Anda di halaman 1dari 11

BAB IV

METODE PENELITIAN

A. Rancangan Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan

rancangan studi cross sectional.

B. Populasi dan Sampel Penelitian

Populasi penelitian ini adalah semua pasien konjungtivitis yang

berobat di Bagian Mata RSUD Ulin Banjarmasin. Sampel penelitian ini

adalah pasien yang didiagnosis konjungtivitis bakteri oleh dokter spesialis

Mata di Bagian Poli Mata RSUD Ulin Banjarmasin selama bulan Juli sampai

September 2016 dengan berdasarkan gambaran klinis sebagai berikut:

-datang dengan keluhan mata merah

-terdapat sekret yang purulen

Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah total sampling.

C. Alat dan Bahan Penelitian

1. Bahan Penelitian

Bahan penelitian yang digunakan pada isolat bakteri yang berasal dari

swab mata penderita konjungtivitis bakteri di Poliklinik Mata RSUD Ulin

Banjarmasin periode Juli-September 2016 yang tumbuh pada media agar

darah, agar coklat, media Mac Conkey, reagenisia pengecatan Gram (Gram

16
Universitas Lambung Mangkurat
A, B, C, D), media BHI (Brain Heart Infussion), media citrat, media SIM

(Sulfit Indol Motility), media KIA (Kligler Iron Agar), NaCl, aquadest

sterile, larutan hydrogen peroksida (HO), kaca objek, kapas lidi steril,

handscoon, masker, dan minyak imersi.

2. Alat Penelitian

Alat yang digunakan adalah laminary flow, inkubator aerob, sungkup

lilin, mikroskop, kulkas, tabung reaksi, lampu Bunsen, ose bulat steril, pipet

tetes, ose lancip, mikroskop, termos es.

D. Variabel Penelitian

1. Variabel Utama

Variabel utama pada penelitian ini adalah jenis bakteri yang diisolasi

dari pasien yang dicurigai konjungtivitis bakteri di Poliklinik Mata RSUD

Ulin Banjarmasin.

2. Variabel Pengganggu

a. Kontaminasi alat dan bahan penelitian dikendalikan dengan melapisi alat

dan sampel atau bahan penelitian dengan aluminium foil serta melakukan

sterilisasi basah dan kering pada semua bahan yang digunakan pada

pengambilan dan penyimpanan sampel. Sterilisasi basah dengan

menggunakan autoklaf yang dipanaskan pada suhu 121 C selama 15 menit.

Sterilisasi kering dilakukan dengan menggunakan lampu Bunsen atau oven.

Pencegahan kontaminasi dengan bekerja secara asepsis selama isolasi,

penanaman, dan pemeriksaan.


b. Suhu dan kelembaban dari lingkungan dan penyimpanan dikendalikan

dengan memasukkan tabung reaksi yang berisi sampel penelitian ke dalam

termos berisi es selama pengambilan sampel sampai ke laboratorium. Suhu

penyimpanan dikendalikan dengan cara memasukkan tabung reaksi berisi

sampel penelitian kedalam inkubator dengan menggunakan suhu 37C

selama tahap inkubasi.

c. Dimasukkan ke termos es dan diatur suhunya sekitar 4C.

E. Definisi Operasional

1. Jenis bakteri adalah jenis spesies bakteri yang diisolasi dan tumbuh

pada media pertumbuhan dari pasien yang dicurigai konjungtivitis

bakteri di RSUD Ulin Banjarmasin periode Juli-September 2016.

2. Konjungtivitis bakteri adalah konjungtivitis dengan gejala sebagai

berikut:

-mata merah

-terdapat sekret yang purulen

3. Identifikasi bakteri adalah diperoleh dari usap konjungtiva dengan

kapas lidi steril pada pasien yang dicurigai konjungtivitis bakteri dan

menumbuhkan pada media pertumbuhan kemudian dilakukan

identifikasi bakteri.

F. Prosedur Penelitian

1. Persiapan Alat dan Bahan

2. Pengambilan Spesimen
Pengambilan spesimen dilakukan dengan langkah-langkah sebagai

berikut:

Pasien dianastesi lokal dengan pentocain 0,5% 1-2 tetes

Usap konjungtiva dari lateral ke medial

Kapas lidi diusap ke media (agar darah/Mac Conkey/agar coklat) dan

pada objek glass

Kapas lidi dimasukkan ke BHI (Brain Heart Infussion)

3. Pemeriksaan Mikroskopik Langsung Spesimen Swab Konjungtiva

Prosedur swab konjungtiva adalah sebagai berikut:

Kapas lidi steril dioleskan pada kaca objek dan ditunggu

beberapa saat sampai kering

Dilakukan pengecatan Gram dan diperiksa dibawah

mikroskop

Identifikasi adanya bakteri, leukosit dan epitel.

4. Penanaman dan Pembiakan

Media isolasi untuk bakteri yang digunakan adalah agar darah,Mac

Conkey dana agar coklat digunakan pada suhu 37C selama 18-24 jam.

Koloni kuman yang akan tumbuh kemudian diidentifikasi bakteri.

Identifikasi bakteri dalam 3 tahap, yaitu :

1. Identifikasi secara makroskopis berdasarkan sifat dan morfologi koloni

bakteri yang tumbuh di media pertumbuhan.


2. Identifikasi secara mikroskopis terhadap koloni yang tumbuh pada media

agar darah,Mac Conkey, dan agar coklat dengan pengecatan Gram.

Selanjutnya,melakukan identifikasi dengan melihat struktur bakteri

menggunakan mikroskop pada perbesaran objektif 100 X.

3. Identifikasi spesies berdasarkan sifat biokimia. Hasil bakteri Gram positif

berwarna ungu dan Gram negatif berwarna merah. Setelah diketahui Gram

positif dan Gram negatif, maka untuk bakteri Gram positif dilakukan tes

katalase, tes koagulase, tes novobiocyn, untuk bakteri Gram negatif

dilakukan tes biokimia dengan cara menggores bahan biakan dengan ose

bulat steril dan diletakkan di setiap tabung pemeriksaan. Tes biokimia yang

dilakukan terdiri dari :

a. KIA (Kligler Iron Agar), yaitu jenis media padat/agak miring, untuk

mengetahui apakah bakteri meragi glukosa dan laktosa serta untuk

mengetahui pembentukan HS.

b. SIM (Sulfit Indol Motility), yaitu jenis media setengah padat, untuk melihat

pergerakan bakteri. Hasil positif jika ada pergerakan koloni dari dasar sampai

atas media yang berarti bakteri tersebut bersifat motil.

c. Citrat, yaitu jenis media setengah padat, untuk mengetahui apakah bakteri

menggunakan sitrat sebagai satu-satunya sumber karbon atau tidak. Hasil

positif jika terbentuk warna biru.


Meminta menjadi subjek Menentukan
penelitian dengan subjek penelitian
menandatangani inform
consent

Pengambilan spesimen swab


konjungtiva

Dimasukkan ke Dioles pada Masukkan pada


media pertumbuhan objek glass Nacl/BHI

Identifikasi
Bakteri

Gambar 4.1 Skema prosedur penelitian gambaran isolat bakteri pada pasien
konjungtivitis di Poliklinik Mata RSUD Ulin Banjarmasin
G. Teknik Pengumpulan dan Pengolahan Data

Data jenis bakteri yang diperoleh lalu dikumpulkan melalui

pencatatan hasil identifikasi penyebab konjungtivitis bakteri di Bagian Mata

RSUD Ulin Banjarmasin berdasarkan pemeriksaan mikroskopis dan uji kimia

bakteri.

H. Cara Analisa Data

Data yang dikumpulkan selanjutnya dianalisis secara deskriptif yaitu

membandingkan ciri, struktur, dan sifat bakteri dari hasil identifikasi dengan

buku panduan identifikasi jenis-jenis bakteri. Selanjutnya, data dibuat

tabulasi dan dihitung persentasenya.

I. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan di Poliklinik Mata RSUD Ulin Banjarmasin dan

Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Lambung

Mangkurat. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli - September 2016,

dengan rincian kegiatan pada tabel


Tabel 4.1 Jadwal penelitian identifikasi penyebab konjungtivitis bakteri di
Bagian Poli Mata RSUD Ulin Banjarmasin
No Kegiatan Waktu Penelitian (Bulan )

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

Penyusunan
x x x
1 Proposal

2 Konsultasi x x x x x x x x

3 Seminar KTI 1 x

4 Perbaikan x

Pelaksanaan
x x x
5 Penelitian

6 Pengolahan Data x x x x

Penyusunan
7 Laporan x

Hasil Penelitian x

8 Seminar KTI II x

9 Perbaikan x

J. Biaya Penelitian

Penelitian ini memerlukan biaya sebagai berikut :

Agar darah : Rp.300.000,00

Mac Conkey Agar : Rp.300.000,00

Media Gula-gula : Rp.100.000,00

Media Kimia (KIA, Citrat, SIM) : Rp.100.000,00

Pewarnaan Gram : Rp.100.000,00

Pembuatan Makalah : Rp.100.000,00

TOTAL : Rp.1.000.000,00
DAFTAR PUSTAKA

1. Sthapit ,Tuladhar ,& Marasini S et al. Bacterial conjunctivitis and use of


antibiotics in dhulikhel hospital.Kathmandu Univ Med Journal. 2011; 34(2):69-
72.

2. Christopher J. Quinn, Dennis E. Mathews, Richard F. Noyes, et al. Optometric


Clinical Practice Guideline: Care of the Patient with
Conjunctivitis.USA:American Optometric Assosiation;2010.

3. Genevieve F Oliver, Graham A Wilson, Richard J Everts. Acute infective


conjunctivitis: evidence review and management advice for new zealand
practitioners.Journal of the New Zealand Medical Assosiation .2009;
122(1248):69-75.

4. Amadi, A, et al.Common ocular problems in aba metropolis of albia state,


eastern nigeria. Pakistan Journal of Social Sciences.2009;6(1):32-35.

5. Jane, Hasnawati & Sitohang Vensya dkk. Profil Kesehatan Indonesia Tahun
2009. Jakarta : Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.2010.

6. Afjeiee SA, Tabatabaei SR, Fallah F,et al.A microbiological study of neonatal
conjunctivitis in two hospitals in Teheran Iran. Asian Pasific Journal of Tropical
Disease. 2013; 3(6): 429-433.

7. Tarabishy AB, Jeng BH. Bacterial Conjunctivitis: A review for internist.


Cleveland Clinic Journal of Medicine. 2008; (75):507-512.

8. Cindy Hutnik & Mohammad H. Bacterial conjunctivitis. Clin Ophthalmol


Journal .2010 ; (4): 14511457.

9. Yanoff M, Cameron D.Diseases of the visual system. In : Goldman L, Schafer


AI.Goldman's Cecil Medicine. 24th ed.USA: Saunders Elsevier.2011.

10. Garcia-Ferrer, F.J., Schwab, I.R., Shetlar. Konjungtiva. Dalam: Vaughan &
Asbury. Oftalmologi Umum. Edisi 17. Jakarta: EGC, 2010; 97-118.

11. Junqueira, L.C., Carneiro, J.Histologi Dasar: Text & Atlas. Edisi 10. Jakarta:
EGC.2007:463.
12. Tortora G & Derrickson Bryan.Principles of Anatomy and Physiology.Edisi
12.New York: John Wiley & Sons.2009.

13. John Epling.Bacterial Conjunctivitis. A Publication of BMJ Publishing Group.


2010; 82(6):665-666.

14. Ilyas Sidarta & Rahayu Sri.Ilmu Penyakit Mata Edisi Kelima. Jakarta: Badan
Penerbit FK UI.2014.

15. S Ramesh, R Ramakrishnan, M Jayahar Bharathi, M Amuthan, S


Viswanathan.Prevalance of bacterial pathogens causing ocular infections in South
India. Indian J Pathol Microbiol. 2010;53(2):281-286.

16. Skuta GI, Cantor LB, Weiss IS. Infectious Diseases of the External Eye :
Basic Concepts, Infectious Diseases of the External Eye : Clinical Aspect,
Degenerative and Aging Processes in External Disease and Cornea. Edisi 8.
United States: American Academy of Ophtalmology.2009.

17. Tauber S, Cupp G, Garber R, Bartell J et al.Microbiological efficacy of a new


ophtalmic formulation of moxifloxacin dosed twice-daily for bacterial
conjunctivitis.2011; 28(7):566-574.

18. Dias C, Goncalves M, Joao A. Epidemiological study of hospital acquired


bacterial conjunctivitis in a level III neonatal unit. Scientific World Journal(serial
online).2013(cited 2015 Des 29). Available from: Hindawi Publishing
corporation.(http://dx.doi.org/10.1155/2013/163582).

19. Jawetz, Melnick & Adelberg.Mikrobiologi Kedokteran Edisi 25.


Jakarta:Penerbit Buku Kedokteran EGC.2010.

20. Manly Lolowang, John Porotuo , & Fredine Rares.Pola bakteri aerob
penyebab konjungtivitis pada penderita rawat jalan di Balai Kesehatan Mata
Masyarakat Kota Manado.Manado:Bagian Mikrobiologi Fakultas Kedokteran
Universitas Sam Ratulangi.2013.

21. Rapuano CJ, Feder RS, Jones MR, et al.Conjunctivitis. American Academy of
Ophthalmology Website.2008.
(http://one.aao.org/CE/PracticeGuidelines/default.aspx).
22. Kari Lee Visscher, Cindy M. L. Hutnik, Mary Thomas.Evidence based
treatment of acute infective conjunctivitis. Canadian Family Physician. 2009;
55(11): 10711075.