Anda di halaman 1dari 16

BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK FKUP/RSHS BANDUNG

Sari Kepustakaan
Oleh : Lenny Lasmaria, Bonnie Arseno, Tammy Utami Dewi,
Betty Agustina, Asri Rachmawati
Subdivisi : Gastroenterohepatologi
Pembimbing : dr. Iesje Martiza, SpA(K)
Dr. dr. Dwi Prasetyo, SpA(K), MKes
dr. Yudith Setiati E, SpA, MKes
______________________________________________________________________________

KONSTIPASI PADA ANAK

PENDAHULUAN
Konstipasi merupakan masalah kesehatan pada anak yang masih cukup tinggi dan merupakan
alasan orang tua membawa anaknya berobat. Konstipasi umumnya menimbulkan gejala berupa
rasa cemas sewaktu defekasi oleh karena rasa nyeri yang dirasakan, nyeri perut rekuren kronis,
sampai keadaan penurunan nafsu makan dan gangguan pertumbuhan.1, 2
Penatalaksanaan jangka panjang diperlukan pada sebagian besar anak dan sekitar 30% anak
saat pubertas masih mengalami gejala konstipasi seperti buang air besar tidak teratur dan nyeri
saat buang air besar serta fekal inkontinensia. Kronisitas dari gejala ini mempunyai pengaruh
yang permanen dan signifikan terhadap kepercayaan diri anak, pertumbuhan dan perkembangan
mental anak. Sehingga, penanganan konstipasi secara dini dan efektif penting untuk mencegah
morbiditas yang bermakna.3 Pada sari kepustakaan ini akan dibahas mengenai definisi,
patofisiologi, etiologi, diagnosis, tatalaksana dan prognosis konstipasi pada anak.

DEFINISI
Definisi konstipasi menurut North American Society of Pediatric Gastroenterology and Nutrition
(NASPGAN) adalah keterlambatan atau kesulitan dalam defekasi yang terjadi dua minggu atau
lebih dan mampu menyebabkan stres pada pasien.4
Kriteria ROMA II membagi 2 kategori yaitu kriteria konstipasi fungsional pada bayi dan
anak usia prasekolah apabila setidaknya dalam 2 minggu terdapat buang air besar yang seperti
skibala, atau seperti kerikil dan mayoritas buang air besar dengan feses yang keras, terdapat feses
keras kurang dari sama dengan 2 kali per minggu dan tidak ada bukti adanya kelainan struktural,
emdokrin atau penyakit metabolik. Sedangkan untuk retensi feses fungsional pada bayi hingga
usia 16 tahun setidaknya dalam 12 minggu terdapat pengeluaran feses dengan diameter yang

1
besar dalam jarak waktu < 2 kali per minggu dan terdapat postur menahan defekasi atau menolak
defekasi dengan mengkontraksikan dasar panggul, bila terdapat kelemahan otot dasar panggul,
anak mulai menggunakan otot bokong dan mengempitkan otot bokong.2,5,6
Kriteria ROMA II mengalami revisi pada tahun 2006 menjadi kriteria ROMA III untuk
konstipasi fungsional yang terbagi menjadi 2 kategori untuk usia kurang dari 4 tahun dan usia
lebih dari sama dengan 4 tahun. Kriteria Roma III untuk konstipasi fungsional pada anak kurang
dari 4 tahun harus memenuhi setidaknya 2 gejala dalam 1 bulan, yaitu : a) buang air besar 2 kali
seminggu atau kurang; b) mengalami setidaknya 1 kali inkontinensia feses per minggu setelah
memiliki keterampilan ke toilet; c) riwayat retensi feses; d) riwayat nyeri saat buang air besar
atau feses yang keras; e) terdapat massa feses yang besar di rektum; f) riwayat diameter feses
yang besar sehingga dapat menyumbat toilet. Sedangkan untuk kriteria konstipasi fungsional
anak lebih dari sama dengan 4 tahun harus memenuhi setidaknya 2 gejala atau lebih, yaitu: a)
buang air besar di toilet 2 kali seminggu atau kurang; b) mengalami setidaknya 1 kali
inkontinensia feses per minggu; c) riwayat adanya postur menahan defekasi atau retensi feses
yang besar akibat menahan defekasi; d) riwayat nyeri saat buang air besar atau feses yang keras;
e) terdapat massa feses yang besar di rektum; f) riwayat diameter feses yang besar sehingga
dapat menyumbat toilet. Kriteria terpenuhi apabila setidaknya gejala tersebut terjadi 1 kali
seminggu sedikitnya selama 2 bulan sebelum diagnosis ditegakkan.2,5,6

EPIDEMIOLOGI
Konstipasi merupakan 3% kunjungan pasien ke dokter anak umum dan 15-25%
kunjungan ke konsultan gastroenterologi anak.7 Sebagian besar konstipasi pada anak (>90%)
adalah fungsional tanpa ada kelainan yang bersifat organik dan 40% diantaranya diawali sejak
usia satu sampai empat tahun.7 Pada anak usia 7-8 tahun prevalensinya sebesar 1,5% dan usia
10-12 tahun sebesar 0,8%.8 Sutphen dkk, menyebutkan gejala yang sudah lama timbul sebelum
terdiagnosis berhubungan dengan jeleknya outcome jangka panjang. Waktu dari timbulnya gejala
sampai terdiagnosis biasanya 1-5 tahun. Semakin awal terdiagnosis dan dengan tatalaksana
konstipasi yang efektif akan memperbaiki keberhasilan.8

FISIOLOGI DEFEKASI

2
Mekanisme buang air besar dirangsang oleh gerakan peristaltik akibat adanya masa tinja di
dalam rektum. Rangsangan sensori pada kanal anus akan menurunkan tonus sfingter anus
internus, sehingga terjadilah proses defekasi.9

Gambar 1. Fisiologi kolon

Terdapat dua refleks defekasi yang terjadi, yaitu refleks defekasi intrinsik dan refleks
defekasi parasimpatis.1 Ketika feses masuk kedalam rektum, pengembangan dinding rektum
memberi suatu sinyal yang menyebar melalui pleksus mesentrikus unuk memulai
gelombang peristaltik mendekati anus. Begitu gelombang peristaltik mendekati anus,
sfingter anal interna tidak menutup dan bila sfingter ani externa tenang maka feses akan
keluar. Hal ini yang disebut dengan refleks defekasi intrinsik. Sedangkan refleks defekasi
parasimpatis adalah ketika serat saraf dalam rektum dirangsang, sinyal diteruskan ke
sumsum tulang belakang (sakrum 2-4) dan kemudian kembali ke kolon desenden, kolon
sigmoid dan rektum. Sinyal-sinyal parasimpatis ini meningkatkan gelombang peristaltik
melemaskan sfingter anus internal dan meningkatkan refleks defekasi intrinsik.10

3
GAMBAR 2

Fisiologi defekasi
Gambar 2 Fisiologi defekasi

Relaksasi otot puborektal menyebabkan mekanisme yang berperan dalam proses buang
air besar. Proses diawali dengan relaksasi otot puborektal yang menyebabkan sudut anorektal
melebar, Sudut ini dalam keadaan istirahat adalah sebesar 85-105 dan menopang beratnya
massa feses dalam rektum, melonggarkan sfingter dari tekanan massa feses yang besar, distensi
rektum menyebabkan refleks relaksasi sfingter anus interna dan kontraksi otot detrusor rektum.
Jika terjadi hasrat defekasi, otot puborektal dan levator ani akan relaksasi, sudut anorektal
menjadi lurus. Tekanan dan regangan abdomen yang meningkat akan menyebabkan evakuasi
feses. Jika tidak terjadi defekasi, kontraksi sfingter anak eksterna mencegah pengeluaran feses
hingga dinding rektum beradaptasi terhadap peningkatan volume feses.10,11 Gambar di bawah ini
menampilkan proses pendataran sudut anorektal saat istirahat dan saat terjadi defekasi (Gambar
3).
Relaksasi ini diikuti oleh relaksasi otot levator yang menyebabkan pembukaan kanal
anus. Selain itu proses buang air besar dirangsang oleh gerak peristaltik akibat adanya masa tinja
di dalam rektum. Rangsangan sensori pada kanal anus akan menurunkan tonus sfingter anus
internus sehingga terjadi proses defekasi.. Buang air besar terjadi akibat adanya bantuan dari
tekanan intra-abdominal yang meningkat akibat penutupan glottis, fiksasi diafragma, dan
kontraksi otot abdomen. Frekuensi buang air besar mempunyai korelasi dengan waktu transit
gastrointestinal. Anak-anak dengan frekuensi buang air besar kurang dari 4 kali seminggu
memiliki waktu transit lebih dari 33 jam. Keadaan ini lebih rendah secara bermakna
dibandingkan dengan anak yang mempunyai pola buang air besar normal.6

Frekuensi normal defekasi pada bayi dan anak berdasarkan usia dapat dilihat pada tabel 1.

4
Tabel 1. Frekuensi Normal Defekasi Pada Anak
Umur Defekasi/minggu Defekasi/hari
0-3 bulan
ASI 5-40 2,9
Formula 5-28 2,0
6-12 bulan 5-28 1,8
1-3 tahun 4-21 1,4
>3 tahun 3-14 1,0
Sumber: Fontana12

Gambar 3. Potongan Sagital Anorektum Dalam Keadaan Normal dan Defekasi


Sumber: Lembo11

ETIOLOGI

Penyebab konstipasi pada anak dapat dibagi menjadi organik dan fungsional. Hampir 95%
konstipasi pada anak disebabkan oleh kelainan fungsional dan hanya 5% disebabkan oleh
kelainan organik yaitu kelainan anatomis, neuromuskular, metabolik, endokrin dan lainnya.
Diantara penyebab organik, penyakit Hirschsprung adalah penyebab tersering dan terpenting
pada neonatus.13, 14
Tabel 2. Penyebab Konstipasi Pada Anak

5
Penyebab
Idiopatik atau fungsional 95%
Sekunder karena lesi anal Fisura ani, stenosis anal, anus letak anterior
Neurologis Lesi medulla spinalis, palsi serebral, penyakit Hirschsprung
Endokrin/metabolik Hipotiroid, asidosis tubulus renal, diabetes insipidus,
hiperkalsemia
Obat-obatan Antikonvulsan, antipsikotik, mengandung kodein, antidiare,
antasida
Sumber: Loening-Baucke3
Dalam mencari penyebab konstipasi dapat dibagi berdasarkan umur yang dapat dilihat pada
tabel 3 dibawah ini.
Tabel 3. Penyebab Konstipasi Berdasarkan Usia
Neonatus/Bayi
Meconium Plug
Penyakit Hirschsprung
Fibrosis Kistik
Malformasi anorektal bawaan, termasuk anus imperforata, stenosis ani, anal band
Chronic idiopathic intestinal pseudo-obstruction
Endokrin: hipotiroid
Alergi susu sapi
Metabolik: diabetes insipidus, renal tubular asidosis
Retensi feses
Perubahan diet
Toddler dan umur 2-4 tahun
Fisura ani, retensi feses
Toilet refusal
Alergi susu sapi
Penyakit Hirschsprung segmen pendek
Penyakit saraf: sentral atau muskular dengan hipotoni
Medula spinalis: meningomielokel, tumor, tethered cord
Usia Sekolah
Retensi feses
Ketersediaan toilet terbatas
Keterbatasan kemampuan mengenali rangsang fisiologis
Preokupasi dengan kegiatan lain
Tethered cord

Adolesens
Irritable bowel syndrome
Jejas medulla spinalis (kecelakaan, trauma)
Diet
Anoreksia
Kehamilan
Laxative abuse
Semua Usia
Efek samping obat, perubahan diet, paska operasi
Riwayat operasi anal-rektum
Retensi feses dan enkopresis akibat distensi tinja kronis
Perubahan aktivitas fisik, dehidrasi
Hipotiroid

6
Sumber : Loening-Baucke 3

PATOFISIOLOGI
Proses normal defekasi diawali dengan teregangnya dinding rektum. Regangan tersebut
menimbulkan refleks relaksasi dari sfingter anus interna yang akan direspons sampai individu
mencapai toilet. Untuk proses defekasi, sfingter anus eksterna dan muskulus puborektalis
mengadakan relaksasi sedemikian rupa sehingga sudut antara kanal anus dan rektum terbuka,
membentuk jalan lurus bagi tinja untuk keluar melalui anus. Kemudian mendorong tinja keluar
melalui anus. Pada keadaan normal, epitel sensorik di daerah anus rektum memberitahu individu
mengenai sifat tinja, apakah padat, cair, gas, atau kombinasi ketiganya.15
Pengendalian defekasi diatur oleh otot-otot volunter dan involunter. Tonus otot sfingter anal
interna yang merupakan otot involunter akan menurun dalam keadaan istirahat yaitu saat massa
feses memasuki rektum. Sfingter anal eksterna bekerja di bawah kontrol volunter. Keinginan
defekasi dicetuskan oleh massa feses saat kontak dengan mukosa rektum bagian bawah. Jika
anak tidak menginginkan defekasi, sfingter anal eksterna akan mengencang dan otot gluteus akan
kontraksi. Aksi ini akan mendorong feses kebagian atas rektum dan mengurangi keinginan untuk
defekasi. Jika anak sering menahan defekasi, rektum pada akhirnya akan meregang dan menahan
massa feses, sehingga kekuatan propulsi rektum akan berkurang.16
Lamanya waktu feses tertahan didalam rektum akan menyebabkan konsistensi feses menjadi
keras. Pasase feses yang memiliki ukuran besar dan keras akan menyebabkan fisura anal yang
terasa nyeri. Konstipasi fungsional paling sering dimulai dari adanya rasa sakit saat defekasi
sehingga anak menahan defekasinya sehingga keadaan tersebut seperti lingkaran setan. Akibat
retensi feses terus berlanjut, maka akan terjadi rembesan cairan feses yang cair di permukaan
luar massa feses yang retensi, disebut sebagai enkopresis dan mengotori pakaian anak
(soiling).16,17
Berbagai kejadian dapat menyebabkan rasa nyeri saat defekasi seperti perubahan
makanan, kurang minum dan meningkatnya kehilangan cairan (dehidrasi), toilet training terlalu
dini, asupan susu yang berlebihan (susu mengandung rendah serat dan tinggi kalsium),
intoleransi susu sapi, stres, menderita penyakit yang lama, tidak tersedianya toilet, atau
penundaan defekasi. Hal-hal tersebut diatas akan menyebabkan pemanjangan stasis feses dalam
kolon, dengan reabsorbsi cairan, dan peningkatan ukuran dan konsistensi feses.13, 14

7
Gambar 4. Patofiologi konstipasi

DIAGNOSIS
Adalah penting untung menentukan apakah betul telah terjadi konstiasi, banyak orangtua yang
mengeluh anaknya mengalami konstipasi hanya karena melihat anak atau bayinya menggeliat
atau wajahnya tampak mengejan kesakitan waktu buang air besar. Pada anamnesis perlu
ditanyakan ditanyakan riwayat buang air besar (BAB) meliputi frekuensi, ukuran dan konsistensi
feses, kesulitan saat BAB, BAB berdarah, dan nyeri saat BAB. Kemudian mengenai riwayat
makanan, masalah psikologik, dan gejala lain seperti nyeri perut, anoreksia, dan muntah.18

8
Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan teraba massa feses pada abdomen. Pada
pemeriksaan anorektal ditentukan lokasi anus, adanya prolaps, peradangan perianal, fisura, dan
tonus dari saluran anus.4
Pemeriksaan penunjang dilakukan pada kasus-kasus tertentu yang diduga mempunyai
penyebab organik yaitu:4, 14
1. Pemeriksaan foto polos abdomen untuk melihat kaliber kolon dan massa tinja dalam kolon.
Pemeriksaan ini dilakukan bila pemeriksaan colok dubur tidak dapat dilakukan atau bila pada
pemeriksaan colok dubur tidak teraba adanya distensi rektum oleh massa tinja.
2. Pemeriksaan barium enema untuk mencari penyebab organik seperti morbus Hirschsprung
dan obstruksi usus.
3. Biopsi hisap rektum untuk melihat ada tidaknya ganglion pada mukosa rektum secara
histopatologis untuk memastikan adanya penyakit Hirschsprung.
4. Pemeriksaan manometri untuk menilai motilitas kolon.
5. Pemeriksaan lain-lain untuk mencari penyebab organik lain, seperti hipotiroidisme, USG
abdomen, MRI lumbo-sakral, dll.

Gambar 2.Algoritma Diagnosis Dan Tatalaksana Konstipasi Pada Anak


Anamnesis
Konstipasi: terlambat/sulit BAB > 2 Pemeriksaan Fisik
minggu Occult blood

Apakah ada tanda bahaya : feses


Evaluasi lebih lanjut: Ya berdarah,demam,muntah,FTT, atenosis ani?
Pemeriksaan penunjang

Tidak

Apakah ada impaksi feses ?


Konstipasi Fungsional

Ya
Evakuasi feses dengan
pengobatan per oral atau
rektal
Tidak
Konstipasi Fungsional tanpa
impaksi feses

Berulangnya
masalah kepatuhan Ya
Terapi rumatan selama 6bulan:
terapi?
Edukasi
Diet
Obat per oral
Follow up

Nilai ulang: Terapi efektif?


Kepatuhan? Tidak Feses lunak > 3x/minggu, tanpa
Re-edukasi soiling ?
Ganti pengobatan?

ya
Hentikan pengobatan setelah 6
bulan

Feses lunak < 3x/minggu, tanpa


soiling ?

Ya
Teruskan Perilaku dan diet
,serta follow up
Sumber: Felt19

PENATALAKSANAAN
Penanganan konstipasi pada anak sebagian besar berdasarkan pada pengalaman klinis karena
kurangnya penelitian acak terkontrol.17, 18 Rekomendasi NAPSGHAN saat ini ada 4 fase penting
dalan penanganan konstipasi kronis yaitu: (1) edukasi; (2) evakuasi feses ( disimpaction ); (3)
pencegahan berulangnya akumulasi feses dengan terapi rumatan; dan (4) follow up.
1. Edukasi

10
Penatalaksanaan konstipasi pada anak harus dimulai dengan penyuluhan pada orangtua mengenai
bagaimana kebiasaan, frekuensi dan pola defekasi yang normal, serta pengetahuan mengenai
terjadinya perilaku untuk menahan keinginan defekasi (witholding behavior), yang terutama
dapat terjadi selama toilet training, ketika liburan keluarga, pindah rumah atau saat anak mulai
bersekolah. Bagaimana cara mencegah, deteksi dini, dan apa yang harus dilakukan pertama kali
pada anak yang mengalami konstipasi sehingga tidak terjadi konstipasi kronis atau enkopresis.2
2. Evakuasi Feses (Disimpaction)
Bila terdapat skibala harus dilakukan evakuasi dulu sebelum terapi rumatan. Dilakukan dengan
menggunakan laksansia oral, supositoria atau enema. Bila perlu dapat dilakukan berulang-ulang
selama 2-5 hari sampai terjadi evakuasi lengkap/sempurna. NASPGHAN lebih menganjurkan
evakuasi per oral dibandingkan per rektal karena lebih bersifat invasif dan traumatik bagi pasien.
Obat-obatan yang biasa digunakan untuk evakuasi feses dapat dilihat pada tabel 4 dibawah ini.

Tabel 4. Obat yang Digunakan untuk Evakuasi Feses


Obat Usia Dosis

Evakuasi Feses per rektal


Gliserin supositoria Bayi dan anak 1-3 ml/kgbb
Fosfat enema < 2 tahun Tidak dianjurkan
2 tahun 6 ml/kgbb sampai 135 ml 2 kali
perhari
Evakuasi feses per oral
Polietilen glikol(PEG) 25 ml/kgbb/jam dengan NGT
Susu magnesium 2ml/kgbb 2 kali/hari
Minyak mineral 15-30 ml/tahun usia, max 240 ml
Laktulosa atau sorbitol 3ml/kgbb 2 kali/hari
Sumber: Loening-Baucke 4

Pada penelitian multisenter didapatkan bahwa polietilen glikol (PEG) 3350 yang diberikan
per oral terbukti sebagai obat terbaik untuk evakusi feses pada anak. PEG yang diberikan selama
5 hari dilaporkan lebih berhasil dalam evekuasi feses pada anak dengan intraktabel konstipasi
dibandingkan dengan enema, supositoria atau evakuasi feses secara manual dengan anestesi.
3. Terapi Rumatan
Setelah skibala berhasil dievakuasi, dilanjutkan dengan terapi rumatan yang ditujukan untuk
mencegah kekambuhan. Terapi rumatan dilakukan dalam jangka waktu lebih lama yaitu
beberapa bulan bahkan tahun, meliputi modifikasi perilaku, intervensi diet, pemberian laksatif
dan pendekatan psikologis. Para ahli melaporkan anak dengan konstipasi fungsional biasanya
memerlukan terapi rumatan selama 6-24 bulan.1
Modifikasi Perilaku

11
Aspek terpenting dari terapi rumatan jangka panjang adalah membentuk kebiasaan buang air
besar yang teratur, dengan cara 15-30 menit setelah makan pagi dan malam, anak dianjurkan
duduk di toilet selama 5-10 menit. Anak di puji atau diberi penghargaan setiap kali mereka
berhasil. Toilet training ini bila dilakukan secara teratur akan mengembangkan refleks
gastrokolik pada anak, yang pada gilirannya akan membangkitkan refleks defekasi. Sebagian
besar anak siap memulai toilet training pada usia antara 18 bulan sampai 3 tahun. 1,18
Selain toilet training, latihan dan aktifitas fisik secara teratur membantu untuk melatih
otot-otot yang mengatur defekasi. Aktivitas fisik juga berguna untuk memperbaiki gerakan usus
yang teratur sehingga membantu feses melewati anus. Monitor terhadap pola defekasi dan
penggunaan obat serta efek samping dapat didapat dari catatan harian yang dibuat oleh orangtua.
Salah satu cara untuk tetap menjaga kepatuhan terapi adalah menstimulasi anak yang telah
berhasil dalam kegiatan ini dengan pemberian hadiah.1
Intervensi Diet
Intervensi diet pada konstipasi dilakukan dengan meningkatkan konsumsi air dan asupan
makanan berserat. Diet tinggi serat memiliki efek meningkatkan retensi air pada feses dan
sebagai substrat bagi pertumbuhan bakteri komensal sehingga bersifat sebagai prebiotik.
Makanan yang banyak mengandung serat antara lain sayur-sayuran, gandum, tumbuhan polong,
buncis, padi-padian, asparagus, taoge, kubis dan wortel. Sedangkan buah-buahan yang banyak
mengandung serat adalah apel, aprikot, dan jeruk. Beberapa penelitian menyimpulkan manfaat
serat pada pencegahan konstipasi. Rekomendasi asupan serat minimum perhari untuk anak usia
lebih dari 2 tahun adalah usia dalam tahun ditambah 5 gram.

Laksatif
Obat-obatan umumnya masih diperlukan pada terapi rumatan. Sambil menunggu konstipasi
membaik dengan terapi diet, sebaiknya diberikan juga laksatif. Laksatif digunakan berdasarkan
usia, berat badan, dan keparahan fekal retensi. Dosis yang disarankan untuk laksatif yang biasa
digunakan dapat dilihat pada tabel 5 dibawah ini.

Tabel 5. Laksatif Untuk Pengobatan Konstipasi pada Anak


Jenis Laksatif Dosis
Pembentuk massa
Psillium Usia(tahun) + 5 gram
Lubrikans

12
Minyak mineral 1-3 ml/kg/hari
Laksatif Osmotik
Laktulosa 1-3 ml/kg/hari
Ekstrak Barley malt 2-10 ml/240 ml jus atau susu
Sorbitol 1-3 ml/kg/hari
Magnesium hidroksida 1-3 ml/kg/hari dari 400mg/5ml
Polietilen glikol 3350 1-2 g/kg/hari
Polietilen glikol larutan elektrolit 25-100 ml/kg tiap 6 jam. Maks 4L
Stimulan
Senna 2,5-7,5 ml/hari(usia 2-6 thn dan 5-15ml/hr usia 6-12thn)
Bisakodil 0,3 mg/kg/hari. Maks 10 mg
Enema
Fosfat enema 6 ml/kg. Maks 135 ml. Hindari pada bayi

Sumber: Croffie JM13

Laksatif pembentuk massa bekerja dengan mengikat air dalam lumen kolon sehingga
feses menjadi banyak dan lunak. Obat golongan ini dapat berasal dari alam (contohnya agar-
agar) atau dibuat secara semisintetik (contohnya produk selulosa). Psillium merupakan substansi
hidrofilik yang membentuk gelatin bila bercampur air.2
Laksatif stimulans bekerja dengan merangsang peristaltik usus dengan efek iritasi pada
mukosa usus, dan menghambat absorbsi air dan elektrolit dalam lumen usus yang akan
melunakkan feses.Contoh golongan ini adalah senna dan bisakodil. Penggunaan laksatif jenis ini
setiap hari tidak disarankan karena membuat tubuh malas untuk defekasi secara alamiah.
Laksatif stimulans dapat mengakibatkan atonia rektum, yang selanjutnya mengakibatkan
sindroma malabsorbsi dan gangguan elektrolit.2
Laksatif osmotik bekerja dengan meningkatkan peristaltik usus akibat pengaruh daya
osmotiknya. Polietilen glikol (PEG) merupakan laksatif osmotik yang bersifat nontoksik dan
tidak diserap oleh saluran cerna sehingga sangat aman dan dapat diberikan jangka panjang.
Alternatif lain adalah laktulosa dan sorbitol yang juga merupakan serat atau prebiotik dan dapat
diberikan jangka panjang.2
Laksatif Lubrikans bekerja menyelimuti feses dan dinding kolon untuk membantu feses
keluar dengan mudah, ia juga masuk kedalam feses yang keras dan melunakkannya serta
mencegah air keluar dari feses. Minyak mineral tidak mengurangi vitamin atau nutrien lainnya
dari tubuh sehingga dapat digunakan secara aman dalam jangka panjang.2
Tujuan pemberian laksatif adalah agar anak dapat defekasi 1-2 kali sehari. Terapi rumatan
dengan laksatif mungkin diperlukan selama beberapa bulan. PEG lebih baik daripada laktulosa
atau susu magnesium untuk terapi rumatan pada berbagai usia.

13
4. Evaluasi dan penghentian pengobatan (Follow up)
Evaluasi diperlukan untuk menilai kepatuhan dan adekuatnya terapi. Tidak ada penelitian
yang menyatakan waktu yang spesifik untuk evaluasi. Pada 1-2 minggu dievaluasi untuk
memastikan pembersihan yang efektif, lalu 1 bulan, 3 bulan, dan dalam interval 3 - 6 bulan untuk
memastikan terapi rumatan yang efektif. Penyembuhan didefinisikan sebagai tiga atau lebih
buang air besar per minggu tanpa soiling. Frekuensi buang air besar kurang dari tiga kali per
minggu dengan atau tanpa soiling menunjukkan indikasi untuk melanjutkan program terapi
rumatan.7
Setelah berhasil, pengobatan dilanjutkan selama 2-3 bulan sebelum mencoba mengurangi
pengobatan, mengingat angka kekambuhan yang tinggi pada tahun pertama. Jika anak sudah
bebas gejala, dosis obat dapat diturunkan dengan instruksi pada orangtua untuk memberi
perhatian lebih pada kebiasaan buang air besar anak dan konsistensinya untuk menghindari nyeri
saat buang air besar yang dapat menginduksi withholding behavior.18 Pada penelitian, 50%
pasien berhenti menggunakan laksatif setelah 1 tahun dan sebanyak 20% dihentikan setelah 2
tahun. Kegagalan terapi memerlukan tinjauan kembali mengenai edukasi dan komponen terapi
yang lain.7
Pilihan Terapi Lain
Biofeedback Training
Biofeedback training dasarnya adalah simulasi evakuasi feses dengan menggunakan balon atau
silicon yang diisi dengan feses buatan yang disebut `fecom`. Anak disuruh mengkontraksikan
dan merelaksasika sfingter ani dan otot-otot panggul selama simulasi usaha defekasi. Gerakan
otot-otot ini dimonitor dengan EMG dan anak diminta memperhatikan hasil monitoring. Tidak
ada bukti bahwa biofeedback training lebih menguntungkan daripada modifikasi tingkah laku
dan pemberian laksansia secara teratur.2, 18
Psikiatri
Rujukan ke bagian psikiatri anak mungkin diperlukan pada anak yang rendah diri dan depresi
akibat gangguan defekasinya, atau bila ada gangguan tingkah laku.18
Pembedahan
Pembedahan dilakukan pada konstipasi yang sangat berat, tetapi pembedahan merupakan pilihan
terakhir. Untuk konstipasi yang refrakter, kolostomi total dan ileorektostomi dipikirkan hanya
bila setelah terapi lainnya tidak berhasil.2, 18

14
Obat-Obatan Terbaru
Pemahaman lebih lanjut terhadap sistem saraf gastrointestinal dan fungsi epitel telah membuat
dikembangkannya obat-obatan golongan baru untuk pengobatan konstipasi kronis. Pilihan obat-
obatan seperti Tegaserod (suatu agonis reseptor serotonin), Lubiprostone (suatu asam lemak
bisiklik), dan Alvimopan (suatu antagonis reseptor D-opioid) memerlukan penelitian lebih lanjut
sebelum digunakan pada anak.2

PROGNOSIS
Konstipasi fungsional sulit untuk ditangani dan angka kekambuhannya tinggi, namun dengan
rencana pengobatan yang baik mayoritas pasien akan mengalami perbaikan yang bermakna. Pada
satu penelitian, sebanyak 52% anak dengan konstipasi dan enkopresis tetap mengalami gejala
setelah lima tahun pengobatan. Penelitian kedua menemukan bahwa 30% anak dengan konstipasi
yang telah diobati secara medis rata-rata pada 6,8 tahun berlanjut mengalami konstipasi
intermiten.7 Van Ginkel dkk, menemukan bahwa 50% anak yang diterapi mengalami paling
kurang satu kali kambuh dalam lima tahun pertama setelah terapi inisial berhasil, dan 30-50%
tetap mempunyai gejala berat setelah 5 tahun follow up, bahkan sampai diatas usia 18 tahun.

RINGKASAN
Konstipasi pada anak memerlukan tahap pengobatan yang terencana dengan baik dengan
melibatkan anak, orangtua, psikolog, psikiater dan dokter. Rencana terapi pada konstipasi anak
harus meliputi edukasi keluarga, evakuasi feses, terapi rumatan serta evaluasi terapi. Terapi
rumatan terdiri dari intervensi diet, terapi laksatif, dan modifikasi perilaku. Walaupun serat
berguna, mayoritas anak memerlukan tambahan terapi laksatif jangka panjang. Laksatif PEG
3350 telah terbukti efektif, aman dan dapat diterima dengan baik oleh anak. Sebagian besar anak
akan mengalami perbaikan dengan program terapi konvensional tetapi tetap memerlukan
evaluasi yang ketat.
DAFTAR PUSTAKA
1. Felt B, Wise CG, Olson A, Kochhar P, Marcus S, Coran A. Guideline for the management of pediatric
idiopathic constipation and soiling. Arch Pediatr Adolesc Med. 1999;153:380-5.
2. Rajindrajith S, Devanarayana NM. Constipation in children : diagnosis and management. Sri Lanka
Journal of Child Health. 2009;39:127-35.
3. Loening-Baucke V. Constipation in early childhood: patient chracteristics, treatment, and
longterm follow up. Gut. 1993;34:1400-4.
4. North American Society for Pediatric Gastroenterology Hepatology and Nutrition. Evaluation and
treatment of constipation in infant and children: Recomendation of the North North American
Society for Pediatric Gastroenterology, Hepatology and Nutrition. JPGN. 2006;43:1-13.

15
5. Ostakul S, Puetpaiboon A. Use of Rome II versus Rome III criteria for diagnosis of functional
cinstipation in young children. Pediatrics International (2014) 56,83-88.
6 Drossman DA, Dumitrascu DL. Rome III: New standard for functional gastrointestinal disorders. J
Gastrointestin Liver Dis. 2006; 3: 237-241
7. Hyman PE, Milla PJ, Benninga MA, Davidson GP, Fleisher DF, Taminiau J. Childhood functional
gastrointestinal disorder:neonate/todler. Gastroenterology. 2006;130:1519-26.
8. Sutphen JL, Borowitz S, Hutchinson RL, DJ C. Long-term follow up of medically treated childhood
constipation. Clin Pediatr. 1995;54:576-80.
9. Endyarni B, Syarif H Badriul. Konstipasi Fungsional.Sari Pediatri, Vol. 6, No. 2, September 2004. 75-
90).
10. Guyton & Hall. Textbook of medical physiology. 11th ed. Elsevier: Philadelphia, 2006.
11. Lembo A, Camilleri M. Chronic constipation. N Engl J Med. 2003;394:1360-8.
12. Fontana M, cataldo F. Bowel frequency in healthy children. Acta Paediatr Scand. 1987;78:682-4.
13. Croffie JM. Symposium: Gastroenterology and hepatology. Constipation in children. Indian J
pediatr. 2006;73.
14. Hamadi KA, Hamadi T. Constipation in infants and children: evaluation and management. Bull
Kuwait Inst Med Spec. 2005;4:8-16.
15. Stefen R, Schroeder TK. Paradoxical puborectalis contraction in children. Dis colon rectum. 1992;
35:1193-4
16. Biggs WS, Dery WH. Evaluation and treatment of constipation in infants and children. Am Fam
Physician. 2006;73:469-
17. Wyllie R. Constipation. Dalam : Kliegman RM, Behrman RE, Jenson HB, Stanton BF, penyunting.
Nelson Text Book of Pediatrics. 19th-ed. Philadelphia: Saunders Elsevier, 2011. h.1525-65
18. Loening-Baucke V. Constipation and encopresis. Dalam: Wyllie R, Hyams JS, penyunting. Pediatric
gastrointestinal and liver disease.Edisi ke- 3. Philadelphia: Elsevier; 2006. h. 177-91.

16