hf/L/1000

= 0,034 / 934,253 / 1000

H = (7 - 8) + (8 - 9)

= 0,03176 + 0,1076

= 0,13453 ft

HQ = H/Q1

= 0,03176/15,428

= 0,00206

HQ= (HQ 7-8) + (HQ 8-9) Q = (Total H Kanan Total H Kiri) / (1,85 *

= 0,00206 + 0,00788 (Total HQ Kanan + Total HQ Kiri)

= 0,00994 = - 0,0176

Perhitungan nya diteruskan melalui beberapa kali percobaan hingga Q bernilai minimal
0,0... di belakang koma.

51
3.12 Menghitung Tinggi Tandon

Keterangan
hf
saluran(Pipa)
A-1 0.045
1-2 0.09
2-3 0.10
3-4 0.28
3-5 0.50
2-6 0.09
6-7 0.03
7-8 0.11
8-9 0.36
7-13 0.16
13-9 0.14
9-10 0.12
10-11 0.17
10-12 0.12
TOTAL 2,31

Tinggi Reservoir = Jumlah hf + 10

= 2,31 + 10

= 12,31 meter

52
BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Setelah dilakukan perhitungan untuk mengetahui elevasi reservoir yang


diperlukan dalam perencanaan saluran air bersih , didapatkan hasil bahwa tinggi elevasi
reservoir merupakan hasil akumulasi kehilangan mayor dengan elevasi tiap saluran yang
akan dialiri air bersih.

Kemudian dari percobaan perhitungan perencaan air bersih dapat disimpulkan


secara umum bahwa :

1. Debit aliran air dipengaruhi oleh jumlah proyeksi penduduk dalam umur rencana
yang ada dalam lingkup desa rencana.
2. Dalam perhitungan kehilangan, dapat diketahui bahwa kehilangan minor adalah
akibat belokan dan sebagian akibat penyempitan.
3. Untuk kehilangan mayor dapat diketahui apabila data faktor gesekan pipa,
diameter pipa, dan kecepatan airan telah didapat.
4. Dalam tinggi tekan pompa dipengaruhi oleh kecepatan, beda tinggi, dan debit yang
mengalir di masing-masing pipa.
5. Metode yang digunakan untuk menganalisa jumlah penduduk 10 tahun yang akan
datang adalah metode aritmatika karean nilai Standar deviasi Metode aritmatika
menunjukkan nilai yang paling kecil dibandingkan dengan dua metode yang lain
yaitu metode Exponential dan metode Geometri. Sehingga didapat jumlah
penduduk pada tahun 2024 sebanyak 20.724,812 jiwa.
6. Kebutuhan air total pada tahun 2024 adalah sebesar 40,87394 lt/detik.
7. Sumber air terletak pada elevasi tertinggi yaitu pada titik 36,32m.
8. Debit andalan yang tersedia lebih besar dari debit total sehingga dari sumber
tersebut debit air sudah mampu untuk mencukupi kebutuhan air total.
9. Dimensi pipa terbesar yaitu 30 cm dan yang terkecil sebesar 10 cm.

53
10. Kehilangan tinggi tekan mayor hf0 pada jaringan utama pipa sebesar 12,31 meter

4.2 Saran

Sebelum dilakukannya perncanaan perhitungan, sebaiknya semua data yang


diperlukan dikumpulkan terlebih dahulu agar tidak menimbulkan kesulitan dalam
pengerjaannya. Selain itu, referensi dari PDAM selaku pihak yang bertugas
merencanakan sebaiknya dihimpun dalam satu data, sehingga dapat mempermudah
dalam mengerjakan perencanaan perhitungan saluran air bersih pada perumahan.

Dalam mengerjakan perhitungan, perlu diperhatikan angka-angka yang


digunakan, karena perhitungan pertama seperti perhitungan jumlah penduduk akan
berhubungan terus hingga akhir, sehingga apabila data pertama salah, maka data
selanjutnya hingga seterusnya akan ikut salah, dan ini akan menyebabkan kesalahan
yang fatal dalam perencanaan yang sebenarnya.

Dalam perencanaan yang sebenarnya, sesungguhnya penggunaan pipa dengan


diameter beragam sangat dihindari, selain menambah biaya dalam pemasangan nya,
karena membutuhkan alat sambung tambahan, juga akan menyulitkan dalam proses
pemasangan nya. Pekerja pemasang pipa juga bisa salah mengartikan gambar yang ada,
sehingga rencana yang seharusnya lebih ekonomis karena peminimalisiran biaya dengan
penyesuaian debit, justru akan merugikan karena pipa yang dipasang tidak sesuai dengan
yang direncanakan.

54
LAMPIRAN

55