Anda di halaman 1dari 21

Laporan Praktikum Bahan dan Struktur Beton Kelompok XX

BAB II

PEMERIKSAAN BETON

A. PENGUJIAN SLUMP (SLUMP TEST)


1. Deskrispsi
Maksud danTujuan
a. Maksud
Metode ini dimaksudkan sebagai pegangan dalam pengujian untuk

menentukan slump beton (concrete slump).


b. Tujuan
Tujuan pengujian ini adalah untuk memperoleh angka slump beton.

RuangLingkup

Pengujian ini dilakukan terhadap beton segar yang mewakili campuran

beton. Hasil pengujian ini digunakan dalam pekerjaan :

Perencanaan campuran beton.


Pengendalian mutu beton pada pelaksanaan pembetonan.

Pengertian

Slump beton ialah besaran kekentalan (viscosity)/plastisitas dan kohesif

dari beton segar.

2. Cara Pelaksanaan
A. Peralatan

Untuk melaksanakan pengujian slump beton diperlukan peralatan

sebagai berikut :

Perencanaan Campuran Beton Metode British (1986) BAB II | 19


Laporan Praktikum Bahan dan Struktur Beton Kelompok XX

a. Cetakan dari logam tebal minimal 1,2 mm berupa kerucut terpancung

(cone) dengan diameter bagian bawah 203 mm, bagian atas 102 mm,

dan tinggi 305 mm, bagian bawah dan atas cetakan terbuka.

b. Tongkat pemadat dengan diameter 16 mm, panjang 60 cm, ujungnya

dibulatkan dibuat dari baja yang bersih dan bebas dari karat.

c. Pelat logam dengan permukaan yang kokoh, rata dan kedap air.

d. Sendok cekung menyerap air.

e. Mistar ukur.

B. Benda uji

Pengambilan benda uji harus dari contoh beton segar yang mewakili

campuran beton.

C. Cara Pengujian

Untuk melaksanakan pengujian slump beton harus diikuti tahapan

sebagai berikut :

1. Membasahi cetakan dan pelat dengan kain basah.

2. Meletakkan cetakan di atas pelat yang kokoh.

3. Mengisi cetakan sampai penuh dengan beton segar dalam tiga lapis

kira-kira 1/3 isi cetakan. Memadatkan setiap lapis dengan tongkat

Perencanaan Campuran Beton Metode British (1986) BAB II | 20


Laporan Praktikum Bahan dan Struktur Beton Kelompok XX

pemadat sebanyak 25 tusukan secara merata,tongkat pemadat harus

masuk tepat sampai lapisan bagian bawa tiap-tiap lapisan. Pada lapisan

pertama, penusukan bagian tepi dilakukan dengan tongkat dimiringkan

sesuai dengan kemiringan dinding cetakan.

4. Setelah selesai pemadatan, permukaan benda uji diratakan dengan

tongkat dan menyingkirkan semua sisa benda uji yang jatuh disekitar

cetakan. Kemudian mengangkat cetakan perlahan-lahan tegak lurus

keatas, seluruh pengujian mulai dari pengisian sampai cetakan diangkat

harus selesai dalam jangka waktu 2,5 menit.

5. Membalikkan cetakan dan meletakkannya perlahan-lahan disamping

benda uji.

6. Mengukur slump yang terjadi dengan menentukan perbedaan tinggi

cetakan dengan tinggi rata-rata benda uji.

D. Hasil Pengukuran Slump

Berdasarkan percobaan yang dilakukan, nilai slump yang diperoleh

yaitu :

- Slump titik tertinggi = 90 mm


- Slump titik terendah = 115 mm

Nilai Slump = (90 + 115) / 2

= 102,5 mm

10,25 cm (102,5 mm), memenuhi syarat dimana nilainya 100 mm

(nilai slump yang di gunakan dalam perhitungan pencampuran).

Perencanaan Campuran Beton Metode British (1986) BAB II | 21


Laporan Praktikum Bahan dan Struktur Beton Kelompok XX

3. Foto

Perencanaan Campuran Beton Metode British (1986) BAB II | 22


Laporan Praktikum Bahan dan Struktur Beton Kelompok XX

Gambar 1. Peralatan yang Digunakan Untuk Percobaan Slump Beton

Gambar 2. Pembacaan Nilai Slump


4. Referensi

Perencanaan Campuran Beton Metode British (1986) BAB II | 23


Laporan Praktikum Bahan dan Struktur Beton Kelompok XX

ASTM C 143 : Test for Slump of Portland Cement Concrete (Uji slump

Beton)

B. PEMBUATAN DAN PEMERIKSAAN BERAT ISI BETON

Perencanaan Campuran Beton Metode British (1986) BAB II | 24


Laporan Praktikum Bahan dan Struktur Beton Kelompok XX

1. Deskripsi
Maksud dan Tujuan
1) Maksud
Metode ini dimaksudkan sebagai pegangan dalam pengujian

untuk menentukan berat isi (unit weight) beton segar (fresh concrete)

serta banyaknya semen per meter beton.


2) Tujuan
Tujuan pengujian ini untuk memperoleh angka yang benar dari

berat isi beton.

Ruang Lingkup

Pengujian ini dilakukan terhadap contoh beton segar yang mewakili

suatu campuran beton, hasil pengujian dapat digunakan antara lain :

Banyak beton untuk campuran satu zak semen (40 kg).


Untuk perencanaan campuran beton.
Untuk pengendalian mutu beton pada pelaksanaan.

Pengertian

Berat isi adalah berat segar per satuan isi.

2. Cara Pelaksanaan
a) Peralatan

1) Timbangan dengan ketelitian 0,3 % dari berat contoh.

2) Tongkat pemadat dengan diameter 16 mm, panjang 60 cm, ujungnya

dibulatkan dibuat dari baja yang bersih dan bebas dari karat.

3) Alat perata.

Perencanaan Campuran Beton Metode British (1986) BAB II | 25


Laporan Praktikum Bahan dan Struktur Beton Kelompok XX

4) Takaran bentuk silinder dengan kapasitas dan penggunaan sebagai

berikut :

Ukuran maksimum
Kapasitas (liter)
agregat (mm)
6 25,00
10 37,50
14 50,00
28 75,00

b) Benda Uji

Pengambilan benda uji harus dari contoh segar yang mewakili

campuran beton.

c) Cara Pengujian

Untuk melaksanakan pengujian berat isi beton harus diikuti tahapan

sebagai berikut :

1) Timbang dan catat berat takaran (W1).

2) Mengisi takaran dengan benda uji dalam 3 lapis.

Perencanaan Campuran Beton Metode British (1986) BAB II | 26


Laporan Praktikum Bahan dan Struktur Beton Kelompok XX

3) Memadatkan tiap-tiap lapisan dengan 25 kali tusukan secara merata.

Pada pemadatan lapis pertama, tongkat tidak boleh mengenai dasar

takaran. Pemadatan lapis kedua dan ketiga, tusukan tongkat kira-kira

2,5 mm dibawah lapisan sebelumnya.

4) Setelah selesai pemadatan, ketuklah sisi takaran diketuk perlahan-

lahan sampai tidak tampak gelembung-gelembung udara pada

permukaan serta rongga-rongga bekas tusukan tertutup, kadar udara

dari beton tidak ditentukan.

5) Ratakan permukaan pada benda uji dan tentukan beratnya (W2).

d) Rumus Perhitungan

W2 - W1
Berat Isi Beton =
V

W1 = berat takaran (kg)

W2 = berat takaran + beton (kg)

V = isi takaran (m3)

e) Perhitungan :

Berat Isi Beton

Diketahui data-data hasil percobaan sebagai berikut :

Silinder 1 :

W1 = 10,66 kg

Perencanaan Campuran Beton Metode British (1986) BAB II | 27


Laporan Praktikum Bahan dan Struktur Beton Kelompok XX

W2 = 23,00 kg

V = 0,0053 m3

W2 - W1
Berat Isi Beton =
V

23,00 - 10,66
= 0,0053

= 2328,302 kg/m3

Untuk perhitungan selanjutnya dapat dilihat pada tabel

Tabel Hasil Perhitungan Beton :

Berat
Berat Berat Beton Volume
Beton Berat Isi
Kode Silinder Segar + Silinder
Segar (Kg/m3)
(Kg) Silinder (Kg) (m3)
(Kg)

1 10,66 23,00 12,34 0,0053 2328,302


2 10,61 23,17 12,56 0,0053 2369,811
3 10,86 23,32 12,46 0,0053 2350,943
4 12,34 24,92 12,58 0,0053 2373,585
5 12,54 25,02 12,48 0,0053 2354,717
6 10,50 23,13 12,63 0,0053 2383,019
RATA-RATA (D) 2360,063
C. PEMBUATAN BENDA UJI

1) Tujuan Percobaan

Membuat benda uji untuk memeriksa kekuatan beton.

2) Peralatan

a) Cetakan silinder, diameter 15 cm dan tinggi 30 cm.

Perencanaan Campuran Beton Metode British (1986) BAB II | 28


Laporan Praktikum Bahan dan Struktur Beton Kelompok XX

b) Tongkat pemadat diameter 16 mm, panjang 60 cm dengan ujung

dibulatkan. Sebaiknya dibuat dari baja tahan karat.

c) Bak pengaduk beton kedap air atau mesin pengaduk.

d) Timbangan dengan ketelitian 0,3 % dari berat contoh.

e) Mesin tekan dengan kapasitas sesuai kebutuhan.

f) Satu set alat pelapis (capping).

g) Peralatan tambahan : ember, sekop, sendok perata dan talam.

3) Prosedur Percetakan

a) Membuat benda benda uji (silinder atau kubus) harus dibuat dengan

cetakan yang sesuai dengan bentuk benda uji. Cetakan disapu

sebelumnya dengan vaselin, lemak atau minyak agar mudah nanti

dilepaskan dari beton cetakan.

b) Mengambil langsung adukan beton dari wadah adukan beton dengan

menggunakan ember atau alat lainnya yang tidak menyerap air. Bila

dirasa perlu bagi konsistensi adukan, lakukan pengadukan ulang

sebelum dimasukkan kedalam cetakan.

c) Memadatkan adukan dalam cetakan sampai permukaan adukan beton

mengkilap.

d) Mengisi cetakan dengan adukan beton dalam tiga lapis, tiap-tiap lapis

dipadatkan 25 kali tusukan secara merata. Pada saat melakukan

pemadatan lapisan pertama, tongkat pemadat tidak boleh mengenai

dasar cetakan. Pada saat pemadatan lapisan kedua dan ketiga, tongkat

Perencanaan Campuran Beton Metode British (1986) BAB II | 29


Laporan Praktikum Bahan dan Struktur Beton Kelompok XX

pemadat boleh masuk antara 25,4 mm kedalam lapisan

bawahnya.Setelah selesai melakukan pemadatan, ketuklah sisi cetakan

perlahan-lahan sampai rongga bekas tusukan tertutup.Ratakan

permukaan beton dan tutuplah segera dengan bahan yang kedap air dan

tahan karat.Kemudian biarkan beton dalam cetakan selama 24 jam dan

tempatkan di tempat yang bebas dari getaran.

e) Setelah 24 jam, cetakan dibuka dan mengeluarkan benda uji.

f) Merendam benda uji kedalam bak perendaman berisi air yang telah

memenuhi persyaratan untuk perawatan (curing), selama yang

dikehendaki.

3.1. Penakaran ( Batching )

Penakaran yang dimaksud ialah menimbang masing-masing bahan

dengan menggunakan timbangan yang memiliki ketelitian sesuai dengan yang

ditetapkan dan terlebih dahulu telah dikalibrasi. Banyak bahan sesuai yang

diperhitungkan dari hasil rancang campur beton (concrete mix design) dengan

koreksi seperlunya bila agregat dalam kondisi alami.

Perencanaan Campuran Beton Metode British (1986) BAB II | 30


Laporan Praktikum Bahan dan Struktur Beton Kelompok XX

3.2. Pencampuran (Mixing)

Pencampuran yang dimaksud adalah campuran bahan-bahan penyusun

beton yang dalam pelaksanaannya dapat menggunakan mesin aduk atau

mengaduk dengan tangan.

3.2.1. Pengadukan dengan mesin :

Menjalankan mesin pengaduk terlebih dahulu lalu memasukkan

agregat kasar dan sejumlah air adukan,atau sesuaikan dengan tipe mesin

adukan. Apabila menggunakan bahan tambahan untuk beton, bahan

tersebut dicampurkan terlebih dahulu pada air adukan atau sesuaikan

dengan pentunjuk penggunaan. Selanjutnya ditambahkan bahan agregat

halus, semen dan seluruh sisa air adukan. Apabila penambahan tersebut

tidak dapat dilakukan pada saat mesin berjalan, maka mesin aduk dapat

dihentikan terlebih dahulu.

Beton diaduk kembali setelah seluruh bahan masuk kedalam

tempat pengaduk (mixer) selama 3 menit, kemudian 3 menit berhenti

dan dilanjutkan 2 menit diaduk kembali sampai rata betul. Selama

berhenti dalam pengadukan, tempat adukan harus ditutup rapat.

Agar tidak terjadi segregasi, sisa adukan dibersihkan dan

dicampur kembali kedalam campuran dan diaduk kembali dengan

menggunakan sendok aduk atau sekop sampai didapatkan adukan yang

merata.

Perencanaan Campuran Beton Metode British (1986) BAB II | 31


Laporan Praktikum Bahan dan Struktur Beton Kelompok XX

3.2.2. Pengadukan dengan tangan :

Campurlah adukan dengan sebuah wadah yang bersih dan kedap

air yang telah dibasahi terlebih dahulu. Alat pengaduk yang dapat

digunakan adalah sekop, dengan kondisi agregat sesuai dengan yang

telah ditetapkan. Campurlah semen dengan bubuk bahan tambahan dan

pasir tanpa air terlebih dahulu hingga didapatkan campuran yang

merata. Tambahkan agregat kasar dan diaduk tanpa air terlebih dahulu

sampai distribusi batu pecah terlihat rata betul dan sempurna.

Selanjutnya air adukan ditambahkan dan diaduk sampai mendapatkan

adukan beton homogeny dan kekentalan sesuai dengan beton yang

diinginkan.Apabila kekentalan adukan tidak terpenuhi dan perlu

penambahan air, adukan tersebut harus dibuang dan dibuat campuran

baru dengan campuran air yang dibutuhkan sehingga kekentalan adukan

tersebut terpenuhi.

3.3. Pencetakan

a) Penuangan (Placing)

Masukkan adukan dalam cetakan dengan menggunakan sendok

aduk, sendok bahan atau sekop. Setiap pengambilan adukan dari bahan

harus dapat mewakili campuran tersebut. Apabila diperlukan campuran

beton diaduk kembali menggunakan sendok aduk agar tidak terjadi

Perencanaan Campuran Beton Metode British (1986) BAB II | 32


Laporan Praktikum Bahan dan Struktur Beton Kelompok XX

segregasi selama pencetakan benda uji. Sekop atau sendok aduk diletakkan

dibawah permukaan bagian atas cetakan dimana adukan beton akan

dituangkan, untuk menjamin distribusi atau mengurangi segregasi agregat

kasar pada cetakan.

b) Pemadatan (Compacting)

Setelah dituangkan, beton diratakan dengan menggunakan alat

penusuk terlebih dahulu untuk pemadatan awal. Pada lapisan akhir,

ditambahkan adukan beton sampai melebihi permukaan cetakan agar tidak

perlu penambahan kembali setelah beton dipadatkan. Selain ditusuk-tusuk

metode pemadatan lain dapat dilakukan dengan cara digetar dari luar dan

dari dalam.

Adukan beton dengan :

- Slump > 75 mm,cara pemadatan : ditusuk

- 25 mm < slump >75 mm, cara pemadatan : ditusuk/getar

- 25 < slump, cara pemadatan : digetar

c) Penyelesaian Permukaan (Finishing)

Setelah dipadatkan, permukaan dipadatkan dengan roskam dan

bagian sisanya (kelebihannya) dibuang sehingga didapatkan permukaan

beton yang betul-betul ratadan licin. Untuk contoh uji silinder setelah selesai

dipadatkan permukaannya dengan batang penusuk bila kekentalannya

Perencanaan Campuran Beton Metode British (1986) BAB II | 33


Laporan Praktikum Bahan dan Struktur Beton Kelompok XX

memungkinkan. Bila diinginkan, permukaan silinder dapat diberi lapisan

tipis dari pasta semen sebagai perata.

D. REFERENSI

ASTM C 192 : Making and Curing Concrete Test Specimens in the

Laboratory (Pembuatan dan Perawatan Beton dari Laboratorium)

SK SNI M-62-1990-03 : Metode Pembuatan dan Perawatan Benda Uji

Beton di Laboratorium

Perencanaan Campuran Beton Metode British (1986) BAB II | 34


Laporan Praktikum Bahan dan Struktur Beton Kelompok XX

E. PERAWATAN

1. Tujuan Perawatan

Tujuannya ialah untuk mendapatkan beton dengan karakteristik yang

diinginkan. Dengan perawatan maka pengikatan antara semen dan bahan-

bahan penyusun lainnya dapat berlangsung dengan baik.

Perencanaan Campuran Beton Metode British (1986) BAB II | 35


Laporan Praktikum Bahan dan Struktur Beton Kelompok XX

2. Macam-macam Tipe Perawatan

a) Direndam dalam air untuk jangka waktu tertentu.

b) Diselimuti dengan pasir lembab untuk jangka waktu tertentu.

c) Direndam dalam air yang jenuh kapur.

d) Disimpan dalam ruang lembab atau dalam lemari lembab.

3. Pengaruh Perawatan Pada Kekuatan Beton

Beton dengan perawatan yang baik akan menghasilkan kuat tekan yang

lebih baik apabila dibandingkan dengan beton yang perawatannya kurang.

Beton dengan kuat tekan yang lebih besar dapat diartikan bahwa beton

tersebut lebih kuat karena beton hanya dapat menerima gaya tekan.

4. Perawatan yang Dilaksanakan

Perawatan yang dilaksanakan dalam praktikum ini ialah dengan

merendam beton didalam air bersuhu 23 oC. Perendaman beton dilakukan

selama 7, 14, 21, dan 28 hari; masing-masing berjumlah 1 buah untuk beton 7

dan 14 hari serta 2 buah silinder beton untuk beton 21 dan 28 hari.

GAMBAR ALAT

Perencanaan Campuran Beton Metode British (1986) BAB II | 36


Laporan Praktikum Bahan dan Struktur Beton Kelompok XX

Cetakan

Mixer

Perencanaan Campuran Beton Metode British (1986) BAB II | 37


Laporan Praktikum Bahan dan Struktur Beton Kelompok XX

Timbangan dengan ketelitian 1 kilogram

Perencanaan Campuran Beton Metode British (1986) BAB II | 38


Laporan Praktikum Bahan dan Struktur Beton Kelompok XX

REFERENSI

ASTM C 192 : Making and Curing Concrete Test Specimens in the Laboratory

(Pembuatan dan Perawatan Beton dari Laboratorium)

SK SNI M-62-1990-03 : Metode Pembuatan dan Perawatan Benda Uji Beton

di Laboratorium.

Perencanaan Campuran Beton Metode British (1986) BAB II | 39