Anda di halaman 1dari 3

II.

ANALISIS AGROEKOSISTEM
(Pengambilan Keputusan)

A. Pengertian Agroekosistem
Istilah analisis agroekosistem sering digunakan dalam berbagai konteks yang berbeda. Dalam kaitan dengan
sistem usahatani, analisis agroekosistem merupakan kegiatan yang dilakukan untuk menggambarkan keadaan
usahatani di suatu lahan pertanian. Analisis agroekosistem berkaitan dengan penghitungan nilai produksi,
penghitungan biaya pengendalian, penghitungan padat populasi hama atau intensitas penyakit, dan penentuan
kemampuan merusak suatu hama atau penyakit.

B. Tujuan Analisis Agroekosistem


Analisis agroekosistem perlu dilakukan sebagai dasar pengambilan keputusan pengendalian. Pengambilan
keputusan pengendalian mempunyai hubungan yang sangat erat dengan analisis agroekosistem. Selanjutnya,
bila telah dilakukan suatu tindakan pengendalian, perlu diketahui apakah tindakan yang dilakukan memberikan
hasil yang efektif dan apakah menimbulkan dampak lain. Data hasil pemantauan agroekosistem pada dasarnya
merupakan data mentah. Data yang jumlahnya banyak dan membingungkan tersebut perlu diringkaskan untuk
menghitung suatu nilai tertentu yang dapat dijadikan patokan pengambilan keputusan pengendalian. Misalnya
dari hasil pemantauan diperoleh data padat populasi hama, data jenis dan padat populasi musuh alami, data
biaya pengendalian, data produksi tanaman, data kehilangan hasil tanaman, dan sebagainya. Data yang
sedemikian banyak ini perlu ditabulasikan dan digunakan untuk menghitung suatu besaran tertentu yang lebih
sederhana. Besaran yang lebih sederhana itulah nantinya yang akan digunakan sebagai patokan pengambilan
keputusan pengendalian.

C. Cara Melakukan Analisis Agroekosistem


1. Mengetahui produksi dan harga hasil dalam keadaan tanpa hama dan dalam keadaan ada hama,
2. Nilai kehilangan hasil
3. Biaya pengendalian
4. Padat populasi hama dan musuh alami
5. Menghitung intensitas kerusakan tanaman karena serangan hama dan intensitas penyakit.
Penilaian kerusakan tanaman umumnya dinyatakan dalam bentuk intensitas kerusakan dalam persen. Pada
serangan mutlak angka persen intensitas kerusakan dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

I : (a/b) x 100 %
Keterangan:
I : Intensitas kerusakan (%)
a : Banyaknya tanaman atau bagian tanaman yang terserang hama dari sampel yang diamati
b : Banyaknya tanaman atau bagian tanaman sample yang diamati.

Namun tidak semua bentuk kerusakan dapat diperhitungkan dengan rumus tersebut, seringkali bentuk
kerusakan yang tidak langsung (serangan tidak mutlak) atau mengalami kerusakan bertahap maka penilaian
intensitas kerusakan dilakukan dengan pemberian skor yang menunjukan tahap kerusakan.

Nilai skor kerusakan bertahap misalnya :


0 = tidak ada kerusakan
1 = tingkat kerusakan 1 20 %
3 = tingkat kerusakan 21 40 %
5 = tingkat kerusakan 41 69 %
7 = tingkat kerusakan 61 80 %
9 = tingkat kerusakan lebih 80 %

Selanjutnya menghitung intensitas kerusakan menggunakan rumus:


I = (ni x vi)x 100 %
ZxN
Keterangan:
I = intensitas kerusakan
Ni = banyaknya tanaman, bagian tanaman yang terserang pada skor ke i
Vi = nilai skor ke i
N = banyaknya tanaman bagian tanaman sampel yang diamati.
Z = skor tertinggi.

D. Cara Pengambilan Keputusan


Setelah dilakukan didapatkan data dari analisis agroekosistem, maka hal yang dilakukan selanjutnya adalah
membandingkan nilai padat populasi hama hasil pemantauan agroekosistem dengan nilai AE. Pada umumnya
yang digunakan acuan dalam pengambilan keputusan adalah nilai Ambang Ekonomi (AE) suatu hama. AE
sebenarnya adalah padat populasi hama yang membutuhkan tindakan pengendalian untuk mencegah padat
populasi terus meningkat sehingga mencapai Aras Luka Ekonomi (ALE). Sedangkan ALE adalah padat
populasi hama terendah yang dapat menyebabkan kerusakan ekonomi. Selanjutnya kerusakan ekonomi adalah
intensitas kerusakan tanaman yang disebabkan oleh hama yang membenarkan dilakukan pengeluaran biaya
untuk mengendalikan hama. Biasanya nilai AE sudah ditentukan terlebih dahulu oleh instansi yang mempunyai
kemampuan untuk melakukan itu. Yang perlu dilakukan oleh petugas pengamat hama, penyuluh, dan lebih-
lebih petani adalah pengambilan keputusan pengendalian berdasarkan AE yang sudah ditentukan. Pengambilan
keputusan berdasarkan AE dilakukan dengan membandingkan nilai padat populasi hama hasil pemantauan
agroekosistem dengan nilai AE. Bila nilai padat populasi hama sama atau lebih tinggi daripada nilai AE maka
diambil keputusan pengendalian, sebaliknya bila lebih rendah tidak perlu dilakukan pengendalian.