Anda di halaman 1dari 12

Nama ; Rahmat Wahyudi

Nim : N 101 12 052


Kelompok : 4

Learning Objective

STEP 5

1. Bagaimana penatalaksanaan ketergantungan bagi individu, kelompok, dan terapi


alternatifnya bagaimana!
2. Bagaimana kebijakan internasional mengenai napza?
3. Prognosis dari pasien yang mengalami kecanduan napza!
4. Data penyalahgunaan napza secara nasional (Indonesia) dan lokal (Sulawesi Tengah)!
5. Bagaimana pendekatan ke kalangan anak, remaja, dan usia produktif agar mereka
tercegah dari jeratan narkoba
6. Bagaimana dengan pendekatan pencegahan pada usia lanjut?

STEP 6

Effendi, Luqman, 2008. Modul Dasar-Dasar Sosiologi&Sosiologi KesehatanI. Jakarta:


PSKM FKK UMJ.
Kartono, Kartini, 2012. Patologi II Kenakalan Remaja. Jakarta: Rajawali.
Mangku, Made Pastika, Mudji Waluyo, Arief Sumarwoto, dan Ulani Yunus, 2007.
pecegahan Narkoba Sejak Usia Dini. Jakarta: Badan Narkotika Nasional Republik
Indonesia.
Shadily, Hassan, 2013. Sosiologi Untuk Masyarakat Indonesia. Jakarta: PT RINEKA
CIPTA.
Soekanto, Suryono, 2009. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persuda
Sofyan, Ahmadi, 2010. Narkoba Mengincar Anak Anda Panduan bagi Orang tua, Guru,
dan Badan Narkotika dalam Penanggulangan Bahaya Narkoba di Kalangan Remaja.
Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher.
Sudarman, Momon, 2008. Sosiologi Untuk Kesehatan. Jakarta: Salemba Medika.
Syani, Abdul, 2007. Sosiologi dan Perubahan Masyarakat. PT DUNIA PUSTAKA
JAYA.
STEP 7

1. Pengobatan efek ketergantugan pada narkoba

PENATALAKSAAN
SINDROMA
KETERGANTUNGAN

INDIVIDU ALTERNATIF

KELOMPOK

Pengobatan dilakukan
Pengobatan secara individu apabila pengobatan
pada pasien dengan gejala secara individu dan
ketergantugan lebih ke arah berkelompok gagal
medis : Pengobatan secara
dilakukan atau pasien
berkelompok pada pasien
1.Fase penilaian : lebih nyaman/sesuai
ketergantungan
dengan terapi ini
dipusatkan pada terapi
2.Fase detoksifikasi seperti:
berkelompok seperti :
3. Fase terapeutik lanjutan 1. Terapi yang sifatnya
1. CBT (Cognitive
tradisional/adat ex :
Behavioral Terapi)
terapi rebus pasien
2. Community Terapi
2. Terapi spiritual :
Based Hospital
Pendekatan dari
3. MET (Motivational
segi agama
Enhancement Terapi)

Referensi :

Budiman R. Delirium.2010. Buku Ajar Pskiatri. Buku Ajar FK UI :Jakarta


2.Kerjasama PBB dan WHO dalam pemberantasan narkoba skala internasional :
1. Program Pembangunan Wawasan Anti Narkoba Global :
Mendorong pembangunan karakter manusia, dengan memasukan nilai-nilai hidup
sehat tanpa narkotika kedalam kurikulum pendidikan dasar sampai lanjutan atas
wajib bagi seluruh sekolah yang ada di dunia.
Menyeleraskan persepsi yang sama antara penegak hukum, stakeholder,
masyarakat dalam memandang penyalahguna narkotika sebagai orang sakit, dan
korban kejahatan narkotika yang membutuhkan rehabilitasi terhadap masyarakat
internasional melalui badan narkotika nasional setiap Negara secara global.

2. Program screening/pemeriksaan setiap imigran :

Bandara Internasional
Pelbuahan Internasional di setiap Negara
Fasilitas-fasilitas internasional lainnya
Tujuan dari program ini adalah untuk mencegah penyebarluasan rantai penyeludupan
narkoba melalui fasilitas transportasi nasional.

3. Program konvensi system komunikasi internasional :

Program Konvensi saat ini diperlukan untuk meredam penyalahnaan sistem, jaringan dan
data komputer untuk melakukan perbuatan criminal khususnya dalam transaksi narkobha
secara global berbasis internet.

4. Program berbasis sanksi internasional :

Hukuman mati
Hukuman penjara seumur hidup
Hukuman pengasingan
Dsb

Referensi : website resmi who. 2012. Internasional travel and health. From :
http://www.who.int/ith/
3. Pada dasarnya anak pak dahlan yang terdapat pada scenario mengalami gangguan
penyalahgunaan zat yang mana penyakit ini termasuk ke dalam salah satu gangguan
pskiatrik dengan prognosis

Baik : Jika pasien mengonsumsi napza golongan adiktif ringan seperti obat-obatan
sedative, benzo diazepin, anxiolitik, rokok, dsb
Buruk : Jika pasien mengonsumsi obat-obatan golongan 1 narkotika dan psikotropika
seperti brolamphetamine, katinona,etisiklidina, metkatinonda dsb

4. Data pemakai secara nasional disajikan dalam tabel berikut :

1. Berdasarkan provinsi (tahun 2015)


2. Berdasarkan kelompok umur

3. Berdasarkan pekerjaan :

4. Berdasarkan jenis narkoba yang digunakan :


Data secara lokal (Sulawesi Tengah)
Referensi :

Data Primer. 2008-2016. Website resmi Badan Narkotika Naional (BNN). Diakses
dari www.bnn.go.id

5. Pendekatan pada kalangan anak-anak,remaja, dewasa, dan uisa produktif


a. Pada anak-anak usia dini dan remaja

1. Menanamkan pemahaman hidup sehat anak usia dini melalui promkes


Promosi kesehatan yang dilakukan oleh setiap instansi-instansi kesehatan sebaiknya
dilakukan sejak dini utamanya untuk menanmkan kebiasaan hidup sehat. Perilaku hidup
sehat akan paling manjur hasilnya bila diajarkan sejak usia dini pada ana-anak sewaktu
masih kecil, sedini mungkin. Karena apa saja yang ia pelajari sewaktu kecil akan melekat
selamanya di memori otaknya.

2. Bekerjasama dengan tempat pendidikan


Bekerjasama dengan sekolah ataupun universitas di mana anak usia dini maupun pada
saat remaja menuntut ilmu sebaiknya dibe program diberikan rancangan pemantauan,
pencegahan, dan juga program penanggulangan narkoba secara holistic yang spesifik
dengan pusat-pusat pendidikan tersebut. Kerjasama yang terkoordinir dengan baik yang
melibatkan setiap sendi dalam kehidupan di sekolah ataupun kampus seperti: dosen,
guru-guru, guru BK (bimbingan konseling), osis, satpam/security, penjaga kantin, dan
karyawan lainnya di lingkungan sekolah untuk mengawasi gerak-gerik mereka ataupun
pergaulan mereka.
3. Mengajarkan kepada orang tua cara interpersonal komunikasi yang baik
Hubungan interpersonal yang baik antara anak dan orang tua, akan memungkinkan orang
tua untuk melihat gejala-gejala awal pemakaian narkoba pada anak-anak mereka.
Kedekatan hubungan batin dengan orang tua akan membuat mereka aman dalam
menceritakan dengan siapa mereka bergaul..
B. Pada kalangan usia produktif dan orang dewasa
1. Usia produktif
Kebanyakan proses pendekatan bagi kalangan usia produktif adalah memperbanyak
mengikuti komunitas-komunitas maupun ekstrakulikuler kampus yang sifatnya positif
seperti :
a. Kegiatan Pembinaan Lingkungan Kampus
Kegiatan Pembinaan Lingkungan Kampus di Universitas Indonesia dilakukan dengan
adanya upaya antisipatif untuk selalu waspada terhadap bahaya penggunaan Narkoba di
dalam kampus melalui patroli rutin di lingkungan kampus, selain itu bekerjasama
dengan Direktorat Kemasiswaan melakukan upaya pelarangan kegiatan-kegiatan yang
disponsori oleh produsen rokok.
b. Unit Pencegahan dan Penanganan Penyalahgunaan Narkoba (UP3N)
UP3N UI secara struktural berada di bawah Direktorat Kemahasiswaan. Lembaga ini
dibentuk tahun 2006, yang bertugas menangani urusan terkait dengan supply reduction,
demand reduction dan penanganan kasus penyalahgunaan narkoba di lingkungan UI.
Sasaran kegiatan adalah Mahasiswa Baru dan Lama serta seluruh Staf Akademik dan
Non Akademik di lingkungan UI. Dalam lingkup internal UI, UP3N menjalankan
perannya dengan melibatkan lembaga lain di lingkungan UI seperti PLK, Fakultas,
BKM dan PKM. Secara eksternal penanganan kasus penyalahgunaan narkoba
melibatkan Polres dan BNK setempat dan layanan terkait dengan penanganan narkoba.
Komponen kegiatan mencakup: inform concent, screening dan penyuluhan/KIE
(Komunikasi, Informasi dan Edukasi) kepada mahasiswa baru, pendidikan dan
pelatihan terkait dengan narkoba, peer counseling, KIE dan surveilans untuk mahasiswa
lama serta kegiatan pengawasan dan kewaspadaan peredaran narkoba oleh PLK.
2. Usia dewasa :

1. Jangan pernah untuk mencoba-coba menggunakan narkotika, kecuali atas dasar


pertimbangan medis atau dokter.
2. Mengetahui akan berbagai macam dampak buruk narkoba.
3. Memilih pergaulan yang baik dan jauhi pergaulan yang bisa mengantarkan kita pada
penyalahgunaan narkotika.
4. Memiliki kegiatan-kegiatan yang positif, berolahraga atau pun mengikuti kegiatan
kegiatan organisasi yang memberikan pengaruh positif baik kepada kita.
5. Selalu ingatkan bahwawasannya ancaman hukuman untuk penyalah guna Narkoba,
apalagi bagi pengedar Narkoba adalah Lembaga Pemasyarakatan.
6. Gunakan waktu dan tempat yang aman, jangan keluyuran malam-malam. Bersantailah
dengan keluarga, berkaraoke, piknik, makan bersama, masak bersama, beres-beres
bersama nonton bersama keluarga.
7. Bila mempunyai masalah maka cari jalan keluar yang baik dan jangan jadikan
narkoba sebagai jalan pelarian.

Referensi :
Effendi, Luqman, 2008. Modul Dasar-Dasar Sosiologi&Sosiologi KesehatanI. Jakarta:
PSKM FKK UMJ.
Kartono, Kartini, 2012. Patologi II Kenakalan Remaja. Jakarta: Rajawali.
Mangku, Made Pastika, Mudji Waluyo, Arief Sumarwoto, dan Ulani Yunus, 2007.
pecegahan Narkoba Sejak Usia Dini. Jakarta: Badan Narkotika Nasional Republik
Indonesia.
Shadily, Hassan, 2013. Sosiologi Untuk Masyarakat Indonesia. Jakarta: PT RINEKA
CIPTA.
Soekanto, Suryono, 2009. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT Raja Grafindo
Persuda
Sofyan, Ahmadi, 2010. Narkoba Mengincar Anak Anda Panduan bagi Orang tua, Guru,
dan Badan Narkotika dalam Penanggulangan Bahaya Narkoba di Kalangan Remaja.
Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher.
5. Pendekatan pada usia lanjut dalam pencegahan narkoba :

HARM REDUCTION (Pengurangan Dampak Buruk)

Adalah upaya pengurangan dampak buruk akibat penyalahgunaan narkoba yang dialami
oleh kalangan usia lanjut yang sejak dari usia muda/produktif mengonsumsi natrkoba.
Upaya ini meliputi berbagai aspek mulai dari pengurangan menonton siaran televise
yang mengandung iklan rokok, mengurangi konsumsi kopi yang mengandung
cafein,serta mengupayakan berhenti merokok.

Referensi :

Soekanto, Suryono, 2009. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persuda
Sudarman, Momon, 2008. Sosiologi Untuk Kesehatan. Jakarta: Salemba Medika.
Syani, Abdul, 2007. Sosiologi dan Perubahan Masyarakat. PT DUNIA PUSTAKA
JAYA.
TUGAS TUTORIAL JUNI , 2016

BLOK XXII :

SKENARIO III

OH PAK DAHLAN

Disusun Oleh

NAMA : RAHMAT WAHYUDI

STAMBUK : N 101 12 052

KELOMPOK : IV (Empat)

PROGRAM STUDI KEDOKTERAN

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS TADULAKO

PALU

2016