Anda di halaman 1dari 6

UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA

NO 25 tahun 2016

TENTANG

LARANGAN MEMBUANG SAMPAH SEMBARANGAN

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Menimbang :

a. Bahwa budaya masyarakat yang membuang sampah tidak pada tempatnya


telah menjadi permasalahan nasional yang dimana perilaku tersebut
dianggap sudah cukup meresahkan
b. Bahwa adapun dampak dari membuang sampah sembarangan adalah
terjadinya bencana banjir, longsor dan juga wabah penyakit di masayarakat
c. Bahwa tingkat kebersihan di Indonesia semakin hari semakin rendah
sampah merupakan masalah utama penyebab kebersihan di Indonesia
rendah
d. Bahwa iklim tidak membuang sampah sembarangan harus diciptakan demi
tercapainya Negara yang aman, bersih dan sehat
e. Bahwa dalam menanggulangi masalah sampah diperlukan kepastian
hukum, sanksi sanksi yang jelas bagi pihak pihak yang membuang sampah
sembarangan, kewenangan pemerintah, pemerintah daerah, serta peran
masayarakat agar dapat berjalan dengan proporsional, efektif, dan efisien
f. Bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a,
huruf b, huruf c, huruf d, dan huruf e perlu membentuk Undang Undang
tentang Larangan Buang Sampah Sembarangan

Mengingat : 1. UU No 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah

2. UU No 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan


Hidup

Dengan Persetujuan Bersama

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA


dan
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
MEMUTUSKAN :

Menetapkan : UNDANG-UNDANG TENTANG LARANGAN MEMBUANG SAMPAH


SEMBARANGAN
BAB I
KETENTUAN UMUM
Bagian Kesatu

Definisi

Pasal 1

Dalam Undang Undang ini yang dimaksud dengan :

a. Sampah adalah sisa kegiatan sehari-hari manusia dan/atau proses alam yang
berbentuk padat
b. Sampah Organik adalah Sampah organik yaitu sampah yang berasal dari sisa-sisa
makhluk hidup (material biologis) yang dapat membusuk dengan mudah
c. Sampah Anorganik adalah sampah yang berasal dari bahan baku non biologis dan
sulit terurai
d. Sampah B3 adalah limbah dari bahan yang beracun dan berbahaya
e. Penghasil sampah adalah setiap orang dan/atau akibat proses alam yang
menghasilkantimbulan sampah
f. Tempat penampungan sementara adalah tempat sebelum sampah diangkut ke
tempatpendauran ulang, pengolahan, dan/atau tempat pengolahan sampah terpadu
g. Orang adalah orang perseorangan, kelompok orang, dan/atau badan hukum

Bagian Kedua

Ruang Lingkup

Pasal 2

1. Sampah yang dimaksud dalam Undang Undang ini, terdiri dari :


a. Sampah Organik
b. Sampah Anorganik
c. Sampah B3
2. Sampah Organik sebagaimana dimaksud pada Pasal 1 butir b berasal dari sisa sisa
makhluk hidup (material biologis) yang dapat membusuk dengan mudah
3. Sampah Anorganik sebagaimana dimaksud pada Pasal 1 butir c berasal dari bahan
baku non-biologis dan sulit terurai
4. Sampah B3 sebagaimana dimaksud pada Pasal 1 butir d adalah limbah dari bahan
yang beracun
5. Membuang sampah sembarangan adalah kegiatan menaruh atau meletakkan sampah
tidak pada tempat pembuangan baik yang disengaja ataupun tidak sengaja
BAB II
ASAS DAN TUJUAN
Pasal 3

1. Larangan membuang sampah sembarangan diselenggarakan berdasarkan asas


tanggung jawab, asas manfaat, asas kesadaraan, asas kebersamaan, asas keelamatan,
asas keamanan.
2. Larangan membuang sampah sembarangan bertujuan untuk meningkatkan kebersihan,
kesadaran masyarakat, kesehatan, keamanan dan kualitas lingkungan yang lebih baik

BAB III
TUGAS DAN WEWENANG
Tugas
Pasal 4
1. Pemerintah dan pemerintahan daerah bertugas menjamin terselenggaranya Larangan
Membuang Sampah Sembarangan sesuai dengan tujuan sebagaimana dimaksud dalam
Undang-Undang ini
Pasal 5
1. Menumbuhkembangkan dan meningkatkan kesadaran masyarakat dalam pentingna
membuang sampah pada tempat penampungan sampah
2. Memfasilitasi tempat pewadahan, pemilahan, dan pengolahan sampah
3. Menghimbau masyarakat dampak yang ditimbulkan dari membuang sampah tidak
pada tempat penampungan
4. Memberikan Pendidikan kepada masyarakat mengenai jenis jenis sampah dan cara
penanganan yang benar
5. Mensosialisasikan mengenai adanya sanksi administratif bagi setiap orang yang
membuang sampah sembarangan
6. Melakukan koordinasi antar pemerintah, pemerintah daerah, masyarakat, dan dunia
usaha agar terdapat keterpaduan dalam pengelolaan sampah

Wewenang
Pasal 6

Dalam penyelenggaraan pengelolaan sampah, Pemerintah mempunyai kewenangan:

a. menetapkan kebijakan kebijakan dalam menyelenggarakan Larangan membuang


sampah sembarangan;

b. menetapkan norma, prosedur, dan kriteria pewadahan dan pengolahan sampah ;

c. memfasilitasi dan mengembangkan kerja sama antar daerah, kemitraan, dan jejaring
mengenai tempat pewadahan, pemilahan, dan pengolahan sampah;

d. menyelenggarakan koordinasi, pembinaan, dan pengawasan kinerja pemerintah


daerah dalam pengelolaan sampah;
BAB IV

HAK DAN KEWAJIBAN

Bagian Kesatu

Pasal 7

1. Setiap orang berhak :


a. Mendapatkan pelayanan dan fasilitas pewadahan sampah yang baik
b. Berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan, penyelenggaraan,
danpengawasan di bidang pengelolaan sampah;
c. Memperoleh informasi yang benar, akurat mengenai ketentuan membuang
sampah pada temppat penampungan sementara
d. Memperoleh pembinaan agar dapat melaksanakan larangan membuang
sampah sembarangan secara baik dan benar sesuai ketentuan

Bagian Kedua

Pasal 8

Kewajiban

1. Setiap orang wajib meletakkan sampah pada tempat penampungan sementara


2. Setiap orang wajib meletakkan sampah sesuai dengan penggolongan sampah sesusai
kententuan
3. Setiap orang wajib untuk menjaga kebersihan lingkungannya baik darat, air, udara
4. Setiap orang wajib untuk mengurangi penggunaan barang barang yang akan
menghasilkan limbah yang berlebihan
Pasal 9

Setiap orang wajib mengelola kemasan dan/atau barang yang diproduksinya yang tidak dapat
atau sulit terurai oleh proses alam

Pasal 10

Setiap orang wajib meletakkan sampah yang terlihat, dan tidak mengabaikan sampah yang
berada di tempat umum

Pasal 11

1. Setiap orang yang melakukan kegiatan usaha, yang dimana kegiatan usaha tersebut
menghasilkan limbah B3 dilarang membuang limbah tersebut tidak pada tempat yang
telah diatur dalam ketentuan
2. Setiap orang yang melakukan kegiatan usaha, yang dimana kegiatan usaha tersebut
menghasilkan limbah B3 harus melaporkan kegiatan usahanya untuk diberikan
arahan tempat pembuangan limbah B3 terdekat
Pasal 12

Setiap orang yang melakukan kegiatan usaha, wajib untuk menjaga kebersihan lingkungan
baik darat, air dan udara

BAB V

SANKSI

Pasal 13

Setiap orang yang tidak meletakkan sampah pada tempat penampungan sementara yang
seharusnya sebagaimana yang dimaksud pada Pasal 8 ayat (1) akan dikenakan hukuman
membersihkan tempat umum selama 3 hari dan denda paling banyak Rp 1.000.000.00 (satu
juta rupiah)

Pasal 14

Setiap orang yang tidak meletakkan sampah sesuai dengan penggolongan sampah sesusai
kententuan sebagaimana diatur pada Pasal 8 ayat (2) akan dikenakan hukuman membersihkan
tempat umum selama 2 hari dan denda paling banyak Rp 750.000,00 (tujuh ratus ribu rupiah)

Pasal 15

Setiap orang yang dengan sengaja mengabaikan sampah yang berada di tempat umum akan
dikenakan hukuman membersihkan tempat umum selama 1 hari

Pasal 16

Setiap orang yang melakukan kegiatan usaha, yang dimana kegiatan usaha tersebut
menghasilkan limbah dan dengan sengaja membuang limbah B3 tersebut ke tempat yang
tidak sesuai ketentuan maka dikenakan denda paling sedikit Rp 5.000.000.00 dan
pencaabutan izin usaha.

BAB VI

KETENTUAN PERALIHAN

Pasal 17

Pemerintah daerah harus membuat perencanaan penutupan tempat pemrosesan akhir sampah
yang menggunakan sistem pembuangan terbuka paling lama 1 (satu) tahun terhitung sejak
berlakunya Undang-Undang ini.

BAB VII

KETENTUAN PENUTUP

Pasal 18
Pada saat berlakunya Undang Undang ini semua peraturan perundang-undangan yang
berkaitan dengan pengelolaan sampah yang telah ada tetap berlaku sepanjang tidak
bertentangan dengan ketentuan dalam Undang-Undang ini.

Pasal 19

Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Agar setiap orang mengetahui
nya, memerintahkan pengundangan Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam
Lembaran Negara Republik Indonesia.

Disahkan di Jakarta

pada tanggal 06 Desember 2016

PRESIDEN REPUBLIKINDONESIA

Diundangkan di Jakarta

pada tanggal 06 Desember 2016

MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA

REPUBLIK INDONESIA,