Anda di halaman 1dari 24

BAB 1

PENDAHULUAN

Stroke merupakan gangguan peredaran darah di otak. Dalam bahasa


inggris juga disebut sebagai Cerebro-vascular Accident. Gangguan peredaran
darah ini dapat berupa perdarahan atau iskemik dimana aliran darah berkurang
atau terhenti pada sebagian daerah di otak. 1
Definisi stroke menurut World Health Organization (WHO) adalah tanda-
tanda klinis yang berkembang cepat akibat gangguan fungsi otak fokal (atau
global), dengan gejala-gejala yang berlangsung selama 24 jam atau lebih, dan
dapat menyebabkan kematian.
Stroke atau serangan otak (brain attack) sampai saat ini masih merupakan
masalah kesehatan besar, sekaligus tantangan dibidang kesehatan. Data
epidemiologik dari berbagai wilayah di seluruh dunia saat ini menunjukkan bahwa
stroke menduduki peringkat kedua dalam urutan penyebab kematian. Selain
menyebabkan kematian, stroke juga mengakibatkan kecacatan. Pada tahun 1999,
sebanyak 50 juta orang telah mengalami kecacatan akibat stroke. Jumlah ini
merupakan 3,5% dari seluruh penderita cacat. Proyeksi hingga tahun 2020 nanti
menunjukkan, bahwa setiap tahun sebanyak 61 juta orang akan mengalami
kecacatan akibat stroke. Dinyatakan pula bahwa sebagian besar (lebih dari 80%)
pasien yang mengalami kematian dan kecacatan akibat stroke tersebut tinggal di
negara yang sedang berkembang. Jika ditinjau dari segi psikologik dan sosio
ekonomi penyakit tersebut merupakan masalah besar.2
Menurut Yayasan Stroke Indonesia terdapat kecenderungan
meningkatnya jumlah penyandang stroke di Indonesia dalam dasawarsa terakhir.
Berdasarkan data dilapangan, angka kejadian stroke meningkat secara deramatis
seiring usia. Setiap penambahan usia 10 tahun sejak usia 35 tahun, resiko stroke
meningkat dua kali lipat. Sekitar lima persen orang berusia di atas 65 tahun pernah
mengalami setidaknya satu kali stroke. 3

1
Stroke juga menjadi penyebab utama kematian pada orang dengan
kelompok usia 60 tahun ke atas dan merupakan 5 penyebab utama kematian di
antara orang-orang dari kelompok usia 15-59 tahun.4
Masalah yang paling sering dialami oleh pasien stroke dan yang paling
ditakuti adalah gangguan gerak. Pasien mengalami kesulitan saat berjalan karena
mengalami gangguan pada kekuatan otot, keseimbangan dan koordinasi gerak.
Stroke biasanya ditandai dengan kelumpuhan anggota gerak atas maupun bawah.
80% pasien stroke mempunyai deficit neuromotor sehingga memberikan gejala
kelumpuhan sebelah badan dengan tingkat kelemahan bervariasi dari yang lemah
hingga berat, kehilangan sensibilitas, kegagalan system koordinasi, perubahan
pola jalan, hingga terganggunya keseimbangan. Salah satu yang paling sering
terjadi adalah rusaknya pusat pergerakan otot di otak, sehingga bagian otot
menjadi lemah atau tidak mampu bergerak. Hal ini akan mempengaruhi
kemampuannya untuk melakukan aktifitas hidup sehari-hari.5
Kecacatan fisik yang diakibatkan oleh stroke akan mempengaruhi kondisi
emosional pasien. Pasien seringkali merasa tidak percaya diri, tidak berguna, tidak
dapat menerima kenyataan, mudah tersinggung, mudah bersedih, dan cepat
marah. Sehingga, hal ini akan berdampak pada kesehatan mental pasien yang
dapat memicu timbulnya penyakit dan gangguan mental.

2
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Stroke


Secara medis stroke adalah sindrome klinis yang awal timbulnya mendadak,
progresif cepat, berupa gangguan neurologis fokal dan atau global,yang
berlangsung 24 jam atau lebih yang dapat menimbulkan kematian, dan semata-
mata disebabkan gangguan peredaran darah otak non traumatik, kebanyakan (80
%) disebabkan oleh infark otak baik karena emboli, aterotrombotik atau lakuner
(oklusi arteri perforans kecil), pendarahan intraserebal (15 %), dan pendarahan
subarachnoid (5%), serta penyebab lain yang menimbulkan infark atau
pendarahan.6

2.2 Epidemiologi Stroke


Stroke memiliki tingkat mortalitas yang tinggi sebagai penyakit terbanyak
ketiga yang menyebabkan kematian di dunia setelah penyakit jantung dan kanker.
Persentase yang meninggal akibat kejadian stroke pertama kali adalah 18% hingga
37% dan 62% untuk kejadian stroke berulang. Data International Classification of
Disease yang diambil dari National Vital Statistics Reports Amerika Serikat untuk
tahun 2011 menunjukkan rata-rata kematian akibat stroke adalah 41,4% dari
100.000 penderita.Prevalensi stroke di Indonesia berdasarkan diagnosis tenaga
kesehatan sebesar 7 per seribu penduduk dan yang terdiagnosis tenaga kesehatan
atau gejala sebesar 12,1 per seribu penduduk.
Prevalensi Stroke berdasarkan diagnosis nakes tertinggi di Sulawesi Utara
(10,8 per seribu penduduk), diikuti DI Yogyakarta (10,3 per seribu penduduk),
Bangka Belitung dan DKI Jakarta (masing-masing 9,7 per seribu penduduk).
Prevalensi Stroke berdasarkan terdiagnosis nakes dan gejala tertinggi terdapat di
Sulawesi Selatan (17,9 per seribu penduduk), DI Yogyakarta (16,9 per seribu
penduduk), Sulawesi Tengah (16,6 per seribu penduduk), diikuti Jawa Timur

3
sebesar 16 per seribu penduduk. Kasus stroke di provinsi Jawa Tengah tahun 2013
sebesar 12,3 per seribu penduduk.
Data di banyak rumah sakit menunjukkan bahwa stroke merupakan penyakit
tidak menular yang menjadi penyebab utama kematian. Pada tahun 2030
diperkirakan 23,6 juta orang akan meninggal akibat penyakit jantung dan stroke.
Menurut RP2RS (Sistem Pencatatan dan Pelaporan Rumah Sakit), stroke termasuk
dalam 10 peringkat utama penyakit sistem sirkulasi darah di Indonesia. Dari dua
Rumah Sakit Pendidikan (RS umum dan RS Pelamonia) kasus stroke menempati
40% dari semua pasien rawat inap di UPF penyakit syaraf.

2.3 Klasifikasi Stroke


Stroke dapat dibagi dalam :7
a) Stroke iskemik
Stroke iskemik adalah tanda klinis disfungsi atau kerusakan jaringan otak
yang disebabkan kurangnya aliran darah ke otak sehingga mengganggu
kebutuhan darah dan oksigen di jaringan otak.

4
Stroke iskemik merupakan hasil dari iskemia fokal yang menyebabkan
infark serebral. Klasifikasi stroke iskemik antara lain :
1. Klasifikasi Stroke Iskemik Berdasarkan Penyebabnya
a. Stroke Trombosis
Stroke trombotik pembuluh darah besar dengan aliran
lambat biasanya terjadi saat tidur, saat pasien relatif
mengalami dehidrasi dan dinamika sirkulasi menurun. Stroke
ini sering berkaitan dengan lesi aterosklerotik yang
menyebabkan penyempitan atau stenosis di arteri karotis
interna atau, yang lebih jarang di pangkal arteri serebri media
atau di taut ateri vertebralis dan basilaris.
b. Stroke Embolik
Stroke embolik terjadi akibat embolus biasanya
menimbulkan defisit neurologik mendadak dengan efek
maksimum sejak awitan penyakit. Embolus berasal dari bahan
trombotik yang terbentuk di dinding rongga jantung atau katup
mitral. Karena biasanya adalah bekuan kecil, fragmen fragmen
dari jantung mencapai otak melalui arteri karotis atau
vertebralis. Dengan demikian, gejala klinis yang ditimbulkan
tergantung pada bagian sirkulasi yang tersumbat dan seberapa
dalam bekuan berjalan di percabangan arteri sebelum
tersangkut. Pasien dengan stroke kardioembolik memiliki risiko
yang lebih besar terkena stroke hemoragik, karena terjadi
perdarahan petekie atau bahkan perdarahan besar di jaringan
yang mengalami infark beberapa jam atau mungkin hari setelah
emboli pertama.

5
2. Klasifikasi Iskemik Serebral
Perjalanan klinis pasien dengan stroke infark akan sebanding
dengan tingkat penurunan aliran darah ke jaringan otak. Perjalanan
klinis ini akan dapat mengklasifikasikan iskemik serebral menjadi 4,
yaitu:
1. Transient ischemic Attack (TIA)
Adalah suatu gangguan akut dari fungsi fokal serebral yang
gejalanya berlangsung kurang dari 24 jam dan disebabkan oleh
thrombus atau emboli. TIA sebenarnya tidak termasuk ke
dalam kategori stroke karena durasinya yang kurang dari 24
jam.
2. Reversible Ischemic Neurological Deficit (RIND)
Seperti juga pada TIA gejala neurologis dari RIND juga akan
menghilang, hanya saja waktu berlangsung lebih lama, yaitu
lebih dari 24 jam, bahkan sampai 21 hari. Jika pada TIA dokter
jarang melihat sendiri peristiwanya, sehingga pada TIA
diagnosis ditegakkan hanya berdasar keterangan pasien saja,
maka pada RIND ini ada kemungkinan dokter dapat mengamati
atau menyaksikan sendiri. Biasanya RIND membaik dalam
waktu 24 - 48 jam. Sedangkan PRIND (Prolonged Reversible
Ischemic Neurological Deficit) akan membaik dalam beberapa
hari, maksimal 3 - 4 hari.
3. Stroke In Evolusion (Progressing stroke)
Pada bentuk ini gejala/ tanda neurologis fokal terus memburuk
setelah 48 jam. Kelainan atau defisit neurologik yang timbul
berlangsung secara bertahap dari yang bersifat ringan menjadi
lebih berat. Diagnosis progressing stroke ditegakkan mungkin
karena dokter dapat mengamati sendiri secara langsung atau

6
berdasarkan atas keterangan pasien bila peristiwa sudah
berlalu.
4. Complete Stroke Non-Haemmorhagic
Completed Stroke diartikan bahwa kelainan neurologis yang
ada sifatnya sudah menetap, tidak berkembang lagi. Kelainan
neurologi yang muncul bermacam-macam, tergantung pada
daerah otak mana yang mengalami infark.

b) Stroke hemoragik
Stroke hemoragik disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah otak, baik
subarachnoid maupun intracranial. Pada perdarahan intrakanial, pecah pembuluh
darah dapat disebabkan adanya Berry Aneurysma yang diakibatkan hipertensi
yang tidak terkontrol. Perdarahan subarchnoid disebabkan pecahnya aneurysma
kongenital pembuluh arteri otak pada ruang subarachnoid.

7
2.4 Faktor Resiko Stroke
Faktor resiko stroke adalah faktor yang memperbesar kemungkinan
seseorang untuk menderita stroke. Ada dua kelompok utama faktor risiko stroke.
Kelompok pertama ditentukan secara genetik atau berhubungan dengan fungsi
tubuh yang normal sehingga tidak dapat dimodifikasi. Yang termasuk kelompok ini
adalah usia, jenis kelamin, ras atau etnik tertentu, dan riwayat stroke dalam
keluarga. Kelompok yang kedua merupakan akibat dari gaya hidup seseorang dan
dapat dimodifikasi. Faktor risiko utama yang termasuk kelompok kedua adalah
hipertensi, diabetes mellitus, merokok, hiperlipidemia, stres dan intoksikasi
alkohol. 8

2.5 Patogenesis dan Patofisiologi Stroke


Otak membutuhkan banyak oksigen. Berat otak hanya 2,5% dari berat
badan seluruhnya, namun oksigen yang dibutuhkan hampir mencapai 20% dari
kebutuhan badan seluruhnya. Oksigen ini diperoleh dari darah. Di otak sendiri
hampir tidak ada cadangan oksigen. Dengan demikian otak sangat bergantung
kepada aliran darah setiap saat. Bila suplai oksigen terputus selama 8-10 detik,
maka terjadi gangguan fungsi otak. Bila lebih lama dari 6-8 menit, terjadi jejas (lesi)
yang tidak pulih lagi (irreversible) dan kemudian kematian. Beberapa daerah di
otak lebih peka terhadap iskemia (berkurang aliran darah). Daerah dengan
aktifitas metabolik lebih tinggi membutuhkan makanan yang lebih banyak untuk
mempertahankan integritas strukturalnya. Dengan demikian substantia
griseayang mempunyai aktifitas metaboliknya lebih tinggi lebih sensitive terhadap
iskemia. 1

8
2.5.1 Stroke Iskemik
Stroke iskemik terjadi akibat obstruksi atau bekuan disatu atau lebih arteri
besar pada sirkulasi serebrum. Obstruksi dapat disebabkan oleh bekuan
(thrombus) yang terbentuk didalam suatu pembuluh otak atau pembuluh organ
distal kemudian bekuan dapat terlepas pada thrombus vascular distal, atau
mungkin terbentuk didalam suatu organ seperti jantung, dan kemudian dibawa
melalui sistem arteri ke otak sebagai suatu embolus. Pangkal arteri karotis interna
(tempat arteria karotis komunis bercabang menjadi arteria karotis interna dan
eksterna) merupakan tempat tersering terbentuknya arteriosclerosis. Sumbatan
aliran di arteria karotis interna sering merupakan penyebab stroke pada orang
berusia lanjut, yang sering mengalami pembentukan plak arteriaoklerosis di
pembuluh darah sehingga terjadi penyempitan atau stenosis.
Pada stroke iskemik berkurangnya aliran darah ke otak menyebabkan
hipoksemia daerah regional otak dan menimbulkan reaksi-reaksi berantai yang
berakhir dengan kematian sel-sel otak dan unsur-unsur pendukungnya. Secara
umum daerah regional otak yang iskemik terdiri dari bagian inti (core) dengan
tingkat iskemia terberat dan berlokasi di sentral. Daerah ini akan menjadi nekrotik
dalam waktu singkat jika tidak ada reperfusi. Di luar daerah core iskemik terdapat
daerah penumbra iskemik. Sel-sel otak dan jaringan pendukungnya belum mati
akan tetapi sangat berkurang fungsi- fungsinya dan menyebabkan juga defisit
neurologik. Tingkat iskeminya makin ke perifer makin ringan. Daerah penumbra
iskemik, di luarnya dapat dikelilingi oleh suatu daerah hyperemic akibat adanya
aliran darah kolateral (luxury perfusion area). Daerah penumbra iskemik inilah
yang menjadi sasaran terapi stroke iskemik akut supaya dapat di reperfusi dan sel-
sel otak berfungsi kembali. Reversibilitas tergantung pada faktor waktu dan jika
tak terjadi reperfusi, daerah penumbra dapat berangsur-angsur mengalami
kematian.

9
2.5.2 Stroke Hemoragik
Stroke hemoragik terjadi akbat tekanan darah yang sangat tinggi dapat
mengakibatkan terjadinya gangguan peredaran darah otak. Perdarahan
intrakranial meliputi perdarahan di parenkim otak dan perdarahan subarachnoid.
Insidens perdarahan intrakranial kurang lebih 20 % adalah stroke hemoragik,
dimana masing-masing 10% adalah perdarahan subarachnoid dan perdarahan
intraserebral.
Perdarahan subarachnoid yaitu darah keluar dari dinding pembuluh darah
menuju ke permukaan otak dan tersebar dengan cepat melalui aliran cairan otak
ke dalam ruangan disekitar otak. Perdarahan sering kali berasal dari rupturnya
aneurisma di basal otak atau pada sirkulasi willisii. Perdarhan subarchnoid timbul
spontan.
Perdarahan intraserebral biasanya timbul karena pecahnya
mikroaneurisma (Berry aneurysm) akibat hipertensi maligna. Hal ini paling sering
terjadi di daerah subkortikal,serebelum, dan batang otak. Hipertensi kronik
menyebabkan pembuluh arteriola berdiameter 100 400 mikrometer mengalami
perubahan patologi pada dinding pembuluh darah tersebut berupa lipohialinosis,
nekrosis fibrinoid serta timbulnya aneurisma tipe Bouchard. Pada
kebanyakan pasien, peningkatan tekanan darah yang tiba-tiba menyebabkan
rupturnya penetrating arteri yang kecil. Keluarnya darah dari pembuluh darah
kecil membuat efek penekanan pada arteriole dan pembuluh kapiler yang
akhirnya membuat pembuluh ini pecah juga. Hal ini mengakibatkan volume
perdarahan semakin besar.
Elemen-elemen vasoaktif darah yang keluar serta kaskade iskemik akibat
menurunnya tekanan perfusi, menyebabkan neuron-neuron di dearah yang
terkena darah dan sekitarnya lebih tertekan lagi. Gejala neurologik timbul karena
ekstravasasi darah ke jaringan otak yang menyebabkan nekrosis.

10
2.6 Manifestasi Klinis Stroke
Untuk mengontrol banyak hal yang berlangsung di tubuh kita, keruskan otak
dapat mempengaruhi pergerakan, perasaan, perilaku, kemampuan
berbicara/berbahasa kemampuan berpikir seseorang. Stroke dapat
mengakibatkan gangguan beberapa bagian dari otak, sedangkan bagian otak
lainnya bekerja dengan normal. Pengaruh stroke terhadap seseorang tergantung
pada bagian otak yang terkena stroke, seberapa serius stroke yang terjadi, usia
kondusi kesehatan dan kepribadian penderitanya.
Komplikasi cacatan akibat stroke berdasarkan gangguan neurologi fokal otak
dapat berupa:
a. Gangguan motoris
Kelemahan atau kelumpuhan separuh anggota gerak, kekakuan pada
satu ekstremitas atau separuh tubuh, mulut, dan atau bibir mencong,lidah
mencong, pelo, melihat dobel (diplopi), kelopak mata sulit di buka, gerakan
tak terkendali (chorea/athetosis),kejang-kejang, tersedak, tidak keluar suara
(disfoni/afoni);
b. Gangguan sensoris
Gangguan perasaan (defisit sensoris), kesemutan (parestesi),
rasatebal-tebal (hipestesi), tidak bisa membedakan rabaan
(anestesi),pendengaran terganggu (tinnitus/deafness), penglihatan
terganggu(gangguan visus);

c. Gangguan bicara
Sulit berbahasa (disfasia), tidak bisa bicara (afasia motorik), tidak bisa
memahami bicara orang (afasia sensorik), tidak dapat mengerti apa yang dia
lihat (visual agnosia), tidak dapat menulis(agrafia), tidak dapat berhitung
(acalculia), pelupa (demensia).
d. Gangguan psikiatris

11
Mudah menangis (force crying), mudah tertawa (force laughing),
depresi, bingung, gangguan otonom, keringat, seksual, sindroma menggerutu.
e. Gangguan kognitif
Penderita mengalami kesulitan untuk mengorganisasikan informasi
secara efisien dan terarah, dan juga penderita mengalami kesulitan dalam
mengingat perintah yang diberikan kepadanya.

Manifestasi Klinis berdasarkan klasifikasinya :


1. Stroke Iskemik
- Kelumpuhan wajah dan anggota gerak
- Terjadi pada saat santai atau terjadi pada pagi hari
- Gangguan sensibilitas daerah yang lumpuh
- Adanya riwayat TIA sebelumnya
- Tidak biasanya ditemukan nyeri kepala, mual muntah, kejang dan
kesadaran yang menurun
- Tidak ditemui adanya tanda rangsangan meningeal.

2. Stroke Hemoragik

Gejala PIS PSA

Timbulnya Dalam 1 jam 1-2 menit

Nyeri Kepala Hebat Sangat hebat

Kesadaran Menurun Menurun sementara

Kejang Umum Sering fokal

Tanda rangsangan
+/- +++
meninggal

Hemiperase ++ +/-

12
Gangguan saraf otak + +++

Diperlukan pemeriksaan neurologis yang menyeluruh pada


penderita stroke. Pemeriksaan ini meliputi :
- Evaluasi status mental
- Saraf kranial
- Sensibilitas
- Refleks tendon dalam
- Refleks patologis ( Babinski, Chaddok, Hoffman, Tromner)
- Kekuatan dan tonus otot
- Koordinasi motoric
- Kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari (duduk, berpindah tempat,
dan ambulasi)
- Pemeriksaan lingkup gerak sendi

2.7 Stadium Stroke


Stadium stroke terbagi atas 3 fase, yaitu:9
1) Fase Akut (Setelah stroke 2 minggu)
- Lumpuh separuh badan, terutama lengan dan tungkai sering disertai
mulut merot sesisi atau bersebelahan dengan tubuhyang lumpuh
- Ketegangan tonus otot yang lumpuh menurun atau hilang
- Gangguan aktifitas keseharian dalam hal makan, minum, kamarmandi,
berpakaian, dsb
- Gangguan mental dan intelegensi
2) Fase Perbaikan atau Sub Akut (minggu ke 2-6 bulan)
- Keadaan kurang lebih tersebut diatas kecuali tonus otot berangsur-
angsur pulih atau mulai muncul
- Keseimbangan angkat pantat, duduk berdiri dan berjalan berangsur-
angsur muncul, aktifitas mulai muncul perlahan

13
- Pelan-pelan mulai dapat berbicara dan mengerti apa yang diungkapkan
orang lain, emosi labil dan pelupa
3) Fase Kronik (setelah 6 bulan ke atas)
- Tonus otot sangat tinggi dikenal dengan spastic
- Keseimbangan angkat pantat, duduk berdiri, dan bergerak mengalami
kemajuan
- Aktifitas komunikasi sedikit mengalami kemajuan, tetapi tetap
mengalami gangguan bicara (disfasia)
- Kontraktur otot, kaku sendi, dan nyeri bahu sehingga dapat
menghambat aktifitas keseharian, dan emosi menjadi labil.
-
2.8 Penatalaksanaan Stroke
Tujuan penatalaksanaan stroke adalah mengoptimalkan fungsi dengan
memodifikasi sehingga penderita pasca stroke mampu beradaptasi, mandiri
dengan kualitas hidup yang sesuai.10
Rehabilitasi
Rehabilitasi merupakan pemulihan ke bentuk atau fungsi yang normal
setelah terjadi luka atau sakit, atau pemulihan pasien yang sakit atau cedera pada
tingkat fungsional optimal di rumah dan masyarakat, dalam hubungan dengan
aktivitas fisik, psikososial, kerja dan rekreasi
Tujuan rehabilitasi menurut WHO adalah :
1. Memperbaiki fungsi motorik, wicara, kognitif dan fungsi lain yang
terganggu.
2. Readaptasi sosial dan mental untuk memulihkan hubungan
interpersonal dan aktivitas social.
3. Dapat melaksanakan aktivitas kehidupan sehari-hari.

14
Masa rehabilitasi pada pasien stroke berdasarkan serangannya 11
1. Fase akut
Pada fase akut tujuan dari rehabilitasi yaitu mencegah komplikasi dari
stroke dan mencegah tirah baring atau imobiliasai yang lama
2. Fase subakut
Pada fase subakut tujuan rehabilitasi yaitu mengoptimalkan pemulihan
neurologis dan reorganisasi saraf, penatalaksanaan disabilitas dengan
tetap memperhatikan pemulihan impairment melalui pendekatan atau
metode terapi yang sesuai dan meminimalkan serta mengatasi
komplikasi.
3. Fase kronis
Pada fase kronis tujuan terapi rehabilitasinya yaitu : mengoptimalkan
kemampuan fungsional, mempertahankan kemampua fungsional yang
telah dicapai, mencegah komplikasi dan mengoptimalkan kualitas
hidup.

a) Mobilisasi :
Tujuan dari mobilisasi adalah :

Mempertahankan range of motion.


Memperbaiki fungsi pernafasan dan sirkulasi.
Menggerakkan seseorang secara dini pada fungsi aktifitas meliputi gerakan
di tempat tidur, duduk, berdiri dan berjalan.
Mencegah masalah komplikasi.
Meningkatkan kesadaran diri dari bagian hemiplegi
Meningkatkan kontrol dan keseimbangan duduk dan berdiri.
Memaksimalkan aktivitas perawatan diri

Pelaksanaan mobilisasi dini posisi tidur. 12

15
Berbaring terlentang:
Posisi kepala, leher, dan punggung harus lurus. Letakkan bantal
dibawah lengan yang lumpuh secara hati-hati, sehingga bahu
terangkat ke atas dengan lengan agak ditinggikan dan memutar ke
arah luar, siku dan pergelangan tangan agak ditinggikan. Letakkan
pula bantal dibawah paha yang lumpuh dengan posisi agak
memutar kearah dalam, lutut agak ditekuk.

Miring ke sisi yang sehat:


Bahu yang lumpuh harus menghadap ke depan, lengan yang
lumpuh memeluk bantal dengan siku di luruskan. Kaki yang lumpuh
diletakkan di depan, di bawah paha dan tungkai diganjal bantal,
lutut ditekuk.

Miring ke sisi yang lumpuh:


Lengan yang lumpuh menghadap ke depan, pastikan bahwa bahu
penderita tidak memutar secara berlebihan. Tungkai agak ditekuk,
tungkai yang sehat menyilang di atas tungkai yang lumpuh dengan
diganjal bantal.

b) Latihan (exercise)
Latihan aktif dan pasif / ROM adalah merupakan suatu kebutuhan
manusia untuk melakukan pergerakan dimana pergerakan tersebut dilakukan
secara bebas. latihan aktif dan pasif / ROM dapat dilakukan kapan saja dimana
keadaan fisik tidak aktif dan disesuaikan dengan keadaan pasien. Range of
Motion (ROM) adalah suatu teknik dasar yang digunakan untuk menilai gerakan
dan untuk gerakan awal ke dalam suatu program intervensi terapeutik.

Tujuan dilakukan latihan

16
1. Untuk memelihara fungsi dan mencegah kemunduran.
2. Untuk memelihara dan meningkatkan pergerakan dari persendian.
3. Untuk merangsang sirkulasi darah.
4. Untuk mencegah kelainan bentuk.
5. Untuk memelihara dan meningkatkan kekuatan otot.

Langkah-langkah Latihan Aktif dan Pasif /ROM.


1. Latihan pasif anggota gerak atas

a. Gerakkan menekuk dan meluruskan sendi bahu :

- Tangan satu penolong memegang siku, tangan lainnya


memegang lengan.
- Luruskan siku, naikkan dan turunkan lengan dengan siku tetap
lurus.
b. Gerakkan menekuk dan meluruskan siku :
- Pegangan lengan atas dengan lengan satu, tangan lainnya
menekuk dan meluruskan siku
c. Gerakkan memutar pergelangan tangan :
- Pegangan lengan bawah dengan lengan satu, tangan lainnya
menggenggam telapak tangan pasien.
- Putar pergelangan tangan pasien ke arah luar (terlentang) dan
ke arah dalam (telungkup).
d. Gerakkan menekuk dan meluruskan pergelangan tangan :
- Pegang lengan bawah dengan lengan satu, tangan lainnya
memegang pergelangan tangan pasien.
- Tekuk pergelangan tangan keatas dan kebawah.
e. Gerakkan memutar ibu jari :
- Pegang telapak tangan dan keempat jari dengan tangan satu,
tangan lainnya memutar ibu jari tangan.
f. Gerakkan menekuk dan meluruskan jari-jari tangan :

17
- Pegang pergelangan tangan dengan tangan satu, tangan lainnya
menekuk dan meluruskan jari-jari tangan
2. Latihan pasif anggota gerak bawah.
a. Gerakkan menekuk dan meluruskan pangkal paha :
- Pegang lutut dengan tangan satu, tangan lainnya memegang
tungkai.
- Naikkan dan turunkan kaki dengan lutut tetap lurus.
b. Gerakkan menekuk dan meluruskan lutut :
- Pegang lutut dengan tangan satu, tangan lainnya memegang
tungkai.
- Tekuk dan luruskan lutut.
c. Gerakkan untuk pangkal paha :
- Gerakkan kaki pasien menjauh dan mendekati badan (kaki
satunya)
d. Latihan Gerakkan memutar pergelangan kaki :
- Pegang tungkai dengan tangan satu, tangan lainnya memutar
pergelangan kaki.

3. Latihan aktif anggota gerak atas dan bawah


a. Latihan 1
- Angkat tangan yang lumpuh menggunakan tangan yang
sehat keatas.
- Letakkan kedua tangan diatas kedua kepala
- Kembalikan tangan ke posisi semula

b. Latihan 2
- Angkat tangan yang lumpuh melewati dada kearah tangan
yang sehat.
- Kembali ke posisi semula

18
c. Latihan 3
- Angkat tangan yang lemah menggunakan tangan yang
sehat keatas
- Kembali seperti semula
d. Latihan 4
- Tekuk siku yang lumpuh menggunakan tangan yang sehat
- Luruskan siku, kemudian angkat keatas
- Letakkan kembali tangan yang lumpuh ditempat tidur
e. Latihan 5
- Pegang pergelangan tangan yang lumpuh menggunakan
tangan yang sehat, angkat keatas dada
- Putar pergelangan tangan kearah dalam dan kearah luar

c) Disfagia
Penanganan disfagia meliputi penggunaan selang nasogastric, modifikasi diet
(misalnya cairan kental, makanan dihaluskan), dan terapi menelan (misalnya
penggunaan tehnik kompensasi seperti mengangkat dagu saat menelan).13
d) Komunikasi
Terapi wicara yang mendalam merupakan program rehabilitasi afasia utama.
Beberapa pasien dapat terbantu dengan penggunaan bantuan komunikasi
seperti papan bergambar. Terapi wicara juga dapat membantu pasein dengan
alat bantu komunikasi berbasis komputer.13
e) Kognitif
Stroke seringkali mempengaruhi kemampuan kognitif pasien. Perubahan
dalam memori, perhatian, insight, dan penyelesaian masalah sering ditemukan
pada pasien dengan stroke. Uji neurologis dapat beguna untuk mencari
penyebab dari faktor deficit ini dan membantu menyusun rencana terapi.

19
Terapi wicara dan terapi okupasi meliputi usaha perbaikan dan mengajarkan
tehnik kompensasi.

f) Bracing
Pemakaian bracing pada ekstermitas bahwa seringkali membantu dalam
restorasi mobilitas pada stroke hemiparetik. Umumnya menggunakan ortosi
ankle-foot. Bracing dapat membantu sebagai kompensasi pada gangguan
dorsoflekis pergelangan kaki, mengontrol pergerakan kaki, spastisitas dan
stabilisasi sendi lutu.
g) Bantuan Ambulasi dan Kursi Roda
Karena hiperasis, banyak penderita stroke membutuhkan bsntusn ambulansi,
seperti tongkat, tongkat kaki empat, hemi-walker, atau pada beberapa kasus
dapat menggunakan walker konvensional. Kursi roda sering dibutuhkan untunk
penderita stroke yang cacat berat, atau untuk perjalanan jauh pada penderita
stroke yang cacat sedang. hemiwheelchair lebih rendah dan memungkinkan
penderita mengunakan kakinya yang tidak lumpuh untuk memberikan tenaga
dorongan. Kadang-kdang, one-sode arm wheelchair juga berguna karena dapat
mengontrol kedua rodanya hanya dari satu sisi. Penderita stroke non-ambulasi
yang aktif mungkin diuntungkan dengan adanya kursi roda
h) Rehabilitasi mental, social, dan pekerjaan
Meskipun stroke merupakan penyakit yang banyak terjadi pada usia tua,
penderita stroke pada usia produktif juga signifikan. Setelah penderita terampil
melakukan pekerjaan berguna untuk membantu penderita yang ingin kembali
bekerja. Koordinasi dengan tim rehabilitasi penting karena latihan ulang pada
pekerjaan-pekerjaan tertentu mungkin melibatkan tenaga multidisiplin.

20
2.9 Komplikasi
Selama perawatan dapat terjadi komplikasi. Seluruh komplikasi ini harus
mendapatkan perhatian dari awal sehingga dapat diatasi dan diantisipasi sehingga
tidak menjadi fatal. Komplikasi yang terjadi bia dari beberapa organ atau aspek.
- Komplikasi neurologic
Edema otak, kejang, tekanan tinggi intracranial, infark berdarah, stroke
iskemik berulang, delirium akut, dan depresi
- Komplikasi paru-paru
Obstruksi jalan nafas, hipoventilasi, aspirasi, pneumonia.
- Komplikasi kardiovaskular
Miokard infark, aritmia, dekompensasio kordis, hipertensi, DVT, emboli
paru
- Komplikasi nutrisi/GIT
Ulkus, perdarahan lambung, konstipasi, dehidrasi, gangguan elektrolit,
malnutrisi, hiperglikemia
- Komplikasi traktus urinarius
Inkontinensia, infeksi.
- Komplikasi ortopedi-kulit
Decubitus, kontraktur, nyeri sendi bahu, jatuh-fraktur

2.10 Prognosis
Lama perawatan
a. Seumur hidup
b. Bergantung berat kecacatan dan komplikasi
Masa pemulihan biasanya 6 bulan bergantung penyuit atau komplikasi.
Prognosis fungsional dari stroke hemoragik setelah berhasil melewati
stadium akut lebih baik dibandingkan stroke non-hemoragik.
Bergantung luas dan lokasi lesi, target yang ingin dicapai adalah :
a. Sembuh total, aktif bekerja

21
b. Sembuh parsial, aktif bekerja
c. Sembuh parsial, mampu menolong diri
d. Sembuh parsial, menolong diri dengan bantuan

22
BAB 3
KESIMPULAN

Stroke merupakan penyebab kematian ketiga di dunia yang juga


merupakan penyebab timbulnya kecacatan pada usia produktif maupun usia
lanjut. Pada pasien pasca stroke, angka kecacatan umumnya lebih tinggi
dibandingkan dengan angka kematiannya, dengan perbandiangan anatara
yang cacat dan yang mati adalah empat berbanding satu. Kecacatan yang
disebabkan oleh stroke umumnya kecacatan fisik dan mental.
Penatalakansaan yang tepat dan komperhensif sangat diperlukan
dalam menangani kasus stroke. Rehabilitasi merupakan program yang disusun
untuk memberi kemampuan kepada penderita yang mengalami disabilitas fisik
dana tau penyakit kronis agar mereka dapat hidup atau bekerja sepenuhnya
sesuai dengan kapasitas.
Tujuan utama rehabilitasi pasca stroke adalah mengembalikan status
fungsional pasien agar bisa mandiri sesuai kemampuan yang masih ada. Pasien
diharapkan mampu melakukan kembali aktivitas sehari-hari seperti perawatan
diri sendiri, kegiatan rumah tangga dan aktifitas sosialnya secara mandiri atau
dengan bantuan minimal dengan menggunakan kemampuan diri yang masih
ada.

23
DAFTAR PUSTAKA
1. Lumbantobing S. Stroke Bencana Peredaran Darah Di Otak. Jakarta:
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 1994.
2. Bahrudin M. Model Diagnostik Stroke Berdasarkan Gejala Klinis. Malang:
Staf Pengajar pada Fakultas Kedokteran; 2009.
3. Yastroki. No. In: ; 2011. http://www.yastroki.or.id/read.php?id=340.
4. Qamar Z. Depression Among Stroke Patients and Relation with
Demographic and Stroke Characteristics. Ume Int Sch Public Heal. 2011.
5. RI D. Riset Kesehatan Dasar. In: Jakarta: Badan Penelitian dan
Pengembangan Kesehatan Kementrian Kesehatan RI; 2013.
6. Center BS. Peran Akupunktur Pada Stroke. 2010.
7. Sidharta P. Neurologi Klinis Dalam Praktek Umum. Jakarta: PT. Dian
Rakyat; 1994.
8. Purnomo H. Pencegahan Dan Pengobatan Penyakit Yang Paling
Mematikan. Yogyakarta: Buana Pustaka; 2009.
9. Bahri TW. Peningkatan Kekuatan Otot Pada Pasien Pasca Stroke Yang
Mendapatkan Pelayanan Fisioterapi. Makassar: Fakultas Kedokteran
Universitas Hasanuddin; 2014.
10. Mulyatsih E, Airiza A. Stroke Petunjuk Pasien Perawatan Pasien Pasca
Stroke Di Rumah. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia;
2008.
11. Stroke. Assoc Heart and stroke. 2003.
12. Purwanti OS, Maliya A. Rehabilitasi Klien Pasca Stroke. Ber Ilmu
Keperawatan ISSN. 2008;1:43-46.
13. Bradstater M. Important Practical Issue in Rehabilitation of The Stroke
Patient. Stroke Rehabil Williams Wilkins. 1987:90-101.

24