Anda di halaman 1dari 59

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Air merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia bahkan hampir 70 %


tubuhmanusia mengandung air. Air digunakan sebagai keperluan makan, minum dan
pemenuhan kebutuhannya.Organisasi kesehatan dunia (WHO) menetapkan kebutuhan
per orang per hari untuk hidup sehat adalah 60 liter/hari. Air yang bersih dan sehat
dapat membantu terlaksananya program penyehatan masyarakat Beberapa sumber air
untuk kebutuhan sehari-hari antara lain sumur dangkal, sumur artesis, mata air, air
permukaan dan penampung air hujan. Akan tetapi tidak semua masyarakat mempunyai
sumber air yang memenuhi syarat kesehatan, dan kemudian lebih memilih
menggunakan air dari PDAM dengan harapan akan memperoleh air yang mempunyai
kualitas lebih baik dan memenuhi syarat kesehatan. Seiring dengan bertambahnya
penduduk, bertambah pula kebutuhan air dan berarti bertambah pula masyaraka yang
membutuhkan air bersih untuk keperluan sehari-hari dengan menjadi pelanggan tetap.
PDAM memiliki kendala dalam melayani banyaknya pelanggan dengan sumber air
yang jumlahnya terbatas. Oleh karena itu, banyak masyarakat yang belum
mendapatkan layanan PDAM, dan ada juga yang memang tidak menggunakan layanan
PDAM karena mempunyai sumber air sendiri seperti sumur dangkal, atau
menggunakan sumber lain untuk keperluan setiap harinya. Padahal belum tentu air
yang digunakan tersebut layak untuk dikonsumsi dan tidak memenuhi syarat kesehatan
sehingga dapat menimbulkan berbagai macam penyakit.

1.2 Rumusan Masalah

Permasalahan dalam perencanaan pengembangan distribusi jaringan untuk


kebutuhan air bersih di daerah adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana menghitung proyeksi pertambahan penduduk selama 2015 2024 ?

1
2. Bagaimana kebutuhan Domestik dan non Domestik penduduk desa ?

3. Bagaimana merencanakan jaringan air bersih yang akan melayani penduduk desa ?

4. Bagaimana menghitung debit andalan berdasarkan 12 tahun terakhir ?

5. Bagaimana kriteria perencanaan air bersih sesuai dengan standar perencanaan yang
berlaku ?

6. Bagaimana menghitung dimensi pipa air bersih dan kehilangan tekanan pada pipa ?

7. Bagaimana menghitung kapasitas reservoir yang dibutuhkan untuk melayani


kebutuhan air bersih pada kawasan tersebut ?

1.3 Batasan Masalah

Batasan masalah yang digunakan agar pembahasan tidak menyimpang dari tujuan
dan tidak terlalu kompleks adalah :

1. Pipa-pipa Jaringan yang disertakan dalam pemodelan jaringan distribusi adalah


pipa-pipa jenis transmisi (primer) dan distribusi (sekunder).

2. Pemodelan distribusi aliran air dengan menggunakan metode loop.

1.4 Maksud dan Tujuan


1. Mengetahui rencana kebutuhan air yang akan mengalir di beberapa daerah.
2. Mengetahui desain jaringan perpipaan yang akan dipakai di beberapa daerah.
3. Mengetahui dimensi pipa distribusi yang akan dipakai.

4. Mengetahui kecepatan aliran air pada masing-masing pipa.

5. Mengetahui headloss (kehilangan energi) air selama melewati suatu jaringan pipa.

1.5 Manfaat

Manfaat yang di harapkan muncul dari analisa ini adalah :

2
1. Manfaat bagi penulis

a. Mengembangkan ilmu pengetahuan di bidang teknik sipil sesuai dengan teori


yang didapat di bangku perkuliahan.

b. Bagi mahasiswa teknik sipil diharapkan pelajaran inin bisa dijadikan sebagai
referensi untuk merencakan airbersih.

c. Dapat menghitung jumlah proyeksi pertumbuhan penduduk dalam kurun


waktu beberapa tahun.

d. Dapat lebih memahami cara perhitungan untuk menganalisa kebutuhan air


bersih.

e. Dapat merencanakan desain rencana jaringan air bersih di suatu daerah.

2. Manfaat bagi pembaca

a. Memberikan tambahan ilmu pada pembaca bagaimana cara menganalisa


kebutuhan air bersih dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk.

b. Dapat menjadi bahan referensi untuk merencanakan jaringan air bersih.

3
BAB II

DASAR TEORI

2.1 Pengertian Air Bersih

Berdasarkan keputusan Menteri Kesehatan RI No 1405/Menkes/SK/XI/2002


tentang persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja Perkantoran dan Industri:

Air bersih yaitu air yang dipergunakan untuk keperluan sehari-hari dan
kualitasnya memenuhi persyaratan kesehatan air bersih sesuai peraturan perundang-
undangan yang berlaku dan dapat diminum apabila dimasak.

Berdasarkan SK Menteri Kesehatan 1990, standar kualitas air bersih adalah


sebagai berikut:

Persyaratan kualitas air untuk air minum

4
Persyaratan kualitas air untuk air bersih

Persyaratan kualitas air untuk air limbah cair bagi operasional

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 16 Tahun


2005 Tentang Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum, didapat beberapa
pengertian mengenai :
Air baku untuk air minum rumah tangga, yang selanjutnya disebut air baku
adalah air yang dapat berasal dari sumber air permukaan, cekungan air tanah
dan/atau air hujan yang memenuhi baku mutu tertentu sebagai air baku untuk
air minum.
Air minum adalah air minum rumah tangga yang melalui proses pengolahan
atau tanpa proses pengolahan yang memenuhi syarat kesehatan dan dapat
langsung diminum.

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 416/Menkes/Per/IX/1990 :


Air bersih yang dikonsumsi dan dipergunakan untuk masyarakat harus mempunyai
baku mutu dan parameter yang dipersyaratkan. Syarat kualitas meliputi
Parameter fisik,
Parameter kimia,
Parameter radioaktivitas,
Parameter mikrobiologis

Syarat fisik pada air, antara lain:

Air harus bersih dan tidak keruh.

Tidak berwarna

Tidak berasa

Tidak berbau

Suhu antara 10o-25 o C (sejuk)

Syarat kimiawi pada air, antara lain:

5
Tidak mengandung bahan kimiawi yang mengandung racun.
Tidak mengandung zat-zat kimiawi yang berlebihan.
Cukup yodium.
pH air antara 6,5 9,2.

Dari segi parameter radioaktifitas, apapun bentuk radioaktifitas efeknya adalah


sama, yakni menimbulkan kerusakan pada sel yang terpapar. Kerusakan dapat berupa
kematian dan perubahan komposisi genetik. Kematian sel dapat diganti kembali
apabila sel dapat beregenerasi dan apabila tidak seluruh sel mati. Perubahan genetis
dapat menimbulkan berbagai penyakit seperti kanker dan mutasi. Syarat bakteriologi
pada air, antara lain: Tidak mengandung kuman-kuman penyakit seperti disentri, tipus,
kolera, dan bakteri patogen penyebab penyakit.

Dalam peraturan tersebut standar air bersih dapat dibedakan menjadi tiga
kategori (Menkes No. 173/per/VII tanggal 3 Agustus 1977) :
Kelas A : Air yang dipergunakan sebagai air baku untuk keperluan air minum.
Kelas B : Air yang dipergunakan untuk mandi umum, pertanian dan air yang
terlebih dahulu dimasak.
Kelas C : Air yang dipergunakan untuk perikanan darat.

Berdasarkan petunjuk Program Pembangunan Prasarana Kota Terpadu perihal


Pedoman Perencanaan dan Desain Teknis Sektor Air Bersih Terdapat beberapa sumber
air baku yang perlu diolah terlebih dahulu sebelum dapat dimanfaatkan sebagai air
minum.

2.2 Macam Sumber Air Baku

1. Mata air, Yaitu sumber air yang berada di atas permukaan tanah. Debitnya sulit
untuk diduga, kecuali jika dilakukan penelitian dalam jangka beberapa lama.

2. Sumur dangkal (shallow wells), Yaitu sumber air hasil penggalian ataupun
pengeboran yang kedalamannya kurang dari 40 meter.

3. Sumur dalam (deep wells), Yaitu sumber air hasil penggalian ataupun pengeboran
yang kedalamannya lebih dari 40 meter.

6
4. Sungai, Yaitu saluran pengaliran air yang terbentuk mulai dari hulu di daerah
pegunungan/tinggi sampai bermuara di laut/danau. Secara umum air baku yang
didapat dari sungai harus diolah terlebih dahulu, karena kemungkinan untuk
tercemar polutan sangat besar.

5. Danau dan Penampung Air (lake and reservoir), Yaitu unit penampung air dalam
jumlah tertentu yang airnya berasal dari aliran sungai maupun tampungan dari air
hujan.

2.3 Standar Kebutuhan Air Bersih


Kebutuhan air dapat didefinisikan sebagai jumlah air yang dibutuhkan untuk
keperluan rumah tangga, industri, penggelontoran kota dan lain lain.
Prioritas kebutuhan air meliputi kebutuhan air domestik, kebutuhan air untuk
mengganti kebocoran. ( Moegijantoro, 1995 )

Faktor faktor yang mempengaruhi penggunaan air bersih dapat diuraikan


sebagai berikut ( Linsley, Ray K, Franzini, B.Joseph, 1985 ):
1. Iklim
2. Ciri ciri penduduk
3. Masalah lingkungan hidup
4. Industri dan perdagangan
5. Ukuran Luas wilayah kota

Kebutuhan air menurut kategori ukuran kota:

Kategori Ukuran Kota Kebutuhan air/ltr/orang/hari


I Kota Metropolitan 190
II Kota Besar 130
III Kota Sedang 120
IV Kota Kecil 90
V Kota Kecamatan 75
VI Pedesaan 60

Kebutuhan air rencana:

7
1. Kebutuhan Domestik = 100 lt/orang/hari

2. Kebutuhan non Domestik = (15-30) % keb. Domestik = 30 lt/orang/hari +

Kebutuhan rata-rata harian = 130 lt/orang/hari

3. Kebutuhan langsung = (20-30) % keb. Rata-rata harian = 65 lt/orang/hari +


195lt/orang/hari

Tingkat Pemakaian Air Rumah Tangga Sesuai Kategori Kota (Sk Sni Air Bersih)

Konsumsi Kebutuhan Air Sarana Dan Prasarana

8
Klasifikasi Dan Struktur
Kebutuhan Air

Tingkat pemakaian air non rumah


tangga:

Non Rumah Tangga Tingkat Pemakaian Air


No.
(Fasilitas)
1 Sekolah 10 ltr/hari
2 Rumah Sakit 200 ltr/hari
3 Puskesmas (0,5-1) m2/unit/hari
4 Peribadatan (0,5-2) m2/unit/hari
5 Kantor (1-2) m2/unit/hari
6 Toko (1-2) m2/unit/hari
7 Rumah Makan 1 m3/unit/hari
8 Hotel / Losmen (100 150) m3/unit/hari
9 Pasar (6-12) m3/unit/hari
10 Industri (0,5-2) m3/unit/hari
11 Pelabuhan / Terminal (10-20) m3/unit/hari
12 SPBU (5-20) m3/unit/hari
13 Pertamanan 25 m3/unit/hari

9
2.4 Proyeksi Pelayanan Kebutuhan Air Bersih
Kebutuhan air terbagi atas kebutuhan untuk:
1. Domestik
Penggunaan air untuk rumah, hotel, termasuk urusan dapur, minum, cuci, dan
mandi. Kebutuhan penggunaan air berbeda beda menurut kondisi kehidupan
pengguna.
Tabel Alokasi Prosentase Pelayanan

N Uraian Prosentase Pelayanan Tingkat Pelayanan

o
1. Hidran Umum / Tergantung dari hasil studi Tergantung dari hasil studi dan

Kran Umum dan kebijakan daerah yaitu kebijakan daerah yaitu berkisar

berkisar antara 20% - 40% antara 50 100 jiwa/KU (30

daerah pelayanan lt/org/hari)


2. Sambungan Tergantung dari hasil studi Tingkat pemakaian air berdasarkan

Rumah dan kebijakan daerah yaitu kategori kota yaitu:

berkisar antara 60% - 80%


Metropolitan 190 lt/org/hari
pelayanan

Kota Besar 170 lt/org/hari

Kota Sedang 150 lt/org/hari

Kota Kecil 130 lt/org/hari

10
Kecamatan 100 lt/org/hari

Dengan perkiraan 1 SR (sambungan

rumah) melayani 4 6 jiwa.


3. Pemadam Kebutuhan pemadam

Kebakaran kebakaran diambil 20% dari

kapasitas reservoir atau 5%

dari kebutuhan domestic


2. Non Domestik
a) Industri dan perdagangan
b) Pengguna umum (public use)
Digunakan untuk kebutuhan gedung pemerintah seperti balai kota, penjara,
sekolah, pelayanan umum, dan tempat tempat ibadah. Air yang digunakan
berkisar 50 70 liter perkapita. Dalam perencanaan keperluan non domestic
berkisar 15% dari kebutuhan air.
Penduduk tahun ken Fasilitas tahun ken
c) Proyeksi perhitungan = =
Penduduk tahun awal Fasilitas tahun awal

3. Kebocoran dan Pemborosan Air (losses and waste)


Kebocoran dan pemborosan air dapat disebabkan meteran rusak, sambungan
pipa tidak benar (tekanan berlebihan), penggunaan yang tidak sah oleh
masyarakat (mencuri). Kebocoran dan pemborosan dapat dikurangi dengan
pemeliharaan yang baik, dan kebocoran serta pemborosan diperhitungkan 10%
dari kebutuhan air.

Pemerintah Indonesia telah menyusun program pelayanan air bersih sesuai


dengan kategori daerah yang dikelompokkan berdasarkan jumlah penduduk.
Semakin padat jumlah penduduk dan semakin tinggi tingkat kegiatan akan
menyebabkan semakin besarnya tingkat kebutuhan air.
Variabel yang menentukan besaran kebutuhan akan air bersih antara lain adalah
sebagai berikut:
Jumlah penduduk
Jenis kegiatan
Standar konsumsi air untuk individu

11
Jumlah sambungan

2.5 Proyeksi Jumlah Penduduk

Dalam memperkirakan jumlah penduduk pada tahun mendatang dapat dilakukan


perhitungan perhitungan dengan beberapa metode.
1. Metode Aritmatika
Metode yang mengasumsikan dengan berdasarkan angka kenaikan penduduk
rata rata setiap tahun.
Pt=Po ( 1+n . r )
Dimana :
Pt = Jumlah penduduk pada akhir periode t (orang)
Po = Jumlah penduduk pada awal periode t (orang)
r = Tingkat pertumbuhan penduduk
n = Jangka waktu / tahun proyeksi
2. Metode Geometrik
Metode ini berdasarkan perbandingan pertumbuhan penduduk rata rata setiap
tahun.
Pt=Po(1+ r)n
Dimana :
Pt = Jumlah penduduk pada akhir periode t (orang)
Po = Jumlah penduduk pada awal periode t (orang)
r = Tingkat pertumbuhan penduduk
n = Jangka waktu / tahun proyeksi
3. Metode Eksponensial
Metode ini berdasarkan perbandingan pertumbuhan penduduk rata rata setiap
tahun.
r.n
Pt=Po x e

Dimana :

Pt = Jumlah penduduk pada akhir periode t (orang)


Po = Jumlah penduduk pada awal periode t (orang)
r = Tingkat pertumbuhan penduduk
n = Jangka waktu / tahun proyeksi
e = Bilangan eksponensial (2,718)

12
Nilai r dari masing masing metode didapat dari rumus :

jumlah presentase pertumbuhan


r=
jumlah tahun data

2.6 Perencanaan Penyediaan Air Bersih

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 173/Men.Kes/Per/


VII/ 1977, penyediaan air harus memenuhi kuantitas dan kualitas, yaitu:
1. Aman dan higienis.
2. Baik dan layak minum.
3. Tersedia dalam jumlah yang cukup.
4. Harganya relatif murah atau terjangkau oleh sebagian besar masyarakat.

2.6.1 Kriteria Perencanaan

Untuk mendapatkan hasil perencanaan sistem penyediaan air bersih yang baik, yaitu
supply air tersedia setiap saat dengan debit dan tekanan yang cukup, serta kualitas
memenuhi syarat, maka diperlukan kriteria perencanaan agar sistem berikut dimensi dan
spesifikasi komponen sistem mempunyai kinerja yang baik.

Kriteria perencanaan yang digunakan berpedoman pada kriteria perencanaan dan


petunjuk teknik bidang air bersih. Secara umum kriteria perencanaan yang digunakan
dalam perencanaan sistem penyediaan air bersih ini meliputi hal-hal sebagai berikut:
1. Penentuan daerah pelayanan disesuaikan dengan kondisi setempat berdasarkan
kepadatan penduduk.
2. Cakupan pelayanan atau banyaknya penduduk yang dilayani sistem air bersih.
3. Tingkat pelayanan atau cara penyampaian air ke konsumen.
Usaha pelayanan air bersih ke konsumen pada umumnya melalui 2 cara yaitu
melalui Sambungan Rumah (SR) dan Hydrant Umum (HU), dengan perbandingan
berkisar antara 50:50
4. atau 80:20 dimana faktor cost recovery merupakan faktor yang perlu
dipertimbangkan. Besarnya angka perbandingan tersebut ditetapkan berdasarkan
hasil survey dilapangan.

13
5. Kebutuhan dasar atau besarnya pemakaian air perhari, tergantung pada jenis
kawasan kota kecil, sedang dan metropolitan. Di daerah perkotaan, pemakaian air
untuk sambungan rumah adalah 100-120 l/org/hari sedangkan untuk hydrant umum
adalah 30 l/org/hari.
6. Pelayanan fasilitas non domestik diperhitungkan sebesar 10-30% dari kebutuhan
domestik.
7. Secara umum kriteria perencanaan yang digunakan dalam perencanaan sistem
penyediaan air bersih ini meliputi hal-hal sebagai berikut:
1) Fluktuasi pemakaian air.
a. Pemakaian air pada hari maksimum = (1,10-1,15) x Qtotal.
b. Pemakaian air pada jam maksimum = (1,50-2,00) x Qtotal.
2) Pipa transmisi direncanakan untuk pengaliran air pada saat debit hari
maksimum.
3) Pipa distribusi direncanakan untuk pengaliran air pada saat debit jam
puncak.
4) Kapasitas reservoir pada umumnya berkisar antara 15-20% dari total
produksi (Qmax).
5) Tekanan air dalam pipa:
a. Tekanan maksimum direncanakan sebesar 75 m kolom air
b. Tekanan minimum direncanakan sebesar 10 m kolom air
6) Kecepatan pengaliran dalam pipa
a. Transmisi 0,6 4,0 m/detik
b. Distribusi 0,6 2,0 m/detik
7) Koefisien kekasaran pipa, untuk perhitungan hidrolis baik untuk pipa
transmisi maupun distribusi, koefisien kekasaran pipa (koefisien Hazen William)
digunakan nilai sebagai berikut:
a. Pipa PVC : 120 -140
b. Pipa Steel : 120
c. Pipa GIP : 110
8) Pipa distribusi, pengaliran pada konsumen dengan menggunakan jaringan
pipa yang direncanakan dapat mengalirkan air dengan jumlah sesuai kebutuhan
jam puncak dengan waktu pengaliran sepanjang 24 jam.

14
9) Tekanan dan kecepatan pengaliran di dalam pipa, tekanan statis maksimum
sebesar 75 mka atau tergantung pada spesifikasi komponen sistem. Kecepatan
pengaliran 0,3-3 m/detik.

Kriteria perencanaan didasarkan pada pedoman perencanaan sektor air bersih yang
dikeluarkan oleh Direktorat Air Bersih PU Cipta Karya.

2.6.2 Tahapan Perencanaan

Dalam pemenuhan kebutuhan prasarana air bersih, maka dilakukan tahapan-tahapan


perencanaan berdasarkan 5 (lima) komponen utama yang terdiri dari:
1. Tahap Perhitungan Kebutuhan Air

Kebutuhan air dihitung berdasarkan kebutuhan untuk rumah tangga (domestik), non
domestik dan juga termasuk perhitungan atas kebocoran air. Analisis kebutuhan air ini
disesuaikan dengan hasil perhitungan proyeksi penduduk, prosentase penduduk yang
dilayani dan besarnya pemakaian air.
2. Tahap Identifikasi Sumber Air Baku
Identifikasi air baku terutama dimaksudkan untuk mendapatkan informasi mengenai:

a. Jarak dan beda tinggi sumber air terhadap daerah pelayanan


b. Debit andalan sumber air
c. Kualitas air baku dan jenis alokasi sumber air baku pada saat ini

3. Tahap Pemeriksaan dan Penilaian Kualitas Air


Sistem pengolahan air yang dibangun harus dapat memproduksi air yang memenuhi
standar kualitas air bersih yang ditetapkan oleh Departemen Kesehatan RI.

4. Tahap Pemilihan Alternatif Sistem


Sistem penyediaan air bersih yang dirancang merupakan sistem terpilih yang diperoleh
berdasarkan hasil pemilihan terhadap beberapa alternatif pilihan sistem. Penentuan
pilihan didasarkan pada penilaian berdasarkan aspek:
a. Teknis
b. Ekonomis

15
c. Lingkungan
5. Tahap Perhitungan Kebocoran/Kehilangan Air
Kehilangan air merupakan banyaknya air yang hilang, hilang yang diperlukan bagi
penjagaan tujuan penyediaan air bersih, yaitu tercukupinya kualitas, kuantitas, dan
kontinuitasnya dan yang disebabkan aktivitas penggunaan dan pengolahan air.

Kehilangan ini ditentukan dengan mengalikan faktor tertentu (15-20%) dengan


angka total produksi air

Kehilangan air yang disebabkan kebocoran teknis dan non teknis diperkirakan
sebesar 20% dari kebutuhan total.

Kehilangan air dapat dibagi menjadi 3 kategori yaitu:

1. Kehilangan air rencana (unacounted for water)


2. Kehilangan air rencana memang dialokasikan khusus untuk kelancaran operasi dan
pemeliharaan fasilitas, faktor ketidaksempurnaan komponen fasilitas dan hal lain yang
direncanakan beban biaya.
3. Kehilangan air insidentil
Penggunaan air yang sifatnya insidentil, misalnya penggunaan air yang tidak
dialokasikan khusus, seperti pemadam kebakaran.
4. Kehilangan air secara administrati
Kehilangan air secara administratif adalah dapat disebabkan oleh:
Kesalahan pencatatan meteran
Kehilangan air akibat sambungan liar
Kehilangan akibat kebocoran dan pencurian illegal

16
2.6.3 Alokasi Prosentasi Pelayanan

Juknis Sistem Penyediaan Air Bersih Kimpraswil 1998

PERENCANAAN SISTEM PENYEDIAAN AIR BERSIH

Sistem Penyediaan Air Bersih terdiri dari:


1. Sistem Produksi meliputi Intake dan Instalasi Pengolahan Air
2. Sistem Distribusi meliputi Reservoir dan Pipa Induk
3. Sistem Pemanfaatan melalui Sambungan Rumah dan Hydrant Umum

Faktor-faktor yang mempengaruhi sistem distribusi adalah:


1. Pola tata guna lahan
2. Kepadatan penduduk
3. Kondisi topografi kota
4. Rancangan induk kota

17
2.6.4 Ruang Lingkup Pelayanan Air Bersih

Target pelayanan dapat merupakan potensi pasar atau mengacu pada


kebijaksanaan nasional. Asumsi-asumsi lain yang digunakan mengikuti
kecenderungan data yang ada di lapangan serta kriteria dan standar yang
dikeluarkan oleh lembaga yang berwenang, yaitu seperti:

1. Cakupan pelayanan
2. Jumlah pemakai untuk setiap jenis sambungan
3. Jenis sambungan
4. Tingkat kebutuhan konsumsi air
5. Perbandingan SR/HU
6. Kebutuhan Domestik dan Non Domestik
7. Angka kebocoran
8. Penanggulangan kebakaran

2.7 DEBIT ANDALAN


Debit andalan adalah debit yang tersedia sepanjang tahun dengan besarnya resiko
kegagalan tertentu. Menurut pengamatan dan pengalaman besarnya debit andalan
untuk berbagai keperluan adalah sbb :
Air minum 99% ~ 100%
Industri 95% ~ 98%
Irigasi, setengah lembab 70% ~ 85%
Irigasi , kering 80% ~ 95%
PLTA 85% ~ 90%
1. Metode Debit Rata-Rata Minimum
Kerakteristik Metode Debit Rata-rata minimun antara lain :
Dalam satu tahun hanya diambil satu data (data debit rata-rata harian dalam
satu tahun)
Fluktuasi debit maksimum dan debit minimum tidak terlalu besar dari tahun ke
tahun serta kebutuhan relatif konstan sepanjang tahun

18
Dengan Metode Gumbel diperoleh penyelelaian sbb :
Debit andalan 80% berarti peluang terjadinya 80% = 0.8, maka TR = 1/0,8 =1.2 sehingga
nilai Yt = -0,583
Persamaan nilai ekstrim Gumbel,
X = Xr + [(Yt-Yn)/Sn]Sd = 10.2+[(-0.583 - 0.4952)/0.9497]x0.48 = 9.610 m3/dt
Jadi Debit Andalan 80% adalah 9.610 m3/dt, Peluang Keandalan 80% berarti terjadi pada
probabilitas 20% yaitu antara debit 9.368 m3/dt dan 9.636 m3/dt

log X = log Xr + G x Sd = 1.006 +(-0.8175) x 0.0205


log X = 0.9893 ----> X = 9.756 jadi debit andalan 80% adalah 9.756 m3/dt Jadi Debit
Andalan 80% adalah 9.756 m3/dt, Peluang Keandalan 80% berarti terjadi pada
probabilitas 20% yaitu antara debit 9.636 m3/dt dan 9.993 m3/dt . Sebelum dilakukan
perhitungan harus dilakukan uji kesesuaian distribusi menggunakan Smirnov Kolmogorof
dan Uji Chi Square.

2. Metode Flow Characeristic

19
Metode flow characteristic berhubungan dengan basis tahun normal, tahun
kering dan tahun basah.Debit berbasis tahun normal adalah jika debit rata-rata
tahunnya kurang lebih sama dengan debit rata-rata keseluruhan tahun (Qrt = Qr)
Debit berbasis tahun kering adalah jika debit rata-rata tahunnya lebih kecil dari
debit rata-rata keseluruhan tahun (Qrt < Qr) Debit berbasis tahun basah adalah jika
bebit rata-rata tahunnya lebih besar dari debit rata-rata keseluruhan tahun (Qrt >
Qr)
Menurut Suyono Sosrodarsono (1990), keandalan berdasarkan kondisi debit
dibedakan menjadi 4 yaitu:
1) Debit air musim kering yaitu debit yang dilampaui oleh debit-debit sebanyak
355 hari dalam 1 tahun, keandalan : (355/365) x 100% = 97,3%
2) Debit air rendah yaitu debit yang dilampaui oleh debit-debit sebanyak 275 hari
dalam 1 tahun, keandalan : (275/365) x 100% = 75,3%
3) Debit air normal yaitu debit yang dilampaui oleh debit-debit sebanyak 185 hari
dalam 1 tahun, keandalan : (185/365) x 100% = 50,7%
4) Debit air cukup yaitu debit yang dilampaui oleh debit-debit sebanyak 95 hari
dalam 1 tahun, keandalan : (95/365) x 100% = 26,0%

Besarnya debit dapat ditentukan berdasarkan metode Gumbel, metode Log Pearson
III dll.

3. Metode Tahun Dasar Perencanaan


Analisa debit andalan dengan menggunakan metode tahun dasar perencanaan
biasanya digunakan dalam perencanaan atau pengelolaan irigasi. Pada umumnya
dibidang irigasi dipakai debit dengan keandalan 80%, sehingga rumus untuk
menentukan tahun dasar perencanaan sbb:
Q80 = (n/5) +1
dengan,
n = jumlah data
Q80 = debit yang terjadi < Q80 adalah 20%
angka 5 berasal dari (100%/(100-80)% = 5

Langkah menentukan debit andalan berdasarkan metode tahun dasar perencanaan


sbb :

1. Urutkan data data debit dari kecil ke besar

2. Hitung Q 80 atau sesuai debit andalan yang direncanakan

20
3. Debit andalana adalah hasil perhitungan langkah 2 tersebut (urutan
data)

Contoh :
Data DAS sebagaimana diatas jika diselesaikan dengan metode ini adalah :

Q
m Tahun Debit andalan (Q80)
Rerata
1 2001 9.368
2 2006 9.636
3 2007 9.661 Q80 = (10/5) + 1
4 2002 9.993 = 3 (data ke 3)
5 2009 10.147 = 9.661 (th. 2007)
6 2004 10.280
7 2008 10.423
8 2005 10.584
9 2010 10.656
10 2003 10.753

4. Metode Bulan Dasar Perencanaan


Analisa debit andalan menggunakan metode bulan dasar perencanaan hampir
sama dengan metode flow characteristic, yang dianalisa untuk bulan-bulan tertentu.
Metode ini paling sering dipakai karena keandalan debit dihitung mulai bulan
Januari sampai dengan bulan Desember, jadi lebih menggambarkan keandalan pada
musim kemarau dan musim penghujan.
Diperlukan uji kesesuaian distribusi lihat pembahasan sebelumnya.
2.8 Distribusi Air Bersih
1. Data Perencanaan Distribusi
Secara garis besar data-data perencanaan yang dibutuhkan untuk perencanaan
distribusi air bersih meliputi :
1) Peta dengan kontur, lokasi jalan, tanah, kapling saat ini dan yang akan datang
2) Lokasi reservoir

21
3) Kebutuhan air
4) Ukuran pipa (tertentu yang tersedia di pasaran)
5) Lay out
6) Debit dan tekanan
7) Penyesuaian ukuran pipa
8) Menghitung ulang tekanan
9) Komponen-komponen distribusi
10) Gambar desain akhir
Sedangkan untuk Perencanaan system loop diperlukan data-data sebagai berikut :
1) Wilayah pelayanan : peta, jln, kontur dan kebutuhan airnya
2) Jalur pipa utama (mengikuti jalan raya dan tidak banyak asesoris)
3) Loop
4) No Node dan ketinggian
5) Arah aliran dan titik tapping ( penyadapan)
6) No pipa dan panjang pipa
7) Asumsi diameter pipa
8) Kecepatan dan head loss
9) Ketinggian reservoir

2. Parameter Desain Distribusi Air Bersih.


Parameter desain yang digunakan perencanaan distribusi air didasarkan pada
Kehilangan tekanan (head loss) : mayor losses dan minor losses, kecepatan aliran, sisa
tinggi tekanan dan ketinggian reservoir
1) Kehilangan tekanan (head loss) : mayor losses dan minor losses.
Kehilangan tekanan dalam pipa terjadi akibat adanya friction antara fluida dengan
fluida dan antara fluida dengan permukaan dalam pipa yang dilalui fluida. Kehilangan
tekanan maksimum 10 m/1000 m kolom air, head loss terdiri :
a) Mayor losses merupakan kehilangan tekanan yang terjadi di sepanjang pipa
lurus
b) Minor losses merupakan kehilangan tekanan yang terjadi di tempat yang
memungkinkan adanya perubahan karakteristik aliran misalnya valve, belokan,
sambungan dan asesoris lainnya.
2) Kecepatan aliran
Nilai yang diijinkan V = 0,3 3 atau 6 m/det (tergantung jenis pipa).

22
Apabila V < 0,3 m/det maka akan timbul endapan dan dalam perencanaan bila
kecepatan rendah maka diameter pipa akan besar sehingga biaya akan boros.
Apabila V > 3 atau 6 m/det maka pipa akan aus dan menyebabkan kecil
headlossnya
Kecepatan untuk program (Epanet atau Waternet) akan terjadi trial error dimana bila
terjadi :
Kecepatan <0,3 m/det maka solusi yang bisa dipakai antara lain diameter pipa
asumsi harus diperkecil.
Kecepatan >3 m/det maka solusi yang bisa dipakai antara lain diameter pipa
asumsi harus diperbesar.
3) Sisa tinggi tekanan
Sisa tinggi tekanan minimal pada setiap titik dalam jaringan distribusi 10 m. Apabila
kurang dari 10 m maka aliran tidak akan lancar. Cara untuk mengatasi apabila sisa
tinggi tekanan < 10 m :
Menaikkan elevated reservoir
Pemasangan pompa
Mengatur kecepatan aliran air dan headloss total
Dalam program dapat dicek dengan perhitungan : Tinggi (HGL) Elevasi node
(elevation)= Tinggi tekan (head pressure)
4) Ketinggian reservoir
Terdapat dua Jenis reservoir yang dapat digunakan untuk menampung air bersih yaitu:
a) Reservoir bawah (Ground reservoir) yaitu bangunan penampung air bersih di
bawah permukaan tanah.
b) Reservoir atas (Elevatad reservoir) adalah bangunan penampung air yang
terletak di atas permukaan tanah dengan ketinggian tertentu sehingga tekanan
air pada titik terjauh masih tercapai.
Tipe pengaliran sistem distribusi air bersih meliputi aliran gravitasi dan aliran
secara pemompaan. Tipe pengaliran secara gravitasi diterapkan bila tekanan air
pada titik terjauh yang diterima konsumen masih mencukupi. Jika kondisi ini tidak
terpenuhi maka pengaliran harus menggunakan sistem pemompaan.

23
Konsumen Konsumen

Reservoir
Sistem Gravitasi Reservoir Sistem Pompa
Pipa distribusi merupakan pipa yang berfungsi mengalirkan air dari reservoir ke
konsumen, yang terdiri dari :
1) Pipa induk distribusi : pipa utama untuk mendistribusikan air bersih dari reservoir
distribusi ke daerah pelayanan melalui titik-titik penyadapan (tapping) sambungan
sekunder.
2) Pipa primer : pipa distribusi air utama pada daerah tertentu sampai ke pipa
sekunder.
3) Pipa sekunder : pipa distribusi yang dipergunakan untuk membagi air dari suatu
wilayah pipa primer sampai ke pipa tersier.
4) Pipa tersier : pipa distribusi yang langsung ke rumah-rumah konsumen

2.9 Sistem Jaringan Pipa


1. Kehilangan Tinggi Tekan
Kehilangan tinggi tekan mayor yaitu kehilangan pada saat air mengalir karena
panjang pipa dapat dihitung dengan rumus Hazen-William, Darcy-Weisbach atau
Chezy-Manning
Kehilangan tinggi tekan minor yang diakibatkan sambungan persimpangan
dengan mengitung koefisien kehilangan tinggi tekan minor pada pipa
Penggunaan Rumus
Rumus Hazen-William sering digunakan di US, hanya digunakan untuk
jenis cairan air biasa dan untuk jenis aliran turbulen.
Rumus Darcy-Weisbach secara teori adalah yang paling benar yang dapat
digunakan untuk semua sitem aliran dan semua jenis aliran
Rumus Chezy-Manning biasanya digunakan untuk saluran terbuka

Masing-masing rumus menggunakan koefisien kekasaran pipa yang


berbeda yang ditentukan secara empiris, yang tergantung pada material dan
usia pipa
Koefisien Kekasaran Pipa

FORMULA RESISTANCE FLOW EXPONENT

24
COEFFICIENT

Hazen-William 4.727 C -1.582 d -4.871 L 1.852

Darcy-Weisbach 0.0252 f(e,d,q) d -5 L 2

Chezy-Manning 4.66 n2d -5.33 L 2

Notes :
C = Hazen-William Rougness Coefficient
e = Darcy-Weisbach Rougness Coefficient (ft)
f = Friction factor (tegantung e,d dan q)
n = Manning Rougness Coefficient
d = pipe diameter (ft)
L = pipe length (ft)
q = flow rate (cfs)

Diagram Hazen Wiliam

25
Gambar Diagram Hazen Wiliam
Pipa Hubungan Seri
Apabila suatu saluran pipa terdiri dari pipa-pipa dengan ukuran yang berbeda, pipa
tersebut adalah dalam hubungan seri.

26
Panjang, diameter, dan koefisien gesekan masing-masing pipa adalah L1, L2, L3; D1, D2,
D3; dan f1, f2, f3.

Dengan menggunakan persamaan Bernaulli untuk titik 1 dan 2 (pada garis aliran adalah

Pada kedua titik tinggi tekanan adalah H1 dan H2 dan kecepatan V1=V2=0 (tampang
aliran sangat besar) sehingga persamaan diatas menjadi :

Dengan menggunakan persamaan Darcy-Weisbach diperoleh :

Kecepatan aliran untuk masing-masing pipa adalah :

Dengan mensubtitusikan pada persamaan V1, V2 dan V3 didapat :

Debit aliran adalah

Kehilangan Tenaga Pipa Ekivalen


Kehilangan tenaga dalam pipa ekivalen :
Dimana,
H = Kehilangan Tenaga (m)

27
Q =Debit (m3/dt)

g = gravitasi, 9,81 m/dt2


fe = Koefisien ekivalen
Le= Panjang ekivalen (m)
De= Diameter ekivalen (m)
f 1,2,3 = koef kekasan pipa 1, 2, 3
L 1, 2, 3 = panjang pipa 1, 2, 3 (m)
D 1, 2, 3 = panjang pipa 1,2,3 (m)

Pipa Hubungan Paralel


Pada pipa yang dihubungkan secara paralel, persamaan kontinuitas berlaku :

Persamaan Energi Pipa Paralel :

2.1 Perhitungan Jaringan Pipa


1. Konsep Dasar Loop
Dari beberapa metode yang telah dikembangkan untuk analisis jaringan pipa,
diantaranya adalah metode keseimbangan head, yang merupakan metode yang
paling awal digunakan untuk analisis jaringan pipa.
Metode keseimbangan head dipakai untuk sistem pipa yang membentuk loop
tertutup.

2. Prosedur Perhitungan Metode Hardy Cross


Pilih pembagian debit melalui tiap-tiap pipa Q0 hingga terpenuhi syarat
kontinuitas.
Hitung kehilangan tenaga pada tiap pipa dengan rumus hf = k Q2.
Jaringan pipa dibagi menjadi sejumlah jaring tertutup sedemikian sehingga tiap
pipa termasuk dalam paling sedikit satu jaring.
Hitung jumlah kerugian tinggi tenaga sekeliling tiap-tiap jaring, yaitu hf =0.
Hitung nilai 2kQuntuk tiap jaring.

28
Pada tiap jarring diadakan koreksi debit Q supaya kehilangan tinggi tenaga dalam
jaring seimbang. Adapun koreksinya adalah :

Dengan debit yang telah dikoreksi sebesar Q = Qo + Q, prosedur dari no.1 sampai
no.6 diulangi hingga akhir Q = 0, dengan Q adalah debit sebenarnya, Qo adalah
debit dimisalkan, dan Q adalah debit koreksi.
Penurunan Rumus Q

BAB III

PENGOLAHAN DATA

3.1 Proyeksi Jumlah Penduduk

TAHUN JUMLAH PENDUDUK


2003 (ORANG)
3011
2004 3372

29
2005 3777
2006 4230
2007 4611
2008 4768
2009 5149
2010 5561
2011 6395
2012 7355
2013 8458
2014 9726
XTAHUN JUMLAH PENDUDUK R
2003 (ORANG)
3011
2004 3372 0.120
2005 3777 0.120
2006 4230 0.120
2007 4611 0.090
2008 4768 0.034
2009 5149 0.080
2010 5561 0.080
2011 6395 0.150
2012 7355 0.150
2013 8458 0.150
2014 9726 0.150
R RATA-RATA 0.113

PERHITUNGAN RATA - RATA JUMLAH PENDUDUK

TAHUN JUMLAH R
2003 PENDUDUK
3011
2004 3372 0,120
2005 3777 0,120
2006 4230 0,120
2007 4611 0,090
2008 4768 0,034
2009 5149 0,080
2010 5561 0,080
2011 6395 0,150
2012 7355 0,150
2013 8458 0,150
2014 9726 0,150
R RATA-RATA 0,113

30
(Tahun2004Tahun 2003 )
R 1=
Tahun 2003

(33723011 )
R 1=
3011

R 1=0,120

PERHITUNAGAN PROYEKSI JUMLAH PENDUDUK

A.METODE ARITMATIK

Pt=Po(1+.)
N Tahun (X-Xr)
1 2015 10825,881 24497209,148
2 2016 11925,762 14819299,361
3 2017 13025,644 7560867,021
4 2018 14125,525 2721912,128
5 2019 15225,406 302434,681
6 2020 16325,287 302434,681
7 2021 17425,169 2721912,128
8 2022 18525,050 7560867,021
9 2023 19624,931 14819299,361
10 2024 20724,812 24497209,148

31
X RATA - RATA = 15775,347 TOTAL 99803444,677

3330,0558
Sd

keteranagan

Po = Jumlah penduduk awal

r ...= rata - rata pertumbuhan penduduk

n...= Jumlah tahun perencanaan

Pt..= Jumlah penduduk pada tahun perencanaan

Pt = 9726*(1 + 0,113*10)

= 10825,881

Standard Deviasi
=
( Xixr )2
n1

B.METODE GEOMETRIK

(= (1+))
N Tahun (X-Xr)

1 2015 10825,881 56979157,330

2 2016 12050,144 39995389,283

32
3 2017 13412,855 24616281,326

4 2018 14929,671 11865711,512

5 2019 16618,018 3084649,418

6 2020 18497,295 15119,116

7 2021 20589,093 4905152,294

8 2022 22917,446 20639852,125

9 2023 25509,104 50904923,942

10 2024 28393,844 100390560,818

X RATA - RATA = 18374,335 TOTAL 313396797,162

5901,01
Sd

Keteranagan

Po = Jumlah penduduk awal

r ...= rata - rata pertumbuhan penduduk

n...= Jumlah tahun perencanaan

Pt..= Jumlah penduduk pada tahun perencanaan

33
e ..= 2.718282

Standard Deviasi
=
( Xixr )2
n1

C.METODE EKSPONENSIAL

N Tahun (X-Xr)
(= )

1 2015 10890,484 67173026,327

2 2016 12194,391 47499777,617

3 2017 13654,414 29506469,340

4 2018 15289,243 14418395,442

5 2019 17119,809 3867476,885

6 2020 19169,547 6913,552

7 2021 21464,698 5656305,245

34
8 2022 24034,646 24485138,789

9 2023 26912,290 61244562,133

10 2024 30134,472 122059906,196

X RATA - RATA = 19086,400 TOTAL 375917971,525

6462,87
Sd

Keteranagan :

Po = Jumlah penduduk awal

r ...= rata - rata pertumbuhan penduduk

n...= Jumlah tahun perencanaan

Pt..= Jumlah penduduk pada tahun perencanaan

e ..= 2.718282

Standard Deviasi
=
( Xixr )2
n1

35
3.2 Perhitungan Kebutuhan Air

Dalam perhitungan kebutuhan air . data yang diambil untuk jumlah


penduduk diambil dari perhitungan methode aritmatik. Karena perhitungan
standar davisiasinya paling kecil.

Kebutuhan Domistik (QD)

jumlah penduduk tahun 2024 = 20724,81 Orang

Kategori ukuran KOTA KECAMATAN dengan kebutuhan air


= 90 lt/orang/hari

QD = Jumlah penduduk tahun 2024 x kebutuhan air

=20724,81 Org x 90 lt/orang/hari

=1865233 lt/hari

=21,58835 lt/detik

Kebutuhan Non Domistik (Qnd)


Kebutuhan non domistik 15% s/d 30% dari Q domistik

Qnd =30% x QD

=6,4765 lt/detik

Kebutuhan karena kehilangan air


pada sistem Baru 20% dari kebutuhan rata rata

kebutuhan rata rata = kebutuhan domistik + kebutuhan non domistik

= 21,58835 + 6,476504

= 28,06485 lt/detik

kebutuhan karena kehilangan air

=20% x 28,06485 lt/detik

=5,61297 lt/detik

36
Kebutuhan hidran
Kebutuhan hidran = 30 lt/detik
Kebutuhan hidran = 30 x jumlah penduduk 2024

= 621744,4 lt/hari

= 7,196115 lt/dtk

jadi Qtotal = kebutuhan QD +Kebutuhan Qnd + Kebutuhan kehilangan


air + Kebutuhan hidran

= 21,58835+ 6,476504+ 5,61297+ 7,196115

= 40,87394 lt/dtk

= 3531508 lt/hr

= 3531,508 m3/hr

37
3.3 Perhitungan Elevasi

Elevasi Titik Beda Tinggi Panjang Panjang asli Kemiringan


Saluran
Awal Akhir (m) (autocad) (m) (%)
A-1 36,32 36,576 -0,256 47367,3362 47,3673362 -0,54%
1-2 36,576 36,574 0,002 99839,1519 99,8391519 0,00%
2-3 36,574 35,276 1,298 104013,2067 104,0132067 1,25%
3-4 36,428 37,824 -1,396 144162,6725 144,1626725 -0,97%
3-5 36,428 35,763 0,664 228300,369 228,300369 0,29%
2-6 36,574 35,276 1,298 147120,2859 147,1202859 0,88%
6-7 35,276 35,349 -0,073 46000,6379 46,0006379 -0,16%
7-8 35,349 34,830 0,519 284833,4036 284,8334036 0,18%
8-9 34,830 30,244 4,585 435140,2744 435,1402744 1,05%
7-13 35,349 31,400 3,949 431878,616 431,878616 0,91%
13-9 31,400 30,244 1,156 288956,9821 288,9569821 0,40%
9-10 30,244 28,043 2,202 246269,6137 246,2696137 0,89%
10-11 28,043 26,219 1,824 141075,008 141,075008 1,29%
10-12 28,043 27,518 0,525 77876,474 77,876474 0,67%

jarak kontur ke node


Elevasi Node 1 : ( Elevasi Terendah) + x interval kontur
jarak kontur ke kontur

129,0159
= (36,00) + x2
117,4600

= 36,576 m

jarak kontur ke node


Elevasi Node 2 : ( Elevasi Terendah) + x interval kontur
jarak kontur ke kontur

117,4600
= (36,00) + x2
409,2957

= 36,547m

Elevasi awalElevasi akhir


Kemiringan tanah asli saluran 1-2 :
panjang( m)

36,57636,574
= 99,839

= 0,000018 m

38
= 0,002 %

3.4 Perhitungan Luas Area Distribusi Pipa & Debit Tiap Pipa

Keterangan Luas Prosentase Q Pipa


saluran(Pipa) Area Debit (%) (m3/hari) (L/detik) M3/dt

A-1 14603,7836 2% 79,52 0,92 0,00092032

1-2 19815,8989 3% 107,89 1,25 0,00124878

2-3 21268,3614 3% 115,80 1,34 0,00134031

3-4 29681,6659 5% 161,61 1,87 0,00187051

3-5 56464,4832 9% 307,44 3,56 0,00355833

2-6 13199,9223 2% 71,87 0,83 0,00083185

6-7 5564,9762 1% 30,30 0,35 0,00035070

7-8 37820,3634 6% 205,93 2,38 0,00238340

8-9 20% 709,39 8,21 0,00821059


130287,5831

39
7-13 91050,0035 14% 495,75 5,74 0,00573788

13-9 75425,803 12% 410,68 4,75 0,00475325

9-10 65527,9444 10% 356,79 4,13 0,00412950

10-11 40859,278 6% 222,47 2,57 0,00257491

10-12 47027,4615 7% 256,06 2,96 0,00296362

TOTAL 648597,5284 100% 3531,51 40,87 0,04087394

Luas Area( A1)


Luas Area Distribusi Pipa Saluran A-1 (%) : x 100
Total Luas Area

14603,78
= 648597,53
x 100

= 2%

Debit (Q) aliran A-1 : Q total x Luas Area Distribusi A-1 (%)

= 40,87 x 2%

= 0,92 l/dt

= 0,0092 m3/dt

3.5 Perhitungan Debit Metode Gumbel

Langkah perhitungan

40
1. Kumpulkan data minimal 10 th terakhir yang telah melalui proses
penyiapan dan juga telah diurutkan dari data kecil ke besar

DATA DEBIT RATA-RATA

No Tahun Qrerata

45
1 2003

50
2 2009

56
3 2004

63
4 2010

69
5 2011

74
6 2005

74
7 2013

80
8 2006

82
9 2012

78
10 2007

77
11 2008

89
12 2014

41
2. Hitung peluang dan kala ulang masing masing data

cara gumbel
no tahun debit x-xr (x-xr)2 (x-xr)3 (x-xr)4
1 2003 45 -24.750 612.563 -15160.922 375232.816
2 2004 50 -19.750 390.063 -7703.734 152148.754
3 2005 56 -13.750 189.063 -2599.609 35744.629
4 2006 63 -6.750 45.563 -307.547 2075.941
5 2007 69 -0.750 0.563 -0.422 0.316
6 2008 74 4.250 18.063 76.766 326.254
7 2009 74 4.250 18.063 76.766 326.254
8 2010 80 10.250 105.063 1076.891 11038.129
9 2011 82 12.250 150.063 1838.266 22518.754
10 2012 78 8.250 68.063 561.516 4632.504
11 2013 77 7.250 52.563 381.078 2762.816
12 2014 89 19.250 370.563 7133.328 137316.566
jml 1649.688 -21760.953 606807.168

42
Xr 69.750
Sd 12.24629
Cs 0.86886
Ck 3.92428
Yn
Sn
TR
0.5035
0.9833
1.111111
tabel
tabel
Sd =
( xixr ) 2
(n1)
=
1649,688
(121)
1 2,246

Yt
ln TR= 2.302585 Cs = (n x (x-xrata-rata)3) : ((n-1) x
Yt= -0.83403
(n-2) x Sd3)
d ranc
Yt-Yn= -1.33753
(Yt-Yn)/Sn = -1.36025 = (12 x (21760,953)) : ((12-1)
x dranc= 53.092 (12-2) x 12,2463)

= 0,8689

Ck = (n2 x (x-xrata-rata)4) : ((n-1) x (n-2) x (n-3) x Sd4)

= (122 x 606807,17) : ((12-1) x (12-2) x (12-3) x 12,2464)

= 3,924

Yn = 0,5035 (Tabel) KETERANGAN

P =peluang
Sn = 0,9833 (Tabel)
TR = kala ulang
TR = 1 : 0,9 = 1,111
M =data urut ke...

Yt = (-LN(-LN((TR-1)/TR))) n =jumlah seluruh data

= (-LN(-LN((1,111-1)/1,111)))

= -0,834

43
Debit andalan 90%

X = Xr + [(Yt-Yn)/Sn] Sd

X = 69,75 + [(-0.834-0.5035)/0.9833] 12,246 = 53,09 lt/detik

Jadi debit andalan 90% adalah adalah 53,09 lt/detik

Peluang keadaan 90% berarti terjadi pada probabilitas 10% yaitu antara debit 53
lt/detik dan 54 lt/detik.

3.6 Perhitungan debit Rancangan Metode Log Pearson Tipe III

Langkah langkah perhitungan


Urutkan data debit (d) dari terkecil ke terbesar

DATA DATA DEBIT RATA-RATA diurutkan

44
No Tahun Qrerata

45
1 2003

50
2 2009

56
3 2004

63
4 2010

69
5 2011

74
6 2005

74
7 2013

77
8 2006

78
9 2012

80
10 2007

82
11 2008

89
12 2014

45
Ubah data hujan (d) menjadi log
Hitung rata rata lod d (log x)
Hitung standar davisiasi lod d(s)
Hitung koefisiesien ke pencengn /skewness log d (cs)
Buat persamaan log d ( lod d rancangan = log d + G.s)
Berapa kala ulang yang dikehendaki (TR)
Cari nila G dari tabel berdasarkan cs dan TR
Hitung nilai log d dan d rancangan untuk TR yang dikehendaki

Tabel perhitungan Perhitungan debit RancanganMetode Log


Pearson Tipe III RancanganMetode Log Pearson Tipe III

Q Rerata Q P-empiris Log x - log Log x - logx


n Log x Log x - log x^2
(Belum
1 45 Rerata
45 (%)
7.69 1.653 x
-0.182 0.0331 ^3
-0.0060
2 50 50 15.38 1.699 -0.136 0.0185 -0.0025
3 56 56 23.08 1.748 -0.087 0.0076 -0.0007
4 63 63 30.77 1.799 -0.036 0.0013 0.0000
5 69 69 38.46 1.839 0.004 0.0000 0.0000
6 74 74 46.15 1.869 0.034 0.0012 0.0000
7 74 74 53.85 1.869 0.034 0.0012 0.0000
8 80 77 61.54 1.886 0.051 0.0026 0.0001
9 82 78 69.23 1.892 0.057 0.0032 0.0002
10 78 80 76.92 1.903 0.068 0.0046 0.0003
11 77 82 84.62 1.914 0.079 0.0062 0.0005
12 89 89 92.31 1.949 0.114 0.0130 0.0015
x rata" 69.75 50.00 1.835 Jumlah 0.0926 -0.0066
S 0.0917
Cs -0.928

46
Persamaan

log X rancangan =log x+G.s


kala ulang (TR)= 10 tahun
DARI TABEL

Log Qr = 1,835
Sd = 0,0917
Cs = -0,928
G = -1,339

XLog
Rancangan
X = log Qr + G x Sd

Log X = 1,835 + (-1,339) x 0.928

log X= 1,712305058

X= 63,973

Jadi debit andalan 90% adalah 63,973 ltr/dt

3.7 Perhitungan debit Metode Tahun Dasar Perencanaan

47
m Tahun Q Rerata(Urut)
1 2003 45
2 2004 50
3 2005 56
4 2006 63
5 2007 69 Q90=(12/10)+1
6 2008 74 Q90=2.2
7 2009 74 = DATA KE TIGA
8 2013 77 56.00 l/detik
9 2012 78
10 2010 80
11 2011 82
12 2014 89

KETERANGAN

DATA diurutkan mulai dari yang


terkecil ke terbesar

3.8 Perhitungan Q Kumulatif Tiap Pipa

Keterangan Debit PIPA(m3/detik) Debit Sebelumnya Debit Total


saluran(Pipa)
A-1 PIPA
0.00092 0.03995 0.04087
1-2 0.00125 0.03870 0.03995
2-3 0.00134 0.00543 0.00677
3-4 0.00187 0.00000 0.00187
3-5 0.00356 0.00000 0.00356
2-6 0.00083 0.03110 0.03194
6-7 0.00035 0.03075 0.03110
7-8 0.00238 0.01304 0.01543
8-9 0.00821 0.00483 0.01304
7-13 0.00574 0.00959 0.01533
13-9 0.00475 0.00483 0.00959
9-10 0.00413 0.00554 0.00967
10-11 0.00257 0.00000 0.00257
10-12 0.00296 0.00000 0.00296
0.04087

Gambar

48
Contoh perhitungan debit kumulatif pipa 2-6

Debit total = (debit pipa sebelumnya + debit pada pipa 2-6)

= 0,00083 + 0,03110

= 0,03194 m

Q rencana pada setiap pipa loop

Q 13-9 = ((Q sebelumnya pada pipa 9-10) / 2) + Q pada pipa 13-9)

= (0,00967 / 2) + 0,00475

= 0,00959 m/dt

Q 7-13 = ( Q pipa sebelumnya 13-9 + Q pada pipa 7-13)

= 0,00959 + 0,00574

= 0,001533 m/dt

Q 8-9 = ((Q sebelumnya pada pipa 9-10) / 2) + Q pada pipa 8-9)

49
= (0,00967 / 2) 0,00821

= 0,01304 m/dt

Q 7-8 = ( Q pipa sebelumnya 8-9 + Q pada pipa 7-8)

= 0,01304 0,00238

= 0,01543 m/dt

3.9 Perhitungan Kecepatan dan Dimensi tiap Saluran Pipa

Keterangan Kemiringan Panjang Debit Dimensi Kecepata Kontrol pipa


saluran(Pipa
A-1 (%)
-0.540% asli (m)
47.37 (m3/detik
0.04087 (Diameter,
0.3 n
0.58 Kecepata
BENAR (inchi)
12
1-2 0.002% 99.84 0.03995 0.3 0.57 BENAR 12
2-3 1.247% 104.01 0.00677 0.15 0.38 BENAR 6
3-4 -0.968% 144.16 0.00187 0.08 0.37 BENAR 3
3-5 0.291% 228.30 0.00356 0.1 0.45 BENAR 4
2-6 0.882% 147.12 0.03194 0.3 0.45 BENAR 12
6-7 -0.158% 46.00 0.03110 0.3 0.44 BENAR 12
7-8 0.182% 284.83 0.01543 0.25 0.31 BENAR 10
8-9 1.054% 435.14 0.01304 0.2 0.42 BENAR 8
7-13 0.914% 431.88 0.01533 0.25 0.31 BENAR 10
13-9 0.400% 288.96 0.00959 0.2 0.31 BENAR 8
9-10 0.894% 246.27 0.00967 0.15 0.55 BENAR 6
10-11 1.293% 141.08 0.00257 0.1 0.33 BENAR 4
10-12 0.674% 77.88 0.00296 0.1 0.38 BENAR 4

Contoh perhitungan kecepatan saluran pipa A-1

V = Q kumulatif / dimensi pipa

= (Q kumulatif saluran pipa A-1) / (1/4..D)

50
= (0,04087) / (1/4.3,14.0,3^2)

= 0,58 m/dt

Kecepatan yang disyaratkan adalah antara 0,3 m/dt 0,6 m/dt

Perhitungan dimensi dilakukan dengan coba-coba dan memeperhatikan syarat dari


kecepatan

Contoh : pada saluran pipa A-1 mencoba dimensi sebesar 0,3 m didapat kecepatan sebesar
0,58 m/dt maka dimensi tersebut sesuai karena kecepatan yang dihasilkan masuk pada
syarat yang ditentukan.

3.10 Perhitungan Kehilangan Mayor

PIPA
Kehilangan Mayor PVC
diamete Panjang
Keterangan
r Luas debit Pipa k hf
saluran(Pipa)
CH m m" m3/Detik m
##
A-P1
150 0.3 0.07065 0.04087 47.37 16.68 0.045 #
##
P1-P2
150 0.3 0.07065 0.03995 99.84 35.15 0.09 #
0.017662 ##
P2-P3
150 0.15 5 0.00677 104.01 1071.26 0.10 #
31715.9 ##
P3-P4
150 0.08 0.005024 0.00187 144.16 1 0.28 #
16941.1 ##
P3-P5
150 0.1 0.00785 0.00356 228.30 7 0.50 #
##
P2-P6
150 0.3 0.07065 0.03194 147.12 51.80 0.09 #
##
P6-P7
150 0.3 0.07065 0.03110 46.00 16.20 0.03 #
0.049062 ##
P7-P8
150 0.25 5 0.01543 284.83 243.73 0.11 #
##
P8-P9
150 0.2 0.0314 0.01304 435.14 1103.92 0.36 #
0.049062 ##
P7-P13
150 0.25 5 0.01533 431.88 369.56 0.16 #
##
P13-P9
150 0.2 0.0314 0.00959 288.96 733.06 0.14 #
0.017662 ##
P9-P10
150 0.15 5 0.00967 246.27 2536.40 0.48 #
10468.5 ##
P10-P11
150 0.1 0.00785 0.00257 141.08 6 0.17 #
##
P10-P12
150 0.1 0.00785 0.00296 77.88 5778.87 0.12 #

51
TOTAL 2.67 m

Kehilangan Tekanan (Head Loss)

Secara umum didalam suatu instalasi jaringan pipa dikenal dua macam kehilangan energi,
yaitu:
a). Kehilangan Tinggi Tekan Mayor (Major Losses)
Ada beberapa teori dan formula unruk menghitung besarnya kehilangan tinggi tekan mayor
ini, akan tetapi yang sering digunakan adalah persamaan Hazzen Williams, sebagai berikut:

Q = 2.2785 x Chw x D2.63 x S 0.54

S = Hf / L

Persamaan kehilangan tekanan diatas dapat ditulis sebagai berikut:

Menggunakan Pipa PVC dengan CH 140

Contoh Perhitungan Koefisien Hazen Williams pada Saluran Pipa A-1

L0,54 1
( )
K= A x 0,354 x CH x D0,63
0,54
0,54 1
47,57
= ( 0,63
) 0,54
0,07065 x 0,354 x 150 x 0,3

= 16,68

52
Contoh Perhitungan Hf Pada Saluran Pipa A-1

Hf = K . Q1,85

= 16,68 x 0,040871,85

= 0,045 m

3.11 Perhitungan Loop

53
.

Contoh Perhitungan :

Saluran Pipa P9 P10

Menghitung Q1 = 15,428lt/dt

= 15,428 x 60 x 0,26

= 240,677 Gal/mnt

Mengeplotkan debit yang telah dikonversi menjadi gal/mnt, dan menghubungkan dengan
diameter pipa yang telah diketahui, pada pipa 9-10 adalah adalah 8 inch. Dengan
menghubungkan kedua titik dan meneruskan garis tersebut, maka akan diketahui nilai head
loss pipa tersebut.

54
H = Hf/L/1000

= 0,034 / 934,253 / 1000

H = (7 - 8) + (8 - 9)

= 0,03176 + 0,1076

= 0,13453 ft

HQ = H/Q1

= 0,03176/15,428

= 0,00206

HQ= (HQ 7-8) + (HQ 8-9) Q = (Total H Kanan Total H Kiri) / (1,85 *

= 0,00206 + 0,00788 (Total HQ Kanan + Total HQ Kiri)

= 0,00994 = - 0,0176

Perhitungan nya diteruskan melalui beberapa kali percobaan hingga Q bernilai minimal
0,0... di belakang koma.

3.12 Menghitung Tinggi Tandon


Keterangan
saluran(Pipa)
A-1 0.045

1-2 0.09

2-3 0.10

3-4 0.28

3-5
0.50

55
2-6 0.09

6-7 0.03

7-8 0.11

8-9 0.36

7-13 0.16

13-9 0.14

9-10 0.12

10-11 0.17

10-12 0.12

TOTAL 2,31

Tinggi Reservoir = Jumlah hf + 10

= 2,31 + 10

= 12,31 meter

56
BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Setelah dilakukan perhitungan untuk mengetahui elevasi reservoir yang


diperlukan dalam perencanaan saluran air bersih , didapatkan hasil bahwa tinggi elevasi
reservoir merupakan hasil akumulasi kehilangan mayor dengan elevasi tiap saluran
yang akan dialiri air bersih.

Kemudian dari percobaan perhitungan perencaan air bersih dapat disimpulkan


secara umum bahwa :
1. Debit aliran air dipengaruhi oleh jumlah proyeksi penduduk dalam umur rencana
yang ada dalam lingkup desa rencana.
2. Dalam perhitungan kehilangan, dapat diketahui bahwa kehilangan minor adalah
akibat belokan dan sebagian akibat penyempitan.
3. Untuk kehilangan mayor dapat diketahui apabila data faktor gesekan pipa,
diameter pipa, dan kecepatan airan telah didapat.
4. Dalam tinggi tekan pompa dipengaruhi oleh kecepatan, beda tinggi, dan debit
yang mengalir di masing-masing pipa.

5. Metode yang digunakan untuk menganalisa jumlah penduduk 10 tahun yang akan
datang adalah metode aritmatika karean nilai Standar deviasi Metode aritmatika
menunjukkan nilai yang paling kecil dibandingkan dengan dua metode yang lain
yaitu metode Exponential dan metode Geometri. Sehingga didapat jumlah
penduduk pada tahun 2024 sebanyak 20.724,812 jiwa.

57
6. Kebutuhan air total pada tahun 2024 adalah sebesar 40,87394 lt/detik.

7. Sumber air terletak pada elevasi tertinggi yaitu pada titik 36,32m.

8. Debit andalan yang tersedia lebih besar dari debit total sehingga dari sumber
tersebut debit air sudah mampu untuk mencukupi kebutuhan air total.

9. Dimensi pipa terbesar yaitu 30 cm dan yang terkecil sebesar 10 cm.


10. Kehilangan tinggi tekan mayor hf0 pada jaringan utama pipa sebesar 12,31
meter

4.2 Saran

Sebelum dilakukannya perncanaan perhitungan, sebaiknya


semua data yang diperlukan dikumpulkan terlebih dahulu agar tidak
menimbulkan kesulitan dalam pengerjaannya. Selain itu, referensi
dari PDAM selaku pihak yang bertugas merencanakan sebaiknya
dihimpun dalam satu data, sehingga dapat mempermudah dalam
mengerjakan perencanaan perhitungan saluran air bersih pada
perumahan.

Dalam mengerjakan perhitungan, perlu diperhatikan angka-


angka yang digunakan, karena perhitungan pertama seperti
perhitungan jumlah penduduk akan berhubungan terus hingga akhir,
sehingga apabila data pertama salah, maka data selanjutnya hingga
seterusnya akan ikut salah, dan ini akan menyebabkan kesalahan
yang fatal dalam perencanaan yang sebenarnya.

Dalam perencanaan yang sebenarnya, sesungguhnya


penggunaan pipa dengan diameter beragam sangat dihindari, selain
menambah biaya dalam pemasangan nya, karena membutuhkan alat
sambung tambahan, juga akan menyulitkan dalam proses

58
pemasangan nya. Pekerja pemasang pipa juga bisa salah
mengartikan gambar yang ada, sehingga rencana yang seharusnya
lebih ekonomis karena peminimalisiran biaya dengan penyesuaian
debit, justru akan merugikan karena pipa yang dipasang tidak sesuai
dengan yang direncanakan.

LAMPIRAN
59