Anda di halaman 1dari 2

LATAR BELAKANG

Satu pertiga pasien rawat inap yang menerima antimikroba menunjukkan


bahwa 25%-68% dari penggunaan antimikroba yang ada di RS kurang optimal.
Bukti nyatanya adalah penggunaan antimikroba yang berlebihan ditandai dengan
peningkatan kejadian penyakit yang disebabkan oleh Clostridium difficlie.
Aktivitas bakteri menunjukkan antimikroba yang telah resistensi. Seperti
methicilin yang resisten terhadap Staphylococus aureus dan yang mempunyai
cincin beta laktam. Masalahh antimikroba yang telah resisten lebih rumit atau
susah dari obat yang resisten terhadap patogen. Dimana antimikroba tidak efektif
dan sedikitnya antimkiroba baru yang ada dipasaran. Penulisan resep yang kurang
optimal juga dapat menyebabkan efek yang tidak diinginkan dari terapi
antimikroba. Termasuk ketika meminum obatnnya ditunda, dosis terapi yang
kurang tepat yang dapat berkontribusi dalam gagal nya terapi.

Dalam upaya untuk meningkatkan kualitas antimikroba, dibentuklah


organisasi kepengurusan antimikroba yang telah direkomendasikan. Diamana AS
bertujuan mengurangi perawatann pasien infeksi dan telah terbukti AR secara
signifikan meningkatkan kesehatan dan ekonomi. Program AS pada penyembuhan
kondisi akut sangat bergantung pada perilaku individu pasien. Dalam hal ini
ketika ada kasus baru atau pasien baru terhadap tatalaksan terapi antimikroba yang
diberikan harus dilakukan penelitian utama tentang perilaku individu sudah sesuai
target atau belum.

Ilmu yang membahas perilaku menggunakan prinsip-prinsip psikologi dan


sosiologi untuk mengidentifikasi dan menentukan perilaku yang diamati dan
termasuk beberapa model yang menjelaskan mengapa orang berperilaku dalam
cara tertentu. Prinsip perilaku dan ilmu sosial telah dimanfaatkan sebagai bagian
dari Pemasaran Sosial (SM) pendekatan untuk mempengaruhi perilaku positif. SM
menggunakan prinsip-prinsip pemasaran untuk membujuk kelompok sasaran
untuk mengadopsi perilaku yang bermanfaat bagi kesehatan dan yang mengurangi
beban penyakit di masyarakat.
SM telah banyak digunakan oleh pemerintah untuk mengubah perilaku
kesehatan masyarakat (misalnya, untuk mempromosikan berhenti merokok) dan
baru-baru ini mendapatkan lahan sebagai kerangka kerja yang efektif perubahan
perilaku dalam pencegahan dan pengendalian infeksi, termasuk untuk perubahan
penggunaan antimikroba. Namun penerapan ilmu-ilmu sosial dan SM untuk
mempengaruhi penggunaan antimikroba dalam perawatan akut terbatas, dan
efektivitas intervensi dalam konteks ini masih belum jelas.

Untuk saat ini, tinjauan sistematik dari penggunaan antimikroba dinilai


memiliki efektivitas untuk mengubah penggunaan yang tidak pantas. Bukti untuk
pentingnya perubahan perilaku belum dipertimbangkan. Salah satu alasan untuk
ini mungkin pengecualian secara kualitatif, yang umumnya melakukan
pendekatan metodologis dalam penelitian ilmu sosial. Untuk mengatasi
kesenjangan ini, kami telah meninjau kualitatif dan kuantitatif untuk bukti
perilaku pengaruh pada penggunaan antimikroba dan efektivitas untuk
mempengaruhi perilaku.

Untuk melakukan hal ini, kami mengembangkan kriteria khusus untuk


penilaian studi yang menyatakan noncontrolled dan metodologi nonrandomized.
Tujuannnya adalah untuk menilai efektivitas penggunaan antimikroba baik
tunggal atau kombinasi, tujuannya untuk mempengaruhi perilaku dalam
perawatan akut. Tujuan yang kedua adalah untuk menilai sejauh mana perilaku
dan ilmu sosial dan untuk meninjau literatur kualitatif untuk bukti yang dirasakan
seperti perubahan perilaku pada penggunaan antimikroba dan untuk menyediakan
platform untuk penelitian selanjutnya.