Anda di halaman 1dari 26

LABORATORIUM ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN REFERAT

FAKULTAS KEDOKTERAN JULI 2017


UNIVERSITAS PATTIMURA

SKABIES

DisusunOleh:
Merlyn Chrislia Rumthe
2015-84-025

Pembimbing:

dr. Hanny Tanasal, Sp.KK

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK


PADA LABORATORIUM ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS PATTIMURA
AMBON

2017

5
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL....................................................................................................i

DAFTAR ISI...............................................................................................................ii

DAFTAR GAMBAR..................................................................................................iii

DAFTAR TABEL.......................................................................................................iv

BAB I PENDAHULUAN............................................................................................1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA.................................................................................3

2.1. Definisi....................................................................................................3

2.2. Epidemiologi............................................................................................3

2.3. Etiologi dan Patogenesis..........................................................................5

2.4. Manifestasi klinis.....................................................................................8

2.5. Diagnosis................................................................................................11

2.6. Diagnosis Banding.................................................................................14

2.7. Penatalaksanaan.....................................................................................15

2.8. Pencegahan............................................................................................19

2.9. Komplikasi.............................................................................................19

3.0. Prognosis................................................................................................20

BAB III KESIMPULAN...........................................................................................21

DAFTAR PUSTAKA................................................................................................22

iii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Tungau Skabies..............................................................................................................5

Gambar 2. Siklus Hidup Sarcoptes scabiei......................................................................................7

Gambar 3. Jenis-jenis lesi pada scabies.........................................................................................10

Gambar 4. Pewarnaan KOH..........................................................................................................13

Gambar 5. Terowongan yang memperlihatkan hasil BIT positif...................................................14

iv
DAFTAR TABEL

Tabel 1 Diagnosis banding scabies......................................................................15

iv
BAB I

PENDAHULUAN

Skabies atau nama lainnya, the itch, gudig, budukan, dan gatal agogo adalah

penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi dan sensitisasi terhadap Sarcoptes

scabiei var hominis, yang termasuk dalam filum arthropoda dari ordo Acarina.

Pengetahuan dasar tentang penyakit ini dikemukakan oleh bapak dermatologi modern

yakni Von Hebra, dan etiologinya pertama kali diidentifikasi oleh Benomo pada tahun

1687, kemudian oleh Mellanby dilakukan percobaan induksi pada sukarelawan

selama perang dunia II.1,2

Skabies dapat menyerang seluruh dunia, semua kelompok usia, ras dan semua

tingkatan sosioekonomi. Prevalensi skabies bervariasi, pada beberapa Negara

berkembang, prevalensinya sekitar 4% hingga 100% pada populasi umum. 2,3,4

Syailindra dan Mutiara dalam jurnal Mayority tentang skabies mengemukakan bahwa

menurut Depkes RI, berdasarkan data dari puskesmas seluruh Indonesia tahun 2008,

angka kejadian skabies adalah 5,6%-12,95% dan menduduki urutan ke tiga dari dua

belas penyakit kulit tersering. 4 Skabies seringkali diabaikan karena tidak mengancam

jiwa sehingga prioritas penanganannya rendah. Akan tetapi, penyakit ini dapat

menjadi kronis dan berat serta menimbulkan komplikasi yang berbahaya. Lesi pada

skabies menimbulkan rasa tidak nyaman karena sangat gatal sehingga penderita

1
seringkali menggaruk dan mengakibatkan terjadinya infeksi sekunder terutama oleh

bakteri Grup A Streptococcus dan Staphylococcus aureus.5,6

Banyak faktor yang menunjang perkembangan penyakit ini, antara lain keadaan

sosial ekonomi yang rendah, kebersihan yang buruk, hubungan seksual yang sifatnya

promiskuitas, kesalahan diagnosis, dan perkembangan demografik seperti keadaan

penduduk dan ekologi. Oleh karena itu, prevalensi skabies yang tinggi umumnya

ditemukan di lingkungan dengan kepadatan penghuni dan kontak interpersonal tinggi

seperti penjara, panti asuhan, dan pondok pesantren.4,5

Diagnosis skabies dinilai dengan adanya gatal yang ditandai dengan distribusi

lesi yang khas dan riwayat epidemiologi. 3 Skabies dapat dipastikan bila menemukan

Sarcoptes scabiei. Beberapa cara untuk menemukan tungau tersebut adalah kerokan

kulit, mengambil tungau dengan jarum, membuat biopsi eksisional, dan membuat

biopsi irisan.4

Prinsip penatalaksanaan skabies yakni pengobatan dilakukan kepada penderita

dan seluruh anggota keluarga atau orang yang dekat dengan penderita meskipun tidak

menimbulkan gejala. Terapi non medikamentosa dan medikametosa.4,5

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi

Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi dan sensitisasi

terhadap tungau Sarcoptes scabiei var. hominis beserta produknya. Sinonim atau

nama lain skabies adalah kudis, the itch, gudig, budukan, dan gatal agogo. Skabies

adalah parasitosis tersering pada kulit dan dapat ditularkan melalui kontak langsung

maupun tidak langsung dengan gejalah utamanya adalah pruritus hebat yang

memberat terutama di malam hari atau pada kondisi dimana suhu tubuh meningkat.

Skabies memiliki jenis lesi kulit berupa adanya terowongan (kunikulus), papul,

ekskoriasi dan kadang terdapat vesikel.1,4,7

Skabies berkrusta atau yang dikenal dengan skabies norwegia merupakan

bentuk yang jarang ditemukan, sangat menular dan ditandai dengan adanya

Sarcopjtes scabiei dalam jumlah yang banyak pada lapisan epidermis yang

bertanduk.8

2.2 Epidemiologi

Skabies dapat menyerang semua orang pada semua umur, ras, dan semua

tingkat sosioekonomi. Sekitar 300 juta kasus skabies di seluruh dunia dilaporkan

setiap tahunnya, dimana tidak hanya terjadi di negara berkembang tetapi juga terjadi

pada negara maju, seperti di Jerman dimana skabies terjadi secara sporadik atau

3
dalam bentuk endemik yang panjang, sedangkan di Indonesia, Depkes RI,

berdasarkan data dari puskesmas seluruh Indonesia pada tahun 2008, angka kejadian

skabies adalah 5,6%-12,95%. Skabies di Indonesia menduduki urutan ke tiga dari dua

belas penyakit kulit tersering.4,6,7

Banyak faktor yang menunjang perkembangan penyakit ini, antara lain keadaan

sosial ekonomi yang rendah, kebersihan yang buruk seperti, berbagi baju, handuk,

praktik hygiene yang tidak benar, hubungan seksual yang sifatnya promiskuitas,

kesalahan diagnosis, dan perkembangan demografik seperti keadaan penduduk dan

ekologi, serta gizi buruk. Keadaan-keadaan tersebut memudahkan transmisi dan

infestasi Sarcoptes scabiei. Oleh karena itu, prevalensi skabies yang tinggi umumnya

ditemukan di lingkungan dengan kepadatan penghuni dan kontak interpersonal yang

tinggi seperti asrama, panti asuhan, dan penjara. Skabies mudah ditularkan diantara

anak-anak dan meningkat dengan kontak yang sering antara anak dan orang tua

sehingga dapat ditularkan di dalam keluarga.3,4,5,6,9

Dalam penelitian Ratnasari dan sungkar tahun 2014 pada pasantren x

ditemukan angka kejadian scabies lebih tinggi pada laki-laki dibandingkan

perempuan. Dalam jurnal ini juga memuat beberapa hasil penelitian yakni laporan

Khobir yang menyatakan bahwa di Pekalongan, prevalensi skabies pada laki-laki

lebih tinggi daibandingkan perempuan karena perempuan lebih memperhatikan

kebersihan dirinya dibandingkan laki-laki. Berbeda dengan penelitian Ratnasari,

Sungkar dan Khobir, insiden skabies di Inggris lebih tinggi pada perempuan

4
disbanding laki-laki. Di Edinburgh dilaporkan jumlah penderita skabies perempuan

lebih banyak dibandingkan laki-laki dengan usia puncak 11-20 tahun.5

2.3 Etiologi dan Patogenesis

Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi dan sensitisasi

terhadap tungau Sarcoptes scabiei var. hominis beserta produknya.1,3,4,5

(Gambar 1. Tungau Skabies)9

Secara morfologik, parasit ini merupakan tungau kecil, berbentuk oval,

punggungnya cembung, dan bagian perutnya rata. Spesies betina berukuran 0,4x0,3

mm dan jantan sedikit lebih kecil dibandingkan betina, sangat kecil sehingga tidak

dapat dilihat dengan mata telanjang. Tungau ini dapat hidup selama 3 hari diluar

tubuh host pada tabung steril dan Selama 7 hari jika ditempatkan pada tempat dengan

minyak mineral yang tinggi. Tungau tidak dapat terbang atau melompat.3,9,10

Pada stadium dewasa, tungau mempunyai 4 pasang kaki, 2 pasang kaki depan

dan 2 pasang kaki belakang. Kaki depan pada betina dan jantan memiliki fungsi yang

sama sebagai alat untuk melekat, akan tetapi kaki belakangnya memiliki fungsi yang

berbeda. Kaki belakang betina berakhir dangan rambut, sedangkan pada jantan kaki

ketiga berakhir dengan rambut dan kaki keempat berakhir dengan alat perekat.4,6,10

Siklus hidup tungau ini sebagai berikut. Setelah kopulasi (perkawinan) yang

terjadi di atas kulit, yang jantan akan mati, kadang-kadang masih dapat hidup

5
beberapa hari dalam terowongan yang digali oleh yang betina. Tungau betina yang

telah dibuahi menggali terowongan dalam stratum korneum, dengan kecepatan 2-3

milimeter sehari sambil meletakkan telurnya 2 - 3 butir sehari sampai mencapai 40-50

telur yang dihasilkankan oleh setiap tungau betina selama rentang umur 4-6 minggu

dan selama itu tungau betina tidak meninggalkan terowongan dan menyimpannya

seperti feces (scybala) di dalam terowongan. Setelah itu, larva berkaki enam akan

muncul dari telur setelah 3-4 hari dan keluar dari terowongan dengan memotong

atapnya. Larva kemudian menggali terowongan pendek (moulting pockets) di mana

mereka berubah menjadi nimfa. Setelah itu berkembang menjadi tungau jantan dan

betina dewasa. Tungau betina akan mati dalam beberapa minggu. Telur akan menetas,

biasanya dalam waktu 1 minggu, dan menjadi matur dalam 3 minggu. Bentuk larva

dan nimfa seperti tungau jantan, akan hidup pada permukaan kulit. 3,4,9,10

Pada gambar 2 mendeskripsikan siklus hidup Sarcoptes scabiei yang diawali

oleh masuknya tungau dewasa ke dalam kulit manusia dan membuat terowongan di

stratum korneum sampai akhirnya tungau betina bertelur. Sarcoptes scabiei tidak

dapat menembus lebih dalam dari lapisan stratum korneum. Telur menetas menjadi

larva dalam waktu 2-3 hari dan larva menjadi nimfa dalam waktu 3-4 hari. Nimfa

berubah menjadi tungau dewasa dalam 4-7 hari. Sarcoptes scabiei jantan akan mati

setelah melakukan kopulasi, tetapi kadang-kadang dapat bertahan hidup dalam

beberapa hari. Pada sebagian besar infeksi, diperkirakan jumlah tungau betina hanya

terbatas 10 sampai 15 ekor dan kadang terowongan sulit untuk diidentifikasi.4,6

6
(Gambar 2. Siklus Hidup Sarcoptes scabiei)4

Siklus hidup Sarcoptes scabiei sepenuhnya terjadi pada tubuh manusia sebagai

host, namun tungau ini mampu hidup di tempat tidur, pakaian, atau permukaan lain

pada suhu kamar selama 2-3 hari dan masih memiliki kemampuan untuk berinfestasi

dan menggali terowongan.3,4

Reaksi alergi yang sensitif terhadap tungau memperlihatkan peran yang penting

dalam perkembangan lesi dan terhadap timbulnya gejalah pruritus. S. Scabiei

melepaskan substansi sebagai respon hubungan antara tungau dengan keratinosit dan

sel-sel Langerhans ketika melakukan penetrasi ke dalam kulit. Namun peran sistem

imunitas dalam pathogenesis skabies belum diketahui secara pasti. Hipersensitivitas

tipe I dan tipe IV diduga juga terlibat dalam pathogenesis terjadinya scabies. Tes kulit

dengan mengekstraksi kutu memberikan hasil yang kurang jelas, meskipun reaksi

hipersensitivitas tipe I positif pada tes intradermal yang sering didapat pada pasien

yang dalam beberapa bulan terserang skabies.10

2.4 Manifestasi Klinik

7
Kelainan klinis pada kulit yang ditimbulkan oleh infestasi Sarcoptes scabiei

sangat bervariasi. Dikenal ada 4 tanda utama atau cardinal sign pada infestasi

skabies, yaitu :

1. Pruritus nocturna

Artinya gatal yang timbul pada malam hari hal ini disebabkan karena

meningkatnya aktivitas tungau akibat suhu yang lebih lembab dan panas.

Sensasi gatal yang hebat seringkali mengganggu tidur dan penderita menjadi

gelisah. Pada infeksi inisial, gatal timbul setelah 3 sampai 4 minggu, tetapi

paparan ulang menimbulkan gatal hanya dalam waktu beberapa jam.1,4,6,9,10

2. Sekelompok orang

Penyakit ini menyerang manusia secara kelompok, sehingga dalam sebuah

keluarga biasanya mengenai seluruh anggota keluarga. Begitu pula dalam

sebuah pemukiman yang padat penduduknya, skabies dapat menular hampir ke

seluruh penduduk. Didalam kelompok mungkin akan ditemukan individu yang

hiposensitisasi, walaupun terinfestasi oleh parasit sehingga tidak menimbulkan

keluhan klinis akan tetapi menjadi pembawa/carier bagi individu lain.1,3,4,6

3. Adanya terowongan (Kunikulus)

Lesi primer yang terbentuk akibat infeksi skabies pada umumnya berupa

terowongan atau yang dikenal dengan kunikulus berisi tungau, telur, dan hasil

metabolisme. kunikulus berwarna putih abu-abu, tipis dan kecil seperti benang

dengan struktur linear atau berkelok-kelok kurang lebih 1-10 mm yang

8
merupakan hasil dari pergerakan tungau di dalam stratum korneum. Di ujung

kunikulus dapat ditemukan vesikel atau papul kecil. Jika timbul infeksi

sekunder ruam kulitnya menjadi polimorf (pustul, ekskoriasi dan lain-lain).

Ketika menggali terowongan, tungau mengeluarkan sekret yang dapat

melisiskan stratum korneum. Sekret dan eksret tersebut akan menyebabkan

sensitisasi sehingga menimbulkan lesi sekunder. Lesi sekunder berupa papul,

vesikel, pustul, dan terkadang bula. Selain itu dapat pula terbentuk lesi tersier

berupa ekskoriasi, eksematisasi, dan pioderma. Meskipun dapat terbentuk lesi

sekunder dan tersier, namun tungau hanya dapat ditemukan pada lesi primer.

Lesi primer pada scabies sangat menular melalui jatuhnya krusta yang berisi

tungau. Krusta tersebut menyediakan makanan dan perlindungan bagi tungau

yang memungkinkan mereka untuk bertahan hidup. Tempat predileksinya

biasanya merupakan tempat dengan stratum korneum yang tipis, yakni sela-sela

jari tangan, pergelangan tangan bagian volar, siku bagian luar, lipatan ketiak

bagian depan, labia, areola mammae (pada wanita), umbilikus, bokong,

genitalia eksterna (pria), dan perut bagian bawah. Pada bayi dapat menyerang

telapak tangan dan telapak kaki. Pada skabies berkrusta, bentuk ini ditandai

dengan dermatosis berkrusta pada tangan dan kaki, kuku yang distrofik, skuama

yang generalisata 1,3,4,10

4. Menemukan Sarcoptes scabiei

Merupakan hal yang paling diagnostic. Dapat ditemukan satu atau lebih

stadium hidup tungau ini.

9
Diagnosis dapat dibuat dengan menemukan 2 dari 4 tanda cardinal tersebut.

a). b).

c).

d).

(Gambar 3. Jenis-jenis lesi pada skabies. a). Lesi pada anak-anak, terdapat pada kepala dan leher. b).
gambaran close up lesi skabies pada anak-anak. Tempat predileksi pada pergelangan tangan dan
telapak tangan. c).lesi multiple pada orang dewasa. d). gambaran lesi pada mammae,region
periareolar.)10

2.5 Diagnosis

Diagnosis skabies dapat ditegakan berdasarkan empat cardinal sign yakni

berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang, dan diagnosis

pastinya yakni dengan ditemukannya sarcoptes scabiei.1,3,9,10

a. Anamnesis

10
Dari anamnesis sering ditemukan adanya gatal terutama saat malam hari yang

disebabkan karena meningkatnya aktivitas tungau akibat suhu yang lebih

lembab dan panas. Sensasi gatal yang hebat seringkali mengganggu tidur dan

penderita menjadi gelisah. Selain itu dari anamnesis dapat juga ditemukan

factor risiko terjadinya skabies berupa keadaan sosial ekonomi pasien,

kebersihan seperti Kebiasaan tidur, berbagi baju, handuk, hubungan seksual

yang sifatnya promiskuitas, serta perkembangan demografik seperti keadaan

penduduk dan ekologi.1,3,4,5,6,9

b. Pemeriksaan Fisik

Dari pemeriksaan fisik dapat ditemukan adanya papul eritem sebagai akibat

adanya reaksi urtikari, ditemukan adanya kunikulus berwarna putih abu-abu,

tipis dan kecil seperti benang dengan struktur linear atau berkelok-kelok, sedikit

bersisik. Di ujung kunikulus dapat ditemukan vesikel atau papul kecil. Jika

timbul infeksi sekunder ruam kulitnya menjadi polimorf (pustul, ekskoriasi dan

lain-lain). Kunikulus dapat ditemukan pada pergelangan tangan, bagian lateral

tangan, sela-sela jari, kaki, terutama punggung kaki, dan pada pria yakni pada

area genital. Kunikulus kadang juga dapat ditemukan di telapak tangan, pada

anak-anak dan dewasa muda. Pada orang dewasa, kunikulus dapat ditemukan

pada telapak tangan wanita, tetapi jarang ditemukan pada pria, terutama para

pekerja berat. Berbeda dengan remaja dimana kunikulus tidak sering ditemukan

di badan, namun pada bayi dan yang lanjut usia. Kuniikulus dapat terlihat pada

leher dan kepala pada bayi tetapi jarang pada orang dewasa. Alasan pola

11
distribusi kunikulus hingga saat ini belum diketahui, tetapi tungau nampaknya

lebih memilih daerah kulit yang tidak berambut dan yang sedikit memproduksi

sebum. Papul-papul pruritik yang menyertai proses hipersensitivitas terjadi

terutama pada daerah axila, area periareola, pada abdomen, area

periumbilikalis, dan pada daerah bokong dan paha. 1,3,4,9,10

c. Pemeriksaan Penunjang

Beberapa pemeriksaan penunjang untuk mendiagnosis skabies yaitu :

1. Kerokan kulit

Papul atau kanalikuli yang utuh ditetesi dengan minyak mineral atau KOH

10% lalu dilakukan kerokan dengan meggunakan scalpel steril yang

bertujuan untuk mengangkat atap papula atau kanalikuli.10

12
(Gambar 4. Pewarnaan KOH. a) telur tungau b) kerokan diambil dari terowongan menunjukan
adanya tungau.)10

2. Mengambil tungau dengan jarum

Bila menemukan kunikulus, jarum suntik yang runcing ditusukkan kedalam

kunikulus yang utuh dan digerakkan secara tangensial ke ujung lainnya

kemudian dikeluarkan. Bila positif, tungau terlihat pada ujung jarum sebagai

parasit yang sangat kecil dan transparan. Cara ini mudah dilakukan tetapi

memerlukan keahlian tinggi.1,10

3. Tes tinta pada kunikulus (Burrow ink test)

Mengidentifikasi kunikulus bisa dibantu dengan cara mewarnai daerah lesi

dengan tinta hitam. Papul skabies dilapisi dengan tinta cina, dibiarkan

selama 20-30 menit. Setelah tinta dibersihkan dengan kapas alkohol,

kunikulus tersebut akan kelihatan lebih gelap dibandingkan kulit di

sekitarnya karena akumulasi tinta didalam terowongan. Tes dinyatakan

positif bila terbetuk gambaran kanalikuli yang khas berupa garis menyerupai

bentuk zigzag.10

13
(Gambar 5. Kunikulus yang memperlihatkan hasil BIT positif. Tampak pembentukan
garis zigzag)10

2.6 Diagnosis Banding

Diagnosis banding scabies meliputi hampir semua dermatosis dengan keluhan

pruritus.8,9 Pada anak-anak, impetigo dan dermatitis atopic menjadi masalah tersering.

Pada remaja, semua bentuk prurigo, dermatitis herpetiformis, folikulitis, dan semua

penyebab internal pruritus harus dipertimbangkan. 9 Oleh karena itu scabies disebut

juga the greatest imitator.3,8

Atopic dermatitis
Eczema dishidrotik
Hampir Mirip Pioderma
Dermatitis kontak
Insect bite reaction

Dermatitis herpetiformis
Psoriasis
Pemfigoid bulosa
Yang harus dipertimbangkan Erupsi obat
Penyebab sistemik pruritus
Parasitosis delusion

(Tabel 1. Diagnosis banding scabies)3

2.7 Penatalaksanaan

Indikasi dilakukannya terapi skabies yakni pasien dengan diagnosis scabies, dan

orang dengan risiko kontak langsung dengan penderita skabies walaupun tanpa ada

gejalah harus diterapi dalam waktu yang bersamaan. Pengobatan harus diberikan pada

semua anggota keluarga yang tinggal bersamaan dan pasangannya. 1,2,3,4

14
Syarat obat yang ideal harus efektif terhadap semua stadium tungau, harus tidak

menimbulkan irtasi dan tidak toksik, tidak berbau serta tidak mewarnai atau merusak

pakaian, dan mudah diperoleh serta murah.1

Tatalaksan skabies dapat kita bagi dalam tatalaksan non medika mentosa dan

medika mentosa. Yang termasuk dalam tatalaksana non medika mentosa yakni:4,9

a. Mandi dengan air hangat dan keringkan badan

b. Hindari menyentuh mulut dan mata dengan tangan

c. Ganti pakaian, handuk, seprei yang digunakan dan selalu cuci dengan teratur, bila

perlu direndam dengan air panas, karena tungau akan mati pada suhu 130C;

d. Hindari penggunaan pakaian, seprei bersama anggota keluarga serumah.

Sedangkan untuk tatalaksan medikamentosa scabies dapat secara topical

maupun peroral. Produk yang digunakan untuk membunuh tungau disebut skabisid.

Skabisid terdiri dari pemberian permetrin krim 5%, lindane losio 1% (Gamma

benzene hexachloride 1% krim, benzyl benzoate losio 25%, krotamiton losio 10%,

krotamiton krim 10%, sulfur presipitatum 5%-10% dan ivermektin merupakan

regimen untuk pengobatan tungau yang hanya tersedia dengan resep dokter.

a. Terapi Topikal, terdiri dari:



Permetrin krim 5% merupakan pilihan utama untuk penatalaksanaan scabies

dan hampir selalu diberikan cukup sekali dalam semalam, dioleskan sebelum

tidur malam dan dibiarkan selama 8-12 jam. Aman dan efektif bila digunakan

pada anak-anak berusia 2 bulan atau lebih, ibu hamil dan ibu menyusui.

Permetrin dapat membunuh tungau dan telur. Dibandingkann lindane,

15
permetrin lebih efektif, memiliki efek samping obat yang lebih sedikit, dan

memiliki daya absorbs perkutaneus lebih rendah. Bila belum sembuh diulangi

setelah seminggu.

Krotamiton krim 10% merupakan suatu antiprutitus yang efektif, tetapi

bukan merupakan preparat khusus antiskabies. Penggunakaannya dengan

dioleskan salam 2 hari secara berturut-turut dan kemudian dibersihkan. Tidak

bersifat iritatif dan sering disaarankan bagi ibu hamil. Efek samping crotamin

yakni dapat terjadi konjungtivitis dan timbulnya eritem.8,9

Sulfur presipitatum 5%-10% digunakan untuk mengobati skabies pada

anak-anak dan orang dewasa. Preparat ini tidak efektif terhadap stadium telur

sehingga penggunaanya tidak boleh kurang dari 3 hari. Kekurangannya ialah

berbau dan mengotori pakaian, kadang-kadang menyebabkan iritasi. Telah

terbukti dapat mengobati anak usia kurang dari 2 bulan.1,9

Benzyl Benzoat losio 25% efektif terhadap semua stadium, diberikan dua

kali sehari selama 3 hari dengan menunda mandi hingga selesai pengobatan.

Obat ini sulit diperoleh, sering memberi iritasi terutama pemberian dengan

konsentrasi lebih dari 10%, dan kadang-kadang menyebabkan rasa makin

gatal dan panas setelah dipakai.1,9,10

Gamma benzene hexachloride 1% krim (Lindane) kadarnya 1% dalam

krim atau losio, termasuk obat pilihan karena efektif terhadap semua stadium,

mudah digunakan dan jarang menimbulkan iritasi. Namun, lindane tidak

dianjurkan sebagai terapi lini pertama karena memiliki efek neurotoxik kerika

16
digunakan pada kulit yang terbuka, pada bayi, atau penggunaan dalam jangka

waktu yang cukup lama. Lindane tidak boleh digunakan pada ibu hamil, ibu

menyusui, dan anak usia < 6 tahun.

b. Terapi sistemik

Ivermektin merupakan terapi terbaru pada skabies, dapat digunakan sendiri

atau dikombinasikan dengan terapi topikal. Beberapa penelitan membuktikan

bahwa satu atau dua dosis ivermektin (200g/kgBB, 3-9 hari) memiliki

tingkat kesembuhan yang sama dengan pengobatan topical konvensional

(Benzyl benzoat, lindane, permetrin) untuk scabies yang klasik. Efek samping

ivermektin adalah hepatotoxik, takikardi dan hipotensi, oleh karena itu tidak

direkomendasikan bagi anak-anak berusia <5 tahun, ibu hamil, dan ibu

menyusui.

Adapun beberapa pertimbangan khusus yang perlu diperhatikan dalam

pengobatan scabies, yakni:

Impetigo. Scabies dengan kompikasi terjadinya impetigo medapat pengobatan

kombinasi yakni pemberian antiseptic dan antibiotic untuk melawan

streptococcus pyogenes dan staphylococcus aureus. Sejauh ini ivermektin

bermanfaat apabila terjadi kerusakan pada kulit.2,9

Skabies berkrusta. Tatalaksan pasien ini secara umum harus di rawat di

rumah sakit dan harus diisolasi karena resiko terjadinya penularan dengan

kontak fisik secara langsung. Hyperkeratosis diterapi dengan agent keratolitik,

17
kuku dipotong pendek dan di bersihkan dengan agent skabisidal. Kombinasi

terapi oral dan topical sangat dianjurkan. Dosis dan frekuensi terapi

tergantung dari keparahannya.2

Masa hamil dan menyusui. Permetrin, benzyl benzoate dan sulfur boleh

diberikan karena aman walupun buktinya masih terbatas. Pemberian

ivermektin merupakan kontraindiksi pada keadaan ini.2,9

Anak-anak, permetrin dan crotamiton baik digunakan pada bayi, benzyl

benzoate, premetrin aman untuk anak dibawah 2 tahun, tetapi durasi

penggunaan obat topical ini terbatas yakni tidak boleh > 12 jam.ivermektin

tidak direkomendasikan pada anak <15kg.2,9

2.8 Pencegahan

Untuk melakukan pencegahan terhadap penularan skabies, orang-orang yang

kontak langsung atau dekat dengan penderita harus diterapi dengan topikal skabisid.

Terapi pencegahan ini harus diberikan untuk mencegah penyebaran scabies karena

seseorang mungkin saja telah mengandung tungau scabies yang masih dalam periode

inkubasi asimptomatik. 1,3,4,8,9,10

Selain itu untuk mencegah terjadinya reinfeksi melalui seprei, bantal, handuk

dan pakaian yang digunakan dalam 5 hari terakhir, harus dicuci bersih dan

dikeringkan dengan udara panas karena tungau scabies dapat hidup hingga 3 hari

diluar kulit, karpet dan kain pelapis lainnya sehingga harus dibersihkan (vacuum

cleaner).1,3,4,8,9

18
2.9 komplikasi

Infeksi sekunder pada pasien skabies merupakan akibat dari infeksi bakteri atau

karena garukan. Keduanya mendominasi gambaran klinik yang ada. Erosi merupakan

tanda yang paling sering muncul pada lesi sekunder. Infeksi sekunder dapat ditandai

dengan munculnya pustul, supurasi, dan ulkus. Selain itu dapat muncul eritema,

skuama, dan semua tanda inflamasi lain pada ekzem sebagai respon imun tubuh yang

kuat terhadap iritasi. Nodul-nodul muncul pada daerah yang tertutup seperti bokong,

skrotum, inguinal, penis, dan axilla. Infeksi sekunder lokal sebagian besar disebabkan

oleh Staphylococcus aureus dan biasanya mempunyai respon yang bagus terhadap

topikal atau antibiotic oral, tergantung tingkat pyodermanya. 1,3,4,8,10

3.0 Prognosis

Jika tidak dirawat, kondisi ini bisa menetap untuk beberapa tahun. Pada

individu yang immunocompetent, jumlah tungau akan berkurang seiring waktu.

Infestasi scabies dapat disembuhkan. Seorang individu dengan infeksi scabies, jika

diobati dengan benar, memiliki prognosis yang baik, keluhan gatal dan ekzema akan

sembuh.2,4,8,10

19
20
BAB III

KESIMPULAN

Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi dan sensitisasi

terhadap Sarcoptes scabiei var. hominis dan produknya.

Penularannya dengan 2 cara, yaitu kontak langsung dan kontak tak langsung.

Pada penyakit skabies ditemukan 4 tanda cardinal yaitu pruritus nocturna,

menyerang manusia secara berkelompok, adanya terowongan (kunikulus) pada

tempat-tempat predileksi yang berwarna putih atau keabu-abuan dan menemukan

tungau.

Bentuk kelainan kulit pada penyakit skabies yaitu ditemukannya papul, vesikel,

erosi, ekskoriasi, krusta dan lain-lain, serta bermanifestasi klinis dalam berbagai

variasi. Bila infeksi sekunder telah terjadi dapat disebabkan bakteri yang ditandai

dengan munculnya pustul maupun timbulnya gejala infeksi sistemik

Tatalaksana skabies yakni dengan pemberian permetrin krim 5%, lindane losio

1% (Gamma benzene hexachloride 1% krim, benzyl benzoate losio 25%, krotamiton

losio 10%, krotamiton krim 10%, sulfur presipitatum 5%-10% dan ivermektin.

Memperhatikan kebersihan diri juga dapat mengurangi risiko terjadinya scabies.

21
DAFTAR PUSTAKA

1. Handoko RP. Ilmu penyakit kulit dan kelamin: Skabies. ed.6. Jakarta: Badan
Penerbit FKUI, 2011. hal. 122-125
2. Maddin S. Skin therapy letter: Management of scabies 2012;17(3): 1-4.
3. Burkhart CN, Burkhart CG. Chapter 208 Scabies. In: Goldsmith LA, Katz SI,
Gilchrest BA, Paller AS, Leffell DJ, Wolff K, editors. Fitzpatricks dermatology
in general medicine. 8th ed. New York: McGraw-Hill Inc; 2012. P. 3652-56
4. Syailindri F, Mutiara H. Skabies. Majority, jurnal kedokteran universitas malang:
Skabies 2016;5(2):37-42
5. Ratnasari AF dan Sungkar S. Prevalensi skabies dan faktor-faktor yang
berhubungan di pesantren x, Jakarta timur. eJKI [internet]. 2014 [diakses tanggal
02 juni 2017]; 2(1):7-12. Tersedia dari:
http://journal.ui.ac.id/index.php/eJKI/article/viewFile/3177/3401.
6. Prabowo M, Kurniawan B. Majority, jurnal kedokteran universitas malang:
Pengaruh pengetahuan dengan pencegahan penyebaran penyakit scabies
2016;5(2):63-68.
7. Binic I, Aleksandar J, Dragan J, Milanka L. Crusted (Norwegian) Scabies
Following Systemic And Topikal Corticosteroid Therapy. J Korean Med Sci; 25:
2010. 88-91.
8. Golant AK, Levitt JO. Scabies : A review of diagnosis and management based on
mite biology. American academic of pediatric 2012;33(3):48-59.
9. Renucci. Scabies. In: Burgdorf WHC, Plewig G, Wolff HH, Landthaler M,
editors. Braun-Falcos dermatology. 3rd edition. Italy: springer; 2009. P. 334-38
10. Burns DA. Diseases Caused by Arthropods and Other Noxious Animals, in:
Burns T, Breathnach S, Cox N, Griffiths C. Rooks Textbook of Dermatology. 8th
ed.Vol.2. USA: Blackwell publishing; 2010. p.38-43.

22