Anda di halaman 1dari 14

MODUL PENGANTAR KESEHATAN KELUARGA DAN MASYARAKAT

Bahaya Kerja

KELOMPOK 10

03011004 Adi Sulistyo 03011168 Linda Setyowati

03011026 Andriany Chairunissa 03011188 Meria Pratiwi

03011046 Ashrinda Jursinur 03011208 Nancy Edison

03011066 Debby Amanda 03011228 Putri Ayu Pramita

03011088 Ergaliza Nurmutiara 03011248 Reza Mawardy

03011108 Fransiska Kartika 03011272 Shelina Nuriyanisa

03011128 Heny Handayani 03011314 Yasmin Dyah P.

03011148 Jiwa Zhaqi A.

Jakarta

26 April 2012
BAB I

PENDAHULUAN

Lingkungan kerja merupakan tempat dimana bahaya kerja (hazard) dapat terjadi. Setiap
tempat kerja dapat berpotensi menimbulkan bahaya yang dapat mempengaruhi kesehatan tenaga
kerja atau dapat menyebabkan timbulnya penyakit akibat kerja.

Potensi bahaya sendiri adalah segala sesuatu yang berpotensi menyebabkan terjadinya
kerugian, kerusakan, cidera, penyakit, atau bahkan dapat mengakibatkan kematian. Potensi
bahaya mempunyai bisa mengakibatkan kerusakan dan kerugian kepada manusia yang
melakukan pekerjaan, properti kerja seperti peralatan kerja dan melalui mesin, juga lingkungan
kerja baik lingkungan dalam maupun luar perusahaan, dan kualitas produk barang dan jasa yang
dihasilkan melalui proses kerja.

Pengenalan bahaya di tempat kerja merupakan dasar untuk mengetahui pengaruhnya


terhadap tenaga kerja dan proses kerja itu sendiri serta digunakan untuk mengadakan upaya-
upaya pengendalian dalam rangka pencegahan penyakit akibat kerja yang mungkin saja terjadi.
Oleh karena itu diperlukan dokter yang mampu mengelola dan memperbaiki seluruh masalah-
masalah kesehatan dan keselamatan kerja di sebuah perusahaan guna memenuhi persyaratan
yang sebagaimana mestinya.

BAB II

LAPORAN KASUS

Dr. Savitri adalah dokter yang baru mulai bekerja sebagai dokter perusahaan di sebuah
perusahaan manufaktur pulp dan kertas yang besar didaerah Rangkasbitung, Banten,
menggantikan dokter tua yang sudah pensiun. Manajemen perusahaan menugaskannya untuk
mengelola dan memperbaiki seluruh masalah-masalah kesehatan dan keselamatan kerja di
perusahaan ini guna memenuhi persyaratan ISO 9001-2008.
Dibawah ini gambar perspektif sebuah bangunan ruang produksi yang berisi mesin-mesin
produksi dengan 21 pekerja, berhubungan ruangan terbuka diluar yang merupakan gedung
penyimpanan bahan bakar dalam 2 buah tangker besar, ditempat ini bekerja 7 pekerja.

Di perusahaan ini pekerja masuk jam 8.00 pagi, istirahat makan siang jam 12.00-13.00,
pulang jam 17.00. di ruang produksi dalam bangunan saat ini diperkirakan terjadi sedikit
kebocoran gas sulfur dioksida (NAB rata-rata jam kerja 2 ppm) dan sulfur florida (NAB rata-rata
jam kerja 5 ppm). Dari hasil environmental monitoring dalam 1 minggu hari kerja didapatkan
rata-rata paparan gas sulfur dioksida sebanyak: 0,92 ppm dan gas sulfur florida sebanyak: 2,596
ppm.

BAB III

PEMBAHASAN

A. Bahaya Kerja

Bahaya kerja (hazard) adalah setiap kondisi di dalam lingkungan kerja yang berpotensi untuk
menimbulkan penyakit atau gangguan kesehatan akibat kerja. 1 Bahaya kerja terdiri dari: bahaya
kimiawi, fisik, biologis, ergonomis dan psikologis.

Bahaya kimiawi meliputi konsentrasi uap, gas atau aerosol dalam bentuk debu atau fume
yang berlebihan di lingkungan kerja. Para pekerja dapat terpajan oleh bahaya kimiawi dengan
cara inhalasi, absorpsi melalui kulit atau dengan cara mengiritasi kulit.
Bahaya fisik mencakup kebisingan, vibrasi, suhu lingkungan kerja yang ekstrem (terlalu
panas/dingin), radiasi, dan tekanan udara.

Bahaya biologis terdiri dari serangga, jamur, bakteri, virus, riketsia, klamidia, yang terdapat
di lingkungan kerja. Para pekerja yang menangani atau memproses sediaan biologis tumbuhan
atau hewan, pengolah bahan makanan, pengangkut sampah dengan sanitasi
perorangan/lingkungan yang buruk, dan kebersihan lingkungan kerja yang tidak memadai, dapat
terpajan oleh bahaya biologis ini.

Yang termasuk bahaya ergonomis seperti desain peralatan kerja, mesin, dan tempat kerja
yang buruk, aktivitas mengangkat beban yang berlebih, jangkauan yang berlebihan, penerangan
yang tidak memadai, vibrasi yang berlebihan, gerakan yang berulang ulang secara berlebihan
dengan/tanpa posisi kerja yang janggal, dapat mengakibatkan timbulnya gangguan
musculoskeletal pada pekerja.

Bahaya psikologis meliputi komunikasi yang tidak adekuat, konflik antar personal, konflik
dengan tujuan akhir perusahaan, terhambatnya pengembangan pribadi, kurangnya kekuasaan
dan/atau sumber daya untuk penyelesaian masalah pekerjaan, beban tugas yang terlalu padat atau
sangat kurang, kerja lembur atau shift malam serta lingkungan tempat kerja yang kurang
memadai dapat menjadi bahaya psikologis di tempat kerja.

Bahaya yang mungkin terjadi pada perusahaan ini jika dilihat dari aktivitas konstruksi,
operasi, pemeliharaan, transport, penyimpanan bahan baku atau bahan jadi, bisa ditinjau dari
empat sisi hazard utama, yaitu hazard fisik, psikologis, kimia, dan ergonomis.

Gangguan kesehatan yang bisa ditimbulkan dari sisi kimia bisa dilihat dari limbah hasil
pembuatan pulp dan kertas tersebut yang mengeluarkan limbah cair dalam jumlah besar. Air
limbah proses pembuatan pulp berupa lindi hitam yang didominasi oleh senyawa lignin,
sehingga termasuk kategori bahan pencemar yang tinggi. Senyawa lignin mengandung gugus
kromofor berwarna coklat kehitam-hitaman. Pada umumnya di industri pulp dan kertas skala
besar, lindi hitam ini dipulihkan kembali sebagai konservasi energi dari bahan kimia pemasak,
namun demikian masih ada sisa lindi hitam ini yang terbawa keluar bersama air limbah.
Mengingat sulitnya senyawa lignin terbiodegradasi, maka jika senyawa ini sampai masuk ke
dalam tubuh hewan atau tumbuhan senyawa ini tidak akan dapat dicerna. Jadi jika kita
mengkonsumsi daging hewan atau tumbuhan tersebut maka secara tidak langsung lignin yang
merupakan limbah dari industri pulp dan kertas itu akan masuk ke dalam tubuh kita juga. Jika hal
ini berlangsung secara terus-menerus, konsentrasi limbah lignin di dalam tubuh kita akan
meningkat. Hal ini berdampak buruk bagi kesehatan, bahkan dapat menimbulkan berbagai
macam penyakit seperti kanker atau gagal jantung.

Selain dilihat dari limbah pulp dan kertas, kita juga bisa melihat dari bahan baku yang
digunakan untuk pembuatan pulp dan kertas tersebut, misalnya klorin. Klorin mempunyai dua
kegunaan, yaitu untuk bahan pemutih dan penghalus pulp dan untuk mendrop oksigen pada
senyawa sulfur yang berada di liquor hitam (black liquor). Klorin sangat berbahaya bagi
kesehatan manusia. Klorin, baik dalam bentuk gas maupun cair mampu mengakibatkan luka
yang permanen, terutama kematian. Pada umumnya luka permanen terjadi disebabkan oleh asap
gas klorin. Klorin sangat potensial untuk menimbulkan penyakit di kerongkongan, hidung, dan
saluran pernapasan (saluran kerongkongan di dekat paru-paru). Akibat-akibat akut untuk jangka
pendek, yaitu pengaruh 250 ppm selama 30 menit kemungkinan besar berakibat fatal bagi orang
dewasa, terjadinya iritasi tinggi waktu gas itu dihirup dan dapat menyebabkan kulit dan mata
terbakar sedangkan jika berpadu dengan udara lembab, asam hidroklorik dan hipoklorus dapat
mengakibatkan peradangan jaringan tubuh yang terkena. Pengaruh sampai dengan 21 ppm
selama 30 sampai 60 menit menyebabkan penyakit pada paru-paru seperti pneumonitis, sesak
nafas, emphisema dan bronkitis. Akibat-akibat yang kronis untuk jangka panjang adalah adanya
kemungkinan menjadi tua sebelum waktunya, menimbulkan masalah dengan cabang
tenggorokan, pengkaratan pada gigi dan kecenderungan untuk munculnya penyakit paru-paru
seperti TBC dan emphisema.

Bila dilihat secara ergonomis, bahaya kerja yang mungkin terjadi pada perusahaan ini
ditinjau dari sisi konstruksi, karena pabrik ini berskala besar yang pastinya juga akan
menggunakan alat-alat besar, sehingga bangunan pabrik biasanya bertingkat dan beberapa
susunan lantainya adalah lantai berlubang sehingga ada potensi untuk bisa terjatuh apabila
pekerja kurang hati-hati ketika memperbaiki alat-alat produksi, dan juga pada proses pengelasan
dapat berpotensi menimbulkan iritasi pada anggota badan, khususnya mata jika pekerja tidak
menggunakan alat-alat pelindung diri. Atau juga bisa dikarenakan ruang bahan baku dan bahan
bakar yang dekat. Jika tangki bahan bakar pecah, bisa saja mengenai bahan baku, seperti klorin,
dan akan menimbulkan ledakan dan kebakaran. Ditinjau dari transportasi, cara duduk di kursi
truk yang mengangkut bahan baku pun bisa jadi bahaya saat kerja.

Dari sisi fisik dapat kita temukan suara mesin untuk produksi yang menimbulkan suara
bising dapat menimbulkan bahaya yang besar bagi pekerja yang terpajan terlalu lama, seperti
tuli.

Dilihat dari sisi psikologisnya, faktor-faktor di lingkungan kerja seperti terlalu banyaknya
jumlah pekerjaan yang harus diselesaikan dapat menyebabkan para pekerja mengalami tekanan
jiwa dan dapat menurunkan produktivitas kerja serta berpotensi untuk menimbulkan kecelakaan
kerja yang lebih besar akibat fokus yang kurang di dalam pekerjaan.

B. Manajemen Bahaya Kerja

Manajemen bahaya merupakan suatu proses interaksi yang digunakan oleh organisasi
tempat kerja untuk mengidentifikasi, mengevaluasi, dan menanggulangi bahaya di tempatnya
guna mengurangi risiko akibat bahaya tersebut. Manajemen bahaya kerja memiliki beberapa
keuntungan, antara lain: mengurangi kerusakan bahan material dan properti, penyelesaian
pekerjaan secara efektif dan efisien, serta mengurangi kecelakaan kerja yang mungkin saja
terjadi. Dalam pelaksanaannya, manajemen bahaya terdiri dari empat tahapan, yaitu identifikasi
bahaya kerja, evaluasi bahaya kerja, penilaian hasil evaluasi kerja, dan pengendalian serta
pemantauan bahaya kerja.

Tahap pertama yaitu identifikasi bahaya kerja yang merupakan tahapan yang paling penting
dimana pelaksanaannya adalah untuk mendeteksi adanya ancaman bahaya di tempat kerja. Hal
pertama yang harus dilakukan dari identifikasi bahaya kerja yaitu mengadakan pendekatan dan
diskusi dengan para pekerja yang berhubungan langsung dengan mesin, peralatan, komponen
fisik, dan tata laksana pekerjaan di tempat kerja dengan maksud untuk menanyakan ancaman
bahaya kerja yang sering kali atau mungkin terjadi terhadap mereka. Selanjutnya yaitu analisis
ancaman bahaya kerja serta hubungan antara bahaya kerja dan sistem operasional. Hal ini
dilakukan untuk mendapatkan informasi tentang kebutuhan khusus masing-masing kelompok
kerja, sistem operasional, dan sistem manajemen. Hal terakhir adalah yang paling penting yaitu
pelaksanaan inspeksi tempat kerja.
Tahap kedua berupa evaluasi bahaya kerja yaitu suatu proses yang dilaksanakan untuk
dapat menentukan seberapa besar risiko pemajanan bahaya kerja yang ditemukan di lingkungan
kerja. Evaluasi bahaya kerja yang dapat dilakukan misalnya seperti mengukur potensi pajanan
bahaya kerja yang terdiri dari pemantauan lingkungan kerja dan biologis, analisis derajat risiko
bahaya kerja, dan kategori pajanan. Pada analisis derajat risiko bahaya kerja, berat risiko yang
terjadi dapat diklasifikasikan menjadi empat, yaitu sangat berat, berat, sedang, dan ringan.

Tahap ketiga berupa penilaian hasil evaluasi bahaya kerja yang merupakan hasil
rangkuman peninjauan dari semua faktor yang dapat mengakibatkan bahaya kerja pada manusia.
Penilaian ini memudahkan penetapan langkah dalam pengendalian risiko bahaya kerja. Risiko
bahaya kerja sendiri dibagi dalam tiga kriteria, yaitu risiko ringan yang kemungkinan untuk
terjadinya kecil dan akibat yang ditimbulkan ringan, risiko sedang yang kemungkinannya untuk
terjadi kecil terjadi tapi akibat yang ditimbulkan cukup berat atau sebaliknya, dan risiko berat
untuk kemungkinan yang tinggi untuk terjadi dan akibat yang ditimbulkan pun sangat buruk.

Tahap terakhir yaitu pengendalian risiko bahaya kerja yang terbagi jadi tiga macam:
administratif, teknik, dan alat pelindung diri. Pada pengendalian secara administratif perlu dilihat
kesehatan lingkungan kerja, pemeliharaan mesin dan peralatan, identifikasi risiko bahaya kerja
yang belum teridentifikasi, dan lain-lain. Sedangkan pada pengendalian teknik dapat kita ganti
bahan yang berbahaya dengan yang kurang berbahaya, menggunakan metode basah, serta
penggunaan ventilasi lokal dan umum. Pada alat pelindung diri, kita dapat menggunakan
protektor seperti pelindung mata dan muka, pelindung kulit, dan pelindung saluran pernapasan.2

C. Tabel check list survey perusahaan

Nama perusahaan : PT. Kertas Mulia

Alamat : Jln. Ambang 3 No.15, Rangkasbitung, Banten

Lokasi tempat kerja : Rangkasbitung, Banten

Penanggung jawab tempat kerja : Bpk. Laksono Arif


______________________________________________________________________________
Denah Tempat Kerja yang di inspeksi:
______________________________________________________________________________

Unsur yang diinspeksi Catatan yang perlu Memuaskan/tidak


______________________________________________________________________________
Jumlah pekerja yang terpajan : 28

Lama pajanan/hari kerja : 8 jam / 5 hari kerja

Keterampilan teknis yang di butuhkan : Ahli mesin

Supervisor : Bpk. Mario Hans


______________________________________________________________________________
Bahaya kerja kimiawi/biologis/psikologis/fisik

Bahan berbahaya yang digunakan : Klorin

Bahan baku : Kayu

Produk jadi : Kertas

Produk antara : Pulp

Jumlah pekerja : 28 orang

Mesin : Bising
______________________________________________________________________________
MSDS tersedia : tidak

Cara masuk : Kontak langsung

Derajat pajanan : (2)


______________________________________________________________________________
Pengandalian yang dilaksanan : Pada mesin digunakan alat pengukur PH otomatis

Cara pemeliharaan dan pemantauan : Ahli mesin memantau tiap hari


______________________________________________________________________________
Penjelasan : Pekerja yang di kerjakan kurang serta waktu pajanan
terlalu lama, jadi perlu di tambahkan pekerja atau di
adakan shiftwork
______________________________________________________________________________
Umum

Prosedur kerja tulis : Pemilihan kayu Persiapan kayu Pembuburan kayu


Pencucian Menyuling Oksigen delignification
Bleaching Paper making Calender stack Pope reel
______________________________________________________________________________
Kebersihan : Mengeraskan serpihan- serpihan kecil dengan aspal atau
beton di areal penyimpanan bahan baku kayu atau yang
sudah menjadi chips.

Kesehatan : Mengurangi penggunaan bahan kimia

Keselamatan : Menggunakan sarung tangan dan baju pelindung

Fasilitas Kesejahteraan pekerja : Klinik


______________________________________________________________________________
Kamar mandi : Bersih

Tempat beristirahat : Nyaman

Kamar ganti dan fasilitas cuci/setrika : -

Kebijakan merokok : Terdapat ruangan tersendiri

Kebijakan promosi kesehatan : Sebulan sekali


______________________________________________________________________________
Pemeriksaan kesehatan : Setengah tahun sekali
______________________________________________________________________________
Rehabilitasi dan kebijakan terhadap
Pekerja yang cacat : Diberikan uang tunjangan hidup
______________________________________________________________________________
Nama pemeriksa : dr. Savitri

D. Nilai Ambang Batas (NAB)


NAB dapat dipakai sebagai standar bagi masing-masing zat kimia, untuk menyatakan
bahwa bila konsentrasi suatu zat kimia beracun di lingkungan kerja masih di bawah standar.
Maka pajanan zat kimia tersebut di lingkungan kerja masih dapat ditoleransi.
NAB yang digunakan untuk menentukan potensi bahaya sebuah paparan bahan fisik,
biologi maupun kimia di tempat kerja diadopsi dari standar National Institute for Occupational
Safety and Health (NIOSH).3
NAB rata-rata jam kerja dalam 1 minggu untuk gas sulfur dioksida adalah 2 ppm. Dan
untuk gas sulfur florida 5 ppm. Dari perhitungan didapatkan:

HARI C1 (Sulfur Dioksida) C2 (Sulfur Florida)


Senin 0,82 ppm 3,02 ppm
Selasa 0,79 ppm 1,83 ppm
Rabu 0,96 ppm 2,49 ppm
Kamis 0,95 ppm 2,82 ppm
Jumat 1,1 ppm 2,82 ppm
Rata-rata 0,92 ppm 2,596 ppm

NAB Camp. = C1 + C2_

NAB1 NAB2
= 0,92 + 2,596_
2ppm 5ppm
= 0,9812

Dari hasil penghitungan kadar campuran gas belum melewati Nilai Ambang Batas karena
NAB Campuran = <1.
E. Jenis Pengendalian Darurat

Untuk melindungi para pekerja dari paparan kerja, direncanakan 3 jenis pengendalian
diri, antara lain Containment, Biosafety Program Management, dan Compliance Assessment.4
1. CONTAINMENT Mencegah pajanan
Desain tempat kerja
Peralatan safety (biosafety cabinet, peralatan centrifugal)
Cara kerja
Dekontaminasi
Penanganan limbah dan spill management

2. BIOSAFETY PROGRAM MANAGEMENT


Dukungan manajemen ditandai dengan kehadiran secara pribadi pada rapat-rapat yang
membahas masalah kesehatan, pemeriksaan pribadi secara periodik, penekanan pada
laporan-laporan tetap tentang keselamatan dan pencantuman angka-angka keselamatan
dan prestasi bidang keselamatan pada agenda rapat dewan direksi.
a. Program support,
b. Biosafety spesialist,
c. Institutional biosafety committee,
d. Biosafety manual,
e. OH program,
f. Info & Educt

3. COMPLIANCE ASSESSMENT
a. Audit,
b. Annual review,
c. Incident & accident statistics

F. Preliminary Hazard Analysis (PHA)

PHA merupakan suatu metode yang dilakukan untuk mengetahui bahaya-bahaya awal
pada suatu system baru. PHA dilakukan jika tidak ada suatu informasi mengenai sistem
tersebut.5

POSSIBLE POSSIBLE PREVENTION


HAZARD CAUSES CONSEQUENCES MEASURES
(Bahaya Kerja) (Penyebab yang (Akibat yang (Langkah- langkah
mungkin) mungkin) pencegahan)
Tumpahan bensin Kelebihan isi, Kebakaran, Memberi
( FISIK ) kebocoran tangki, infrastruktur rusak, peringatan,
prosedur tidak pekerja terluka, inspeksi rutin,
benar, supir mobil kebakaran pelaihan pekerja
pengangkut bbm dan pengecekan
tidak benar dalam selang
mengemudikan
mobil
Peningkatan suhu Pemakaian bensin Kebakaran Alat detektor panas
sekitar lingkungan berlebihan Heat stroke
kerja Pekerja terluka
( FISIK ) Dehidrasi
Bahan kimia Kebakaran Tanki Luka bakar Membuat jarak
Terbakar Radiasi akibat aman antara
( KIMIA ) paparan pekerja dan bahan
kimia
Api yang menjalar Puntung rokok kebakaran Larangan merokok
( FISIK ) Kebakaran Tanki Tersedianya alat
pemadam
kebakaran
Disediakan tempat
khusus merokok
Konsleting Pemeriksaan
berkala alat alat
listrik

POSSIBLE POSSIBLE PREVENTION


HAZARD CAUSES CONSEQUENCES MEASURES
(Bahaya Kerja) (Penyebab yang (Akibat yang (Langkah- langkah
mungkin) mungkin) pencegahan)
Ruang kerja Ruang berdekatan Kebakaran Pemakainan sekat -
berdekatan sekat
( ERGONOMIS )
Paparan bahan Bahan kimia salah Pekerja terpapar Pengecekan
kimia sebelum dibawa
( KIMIA )
Kecelakaan akibat Narkoba Tabrakan Rambu rambu
kelalain supir Rokok Kebakaran peringatan lebih
( PSIKOLOGIS ) Mengantuk Tumpahan minyak jelas
Lalai mematikan Luka Pembuatan tanggul
mesin Shift work
Pajanan radiasi Radiasi telepon kebakaran Membuat
telepon genggam genggam peraturan agar
( FISIK ) Penggunaan telepon genggam
telepon genggam tidak bleh
saat pengisian digunakan saat
pengisian

BAB IV

KESIMPULAN

Bahaya kerja suatu keadaan dalam lingkungan kerja yang berpotensi untuk memicu
terjadinya gangguan kesehatan akibat kerja. Bahaya kerja terdiri dari bahaya fisik, bahaya
biologis, bahaya ergonomis, bahaya psikologis,dan bahaya kimiawi, dalam diskusi ini bahaya
kimia yang terpajan pada pekerja di perusahaan dapat di tentukan dengan menghitung nilai
NAB campuran. Setelah dilakukan pemantauan dan penghitungan nilai NAB campuran,
didapatkan nilai NAB campuran bahaya kimia sebesar 0.9812. Jadi dalam kasus ini, kadar
campuran gas belum melewati Nilai Ambang Batas karena NAB Campuran = <1.Untuk
mengidentifikasi, mengevaluasi, dan menanggulangi bahaya kerja guna mengurangi resiko
akibat bahaya kerja dibutuhkan proses manajemen bahaya kerja dimana tahapan dari
manajemen bahaya kerja antara lain adalah identifikasi bahaya kerja, evaluasi bahaya kerja,
penilaian hasil evaluasi bahaya kerja, pengendalian serta pemantauan bahaya kerja.

BAB V

DAFTAR PUSTAKA

1. Proses Pembuatan Kertas. Available from: http://berita-iptek.com/2008/05/proses-


pembuatan-kertas.html. Accessed on April 22, 2012.
2. Harrianto Ridwan. Agustin Erita, editor. Buku Ajar Kesehatan Kerja. Jakarta: EGC, 2009.

3. Paradigma Sehat untuk Kesehatan dan Keselamatan Kerja. Available from:


http://unair.ac.id/gurubesar.unair.php?id=53. Accessed on April 23, 2012.
4. Hazard di Tempat Kerja. Available from:
http://staff.ui.ac.id/internal/132096019/.../Sesi2AHazarddiTempatKerja. Accessed on
April 24, 2012.
5. Tujuan Keselamatan Kerja. Available from: http://library.upnvj.ac.id/pdf/4s1kesmas/
Accessed on April 24, 2012.