Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN PENDAHULUAN DAN STRATEGI PELAKSANAAN

RESIKO PERILAKU KEKERASAN / PERILAKU KEKERASAN

Disusun oleh:
Kelompok 4

1. Apriani Sinta Dewi (201411010)


2. Bernadeta Susetyo Endang (201411015)
3. Keyzia Ayu SB (201411032)
4. Klara Laras (201411034)

PROGRAM STUDI S1 ILMU KEPERAWATAN


STIKES ST. ELISABETH
SEMARANG
2017
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Setiap kehidupan manusia selalu mengalami fluktuasi dalam berbagai hal.
Berbagai stressor baik fisik, psikologis maupun social mampu
mempengaruhi bagaimana persepsi seorang individu dalam menyikapi
kehidupan [1]. Hanya individu dengan pola koping yang baik yang mampu
mengendalikan stressor-stressor tersebut sehingga seorang individu dapat
terhindar dari merilaku maladaptive. Selain faktor pola koping, faktor
support system individu sangat memegang peranan vital dalam menghadapi
stressor tersebut[1].
Individu yang mengalami ketidakmampuan dalam menghadapi stressor
disebut individu yang berperilaku maladaptive, terdapat berbagai macam
jenis perilaku maladaptive yang mungkin dialami oleh individu, dari yang
tahap ringan hingga ke tahap yang paling berat salah satunya adalah resiko
perilaku kekerasan atau perilaku kekerasan. Perilaku kekerasan adalah ungkapan
perasaan marah dan bermusuhan yang mengakibatkan hilangnya kontrol diri
dimana individu bisa berperilaku menyerang atau melakukan suatu tindakan yang
dapat membahayakan diri sendiri, orang lain maupun lingkungan. Sedangkan
resiko perilaku kekerasan adalah adanya kemungkinan seseorang melakukan
tindakan dalam bentuk destruktif dan masih terkontol. Perilaku tersebut dapat
berupa menciderai diri sendiri, melalukan penganiayaan terhadap orang lain dan
merusak lingkungan.
Kasus kekerasan merupakan kasus ke 5 tertinggi. Terutama pada anak dan
kekerasan dalam rumah tangga. Kasus pada anak pada tahun 2015 tercatat 6006
kasus, dimana pada kasus pengasuhan 3160 kasus, pendidikan 1764 kasus,
kesehatan dan napza 1366 kasus, serta pornografi dan cybercrime 1032 kasus.
Sedangkan kasus kekerasan dalam rumah tangga menurut Komnas Perempuan
Indonesia mengungkapkan pada tahun 2016 terdapat 259.150 kekerasan atas
perempuan.
Berdasarkan data diatas, menunjukkan bahwa resiko perilaku kekerasan atau
perilaku kekerasan sangat besar, sehingga kami akan membahas tentang strategi
pengendalian risiko perilaku kekerasan sehingga seseorang tidak memilih untuk
tidak melakukan kekerasan.
1.2. Tujuan
1.2.1. Tujuan umum

1
Untuk mengetahui strategi pelaksanaan pada pasien dan keluarga dengan
risiko perilaku kekerasan.
1.2.2. Tujuan Khusus
1.2.2.1. Untuk mengetahui pengertian, tanda dan gejala, rentang respons,
mekanisme koping, masalah keperawatan yang munkin muncul
pada pasien dengan risiko perilaku kekerasan.
1.2.2.2. Untuk mengetahui simulasi strategi pelaksanaan risiko perilaku
kekerasan terhadap pasien dan keluarga.

1.3. Manfaat
1.3.1. Mahasiswa mampu mengetahui pengertian, tanda dan gejala, rentang
respons, mekanisme koping, masalah keperawatan yang munkin muncul
pada pasien dengan risiko perilaku kekerasan.
1.3.2. Mahasiswa mampu mengetahui simulasi strategi pelaksanaan risiko
perilaku kekerasan terhadap pasien dan keluarga.

2
BAB II
TINJAUAN TEORI

2.1 Laporan Pendahuluan Perilaku Kekerasan


2.1.1 Pengertian
Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan
tindakan yang dapat membahayakan secara fisik, baik terhadap diri sendiri,
orang lain maupun lingkungan. Marah merupakan perasaan jengkel yang
timbul terhadap kecemasan yang dirasakan sebagai ancaman. 2 Menurut
Patricia D. Barry3, perilaku kekerasan adalah suatu keadaan emosi yang
merupakan campuran perasaan frustasi dan benci atau marah. Perilaku
kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan
yang dapat membahayakan secara fisik, baik kepada diri sendiri maupun
orang lain.4 Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang
melakukan suatu tindakan yang dapat membahayakan secara fisik baik
kepada diri sendiri, orang lain maupun lingkungan.5
Resiko perilaku kekerasan adalah adanya kemungkinan seseorang
melakukan tindakan yang dapat mencederai orang lain dan lingkungan
akibat ketidakmampuan mengendalikan marah secara konstruktif.6
Resiko perilaku kekerasan atau agresif adalah perilaku yang menyertai
marah dan merupakan dorongan untuk bertindak dalam bentuk destruktif
dan masih terkontrol.4
Dari beberapa pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa perilaku
kekerasan adalah ungkapan perasaan marah dan bermusuhan yang
mengakibatkan hilangnya kontrol diri dimana individu bisa berperilaku
menyerang atau melakukan suatu tindakan yang dapat membahayakan diri
sendiri, orang lain maupun lingkungan. Sedangkan resiko perilaku
kekerasan adalah adanya kemungkinan seseorang melakukan tindakan
dalam bentuk destruktif dan masih terkontrol.7
2.1.2 Tanda Gejala
Tanda dan gejala yang ditemui pada pasien melalui observasi atau
wawancara tentang perilaku adalah sebagai berikut:8
2.1.2.1. Muka merah dan tegang
2.1.2.2. Pandangan tajam
2.1.2.3. Mengatupkan rahang dengan kuat
2.1.2.4. Mengepalkan tangan
2.1.2.5. Jalan mondar-mandir
2.1.2.6. Bicara kasar
2.1.2.7. Suara tinggi, menjerit atau berteriak
2.1.2.8. Mengancam secara verbal atau fisik
2.1.2.9. Melempar atau memukul benda/orang lain

3
2.1.2.10.Merusak barang atau benda
2.1.2.11.Tidak memiliki kemampuan mencegah / mengendalikan perilaku
kekerasan

2.1.3 Rentang Respons


Respon kemarahan dapat berfluktuasi dalam rentang adaptif
maladaptif, seperti rentang respon kemarahan di bawah ini.4

Adaptif Maladaptif

2.1.3.1. Asertif adalah kemarahan atau rasa tidak setuju yang


Asertif Frustasi Pasif Agresif Amuk / PK
dinyatakan atau diungkapkan tanpa menyakiti orang lain,
akan memberi kelegaan pada individu dan tidak akan
menimbulkan masalah.
2.1.3.2. Frustasi adalah respon yang terjadi akibat gagal mencapai
tujuan karena yang tidak realistis atau hambatan dalam proses
pencapaian tujuan. Dalam keadaan ini tidak ditemukan
alternatif lain. Selanjutnya individu merasa tidak mampu
mengungkapkan perasaan dan terlihat pasif.
2.1.3.3. Pasif adalah individu tidak mampu mengungkapkan
perasaannya, klien tampak pemalu, pendiam, sulit diajak
bicara karena rendah diri dan merasa kurang mampu.
2.1.3.4. Agresif adalah perilaku yang menyertai marah dan merupakan
dorongan untuk bertindak dalam bentuk destruktif dan masih
terkontol, perilaku yang tampak dapat berupa: muka masam,
bicara kasar, menuntut, kasar disertai kekerasan.
2.1.3.5. Amuk adalah perasaan marah dan bermusuhan kuat disertai
kehilangan kontrol diri. Individu dapat merusak diri sendiri
orang lain dan lingkungan.

2.1.4 Faktor predisposisi


Faktor predisposisi menurut Stuart & Sundeen2, berbagai pengalaman
yang dialami tiap orang yang merupakan faktor predisposisi, artinya
mungkin terjadi atau mungkin tidak terjadi perilaku kekerasan jika faktor
berikut dialami oleh individu:
2.1.4.1. Psikologi, kegagalan yang dialami dapat menimbulkan
frustasi yang kemudian dapat menyebabkan agresif atau
amuk, masa kanak-kanak yang tidak menyenangkan yaitu
perasaan ditolak, dihina, dianiaya atau sanki penganiayaan

4
dapat menyebabkan gangguan jiwa pada usia dewasa atau
remaja.
2.1.4.2. Biologis, respon biologis timbul karena kegiatan system
syaraf otonom bereaksi terhadap sekresi epineprin, sehingga
tekanan darah meningkat, takhikardi, wajah merah, pupil
melebar dan frekuensi pengeluaran urine meningkat. Ada
gejala yang sama dengan kecemasan seperti meningkatnya
kewaspadaan, ketegangan otot seperti rahang terkatup, tangan
dikepal, tubuh kaku dan reflek cepat. Hal ini disebabkan
energi yang dikeluarkan saat marah bertambah.
2.1.4.3. Perilaku, Reinforcement yang diterima saat melakukan
kekerasan, sering mengobservasi kekerasan di rumah atau di
luar rumah, semua aspek ini menstimulasi individu
mengadopsi perilaku kekerasan.
2.1.4.4. Sosial budaya, budaya tertutup dan membalas secara diam
(pasif agresif) dan kontrol sosial yang tidak pasti terhadap
perilaku kekerasan akan menciptakan seolah olah perilaku
kekerasan diterima (permissive).
2.1.4.5. Aspek spiritual, kepercayaan, nilai dan moral mempengaruhi
ungkapan marah individu. Aspek tersebut mempengaruhi
hubungan individu dengan lingkungan. Hal ini bertentangan
dengan norma yang dimiliki dapat menimbulkan kemarahan
yang dimanifestasikan dengan amoral dan rasa tidak berdosa.
Individu yang percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa, selalu
meminta kebutuhan dan bimbingan kepadanya.

2.1.5 Faktor presipitasi8


Secara umum, seseorang akan berespon dengan marah apabila merasa
dirinya terancam. Ancaman tersebut dapat berupa injury secara psikis, atau
lebih dikenal dengan adanya ancaman terhadap konsep diri seseorang.
Ketika seseorang merasa terancam, mungkin dia tidak menyadari sama
sekali apa yang menjadi sumber kemarahannya. Oleh karena itu, baik
perawat maupun klien harus bersama-sama mengidentifikasinya. Ancaman
dapat berupa internal maupun eksternal, contoh: stessor eksternal: serangan
secara psikis, kehilangan hubungan yang dianggap bermakna, hingga
adanya kritikan dari orang lain. Sedangkan contoh dari stressor internal:
merasa gagal dalam bekerja, merasa kehilangan orang yang dicintai dan
ketakutan terhadap penyakit yang diderita.

5
Bila dilihat dari sudut perawat-klien, maka faktor yang menncetuskan
terjadinya perilaku kekerasan terbagi dua, yakni:
2.1.5.1. Klien:
Kelemahan fisik, keputusan, ketidakberdayaan, kurang percaya
diri.
2.1.5.2. Lingkungan:
Ribut, kehilangan orang/objek yang berharga, konflik interaksi
social.4
2.1.6 Mekanisme koping
Mekanisme koping yang umum digunakan adalah mekanisme
pertahanan ego seperti: sublimasi yaitu menerima suatu sasaran pengganti
artinya saat mengalami suatu dorongan, penyalurannya ke arah lain,
proyeksi yaitu menyalahkan orang lain mengenai kesukarannya atau
keinginannya yang tidak baik, represi yaitu mencegah pikiran yang
menyakitkan atau membahayakan masuk ke alam sadar, reaksi formasi
yaitu mencegah keinginan yang berbahaya bila diekspresikan dengan
melebih-lebihkan sikap dan perilaku yang berlawanan digunakannya
sebagai rintangan, dan diplacement yaitu melepaskan perasaan yang
tertekan, melampiaskan pada obyek yang tidak begitu berbahaya yang
membangkitkan emosi itu.9
2.1.7 Pohon masalah7

Perilaku Kekerasan Effect

Risiko Perilaku Kekerasan Care problem

Causa
Harga diri rendah

2.1.8 Masalah keperawatan yang mungkin muncul7


2.1.8.1. Perilaku Kekerasan
2.1.8.2. Resiko Perilaku Kekerasan
2.1.8.3. Harga diri rendah.

2.2 Strategi Pelaksanaan Resiko Perilaku Kekerasan dan Perilaku Kekerasan


2.2.1 Pengkajian
Perilaku kekerasan adalah suatu bentuk perilaku yang bertujuan untuk
melukai seseorang, baik secara fisik maupun psikologis. Berdasarkan
definisi ini, perilaku kekerasan dapat dilakukan secara verbal, diarahkan
pada diri sendiri, orang lain, dan lingkungan. Perilaku kekerasan dapat

6
terjadi dalam dua bentuk, yaitu perilaku kekerasan saat sedang
berlangsung atau perilaku kekerasan terdahulu (riwayat perilaku
kekerasan).
2.2.1.1 Data obyektif :
2.2.1.1.1 Mata merah
2.2.1.1.2 Pandangan tajam
2.2.1.1.3 Otot tegang
2.2.1.1.4 Nada suara tinggi
2.2.1.1.5 Suka berdebat
2.2.1.1.6 Sering memaksakan kehendak
2.2.1.1.7 Merampas makanan, memukul jika tidak senang
2.2.1.2 Data subyektif
2.2.1.2.1 Mengeluh merasa terancam
2.2.1.2.2 Mengungkapkan perasaan tak berguna
2.2.1.2.3 Mengungkapkan perasaan jengkel
2.2.1.2.4 Mengungkapkan adanya keluhan fisik, berdebar-
debar, merasa tercekik, sesak dan bingung

2.2.2 Diagnosa keperawatan


Diagnosis keperawatan ditetapkan sesuai dengan data yang didapat.
Diagnosis keperawatan risiko perilaku kekerasan dirumuskan jika pasien
saat ini tidak melakukan perilaku kekerasan, tetapi pernah melakukan
perilaku kekerasan dan belum mempunyai kemampuan mencegah /
mengendalikan perilaku kekerasan tersebut.

2.2.3 Tindakan keperawatan


Setelah menegakkan diagnosis keperawatan, perawat melakukan beberapa
tindakan keperawatan, baik pada pasien maupun keluarganya.
2.2.3.1 Tindakan keperawatan pada pasien
2.2.3.1.1 Tujuan keperawatan
2.2.3.1.1.1 Pasien dapat mengidentifikasi penyebab
perilaku kekerasan
2.2.3.1.1.2 Pasien dapat mengidentifikasi tanda-
tanda perilaku kekerasan
2.2.3.1.1.3 Pasien dapat menyebutkan jenis
perilaku kekerasan yang pernah
dilakukannya
2.2.3.1.1.4 Pasien dapat menyebutkan akibat dari
perilaku kekerasan yang dilakukannya
2.2.3.1.1.5 Pasien dapat menyebutkan cara
mencegah/mengendalikan perilaku
kekerasannya
2.2.3.1.1.6 Pasien dapat mencegah/mengendalikan
perilaku kekerasannya secara fisik,

7
spiritual, sosial, dan dengan terapi
psikofarmaka
2.2.3.1.2 Tindakan keperawatan
2.2.3.1.2.1 Bina hubungan saling percaya
Dalam membina hubungan saling
percaya, pasien harus merasa aman dan
nyaman saat berinteraksi dengan
perawat. Tindakan yang harus perawat
lakukan dalam rangka membina
hubungan yang harus perawat lakukan
dalam rangka membina hubungan
saling percaya adalah:
2.2.3.1.2.1.1 Mengucapkan salam
terapeutik
2.2.3.1.2.1.2 Berjabat tangan
2.2.3.1.2.1.3 Menjelaskan tujuan
interaksi
2.2.3.1.2.1.4 Membuat kontrak topik,
waktu dan tempat setiap
kali bertemu pasien
2.2.3.1.2.2 Diskusikan bersama pasien penyebab
perilaku kekerasan sekarang dan yang
lalu
2.2.3.1.2.3 Diskusikan perasaan, tanda, dan gejala
yang dirasakan pasien jika terjadi
penyebab perilaku kekerasan.
2.2.3.1.2.3.1 Diskusikan tanda dan gejala
perilaku kekerasan secara
fisik
2.2.3.1.2.3.2 Diskusikan tanda dan gejala
perilaku kekerasan secara
psikologis
2.2.3.1.2.3.3 Diskusikan tanda dan gejala
perilaku kekerasan secara
sosial
2.2.3.1.2.3.4 Diskusikan tanda dan gejala
perilaku kekerasan secara
spiritual

8
2.2.3.1.2.3.5 Diskusikan tanda dan gejala
perilaku kekerasan secara
intelektual
2.2.3.1.2.4 Diskusikan bersama pasien tentang
perilaku kekerasan yang bisa dilakukan
pada saat marah
2.2.3.1.2.4.1 Verbal
2.2.3.1.2.4.2 Terhadap orang lain
2.2.3.1.2.4.3 Terhadap diri sendiri
2.2.3.1.2.4.4 Terhadap lingkungan
2.2.3.1.2.5 Diskusikan bersama pasien akibat
perilaku kekerasan yang ia lakukan
2.2.3.1.2.6 Diskusikan bersama pasien cara
mengendalikan perilaku kekerasan, yaitu
dengan cara berikut
2.2.3.1.2.6.1 Fisik : pukul kasur/bantal,
tarik nafas dalam
2.2.3.1.2.6.2 Obat
2.2.3.1.2.6.3 Sosial/verbal : menyatakan
secara asertif rasa
marahnya
2.2.3.1.2.6.4 Spiritual : beribadah
sesuai keyakinannya
pasien
2.2.3.1.2.7 Bantu pasien latihan mengendalikan
perilaku kekerasan secara fisik :
2.2.3.1.2.7.1 Latihan nafas dalam dan
pukul kasur/bantal
2.2.3.1.2.7.2 Susun jadwal latihan
dalam dan pukul
kasur/bantal

2.2.3.1.2.8 Bantu pasien latihan mengendalikan


perilaku kekerasan secara sosial/verbal
2.2.3.1.2.8.1 Bantu mengungkapkan
rasa marah secara verbal :
menolak dan meminta
dengan baik,
mengungkapkan perasaan
dengan baik

9
2.2.3.1.2.8.2 Susun jadwal latihan
mengungkapkan marah
secara verbal
2.2.3.1.2.9 Bantu pasien latihan mengendalikan
perilaku kekerasan secara spiritual
2.2.3.1.2.9.1 Bantu pasien
mengendalikan marah
seperti spiritual : kegiatan
ibadah yang biasa
dilakukan
2.2.3.1.2.9.2 Buat jadwal latihan ibadah
dan berdoa
2.2.3.1.2.10 Bantu pasien mengendalikan perilaku
kekerasan dengan patuh minum obat
2.2.3.1.2.10.1 Bantu pasien minum obat
secara teratur dengan
prinsip 5 benar (benar
nama pasien, benar nama
Orientasi obat, benar cara minu
obat,
Selamat pagi Pak, perkenalkan nama saya AK, benarsaya
panggil waktu minum
A. Saya perawat yang dinas diruangan Soka ini. Hari obat, dandinas
ini saya benar dosis obat)
disertai
pagi dari jam 7 pagi sampai jam 2 siang. Saya yang akan merawat penjelasan
Bapak, selama Bapak dirumah sakit ini. Nama Bapakmengenai
siapa, kegunaan obat
senangnya di panggil apa? dan akibat berhenti minum
Bagaimana perasaan Bapak saat ini? Masih ada obatperasaan
2.2.3.1.2.10.2 Susun jadwal minum obat
kesal atau marah? Apa yang terjadi di rumah?"
secara teratur
Baiklah, sekarang kita akan berbincang-bincang
2.2.3.1.2.11 tentangpasien
Ikut sertakan perasaandalam TAK
marah Bapak. stimulasi persepsi untuk mengendalikan
Berapa lama bapak mau kita berbincang-bincang?
perilaku kekerasan
SP 1 pasien:
Bagaimana membina
kalau hubungan saling percaya, mengidentifikasi penyebab
20 menit?
marah,Bagaimana
tanda dan kalau
gejala kita
yang dirasakan, perilakudikekerasan
berbincang-bincang yang dilakukan,
ruang tamu?
akibat, dan cara mengendalikan perilaku kekerasan dengan cara fisik pertama
Kerja
(latihan nafas
Apa dalam)
yang peragakanBapak
menyebabkan komunikasi di bawah
amarah? Apakahini!
sebelumnya Bapak A pernah marah? Terus, penyebabnya apa?
Samakah dengan yang sekarang? O... Iya, jadi ada dua penyebab
marah Bapak A.
Pada saat penyebab marah itu ada, seperti Bapak A pulang
ke rumah dan isttri belum menyediakan makanan (misalnya ini
penyebab marah pasien), apa yang Bapak A rasakan ? (Tunggu
10
respon pasien)
Apakah Bapak A merasakan kesal kemudian dada Bapak
berdebar-debar, mata melotot, rahang terkatup rapat, dan tangan
mengepal ?
Setelah itu apa yang Bapak A lakukan ?
Jadi Bapak A memukul istri dan memecahkan piring ?
Apakah dengan cara ini makanan terhidang ? Iya, tentu tidak. Apa
kerugian cara yang Bapak A lakukan ? Betul, istri jadi sakit dan
takut, piring-piring pecah.
Menurut Bapak A adakah cara lain yang lebih baik ? Maukah
Bapak A belajar cara mengungkapkan kemarahan dengan baik tanpa
menimbulkan kerugian ?
Ada beberapa cara untuk mengendalikan kemarahan, Pak.
Salah satunya adalah dengan cara fisik. Jadi, melalui kegiatan fisik,
rasa marah disalurkan.
Ada beberapa cara fisik untuk mengendalikan rasa marah,
bagaimana kalau kita belajar satu cara dulu ?
Begini Pak, kalau tanda-tanda marah tadi sudah Bapak A
rasakan, Bapak berdiri, lalu tarik nafas dari hidung, tahan sebentar,
lalu keluarkan/tiup perlahan-lahan melalui mulut seperti
mengeluarkan kemarahan. Ayo coba lagi, tarik dari hidung, bagus..,
tahan, dan tiup melalui mulut. Nah, lakukan 5 kali. Bagus sekali,
Bapak A sudah bisa melakukannya. Bagaimana perasaannya ?
Nah, sebaiknya latihan ini Bapak A lakukan secara rutin sehingga
bila sewaktu-waktu rasa marah itu muncul Bapak A sudah terbiasa
melakukannya.
Terminasi
Bagaimana perasaan Bapak A setelah berbicang-bincang
tentang kemarahan Bapak ?
Iya, jadi ada dua penyebab Bapak A marah...(sebutkan) dan
yang Bapak rasakan...(sebutkan) dan yang Bapak lakukan...
(sebutkan) serta akibatnya...(sebutkan).
11
Coba selama saya tidak ada, ingat-ingat lagi penyebab marah Bapak
yang lalu apa yang Bapak lakukan kalau marah yang belum kita bahas dan
jangan lupa latihan nafas dalam, ya Pak.
Sekarang kita buat jadwal latihannya ya Pak, berapa kali sehari
Bapak mau latihan nafas dalam?
Baik, bagaimana kalau dua jam lagi saya datang dan kita latihan cara
yang lain untuk mencegah/mengendalikan marah.
Tempatnya disini saja, ya Pak ?
Selamat Pagi

SP 2 Pasien: Membantu pasien latihan mengendalikan perilaku kekerasan dengan


cara fisik kedua (evaluasi napas dalam, latihan mengendalikan perilaku kekerasan
dengan cara fisik kedua [pukul kasur dan bantal], menyusun jadwal kegiatan harian
cara kedua).
Peragakan komunikasi di bawah ini!

Orientasi
Selamat pagi Pak A, sesuai dengan janji saya dua jam yang lalu
sekarang saya datang lagi.
Bagaimana perasaan Bapak saat ini, adakah hal yang menyebabkan
Bapak marah?
Baik, sekarang kita akan belajar cara mengendalikan perasaan marah
dengan kegiatan fisik untuk yang kedua.
Mau berapa lama? Bagaimana kalau 20 menit?
Di mana kita bicara?

12
Kerja
Kalau ada yang enyebabkan Bapak marah dan munculperasaan
kesal, bedebar-debar, mata melotot, selain napas dalam Bapak dapat
memukul kasur dan bantal.
Sekarang, mari kita latihan memukul kasur dan bantal. Mana
kamar Bapak? Jadi kalau nanti Bapak kesal dan ingin marah, langsung ke
kamar dan lampiaskan kemarahan tersebut dengan memukul kasur dan
bantal. Nah, coba Bapak lakukan, pukul kasur dan bantal. Ya, bagus sekali
Bapak melakukannya!
Kekesalan lampiaskan ke kasur dan bantal.
Nah, cara ini pun dapat dilakukan secara rutin jika ada perasaan
marah. Kemudian jangan lupa merapikan tempat tidurnya.

Terminasi
Bagaimana peradaan Bapak setelah latihan cara menyalurkan
marah tadi?
Ada berapa cara yang sudah kita latih, coba Bapak sebutkan lagi?
Bagus!
Mari kita masukkan ke dalam jadwal kegiatan sehari-hari Bapak.
Pukul berapa Bapak mau mempraktikkan memukul kasur/bantal?
Bagaimana kalau setiap bangun tidur? Baik, jadi jam 5 pagi dan jam 3
sore. Lalu, kalau ada keinginan marah sewaktu-waktu gunakan kedua cara
tadi ya Pak.
Besok jam 10 pagi, kita ketemu lagi, kita akan latihan cara
mengedalikan marah dengan belajar bicara yang baik. Sampai jumpa!

13
SP 3 pasien: Membantu pasien latihan mengendalikan perilaku kekerasan secara
sosial/verbal (evaluasi jadwal harian tentang dua cara fisik mengendalikan perilaku
kekerasan secara sosial/verbal (evaluasi jadwal harian tentang dua cara fisik
mengendalikan perilaku kekerasan, latihan mengungkapkan rasa marah secara verbal
[menolak dengan baik, meminta dengan baik, mengungkapkan perasaan dengan
baik], susun jadwal latihan mengungkapkan marah secara verbal)
Peragakan komunikasi di bawah ini:

Orientasi
Selamat pagi Pak A, sesuai dengan janji saya kemarin, sekarang
kita ketemu lagi. Bagaimana Pak, sudah dilakukan latihan Tarik napas
dalam dan pukul kasur bantal? Apa yang dirasakan setelah melakukan
latihan secara teratur? Berkurangkah rasa marahnya?
Coba saya lihat jadwal kegiatan hariannya. Bagus! Nah, kalau
Tarik napas dalamnya dilakukan sendiri, tulis M, artinya mandiri; kalau
diingatkan susterbaru dilakukan, tulis B, artinya dibantu atau diingatkan.
Kalau tidak dilakukan, tulis T, artinya belum dapat melakukan.
Bagaimana kalau sekarang kita latihan cara bicara yang baik
untuk mencegah marah?
Di mana kita berbincang-bincang? Bagaimana kalau di tempat
yang sama?
Berapa lama Bapak mau kita berbincang-bincang? Bagaimana
kalau 30 menit?

Kerja
Sekarang kita latihan cara bicara yang baik untuk mencegah
marah. Kalau marah sudah disalurkan melalu Tarik napas dalam atau
pukul kasur dan bantal, dan sudah lega, kita perlu bicara dengan orang
yang membuat kita marah. Ada tiga caranya Pak:
Meminta dengan baik tanpa marah dengan nada suara yang rendah
serta tidak menggunakan kata-kata kasar. Kemarin Bapak bilang
penyebab marahnya karena istri tidak memberi uang. Coba Bapak
minta uang dengan baik, katakan, Bu, saya perlu uang untuk
membeli teh. Coba Bapak praktikkan. Bagus Pak!

14
Menolak dengan baik, jika ada yang menyuruh dan Bapak tidak
ingin melakukannya, katakan, Maaf, saya tidak bias
melakukannya karena sedang adda kerjaan. Coba Bapak
praktikkan. Bagus Pak!
Mengungkapkan perasaan kesal. Jika ada perlakuan orang lain
yang membuat kesal, Bapak dapat mengatakan, Saya jadi ingin
marah karena perkataanmu itu. Coba praktikkan. Bagus!

Terminasi
Bagaimana perasaan Bapak setelah kita bercakap-cakap tentang cara
mengendalikan marah dengan bicara yang baik?
Coba Bapak sebutkan lagi cara bicara yang baik yang telah kita
pelajari! Bagus sekali! Sekarang mari kita masukkan dalam jadwal.
Berapa kali sehari Bapak mau latihan bicara yang baik?
Coba Bapak masukkan ke dalam latihan sehari-hari, misalnya
meminta obat, uang, dll. Bagus nanti dicoba ya Pak!
Bagaiman kalau dua jam lagi kita ketemu?
Nanti kita akan membicarakan cara lain untuk mengatasi rasa
marah Bapak yaitu dengan cara ibadah, Bapak setuju? Mau di mana Pak?
Di sini lagi? Baik, sampai nanti ya!

15
SP 4 pasien: Bantu pasien latihan mengendalikan perilaku kekerasan secara spiritual
(diskusikan hasil latihan mengendalikan perilaku kekerasan secara fisik dan
sosial/verbal, latihan beribadah dan berdoa, buat jadwal latihan ibadah/berdoa

Orientasi
Selamat pagi Pak, sesuai dengan janji saya dua jam yang lalu
sekarang saya dating lagi.
Bagaimana Pak, latihan apa yang sudah dilakukan? Apa yang
dirasakan setelah melakukan latihan secara teratur? Bagus sekali,
bagaimana rasa marahnya?
Bagaimana kalau sekarang kita latihan cara lain untuk mencegah
rasa marah yaiu dengan ibadah sesuai dengan agaman Bapak?
Di mana kita berbincang-bincang? Bagaimana kalau di tempat
tadi?
Berapa lama Bapak mau kita berbincang-bincang?
Bagaimana kalau 30 menit?

Kerja
Coba ceritakan kegiatan ibadah yang bias Bapak lakukan!
Bagus.
Baik, yang mana mau dicoba?
Nah, kalau Bapak sedang marah coba Bapak langsung duduk dan
Tarik napas dalam.
Jika tidak reda juga marahnya rebahakan badan agar rileks.
Apakegiatan ibadah yang biasa Bapak lakukan?
Kegiatan ibadah mana yang mau dicoba selama di rumah sakit?
Coba pilih dua kegiatan yang ingin Bapak lakukan.
Mari coba lakukan. Bagus sekali!
Bapak bisa melakukan ibadah secara teratur untuk meredakan
kemarahan.

16
Terminasi
Bagaimana perasaan Bapak perasaan Bapak setelah kita
bercakap-cakap tentang cara yang ketiga ini?
Jadi, sudah berapa cara mengendalikan marah yang kita pelajari?
Bagus!
Mari kita masukkan kegiatan ibadah pada jawal kegiatan Bapak.
Mau berapa kali Bapak beribadah.
Coba Bapak sebutkan lagi cara ibadah yang dapat Bapak lakukan
saat Bapak meras marah.
Setelah ini, coba Bapak lakukan jadwal ibadah sesuai jadwal yang
telah kita buat tadi dan perhatikan apakah rasa marah Bapak berkurang.
Besok kita ketemu lagi ya Pak, nanti kita bicarakan cara keempat
mengendalikan rasa marah, yaitu dengan patuh minum obat. Jam berapa
Bapak ada waktu?
Di mana kita berbincang? Bagaimana kalau di tempat ini lagi?
Sampai jumpa, Pak!

17
2.2.3.2 Tindakan keperawatan pada keluarga
2.2.3.2.1. Tujuan keperawatan
Keluarga dapat merawat pasien di rumah
2.2.3.2.2. Tindakan keperawatan
2.2.3.2.2.1. Diskusikan masalah yang dihadapi keluarga
dalam merawat pasien
2.2.3.2.2.2. Diskusikan bersama keluarga tentang perilaku
kekerasan (penyebab, tanda dan gejala, perilaku
yang muncul, dan akibat dari perilaku tersebut)
2.2.3.2.2.3. Diskusikan bersama keluarga tentang kondisi
pasien yang perlu segera dilaporkan kepada
perawat, seperti melempar atau memukul
benda/orang lain
2.2.3.2.2.4. Bantu latihan keluarga dalam merawat pasien
perilaku kekerasan
2.2.3.2.2.4.1. Anjurkan keluarga untuk
memotivasi pasien melakukan
tindakan yang telah diajarkan
perawat
2.2.3.2.2.4.2. Ajarkan keluarga untuk
memberikan pujian kepada
pasien jika pasien dapat
melakukan kegiatan tersebut
secara tepat
2.2.3.2.2.4.3. Diskusikan bersama keluarga
tindakan yang harus dilakukan
jika pasien menunjukkan gejala-
gejala perilaku kekerasan
2.2.3.2.2.5. Buat perencanaan pulang bersama keluarga

SP 1 Keluarga : memberikan pendidikan kesehatan kepada keluarga tentang cara


merawatt pasien perilaku kekerasan dirumah (diskusikan masalah yang dihadapi
keluarga dalam merawat pasien, diskusikan bersama keluarga tentang perilaku
kekerasan [penyebab, tanda, dan gejala, perilaku yang muncul dan akibat dari
perilaku tersebut], diskusikan bersama keluarga kondisi pasien yang perlu segera
dilaporkan kepada perawat, seperti melempar atau memukul benda/orang lain)

18
Orientasi
Selamat pagi Bu, perkenalkan nama saya A K, saya perawat dari
ruang Soka ini, saya yang akan merawat Bapak (pasien). nama Ibu siapa,
senangnya dipanggil apa?
Bisa kita berbincang-bincang sekarang tentang masalah yang ibu
hadapi? Berapa lama Ibu kita berbincang-bincang? Bagaimana kalau 30
menit?
Dimana enaknya kita berbincang-bincang,Bu? Bagaimana kalau
di kantor perawat?
Kerja
Bu, apa masalah yang Ibu hadapi dalam merawat Bapak? Apa
yang Ibu lakukan? Baik Bu, Saya akan coba jelaskan tentang marah
Bapak dan hal-hal yang perlu diperhatikan.
Bu, marah adalh sesuatu perasaan yang wajar, tetapi jika tidak
disalurkan dengan benar akan membahayakan dirinya sendiri, orang lain
dan lingkungan.
Hal yang menyebabkan suami Ibu marah dan mengamuk adalah
kalu dia merasa direndahkan dan keinginannya tidak terpenuhi.
Tanda orang marah adalah tampak tegang dan merah, kemudian
kelihatan gelisah, dan biasanya setelah itu ia akan melampiaskannya
dengan membanting-banting perabot rumah tangga atau memukul atau
bicara kasar. Kalau sedang marah apa yang terjadi pada Bapak? Lalu apa
yang biasa Bapak lakukan saat marah?
Jika Bapak masih marah dan ngamuk segera bawa ke puskesmas
atau RSJ setelah sebelumnya diikat dulu (ajarkan caranya pada keluarga).
Jangan lupa minta bantuan orang lain saat mengikat Bapak dan dijelaskan
alas an mengikat, yaitu agar Bapak tidak mencederai diri snediri, orang
lain, dan lingkungan.

19
Nah Bu, Ibu sudah lihat apa yang saya kerjakan kepada Bapak bila tanda-tanda
kemarahan muncul. Ibu biasa bantu Bapak dengan cara mengingatkan jadwal latihan
cara mengendalikan marah yang sudah dibuat, yaitu secara fisik, verbal, spiritual, dan
obat teratur.
Kalau Bapak bias melakukan latihannya dengan baik jangan lupa dipuji ya Bu.
Terminasi
Bagaimana perasaan Ibu setelah kita bercakap-cakap tentang cara merawat
Bapak?
Coba Ibu sebutkan lagi cara merawat Bapak. Setelah ini coba Ibu ingatkan
jadwal yang telah dibuat untuk Bapak, ya Bu.
Bagaimana kalau kita ketemu 2 hari lagi untuk latihan cara-cara yang sudah kita
bicarakan tadi langsung pada Bapak? Tempatnya disini saja lagi ya Bu?

SP 2 Keluarga : Melatih keluarga melakukan cara-cara mengendalikan kemarahan


(evaluasi pengetahuan keluarga tentang marah, anjurkan keluarga untuk memotivasi
pasien melakukan tindakan yang telah diajarkan oleh perawat, ajarkan keluarga untuk
memberikan pujian kepada pasien jika pasien dapat melakukan kegiatan tersebut
secara tepat, diskusikan bersama keluarga tindakan yang harus dilakukan jika pasien
menunjukkan gejala-gejala perilaku kekerasan)

Orientasi
Selamat pagi Bu, sesuai dengan janji kita 2 hari yang lalu sekarang kita
ketemu lagi untuk latihan cara-cara menegndalikan rasa marah Bapak.
Bagaimana Bu? Masih ingat diskusi kita yang lalu? Ada yang mau Ibu
tanyakan? Berapa lama Ibu mau kita latihan?
Bagaimana kalau kita latihan disini saja?
Sebentar saya panggilkan Bapak agar bias berlatih bersama.
Kerja
Nah pak, coba ceriatakan kepada Ibu, latihan yang sudah Bapak lakukan.
Bagus sekali! Coba perliihatkan kepada Ibu jadwal harian Bapak. Bagus!
Nanti dirumah Ibu bias membantu Bapak latihan mengendalikan
kemarahan Bapak.
Sekaramg kita akan coba latihan bersama-sama ya, Pak?

20
Masih ingat Pak, kalau tanda-tanda marah sudah Bapak rasakan, apa
yang harus dilakukan Bapak?
Ya.. betulm Bapakj berdiri, lalu tarik nafas dari hidung, tahan sebentar
lalu keluarkan/tiup perlahan-lahan melalui mulut, seperti mengeluarkan
kemarahan. Ayo coba lagi, tarik dari hidung, bagus.., tahan, dan tiup melalui
mulut.
Nah, lakukan 5 kali, coba Ibu temani dan bantu Bapak menghitung
latihan ini sampai 5 kali. Bagus sekali, Bapak dan Ibu sudah bias melakukannya
dengan baik.
Cara yang kedua masih ingat Pak,Bu? Ya benar, kalau ada yang
menyebabkan Bapak marah dan muncul perasaan kesal, berdebar-debar, mata
melotot, selain napas dalam Bapak dapat memukul kasur dan batal.
Sekarang coba kita latihan memukul kasur dan bantal. Mana kamar Bapak? Jadi
kalau nanti Bapaj kesal dan ingin marah, langsung ke kamar dan lampiaskan
kemarahan tersebut dengan memukul kasur dan bantal. Nah, coba Bapak
lakukan sambil didampingi Ibu, berikan Bapak semangat ya Bu. Ya, bagus sekali
Bapak melakukannya.
Cara yang ketiga adalah bicara yang baik bila sedang marah. Ada tiga
caranya Pak, coba praktikan langsung pada Ibu cara bicara ini:
Meminta dengan baik tanpa marah dengan nada suara yang rendah serta
tidak menggunakan kata-kata kasar, misalnya: Bu, saya perlu uang untuk
beli rokok! Coba Bapak praktikkan. Bagus pak.
Menolak dengan baik, jika ada yang menyuruh dan Bapak tidak ingin
melakukannya, katakan : Maaf saya tidak bias melakukannya karena
sedang ada kerjaan. Coba bapak praktikkan. Bagus pak.
Mengungkapkan perasaan kesal, jika ada perlakuan orang lain yang
membuat kesal Bapak dapat mengatakan : Saya jadi ingin marah karena
perkataanmu. Coba praktikkan. Bagus!
Cara berikutnya adalah kalau bapak sedang marah apa yang harus
dilakukan? Baik sekali, Bapak coba langsung duduk dan tarik nafas dalam. Jika
tidak reda juga marahnya rebahkan badan agar rileks.
Bapak bias melakukan ibadah secara teratur dengan didampingi Ibu
untuk meredakan kemarahan.

21
Bapak coba jelaskan berapa macam obatnya! Bagus. Jam berapa minum
obat? Bagus.
Apakah boleh mengurangi atau menghentikan obat? Wah bagus sekali!
Dua hari yang lalu sudah saya jelaskan obat yang Bapak dapatkan, Ibu
tolong selama dirumah ingatkan Bapak untuk meminumnya secara teratur dan
jangan dihentikan tanpa sepengetahuan dokter.
Terminasi
Baiklah bu, latihan kita sudah selesai. Bagaimana perasaan Ibu setelah
kita latihan cara mengendalikan marah langsung kepada Bapak?
Bisa Ibu sebutkan lagi ada beberapa cara mengendalikan marah?
Selanjutkan tolong pantau dan motivasi Bapak untuk melaksanakan
jadwal latihan yang telah dibuat. Jangan lupa berikan pujian untuk Bapak bila
dapat melakukan dengan benar ya Bu!
Karena Bapak sebentar lagi sudah mau pulang bagaimana kalau 2 hari lagi
Ibu bertemu saya untuk membicarakan jadwal aktivitas Bapak selama dirumah
nanti.
Jam 10 seperti hari ini ya Bu. Diruang ini juga.

SP 3 keluarga : Membuat perencanaan pulang bersama keluarga.


Kerja
Peragakan komunikasi dibawah ini!
Pak, Bu, jadwal yang telah dibuat selama B di rumah sakit tolong
dilanjutkan dirumah, baik jadwal aktivitas maupun jadwal minum obatnya.
Orientasi
Mari Selamat
kita lihat jadwal Bapak!
pagi Pak, Bu, karena besok Bapak sudah boleh pulang, maka
Hal-hal
sesuai janji yang perlu
kita sekarang diperhatikan
bertemu lebih lanjut adalah
untuk membicarakan jadwalperilaku yang d
Bapak selama
ditampilkan oleh bapak selama dirumah, misalnya bapak menolak minum
rumah
obat atau memperlihatkanperilaku
Bagaimana Pak, Bu, selama membahayakan orang lain.
ibu membesuk apakah sudahJika haldilatih
terus ini
terjadi
cara segera
merawat mungkin hubungi suster E di puskesmas Indra Puri, puskesmas
Bapak?
terdekat dari rumah
Apakah sudahibu dan keberhasilanya?
dipuji bapak, ini nomor telepon puskesmasnya : (0651)
554xxx.
NahJikatidak teratasi
sekarang suster kalua
bagaimana E akansekarang
merujuknya ke RSJ
bicarakan di rumah di sini
saja? Selanjutnya suster E yang akan membantu memantau perkambangan
B selama dirumah
Berapa lama bapak dan ibu mau kita berbicara? Bagaimana kalua 30
menit?
Terminasi
Bagaimana BU? Ada yang ingin ditanyakan?
Coba ibu sebutkan apa saja yang perlu diperhatikan (jadwal
kegiatan, tanda atau gejala, tindak lanjut ke puskesmas).
Baiklah, silkan menyelesaikan administrasi! Saya akan persiapkan
pakaian dan obatnya 22
Evaluasi Kemampuan Pasien Perilaku Kekerasan (PK) dan Keluarganya

Nama pasien : ..
Ruangan :
Nama perawat :
Petunjuk:
Berilah tanda checklist () jika pasien mampu melakukan kemampuan di bawah ini.
Tuliskan tanggal setiap dilakukan supervise.

No. Kemampuan Tanggal

A Pasien
Sp 1 Pasien
1 Menyebutkan penyebab PK
2 Menyebutkan tanda dan gejala PK
3 Menyebutkan PK yang dilakukan
4 Menyebutkan akibat PK
5 Menyebutkan cara mengendalikan PK
6 Mempraktikan latihan cara pengendalian fisik I
SP 2 Pasien
7 Mempraktikan latihan cara pengendalian fisik II dan
memasukan dalam jadwal
Sp 3 pasien
8 Mempraktikan atihan cara verbal dan memasukkan
dalam jadwal
Sp 4 pasien
9 Mempraktikan latihan cara spiritual dan
memasukkan dalam jadwal
Sp 5 Pasien
10 Mempraktikan cara minum obat dan memasukkan
dalam jadwal
B Keluarga
Sp 1 Keluarga
1 Menyebutkan pengertian PK dan proses terjadinya
masalah PK
2 Menyebutkan cara merawat pasien PK
Sp 2 Keluarga
3 Mempraktikan cara merawan PK
Sp 3 Keluarga
4 Membuat jadwal aktivitas dan minum obat pasien di
rumah (perencanaan pulang)

Evaluasi Kemampuan Perawat dalam Merawat Pasien Perilaku Kekerasan

23
Nama pasien : ..
Ruangan :
Nama perawat :
Petunjuk:
a. Berilah tanda checklist () pada tiap kemampuan yang ditampilkan
b. Evaluasi tindakan keperawatan untuk setiap SP dilakukan menggunakan
instrument Evaluasi Penampilan Klinik Perawat MPKP
c. Masukkan nilai tiap Evaluasi Penampilan Klinik Perawat MPKP ke dalam
baris SP

No. Kemampuan Tanggal

A Pasien
Sp 1 Pasien
1 Mengidentifikasi penyebab PK
2 Mengidentifikasi tanda dan gejala PK
3 Mengidentifikasi PK yang dilakukan
4 Mengidentifikasi akibat PK
5 Menyebutkan cara mengendalikan PK
6 Membantu pasien mempraktikkan latihan cara
mengendalikan fisik I
7 Menganjurkan pasien memasukkan dalam kegiatan
harian
Nilai SP 1 pasien
Sp 2 Pasien
1 Mengevalusi jadwal kegiatan harian pasien
2 Melatih pasien mengendalikan PK dengan cara fisik
II
3 Menganjurkan pasien memasukkan dalam jadwal
kegiatan harian
Nilai SP 2 pasien
Sp 3 pasien
1 Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien
2 Melatih pasien mengendalikan PK dengan cara
verbal
3 Menganjurkan pasien memasukkan dalam jadwal
kegiatan harian
Nilai SP 3 pasien
Sp 4 pasien
1 Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien
2 Melatih pasien mengendalikan PK dengan cara
spiritual
3 Menganjurkan pasien memasukkan dalam jadwal
kegiatan harian

24
Nilai SP 4 pasien
Sp 5 Pasien
1 Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien
2 Menjelaskan cara mengendalikan PK dengan cara
spiritual
3 Menganjurkan pasien memasukkan dalam jadwal
kegiatan harian
Nilai SP 5 pasien
B Keluarga
Sp 1 Keluarga
1 Mendiskuasikan masalah yang dirasakan keluara
dalam merawat pasien
2 Menjelaskan pengertian PK, tanda, dan gejala serta
proses terjadinya PK
3 Menjelaskan cara merawat pasien PK
Nilai SP 1 keluarga
Sp 2 Keluarga
1 Melatih keluarga mempraktikkan cara merawat
asien PK
2 Melatih keluarga melakukan cara merawat langsung
kepada pasien PK
Nilai SP 2 keluarga
Sp 3 Keluarga
1 Membantu keluarga membuat jadwal aktivitas di
rumah termasuk minum obat (perencanaan pulang)
2 Menjelaskan tindak lanjut pasien setelah pulang
Nilai SP 3 keluarga
Nilai Total SP pasien + SP keluarga
Rata-rata

25
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Perilaku kekerasan adalah ungkapan perasaan marah dan bermusuhan yang
mengakibatkan hilangnya kontrol diri dimana individu bisa berperilaku
menyerang atau melakukan suatu tindakan yang dapat membahayakan diri
sendiri, orang lain maupun lingkungan.

3.2 Saran
Menjadi seorang Perawat tidak hanya harus dibekali dengan ilmu pengetahuan
yang tinggi tapi juga harus mempunyai keterampilan atau skill yang tinggi dan
keduanya harus berjalan dengan seimbang dan tidak ada tumpang tindih,
sehingga dapat menghasilkan seorang perawat professional, yang mampu
memberikan asuhan keperawatan secara menyeluruh pada klien yang ada
dirumah sakit jiwa, maupun yang ada dalam pelayanan kesehatan dimasyarakat.

26
DAFTAR PUSTAKA

1. Susilawati, Enni dkk. 2013. Asuhan keperawatan tentamen. Diakses tanggal


10 Juli 2017 pkl 18.00 WIB melalui web:
http://www.muhiqbalyunus.com/wp-content/uploads/2017/02/Asuhan-
Keperawatan- Tentamen-.pdf
2. Stuart GW, Sundeen. 1998. Principles and Practice of Psykiatric Nursing (5
th ed.). St.Louis Mosby Year Book
3. Barry, Patricia D. 1998 Mental health and mental illness. U.S : Lippincott
4. Yosep Iyus, 2007, Keperawatan Jiwa, Bandung, Refika Aditama
5. Townsend, M.C. 1998. Buku saku Diagnosa Keperawatan pada Keperawatan
Psikiatri, edisi 3. Jakarta: EGC.
6. CMHN. 2006. Modul Pelatihan Asuhan Keperawatan Jiwa Masyarakat.
Jakarta : Direktorat Kesehatan Jiwa Dep-Kes RI
7. http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/108/jtptunimus-gdl-muslikha-5364-
2-babiik-k.pdf. Diakses tanggal 10 Juli 2017 pukul 17.30 WIB
8. Keliat Budi Ana, Model Praktik Keperawatan Profesional Jiwa, Jakarta :
EGC, 2012.
9. Maramis, WF, 2009, Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa, Airlangga University
Press, Surabaya

27