Anda di halaman 1dari 31

PENGARUH PEMANASAN GLOBAL TERHADAP KELESTARIAN LINGKUNGAN

HIDUP
MAKALAH
disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Green History yang diampu oleh
Prof. Dr. Nana Supriatna, M.Pd
Iing Yulianti, M.Pd

oleh
Dikry Feisal Rachman NIM 1503582
Ersa Isdiyanti NIM 1503834
Indri Putri Dwi Y. NIM 1506688
Ulfy Fitriyani NIM 1507240

DEPARTEMEN PENDIDIKAN SEJARAH

FAKULTAS PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL

UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

BANDUNG

2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan
rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah
tentang Pengaruh Pemanasan Global Terhadap Kelestarian Lingkungan Hidup ini
dengan baik meskipun banyak kekurangan didalamnya. Dan juga kami berterima kasih
pada Bapak Prof.Dr.Nana Supriatna, M.Pd dan Ibu Iing Yulianti, M.Pd selaku Dosen
mata kuliah Green History yang telah memberikan tugas ini kepada kami.

Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah
wawasan serta pengetahuan bagi pembacanya. Kami juga menyadari sepenuhnya
bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh
sebab itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah yang
telah kami buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna
tanpa saran yang membangun.

Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang


membacanya. Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri
maupun orang yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat
kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang
membangun dari Anda untuk menjadi masukan.

Bandung, Maret 2017

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ............................................................................................. i

KATA PENGANTAR ........................................................................................... ii

DAFTAR ISI ......................................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN .....................................................................................1

A. Latar Belakang .............................................................................................1


B. Rumusan Masalah ........................................................................................2
C. Tujuan Penulisan ..........................................................................................2

BAB II PEMBAHASAN .......................................................................................3

A. Latar Belakang Pemanasan Global dan Perkembangannya .........................3


B. Dampak Pemanasan Global Terhadap Berbagai Aspek Kehidupan
Manusia ........................................................................................................8
C. Upaya Antisipasi Dampak Pemanasan Global ...........................................16

BAB III PENUTUP ..............................................................................................24

A. Simpulan ....................................................................................................24

B. Saran ...........................................................................................................25

DAFTAR PUSTAKA ...........................................................................................27

iii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Bumi merupakan planet ketiga dari Matahari yang merupakan planet terpadat
dan terbesar kelima dari delapan planet dalam Tata Surya. Bumi juga merupakan
planet terbesar dari empat planet kebumian Tata Surya. Bumi terkadang disebut
dengan dunia atau Planet Biru. Bumi adalah tempat tinggal bagi jutaan makhluk
hidup, termasuk manusia. Sumber daya mineral Bumi dan produk-produk biosfer
lainnya bersumbangsih terhadap penyediaan sumber daya untuk mendukung populasi
manusia global. Setiap hari manusia melakukan eksploitasi sumber massif guna
menunjang populasi manusia yang sekarang ini dikelompokkan kedalam 200 negara
berdaulat, yang saling berinteraksi satu sama lain melalui diplomasi, pelancongan,
perdagangan, dan aksi militer.

Mansia modern dewasa ini memiliki pandangan bahwa mereka merupakan


penakluk alam bukan bagian dari alam. Maka menjadi hal yang wajar ketika manusia
terus saja mengeksploitasi alam untuk kepentingannya sendiri. Hal ini tentu tidak
sejalan dengan konsep sustainability atau kesinambungan. Manusia modern tidak
sadar bahwa sebenarnya mereka merupakan bagian kecil dari alam yang memiliki
tanggung jawab terhadap kelestarian alam. Eksploitasi yang dilakukan dewasa ini
baik itu eksploitasi sumber daya alam maupun eksploitasi melalui tingkah laku
manusia yang tidak bersahabat dengan alam akan membawa manusia kedalam jurang
kehancuran. Tentu sebagai umat manusia yang sadar akan kesinambungan, kita harus
mengantisipasi kehancuran yang akan dating tersebut.
Untuk mengantisipasi kehancuran tersebut tentu kita harus mengetahui gejala
yang dapat membawa alam pada kehancuran. Gejala yang paling menjadi perhatian
dan sering diperbincangkan dewasa ini adalah pemanasan global. Namun kebanyakan
manusia mengetahui pemanasan global hanya sebatas naiknya suhu bumi tanpa
mengetahui mengapa pemanasan global bisa terjadi, dampak besarnya seperti apa,

1
dan bagaimana mengatasi pemanasan global. Maka menjadi keharusan bagi kita
untuk mengetahui hal-hal tersebut, oleh sebab itulah penulis membuat makalah ini.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka permasalahan yang akan kami bahas
sebagai berikut:
1. Bagaimana latar belakang terjadinya pemanasan global dan
perkembangannya?
2. Bagaimana dampak pemanasan global terhadap berbagai aspek kehidupan
manusia?
3. Bagaimana upaya mengantisipasi pengaruh pemanasan global terhadap
kelestarian lingkungan hidup?

C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini yaitu:
1. Dapat mendeskripsikan awal terjadinya fenomena pemanasan global
2. Dapat mendeskripsikan dampak pemanasan global terhadap berbagai aspek
kehidupan manusia
3. Dapat mendeskripsikan upaya dalam mengantisipasi dampak pemanasan
global terhadap kelestarian lingkungan hidup.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Latar Belakang Terjadinya Pemanasan Global dan Perkembangannya


Manusia memegang kendali penting terhadap perubahan dan penentu pengelolaan
lingkungan. Jika ditinjau lebih jauh, sebetulnya kerusakan lingkungan telah terjadi
sejak zaman kuno. Bahkan salah satu peradaban di dunia yaitu perdaban lembah
Sungai Indus hancur karena pengrusakan alam. Peradaban Lembah Sungai Indus
diperkirakan hancur diterjang banjir bandang. Pohon-pohon di sekitar sungai yang
merupakan penahan air banyak ditebang untuk digunakan membangun peradaban.
Degradasi lingkungan lebih disebabkan karena pertumbuhan ekonomi yang
mengeksploitasi secara berlebihan sepanjang sejarah dunia sejak millennium ke-3 SM
(Supriatna,2016, hlm.111). Degradasi lingkungan tidak terlepas dari kehidupan sosial
ekonomi setiap peradaban manusia khususnya di wilayah pusat peradaban. Menurut
Ponting (dalam Supriatna, 2016, hlm.111), krisis lingkungan disebabkan oleh
beberapa faktor seperti pertumbuhan penduduk, urbanisasi, deforestasi, industrialisasi
dan lainnya. Pengaruh perkembangan industrialisasi yang merupakan salah satu
faktor terjadinya kerusakan lingkungan perlu dikaji lebih lanjut.
Dengan latar belakang revolusi industri yang terjadi pada pertengahan abad 19,
merupakan titik tolak dari terjadinya perubahan besar-besaran dalam pola kehidupan
manusia. Revolusi adalah perubahan sosial dan kebudayaan yang berlangsung secara
cepat dan menyangkut dasar atau pokok kehidupan masyarakat (Djaja, 2012, hlm.93).
Revolusi Industri adalah perubahan yang cepat di bidang ekonomi yaitu dari kegiatan
ekonomi agraris menjadi ekonomi industri yang menggunakan mesin dalam
mengelola bahan mentah menjadi bahan siap pakai. Revolusi Industri telah mengubah
cara kerja manusia dari penggunaan tangan menjadi penggunaan mesin.
Latar belakang terjadinya Revolusi Industri adalah disebabkan adanya
perkembangan kapal-tenaga uap, rel, dan kemudian di akhir abad tersebut
perkembangan mesin bakar dalam dan perkembangan pembangkit tenaga listrik.
Revolusi Industri awalnya terjadi di Eropa khususnya Inggris yang menjadi negara

3
pelopor adanya Revolusi Industri dan kemudian menyebar ke negara-negara lain pada
awal abad ke-19. Berkembangnya industri rumahan di Inggris yang kemudian
melahirkan gilda yaitu suatu perkumpulan pengusaha dengan jenis usaha sejenis yang
memonopoli dan mendapatkan perlindungan pemerintah. Alat-alat yang dihasilkan
oleh gilda adalah alat rumah tangga, alat kerja pertanian, dan sebagainya. Gilda baru
bekerja apabila ada pesanan.
Perkembangan selanjutnya dari gilda ini adalah munculnya minat yang luar biasa
dari masyarakat Inggris terhadap tempat pengolahan yang lebih memadai seperti
pabrik. Dari minat inilah muncul kegiatan ekonomi manufaktur yang membuat para
pekerja tidak lagi bekerja di rumah-rumah melainkan di tempat-tempat khusus yang
disediakan pengusaha sebagai tempat produksi (Djaja, 2012, hlm. 99). Perkembangan
Revolusi Industri juga di dukung dengan munculnya paham ekonomi liberal. Tokoh-
tokoh pendukung paham ekonomi liberal adalah Adam Smith, Thomas Robert
Malthus, David Ricardo, dan John Sturart Mill. Lahirnya paham ekonomi liberal di
Inggris memantapkan persiapan masyarakat menuju suatu zaman industri.
Pada akhir abad pertengahan, kota-kota di Eropa berkembang sebagai pusat
kerajinan dan perdagangan. Mereka saling bersaing secara bebas untuk kemajuan
dalam perekonomian. Perkembangan pesat industri hingga akhirnya pada tahapan
factory system yang mengandalkan mesin dalam aktivitas produksinya, merupakan
puncak dari kegiatan industri pada saat itu.
Faktor-faktor pendukung dari keberhasilan Revolusi Industri diakibatkan adanya
penemuan mesin-mesin yang berguna bagi dunia industri. James Watt yang
menemukan mesin uap pada tahun 1783 menjadikan terjadinya transformasi dalam
pabrik-pabrik yang kemudian tidak tergantung pada mesin yang bertenaga pompa air.
Lokasi-lokasi pabrik yang awalnya di dirikan harus dekat dengan sumber air, setelah
itu dapat di dirikan dimana saja. Penemuan lainnya yang menunjang kemajuan
industri adalah penemuan mesin-mesin pertekstilan. Penemuan di bidang tekstil ini
didasarkan pada keinginan untuk memproses bahan tekstil secara cepat (Djaja, 2012,
hlm.100).

4
Dengan semakin berkembangnya industri di Inggris khususnya dan
mempengaruhi belahan dunia lainnya, tentu menimbulkan berbagai dampak positif
dan negatif. Dampak yang paling menonjol dari Revolusi Industri di Inggris adalah
munculnya kapitalisme, adanya pengambilan lahan pertanian menjadi lahan industri,
dan munculnya upaya pencarian daerah pemasaran di negeri jajahan. Kegiatan
manusia dari dunia meningkatkan populasi bersamaan dengan cepatnya
perngembangan industri, yang mengarah ke degradasi lingkungan pada skala yang
sangat besar (Houghton, 2011, hlm.2).
Munculnya kaum pemilik modal yang memiliki kepentingan untuk memperluas
wilayah industrinya membuat para pemilik modal tersebut kemudian membeli lahan-
lahan petani. Sehingga lahan-lahan pertanian pun semakin berkurang dan semakin
banyak lahan industri. Perubahan ini jelas menimbulkan dampak lain bagi lingkungan
pada masa itu. Sejak Revolusi Industri terjadi konsentrasi gas-gas rumah kaca
meningkat terutama dalam kaitannya dengan aktivitas manusia. Penetrasi gas-gas
rumah kaca (GRK) ke atmosfer, seperti misalnya gas karbondioksida, metana, nitro
oksida, dan gas rumah kaca lain, meningkat dengan cepat dalam beberapa dekade ini.
Dengan menahan dari sebagian energi panas yang dipantulkan bumi dan
membiarkan radiasi surya untuk menembus atmosfer, gas ini bertindak sebagai suatu
atap kaca pada satu rumah kaca, dengan begitu menghangatkan planet Bumi. Sejak
abad 19, rata-rata temperatur planet Bumi meningkat sekitar satu derajat Fahrenheit
(0,6 derajat celcius). Sedangkan kombinasi laut dan daratan pada tahun 2000 adalah
sebesar 0,29 derajat celcius di atas rata-rata suhu pada tahun 1961-1990. Pengamatan
terbaru dari pemanasan mendukung teori bahwa gas rumah kaca pemanasan dunia.
Lebih dari abad terakhir, planet ini telah mengalami peningkatan suhu permukaan
terbesar dalam 1.300 tahun (Riebeek,2007).
Pemanasan global (global warming) adalah salah satu bentuk ketidakseimbangan
ekosistem di bumi yang disebabkan proses peningkatan suhu rata-rata atmosfer, laut
dan daratan di bumi (Utina, 2015, hlm.1). Pengertian lain menjelaskan pemanasan
global adalah peningkatan gas rumah kaca di atmosfer yang disebabkan oleh kegiatan
umat manusia yang meningkatkan efek rumah kaca. Sebagai salah satu efek

5
pemanasan global selama dua dekade terakhir yang menembus kaca dipantulkan
kembali oleh benda-benda di dalam ruangan rumah kaca sebagai gelombang panas
yang berupa sinar inframerah. Akibatnya suhu di dalam ruangan rumah kaca menjadi
lebih tinggi daripada suhu diluarnya dan hal itulah yang dikatakan efek rumah kaca.
Adanya atap kaca ini, pancaran sinar matahari yang masuk berulang kali dipantulkan
ke bawah akibatnya di dalam ruangan tersebut temperaturnya akan naik. Demikian
juga yang trejadi dalam skala besar di Bumi ini.
Gas rumah kaca yang terdiri dari CO2, Metana, Nitrogen oksida, CFC dan unsur
lainnya, memantulkan berulang-ulang radiasi yang masuk ke Bumi sehingga
mengakibatkan temperatur di Bumi naik. Gas CO memberi kontribusi besar dalam
pemanasan global yaitu 50%. Jika kenaikan temperatur dalam batas rentang
kenormalan, tidak menjadi masalah. Lain halnya jika gas rumah kaca di atmosfer
terus bertambah jumlahnya tanpa kendali, panas dari sang surya akan makin banyak
menambah panas Bumi. Proses pertambahan temperatur ini akan mempercepat
pencairan es di Kutub Utara dan Selatan dan akan mengakibatkan tergenangnya
daerah-daerah pantai dan kota-kota dataran rendah. Industri, kilang, propagasi
berlebihan gelombang elektromagnetik melalui udara, transportasi kendaraan - jalan
dan saluran udara, pertumbuhan yang cepat dari peralatan hiburan seperti AC (A.C) ,
kulkas, televisi, ponsel, komputer, MP3, CD, DVD-player, dan lain-lain adalah
penyebab utama meningkatnya suhu lingkungan (Bhattacharjee,2010,hlm.220).
Meskipun saat ini bumi sedang dalam periode interglasial yaitu periode
pemanasan suhu bumi. Interglasial merupakan periode yang berlawanan dengan
periode glasial yaitu periode pendinginan suhu bumi. Dalam hal ini ada beberapa
pendapat yang mengatakan bahwa pemanasan global sebenarnya merupakan sesuatu
yang tidak ada dengan alasan karena bumi saat ini sedang dalam periode interglasial,
jadi pemanasan suhu bumi merupakan suatu gejala alam yang biasa. Isu pemanasan
global merupakan alat yang digunakan oleh negara maju kapitalis untuk meraih
keuntungan ekonomi. Sementara itu, periode dimana suhu bumi mendingin atau bisa
disebut zaman es pun akan terjadi karena ada konsep yang disebut sebagai siklus
glasial. Namun apakah benar bahwa bumi saat ini akan memasuki zaman es baru?

6
Mengutip artikel dari Tempo.com bahwa tingginya kadar emisi karbon dioksida
(CO2) di atmosfer mengindikasikan Zaman Es berikutnya tak mungkin terjadi
setidaknya dalam 1.500 tahun ke depan. Temuan yang dipublikasikan dalam jurnal
Nature Geoscience itu mengungkap konsentrasi gas penyebab pemanasan global
dengan rekor tertinggi pada 2010. Badan Cuaca PBB menyatakan gas tersebut akan
bertahan di atmosfer selama puluhan tahun, bahkan jika dunia tak lagi memompa
emisi gas ke udara.
Zaman Es adalah periode ketika terjadi penurunan suhu permukaan dan atmosfer
bumi dalam jangka panjang. Penurunan suhu ini berimbas terbentuknya lapisan es
dan gletser. Selama sejarah bumi, diperkirakan sudah lima kali Zaman Es terjadi.
Selama Zaman Es, ada siklus glasiasi, yakni lapisan es yang kadang meluas kadang
menyusut. Saat ini bumi resminya berada dalam periode interglasial atau periode
hangat dalam 10-15 ribu tahun terakhir.
Soal berapa lama periode itu berlangsung masih memunculkan spekulasi.
"Analisis menunjukkan akhir periode interglasial saat ini akan terjadi dalam 1.500
tahun ke depan, jika konsentrasi CO2 di atmosfer tidak melebihi sekitar 240 bagian
per juta volume (ppmv)," isi penelitian itu menyebutkan. Namun konsentrasi karbon
dioksida saat ini mencapai 390 ppmv. Para peneliti mengatakan, pada tingkat
konsentrasi CO2 sebesar itu, peningkatan volume lapisan es tidak akan mungkin
terjadi.
Penelitian ini didasarkan pada variasi di orbit bumi dan sampel batuan. Penelitian
dilakukan akademikus dari Cambridge University, University College London,
University of Florida, dan University Bergen di Norwegia. Para peneliti mengatakan
penyebab terjadinya Zaman Es tidak sepenuhnya dipahami. Namun konsentrasi
metana dan karbon dioksida di atmosfer, perubahan orbit bumi mengelilingi matahari,
serta gerakan lempeng tektonik memiliki peran.
Suhu bumi diperkirakan semakin panas seiring dengan terus meningkatnya
konsentrasi gas rumah kaca. Meningkatnya gas rumah kaca memacu potensi
ancaman, seperti cuaca ekstrem dan kenaikan permukaan air laut. Para ilmuwan telah
memperingatkan bahwa kenaikan suhu bumi harus dibatasi dalam kisaran 2 derajat

7
Celsius untuk menghindari dampak terburuk perubahan iklim. Tapi keterlambatan
membatasi pertumbuhan emisi gas berbahaya semakin menempatkan planet bumi
dalam risiko.
Jadi kita dapat yakin, tidak ada zaman es di sekitar penjuru. Untuk mereka yang
berlama-lama dalam keraguan bahwa zaman es sudah dekat, ini mengubah mata
Anda terhadap lapisan es utara. Jika mereka tumbuh, maka ya, proses 10.000 tahun
glasiasi mungkin telah dimulai. Namun, saat ini permafrost Arktik menurun, es laut
di Kutub Utara mencair dan lapisan es Greenland mengalami tingkat percepatan
dalam kehilangan massa. Ini bukan kondisi yang baik untuk terjadinya zaman es
dalam waktu dekat (Bailey, 2015).

B. Dampak Pemanasan Global terhadap Berbagai Aspek Kehidupan Manusia


Pemanasan global atau global warming sudah menjadi isu global, karena tidak
hanya dialami atau menimpa bangsa Indonesia saja, melainkan hampir seluruh warga
bumi. Masalah pemanasan global dan kerusakan lingkungan yang mulai banyak
terjadi sejak revolusi industri ini disebabkan oleh tindakan manusia. Apalagi pada era
kontemporer seperti saat ini, begitu banyak tindakan-tindakan buruk manusia yang
semakin memperparah hadirnya pemanasan global. Populasi yang terus bertambah
akan menyebabkan makin banyaknya sampah yang dihasilkan. Selain itu, banyak
pula lahan-lahan hijau ataupun lahan pertanian yang kini dijadikan sebagai lahan
pemukiman sehingga telah menyebabkan perubahan-perubahan terhadap ekosistem di
bumi.
Efek dari perubahan iklim sebagai akibat dari pemanasan global yang telah
diukur dan menghasilkan uang termasuk dampak pada pertanian, kehutanan, sumber
daya air, wilayah pesisir, konsumsi energi, kualitas udara, dan kesehatan manusia.
Jelas, daftar ini tidak lengkap. Bahkan dalam setiap kategori, penilaian tidak lengkap.
Tidak ada perkiraan kuantitatif dari efek hilang, tapi kualitatif dan spekulatif
penilaian kepentingan mereka relatif (Tol, 2009, hlm.43).

8
Permasalahan pemanasan global (global warming) mulai diangkat ke permukaan
pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Bumi (Earth Summit) di Rio de Janerio,
Brazil pada tahun 1992, dan sampai saat ini terus menjadi perhatian utama dunia
(Kodra, dalam Riyanto, 2007, hlm. 68). Meskipun KTT Rio de Janerio telah
diperbarui dengan Protokol Kyoto pada tahun 1997, namun sayangnya di antara
negara-negara yang punya perhatian besar pada pemanasan global (global warming)
sampai kini belum melakukan tindakan bersama secara berarti. Bahkan di antara
mereka saling mempersalahkan. Di satu sisi, negara-negara yang sedang berkembang
menyalahkan negara maju sebagai biang keladi atau penyebab terjadinya pemanasan
global melalui pembuangan gas emisi karbondioksida yang berasal dari pabrik dan
kendaraan( Riyanto, 2007, hlm. 68).
Sementara negara-negara maju dengan Amerika Serikat sebagai promotornya,
tidak kalah sengitnya menuding negara-negara berkembang yang tidak
memperhatikan lingkungan dan merusak hutan. Hutan yang dijuluki paru-paru dunia
ditebang semena-mena untuk tujuan ekonomi sesaat. Pada sisi lain, negara industri
secara khusus mempersoalkan penggunaan teknologi yang masih konvensional,
pembangunan yang menggebu-gebu dan banyaknya kendaraan bermotor dengan
sistem pembakarannya kadaluarsa dan rusak menyebabkan emisi gas karbondioksida
di negara-negara berkembang sangat besar. Sebaliknya, teknologi yang canggih,
hemat energi dan pemantauan polusi yang baik, menjadikan emisi karbondioksida
akan menjadi sedikit dan bisa diawasi/dipantau, dengan begitu jumawanya diklaim
sebagai bagian dari negara maju (Riyanto, 2007, hlm. 69).
Bagi semua negara, prioritas yang lebih mendesak seperti pembangunan ekonomi
selalu cenderung mengalahkan ancaman perubahan iklim atau perubahan lingkungan
global dan ini adalah mengapa kordinasi internasional untuk mengatasi masalah
tersebut sulit tercapau.Pada Desember 2007 PBB mengadakan Konferensi Perubahan
Iklim di Bali, Indonesia yang dihadiri oleh perwakilan dari lebih dari 180 negara,
bersama-sama dengan pengamat dari antar pemerintah dan lembaga swadaya
masyarakat. Peserta menyepakati "Bali roadmap" yang memberikan pedoman untuk
mencapai perjanjian pada akhir tahun 2009 untuk menggantikan Protokol Kyoto.

9
Ditahun yang sama pada bulan April setelah pembicaraan iklim di BB. Pembicaraan
di Bangkok, pertemuan pertama setelah konferensi Bali jadwal ambisius telah
dikembangkan untuk menyelesaikan negosiasi yang kompleks pada kesepakatan
iklim baru untuk Konferensi Iklim PBB di Kopenhagen pada Desember 2009
(Adedeji, 2014,hlm.116).
Memperdebatkan siapa yang saling dan benar, serta siapa yang paling
bertanggungjawab atas terjadinya pemanasan global bukan langkah bijak untuk
menyelesaikan masalah dan hanya membuang-buang energi. Adalah lebih baik
apabila usaha untuk mencari pemecahan atas permasalahan yang terjadi.
Utina (2015, hlm. 7) menjelaskan bahwa pemanasan global telah memicu
terjadinya sejumlah konsekuensi yang merugikan baik terhadap lingkungan maupun
setiap aspek kehidupan manusia. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut:
1. Mencairnya lapisan es di kutub Utara dan Selatan. Peristiwa ini
mengakibatkan naiknya permukaan air laut secara global, hal ini dapat
mengakibatkan sejumlah pulau-pulau kecil tenggelam. Kehidupan
masyarakat yang hidup di daerah pesisir terancam. Permukiman penduduk
dilanda banjir rob akibat air pasang yang tinggi, dan ini berakibat kerusakan
fasilitas sosial dan ekonomi. Jika ini terjadi terus menerus maka akibatnya
dapat mengancam sendi kehidupan masyarakat.
2. Meningkatnya intensitas fenomena cuaca yang ekstrim. Perubahan iklim
menyebabkan musim sulit diprediksi. Petani tidak dapat memprediksi
perkiraan musim tanam akibat musim yang juga tidak menentu. Akibat
musim tanam yang sulit diprediksi dan musim penghujan yang tidak
menentu maka musim produksi panen juga demikian. Hal ini berdampak
pada masalah penyediaan pangan bagi penduduk, kelaparan, lapangan kerja
bahkan menimbulkan kriminal akibat tekanan tuntutan hidup.
3. Punahnya berbagai jenis fauna. Flora dan fauna memiliki batas toleransi
terhadap suhu, kelembaban, kadar air dan sumber makanan. Kenaikan suhu
global menyebabkan terganggunya siklus air, kelembaban udara dan
berdampak pada pertumbuhan tumbuhan sehingga menghambat laju

10
produktivitas primer. Kondisi ini pun memberikan pengaruh habitat dan
kehidupan fauna.
4. Habitat hewan berubah akibat perubahan faktor-faktor suhu, kelembaban dan
produktivitas primer sehingga sejumlah hewan melakukan migrasi untuk
menemukan habitat baru yang sesuai. Migrasi burung akan berubah
disebabkan perubahan musim, arah dan kecepatan angin, arus laut (yang
membawa nutrien dan migrasi ikan).
5. Peningkatan muka air laut, air pasang dan musim hujan yang tidak menentu
menyebabkan meningkatnya frekuensi dan intensitas banjir.
6. Ketinggian gunung-gunung tinggi berkurang akibat mencairnya es pada
puncaknya.
7. Perubahan tekanan udara, suhu, kecepatan dan arah angin menyebabkan
terjadinya perubahan arus laut. Hal ini dapat berpegaruh pada migrasi ikan,
sehingga memberi dampak pada hasil perikanan tangkap.
8. Berubahnya habitat memungkinkan terjadinya perubahan terhadap resistensi
kehidupan larva dan masa pertumbuhan organisme tertentu, kondisi ini tidak
menutup kemungkinan adanya pertumbuhan dan resistensi organisme
penyebab penyakit tropis. Jenis-jenis larva yang berubah resistensinya
terhadap perubahan musim dapat meningkatkan penyebaran organisme ini
lebih luas. Ini menimbulkan wabah penyakit yang dianggap baru.
9. Mengancam kerusakan terumbu karang di kawasan segitiga terumbu karang
yang ada di enam negara, yaitu Indonesia, Malaysia, Kepulauan Salomon,
Papua Nugini, Timor Leste, dan Philipina. Dikhawatirkan merusak
kehidupan masyarakat lokal yang berada di sekitarnya. Masyarakat lokal
yang pertama kali menjadi korban akibat kerusakan terumbu karang ini.
Untuk menyelamatkan kerusakan terumbu karang akibat pemanasan global
ini, maka para aktivis lingkungan dari enam negara tersebut telah merancang
protokol adaptasi penyelamatan terumbu karang. Lebih dari 50 persen
spesies terumbu karang dunia hidup berada di kawasan segitiga ini.
Berdasarkan data Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC),

11
sebanyak 30 persen terumbu karang dunia telah mati akibat badai el nino
pada 1998 lalu. Diprediksi, pada 10 tahun ke depan akan kembali terjadi
kerusakan sebanyak 30 persen.
Riyanto (2007, hlm. 71-74) menjelaskan beberapa dampak yang diakibatkan oleh
pemanasan global (global warming), dapat diinventarisasi, antara lain sebagai
berikut:
1. Munculnya gelombang panas di berbagai belahan dunia telah menimbulkan
korban ribuan umat manusia di seluruh muka bumi. Menurut data, tahun
2003 Eropa telah dilanda gelombang panas dengan korban jiwa 35 ribu
orang. Di India (Andhra Pradesh) pada tahun yang sama, dengan temperatur
50 C menyebabkan kematian 1.400 orang. Musim panas ini, banyak kota di
Amerika Serikat yang suhunya mencapai 100 F atau di atas. 200 warga kota
di barat dan timur mengalami hal yang sama, termasuk New Orleans.
2. Adanya Badai atau Angin Topan. Juli tahun 2005 terjadi badai di Karibia,
yang pertama datang dari Yucatan, menimbulkan kerusakan termasuk kilang
minyak lepas pantai. Kemudian disusul badai Katrina yang menghantam
Florida yang menyebabkan terbunuhnya banyak orang serta menyebabkan
kerugian bermilyar-milyar dolar. Ada lagi badai lain yang lebih kuat yaitu
Winston Churchill yang akan menghantam Inggris dan mereka harus bersiap
menghadapinya, namun kenyataannya banyak orang tidak percaya dan tidak
sabar.
3. Banjir. Beberapa kota di Eropa mengalami bencana banjir, yang sepertinya
tidak lazim terjadi. Dalam satu dekade terakhir, kota-kota besar terkenal di
Eropa yang terkenal sistem drainasinya baik, kini tidak lagi bebas banjir.
Sistem drainasi yang telah dirancang menanggulangi banjir itu, ternyata tak
mampu menampung air bah yang menerjangnya. London, Roma dan Berlin,
ketiganya kota tua yang amat baik drainasinya, kini sering dilanda banjir.
Bahkan Toronto Kanada, yang selama ini aman banjir, sering dilanda air
bah. Banjir terus melewati Aisa, Bombay India, hanya dalam kurun 27 jam
dan banyak kota di India yang tidak selamat dan juga melewati Cina.

12
4. Kekeringan. Pemanasan global tidak saja mengakibatkan paradoks itu saja
(banjir), namun juga kekeringan pada saat yang sama. Salah satu alasannya
adalah adanya kenyataan bahwa pemanasan global (global warming) tidak
hanya terjadi secara mendunia, melainkan juga merelokasi presipitasi/curah
hujan dan sebagiaan besar di fokuskan di Afrika, Mesir dan Sahara. Tragedi
kekeringan oleh karena tidak adanya curah hujan, yang tidak dapat dipercaya
telah terjadi di Darfur dan Nigeria. Bencana lain yang juga tidak terkirakan
sebelumnya adalah mengeringnya Danau Chad pada tahun 1963, sebagai
salah satu danau terbesar di dunia.
5. Mencairnya Es di Kutub. Dahulu orang berpikir bahwa es yang ada di kutub
akan dapat bertahan dari pemanasan global (global warming) selama 200
tahun. Namun kenyataannya sangat mengejutkan, karena kehancuran yang
terjadi sedemikian cepat, hanya dalam kurun waktu 35 hari saja. Padahal
gunung dan kutub berperan penting dalam menstabilkan musin dan ekologi
bumi. Penyebabnya antara lain adanya penguapan tanah secara dramatis
dalam peningkatan temperatur. 90% sinar matahari yang mengenai es
dipantulkan kembali ke angkasa seperti kaca, namun ketika sinar matahari
mencapai permukaan air laut, semuanya diserap yang menyebabkan air
menjadi hangat, dan dampaknya akan mempercepat pencairan es. Hal ini
berdampak pada bagi beruang kutub yang sangat tergantung pada
keberadaan es sebagai tempatnya berpijak. Para ilmuwan mendapatkan bukti
bahwa mereka harus berenang sejauh 60 mil untuk menemukan daratan, tapi
mereka tidak menemukannya.
6. Terjadinya Kenaikan Permukaan Air Laut. Kondisi ini juga dipengaruhi oleh
adanya pencairan es di kutub yang mengakibatkan menaikkan permukaan air
laut. Cina, Asia Selatan dan Asia Tenggara mempunyai garis pantai paling
padat di dunia dengan kepadatan penduduk 2.000 jiwa per-km. Di
Bangladesh, misalnya, kenaikan satu meter permukaan air laut akan
menggenangi wilayah seluar 4 juta ha dan 15 20 juta manusia kehilangan
mata pencaharian. Sedangkan di India pada kasus yang sama, 600.000 ha

13
tanah terendam air laut dan 7 juta manusia harus mengungsi. Juga di
Indonesia diperkirakan akan kehilangan 3,4 juta hektar. Selanjutnya di Mesir
adalah negeri paling parah terkena dampak naiknya permukaan air laut,
meski air laut naik hanya 1 meter. Daerah subur di lembah sungai Nil seluas
2 juta ha yang jadi tulang punggung pertanian negeri piramid itu musnah.
Sisanya 10.000 hektar lahan produktif tercemar garam dan tergerus erosi.
Delapan sampai 10 juta jiwa harus diungsikan, termasuk semua penduduk
Alexandria. Kerugian paling besar adalah hilangnya kota Alexadria sebagai
kota andalan wisata Mesir.
7. Perubahan iklim yang tidak menentu. Perubahan iklim di negeri kita telah
dirasakan dalam beberapa tahun terakhir ini. Musim kemarau dengan panas
sangat menyengat, hujan terlambat datang dan jika tiba, curahnya sangat
tinggi sehingga menimbulkan banjir. Kondisi ini jelas sangat tidak
menguntungkan bagi seorang petani. Seharusnya sudah harus musim tanam,
ternyata belum dapat dilaksanakan oleh karena musim panas/kemarau terlalu
panjang. Atau seharusnya sudah tidak turun hujan, tetapi ternyata di sana-
sini masih ada hujan sehingga para petani gagal panen karena padi yang siap
panen terendam air.
8. Peningkatan suhu panas global mencapai 3 4 derajat celcius. Ini dapat
dirasakan sebagai akibat dari efek rumah kaca, tidak menentunya perubahan
iklim serta rusaknya hutan tropis di Indonesia. Menurut data Bank Dunia, di
Indonesia setiap tahun sekitar 600 ribu sampai 3,5 juta hektar hutan tropis
musnah (Suara Merdeka, 23-4-07). Pembukaan hutan tropis yang dijadkan
tempat pemukiman dan lahan pertanian hingga mencapai 60%, lalu 4,5 juta
hektar hutan ditebang dan dibakar hanya untuk membuat ladang- lading
sementara, sehingga hutan menjadi gundul memberikan sumbangan sebesar
25% dari total kenaikan emisi CO2. Penggundulan hutan itu pada dasarnya
merupakan pengikisan sumber oksigen terbesar di dunia yang jelas sangat
pentng bagi kehidupan umat manusia dan seluruh makhluk hidup yang hidup
di bumi ini. Pohon - pohon pada dasarnya berfungsi sebagai penyerap CO

14
dan mengubahnya menjadi oksigen melalui prose fotosintetis. (Todaro,
2000, hlm. 519). Padahal hutan tropis berfungsi sebagai paru-paru dunia
yang dapat mensirkulasi dan mentransformasi karbon dioksida menjadi
oksigen. Dapat kita bayangkan kalua hutan tropis hancur, seluruh dunia akan
terkena dampaknya.
9. Peningkatan pencemaran udara/polusi. Terjadinya kebakaran hutan di
Kalimantan, Sumatera; peningkatan pemakaian motor/mobil di kota besar
(emisi kendaraan); penggunaan energi yang berlebihan, dan pencemaran
limbah produksi industri menyebabkan Terjadinya peningkatan pencemaran
udara/polusi. Selanjutnya dikatakan oleh Todaro (2005) bahwa sumber-
sumber utama pencemaran udara, merupakan sisi terburuk modernisasi yang
mengancam kesehatan manusia adalah penggunaan energi secara
berlebihan,emisi kendaraan dan pencemaran limbah produksi industri.
Industrialisasi selalu meninggalkan buangan limbah, baik dalam bentuk
emisi langsung maupun melalui pengubahan pola konsumsi dan perlonjakan
permintaan terhadap barang-barang manufaktur. Pada umumnya produksi
barang-barang manufaktur menimbulkan efek atau produk-produk
sampingan yang berbahaya. Tanpa pemberlakukan pengawasan secara ketat
maka pihak produsen akan terdorong untuk memilih cara yang murah
(membuang limbah langsung melemparkannya ke saluran air, ke udara
terbuka atau menimbunnya di dalam tanah) meskipun mereka menyadari
dampaknya sangat berbahaya terhadap lingkungan hidup. Hal tersebut tidak
dapat dihindari dan terutama terjadi di kota-kota besar di seluruh dunia,
termasuk di Indonesia, dengan seabrek problematikanya.

Menurut Cahyono (2002, hlm. 29) Sebagai salah satu efek pemanasan global,
selama dua decade terakhir adalah timbulnya berbagai penyakit yang menyebar
dengan cepat. Beberapa mikro-organisme dalam tahap istirahat dapat dijumpai dalam
suhu yang rendah. Setelah suhu naik dia akan berkembang dengan pesat. Berbagai

15
wabah penyakit sudah diketahui dan dicurigai oleh para ilmuwan sejak dua dasawarsa
yang lampau, sebagai akibat terjadinya pemanasan global.
Pemanasan global sudah menjadi isu lingkungan yang menjadi fokus utama
masyarakat dunia saat ini. Namun, yang jadi pokok permasalahan sekarang adalah
kepedulian manusia atau masyarakat dunia terhadap ancaman pemanasan global
(global warming) masih rendah. Meski sudah mengetahui penyebab dan dampak
yang ditimbulkan oleh pemanasan global, terkadang masih banyak orang yang seakan
tidak peduli. Hal tersebut ditandai dengan berbagai aktivitas atau kegiatan manusia
atau masyarakat yang memicu atau menyebabkan percepatan proses pemanasan
global (global warming).
Riyanto (2007, hlm. 74) menjelaskan aktivitas atau kegiatan tersebut, antara lain
dapat dilihat dalam kehid upan sehari-hari alam hal :
a. Masih tingginya penggunaan alat kebutuhan berbahan baku yang tidak
mudah hancur dalam waktu singkat/cepat, seperti pemakaian alat kebutuhan
terbuat dari plastik.
b. Pemakaian AC berlebihan.
c. Tidak ada pemisahan limbah organik dan non organik.
d. Belum adanya pembatasan pemakaian bahan bakar yang memakai energi
fosil (minyak bumi).
e. Alternatif bahan bakar pengganti bahan bakar yang berasal dari energi fosil
belum diterapkan secara optimal.
f. Reklamasi pantai.
g. Pengambilan air tanah berlebihan yang dapat menurunkan permukaan air
tanah.
h. Sanksi kurang tegas terhadap pelanggar yang menimbulkan pencemaran.

C. Upaya Antisipasi Dampak Pemanasan Global


Pemanasan global merupakan fenomena alam besar pengaruhnya terhadap
kehidupan di planet bumi. Menurut Bratasida (dalam Suwendi, 2005, hlm. 397) pada

16
Seminar Nasional Pengaruh Pemanasan Global terhadap Pesisir dan Pulau-Pulau
Kecil, menyebutkan bahwa:
terjadinya pemanasan global telah diidentifikasi oleh Intergovermental Panel on
Climate Change (IPPC) di Genewa Tahun 1996. Indikasi terdapatnya pemanasan
global tersebut dapat ditunjukkan oleh adanya data peningkatan suhu rata-rata
dunia sebesar 0.3C sampai 0.6C. Dimana data tersebut didasarkan pada data
pengukuran di akhir Abad 19 dengan data pengukuran diakhir tahun 1980-an dan
awal tahun 1990-an.
Dengan adanya perubahan suhu tersebut mempengaruhi juga perubahan pada
pola angin yang juga akan mempengaruhi pola hujan suatu daerah. Perubahan pola
hujan ini lama kelamaan akan merubah pula pola iklim dunia dan tentunya akan
berimplikasi pada kehidupan manusia dan makluk hidup yang ada di dalamnya.

Penyebab terjadinya pemanasan global dipengaruhi oleh aktivitas alam (alamiah)


serta aktivitas manusia. Namun sejauh ini aktivitas manusia lebih banyak
berkontribusi dalam mempercepat terjadinya pemanasan global. Salah satu contohnya
seperti yang dipaparkan Supriatna (2016, hlm.89) bahwa sejarah revolusi insutri di
berbagai negara mencatat adanya peningkatan penggunaan mesin pabrik dan
kendaraan bermotor berbahan bakar fosil (minyak bumi) yang telah menghasilkan
emisi dan menyebabkan semakin buruknya kualitas udara di perkotaan sehingga
meningkatkan global warming. Selain itu aktivitas seperti deforestasi, eskploitasi
SDA yang berlebihan, konflik ideologi antara kapitalis, sosialis, komunis,
neoliberalis, dan lainnya, serta perilaku konsumen yang tidak ramah lingkungan
semakin mempercepat terjadinya global warming. Akibatnya terjadi ketidak
seimbangan alam yang tentunya hal ini mengancam keberlangsungan kehidupan di
bumi.

Sebagai upaya untuk menanggulangi permasalahan yang ditimbulkan akibat


pemanasan global maka perlu mengembalikan keseimbangan alam. Soedjatmoko
(1986, hlm. 83) menyebutkan bahwa keserasian dengan alam untuk menghadapi masa
depan, bukan persoalan pengetahuan dan konsepsi intelektual semata. Hal ini
meliputi rasa, yaitu induk pengelihatan dan pemikiran. Selain itu perlu adanya
kemampuan intuitif, ekspresif, dan estetis serta kemampuan berkomunikasi non-

17
verbal. Dengan demikian akan menghasilkan kreatifitas yang dapat turut mewujudkan
suatu kebudayaan baru yang berlandaskan kecukupan dalam tingkat hidup material
untuk rakyat banyak dan kekayaan dalam aspek yang membawa kebahagiaan hidup.
Dengan demikian untuk mewujudkan keselarasan alam diperlukan manusia yang
memiliki kepekaan dalam menanggapi keterkaitan antara tindakan manusia dan
dampaknya bagi lingkungan.

Sejalan dengan hal tersebut, Supriatna (2016, hlm. 24) memaparkan mengenai
kecerdasan ekologis. Kecerdasan ekologis menggambarkan kemampuan atau
kapasitas seseorang dalam melakukan tindakan yang terkait dengan aspek ekologis
yaitu pelestarian alam. Untuk dapat mengembangkan kecerasan ekologis tidak hanya
didasari aspek kognitif, tatapi juga didukung oleh aspek afektif dan psikomotorik.
Adapun aspek kognitif berupa pemahaman bahwa alam menunjang kehidupan semua
makhluk hidup di bumi, sedangkan aspek afektif berupa hastrat untuk menjaga alam
didasari oleh pengetahuan mengenai lingkungan hidup yang telah ia ketahui.
Selanjutnya aspek psikomotorik berupa tindakan untuk menjaga kelestarian alam.

Sebagai upaya untuk meningkatkan kecerdasan ekologis pada diri peserta didik
dapat dilakukan melalui pembelajaran sejarah berbasis green history. Supriatna
(2014, hlm. 72) menjelaskan bahwa konsep Green History merupakan sebuah
gugatan terhadap paradigma sejarah yang menempatkan manusia sebagai penentu
dalam perjalanan sejarah. Green history menempatkan manusia dalam posisi yang
equal dengan alam dan bukan pelaku utama dalam menentukan perjalanan sejarah.
Green History mencoba merefleksi kembali peristiwa-peristiwa di masa lalu untuk
orientasi keberlangsungan hidup di masa yang akan datang.

Pendekatan ecopedagogy dan green history dalam pembelajaran sejarah


khususnya untuk memahami hubungan manusia dan lingkungan merupakan sebuah
inovasi demi tercapainya perubahan pendidikan yang lebih baik. Hal ini didukung
juga oleh kurikulum 2013 yaitu berupa dimasukannya unsur karakter dalam
Kompetensi Inti ke-2 Kurikulum 2013, karakter peduli lingkungan. Dalam
pengembangan pembelajaran menurut Kurikulum 2013, guru sejarah dapat

18
memasukkan pengalaman masa lalu masyarakat ke dalam pengembangan materi
sejarah yang mengandung unsur atau nilai-nilai pentingnya hidup selaras dengan
alam.

Terdapat banyak materi sejarah yang dapat dikaitkan dengan permasalahan


lingkungan. Melalui pendekatan green history, pembelajaran sejarah dapat
menginternalisasikan nilai-nilai mengenai pentingnya kehidupan selaras dengan alam
diantaranya seperti materi-materi berikut ini:

1. Masyarakat Pra-aksara: Kemampuan beradaptasi dengan lingkungan


Kosmologi lingkungan hidup dan masyarakat tradisional
2. Peradaban tua di dunia: Kemampuan masyarakat sekitar sungai dalam
mengendalikan alam dan hidup selaras dengan alam
3. Revolusi industry: Dampak revolusi industri pada lingkungan hidup
Eksploitasi sumber daya alam untuk kebutuhan industri
4. Gerakan rakyat menentang imperialisme: Kearifan lokal menjaga kelestarian
lingkungan. (Supriatna, 2014, hlm.74)

Selain melalui pendidikan dengan membangun kecerdasan ekologis, upaya dalam


menghadapi terjadinya pemasan global bisa dikategorikan ke dalam dua upaya yaitu
upaya pencegahan dan upaya penanggulangan/ pemulihan. Upaya pencegahan
ditujukan untuk memperlambat/ mengurangi proses pemanasan global. Upaya-upaya
tersebut seperti yang dipaparkan Suwendi (2005, hlm. 400) antara lain adalah:

1. Mengurangi aktivitas yang menghasilkan GRK dan mengurangi penggunaan


bahan perusak ozon (BPO). Hal ini dapat dilakukan dengan cara mengurangi
emisi gas karbon dengan mengurangi proses pembakaran sampah dan
serasah di tempat pembuangan akhir (TPA), kawasan pertanian , peternakan
dan kawasan lainnya. Selain itu dapat melalui Penciptaan dan penggalaan
penggunaan alat-alat yang ramah lingkungan serta membangun pembangkit
listrik yang tidak menggunakan bahan bakar fosil ( PLT Air, PLT Angin,
PLTS, PLTN, PLT Fuell Cell)

19
2. Menjaga keberadaan daerah terbuka hijau dalam upaya memepertahankan
keberadaan daerah resapan air maupun penyerap karbon. Hal ini dapat
dilakukan dengan cara meningkatkan keberadaan hutan kota/ kabupaten
serta lahan terbuka hijau lainnya. Mencegah pembangunan di daerah resapan
air serta mencegah konversi ruang terbuka hijau menjadi daerah terbangun.
3. Melakukan perencanaan tata ruang yang berwawasan lingkungan yang
memadukan antara perencanaan ruang laut, pesisir dan daratan.
4. Peningkatan kepedulian masyarakat terhadap upaya memperlambat/
mencegah meningkatnya pemanasan global

Upaya penanggulangan ditujukan untuk mengurangi dampak atau akibat dari


pemanasan global yang sudah terjadi. Upaya-upaya tersebut antara lain adalah:

1. Peningkatan sarana dan prasarana penanggulangan bencana banjir dan


kekeringan
2. Merehabilitasi lahan kritis dengan cara penggalakan penanaman pohon
(reboisasi) sebagai upaya memperbanyak media penyerap gas karbon serta
meningkatkan ketersediaan cadangan air
3. Peningkatan penanganan lingkungan dan habitat pesisir
4. Peningkatan pelayan kesehatan masyarakat.

Untuk meminimalisir dapak pemanasan global terdapat banyak cara. Berikut


upaya yang dapat dilakukan untuk meminimalisir dampak pemanasan global:

1. Konservasi lingkungan, dengan melakukan penanaman pohon dan


penghijauan di lahan-lahan kritis. Tumbuhan hijau memiliki peran dalam
proses fotosintesis, dalam proses ini tumbuhan memerlukan karbondioksida
dan menghasilkan oksigen. Akumulasi gas-gas karbon di atmosfer dapat
dikurangi.
2. Upaya pendidikan kepada masyarakat luas dengan memberikan pemahaman
dan penerapan atas prinsip-prinsip sebagai berikut:
a. Dimensi manusia

20
Manusia memanfaatkan alam guna memperoleh sumber makanan dan
kebutuhan sosial lainnya, tetapi disadari atau tidak tindakannya dapat
berakibat kerusakan faktor-faktor ekologis. Karena itu manusia harus
menyadari bahwa ia dan perilakunya adalah bagian dari alam dan
lingkungan yang saling mempengaruhi.

b. Penegakan hukum dan keteladanan

Penegakan hukum lingkungan menjadi bagian yang penting guna


menjaga kelestarian lingkungan, dan memberi efek jera bagi yang
melanggar. Penegakan hukum tidak memandang strata sosial masyarakat.
Selain itu adalah panutan dan ketokohan seseorang memegang peranan
penting. Mereka yang memiliki pemahaman yang lebih baik (berpendidikan)
terhadap lingkungan hidup hendaknya berperan memberi contoh dan sikap
lingkungan yang baik pula kepada masyarakat.

c. Keterpaduan

Seluruh elemen masyarakat harus mendukung upaya pelestarian


lingkungan dan sumberdaya alam serta penegakan hukumnya. Upaya ini
harus dilakukan secara komprehensif dan lintas sektor.

d. Mengubah pola pikir dan sikap

Faktor-faktor lingkungan fisik, mahluk hidup lain dan manusia memiliki


peran masing-masing dalam lingkungan hidup. Manusia sebagai mahluk
yang diberi kemampuan logika harus mampu memandang kepentingan
hidupnya terkait dengan kehidupan mahluk hidup lain beserta kejadian
proses-proses alam. Sikap dan perilaku manusia terhadap alam cepat atau
lambat memberi berdampak pada lingkungan hidupnya. Peduli terhadap
lingkungan pada dasarnya merupakan sikap dan perilaku bawaan manusia.
Akan tetapi munculnya ketidak pedulian manusia adalah pikiran atau
persepsi yang berbeda-beda ketika manusia berhadapan dengan masalah
lingkungan. Manusia harus memandang bahwa dirinya adalah bagian dari

21
unsur ekosistem dan lingkungannya. Naluri untuk mempertahankan hidup
akan memberi motivasi bagi manusia untuk melestarikan ekosistem dan
lingkungannya.

e. Etika lingkungan

Dalam wujud budaya tradisional, kearifan lokal melahirkan etika dan


norma kehidupan masyarakat dalam memanfaatkan sumber daya alam dan
lingkungannya. Selama masyarakat masih menghormati budaya tradisional
yang memiliki etika dan nilai moral terhadap lingkungan alamnya, maka
konservasi sumber daya alam dan lingkungan menjadi hal yang mutlak.
Dalam kehidupan masyarakat demikian, etika lingkungan tidak tampak
secara teoretik tetapi menjadi pola hidup dan budaya yang dipelihara oleh
setiap generasi. Etika lingkungan akan berdaya guna jika muncul dalam
tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari (Utina, 2015, hlm.9-10).

Sementara solusi untuk perubahan iklim menurut aktivis lingkungan Greenpeace


adalah sebagai berkut:

1. Pastikan emisi tertinggi terjadi pada tahun 2015 dan setelahnya turun secara
drastis menuju kemungkinan nol.
2. Negara maju harus memangkas 40% dari 1990 emisi mereka pada tahun
2020.
3. Negara berkembang, dengan dukungan negara-negara industry, harus
memperlambat pertumbuhan emisi menjadi 15-30 % pada 2020.
4. Lindungi hutan tropis dengan mekanisme pendanaanhutan untuk iklim
5. Gantikan energi fosil yang kotor dengan energi terbarukan dan efiseinsi
energi
6. Tolak solusi yang sangat keliru seperti energi nuklir.
7. Energi terbarukan berpotensi dapat memenuhi kebutuhan energi kita. Saat
ini kita mendapatkan kurang dari 1% energi listrik dari Angin, Panas Bumi
(Geothermal), air dan matahari.

22
Semua upaya yang telah disebutkan diatas tidak akan berarti bagi bumi ini
apabila hanya dilakukan oleh segelintir orang. Begitupun sebaliknya, hal yang kecil
yang ramah lingkungan jika dilakukan bersama-sama dan menjadi sebuah kebiasaan
bersama akan berpengaruh besar bagi lingkungan. Maka dengan demikian diperlukan
adanya kerjasama antara semua unsure kehidupan di bumi ini untuk melakukan upaya
yang sama dalam menjaga kelestarian alam. Seperti dalam perkuliah ecopedagogy
bahwa setiap tindakan kecil yang ramah lingkungan sangat berarti bagi kelestarian
lingkungan, karenanya kita bisa memulai dari diri sendiri untuk membiasakan hidup
ramah lingkungan dan menularkannya pada masyarakat lain.

23
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Kerusakan lingkungan telah terjadi sejak zaman kuno. Bahkan salah satu
peradaban di dunia yaitu perdaban lembah Sungai Indus hancur karena pengrusakan
alam. Peradaban Lembah Sungai Indus diperkirakan hancur diterjang banjir bandang.
Pohon-pohon di sekitar sungai yang merupakan penahan air banyak ditebang untuk
digunakan membangun peradaban. Degradasi lingkungan lebih disebabkan karena
pertumbuhan ekonomi yang mengeksploitasi secara berlebihan sepanjang sejarah
dunia sejak millennium ke-3 SM. . Menurut Ponting, krisis lingkungan disebabkan
oleh beberapa faktor seperti pertumbuhan penduduk, urbanisasi, deforestasi,
industrialisasi dan lainnya. Pengaruh perkembangan industrialisasi yang merupakan
salah satu faktor terjadinya kerusakan lingkungan perlu dikaji lebih lanjut. Peristiwa
penting yang mendorong percepatan pemanasan global adalah revolusi industri yang
terjadi pada pertengahan abad 19, merupakan titik tolak dari terjadinya perubahan
besar-besaran dalam pola kehidupan manusia. Revolusi adalah perubahan sosial dan
kebudayaan yang berlangsung secara cepat dan menyangkut dasar atau pokok
kehidupan masyarakat.

Revolusi Industri adalah perubahan yang cepat di bidang ekonomi yaitu dari
kegiatan ekonomi agraris menjadi ekonomi industri yang menggunakan mesin dalam
mengelola bahan mentah menjadi bahan siap pakai. Revolusi Industri telah mengubah
cara kerja manusia dari penggunaan tangan menjadi penggunaan mesin. Dari situlah
kemudian manusia banyak melakukan ekplitasi besar-besaran terhadapa alam dan
penciptaan produk-produk tidak ramah lingkungan yang mempercepat terjadinya
pemanasan global.Sejak abad 19, rata-rata temperatur planet Bumi meningkat sekitar
satu derajat Fahrenheit (0,6 derajat celcius). Sedangkan kombinasi laut dan daratan
pada tahun 2000 adalah sebesar 0,29 derajat celcius di atas rata-rata suhu pada tahun
1961-1990. Pengamatan terbaru dari pemanasan mendukung teori bahwa gas rumah

24
kaca pemanasan dunia. Lebih dari abad terakhir, planet ini telah mengalami
peningkatan suhu permukaan terbesar dalam 1.300 tahun.

Pemanasan global memiliki banyak dampak negative terhdap alam diantaranya,


mencairnya lapisan es di kutub Utara dan Selatan, meningkatnya intensitas fenomena
cuaca yang ekstrim, punahnya berbagai jenis flora dan fauna, habitat hewan berubah
akibat perubahan faktor-faktor suhu, kelembaban dan produktivitas primer,
peningkatan muka air laut, ketinggian gunung-gunung tinggi berkurang akibat
mencairnya es pada puncaknya, perubahan tekanan udara, suhu, kecepatan dan arah
angin menyebabkan terjadinya perubahan arus laut, berubahnya habitat
memungkinkan terjadinya perubahan terhadap resistensi kehidupan larva dan masa
pertumbuhan organisme tertentu, dan mengancam kerusakan terumbu karang di
kawasan segitiga terumbu karang yang ada di enam negara, yaitu Indonesia,
Malaysia, Kepulauan Salomon, Papua Nugini, Timor Leste, dan Philipina.

Untuk meminimalisir dapak pemanasan global terdapat banyak cara,


diantaranya dengan melakukan penanaman pohon dan penghijauan di lahan-lahan
kritis. Tumbuhan hijau memiliki peran dalam proses fotosintesis, dalam proses ini
tumbuhan memerlukan karbondioksida dan menghasilkan oksigen. Akumulasi gas-
gas karbon di atmosfer dapat dikurangi. Kemudian upaya pendidikan kepada
masyarakat luas dengan memberikan pemahaman dan penerapan atas prinsip-prinsip
,dimensi manusia,penegakan hukum dan keteladanan, keterpaduan, mengubah pola
pikir dan sikap, etika lingkungan.

B. Saran
Upaya untuk mengurangi pemanasan global merupakan tugas berasama seluruh
umat manusia di muka bumi ini. Untuk masyarakat kecil mulailah dari hal yang kecil
yaitu dengan menjalani hidup yang ramah terhadap lingkungan. Dengan menghemat
listrik, bahan bakar fosil, serta dengan tidak membeli barang-barang yang tidak ada
nilai guna menjadi langkah yang pasti untuk mengurangi pemasanasan global.
Bayangkan jika seluruh manusia dalam satu hari melakukan hal itu maka berapa
emisi rumah kaca yang bisa dikurangi, dan bayangkan jika itu dilakukan secara

25
konsisten terus-menerus alam pasti akan terselamatkan. Kita tidak boleh hanya
mengandalkan kebijakan dari pemerintah dari negara-negara di dunia ini untuk
mengurangi pemanasan global.

Negara-negara di dunia cenderung lebih memilih keuntungan ekonomi dengan


mengorbankan alam daripada memelihara alam. Mereka telah dikuasi oleh korporasi-
korporasi kapitalis pemegang modal yang tidak pernah puas untuk mengumpulkan
kekayaan. Saatnya kita sebagai masyarakat kecil untuk bergerak melawan kekuatan
kaum minoritas kapitalis yang telah banyak mengorbankan alam demi
kepentingannya sendiri. Kita tidak hidup untuk hari ini, tapi kita hidup untuk masa
depan generasi berikutnya. Jangan beri mereka kesusahan karena kita sekarang
bermusuhan dengan alam, tapi berikan mereka tempat terbaik untuk tinggal karena
kita sahabat alam.

26
DAFTAR PUSTAKA

Adedeji, Olufemi dkk.(2014). Global Climate Change. Journal of Geoscience and


Environment Protection, 2014 (2),hlm.114-122.
Bailey, Daniel.(2015). Are we heading into a new Ice Age?. [Online]. Diakses dari
https://skepticalscience.com/heading-into-new-little-ice-age.htm.Diakses pada
26 maret 2017.
Bhattacharjee, Pijush Kanti.(2010). Global Warming Impact on the Earth.
International Journal of Environmental Science and Development,1
(3),hlm.209-210.
Cahyono, W. E. (2002). Pengaruh pemanasan global terhadap lingkungan bumi.
Jurnal Lapan, 8 (2), hlm. 28-31.
Djaja, W. (2012). Sejarah Eropa. Yogyakarta: Ombak.
Greenpeace. (Tanpa Tahun). Solusi. [Online]. Diakses dari
http://www.greenpeace.org/seasia/id/campaigns/perubahan-iklim-
global/Energi-Bersih/. Diakses pada 26 Maret 2017.
Hadi, Mahardika Satria.(2016).Kapan Zaman Es Berikutnya?.[Online].Diakses dari
https://m.tempo.co/read/news/2012/01/10/095376546/kapan-zaman-es-
berikutnya. Diakses pada 26 Maret 2017.
Houghton, John.(2011, Agustus). Global Warming, Climate Change And
Sustainability: Challenge to Scientists, Policy Makers and Christians. The
John Ray Initiative (JRI), hlm.2.
Riyanto. (2007). Strategi mengatasi pemanasan global (global warming). Jurnal
Universitas Muhammadiyah Semarang, 3 (2), hlm. 67-79.
Riebeek, Holli.(2007).Global Warming.[Online].Diakses dari
http://earthobservatory.nasa.gov/Features/GlobalWarming/.Diakses pada 26
Maret 2017.
Soejatmoko. (1986). Dimensi Manusia dalam Pembangunan. Jakarta: LP3ES.

27
Supriatna, Nana. (2014). Green history dalam kurikulum 2013: belajar dari
pengalaman historis hubunhgan manusia dengan alam, Prosiding Seminar
Nasional 2014. Malang: Fakultas Ilmu Soial Universitas Negeri Malang.
Supriatna, Nana. (2016). Ecopedagogy: Membangun kecerdasan ekolgis dalam
pembelajaran IPS. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Suwendi, Nawa. (2005). Upaya Pencegahan dan Penggulangan Dampak Pemanasan
Global. [Pdf]. Tersedia http://ejurnal.bppt.go.id. [22 Maret 2017].
Tol, Richard S. J.(2009). The Economic Effects of Climate Change.Journal of
Economic Perspectives, 23 (2), hlm.29-51.
Utina, R. (2015). Pemanasan Global: Dampak dan upaya meminimalisasinya.
[Pdf]. Tersedia: http://repository.ung.ac.id. [22 Maret 2017].

28