Anda di halaman 1dari 6

Takao et Al

Hasil
Karakteristik dasar di dalam studi ini terangkum dalam
Tabel 1. Rata-rata umur dari 68 pasien 67.5 8.0 tahun
(dengan batasan 48-92th). Total angka IPSS 19.38 + 7.46.
Secara berurutan angja gejala voiding, gejala storage dan
gejala post miksi adalah 8.93 + 3.95, 7.97 + 3.88, dan 2.49 +
1.7. QOL Index 4.68 + 1.07. Jumlah pasien dengan IPSS berat
(QOL index 5,6) dan IPSS sedang (QOL index 2-4)
beradasarkan QOL adalah 39 dan 29. Rerata volume prostat
yang dihitung adalah 32.6 + 17.8. Total ukuran volume
prostat level ringan (kurang dari 20ml) , level sedang
(kurang dari 50 ml) dan level berat (lebih atau sama dengan
50 ml) secara berurutan adalah 15, 40 dan 8, dari total 63
kasus.

Terjadi perbaikan pada angka Total IPSS dari 19.38 + 7.46


saat awal, menjadi 15.81 + 7.40 di hari pertama (Figure 1).
Perbaikan gejala sangat cepat dan bertahan selama masa
studi. QOL index juga membaik dari 4.68 + 1.07 saat awal,
menjadi 4.22 + 1.30 pada hari pertama (Figure 1). Perbaikan
ini terus berlanjut selama masa studi.

Angka untuk gejala voiding, storage dan post miksi juga


menurun dengan signifikan, secara berurutan dari 8.93 +
3.95, 7.97 + 3.88 dan 2.49 + 1.70 pada awal studi, menjadi
7.28 + 4.09, 6.52 + 3.47 dan 2.02 + 1.56 pada hari pertama
(figure 2). Perbaikan ini berlanjut selama masa studi.
Dengan menyampingkan keparahan dari toatal IPSS dan
QOL Index, angka Total IPSS secara signifikan menurun pada
hari pertama dan tetap menurun selama masa studi.

Saat kami mengevaluasi efikasi dari silodosin pada hari ke


28, ditemukan sebanyak 42 pasien dari 68 pasien (61.8%)
adalah yang berespon baik terhadap silodosin dan 26 pasien
(38.2%) adalah mereka yang berespon kurang baik
terhadap silodosin (Figure 5).
Pada hari ke-3 studi, sebanyak 31 pasien (45.6%) dari 68
pasien berespon baik terhadap silodosin, sementara 37
pasien (54.4%) mempunya respon yang buruk. Dari 31
pasien yang berespon baik pada hari ke-3 studi ini, sebanyak
25 pasien (80.6%) terus menunjukan respon yang konsisten
sampai hari ke-28.
Dari 37 pasien yang berespon buruk, 20 pasien ( 54.1%)
terus menunjukan respon yang buruk sampai hari ke-28.
Maka dari itu angka Positive Predictive Value (PPV) pada
hari ke-3 sebesar 80.6% dan angka Negative Predictive
Value (NPV) pada hari ke-3 sebesar 54.1%.

Pada hari ke-7, sebanyak 42 pasien (61.8%) berespon baik


terhadap silodosin, dan 26 pasien (38.2%) berespon kurang
baik. Diantara 42 pasien yang berespon baik pada hari ke-7
ini, 33 pasien (78.6%) terus menunjukan respon yang baik
sampai hari ke-28. Diantara 26 pasien yang berespon buruk
pada hari ke-7, 17 pasien (65.4%) terus menunjukan respon
yang buruk sampai hari ke-28. Maka dari itu PPV pada hari
ke-7 sebesar 78.6% dan NPV sebesar 65.4%. Dalam studi ini
walaupun sebanyak 42 pasien yang berespon baik dan 26
yang berespon buruk pada hari ke-7 dan ke-28, kami tidak
dapat memprediksi bagaimana respon individu pada
penanganan selanjutya diluar masa studi.

Terjadi adverse event pada 6 pasien. Diantaranya adalah 2


pasien mengalami abnormal ejakulasi, 2 pasien mengalami
diare, 1 pasien mengalami tinnitus dan 1 pasien mengalami
sakit kepala ringan. Semua kejadian ini menghilang setelah
pemberian Silodosin dihentikan.
Diskusi
Tujuan dari studi ini adalah untuk mengevaluasi efek awal
silodosin sebagai penanganan pasien dengan kasus
BPH/LUTS. Hasil yang kami dapatkan adalah selektif alpha
AR bloker, Silodosin, memberikan perbaikan gejala
BPH/LUTS dan QOL dalam waktu singkat. Selebihnya,
selektif AR bloker tidak hanya memperbaiki gejala voiding
dan storage saja, melainkan juga memperbaiki gejala post
miksi.

Pasien yang menderita gejala BPH/LUTS bisa mendapatkan


perbaikan gejala dengan cepat. Seperti pada penelitian
sebelumnya tentang selective AR bloker Tamsulosin, dimana
pada penelitian tersebut didapatkan bahwa Tamsulosin
dengan signifikan memperbaiki American Urological
Association Scores setelah 4 hari pemberian dan QOL index
setelah 1 minggu pemberian. Dalam pemeriksaan secara
objektif dengan Uroflowmetri, Tamsulosin menunjukan
onset kerja yang cepat (4-8jam) berdasarkan angka Qmax
setelah pemberian pertama. Obat yang bekerja dengan cepat
dan memberikan efek yang cepat, dapat meningkatkan
kepatuhan pasien dalam mengkonsumsi obat tersebut. Di
dalam fase III studi dari Silodosin, gejala subjektif
berdasarkan angka IPSS, membaik dalam 1 minggu. Hasil
dari studi kami menunjukan bahwa Silodosin dapat
memperbaiki angka IPSS dan QOL index 1 hari setelah
minum obat pertama. Namun sayangnya, kami tidak dapat
melakukan pengukuran objektif dengan uroflowmetri,
karena studi ini dilakukan di luar klinik dalam aktivitas
nyata pasien dimana sangat sulit untuk melakukan
pemeriksaan uroflowmetri. Fase ke III studi menunjukan
bahwa Qmax dan Qaverage membaik setelah 1 bulan
pemberian Silodosin.

Terdapat beberapa keuntungan tambahan selain


memperbaiki QOL pasien. Sebagai contoh, salah satu Alpha 1
AR Bloker, tamsulosin. Tamsulosin digunakan untuk
penanganan pasien yang dipasang kateter pada kasus
Retensi Urin Akut, karena Alpha 1 AR bloker dapat
mengurangi bladder outlet resistance melalui efeknya pada
tonus simpatis dari bladder neck dan prostatic stroma.
Tamsulosin dengan signifikan mengurangi risiko kesulitan
berkemih yang terjadi akibat pemeriksaan Trans Rectal USG
(TRUS) guided prostat biopsy. Kami mengharapkan efek
yang sama pada pasien dengan gangguan berkemih yang
mendapatkan penanganan dengan silodosin.

Ada beberapa subtype dari Alpha 1 AR, diantaranya Aplha


1a, Alpha 1b dan Alpha 1d. Dimana Alpha 1a merupakan
reseptor dominan di urethra dan alpha 1d dilaporkan
banyak terdapat di detrusor dan medulla spinalis. Pada
peneltian terbaru, menunjukan bahwa alpha 1a dan alpha 1d
banyak ditemukan dominan di dalam prostat, namun
jumlahnya berbeda di setiap individu. Walaupun efek
silodosin dalam mengurangi gejala gangguan berkemih
sudah dimengerti ( menghambat tonus simpatis saraf di
prostat dan uretra melalui alpha 1a AR) namun, mekanisme
silodosin dalam menangani gangguan storage dan post miksi
masih belum dapat dijelaskan dengan sempurna.
Tamsulosin dan naftopidil, alpha 1a/d AR bloker, sangatlah
efisien untuk kedua gangguan baik voiding dan storage. Di
dalam perbandingan dengan hasil studi lain, dikatakan
bahwa tamsulosin lebih efektif daripada naftopidil dalam
menangani gejala intermitensi, nocturia dan angka QOL.
Studi lain menunjukan bahwa kedua obat ini tidak
memberikan perbedaan bermakna dalam menangani gejala
voiding, total IPSS dan angka QOL, namun, naftopidil lebih
unggul dalam perbaikan dari gejala storage. Jumlah receptor
dari Alpha 1 adrenoceptor subtype mRNA di dalam prostat
kemungkinan menjadi predictor dari efikasi alpha 1
adrenoceptor antagonis pada pasien dengan BPH. Dimana
alpha 1d AR lebih dominan di detrusor, khususnya pada
kasus blader outlet obstruction, alpha 1d AR mungkin
berhubungan dengan perbaikan gejala storage daei pasien
dengan LUTS. Selebihnya, percobaan pada binatang
menunjukan bahwa pemberian tamsulosin dan naftopidil
secara intratekal, secara sementara menghilangkan
kontraksi isovolumetrik dari buli tikus. Amplitudo kontaksi
dari buli tikus sangat menurun setelah diberikan injeksi
intratekal naftopidil, namun tidak menurun pada pemberian
injeksi tamsulosin. Cara kerja alpha 1d pada medulla spinalis
ini yang mungkin berhubungan dengan perbaikan gejala
pada gangguan storage pada pasien LUTS. Walaupun
silodosin merupakan highly selective drug untuk alpha 1a,
ternyata juga memiliki afinitas/kerja pada alpha 1d. maka
dari itu, penghambatan oleh alpha 1d AR akan menyebabkan
perbaikan pada gejala storage pada pasien BPH/LUTS.
Namun demikian, Nomiya et al, melaporkan bahwa alpha 1d
AR nampaknya tidak bertanggung jawab pada overavtivitas
detrusor dan gejala storage pada pasien BPH/LUTS dimana
jumlah receptor alpha 1a dan alpha 1d mRNA pada
obstruksi buli di manusia sangatlah rendah. Menariknya,
Tatemichi et al menunjukan bahwa cystometri pada terapi
hormone kasus BPH pada tikus menunjukan bahwa
overaktivitas detrusor hanyalah ditemukan pada tikus laki-
laki, bukan tikus wanita dan silodosin menurunkan
overaktivitas detrusor. Mereka menyarankan bahwa
detrusor overaktivitas yang bertanggung jawab terhadapt
meningkatnya tekanan uretra dan peningkatan tersebut
yang dimediasi oleh alpha 1a, juga terjadi pada prostat yang
membesar (hypertrophied). Di saat yang bersamaan, masih
diperlukan investigasi, penelitian dan penjelasan yang
mendalam dari peran alpha 1a dan alpha 1d pada detrusor
overactivity dan gangguan storage pasien dengan
BPH/LUTS.

Kepentingan klinis yang utama adalah bagaimana efek


silodosin dapat diprediksi untuk menangani gejala
BPH/LUTS pada tahap awal penyakit setelah minum obat.
Ketika kami melakukan evaluasi efek dari silodosin pada
hari ke-3, sebanyak 31 pasien dari 68 pasien (45.6%)
berespon baik. Dan 37 pasien (54.4%) berespon buruk. PPV
pada hari ke-3 dan pada hari ke-7 sebesar 80.6% dan 78.6%.
Sebanyak 80% dari yang berespon baik pada hari ke3 dan
ke-7, juga memberikan respon yang baik sampai hari ke-28.
NPV pada hari ke-3 dan ke-7 sebesar 54.1% dan 65.4%. hal
ini mengindikasikan bahwa sekalipun terdapat pasien yang
berespon buruk pada pemberian sildosin, tetap pada
akhirnya beberapa pasien yang berespon buruk pada awal
studi akan terjadi perbaikan gejala di hari ke-28. Dari fase ke
III studi, angka total IPSS menurun secara bertahap hingga
52 minggu. Mereka yang berespon baik pada fase awal
cenderung menunjukan perbaikan gejala, tetapi mereka
yang berespon buruk, tidak dapat dipastikan.

Ada beberapa keterbatasan dalam studi ini. Dimana studi ini


bukanlah plasebo controlled randomized study yang
menyebabkan efek placebo tidak dapat disingkirkan. Kami
tidak melakukan pemeriksaan frekuensi/volume chart atau
urodimanic. Sangatlah sulit untuk menyatakan hubungan
dari parameter yang subjektif seoerti IPSS dan angka QOL
dengan parameter objektif seperti uroflowmetri atau
pressure flow study. Penelitian lebih lanjut sangatlah
disarankan.

Kesimpulannya, berdasarkan hasil studi, kami menyarankan


bahwa sildosin dapat mengurangi gejala BPH?LUTS dalam
waktu yang singkat. Silodosin dapat dipertimbangkan
sebagai terapi yang menjanjikan untuk perbaikan yang cepat
pada pasien dengan BPH?LUTS.