Anda di halaman 1dari 30

Tatalaksana pembedahan Kontraktur Regio Colli

Anterior dengan Release Kontraktur, Double


Advancement Flap, dan STSG

(Laporan Kasus)

L. Bobby Nindra Nugraha


S5616080003

PEMBIMBING:

Dr. AMRU SUNGKAR, Sp.B, Sp.BP-RE

PROGRAM PENDIDIKAN DOKTER SPESIALIS BEDAH I


FAKULTAS KEDOKTERAN UNS/ RSUD Dr. MOEWARDI
SURAKARTA
2017
LEMBAR PENGESAHAN

Laporan Kasus :

Tatalaksana pembedahan Kontraktur Regio Colli


Anterior dengan Release Kontraktur, Double
Advancement Flap, dan STSG
PPDS I Ilmu Bedah FK UNS / RSUD DR. MOEWARDI

SURAKARTA

2017

DISUSUN OLEH:

dr. L. Bobby Nindra Nugraha

S561608003

Telah disetujui dan dipresentasikan pada tanggal Februari 2017

Pembimbing,

Dr. Amru Sungkar, Sp.B, Sp.BP-RE.

2
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.................i

LEMBAR PENGESAHAN..............ii

DAFTAR ISI ..............................................................................................iii

BAB I PENDAHULUAN ...........................................................................1

BAB II LAPORAN KASUS .......................................................................3

BAB III DISKUSI .....................................................................................10

BAB IV KESIMPULAN............22

DAFTAR PUSTAKA.................................................................................23

3
BAB I
PENDAHULUAN

Kontraksi merupakan suatu proses yang normal pada proses penyembuhan luka, sedangkan
kontraktur merupakan suatu keadaan patologis tingkat akhir dari suatu kontraksi. Umumnya
kontraktur terjadi apabila pembentukan sikatrik berlebihan dari proses penyembuhan luka.
Definisi kontraktur adalah hilangnya atau kurang penuhnya lingkup gerak sendi secara
pasif maupun aktif karena keterbatasan sendi, fibrosis jaringan penyokong, otot dan kulit.
Penyebab utama kontraktur adalah tidak ada atau kurangnya mobilisasi sendi akibat suatu
keadaan antara lain imbalance kekuatan otot, penyakit neuromuskular, penyakit degenerasi, luka
bakar, luka trauma yang luas, inflamasi, penyakit kongenital, ankilosis dan nyeri.
Banyaknya kasus penderita yang mengalami kontraktur dikarenakan kurangnya disiplin
penderita sendiri untuk sedini mungkin melakukan mobilisasi dan kurangnya pengetahuan tenaga
medis untuk memberikan terapi pengegahan, seperti perawatan luka, pencegahan infeksi, proper
positioning dan mencegah immobilisasi yang lama. Efek kontraktur menyebabkan terjadinya
gangguan fungsional, gangguan mobilisasi dan gangguan aktifitas kehidupan sehari-hari.

BAB II
LAPORAN KASUS

4
Seorang An R Laki - laki umur 11 tahun dibawa orangtuanya ke poli bedah plastik RDSM
dengan keluhan luka bekas penyembuhan yang meninggi dan mengkerut. Luka terdapat pada leher
dan tangan, terutama bahu sebelah kanan. Awalnya, pasien bermain dengan spirtus kemudian jatuh
mengenai daerah leher dan tangan. Pasien dibawa ke RS di Magetan, dilakukan pembersihan luka
dan disarankan rawat jalan, kurang lebih 6 bulan yang lalu. Lama kelamaan luka mulai timbul dan
menimbulkan kerut kerutan sehingga menarik kulit wajah, terutama bagian wajah dan leher.

Pada pemeriksaan fisik didapatkan hasil pemeriksaan sebagai berikut:


Keadaan umum : Compos mentis, E4V5M6, tampak sakit sedang,
kesan gizi cukup
Vital sign :
N : 94 x/menit, regular, simetris, isi dan tegangan cukup
kRR : 21 x/menit
T : 36,7 C per aksilar

Kepala : tidak ada kelainan


Mata : tidak ada kelainan
Telinga: tidak ada kelainan
Hidung: tidak ada kelainan
Mulut : tidak ada kelainan
Leher : lihat status lokalis
Thoraks: Inspeksi : pengembangan dada kanan dan kiri sama
Palpasi: krepitasi (-)
Perkusi : sonor/sonor
Auskultasi : suara dasar vesikuler (+/+)
Abdomen : tidak ada kelainan
Extremitas : lihat status lokalis
Genitalia : tidak ada kelainan

Status Lokalis
Regio cervical anterior

5
I : tampak luka bekas terbakar meninggi (+) berkerut (+) Menarik kulit wajah

Regio Shoulder (D)


I : tampak luka bekas terbakar meninggi (+) berkerut (+) Menarik kulit wajah

Gambar 1. Foto Kinis Pasien Pre Operasi

Pasien didiagnosis dengan Kontraktur Regio Colli Anterior. Plan diagnosis yang
selanjutnya adalah pemeriksaan laboratorium darah.
Hasil pemeriksaan laboratorium yang dilakukan pada Januari 2017 didapatkan Hb 11,2
g/dl, hematocrit 35%, leukosit 9,0 ribu/L, trombosit 411 ribu/ L, eritrosit 4,81 juta/ L,
golongan darah O, PT 11,8 detik, APTT 28,0 detik, INR 0, 920, GDS 118mg/dl, Albumin 45
g/dL, Cr 0,4 mg/dl, Ur 24 mg/dl, Natrium 138 mmol/L, Kalium 4.0 mmol/L, Chlorida darah 104
mmol/L dan HbsAg nonreaktif.
Pasien direncanakan tindakan operasi Release Kontrktur dengan anestesi umum. Persiapan
preoperatif yang dilakukan adalah:
1. Informed consent
2. Konsultasi anestesi
3. Injeksi Ceftriaxone 400 mg ekstra sebagai antibiotik profilaksis (skin test dahulu)
4. Puasa 6 jam sebelum OP

6
Pasien kemudian dilakukan operasi release kontraktur R. Colli anterior di OK IBS pada
tanggal 3 Januari 2017 di OK IBS.
Laporan operasi 3 Januari 2017
Operator : dr. Amru Sungkar, SpB, SpBP-RE (K)
Asisten : dr. Ruzbih
Diagnosis : Kontraktur Regio Colli anterior
Tindakan : Release Kontraktur
1. Posisi supine dalam general anestesi
2. Toilet medan operasi, pasang duk steril berlubang
3. Identifikasi kontraktur
4. Buat desain insisi disekitar kontraktur
5. Insisi sesuai desain, kontrol perdarahan.
8. Tutup luka dengan tulle, kassa lembab dan kasa kering
9. Operasi selesai

Gambar 2. Desain Insisi, Durante Operasi dan Post Operasi

Pasien direncanakan tindakan operasi penutupan defek dengan anestesi umum. Persiapan
preoperatif yang dilakukan adalah:
1. Informed consent
2. Konsultasi anestesi
3. Injeksi Ceftriaxone 400 mg ekstra sebagai antibiotik profilaksis (skin test dahulu)
4. Puasa 6 jam sebelum OP

7
Pasien kemudian dilakukan operasi penutupan defek post release kontraktur R. Colli
anterior di OK IBS pada tanggal 6 Januari 2017 di OK IBS.
Laporan operasi 6 Januari 2017
Operator : dr. Amru Sungkar, SpB, SpBP-RE (K)
Asisten : dr. Ruzbih
Diagnosis : Raw surface ec Post Release Kontraktur Regio Colli anterior
Tindakan : Double Flap advancement
1. Posisi supine dalam general anestesi
2. Toilet medan operasi, pasang duk steril berlubang
4. Buat desain flap
5. Insisi sesuai desain, bebaskan dari dasar bed, kemudian disusun sesuai desain
6. dilakukan penjahitan aproksimasi antar flap
7. kontrol perdarahan
8. Tutup luka dengan tulle, kassa lembab dan kasa kering dengan light dressing
9. Operasi selesai

8
Gambar 3. Durante Operasi dan Post Operasi Double Flap Advancement

Gambar 4. Foto Klinis DPH I Post Double Flap Advancement

Gambar 5. Foto Klinis DPH III Post Double Flap Advancement saat medikasi luka

Pasien kemudian dilakukan operasi penutupan Raw Surface post double flap advancement
ai tutup defek ec release kontraktur R. Colli anterior di OK IBS pada tanggal 16 Januari 2017 di
OK IBS.

9
Laporan operasi 16 Januari 2017
Operator : dr. Amru Sungkar, SpB, SpBP-RE (K)
Asisten : dr. Benny
Diagnosis : Raw Surface post double flap advancement ai tutup defek ec release
kontraktur R. Colli
Tindakan : STSG
1. Posisi supine dalam general anestesi
2. Toilet medan operasi, pasang duk steril berlubang
3. Toilet medan donor, pasang duk steril
4. Dilakukan pengambilan kulit donor, tutup luka donor dengan kassa adrenalin
5. Taruh donor kulit pada bed resipien, dilakukan jahitan tie over dan taking suture
6. Kontrol perdarahan
7. Tutup luka STSG dengan tulle, , kassa flufy, dan kasa kering.
8. Tutup luka dengan tulle, kassa lembab dan kasa kering dan elactic verban
9. Operasi selesai

Gambar 6. Foto Klinis Durante OP STSG

10
Gambar 7. Foto Klinis Medikasi DPH IV Post STSG

Gambar 8. Foto Klinis Medikasi DPH IX Post STSG

Gambar 8. Foto Klinis Kontrol Poli 3 Februari 2017

BAB III
DISKUSI

11
Kontraktur adalah pemendekan jarak 2 titik anatomis tubuh sehingga terjadi
keterbatasan rentang gerak (range of motion). Kontraktur adalah kontraksi yang menetap dari
kulit dan atau jaringan dibawahnya yang menyebabkan deformitas dan keterbatasan gerak.
Kelainan ini disebabkan karena tarikan parut abnormal pasca penyembuhan luka, kelainan
bawaan maupun proses degeneratif. Kontraktur yang banyak dijumpai adalah akibat luka bakar
(Perdanakusuma, 2009).

Klasifikasi
Klasifikasi kontraktur berdasarkan derajat keparahan (Adu, 2011)
1) I: gejala berupa keketatan namun tanpa penurunan gerakan ruang lingkup gerak maupun
fungsi.
2) II: sedikit penurunan gerakan ruang lingkup gerak atau sedikit penurunan fungsi namun
tanpa mengganggu aktivitas sehari-hari secara signifikan, tanpa penyimpangan arsitektur
normal daerah yang terkena.
3) III: terdapat penurunan fungsi, dengan perubahan awal arsitektur normal pada daerah yang
terkena..
4) IV: kehilangan fungsi dari daerah yang terkena.

Penyebab
Kontraktur diakibatkan karena kombinasi berbagai faktor meliputi: posisi anggota
tubuh, durasi imobilisasi, otot, jaringan lunak, dan patologis tulang. Individu dengan luka
bakar sering diimobilisasi, baik secara global maupun fokal karena nyerinya, pembidaian, dan
posisinya. Luka bakar dapat meliputi jaringan lunak, otot, dan tulang. Semua faktor ini
berkontribusi terhadap kejadian kontraktur pada luka bakar (Schneider et al, 2006). Berbagai
hal yang dapat menyebabkan kontraktur adalah sebagai berikut (Adu, 2011):
1. Trauma suhu
2. Trauma zat kimia
3. Trauma elektrik
4. Post-trauma (Volkmanns)
5. Infeksi ulkus buruli
6. Idiopatik (Dupuytrens)
7. Kongenital (camptodactyly)

12
Penegakan Diagnosis Kontraktur
Penegakan diagnosis kontraktur akibat luka bakar dapat menggunakan bagan sebagai berikut:

Bedakan antara kontraktur jaringan


lunak dan ankilosis persendian

Bedakan antara kontraktur jaringan ikat dan


kontraktur miogenik atau neurogenik

Diagnosis banding kontraktur dari struktur


anatomi:

a. Kontraktur kutan, subkutan, atau


fasial
b. Kontraktur tendon
c. Kontraktur ligament
d. Kontraktur otot

Nilai dan klasifikasi parut kontraktur untuk


memutuskan metode terapi

Evaluasi secara fungsional dan estetika dari


sendi atau jaringan pada sebelum dan sesudah
terapi

Gambar 9 Bagan Diagnosis Banding Kontraktur Akibat Luka Bakar

Patofisiologi
Patofisiologi yang jelas terbentuknya parut hipertrofi belum diketahui namun banyak
faktor yang berkontribusi terhadap proses fibroproliferatif kulit tersebut. Paradigm yang sering

13
digunakan adalah benih dan tanah. Komponen selular seperti fibroblast, keratinosit, sel
induk, dan sel inflamasi merupakan benih sedangkan komponen nonseluler seperti matriks
ekstraseluler, kekuatan mekanik, tekanan oksigen, dan cytokine milieu adalah tanah. (Wong &
Gurtner, 2010).
Mekanisme dasar pembentukan kontraktur didapat dari berbagai macam etiologi yaitu
congenital, didapat, atau idiopatik. Proses ini disebabkan oleh aktifnya miofibroblas (sebuah
sel dengan fibroblas dan dengan karakteristik seperti otot polos yang terdistribusinya granulasi
di seluruh jaringan yang ada pada luka). Kontraksi dari miofibroblas menyebabkan luka
menyusut. Hal ini juga diikuti dengan deposisi kolagen dan saling berhubungan untuk
mempertahankan kontraksi. Pada embryogenesis, kegagalan diferensiasi jari-jari
menyebabkan terbentuknya jaringan parut yang menyebakan fleksi proksimal sendi interfalang
yang mengakibatkan camptodactyly (Adu, 2011).
Kontraksi adalah proses aktif biologis untuk menurunkan dimensi area anatomi dan
jaringan yang dapat menyebabkan perlambatan kesembuhan dari luka terbuka. Kontraktu
adalah produk akhir dari proses kontraksi. Kontraktur mengganggu secara fungsional dan
estetik (Pandya, 2001)

Prevensi Kontraktur
Kontraktur dapat dicegah dari penyebab awal mulanya. Kontraktur banyak disebabkan
akibat luka bakar. Pencegahan luka bakar dibagi menjadi pencegahan primer, sekunder dan
tersier. Pencegahan primer bertujuan untuk menurunkan insidensi luka bakar melalui cara
memasak yang aman, pemadam kebakaran, dan edukasi tentang zat yang menyebabkan trauma
panas di sekolah atau komunitas. Pencegahan sekunder bertujuan untuk menurunkan beratnya
luka bakar melalui edukasi terhadap pertolongan pertama. Pencegahan tersier bertujuan untuk
mengurangi mortalitas dan morbiditas terhadap luka bakar (Schwarz, 2007).
Terdapat dua kunci penting dalam pencegahan kontraktur. Hal pertama adalah area
yang terbakar dibidai pada posisi anatomis dan berlatih maksimal lingkup gerak sendi tiap
persendian. Perkembangan bidai selama lima belas tahun terakhir berkontribusi terhadap
penurunan kejadian kontraktur dan hal ini semakin dikembangkan (Schwarz, 2007). Secara
umum terdapat berbagai cara pencegahan kontraktur, yaitu (Procter, 2010):
1. Posisi yang mencegah kontraktur

14
Posisi yang melindungi dari kontraktur harus dimulai dari hari pertama sampai
beberapa bulan setelah trauma. Posisi ini diaplikasikan terhadap semua pasien baik yang
mendapat terapi cangkok kulit maupun yang tidak. Posisi ini penting karena dapat
mempengaruhi panjang jaringan dengan menurunkan ruang lingkup gerak sebagai akibat
dari parut jaringan. Pasien diistirahatkan dengan posisi yang nyaman, posisi ini biasanya
adalah posisi fleksi dan juga merupakan posisi kontraktur. Tanpa dorongan dan bantuan
dari orang lain, pasien akan meneruskan posisi yang menyebabkan kontraktur. Sekali
kontraktur mulai terbentuk dapat terjadi kesulitan untuk bergerak sempurna seperti
sediakala. Penyesuaian awal memiliki esesnsi untuk memastikan kemungkinan terbaik
hasil terapi, selain itu pula untuk meringankan nyeri.
Pasien harus selalu melakukan kebiasaan posisi pada stadium awal penyembuhan.
Pasien perlu dorongan untuk mempertahankan posisi yang mencegah kontraktur (kecuali
ketika program latihan dan aktivitas fungsional lain), dukungan keluarga sangat penting.
Ketika luka bakar terjadi pada bagian fleksor tubuh, risiko kontraktur akan semakin
meningkat. Posisi yang mencegah terjadinya kontraktur berdasarkan luka bakar adalah
sebagai berikut:
a. Leher depan
Posisi yang dapat menyebabkan kontraktur adalah fleksi leher, dagu ditarik ke arah dada,
kontur leher menghilang sedangkan posisi yang mencegah terjadinya kontraktur adalah
ekstensi leher, tidak ada bantal di belakang kepala, putar balik leher. Kepala dimiringkan bila
posisi duduk.

Gambar 10. Kontraktur pada Leher Depan

15
Gambar 11. Posisi yang Mencegah Terjadinya Kontraktur Leher

b. Leher belakang
Posisi yang dapat menyebabkan kontraktur adalah ekstensi leher dan pererakan leher yang
lain sedangkan posisi yang mencegah terjadinya kontraktur adalah duduk dengan posisi leher
fleksi, berbaring dengan menggunakan bantal di belakang kepala.

Gambar 12. Kontraktur pada Leher Belakang

16
Gambar 13. Posisi yang Mencegah Terjadinya Kontraktur

c. Aksila anterior, aksila posterior, maupun lipatan aksila


Posisi yang dapat menyebabkan kontraktur adalah terbatasnya abduksi dan juga protraksi
ketika luka bakar juga ada di dada sedangkan posisi yang mencegah terjadinya fraktur adalah
berbaring dan duduk lengan abduksi 900 ditopang dengan menggunakan bantal atau alat lain
diantara dada dan lengan.

Gambar 14. Kontraktur pada Aksila

17
Gambar 15. Posisi yang Mencegah Terjadinya Kontraktur

d. Siku depan
Posisi yang dapat menyebabkan kontraktur adalah fleksi siku sedangkan posisi yang
mencegah terjadinya fraktur adalah ekstensi siku.

Gambar 16. Kontraktur pada Siku

Gambar 17. Posisi yang Mencegah Terjadinya Kontraktur

18
e. Punggung tangan
Posisi yang dapat menyebabkan kontraktur adalah hiperekstensi metacarpalphalangeal
(MCP), fleksi interphalangeal (IP), adduksi ibu jari, dan fleksi pergelangan tangan
sedangkan posisi yang mencegah terjadinya kontraktur adalah pada pergelangan tangan
diekstensi 30-40 derajat, fleksi MCP 60-70 derajat, ekstensi sendi IP, dan abduksi ibu
jari.

Gambar 18. Kontraktur pada Punggung Tangan

Gambar 19. Posisi yang Mencegah Terjadinya Kontraktur pada Punggung Tangan

f. Telapak tangan
Posisi yang dapat menyebabkan kontraktur adalah adduksi dan fleksi jari-jari tangan,
telapak tangan ditarik ke dalam sedangkan posisi yang mencegah terjadinya kontraktur
adalah ekstensi pergelangan tangan, fleksi minimal MCP, ekstensi dan abduksi jari-
jari tangan.

19
Gambar 19. Kontraktur pada Telapak Tangan

Gambar 20. Posisi yang Mencegah Terjadinya Kontraktur pada Telapak Tangan

g. Belakang lutut
Posisi yang dapat menyebabkan kontraktur adalah fleksi lutut sedangkan posisi yang
mencegah terjadinya kontraktur adalah ekstensi tungkai pada saat berbaring dan duduk.

Gambar 21. Kontraktur pada Belakang Lutut

20
Gambar 22. Posisi yang Mencegah Terjadinya Kontraktur Paha

h. Kaki
Kaki adalah struktur komplek yang dapat ditarik dengan arah yang berbeda-beda oleh
jaringan yang telah menyembuh. Hal ini dapat mengakibatkan mobilitas yang tidak
normal. Posisi yang mencegah terjadinya kontraktur adalah pergelangan kaki
diposisikan 90 derajat terhadap telapak kaki dengan menggunakan bantal untuk
mempertahankan posisi. Jika pasien dalam keadaan duduk maka posisi kakinya datar
di lantai (tanpa edem).

Gambar 23. Kontraktur pada Kaki

21
Gambar 24. Posisi yang Mencegah Terjadinya Kontraktur Kaki

2. Bidai
Pembidaian sangat efektif untuk membantu mencegah kontraktur dan merupakan
hal yang perlu dilakukan sebagai program rehabilitasi komprehensif. Pembidaian
membantu mempertahankan posisi yang mencegah kontraktur terutama terhadap pasien
yang mengalami nyeri hebat, kesulitan penyesuaian atau dengan area luka bakar yang
dengan menggunakan posisi pencegahan kontraktur saja tidak cukup.
Pembidaian dilakukan dengan posisi yang diregangkan sehingga memberikan suatu
latihan peregangan awal yang lebih mudah. Parut tidak hanya berkontraksi namun juga
mengambil rute terdekat, parut sering menimbulkan selaput atau anyaman diantara jari-
jari, leher, lutut, aksilda, dan lain-lain. Bidai membantu merenovasi jaringan parutkarena
membentuk dan mempertahankan kontur anatomis. Bidai adalah satu-satunya modalitas
terapeutik yang tersedia dan berlaku yang dapat mengatur tekanan pada jaringan lunak
sehingga dapat menimbulkan remodeling jaringan.
Bidai dapat dibuat dari berbagai macam bahan. Bahan yang ideal adalah yang
memiliki temperature rendah dan ringan, mudah dibentuk, dan disesuaikan kembali
kemudian juga sesuai dengan kontur.

22
Gambar 2.21. Contoh Pembidaian

3. Peregangan dan mobilisasi awal


Sendi yang terkena luka bakar harus digerakkan dan diregangkan beberapa kali
setiap harinya. Pasien membutuhkan pendamping baik dari tim medis maupun keluarganya
untuk mencapai pergerakan yang penuh terutama untuk anak-anak yang memerluka
perhatian yang lebih dari orang tua. Pasien perlu mengembangkan kebiasaan tersebut dari
hari ke hari.
4. Melakukan aktivitas sehari-hari
Pasien luka bakar sering merasa kehilangan rasa dan kemampuan untuk beraktivitas
secara normal. Aktivitas sehari-hari seperti makan, mandi sangat penting untuk melatih
pasien dapat hidup mandiri.
5. Pijat dan pemberian moisturiser
Pijatan pada parut sangat dianjurkan sebagai bagian dari penatalaksanaan luka parut
meskipun mekanisme efeknya belum begitu diketahui. Hal yang dapat dilakukan adalah:
a. Pemberian moisturiser luka sering kehilangan kelembaban tergantung dari dalamnya
luka dan sejauh kerusakan struktur kulit. Luka tersebut dapat menjadi sangat kering
dan menimbulkan rasa tidak nyaman. Hal ini dapat menimbulkan retak dan pecahnya
parut. Pemijatan dengan moisturizer atau minyak tanpa parfum pada bagian teratas
parut dapat melembutkan sehingga pasien merasa lebih nyaman dan untuk mengurangi
gatal.
b. Jika parut menjadi tebal dan meninggi dapat menggunakan pijatan kuat dan dalam
menggunakan ibujari atau ujung jari untuk mengurangi kelebihan cairan pada tempat
tersebut.

23
c. Parut akibat luka bakar mengandung kolagen empat kali dibandingkan dengan luka
parut biasa. Pijatan yang dalam dengan pola sedikit memutar dapat meningkatkan
kesegarisan luka parut.
d. Penurunan sensoris dan perubahan sensasi dapat terjadi. Pijatan rutin dan sentuhan
pada parut dapat membantu desensitisasi dari luka yang sebelumnya hipersensitif
e. Faktor psikologis dari seseorang yang memiliki kesulitan dan merasa tidak enak
dipandang dapat dikurangi dengan menyentuh parut dan belajar bagaimana menerima
keadaannya.
6. Terapi tekanan
Terapi tekanan adalah modalitas primer dalam penatalaksanaan parut akibat luka
bakar meskipun efektivitas klinis secara sains masih belum terbukti. Pemberian tekanan
pada area luka bakar diduga dapat mengurangi parut dengan mempercepat maturasi parut
dan mendorong reorientasi terbentuknya serta kolagen. Pola parallel yang bertentangan
dengan pola luka yang berputar pada parut. Mekanisme yang diduga adalah, pemberian
tekana dapat menciptakan hipoksia lokal pada jaringan parut sehingga mereduksi aliran
darah yang sebelumnya hipervaskuler pada luka parut. Hal ini mengakibatkan menurunnya
influks kolagen dan penurunan pembentukan jaringan parut. Sesegera setelah luka menjadi
tertutup dan dapat menerima tekanan, pasien menggunakan pakaian tekanan.
7. Silicon
Silicon digunakan untuk mengobati parut hipetrofik. Mekanisme dalam mencegah dan
penatalaksanan parut hipertrofik masih belum jelas namun kemungkinan silicon
mempengaruhi fase penyembuhan remodeling kolagen.
Ketika luka bakar telah sembuh, pasien dan keluarganya harus membiasakan untuk
latihan peregangan, pemijatan, moisturizer, dan mandi di air yang hangat. Semua hal ini dapat
membantu mencegah kontraktur. Pasien harus didorong untuk menggunakan tangan sebisa
mungkin untuk aktivitas dan kebutuhan sehari-hari. Jika mungkin digunakan untuk kembali ke
pekerjaan mereka (Pandya, 2001).
Obat-obatan antifibrogenik untuk mengatasi parut hipertrofi yang dapat menyebabkan
kontraktur adalah sebagai berikut:
1. Antagonis TGF-
2. Interferon , ,
3. Bleomycin

24
4. 5-fluorouracil
5. kortikosteroid
Interaksi yang rumit antara berbagai faktor berpengaruh terhadap penyembuhan dan
menentukan hasil fibrotic atau regeneratif pada luka. Terapi tunggal dalam melawan parut
bekas luka banyak yang tidak berhasil karena rumitnya interaksi antara sel luka dengan
lingkungannya (Wong & Gurtner, 2010).

A. Penatalaksanaan Kontraktur
Area kepala dan leher adalah area yang paling sering terkena luka bakar (thermal
injury). Kontraktur leher dapat menjadi berbagai macam bentuk deformitas, seperti bawah bibir,
dagu, leher, dan dada. Sekuel kontraktur leher biasanya lebih berat pada daerah luka bakar di
persendian (misalnya jari-jari tangan, siku, aksila, dan area poplitea). Keterbatasan pergerakan
leher, kelainan tulang servikal serta gangguan lower lip (misalnya kesulitan untuk makan) juga
dapat ditemukan pada kasus kontraktur leher. Pasien dengan kontraktur leher yang berat sering
kali sulit untuk diintubasi. Sehingga, kontraktur leher yang berat pelu dijadikan prioritas utama.
Penalaksanaan standar yaitu substitusi bioengineered dermal, pelebaran jaringan (tissue
expanders), flap lokal atau free flap, dan autologous skin grafting. Kebanyakan metode tersebut
berfungsi, tetapi biasanya muncul kontur yang kurang bagus dari segi kosmetik. Jika terdapat
adjacent skin, seperti pada daerah inguinal dan area paling luas dari donor, maka skin graft dan
operasi konstruktif lainnya dapat dilakukan. Meskipun begitu,pasien dengan ekstensif luka bakar
biasanya menderita deep partial-thickness burns dan full-thickness burns, dan biasanya area donor
kulit untuk skin graft tidak memadai. Oleh karena itu, para ahli bedah plastik dan rekonstruksi
mengalami kesulitan dalam menangani luka bakar di leher pada pasien dengan luka bakar
ekstensif. Selain itu, manajemen bekas luka (scar) sering kali terlambat, tidak adekuat, atau
terabaikan, karena lebih mengutamakan survival terapi pada pasien daripada hasil estetiknya.
Pemberian substitusi dermal adalah metode yang tepat untuk meminimalisasi kontraktur bekas
luka (scar) dan mengoptimalisasi kualitas area yang dilakukan skin graft dengan banyak fungsi
yang menghilang, elastisitas, dan pliabilitasnya (Kook Seo et al., 2014).
Skar hipertrofik dan kontraktur sering ditemukan pada deep dermal atau luka full-
thickness burn pada bagian-bagian, seperti leher dan aksila, khususnya yang parah terjadi
kontraktur. Penyebab utamanya adalah tidak adekuatnya terapi awal dan terapi fisik. Faktanya
bahwa kepala dan leher yang biasa terekspos membuat area tersebut menjadi lebih parah bila

25
terkena luka bakar, dan sering kali bentuk deformitas skar tidak dapat dikamuflase dengan
clothing. Skar dan deformitas luka dapat menyebabkan pasien menarik diri dari lingkungan sosial
dan keluarganya. Banyaknya kontraktur pada luka full-thickness burn pada leher biasanya
tergantung pada beberapa faktor. Kelenturan kulit (looseness) di bagian servikal, begitu pula
rentang gerak leher (ROM), yang mungkin dapat menyebabkan munculnya kontraksi luka selama
masa pemulihan. Metode rekonstruktif dari kontraktur luka yaitu skin graft, local advancement
flaps (z-plasty, K-plasty, atau kombinasi keduanya), distant flaps, dan free flaps. STSG merupakan
terapi standar untuk deep dermal dan luka full-thickness burn; meskipun dermis yang dituju
terkadang kurang bisa mencegah disabilitasi fungsional dan kosmetik. Banyak penelitian yang
meyebutkan bahwa sustitusi dermal buatan dapat meningkatkan kualitas dari skin graft, yang mana
komponen dermal tersebut dapat mencegah terjadinya kontraktur, pemberiannya seperti Alloderm
atau Matriderm adalah pilihan yang efektif dalam hal rekonstruksi. Namun begitu, pada pasien
dengan luka bakar ekstensif jarang bisa mendapatkan kulit yang memadai untuk dilakukan skin
graft dan skin flap (Kook Seo et al., 2014).

Tabel 2. 1. Data pasien yang dilakukan split-thickness skin graft menggunakan substitusi dermal
dengan Alloderm dan Matriderm (Kook Seo et al., 2014).

26
Kontraktur dan skar hipertrofi adalah dua sekuel yang perlu diperhatikan dalam hal
luka bakar (thermal injury). Skar dari region servikal anterior biasanya cenderung berat karena:
1. Bagian kulit cenderung lebih lentur (loose) dan tipis sehingga mudah robek
2. Area dari dagu hingga sternum merupakan permukaan fleksor konkaf
3. Mobilitas ekstrim dari leher dapat cenderung menyebabkan terbentuknya
kontraktur
4. Insisi vertical dari kulit di bagian anterior area servikal, baik yang terjadi karena kecelakaan
ataupun operasi, biasanya akan menjadi kontraktur scar bands.
(Mody et al., 2014)
Eksisi dari seluruh jaringan skar adalah memungkinkan untuk kasus kontraktur berat
sedangkan insisi dibutuhkan pada kasus kontraktur yang ekstensif. Skin graft merupakan
operasi yang simpel, reliable dan aman, namun memiliki kekurangan yaitu skar hipertrofi dan
munculnya kembali kontraktur. Flap lokal dan regional memungkinkan rekonstruksidengan
warna yang baik dan tekstur yang sesuai tetapi kadang tidak tersedia karena skar yang parah di
sekitar jaringan. Meskipun fungsi post operatif leher adalah esensial adanya, penampilan secara
kosmetik juga tidak kalah penting dengan memperhatikan sudut cervico-mandibular (Mody
et al., 2014).

Seperti yang telah dijelaskan pada klasifikasi kontraktur, terutama kontraktur derajat
III dan IV memerlukan tindakan operasi sedangkan untuk derajat I dan II tidak memerlukan
tindakan operasi. (Adu, 2011). Untuk menentukan terapi dari parut kontraktur maka klasifikasi
tempat terjadinya kontraktur harus dinilai. Bentuk dan kedalaman luka sebelum atau dalam
operasi. Penilaian setelah operasi juga penting untuk mengevaluasi metode penatalaksanaan
(Ogawa & Pribaz, 2010).
Prosedur operasi tidak boleh dilakukan selama fase aktif penyembuhan dan
pembentukan jaringan parut. Selama luka tersebut immature dan banyak baskularisasinya tidak
dilakukan operasi. Biasanya dibutuhkan waktu satu tahun atau lebih. Luka harus menjadi
matur, supel, dan avaskuler sebelum dilakukan operasi (Goel & Shrivastava, 2010).
1. Pembebasan kontraktur
Pembebasan kontraktur yang tuntas harus dilakukan dengan mencegah kerusakan
berbagai struktur penting seperti arteri, saraf, tendon, dan lain-lain. Insisi dimulai di pada
lintasan ketegangan yang maksimal yaitu daerah yang paling kencang. Titik ini biasanya

27
berlawanan dengan garis persendian. Insisi diperdalam sampai jaringan yang tidak ada
parutnya.
2. Penutupan kulit
Penutupan dengan menggunakan skin grafts atau skin flap. Umumnya area
dibuangnya setelah dibuangnya jaringan kontraktur akan ditutup dengan menggunakan
skin grafts. Penutupan menggunakan flap digunakan pada situasi yang khusus. Lapisan
grafts diusahakan dibuat luas dengan menggunakan tautan. Teknik yang dapat digunakan
adalah Full Thickness Skin Graft (FTSG) merupakan skin graft yang menyertakan seluruh
bagian dari dermis. Karakteristik kulit normal dapt terjada setelah proses graft selesai
karena komponen dermis dipertahankan selama proses graft. Teknik lain yang dapat
digunakan adalah Split Thickness Skin Graft (STSG).

28
BAB IV
KESIMPULAN

Telah dilaporkan seorang anak 11 tahun dengan diagnosa Kontraktur Regio Colli Anterior.
Pada pasein tersebut sudah dilakukan Release kontraktur dan rekonstruksi dengan double
advancement flap serta penutupan defek dengan STSG. Operasi dilakukan dalam 3 tahap
pengoperasian.
Kondisi pasien kini membaik, kontraktur pada daerah leher sudah tidak didapatkan dan
pasien sudah dapat menggerakan leher tanpa terfiksasi oleh kontraktur. Namun untuk
memaksimalkan gerakan leher dapat direncanakan rekonstruksi kedua untuk mendapatkan
kesimetrisan di bagian colli anterior.

29
DAFTAR PUSTAKA

Adu EJK. (2011). Management of contractures: a five-year experience at komfo anokye teaching
hospital in kumasi. Ghana Medical Journal 45(2):66-72.

Charles H, Robert W. Beasley, Sherrell J. Aston. 2007. GRABB AND SMITHS PLASTIC
SURGERY, sixt edition, Lippincott Williams & Wilkins.

Goel A & Shrivastava P. (2010). Post-burn scars and scar contractures. Indian Journal of Plastic
Surgery 43(3):63-71.

Ogawa R & Pribaz JJ. (2010). Diagnosis, assessment, and classification of scar contractures. Color
Atlas of Burn Reconstructive Surgery. Springer Heidelberg Dordrecht London NewYork.

Nucki N, Basic knowledge for flap surgery, Bagian orthopaedi & traumatologi RSHS Bandung.
April 2009

Perdanakusuma, DS. (2009). Surgical management of contracture in head and neck. Annual
Meeting of Indonesian Symposium on Pediatric Anesthesia & Critical care, JW Marriot
Hotel Surabaya.

Procter F. (2010). Rehabilitation of the burn patient. Indian Journal of Plastic Surgery
43(Suppl):S101-S113.

Schneider JC, Holavanahalli R, Helm, P, Goldstein R, & Kowalske K. (2006). Contractures in


burn injury: defining the problem. Journal of Burn Care Research 27(4):508-514.

Schwarz RJ. (2007). Management of postburn contractures of the upper extremity. Journal of
Burn Care Research 28:212-219.

Wong VW & Gurtner GC. (2010). Strategies for skin regeneration in burn patients. Color Atlas of
Burn Reconstructive Surgery. Springer Heidelberg Dordrecht London NewYork.

30