Anda di halaman 1dari 14

Mekanisme Kerja pada Jantung

Magdalena Enna Lauretha 102016075


Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jalan Arjuna Utara no. 6, Kebon Jeruk, Jakarta Barat
Email: magdalena.2016fk075@civitas.ukrida.ac.id
Abstrak

Jantung merupakan organ yang menjadi bagian vital bagi manusia. Jantung memompa darah
yang membawa oksigen, nutrisi dan hasil sisa metabolisme dari tubuh. Selain itu jantung dapat
mengatur dirinya dalam berbagai kondisi. Jantung memiliki mekanisme sendiri yang sangat
teratur sehingga kerjanya konstan tanpa hambatan sehingga memungkinkan manusia untuk terus
beraktifitas sehari-hari. Dengan pembuluh sebagai jalannya, dan darah sebagai alat
transportasinya, sirkulasi di tubuh manusia menjadi lengkap saat semuanya bekerja sama dengan
baik. Kerusakan jantung secara anatomis maupun fisiologis akan mengganggu aktifitas manusia
secara keseluruhan baik jangka pendek maupun jangka panjang.

Kata Kunci : jantung, mekanisme jantung, aktivasi listrik jantung

Abstrack

The heart is a vital organ that is part to humans. The heart pumps blood that carries oxygen,
nutrients and metabolic waste results from the body. Besides the heart can regulate itself in a
variety of conditions. The heart has its own mechanism very regularly so that it works without a
hitch constant allowing people to continue their daily activities. With the vessel as a method, as a
means of transportation and blood circulation in the human body became complete when
everything works well together. Damage to the heart of the anatomical and physiological human
activity would disrupt the overall short and long term.

Keywords: cardiac, cardiac mechanism, heart electrical activation

1
Pendahuluan

Jantung merupakan organ vital bagi manusia. Hal ini karena jantung merupakan organ
yang berfungsi sebagai pompa untuk menyalurkan darah segar berisi nutrisi ke seluruh tubuh
serta berfungsi untuk menjadi pompa menyalurkan darah kotor berisi CO2 ke paru-paru untuk
ditukar dengan O2 dari lingkungan. Darah yang dipompa oleh jantung mengalir melalui saluran
pembuluh darah yang terbagi atas arteri yang merupakan saluran dari jantung ke seluruh tubuh
dan vena yang akan menjadi saluran darah ketika akan kembali ke jantung.
Ketika suplai darah yang membawa nutrisi terganggu akan mengakibatkan tubuh
kekurangan nutrisi. Secara harafiah jantung akan berusaha menyuplai nutrisi dengan cara
meningkatkan kerjanya namun pada keadaan tertentu ketika jantung benar-benar tidak mampu
memenuhi kebutuhan tubuh akan menyebabkan gangguan.

Makroskopis Jantung

Jantung merupakan organ yang terbentuk dari otot-otot jantung atau miocardium yang
memiliki rongga di dalamnya. Jantung pada umumnya berbentuk kerucut dengan ukuran seperti
satu tangan yang di kepal. Jantung di dalam dada duduk di atas diaphragma di antara bagian
inferior kedua paru. Jantung di bungkus oleh suatu membran yang disebut pericardium yang
berfungsi menjaga jantung dari gesekan.1

Jantung terletak di dalam mediastinum media pars inferior, di ventralnya ditutupi oleh
sternum dan cartilago costalis III-VI. Jantung memiliki apex atau puncak yang terletak di sebelah
inferior anterior sinistra. Pada orang dewasa, jantung memiliki ukuran panjang 12 cm, lebar 8-9
cm, berat jantung pada laki-laki berkisar antara 280-350 gram, sementara pada wanita berkisar
antara 230-280 gram.

Selaput yang membungkus jantung disebut pericardium dimana terdiri antara lapisan
fibrosa dan serosa. Dalam cavum pericardii berisi 50 cc yang berfungsi sebagai pelumas agar
tidak ada gesekan antara pericardium dan epicardium. Epicardium adalah lapisan paling luar dari
jantung, lapisan berikutnya adalah laipasan miokardium dimana lapisan ini adalah lapisan yang
paling tebal. 1

Jantung memiliki 4 ruang yaitu 2 atrium dan 2 ventrikel, yaitu :

2
Atrium dextrum, mengeluarkan darah yang kurang beroksigen dari jaringan
tubuh. Atrium dextrum terbagi atas atrium propria dan auricula dextra. Atrium
propria dibagi atas ostium v. Cava superior, ostium v. Cava inferior, ostium sinus
coronarius, foramina vanarum minimarum, fossa ovalis, dan tuberculum
intervenosum. Auricula dextra berhubungan dengan sulcus terminalis yang
merupakan batas auricula dengan atrium.
Atrium sinistrum, menerima darah yang kaya oksigen dari paru-paru untuk
nantinya disalurkan keseluruh tubuh untuk proses metabolisme. Terdiri dari dua
bagian, yaitu atrium proprium dan auricula. Dimana pada atrium proprium ini
bermuara 4 vena pulmonalis dan masing masing sisi bermuara 2 vena (ostium vv.
Pulmonale dan ostium atrioventricularis sinister)
Ventriculus dexter, memompa darah ke paru-paru. Ventrikel ini meliputi sebagian
besar fascies sternococtalis. Terdapat ostium atrioventrikularis dextra/valva
trikuspidalis, trabekula carneae, m. Papilaris, ostium trunci pulmonalis.
Ventriculus sinistrum, memompa darah ke seluruh jaringan tubuh. Sehingga
dinding ventrikel kiri lebih tebal daripada ventriculus dexter. Ventrikel ini terletak
sebagian kecil di fascies sternocostalis dan separuh di fascies diaphragmatica.
Terdapat ostium atrioventrikularis sinistra/valva mitralis, trabekula carneae, m.
Papilaris, chorda tendinae, dan ostium aorticum (valvula semilunaris) 1

Pada permukaan luar jantung dapat di jumpai alur-alur yang terbentuk pada permukaan
jantung yaitu sulcus coronarius, sulcus interventricularis anterior (sulcus longitudinalis anterior),
dan sulcus interventricularis posterior (sulcus longitudinalis posterior).

Dinding atrium lebih tipis daripada dinding ventrikel. Selain itu, dinding atrium lebih
rata, sedangkan dinding ventrikel terdapat tonjolan-tonjolan yang disebut trabekula. Trabekula
yang tonjolannya nyata disebut M. Papilaris, melanjut sebagai chorda tendinae. Dua pasang
rongga di masing-masing belahan jantung disambungkan oleh sebuah katup. Katup di antara
atrium dextra dan ventrikel dextra disebut katup atrioventrikularis dextra atau biasa disebut
sebagai katup trikuspidalis, dan katup di antara atrium sinistra dan ventrikel sinistra disebut
katup atrioventrikularis sinistra atau katup mitralis.

3
Gambar 1: Anatomi Jantung Tampak Anterior

Dan katup lainnya yaitu katup aorta dan katup pulmonalis yang dikenal sebagai katup
semilunaris yang terletak pada sambungan dimana tempat arteri-arteri besar keluar dari ventrikel.
Katup ini akan terbuka setiap kali tekanan di ventrikel dextra dan sinistra melebihi tekanan di
aorta dan arteri pulmonalis selama ventrikel berkontraksi dan mengosongkan isinya. Katup ini
akan tertutup apabila ventrikel melemas dan tekanan ventrikel turun di bawah tekanan aorta dan
arteri pulmonalis. Katup yang tertutup mencegah aliran balik dari arteri ke ventrikel.

Hubungan jantung dengan sekitarnya : ruangan pada cavum thoracis terletak antara
pulmo dextra dan sinistra di atas diafragma dibelakang sternum dan costae disebut dengan
mediastinum. Mediastinum di bagi menjadi :

1. Mediastinum superior, terisi sebagian besar oleh pembuluh-pembuluh darah besar


dari jantung.

2. Mediastinum inferior di bagi menjadi :

Mediastinum anterior : jaringan lemak dan lymphonodi

Mediastinum media : pericardium yang meliputi cor dan pembuluh darah


yang keluar masuk jantung

Mediastinum posterior : aorta desecendes (ductus thoracica). Ductus


thoracica, v. Azygos dan hemiazygos, dan esophagus.2

4
Sruktur Mikroskopis Jantung dan Pembuluh Darah
Pembuluh Darah

Darah di pompa dari jantung ke seluruh tubuh melalui suatu saluran yang dikenal sebagai
pembuluh nadi. Dari jantung darah akan melalui arteri besar (aorta), arteri sedang, arteri kecil
(arteriol) kemudian kapiler. Kemudian darah kembali lagi ke jantung melalui kapiler, venula,
vena kecil, vena sedang, kemudian vena besar.

Pembuluh darah terdiri dari 3 :

1. Arteri, menyalurkan darah dari jantung ke seluruh tubuh (distribusing system). Ada
arteri besar, sedang, kecil, dan alveolar

2. Vena, mengumpulkan darah dari tubuh untuk disalurkan ke jantung (collecting


system). Ada vena besar, sedang, kecil, dan venular.

3. Kapiler, tempat pertukaran zat. Peralihan dari arteriol ke venular.

Susunan umum pembuluh darah terdiri dari :

1. Tunika Intima : endotel (epitel selapis gepeng) dan subendotel (jaringan ikat areolar)

2. Tunika media : jumlah jaringan ikat padat bervariasi dan otot polos

3. Tunika adventitia : Jaringan ikat dan serat saraf, pembuluh limfe dan vasa vasorum.3

Jantung

Struktur mikroskopis dinding jantung terdiri dari 3 lapisan :

1. Endokardium, terdiri atas :

Selapis endotel merupakan lapisan terdalam, terdiri atas selapis pipih

Lapisan subendotel : terdiri atas jaringan ikat yang mengandung sabut elastis
dan sedikit otot polos

Lapisan elastika muskuler : mengandung banyak sabut elastis dan sedikit otot
polos

5
Lapisan subendokardium :lapisan di bawah endokardium, menghubungkan
endokardium. Terdiri atas jaringan ikat longgar dengan pembuluh darah dan
kadang mengandung serat purkinye

2. Miokardium merupakan anyaman otot jantung yang tersusun berlapis-lapis secara


spiral sehingga daya pompanya besar. Otot-otot jantung saling berhubungan disebut
syncytium. Otot jantung mempunyai tanda khusus adanya interclated disc (discus
interkalaris), yaitu membran pemisah antara dua sel otot jantung yang bersebelahan.
Mengandung pembuluh-pembuluh darah dan serabut-serabut saraf tak bermielin.
Kapiler banyak. Kira-kira 2 kalinya kapiler pada otot bergaris. Miokardium atrium
dan miokardium ventrikel dipisahkan oleh annulus fibrosus.

3. Epikardium, lapisan paling luar yang disebut juga pericardium, terdiri dari 2 lapisan
yaitu pericardium visceralis dan pericardium pars parietalis. 3

Histologi Sistem Sirkulasi

Tiga kategori utama arteri adalah arteri elastis, arteri muskular, dan arteriol kecil. Diameter
arteri secara berangsur mengecil setiap kali bercabang sampai pembuluh terkecil, yaitu kapiler.
Arteri elastis adalah pembuluh paling besar di dalam tubuh. Di antaranya adalah trunkus
pulmonal dan aorta serta cabang-cabang utamanya. Dinding pembuluh ini terutama terdiri atas
serat elastis yang memberi kelenturan dan daya pegas selama aliran darah. Arteri elastis
bercabang menjadi arteri berukuran sedang, yaitu arteri muskular yang merupakan pembuluh
darah terbanyak dalam tubuh. Arteri muskular mengandung lebih banyak serat otot polos pada
dindingnya. Arteriol adalah cabang terkecil sistem arteri. Dindingnya terdiri atas satu sampai
lima lapisan serat otot polos. Dinding arteri secara khas mengandung tiga lapisan tunika
konsentris. Lapisan terdalam adalah tunika intima; terdiri atas endotel dan jaringan ikat
subendotel di bawahnya. Lapisan tengah adalah tunika media, terutama terdiri atas serat otot
polos yang mengitari lumen pembuluh. Lapisan terluar adalah tunika adventisia, terutama terdiri
atas serat-serat jaringan ikat. Arteri muskular berukuran sedang juga memiliki sebuaj pita
berombak tipis dari serat elastis yang disebut lamina elastika interna yang bersebelahan dengan
tunika intima. Pita lain terdiri atas serat-serat elastis berombak terdapat pada perifer tunika
media, disebut sebagai lamina elastika eksterna.4

6
Kapiler berangsur-angsur membentuk venula yang lebih besar; venula umumnya menyertai
arteriol. Darah balik mula-mula mengalir ke dalam venula pascakapiler, kemudian ke dalam vena
yang makin membesar. Untuk mudahnya, vena digolongkan sebagai kecil, sedang, dan besar.
Dibandingkan arteri, vena lebih banyak, berdinding tipis, berdiameter lebih besar, dan struktur
bervariasi lebih besar. Vena ukuran kecil dan sedang, terutama di ekstrimitas, memiliki katup.
Saat darah mengalir ke arah jantung, katup terbuka. Saat akan mengalir balik, katup menutup
lumen dan mencegah aliran balik darah. Darah vena di antara katup pada ekstrimitas mengalir ke
arah jantung akibat kontraksi otot. Katup tidak terdapat pada vena SSP, vena cava inferior atau
superior dan vena visceral.4

Gambar 2: Histologi Arteri dan Vena Sedang

Dinding vena juga terdiri atas tiga lapisan, namun lapisan ototnya jauh lebih tipis. Tunika
intima pada vena besar terdiri atas endotel dan jaringan ikat subendotel. Tunika media tipis dan
tunika adventisia adalah lapisan paling tebal pada dindingnya. Dinding arteri dan vena yang lebih
besar terlalu tebal untuk menerima nutrien langsung melalui difusi dari lumennya. Itulah
sebabnya dinding pembuluh darah besar dipasok oleh pembuluh darahnya sendiri yang kecil,
disebut vasa vasorum (pembuluh darah pada pembuluh darah).4

Kapiler adalah pembuluh darah terkecil dengan diameter rata-rata 8 mikrometer, hampir
sama dengan diameter eritrosit. Terdapat tiga jenis kapiler; kapiler kontinu, kapiler betingkap
dan sinusoid. Kapiler kontinu paling umum dan ditemukan pada kebanyakan organ dan jaringan.

7
Pada kapiler ini, sel-sel endotel saling menyambung membentuk lapisan yang utuh. Sebaliknya,
kapiler bertingkap memiliki lubang-lubang bulat atau fenestra (pori) pada sitoplasma sel endotel.
Kapiler bertingkap demikian ditentukan dalam organ endokrin, usus halus, dan glomeruli ginjal.
Sinusoid adalah pembuluh darah yang berjalan berkelok-kelok, tidak teratur dengan diameter
yang jauh lebih besar dari kapiler lain. Sinusoid ditemukan di dalam hati, limpa, dan sumsum
tulang. Tautan sel endotel jarang ada pada sinusoid, dan celah-celah lebar terdapat di antara sel
endotel. Membran basalnya juga tidak utuh, bahkan kadang-kadang tidak ada pada sinusoid.4

Sirkulasi Darah Akibat Kerja Jantung

Darah yang kembali dari sirkulasi sistemik masuk ke atrium kanan melalui vena-vena besar
yang dikenal sebagai venakava. Tetes darah yang masuk ke atrium kanan kembali dari jaringan
tubuh, telah diambil O2 nya dan ditambahi CO2. Darah yang mengalami deoksigenisasi parsial
tersebut mengalir dari atrium kanan ke dalam ventrikel kanan, yang memompanya ke luar
melalui arteri pulmonalis ke paru. Dengan demikian, sisi kanan jantung memompa darah ke
dalam sirkulasi paru. Di dalam paru, tetes darah tersebut kehilangan CO2 ekstranya dan
menyerap O2 segar sebelum dikembalikan ke atrium kiri melalui vena pulmonalis. Darah kaya
oksigen yang kembali ke atrium kiri ini kemudian mengalir ke dalam ventrikel kiri, bilik pompa
yang mendorong darah ke semua sistem tubuh kecuali paru; jadi, sisi kiri jantung memompa
darah ke dalam sirkulasi sistemik. Arteri besar yang membawa darah menjauhi ventrikel kiri
adalah aorta. Aorta bercabang menjadi arteri besar untuk memperdarahi berbagai jaringan
tubuh.5

Berbeda dengan sirkulasi pulmonalis, yang seluruh darahnya mengalir melalui paru,
sirkulasi sistemik dapat dilihat sebagai rangkaian jalur-jalur paralel. Sebagian darah yang
dipompakan ke luar oleh ventrikel kiri menuju ke otot-otot, sebagian ke ginjal, sebagian ke otak,
dan seterusnya. Jadi, keluaran ventrikel kiri tersebar, sehingga tiap-tiap bagian tubuh menerima
pasokan darah segar; darah arteri yang sama tidak mengalir dari jaringan ke jaringan. Dengan
demikian, tetes darah yang kita ikuti hanya menuju ke satu jaringan sistemik. Jaringan
mengambil O2 dari darah dan menggunakannya untuk mengoksidasi zat-zat gizi untuk
menghasilkan energi; dalam prosesnya, sel-sel jaringan membentuk CO2 sebagai produk
buangan yang ditambahkan ke darah. Tetes darah, sekarang secara parsial kekurangan O2 dan
mengandung CO2 yang meningkat, kembali ke sisi kanan jantung. Satu sirkuit selesai.5

8
Kedua sisi jantung secara simultan memompa darah dalam jumlah yang sama. Volume
darah beroksigen rendah yang dipompa ke paru oleh sisi kanan jantung segera memiliki volume
yang sama dengan darah beroksigen tinggi yang dipompa ke jaringan oleh sisi kiri jantung.
Sirkulasi paru adalah sistem yang memiliki tekanan dan resistensi yang tinggi. Oleh karena itu,
walaupun sisi kiri dan kanan jantung memompa darah dalam jumlah yang sama, sisi kiri
melakukan kerja yang lebih besar karena ia memompa darah dalam jumlah yang sama ke dalam
sistem dengan resistensi tinggi. Dengan demikian, otot jantung di sisi kiri jauh lebih tebal
daripada otot di sisi kanan.5

Gambar 3: Bagan Sirkulasi Darah dalam Tubuh

Fungsi Atrium dan Ventrikel pada Jantung

Pada keadaan normal, darah mengalir secara terus menerus dari vena-vena besar menuju ke
atrium; kira-kira 80 persen dari darah tersebut akan mengalir langsung melewati atrium dan
masuk ke dalam ventrikel bahkan sebelum atrium berkontraksi. Selanjutnya, kontraksi atrium

9
biasanya menyebabkan tambahan pengisian ventrikel sebanyak 20 persen. Oleh karena itu,
atrium dikatakan berfungsi sebagai pompa primer yang meningkatkan efektivitas sebesar 20
persen tersebut, karena secara normal jantung sudah mempunyai kemampuan untuk
memompakan darah 3-4 kali lipat lebih banyak daripada yang sebenarnya dibutuhkan oleh tubuh
yang istirahat. Oleh karena itu, bila atrium gagal berfungsi, perbedaan ini tidak terlalu
diperhatikan kecuali kalau orang tersebut mengerahkan tenaga; dan kemudian timbul gejala-
gejala jantung akut, terutama sesak napas.6

Selama fase sistolik ventrikel, sejumlah besar darah terkumpul dalam atrium kiri dan kanan
karena katup A-V tertutup. Oleh karena itu, segera sesudah sistolik selesai dan tekanan ventrikel
turun lagi sampai ke nilai diastoliknya yang rendah, tekanan yang cukup tinggi telah terbentuk di
dalam atrium selama fase sistemik ventrikel, segera mendorong katup A-V agar terbuka sehingga
darah dapat mengalir dengan naiknya kurva volume ventrikel kiri. Keadaan ini disebut sebagai
periode pengisian cepat pada ventrikel. Periode pengisian cepat berlangsung kira-kira pada
sepertiga pertama dari diastolik. Selama sepertiga kedua dari diastolik, biasanya hanya ada
sedikit darah yang mengalir ke dalam ventrikel; darah ini adalah darah yang terus mengalir
masuk ke dalam atrium dari vena-vena, dan dari atrium langsung masuk ke ventrikel.6

Selama periode sepertiga akhir dari diastolik, atrium berkontraksi dan memberikan
dorongan tambahan terhadap aliran darah yang masuk ke dalam ventrikel; dan hal ini kira-kira
20 persen dari pengisian ventrikel pada setiap siklus jantung. Segera setelah ventrikel mulai
berkontraksi, tekanan ventrikel meningkat dengan tiba-tiba, sehingga menebabkan katup A-V
menutup. Selanjutnya dibutuhkan tambahan waktu sebanyak 0,02 sampai 0,03 detik bagi
ventrikel agar dapat membentuk tekanan yang cukup untuk mendorong katup semilunaris agar
terbuka melawan tekanan di dalam aorta dan arteri pulmonalis. Oleh karena itu, selama periode
ini, akan terjadi kontraksi di dalam ventrikel, namun belum ada pengosongan. Periode ini disebut
sebagai periode kontraksi isometrik atau isovolemik, yang berarti ada kenaikan tegangan di
dalam otot namun tidak ada atau terjadi sedikit pemendekan serabu-serabut otot.6

Mekanisme Kerja Jantung


Aktivitas Listrik Jantung

10
Kontraksi sel otot jantung untuk mendorong darah dicetuskan oleh potensial aksi yang
menyebar melalui membran sel-sel otot. Jantung berkontraksi atau berdenyut secara berirama
akibat potensial aksi yang ditimbulkannya sendiri, suatu sifat yang dikenal sebagai otoritmisitas.
Terdapat dua jenis khusus sel otot jantung :5

a. Ada 99% sel otot jantung adalah sel kontraktil yang melakukan kerja mekanis yaitu
memompa. Sel-sel pekerja ini dalam keadaan normal tidak menghasilkan sendiri
potensial aksi.
b. Sebaliknya, sebagian kecil sel sisanya, sel otoritmik tidak berkontraksi tetapi sebagai
penghantar potensial aksi yang bertanggung jawab untuk kontraksi sel-sel pekerja.

Sel-sel otoritmik jantung tidak memiliki fase potensial istirahat. Sel-sel tersebut
memperlihatkan aktivitas pemacu (pacemaker activity), yaitu membran mereka secara perlahan
mengalami depolarisasi, atau bergeser, antara potensial-potensial aksi sampai ambang tercapai,
pada saat membran mengalami potensial aksi. Melalui siklus pergeseran dan pembentukan
potensial aksi yang berulang-ulang tersebut, sel-sel otoritmis ini secara siklis mencetuskan
potensial aksi yang kemudian menyebar ke seluruh jantung untuk mencetuskan denyut secara
berirama tanpa perangsangan saraf apapun.5

Penyebab pergeseran potensial membran ke ambang masih belum diketahui. Secara umum
diperkirakan bahwa hal tersebut terjadi karena penurunan siklus fluks pasif K+ ke luar yang
berlangsung bersamaan dengan kebocoran lamban Na ke dalam. Di sel-sel otoritmik jantung,
antara potensial-potensial aksi permeabilitas K tidak menetap seperti di sel saraf dan sel otot
rangka. Permeabilitas membran terhadap K menurun antara potensial-potensial aksi, karena
saluran K diinaktifkan yang mengurangi aliran darah ke luar ion kalium positif mengikuti
penurunan gradien konsentrasi mereka. Karena influks pasif Na dalam jumlah kecil tidak
berubah, bagian dalam secara bertahap menjadi kurang negatif; yaitu, membran secara bertahap
mengalami depolarisasi dan bergeser ke arah ambang. Setelah ambang dicapai, terjadi fase naik
dari potensial aksi sebagai respons terhadap pengaktifan saluran Ca dan influks Ca kemudian;
fase ini berbeda dari otot rangka, dengan influks Na yang mengubah potensial aksi ke arah
positif. Fase turun disebabkan oleh efluks K yang terjadi karena peningkatan permeabilitas K.5

11
Sel-sel jantung yang mampu mengalami otoritmisitas ditemukan di lokasi-lokasi berikut
ini:5

a. Nodus sinoatrium (SA), daerah kecil khusus di dinding atrium kanan dekat lubang
(muara) vena cava superior
b. Nodus atrioventrikel (AV), sebuah berkas kecil sel-sel otot jantung khusus di dasar
atrium kanan dekat septum, tepat di atas pertautan atrium dan ventrikel.
c. Berkas His, suatu jaras sel-sel khusus yang berasal dari nodus AV dan masuk ke
septum antarventrikel, tempat berkas tersebut bercabang membentuk berkas kanan dan
kiri yang berjalan ke bawah melalui septum, melingkari ujung bilik ventrikel, dan
kembali ke atrium sepanjang dinding luar.
d. Serat purkinje, serat-serat terminal halus yang berjalan dari berkas His dan menyebar ke
seluruh miokardium ventrikel seperti ranting-ranting pohon.

Karena perbedaan depolarisasi lambat mereka, sel-sel otoritmik tersebut berbeda dalam hal
kecepatan normal untuk menghasilkan potensial aksi. Pada pembandingan dua sel otoritmik, sel-
sel jantung yang memiliki kecepatan pembentukan potensial aksi tertinggi terletak di nodus SA.
Sekali potensial aksi timbul di salah satu sel otot jantung, potensial aksi tersebut akan menyebar
ke seluruh miokardium melalui gap junction dan sistem penghantar khusus. Oleh karena itu
nodus SA, yang dalam keadaan normal memperlihatkan kecepatan otoritmisitas tertinggi 70-80
potensial aksi/menit, menjalankan bagian jantung sisanya dengan kecepatan ini dikenal sebagai
pemacu (pacemaker, penentu irama jantung). Jaringan otoritmik lain tidak mampu menjalankan
kecepatan mereka yang rendah, karena mereka sudah diaktifkan oleh potensial aksi yang berasal
dari nodus SA sebelum mereka mecapai ambang dengan irama mereka yang lebih lambat.5

Enzim Troponin-T Untuk Kontraksi Jantung

Otot serat lintang terutama terdiri dari dua tipe miofilamen, yaitu filamen tebal yang
mengandung miosin dan filamen tipis yang terdiri dari aktin, tropomiosin dan troponin. Troponin
yang berlokasi pada filamen tipis dan mengatur aktivasi kalsium untuk kontraksi otot secara
teratur, merupakan suatu protein kompleks yang terdiri dari 3 subunit dengan struktur dan fungsi
yang berbeda, yaitu : 1) Troponin T (TnT), 2) Troponin I (TnI), 3) Troponin C (TnC).7

12
Kompleks troponin menyebabkan aktifasi kalsium untuk kontraksi dan memodulasi fungsi
kontraktil otot serat lintang. Oleh sebab itu troponin dan tropomiosin disebut sebagai protein
pengatur. Meningkatnya kadar kalsium dalam sitosol dirangsang oleh depolarisasi membran sel
akibat penempatan sisi bebas ikatan kalsium pada troponin C. Peningkatan kalsium pada
troponin C menimbulkan perubahan pada kompleks troponin, sehingga terjadi pergeseran serat
tropomiosin. Perubahan serat tropomiosin menjadi berbalik dan menghadapkan sisi ikatan
miosin kearah molekul aktin, menyebabkan molekul dapat berikatan dengan molekul miosin.
Gaya elektrostatik menyebabkan bagian kepala molekul miosin miring dan geseran itu
menimbulkan kontraksi otot. Jika kalsium bebas tidak lagi yang dapat mengikat molekul TnC,
maka akan terjadi perubahan bentuk TnC. Hasilnya TnI mengikat aktin dan menghambat aktifasi
ATP-ase dari aktin- miosin, sehingga otot relaksasi.7

Berbagai tipe otot (otot skelet, otot jantung, otot polos) memiliki sifat kontraksi yang
berbeda. Sebagian secara genetik ditentukan oleh perbedaan dari struktur beberapa protein
kontraktil dan protein pengaturnya. Sebagai contoh, troponin T jantung dan otot skelet berbeda
pada komposisi asam aminonya sehingga dapat dibedakan secara imunologi. Perkembangan saat
ini memungkinkan dilakukannya suatu pemeriksaan imunologi untuk mengatur kadar troponin T
dalam plasma yang spesifik untuk jantung.7

Kesimpulan

Sistem kardiovaskular dalam tubuh memiliki peranan yang sangat penting bagi kehidupan
manusia. Dengan berbagai fungsi yang dapat dijalankannya, tubuh dapat memenuhi kebutuhan
organ-organ di dalamnya dengan baik. Pengaturan dan pengendalian sistem kardiovaskular
sangat berperan penting dalam menjaga kerja sistem ini tetap normal walaupun dapat
dipengaruhi oleh berbagai faktor-faktor yang berasal dari dalam maupun luar tubuh. Gangguan
maupun kerusakan pada sistem kardiovaskular dapat berakibat fatal bagi kelangsungan hidup
manusia, sehingga mekanisme kompensasi sangat dibutuhkan untuk tetap dapat mempertahankan
kehidupan.

13
Daftar Pustaka

1. Moore KL. Agus AMR. Anatomi klinis dasar. Jakarta: Hipokrates; 2002
2. Bogart BI, Ort VH. Elseivers integrated anatomy and embryology. Philadelphia: Mosby
Inc.; 2007. p. 60-1.
3. Craigmyle MBL. Atlas berwarna histology. Jakarta: EGC; 1990.p.45-52.
4. Eroschenko VP. Atlas histologi di fiore dengan korelasi fungsional. Ed 9. Jakarta: EGC;
2003.h.107
5. Sherwood L. Fisiologi manusia: dari sel ke sistem. Ed 2. Jakarta: EGC; 2001.h.260-7
6. Guyton AC, Hall JE. Buku ajar fisiologi kedokteran. Ed 11. Jakarta: EGC; 2008.h.112
7. Tarigan E. Hubungan kadar troponin-T dengan gambaran klinis penderita sindroma
koroner akut. Medan: USU digital library; 2003

14