Anda di halaman 1dari 2

BAB IV

PEMBAHASAN

4.1 Proses Penegakan Diagnosa

Berdasarkan anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang, An.


N dapat didiagnosa dengue fever (DF). Hal ini menyingkirkan different diagnostic
yaitu dengue hemorragic fever (DHF) dan typhoid fever.
Hasil anamnesa, beberapa hal yang mendukung diagnosis tersebut yaitu
pada anamnesa didapatkan pasien datang dengan keluhan keringat dingin, hal ini
diduga akibat adanya fase kritis (critical phase) dari perjalanan penyakit demam
dengue, di mana pada hari ke 3-7 fase ini, terjadi penurunan suhu tubuh dan bisa
didapatkan adanya penurunan kadar hematokrit. Pasien juga mengeluh batuk tidak
berdahak dan pilek, hal ini disebabkan virus dengue yang menyerang sistem
retikuloendothelial salah satunya yaitu paru-paru.
Pemeriksaan fisik didapatkan bibir kering, namun tidak ditemukan mata
cowong dan turgor mau pun CRT dalam batas normal serta penanda dehidrasi
yang lainnya dalam batas normal sehingga pada pasien disimpulkan tidak terjadi
kondisi dehidrasi. Akan tetapi, pada status generalis didapatkan penurunan
tekanan darah (hipotensi) dan suhu tubuh sedikit meningkat sedangkan pada status
lokalis didapatkan bibir kering dan nyeri pada perut regio epigastrium dan
hypochondriaca dextra. Nyeri ini disebabkan oleh adanya aktivasi mediator
inflamasi dan sel kupfer di sinusoid hepar. Uji tourniquet (rumple leede test)
didapatkan hasil positif, hal ini disebabkan adanya peningkatan permeabilitas
vaskuler, sehingga trombosit melakukan ekstravasasi ke ekstravaskuler.
Pemeriksaan penunjang darah lengkap pada hari ke 5 didapatkan leukosit
menurun / leukopenia (4,31 ribu/ul), trombosit menurun / trombositopenia (96
ribu/ul), eritrosit meningkat batas atas / eritrositosis (6,27 juta/ul), neutrofil
menurun (32,1%), basofil meningkat (7,5) dan monosit meningkat (18,9).
Pemeriksaan serologi widal (-). Uji tourniquet (rumple leede) memiliki hasil (+).
Imunoserologi pada hari ke 6 adalah IgG (+) dan IgM (-). Hasil pemeriksaan
penunjang diatas menunjukkan tanda-tanda DF dan sesuai dengan keadaan DF

21
2

yaitu hari ke 3 mulai terjadi leukopenia, pada hari ke 3-8 terdapat trombositopenia
dan rumple leede test (+).

Pada typhoid fever terdapat gejala prodormal seperti demam, nyeri


neuromuscular dan gangguan pencernaan dan pada pasien didapatkan serologi
widal (-) sehingga dapat menyingkirkan different diagnosis typhoid fever.
Kemudian, juga dapat menyingkirkan different diagnosa DHF karena pada pasien
tidak ditemukan tanda-tanda plasma leakage (kebocoran plasma) yaitu (1)
Peningkatan hematokrit >20% dibandingkan standar sesuai dengan umur dan jenis
kelamin, (2) Penurunan hematokrit >20% setelah mendapat terapi cairan,
dibandingkan dengan nilai hematokrit sebelumnya, (3)Tanda kebocoran plasma
seperti: efusi pleura, asites atau hipoproteinemia.

Hasil anamnesa sampai pemeriksaan penunjang diatas dapat dipastikan


diagnosa kerja pada pasien adalah dengue fever (DF).
Pemberian rehidrasi dengan kristaloid yaitu Normal Saline karena
merupakan terapi cairan yang dianjurkan oleh WHO dan merupakan terapi cairan
lini pertama. Kemudian diberikan juga terapi symtomatik yaitu sirup
Dextromethorpan, Pseudoefedrin untuk batuk pilek dan paracetamol untu
antipiretik dan analgesik.