Anda di halaman 1dari 10

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)

TANDA BAHAYA NIFAS

Pokok Bahasan : Kesehatan ibu nifas


Sub Pokok Bahasan : Tanda bahaya nifas
Sasaran : Ibu nifas
Tempat : RSUD dr. Soekardjo Tasikmalaya
Ruangan : Melati Lantai 2
Waktu : 15 Menit
Penuyuluhan : Mahasiswa D-III Kebidanan STIKes Muhammadiyah
Ciamis

I. Tujuan Umum
Setelah mengikuti kegiatan penyuluhan diharapkan sasaran dapat
memahami dan mengerti tentang tanda bahaya nifas.

II. Tujuan Khusus


Setelah mengikuti proses penyuluhan kesehatan, sasaran diharapkan
mengetahui tentang :
1. Pengertian nifas.
2. Infeksi masa nifas.
3. Faktor predisposisi infeksi masa nifas.
4. Keadaan abnormal pada rahim
5. Keadaan abnormal pada payudara
6. Tanda-tanda bahaya masa nifas

III. Media
Leaflet

IV. Metode
Ceramah dan Tanya jawab

V. Kegiatan Penyuluhan
No Waktu Kegiatan Penyuluhan Kegiatan Peserta
1 5 menit Pembukaan: - Menjawab salam
- Mendengarkan dan
- Memberi salam
memperhatikan
- Menjelaskan tujuan penyuluhan
- Menyebutkan materi/ pokok bahasan
yang akan disampaikan
2 15 menit Pelaksanakan : - Menyimak dan
memperhatikan
- Menjelaskan materi penyuluhan secara
berurutan dan teratur.
Materi :
- Pengertian nifas.
- Infeksi masa nifas.
- Faktor predisposisi infeksi masa nifas.
- Keadaan abnormal pada rahim
- Keadaan abnormal pada payudara
- Tanda-tanda bahaya masa nifas
3 7 menit Evaluasi - Merespon dan
bertanya
- Memberi kesempatan kepada sasaran
untuk bertanya
4. 3 Menit Penutup: - Menjawab salam
- Mengakhiri penyuluhan, mengucapkan
terima kasih dan salam

VI. Evaluasi
1. Evaluasi Struktur
a. Sasaran bersedia diberi penyuluhan (100%)
b. Persiapan materi yang disampaikan
c. Persiapan media yang akan disampaikan
d. Persiapan sasaran yang akan diberi penyuluhan
e. Kontrak waktu dengan sasaran sebelumnya
2. Evaluasi Proses
a. Sasaran antusias terhadap materi yang diberikan
b. Sasaran tidak meninggalkan tempat penyuluhan sebelum acara
selesai.
c. Sasaran bertanya dan menjawab pertanyaan dengan benar
d. Sasaran dapat menerapkan materi yang telah didapatkan
3. Evaluasi hasil
a. Sasaran dapat menjelaskan defenisi dari masa nifas
b. Sasaran dapat memahami bagaimana infeksi masa nifas
c. Sasaran dapat menyebutkan 3 dari 5 faktor predisposisi infeksi masa
nifas
d. Sasaran dapat memahami 5 dari 9 Tanda bahaya kala nifas

VII. Sumber
Ambarwati, E.R. 2009. Asuhan Kebidanan Nifas. Jogjakarta : Mitra
Cendikia Press.

Eny. 2009. Asuhan Kebidanan Nifas. Jogjakarta : Mitra Cendikia Press.


Pamilih, Ns. 2006. Manajemen Komplikasi Kehamilan dan Persalinan.
Jakarta :EGC.

Prawirohardjo, S. 2002. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan


Maternal dan Neonatal. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo.

Saleha Sitti. 2009. Asuhan Kebidanan pada Masa Nifas. Jakarta : Salemba
Medika.

MATERI

A. Definisi Masa Nifas


Masa nifas adalah pulih kembali, mulai dari partus selesai sampai alat-
alat kandungan kembali sebelum hamil, lamanya 6-8 minggu masa nifas
(puerperium) dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-alat
kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil dan berlangsung kira-kira
6 minggu.
Sebagian besar kematian ibu terjadi selama masa post partum oleh
karena itu sangatlah penting untuk membimbing para ibu dan keluarganya
mengenai tanda-tanda bahaya yang menandakan bahwa ia perlu segera
mencari bantuan medis, ibu juga perlu mengetahui kemana ia mencari bantuan
tersebut.
Beritahulah ibu jika mengetahui adanya masalah-masalah berikut,
maka ia perlu segera menemui bidan :
1. Perdarahan vagina yang luar biasa atau tiba-tiba bertambah banyak (lebih
dari perdarahan haid biasa atau bila memerlukan penggantian pembalut
dua kali dalam setengah jam)
2. Pengeluaran vagina yang baunya menusuk
3. Rasa sakit dibagian bawah abdomen atau punggung
4. Sakit kepala yang terus-menerus, nyeri ulu hati atau masalah penglihatan.
5. Pembengkakkan diwajah atau di tangan.
6. Demam, muntah, rasa sakit pada waktu buang air kecil atau jika merasa
tidak enak badan.
7. Payudara yang berubah menjadi merah, panas dan atau terasa sakit.
8. Kehilangan nafsu makan dalam waktu yang lama.
9. Rasa sakit, merah, lunak dan/atau pembengkakkan dikaki.
10. Merasa sangat sedih atau tidak mampu mengasuh sendiri bayinya atau diri
sendiri.

B. Infeksi Masa Nifas


Setelah persalinan terjadi beberapa perubahan penting diantaranya
makin meningkatnya pembentukkan urin untuk mengurangi hemodilusi darah,
terjadi penyerapan beberapa bahan tertentu melalui pembuluh darah vena
sehingga terjadi peningkatan suhu badan sekitar 0,5C yang bukan merupakan
keadaan patologis atau menyimpang pada hari pertama. Perlukaan karena
persalinan merupakan tempat masuknya kuman kedalam tubuh, sehingga
menimbulkan infeksi pada kala nifas. Infeksi kala nifas adalah infeksi
peradangan pada semua alat genitalia pada masa nifas oleh sebab apapun
dengan ketentuan meningkatnya suhu badan melebihi 38C tanpa menghitung
hari pertama dan berturut-turut selama dua hari. Gambaran Klinis Infeksi
Umum dapat dalam bentuk :
1. Infeksi Lokal
a. Pembengkakan luka episiotomi.
b. Perubahan warna lokal.
c. Pengeluaran lochia bercampur nanah.
d. Mobilisasi terbatas karena rasa nyeri.
e. Temperatur badan dapat meningkat.
2. Infeksi General
a. Tampak Sakit dan Lemah
b. Temperatur meningkat diatas 39C.
3. Tekanan darah dapat menurun dan nadi meningkat.
4. Pernapasan dapat meningkat dan napas terasa sesak.
5. Kesadaran gelisah sampai menurun dan koma.
6. Terjadi gangguan involusi uterus.
7. Lochia : berbau, bernanah serta kotor.

C. Faktor Predisposisi Infeksi Masa Nifas


1. Persalinan berlangsung lama sampai terjadi Persalinan Terlantar
2. Tindakan Operasi Persalinan
3. Tertinggalnya plasenta selaput ketuban dan bekuan darah.
4. Ketuban pecah dini atau pada pembukaan masih kecil melebihi enam jam.
5. Keadaan yang dapat menurunkan keadaan umum, yaitu perdarahan
antepartum dan post partum, anemia pada saat kehamilan, malnutrisi,
kelelahan dan ibu hamil dengan penyakit infeksi.

D. Keadaan abnormal pada Rahim


Beberapa keadaan abnormal pada rahim adalah :
1. Sub involusi uteri
Proses involusi rahim tidak berjalan sebagaimana mestinya, sehingga
proses pengecilan rahim terhambat. Penyebab terjadinya sub involusi uteri
adalah terjadinya infeksi pada endometrium, terdapat sisa plasenta dan
selaputnya, terdapat bekuan darah, atau mioma uteri.
2. Pendarahan masa nifas sekunder
Adalah pendarahan yang terjadi pada 24 jam pertama. Penyebabnya adalah
terjadinya infeksi pada endometrium dan terdapat sisa plasenta dan
selaputnya.
3. Flegmansia alba dolens
Merupakan salah satu bentuk infeksi puerpuralis yang mengenai pembuluh
darah vena femoralis. Gejala kliniknya adalah :
a. Terjadi pembengkakan pada tungkai.
b. Berwarna putih.
c. Terasa sangat nyeri.
d. Tampak bendungan pembuluh darah.
e. Temperatur badan dapat meningkat

E. Keadaan Abnormal pada Payudara


Beberapa keadaan abnormal yang mungkin terjadi adalah :
1. Bendungan ASI
Disebabkan oleh penyumbatan pada saluran ASI. Keluhan mamae
bengkak, keras, dan terasa panas sampai suhu badan meningkat.
2. Mastitis dan Abses Mamae
Infeksi ini menimbulkan demam, nyeri lokal pada mamae, pemadatan
mamae dan terjadi perubahan warna kulit mamae.

F. Tanda-tanda bahaya masa nifas adalah sebagai berikut:


1. Perdarahan pasca persalinan (post partum)
Pengertian :
Perdarahan pasca persalinan (post partum) adalah perdarahan yang
melebihi 500 600 ml setelah bayi lahir (Eny, 2009). Menurut waktu
terjadinya dibagi atas dua bagian yaitu :
a. Perdarahan post partum primer (Early post partum hemorrhage) yang
terjadi dalam 24 jam setelah anak lahir. Penyebab utama adalah atonia
uteri, retensio placenta, sisa plasenta dan robekan jalan lahir.
b. Perdarahan post partum sekunder (Late post partum hemorrhage) yang
terjadi setelah 24 jam. Penyebab utamanya adalah sub involusi, infeksi
nifas dan sisa plasenta. Menurut Manuaba (2005), perdarahan post
partum merupakan penyebab penting kematian maternal.
Faktor-faktor penyebab perdarahan post partum adalah:
a. Paritas lebih dari 5
b. Jarak persalinan pendek kurang dari 2 tahun
c. Persalinan yang dilakukan dengan tindakan yaitu pertolongan kala uri
sebelum waktunya, pertolongan persalinan oleh dukun, persalinan
dengan tindakan paksa.
Penanganan :
Untuk mengatasi kondisi ini dilakukan penanganan umum dengan
perbaikan keadaan umum dengan pemasangan infuse, transfuse darah,
pemberian antibiotic, dan pemberian uterotonika. Pada kegawatdaruratan
dilakukan rujukan ke rumah sakit (Manuaba, 2008).
2. Lochea yang berbau busuk
Pengertian :
Lochea adalah sekret yang berasal dari kavum uteri dan vagina
dalam masa nifas. Sedangkan lochea yang berbau busuk adalah sekret
yang berasal dari kavum uteri dan vagina dalam masa nifas yang berupa
cairan seperti nanah yang berbau busuk (Prawirohardjo, 2007).

Faktor penyebab:
Ini terjadi karena infeksi dan komplikasi plasenta rest. Plasenta rest
merupakan bentuk perdarahan pasca partus berkepanjangan sehingga
pengeluaran lochea disertai darah lebih dari 7 10 hari. Dapat terjadi
perdarahan baru setelah pengeluaran lochea normal, dan dapat berbau
akibat infeksi plasenta rest. Pada evaluasi pemeriksaan dalam terdapat
pembukaan dan masih dapat diraba sisa plasenta atau membrannya.
Subinvolusi uteri karena infeksi dan menimbulkan perdarahan terlambat
(Manuaba, 2008).
Penanganan :
Tindakan penanganan meliputi pemasangan infus profilaksis,
pemberian antibiotik adekuat, pemberian uterotonika (oksitosin atau
metergin), dan tindakan definitif dengan kuretase dan dilakukan
pemeriksaan patologi-anatomik.
3. Pengecilan rahim terganggu (Sub involusi uterus)
Pengertian :
Involusi adalah keadaan uterus mengecil oleh kontraksi rahim
dimana berat rahim dari 1000 gram saat setelah bersalin menjadi 40-60
gram 6 minggu kemudian. Bila pengecilan ini kurang baik atau terganggu
disebut sub involusi (Eny, 2009).
Faktor penyebab:
Ini terjadi karena infeksi dan komplikasi plasenta rest. Plasenta rest
merupakan bentuk perdarahan pasca partus berkepanjangan sehingga
pengeluaran lochea disertai darah lebih dari 7 10 hari. Dapat terjadi
perdarahan baru setelah pengeluaran lochea normal, dan dapat berbau
akibat infeksi plasenta rest. Pada evaluasi pemeriksaan dalam terdapat
pembukaan dan masih dapat diraba sisa plasenta atau membrannya.
Subinvolusi uteri karena infeksi dan menimbulkan perdarahan terlambat
(Manuaba, 2008).

Penanganan :
Pengobatan dilakukan dengan memberikan injeksi methergin setiap
hari ditambah ergometrin per oral. Bila ada sisa plasenta lakukan kuretase.
Berikan antibiotika sebagai pelindung infeksi (Prawirohardjo, 2005).
4. Nyeri pada perut dan pelvis
Pengertian :
Tanda-tanda nyeri perut dan pelvis dapat menyebabkan komplikasi
nifas seperti peritonitis. Peritonitis adalah peradangan pada peritonium.
Faktor penyebab:
Peritonitis nifas bias terjadi karena meluasnya endometritis, tetapi
dapat juga ditemukan bersama-sama dengan salpingo-ooforitis dan
sellulitis pelvika. Selanjutnya pada kemungkinan bahwa abses pada
sellulitis mengeluarkan nanahnya ke rongga paritonium dan menyebabkan
peritonitis (Prawirihardjo, 2007). Gejala klinik peritonoitis dibagi 2 yaitu :
1) Peritonitis terbatas pada daerah pelvis
Gejala-gejalanya tidak seberapa berat seperti pada peritonitis umum.
Penderita demam, perut bawah nyeri, tetapi keadaan umum tetap baik.
Pada pelvio peritonitis bisa terdapat pertumbuhan abses
(Prawirohardjo, 2007).
2) Peritonitis umum
Peritonitis umum disebabkan oleh kuman yang sangat pathogen dan
merupakan penyakit berat.Suhu meningkat menjadi tinggi, nadi cepat
dan kecil, perut kembung dan nyeri, ada defense musculaire. Muka
penderita yang mula-mula kemerahan menjadi pucat, mata cekung,
kulit muka dingin, terdapat apa yang dinamakan facies hippocratica.
Mortalitas peritonitis umum tinggi (Prawirohardjo, 2007).
Penanganan :
Pengobatan dilakukan dengan pengisapan nasogastrik, pasang
infuse intravena, berikan kombinasi antibiotic sampai ibu tidak demam
selama 48 jam ( ampisilin 2 g melalui intravena setiap 6 jam, ditambah
gentamisin 5 mg/kg berat badan melalui intravena setiap 24 jam, ditambah
metronidazol 500 mg melalui intravena setiap 8 jam) (Pamilih, 2006).
5. Pusing dan lemas yang berlebihan
Menurut Manuba (2005), pusing merupakan tanda-tanda bahaya
pada masa nifas, pusing bisa disebabkan oleh karena darah tinggi (sistol
>140 mmHg dan diastole >110 mmHg).
Lemas yang berlebihan juga merupakan tanda-tanda bahaya,
dimana keadaan lemas disebabkan oleh kurangnya istirahat dan kurangnya
asupan kalori sehingga ibu kelihatan pucat, tekanan darah rendah (sistol
<100 mmHg diastole <60 mmHg). Penanganan gejala tersebut adalah :
a. Mengkonsumsi tambahan 500 kalori setiap hari.
b. Makan dengan diit berimbang untuk mandapatkan protein, mineral
dan vitamin yang cukup.
c. Minum sedikitnya 3 liter setiap hari.
d. Pil zat besi harus diminum untuk menambah zat setidaknya selama 40
hari pasca bersalin.
e. Minum kapsul vitamin A (200.000 unit) agar bisa memberikan kadar
vitaminnya pada bayinya.
f. Istirahat yang cukup untuk mencegah kelelahan yang berlebihan.
6. Suhu tubuh ibu > 380C
Dalam beberapa hari setelah melahirkan suhu badan ibu sedikit
baik antara 37,20C-37,80C oleh karena reabsorbsi benda-benda dalam
rahim dan mulainya laktasi, dalam hal ini disebut demam reabsorbsi. Hal
itu adalah normal.
Namun apabila terjadi peningkatan melebihi 380C beturut-turut
selama 2 hari kemungkinan terjadi infeksi. Infeksi nifas adalah keadaan
yang mencakup semua peradangan alat-alat genetalia dalam masa nifas
(Mochtar, 2002). Penanganan umum bila terjadi demam :
a. Istirahat baring.
b. Rehidrasi peroral atau infuse.
c. Kompres atau kipas untuk menurunkan suhu.
d. Jika ada syok segera beri pengobatan, sekalipun tidak jelas gejala syok
harus waspada untuk menilai berkala karena kondisi ini dapat
memburuk dengan cepat (Prawirohardjo, 2002).
7. Payudara berubah menjadi merah, panas, dan terasa sakit
Pada masa nifas dapat terjadi infeksi dan peradangan parenkim
kelenjar payudara (mastitis). Mastitis bernanah dapat terjadi setelah
minggu pertama pascasalin, tetapi biasanya tidak sampai melewati minggu
ke 3 atau ke 4 (Prawirohardjo, 2008).
Gejala awal mastitis adalah demam yang disertai menggigil, nyeri
dan takikardia. Pada pemeriksaan payudara membengkak, mengeras, lebih
hangat, kemerahan dengan batas tegas, dan disertai rasa nyeri
(Prawirohardjo, 2008). Penanganan utama mastitis adalah :
a. Memulihkan keadaan dan mencegah terjadinya komplikasi yaitu
bernanah (abses) dan sepsis yang dapat terjadi bila penanganan
terlambat, tidak cepat, atau kurang efektif.
b. Susukan bayi sesering mungkin.
c. Pemberian cairan yang cukup, anti nyeri dan anti inflamasi.
d. Pemberian antibiotic 500 mg/6 jam selama 10 hari.
e. Bila terjadi abses payudara dapat dilakukan sayatan (insisi) untuk
mengeluarkan nanah dan dilanjutkan dengan drainase dengan pipa
agar nanah dapat keluar terus.
8. Perasaan sedih yang berkaitan dengan bayinya (baby blues)
Ada kalanya ibu mengalami parasaan sedih yang berkaitan dengan
bayinya. Keadaan ini disebut baby blues, yang disebabkan oleh perubahan
perasaan yang dialami ibu saat hamil sehingga sulit menerima kehadiran
bayinya. Perubahan perasaan ini merupakan respon alami terhadap rasa
lelah yang dirasakan, selain itu juga karena perubahan fisik dan emosional
selama beberapa bulan kehamilan (Eny, 2009). Gejala-gejala baby blues
antara lain :
a. Menangis.
b. Mengalami perubahan perasaan.
c. Cemas.
d. Kesepian.
e. Khawatir mengenai sang bayi.
f. Penurunan gairah sex, dan kurang percaya diri terhadap kemampuan
menjadi seorang ibu.
Penanganan bila terjadi baby blues yaitu hilang tanpa pengobatan,
pengobatan psikologis dan antidepresan, konsultasi psikiatrik untuk
pengobatan lebih lanjut (tiga bulan) (Manuaba, 2008).
9. Depresi masa nifas (depresi postpartum)
Depresi masa nifas adalah keadaan yang amat serius. Hal ini
disebabkan oleh kesibukannya yang mengurusi anak-anak sebelum
kelahiran anaknya ini. Ibu yang tidak mengurus dirinya sendiri, seorang
ibu cepat murung, mudah marah-marah (Eny, 2009). Gejala-gejala depresi
masa nifas adalah :
a. Sulit tidur bahkan ketika bayi sudah tidur.
b. Nafsu makan hilang.
c. Perasaan tidak berdaya atau kehilangan kontrol.
d. Terlalu cemas atau tidak perhatian sama sekali pada bayi.
e. Tidak menyukai atau takut menyentuh bayi.
f. Pikiran yang menakutkan mengenai bayi
g. Sedikit atau tidak ada perhatian terhadap penampilan pribadi.
h. Gejala fisik seperti banyak wanita sulit bernafas atau perasaan
berdebar-debar.