Anda di halaman 1dari 13

1.

Hak dan kewajiban pasien dan dokter


2. Bagaimana pandangan hukum dan agama terhadap euthanasia
3. Jenis-Jenis euthanasia
4. siapakah yang bertanggung jawab terhadap kasus pada scenario
5. Apakah kasus ini termasuk dilemma etik ?
6. Bagaimana komunikasi yang baik antara dokter dan pasien ? yang verbal dan non verbal
7. Bagaimana cara dokter menyampaikan berita buruk kepada pasien
8. Bagaimana hubungan prinsip bioetik dan euthanasia ?

1. Hak Pasien
1. Mendapatkan pelayanan kesehatan optimal /sebaik-baiknya sesuai dengan standar profesi
kedokteran.
2. Hak atas informasi yang jelas dan benar tentang penyakit dan tindakan medis yang akan
dilakukan dokter/ suster.
3. Hak memilih dokter dan rumah sakit yang akan merawat sang pasien.
4. Hak atas rahasia kedokteran / data penyakit, status, diagnosis dll.
5. Hak untuk memberi persetujuan / menolak atas tindakan medis yang akan dilakukan pada
pasien.
6. Hak untuk menghentikan pengobatan.
7. Hak untuk mencari pendapat kedua / pendapat dari dokter lain / Rumah Sakit lain.
8. Hak atas isi rekaman medis / data medis.
9. Hak untuk didampingi anggota keluarga dalam keadaan kritis.
10. Hak untuk memeriksa dan menerima penjelasan tentang biaya yang dikenakan / dokumen
pembayaran / bon /bill.
11. Hak untuk mendapatkan ganti rugi kalau terjadi kelalaian dan tindakan yang tidak
mengikuti standar operasi profesi kesehatan

kewajiban Pasien
1. Memberi keterangan yang jujur tentang penyakit dan perjalanan penyakit kepada petugas
kesehatan.
2. Mematuhi nasihat dokter dan perawat
3. Harus ikut menjaga kesehatan dirinya.
4. Memenuhi imbalan jasa pelayanan.

kewajiban dokter
a. Memberikan pelayanan medis sesuai standar profesi dan standar prosedur operasional
serta kebutuhan medis pasien
b. Merujuk pasien ke dokter atau dokter gigi lain yang mempunyai keahlian atau kemampuan
yang lebih baik, apabila tidak mampu melaksanakan suatu pemeriksaan atau pengobatan
c. Merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang pasien bahkan juga setelah pasien
itu meninggal dunia
d. Melakukan pertolongan darurat atas dasar perikemanusiaan, kecuali bila ia yakin ada
orang lain yang bertugan dan mampu melakukannya
e. Menambah ilmu pengetahuan dan mengikuti perkembangan ilmu kedokteran.

Hak dokter
a. Memperoleh perlindungan hukum sepanjang melaksanakan tugas sesuai standar profesi
dan standar prosedur operasional
b. Memberikan pelayanan menurut standar profesi dan standar prosedur operasional
c. Memperoleh informasi yang lengkap dan jujur dari pasien atau keluarganya
d. Menerima imbalan jasa

sumber : 1. hanifah.J & amri amir.2008. Etika kedokteran dan Hukum kesehatan.EGC: Jakarta
2. Ananda widya. 2016. Etika kedokteran dan hukum kesehatan EGC: Jakarta

2. Euthanasia menurut Agama Islam


Dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah qatlu ar-rahma atau taysir al-maut
Syariah Islam mengharamkan euthanasia aktif, karena termasuk dalam kategori pembunuhan
sengaja (al-qatlu al-amad) walaupun niatnya baik yaitu untuk meringankan penderitaan
pasien. Hukumnya tetap haram, walaupun atas permintaan pasien sendiri atau keluarganya.
Hukum euthanasia pasif dalam arti menghentikan pengobatan dengan mencabut alat-alat
bantu pada pasien setelah matinya/rusaknya organ otakhukumnya boleh (jaiz) dan tidak
haram bagi dokter.
Euthanasia dalam keadaan aktif maupun dalam keadaan pasif, menurut fatwa MUI, tidak
diperkenankan karena berarti melakukan pembunuhan atau menghilangkan nyawa orang lain.
Lebih lanjut, KH Maruf Amin ( Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia ) mengatakan,
euthanasia boleh dilakukan dalam kondisi pasif yang sangat khusus.
Euthanasia menurut Agama Hindu
Berdasarkan kepercayaan umat Hindu, apabila seseorang melakukan bunuh diri, maka rohnya
tidak akan masuk neraka ataupun surga melainkan tetap berada didunia fana sebagai roh jahat
dan berkelana tanpa tujuan hingga ia mencapai masa waktu dimana seharusnya ia menjalani
kehidupan (Catatan : misalnya umurnya waktu bunuh diri 17 tahun dan seharusnya ia
ditakdirkan hidup hingga 60 tahun maka 43 tahun itulah rohnya berkelana tanpa arah tujuan),
setelah itu maka rohnya masuk ke neraka menerima hukuman lebih berat dan akhirnya ia akan
kembali ke dunia dalam kehidupan kembali (reinkarnasi) untuk menyelesaikan karma nya
terdahulu yang belum selesai dijalaninya kembali lagi dari awal
Euthanasia menurut Agama Buddha
Euthanasia atau mercy killing baik yang aktif atau pasif tidak dibenarkan dalam agama
Buddha karena perbuatan membunuh atau mengakhiri kehidupan seseorang ini, walaupun
dengan alasan kasih sayang, tetap melanggar sila pertama dari Pancasila Buddhis. Perbuatan
membunuh atau mengakhiri hidup seseorang ini sesungguhnya tidak mungkin dapat
dilakukan dengan kasih sayang atau karuna.
Euthanasia menurut Agama Kristen Katolik
Para Uskup Gereja Katolik mengukuhkan bahwa eutanasia itu pelanggaran berat hukum
Allah, karena berarti pembunuhan manusia yang disengaja dan dari sudut moril tidak dapat
diterima (Evangelium Vitae, No. 65).

Euthanasia dalam Perspektif Hukum Pidana Pengaturan euthanasia terdapat

dalam KUHPidana buku ke-dua Bab XIX tentang kejahatan terhadap nyawa orang, Pasal
344 yang berbunyi:

Barangsiapa menghilangkan nyawa orang atas permintaan sungguh-sungguh orang itu


sendiri, dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya dua belas tahun.

Sumber : 1. Adami Chazawi,.2008 Kejahatan Terhadap Tubuh dan Nyawa, RajaGrafindo


Persada,:Jakarta

2. Rada. A. 2012. Euthanasia dalam prespektif hukum agama

3. Jenis Euthanasia

Euthanasia ditinjau dari beberapa sudut:


1. Dilihat dari cara dilaksanakan, euthanasia dapat dibedakan atas:

A. Euthanasia pasif:

Euthanasia pasif faktanya termasuk dalam praktik menghentikan pengobatan atau suatu
keadaan seorang dokter atau tenaga kesehatan lain secara sengaja tidak lagi memberikan
bantuan medis kepada pasien yang dapat memperpanjang hidupnya. Perbuatan
penghentian atau mencabut segala tindakan atau pengobatan yang perlu untuk
mempertahankan hidup manusia hingga fase hidupnya yang terakhir.

B. Euthanasia aktif:
Euthanasia aktif adalah perbuatan yang dilakukan secara medik melalui intervensi aktif
oleh seorang dokter atau tenaga kesehatan

2. Dari segi maksud euthanasia dibedakan atas:


1. Euthanasia langsung (direct)

Euthanasia langsung adalah dilakukannya tindakan medik secara terarah yang


diperhitungkan akan mengakhiri hidup pasien, atau memperpendek hidup
pasien. Jenis euthanasia ini dikenal juga sebagai mercy killing.

2. Euthanasia tidak langsung (indirect)


Euthanasia aktif tidak langsung adalah saat dokter atau tenaga kesehatan
melakukan tindakan medik untuk meringankan penderitaan pasien, namun
mengetahui adanya risiko tersebut dapat memperpendek atau mengakhiri hidup
pasien.

3. Ditinjau dari permintaan, euthanasia dibedakan atas

1. Euthanasia Voluntir atau euthanasia sukarela (atas permintaan pasien) Euthanasia atas
permintaan pasien adalah euthanasia yang dlakukan atas permintaan pasien secara
sadar dan diminta berulang-ulang. orang yang bersangkutan meminta agar hidupnya
diakhiri dengan segera karena orang yang bersangkutan sudah tidak sanggup legi
menderita sakit yang berkepanjangan, sudah tidak mempunyai harapan sembuh
kemudian dokter atau orang lain berusaha mengambil tindakan-tindakan mengakhiri
hidupnya tanpa rasa sakit karena kasihan atas penderitaannya.

2. Euthanasia Involuntir (tidak atas permintaan pasien)


Euthanasia tidak atas permintaan pasien adalah euthanasia yang dilakukan pada
pasien yang (sudah) tidak sadar, dan biasanya keluarga pasien yang meminta. Dalam
hal ini orang yang bersagkutan sudah dalam keadaan parah, sehingga tidak mampu
lagi menyatakan kehendaknya dan dokter atau orang lain karena kasihan mengakhiri
hidup orang tersebut dengan cara yang tidak menimbulkan sakit sehingga orang
tersebut bebas dari penderitaan.

Sumber: 1. Sanbar, S. Sandy.2014. classification of Euthanasia. Jakarta


2. Beresford,stuaert. 2014. The right to day
4. Pertanggungjawaban Dalam Kasus Euthanasia
Dokter sebagai tenaga profesional adalah bertanggung jawab dalam setiap tindakan medis
yang dilakukan terhadap pasien. Dalam menjalankan tugas profesionalnya,didasarkan pada
niat baik yaitu berupaya dengan sungguh-sungguh berdasarkan pengetahuannya yang
dilandasi dengan sumpah dokter, kode etik kedokteran dan standar profesinya untuk
menyembuhkan / menolong pasienAntara lain adalah :
1. Peranggungjawaban Pidana
Tanggung jawab hukum dokter adalah suatu keterikatan dokter terhadap ketentuan-
ketentuan hukum dalam menjalankan profesinya. Tanggung jawab seorang dokter dalam
bidang hukum terbagi 3 (tiga) bagian, yaitu tanggung jawab hukum dokter dalam bidang
hukum perdata, tanggung jawab pidana dan tanggung jawab hukum administrasiTanggung
jawab pidana disini timbul bila pertama-tama dapat dibuktikan adanya kesalahan
profesional, misalnya kesalahan dalam diagnosis atau kesalahan dalam cara-cara
pengobatan atau perawatan. Dari segi hukum kesalahan / kelalaian akan selalu berkait
dengan sifat melawan hukumnya suatu perbuatan yang dilakukan oleh orang yang mampu

Endang Kusuma Astuti, Tanggungjawab Hukum Dokter dalam Upaya Pelayanan


Medis Kepada Pasien: Aneka Wacama tentang Hukum, (Yogyakarta: Kanisius, 2003), Hlm.
Ninik Maryati, Malpraktek Kedokteran dari Segi Hukum Pidana dan Perdata,
(Jakarta: PT. Bina Aksara, 2008), Hlm. 5

5. Dilema dokter: Dokter harus menjalankan kewajibannya yakni memberikan pelayanan medis
sesuai dengan standard profesi dan standard operasional prosedur tindakan medis, namun
keluarga pasien pada akhirnya memutuskan untuk membawa pulang anaknya karena tidak
mempunyai biaya untuk berobat.
Dilema orang tua pasien: Orang tua tentunya ingin anaknya untuk sembuh dari penyakit yang
dideritanya. Dan pada kasus, dokter telah mendiagnosis anaknya menderita penyakit yang
QoL nya sangat kecil dan berkemungkinan besar mengalami gangguan pendengaran,
perkembangan, dan retardasi mental. Hal itu menjadi dilema bagi keluarga pasien, karena
orang tua pasti berpikir bagaimana nanti sulitnya anaknya dalam menjalani hidupnya, dan
juga pasti orang tua juga memikirkan bagaimana nanti mereka akan mengurus anak yang
memiliki keterbelakangan, Karena tentunya tidak gampang. Dilema lain yang dialami orang
tua pasien yakni ingin mengusahakan semaksimal mungkin agar anaknya sembuh untuk
mempertahankan hidup anaknya, namun tidak memiliki biaya untuk menjalani pengobatan
karena ekonomi yang pas-pasan.
1. hanifah.J & amri amir.2008. Etika kedokteran dan Hukum kesehatan.EGC: Jakarta
2. Ananda widya. 2016. Etika kedokteran dan hukum kesehatan EGC: Jakarta

6. Personal preparation
Dibutuhkan waktu yang tepat untuk memberikan suatu berita buruk secara benar dan
disertai
menanamkan kepercayaan disertai dukungan dengan selalu siap untuk menjawab pertanyaan-
pertanyaan. Untuk alasan tersebut , tidak tepat rasanya jika menyampaikan kabar buruk di
tengah-tengah sebuah klinik yang sinuk dan ramai. Namun, sebelum melihat pasien terlebih
dahulu Anda harus mengambil beberapa saat untuk mempertimbangkan informasi apa yang
diketahui dan apa yang perlu ditangani. Adapun hal-hal yang harus dipertimbangkan adalah
sebagai berikut:
- Apakah pasien mengharapkan kabar buruk?
- Apakah harus ada orang lain hadir (seperti perawat atau kerabat) ?
- Apa pasien sudah tahu tentang penyakit, atau apa yang telah terjadi ?
- Apa kemampuan pribadi yang pasien miliki?

The physical setting


Pengaturan fisik yang ideal adalah kamar pribadi yang cukup nyaman, bebas
dari gangguan, dan memiliki suasana yang tenang. Tentu saja, hal tersebut tidak selalu dapat
terjadi. Namun, dalam beberapa pengaturan, disebutkan bahwa harus adanya upaya yang
dilakukan untuk menjamin privasi dan kenyamanan pasien. Sebuah tirai harus ditarik di
sekitar pasien di sebuah ksamar terbuka jika tidak mungkin untuk pindah ke kamar pribadi.
Posisi fisik Anda jika dikaitankan dengan pasien adalah penting. Jika pasien di tempat
tidur, itu lebih sulit untuk mempertahankan mata ditingkat yang sama. Beberapa dokter lebih
memilih untuk duduk di sisi tempat tidur, tetapi hal ini dapat membuat pasien merasa
tengganggu dan terlalu dekat bagi pasien. Duduk di sebuah kursi kantor di samping tempat
tidur adalah lebih baik dan nayaman. Yang lain lebih memilih untuk mengadopsi defensif
posisi bersandar di dinding dekat dengan pasien, hal ini mengindikasikan postur santai dan
komitmen untuk tetap di dalam ruangan. Namun, ada beberapa hal yang tidak boleh Anda
lakukan, yaitu :
- Jangan memberikan kabar buruk pada akhir pemeriksaan fisik sementara Pasien belum
dalam keadaan siap.
- Jangan memberikan berita buruk di koridor dan melalui telepon (jika bisa hal ini
harus dihindari).
- Jangan mondar-mandir di sekitar pasien, lalu melihat keluar jendela atau melakukan
hal yang dapat mengganggu pasien.

Talking to the patient and responding to concerns


Apa pun yang Anda katakan kepada pasien, adalah penting bagi Anda untuk
melakukannya secara perlahan-lahan atau setidaknya pada kecepatan yang dapat diterima oleh
pasien. Percakapan biasanya menjadi lebih formal dan serius ketika memberikan berita buruk.
Membalas pertanyaan dengan satu kata haruslah dihindari.
Lalu dalam menyampaikan berita buruk dibutuhkan :
a. Empati
b. Dimulai dengan apa yang pasien atau kerabatnya sudah tahu atau pahami
c. Mencari tahu apa yang pasien ingin tahu
d. Aktif mendengarkan, memberikan informasi, umpan balik dan menangani kepentingan
sang pasien.
e. Memunculkan kekuatan diri sang pasien.
f. Menanamkan harapan yang realistis.

Arranging follow-up or referral


Setelah pasien sudah diberitahukan kabar buruk, yang paling penting adalah waktu
dimana beberapa saat setelah pertemuan. Hal ini menggoda
untuk mengasumsikan bahwa pasien telah mengetahui dan mengerti apa yang mereka
butuhkan. Meminta pasien untuk meringkas apa yang mereka ingat adalah cara
untuk memeriksa apa yang mereka telah ketahui selama ini. Jika Anda tidak memperbaiki
kesalahpahaman sekarang, pasien mungkin hanya ingat aspek-aspek positif atau negatif
dari berita tersebut, yang keduanya dapat meningkatkan risiko depresi reaktif,
penolakan, kecemasan dan bahkan bunuh diri. Dalam beberapa kasus mungkin tepat untuk
membuat rujukan lain profesional, seperti psikolog atau konselor, untuk spesialis bantuan
dengan berita dukacita, kegelisahan dan depresi. .

Feedback and handover to professional colleagues


Ini adalah praktik yang baik untuk menginformasikan rekan-rekan pasien tentang
pertemuan dengan pasien, meringkas bagaimana keadaan pasien, apa yang pasien telah
ketahui dan mengerti, dan masalah apa yang mungkin terjadi atau reaksi apa yang diharapkan.
Hal ini membantu orang lain yang merawat pasien, untuk mengetahui apa yang harus
dikatakan tanpa membingungkan atau mengganggu pasien dengan informasi yang berbeda
tentang prognosis dan pengobatan. Diskusi dan konsultasi dengan kolega juga dapat membuat
tugas memberikan berita buruk lebih mudah dengan meningkatkan profesional dukungan dan
mengeksplorasi ide-ide.

1. hanifah.J & amri amir.2008. Etika kedokteran dan Hukum kesehatan.EGC: Jakarta
2. Ananda widya. 2016. Etika kedokteran dan hukum kesehatan EGC: Jakarta

7. Cara memberitahukan berita buruk


1. PERSIAPAN Pilih ruangan yang menjamin privacy, dan usahakan baik

dokter maupun pasien bisa duduk dalam posisi yang nyaman.


Tanyakan pada pasien apakah dia menghendaki ada orang
lain yang menemaninya, apakah suami / istri, anak, atau
keluarga lainnya. Biarlah pasien sendiri yang memutuskan.
Mulailah dengan memberikan pertanyaan seperti: Bagaimana
perasaan anda sekarang ?.

(Pertanyaan ini untuk mulai melibatkan pasien dan menunjukkan


pada pasien bahwa percakapan selanjutnya adalah percakapan dua
arah. Pasien tidak hanya mendengarkan dokter bicara).
2 MENCARI Mulailah mengajukan pertanyaan untuk menggali informasi dari
TAHU
pasien supaya anda dapat mulai memahami.
SEBANYAK
APA Apakah pasien sudah tahu mengenai penyakitnya/ situasinya.

INFORMASI Contoh : "Saya menderita kanker paru-paru, dan saya


memerlukan pembedahan".
YANG
Seberapa banyak dia tahu ? Darimana dia tahu ? ("dokter A
SUDAH
mengatakan ada sesuatu kelainan yang ditemukan di foto
DIMILIKI
roentgen dada saya")
PASIEN
Tingkat pengetahuan pasien ("Dok, saya terkena
Adenocarcinoma T2N0 ")
Situasi emosional pasien ("Saya takut jangan jangan saya
terkena kanker, Dok sampai sampai seminggu ini saya jadi
susah tidur").

Terkadang pasien atau keluarga pasien (orang tua pada pasien anak)
mungkin tidak bisa menjawab atau merespon pertanyaan anda, dan
mungkin memang tidak mengetahui sama sekali mengenai penyakit
mereka.

Pada kasus kasus seperti itu , teknik yang bisa digunakan


untuk menstimulasi diskusi adalah dengan menanyakan kembali
tentang hal hal yang sudah mereka ketahui seperti riwayat
penyakit dan hasil pemeriksaan atau hasil test yang telah dilakukan
sebelumnya.

3 MENCARI TAHU Penting untuk menanyakan pada pasien seberapa detil


SEBERAPA informasi yang ingin didengarnya. Apakah sangat detil, atau
BANYAKKA hanya gambaran besarnya saja ?
H Perlu diperhatikan bagaimana cara bertanya, dan
INFORMASI kemungkinan reaksi pasien. (Setiap pasien tidak akan sama ,
YANG bahkan pada pasien yang sama kemungkinan akan berubah
INGIN
DIKETAHUI
PASIEN permintaannya selama dalam satu sesi percakapan).
Beberapa pertanyaan yang sering digunakan pada tahap ini
misalnya :

Bapak/ ibu, bila nanti situasi atau kondisi/ hasil test menunjukkan
sesuatu yang serius, apakah saya bisa memberitahukan pada anda
mengenai masalah tersebut ?
Apakah bapak / ibu ingin saya menjelaskan secara rinci atau
hanya garis besar dari kondisi bapak / ibu sekarang ?
Bapak / Ibu, hasil test anda sudah keluar. Apakah saya bisa
menjelaskan pada bapak / ibu, atau bapak / ibu ingin agar saya
menjelaskan kondisi anda pada keluarga ?
Dll
4 BERBAGI Penting untuk mempersiapkan segala data sebelum anda
INFORMASI bertemu dengan pasien.
Topik pada tahap ini biasanya adalah mengenai diagnosis,
terapi / penanganan, prognosis, serta dukungan / fasilitas apa saja
yang bisa diperoleh oleh pasien dan keluarganya.
Berikan informasi dalam potongan kecil, dan pastikan untuk
berhenti menjelaskan (beri jeda di antara potongan
potongan informasi itu) untuk memastikan bahwa pasien
paham dengan yang kita jelaskan.
Ingatlah untuk menerjemahkan istilah medis ke dalam bahasa
Indonesia, dan jangan mencoba untuk mengajar patofisiologi
(jelaskan dengan lebih sederhana).
Beberapa contoh bahasa yang bisa digunakan untuk
menyampaikan berita buruk :

Pak Harun, saya khawatir bahwa kabar yang akan saya


sampaikan ini adalah kabar yang kurang baik. Hasil test anda
ternyata menunjukkan bahwa anda positif terkena HIV.
Bu Siti, mohon maaf saya terpaksa menyampaikan kabar ini.
Hasil biopsi benjolan pada payudara ibu menunjukkan bahwa
ibu terkena kanker payudara.
Bu Dinar, hasil test putri anda sudah keluar, dan ternyata
hasilnya tidak seperti yang kita harapkan. Hasil tersebut
menunjukkan bahwa putri anda terkena leukemia.
dll
5 MENANGGAPI Jika anda tidak memberikan tanggapan terhadap emosi yang
PERASA muncul pada pasien, anda sama saja seperti meninggalkan urusan
AN sebelum urusan tersebut selesai ... Selain itu Anda juga bisa
PASIEN dianggap sebagai seorang dokter yang tidak memiliki kepedulian
pada pasien.

Kalimat kalimat yang bisa digunakan pada tahap ini :

Saya tahu bahwa hasil ini adalah hasil yang tidak kita
harapkan.
Saya tahu bahwa kabar ini adalah kabar yang tidak
mengenakkan.
Setelah mengetahui hasilnya, kira kira hal apakah yang bisa
saya bantu ?

6 PERENCANAA dll..
Pada titik ini Anda perlu mensintesis rasa kekhawatiran pasien
N
dan isu-isu medis ke dalam rencana konkret yang dapat
DAN
dilakukan dalam rencana perawatan pasien.
TINDAK
Buatlah rencana langkah demi langkah dan Berikan
LANJUT
penjelasan yang lengkap pada pasien tentang apa saja yang harus
dilakukannya pada tiap langkah, dan apa saja yang mungkin
terjadi, dan apa saja yang bisa membantu mengatasinya bila
ternyata muncul hal yang tidak diinginkan.
Berikut adalah mengenai penjelasan prognosis;

Ada baiknya dokter mencari tahu tentang harapan pasien,


ataupun alasan pertanyaan mereka.
Hal tersebut bisa dilakukan dengan cara memberikan
pertanyaan.
Berikut adalah contoh contoh kalimat ataupun
pertanyaan yang biasa digunakan :
Jadi, apa sebenarnya yang menjadi kekhawatiran bapak
mengenai pengobatan ?
Jadi situasinya memang demikian, Ibu... Tetapi mungkin
masih ada sesuatu yang bisa saya bantu untuk ibu ?...
Jadi ibu ingin mengetahui tentang berapa persen
kemungkinan putra ibu bisa bertahan ?

Sumber : fakultas kedokteran universitas sebelas maret.2015.KOMUNIKASI


DOKTER-PASIEN : MENYAMPAIKAN BERITA BURUK & TEKNIK
KONSELING.buku skills lab FKUNS

8. Tugas seorang dokter ialah untuk menolong jiwa seorang pasien, walaupun bila hal tersebut
sudah tidak bisa dilanjut- kan lagi dan bila diteruskan, kadang- kadang malah akan
menambah penderitaan seorang pasien. Penghentian pertolongan tersebut merupakan salah
satu bentuk eutanasia. Dalam KODEKI pasal 2 dijelaskan bahwa; seorang dokter harus
senantiasa berupaya melaksanakan profesi- nya sesuai dengan standar profesi tertinggi.
Jelasnya, seorang dokter dalam melakukan kegiatan kedokterannya sebagai seorang profesi
dokter harus sesuai dengan ilmu kedokteran mutakhir, hukum, dan agama. Berdasarkan
perspektif kesehatan maka eutanasia masih tidak diperbolehkan karena pada dasarnya
dokter harus tetap bersikap profesional dan mengupayakan semaksimal mungkin untuk
pengobatan pasien. Menurut KODEKI dokter juga tidak boleh tidak mengupayakan atau
melakukan pembiaran terhadap penderitaan pasien.

Bertolak dari ketentuan Pasal 344 KUHP tersimpul bahwa pembunuhan atas permintaan
korban sekalipun tetap diancam pidana bagi pelakunya. Dengan demikian, dalam konteks
hukum positif di Indonesia, eutanasia tetap dianggap sebagai perbuatan yang dilarang dan
tidak dimungkinkan melakukan pengakhiran hidup seseorang sekalipun atas permintaan
orang itu sendiri. Perbuatan tersebut tetap dikualifikasi sebagai tindak pidana, yaitu sebagai
perbuatan yang diancam dengan pidana bagi siapa yang melanggar larangan tersebut.

Tiap jenis eutanasia mengandung aspek moral dan etika yang harus menjadi pertimbangan
mendalam, mengingat penentuan hidup dan mati tidak ditangan manusia semata. Bila kita
melihat lebih jauh mengenai hak-hak pasien untuk me- nentukan nasib sendiri, eutanasia
nampak sebagai pilihan cerdas untuk mengakhiri penderitaan karena pasien tidak
berkeberat- an hidupnya berakhir (eutanasia sukarela). Walaupun demikian, penghargaan
atas nilai insani ini tidak begitu saja dapat diabaikan meskipun oleh si pemilik jiwa itu
sendiri yaitu pasien, oleh karena hal tersebut akan membuka peluang bagi yang lain untuk
mengakhiri hidupnya dengan begitu mudah bila ia tidak lagi mampu menahan penderi- taan.
Terlebih lagi bagi pasien yang sudah berada dalam kondisi koma selama bertahun-tahun,
faktor biaya, perawatan, dan faktor mental spiritual menjadi harga yang begitu mahal harus
dibayar untuk mempertahankan kehidupan seseorang tanpa mengetahui apakah harapan itu
masih ada.

Autonomy Beneficence Non Malaficence Justice


Pasien memiliki Berdasarkan diagnosis Dokter dilarang Dokter harus
kebebasan untuk yang telah ditegakkan, untuk menyakiti memberikan
memutuskan didapatkan bahwa pasien dan tidak pelayanan
tindakan apa yang ternyata QoL Doni membunuh pasien. kesehatan dengan
akan dipilihnya sangat kecil dan Pada scenario, tidak memandang
tanpa ada pengaruh apabila ia tetap hidup tampaknya dokter SARA. Dan juga
dari pihak lain, dan ia akan mendapatkan tidak menyakiti harus
diwujudkan dalam kelainan. Disini pasien dengan memberlakukan
informed consent. memang seorang tindakannya dan sesuatu secara
Pada kasus, karena Dokter harus tidak membunuh universal serta
pasien belum mengusahakan agar pasien. menjaga hak dan
berkompeten, maka pasien mendapat kewajiban pasien.
yang melakukan kebaikan lebih banyak
consent adalah orang dibandingkan
tuanya setelah keburukan, namun
diberikan informed semua itu
dari dokter. dikembalikan kepada
Saat family ortu Doni untuk
conference, dokter memutuskan
telah menjelaskan bagaimana selanjutnya
kondisi pasien setelah dilakukan
kepada orang tuanya family conference.
mulai dari diagnosis Apabila ortu Doni
sampai menyetujui anaknya
prognosisnya. Dan dilakukan tindakan
pada akhirnya orang lanjutan maka dokter
tua pasien harus berusaha
memutuskan untuk semaksimal mungkin
membawa pulang untuk
anaknya karena tidak mempertahankan,
punya biaya. Sikap namun apabila ortu
dokter pada scenario Doni tidak
menghargai menyetujui, dokter
keputusan yang juga tidak bisa
diambil orang tua memaksa.
pasien.
Pasien memiliki Berdasarkan diagnosis
kebebasan untuk yang telah ditegakkan,
memutuskan didapatkan bahwa
tindakan apa yang ternyata QoL Doni
akan dipilihnya sangat kecil dan
tanpa ada pengaruh apabila ia tetap hidup
dari pihak lain, dan ia akan mendapatkan
diwujudkan dalam kelainan. Disini
informed consent. memang seorang
Pada kasus, karena Dokter harus
pasien belum mengusahakan agar
berkompeten, maka pasien mendapat
yang melakukan kebaikan lebih banyak
consent adalah orang dibandingkan
tuanya setelah keburukan, namun
diberikan informed semua itu
dari dokter. dikembalikan kepada
Saat family ortu Doni untuk
conference, dokter memutuskan
telah menjelaskan bagaimana selanjutnya
kondisi pasien setelah dilakukan
kepada orang tuanya family conference.
mulai dari diagnosis Apabila ortu Doni
sampai menyetujui anaknya
prognosisnya. Dan dilakukan tindakan
pada akhirnya orang lanjutan maka dokter
tua pasien harus berusaha
memutuskan untuk semaksimal mungkin
membawa pulang untuk
anaknya karena tidak mempertahankan,
punya biaya. Sikap namun apabila ortu
dokter pada scenario Doni tidak
menghargai menyetujui, dokter
keputusan yang juga tidak bisa
diambil orang tua memaksa.
pasien.

Sumber : 1. hanifah.J & amri amir.2008. Etika kedokteran dan Hukum kesehatan.EGC:
Jakarta

2. Dewi AI. Etika dan Hukum Kesehatan. Yogyakarta: Pustaka Book Publisher;
2008.