Anda di halaman 1dari 28

Demam Berdarah Dengue dan Penanganannya

Kelompok E9

Dwita Permatasari (102008214)

Ray Sirvel (102012030)

Ega Destyarini Andari (102012085)

Novita Sari (102012193)

Yahya Iryianto Butarbutar (102012270)

Gladys Dharmawan (102012301)

Ifon Supandi (102012381)

Mohamad Soleh (102012442)

Noor Syuhaila Binti Mazlan (102012482)

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA

2013
PEMBAHASAN KASUS

Skenario

Seorang laki laki 18 tahun datang dengan keluhan demam sejak 3 hari uang
lalu. Demam timbul tiba-tiba, dirasa cukup tinggi namun tidak diukur. Deman
turun sebentar setelah pasien minum obat penurun panas lalu naik lagi. Pasien
juga merasa pegal-pegal otot, psuing dan mual.

Pf : S= 39, RR=18, nadi=98kali/menit, TD= 120/80mmHg, torniquet tes


didapatkan 12 petechiae, nyeri tekan epigastrium

Rumusan Masalah
Laki-laki 18 tahun mengalami demam naik turun sejak 3 hari disertai pegal
otot, mual, dan pusing
Pada PF: Suhu 39oC dan nyeri tekan epigastrium (+)
Tourniquet test ditemukan 12 petechiae

Analisis Masalah

Gejala Klinik
Laki-laki 18 tahun
Anamnesis
mengalami demam naik
turun sejak 3 hari Pemeriksan Fisik & DD
disertai pegal otot, Penunjang (Diferensial
mual, dan pusing Diagnosis)
Diagnosis
Pada PF: Suhu 39oC WD (Working
dan nyeri tekan Etiologi
Diagnosis)
epigastrium (+) Patogenesis
Tourniquet test
ditemukan 12 Epidemiologi
petechiae Prognosis
Edukasi

2
Hipotesis

Laki-laki 18 tahun dengan demam tinggi tidak teratur, pegal-pegal otot, pusing, dan
mual diduga menderita DBD.

Sasaran Pembelajaran

1. Mengetahui, memahami dan mengaplikasikan tentang cara melakukan


anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang yang benar
2. Mendiagnosis penyakit yang mendekati ciri-ciri dari kasus yang didapatkan
(DD/ Diferensial Diagnosis)
3. Memilih salah satu penyakit dari daftar diferensial diagnosis yang paling
tepat(WD/ Working Diagnosis), dan dijadikan sebagai acuan untuk
memberikan tindakan selanjutnya
4. Memahami tentang komplikasi yang dapat ditimbulkan dari suatu working
diagnosis
5. Mengetahui terapi yang tepat untuk penyakit tersebut.
6. Menentukan prognosis penyakit tersebut.
7. Melakukan edukasi dengan penyampaian yang baik dan benar, jika
diperlukan.

3
PENDAHULUAN

Demam Berdarah Dengue merupakan sebuah penyakit yang diakibatkan oleh hospes
nyamuk aedes aegypti. Penyakit ini umumnya terjadi di daerah tropis dimana pada
lingkungan ini hospes umumnya tumbuh dan berkembang biak. Penyakit ini dapat
menyerang setiap orang tanpa mengenal batas usia dan dapat terjangkit kembali pada
orang yang sebelumnya telah menderita penyakit ini.1

Berdasarkan hal tersebut, maka penulis ingin memaparkan tentang apa itu demam
berdarah dengue baik gejala maupun pemeriksaan yang mendukung, vektor dan siklus
penyakit ini, serta bagaimana cara penanganan demam berdarah dengue serta
pencegahannya.2

PEMBAHASAN

Diagnosis

Differential Diagnosis

Chikungunya

Chikungunya merupakan penyakit yang ditransmisikan dari satu orang ke orang


lainnya oleh vektor nyamuk A. aegypti betina. Penyakit ini ditandai dengan adanya
arthtritis terutama pada sendi-sendi di ekstremitas seperti pada pergelangan-
pergelangan kaki dan tangan serta jari-jari. Gejala lainnya yaitu demam tinggi, pusing,
rasa mual, muntah-muntah, terdapat maculopapular (bintik merah yang berisi cairan),
ruam, nyeri otot, menggigil, dan lymphadenopati.3 Pada penderita chikungunya,
jumlah trombosit biasanya normal.

Demam Tifoid

Demam Enterik (Tifoid) adalah penyakit sistemik yang ditandai dengan demam dan
nyeri pada abdomen yang disebabkan oleh penyebaran Salmonella typhi atau
Salmonella paratyphi. Pada awalnya penyakit ini disebut demam tifoid karena
memiliki gejala klinis yang sama dengan typhus.

4
Pada anak, periode inkubasi demam tifoid antara 5-40 hari dengan rata-rata 10 14
hari. Gejala klinis demam tifoid sangat bervariasi, dari gejala klinis ringan dan tidak
memerlukan perawatan khusus sampai dengan berat sehingga harus dirawat. Variasi
gejala ini disebabkan faktor galur Salmonella, status nutrisi, imunologi dan lama sakit
di rumahnya.

Semua pasien demam tifoid selalu menderita demam pada awal penyakit. Pada era
pemakaian antibiotik belum seperti saat ini, penampilan demam pada kasus demam
tifoid mempunyai istilah khusus yaitu step ladder temperature chart yang ditandai
dengan demam timbul insidius, kemudian naik secara bertahap tiap harinya dan
mencapai titik tertinggi pada akhir minggu pertama, setelah itu demam akan bertahan
tinggi dan pada minggu ke-empat demam turun perlahan secara lisis, kecuali apabila
terjadi fokus infeksi seperti kolesistitis, abses jaringan lunak maka demam akan
menetap. Banyak orang tua pasien demam tifoid melaporkan bahwa demam lebih
tinggi saat sore dan malam hari dibandingkan denga pagi harinya. Pada saat demam
sudah tinggi, pada kasus demam tifoid dapat disertai gejala sistem saraf pusat; seperti
kesadaran berkabut atau delirium atau obtundasi, atau penurunan kesadaran mulai
apati sampai koma.

Gejala sistemik lain yang menyertai timbulnya demam adalah nyeri kepala, malaise,
anoreksia, nausea, mialgia, nyeri perut, dan radang tenggorokan. Pada kasus yang
berpenampilan klinis berat, pada saat demam tinggi akan nampak toksik/sakit berat.
Bahkan dapat juga ijumpai penderita demam tifoid yang datang dengan syok
hipovolemik sebagai akibat kurang masukan cairan dan makanan. Gejala
gastrointestinal pada kasus demam tifoid sangat bervariasi. Pasien dapat mengeluh
obstipasi, obstipasi kemudian disusul episode diare, pada sebagian pasien lidah
tampak kotor dengan putih di tengah sedang tepi dan ujungnya kemerahan.4

Malaria

Diagnosa malaria sering mernerlukan anamnesa yang tepat dari penderita tentang asal
penderita apakah dari daerah endemik malaria, riwayat berpergian ke daerah malaria,
riwayat pengobatan kuratip maupun preventip. Diagnosis malaria dapat dilakukan
dengan cara sebagai berikut.

5
1. Pemeriksaan tetes darah untuk malaria
Pemeriksaan mikroskopik darah tepi untuk menemukan adanya parasit malaria
sangat penting untuk menegakkan diagnosa. Pemeriksaan satu kali dengan hasil
negatif tidak mengenyampingkan diagnosa malaria. Pemeriksaan darah tepi 3 kali
dan hasil negatif maka diagnosa malaria dapat dikesampingkan. Pemeriksaan
sebaiknya dilakukan oleh tenaga laboratorik yang berpengalaman dalam
pemeriksaan parasit malaria. Pemeriksaan pada saat penderita demam atau
panas dapat meningkatkan kemungkinan ditemukannya parasit. Adapun
pemeriksaan darah tepi dapat dilakukan melalui:
a. Tetesan preparat darah tebal
Merupakan cara terbaik untuk menemukan parasit malaria karena tetesan
darah cukup banyak dibandingkan preparat darah tipis. Sediaan mudah
dibuat khususnya untuk studi di lapangan. Ketebalan dalam
membuat sediaan perlu untuk memudahkan identifikasi parasit.
Pemeriksaan parasit dilakukan selama 5 menit (diperkirakan 100 lapang
pandangan dengan pembesaran kuat). Preparat dinyatakan negatif
bila setelah diperiksa 200 lapang pandangan dengan pembesaran kuat 700-
1000 kali tidak ditemukan parasit. Hitung parasit dapat dilakukan pada
tetes tebal dengan menghitung jumlah parasit per 200 leukosit. Bila
leukosit 10.000/ul maka hitung parasitnya ialah jumlah parasit dikalikan 50
merupakan jumlah parasit per mikroliter darah.5

b. Tetesan darah tipis


Digunakan untuk mengidentifikasi jenis plasmodium, bila dengan preparat
darah tebal sulit ditentukan. Kepadatan parasit dinyatakan sebagai hitung
parasit (parasite count), dapat dilakukan berdasarkan jurnlah eritrosit yang
mengandung parasit per 1000 sel darah merah. Bila jumlah parasit lebih
besar dari 100.000/ul darah menandakan infeksi yang berat. Hitung
parasit penting untuk menentukan prognosa penderita malaria,
walaupun komplikasi juga dapat tirnbul dengan jumlah parasit yang
minimal. Pengecatan dilakukan dengan cat Giemsa, atau Leishman's,
atau Field's dan juga Romanowsky. Pengecatan Giemsa yang urnum
dipakai pada beberapa laboratorium dan merupakan pengecatan yang
mudah dengan hasil yang cukup baik.

6
2. Tes Antigen : P-F test
Yaitu mendeteksi antigen dari P. falciparum (Histidine Rich Protein II). Deteksii
sangat cepat hanya 3 - 5 menit, tidak memerlukan latihan khusus, sensitivitasnya
baik, tidak memerlukan alat khusus. Deteksi untuk antigen vivaks sudah beredar di
pasaran yaitu dengan metode ICT. Tes sejenis dengan mendeteksi laktat
dehidrogenase dari plasmodium (pLDH) dengan cara immunochromatographic
telah dipasarkan dengan nama tes OPTIMAL.

Optimal dapat mendeteksi dari 0 - 200 parasit/ul darah dan dapat membedakan
apakah infeksi P. falciparum atau P vivax. Sensitivitas sampai 95% dan hasil positif
salah lebih rendah dari tes deteksi HRP-2. Tes ini sekarang dikenal sebagai tes cepat
(Rapid Test).

3. Tes Serologi
Tes serologi mulai diperkenalkan sejak tahun 1962 dengan memakai tehnik indirect
fluorescent antibody, test. Tes ini berguna mendeteksi adanya antibodi spesifik
terhadap malaria atau pada keadaan dimana parasit sangat minimal. Tes ini kurang
bermanfaat sebagai alat diagnostik sebab antibodi baru terjadi setelah beberapa hari
parasitemia. Manfaat tes serologi terutama untuk penelitian epiderniologi
atau alat uji saring donor darah. Titer > 1:200 dianggap sebagai infeksi baru; dan test
> 1: 20 dinyatakan positip. Metode-metode tes serologi antara lain indirect
haemagglutination test, immuno -precipitation techniques, ELISA test,
radio-immunoassay.

Malaria mempunyai gambaran karakteristik demam periodik, anemia dan


splenomegali. Massa inkubasi berviariasi pada masing-masing plasmodium. Keluhan
prodromal dapat terjadi sebelum terjadinya demam berupa kelesuan, malaise, sakit
kepala, sakit belakang, merasa dingin di punggung, nyeri sendi dan tulang, demarn ringan,
anoreksia, perut tak enak, diare ringan dan kadang-kadang dingin. Keluhan prodromal
sering terjadi pada P vivax dan ovale, sedang pada P. falciparum dan P. malariae
keluhan prodromal tidak jelas bahkan gejala dapat mendadak.Gejala yang klasik
yaitu terjadinya " Trias Malaria secara berurutan: periode dingin (15-60 menit) : mulai
menggigil, penderita sering membungkus diri dengan selimut atau sarung dan pada saat

7
menggigil sering seluruh badan bergetar dan gigi-gigi saling terantuk, diikuti dengan
meningkatnya temperatur; diikuti dengan periode panas : penderita muka merah, nadi
cepat, dan panas badan tetap tinggi beberapa jam, diikuti dengan keadaan berkeringat;
kemudian periode berkeringat : penderita berkeringat banyak, temperatur turun dan
penderita merasa sehat. Trias malaria lebih sering terjadi pada infeksi P. vivax, pada P.
falciparum menggigil dapat berlangsung berat ataupun tidak ada. Periode tidak panas
berlangsung 12 jam pada P.falciparum, 36 jam pada P. vivax dan ovale, 60 jam pada P
malariae.4

Leptosirosis

Leptospira menyebabkan penyakit yang dikarakterisasi oleh stadium klinik yang


disertai remisi dan eksaserbasi. Organisme Leptospira merupakan bakteri Spirochaeta
yang sangat halus, berbelit padat (ketat) dan bersifat obligat aerob, yang ditandai oleh
gerakan bertipa fleksuosa yang unik. Genus ini dibagi menjadi dua spesies, Leptospira
interrogans yang patogenik dan Leptospira biflexa yang hidup bebas. Serotipe L.
interrogans merupakan penyebab penyakit leptospirosis,

Pada awalnya diagnosis leptospirosis sulit, karena pasien biasanya datang dengan
meningitis, hepatitis, nefritis, pneumonia, influenza, sindroma shock toksis, demam
yang tidak diketahui asalnya dan diatetesis hemoragik, bahakan sebagian khasus
datang dengan pancreatitis. Pada anamnesis penting diketahui tentang riwayat
pekerjaan pasien, apakah termasuk golongan kelompokrisiko tinggi, kemudian penting
juga pada saat anamnesis riwayat tempat tinggal pasien untuk mengetahui factor apa
saja yang dapat mempengaruhi infeksi. Pada anamnesis diketahui temapt tinggal pasien
terkena wabah banjir sejak 1 minggu yang lalu (3 hari sebelum pasien demam). Banjir
merupakan tempat dilepasnya mikroorganisme oleh vector perantara berupa air seni
mamalia liar maupun peliharaan.

Gejala/ keluhan didapati demam yang muncul mendadak, sakit kepala terutama di
bagian frontal, nyeri otot, mata merah/fotopobia, muat alatu muntah. Pada pemeriksaan
fisik dapat dijumpai demam, bradikardia, nyeri tekan otot, hepatomegali dan lain-lain.
Pada pemeriksaan laboratorium darah rutin bisa dijumpai leukositosis, normal atau
disertai sedikit menurun diserta gambaran neutrofilia dan laju endap darah (LED) yang
meninggi. Pada urine dijumpai proteinuria, leukosituria dan torak (cast). Bila organ
8
hati terlihat, bilirubin direk meningkat tanpa peningkatan transaminase. BUN, ureum
dan kreatinin juga bisa meningkat bila terjadi komplikasi pada ginjal. Trombositpenia
terdapat pada 50% khasus. Diagnose pastinya adalah dengan isolasi leptospira dari
cairan tubuh dan serologi. Untuk itulah anamnesis sangat penting untuk menanyakan
riwayat penyakit apakah pernah menderita penyakit ini sebelumnya atau belum dan
riwayat lingkungan contohnya pasien mengatakan 1 minggu yang lalu daerahnya
dilanda banjir, dimana banjir merupakan mediastor penyebaran leptospira melalui air
seni hospes reservoir berupa mamalia liar maupun peliharaan.

Working Diagnosis

Dari hasil pemeriksaan yang telah dilakukan maka akan didapatkan diagnosis
terhadap pasien. Diagnosis pasti didapatkan dari hasil isolasi virus dengue (cell
culture) ataupun deteksi antigen virus RNA dengue dengan teknik RT-PCR (Reverse
Transcriptase Polymerase Chain Reaction), namun karena teknik yang lebih rumit,
saat ini tes serologis yang mendeteksi adanya antibodi spesifik terhadap dengue
berupa antibodi total, IgM maupun IgG lebih banyak.

Tabel 1. Klasifikasi Derajat Penyakit Virus Dengue4

DD/DBD Derajat* Gejala Laboratorium

DD Demam disertai 2 atau lebih tanda: sakit Leukopenia


kepala, nyeri retro-orbital, mialgia,
Trombositopenia,
artralgia.
tidak ditemukan bukti
kebocoran plasma

DBD I Gejala di atas ditambah uji bendung positif Trombositopenia


(<100.000/l), bukti
ada kebocoran plasma

DBD II Gejala di atas ditambah perdarahan Trombositopenia


spontan (<100.000/l), bukti
ada kebocoran plasma

9
DBD III Gejala di atas ditambah kegagalan sirkulasi Trombositopenia
(kulit dingin dan lembab serta gelisah) (<100.000/l), bukti
ada kebocoran plasma

DBD IV Syok berat disertai dengan tekanan darah Trombositopenia


dan nadi tidak terukur (<100.000/l), bukti
ada kebocoran plasma

DBD derajat III dan IV juga disebut sindrom syok dengue (SSD)
Pada kasus diatas, kelompok kami menyimpulkan bahwa pasien tersebut
menderita Demam Berdarah Dangue

Anamnesis

Jenis anamnesis yang dapat dilakukan ialah autoanamnesis dan alloanamnesis.


Autoanamnesis dapat dilakukan jika pasien masih berada dalam keadaan sadar.
Sedangkan bila pasien tidak sadar, maka dapat dilakukan alloanamnesis yang
menyertakan kerabat terdekatnya yang mengikuti perjalanan penyakitnya.1

Pada setiap anamnesis selalu ditanyakan identitas pasien terlebih dahulu. Indentitas
pasien meliputi nama, tanggal lahir, umur, suku, agama, alamat, pendidikan dan
pekerjaan. Setelah itu dapat ditanyakan pada pasien apa keluhan utama dia datang.
Kemungkinan arah working diagnosis pada demam berdarah ditinjau bila pasien
menyatakan ia demam yang disertai dengan salah satu gejala demam dengue seperti
perdarahan intradermal (petikie dan ekimosis) ataupun nyeri pada otot. Untuk
menguatkan kemungkinan ke arah diagnosis terhadap penyakit demam berdarah maka
ada beberapa pertanyaan yang bisa diajukan pada pasien. Kemungkinan pertanyaan
yang diajukan ialah sebagai berikut :
1. Jenis demam yang dialami. Apakah demamnya menetap atau naik-turun secara
tiba-tiba. Seperti yang diketahui kurva suhu pada demam berdarah ialah bifasik.
2. Apabila pasien datang dengan suhu tubuh yang menurun, tanyakan apakah saat
panas ia mengalami ruam (kemerah-merahan) pada kulit dan apakah ruam itu
hilang pada saat suhu tubuhnya turun. Selain ruam juga dapat timbul bintik pada
tempat tersebut.

10
3. Apakah pasien mengalami myalgia (nyeri pada otot), terutama nyeri pada otot
perut dan matanya.
4. Apakah pasien mengalami gambaran klinis lain seperti sakit kepala yang
menyeluruh, mual ataupun muntah.
5. Apakah pasien pernah melakukan perjalanan ke tempat endemik penyakit demam
berdarah dalam kurun waktu masa inkubasi demam berdarah (5-8 hari).

Riwayat keluarga dan kerabat yang berhubungan juga perlu ditanyakan untuk
menguatkan dugaan. Misalnya apakah ada kerabat yang dalam kurun waktu
belakangan ini mengalami penyakit demam berdarah dan apakah ada kontak antara
pasien dengan kerbabatnya tersebut. Jika data-data dari pasien sudah lengkap untuk
anamnesi, maka dapat dilakukan pemeriksaan fisik untuk menunjang anamnesis
tadi.1

Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik dapat dilakukan setelah sebelumnya melakukan anamnesis.


Pemeriksaan fisik merupakan pemeriksaan tahap awal yang dilakukan terhadap pasien
yang selanjutnya dapat dilakukan pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui lebih
lanjut mengenai diagnosis dari penyakit yang diderita pasien. Pemeriksaan fisik yang
dilakukan adalah pemeriksaan denyut nadi pasien. Nadi pada awalnya akan cepat dan
kemudian kembali normal, selanjutnya akan melambat pada hari 4 dan 5. Pada mata
pasien dapat juga dijumpai infeksi konjungtiva, lakrimasi, fotophobia, serta
pembengkakan. Dapat juga dijumpai bradikardi yang menetap selama beberapa hari
dalam masa penyembuhan. Selain itu pada pasien juga dijumpai kesulitan dalam
buang air besar dan lidah yang kotor. Terdapat juga gejala perdarahan pada hari 3 dan
5 berupa ptekiae, purpura, ekimosis, hematemesis, melena, dan epitaksis. Terdapat
juga pembesaran hati dan nyeri tekan yang tak sesuai dengan beratnya penyakit.

Pada dengue shock syndrome gejala renjatan umumnya ditandai dengan kulit yang
terasa lembab dan dingin. Terjadi pula sianosis perifer pada ujung hidung, jari-jari
tangan, dan kaki. Hal ini juga disertai dengan penurunan tekanan darah. 4,5

11
Pemeriksaan Laboratorium

Pemeriksaan penunjang diperlukan untuk melengkapi anamnesis dan pemeriksaan


fisik. Pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk mendekatkan ke arah diagnosis
penyakit demam berdarah ialah pemeriksaan kadar hemoglobin, hematokrit, jumlah
trombosit serta hapusan darah tepi untuk melihat gambaran limfosit serta untuk
menghitung jumlah leukosit.2

Selain pemeriksaan darah juga dapat dilakukan pemeriksaan serologis. Deteksi


pastinya ialah menggunakan teknik deteksi antigen virus RNA dengue menggunakan
teknik PCR, namun teknik ini cukup rumit. Teknik lain yang dapat digunakan ialah
mendeteksi antobodi total, IgG maupun IgM. Selain pemeriksaan darah, dapat pula
dilakukan rontgen untuk melihat adanya kemungkinan dilatasi pada pembuluh darah
paru, efusi pleura, kardiomegali, serta efusi perikard. Cairan dalam rongga peritonium
yang timbul sebagai akibat bocornya plasma juga dapat dilihat dengan menggunakan
USG.5

1. Uji Tourniquet

Uji ini merupakan manisfestasi pendarahan kulit paling ringan dan dapat dinilai
sebagai uji presumtif oleh karena uji ini positif pada hari-hari pertama demam. Di
daerah endemis DBD, uji tourniquet dilakukan kepada yang menderita demam lebih
dari 2 hari tanpa alasan yang jelas. Pemeriksaan ini harus dilakukan sesuai standar
yang ditetapkan oleh WHO. Pemeriksaan dilakukan dengan terlebih dahulu
menetapkan tekanan darah pasien. Selanjutnya diberikan tekanan antara sistolik dan
diastolic pada alat pengukur yang diletakan dilengan atas siku, tekanan ini
diusahakan menetap selama percobaan. Setelah dilakukan tekanan selama 5 menit,
perhatikan timbulnya petekie di bagain volar lengan bawah.Uji dinyatakan positif
apabila pada satu inci persegi didapatkan 10 atau lebih petekie (WHO1997). Pada
DBD uji ini biasanya menunjukan hasil positif. Namun dapat berhasil negative atau
positif lemah pada keadaan syok.

12
Uji tourniquet dilakukan sebagai berikut:
1. Periksa tekanan darah pasien
2. Berikan tekanan di antara sistolik dan diastolik pada alat pengukur yang dipasang
pada lengan di atas siku; tekanan ini diusahakan menetap selama
percobaan.
3. Setelah dilakukan tekanan selama 5 menit perhatikan timbulnya petekiae di
kulit lengan bawah bagian medial pada sepertiga bagian proksimal.
4. Uji dinyatakan positif bila pada satu inci persegi (2,8 x 2,8 cm) didapat lebih
dari 20 petekiae.

Pada penderita DBD, umumnya uji tourniquet memberikan hasil positif. Pemeriksaan
itu dapat memberikan hasil negatif atau positif lemah selama masa syok. Bila
pemeriksaan diulangi setelah syok ditanggulangi, biasanya akan didapat hasil positif
bahkan positif kuat.2 Sesuai dengan skenario didapatkan hasil uji tourniquet postif
(+).

2. Pemeriksaan Darah
Pemeriksaan darah, meliputi :

o Pemeriksaan hematokrit
Infeksi sekunder pada kasus demam berdarah dengue dapat menyebabkan
terjadinya perubahan yang sangat kompleks dalam tubuh manusia. Kompleks
antibodi virus yang terjadi dapat mengaktifkan sistem koagulasi yang akan
menghasilkan benang-benang fibrin, namun pada saat yang bersamaan akan
mengaktifkan sistem fibrinolisis yang menyebabkan pemcehan benang fibrin
menjadi FDP. Hal ini dapat memicu terjadinya pendarahan dan dapat
menyebabkan terjadinya tingkatan lanjutan dari demam berdarah yaitu demam
berdarah dengan renjatan (shock). Hal ini akan berpengaruh pada peningkatan
hematokrit darah. Sebenarnya yang meningkat bukanlah jumlah sel darah
merah melainkan terjadi penurunan plasma. Dan hal ini ternyata menyebabkan
peningkatan hematokrit dalam kadar yang cukup signifikan, yang dapat
menjadi 20% dari keadaan normal.6

13
Pemeriksaan hematokrit menggunakan prinsip sentrifugasi untuk mendapatkan
endapan sel darah merah dalam jumlah yang besar. Pemeriksaan ini dapat
menggunakan cara makro dan cara mikro. Pada cara makro tinggi kolom sel
darah merah dibaca dengan menggunakan skala yang tertera pada tabung
pengukur yang disebut dengan tabung Wintrobe. Tinggi kolom sel darah
merah tersebut menyatakan persentasi dari eritrosit. Sedangkan cara mikro
menggunakan tabung yang lebih kecil yang tidak memiliki skala. Pembacaan
skala menggunakan skala tersendiri yang dicocokan dengan tinggi kolom
eritrosit dalam darah.2,5
Nilai normal hematokrit ialah 40-48 volume % bagi pria dan 37-43 volume %
bagi wanita. Pada demam berdarah dapat terjadi peningkatan hematokrit
dalam jumlah yang cukup berarti (60-70 volume %).

o Leukosit
Leukosit secara normal terdapat dalam jumlah 5.000 10.000/L darah.
Penderita demam berdarah dapat mengalami leukopenia ringan, namun hal ini
umumnya dijumpai pada hari pertama hingga hari ketiga dan bila dilakukan
hitung jenis masih bisa digolongkan dalam batas yang normal. Akan tetapi,
pada dengue shock fever dapat dijumpai neutropenia yang absolut.5

Lalu bagaimana cara menghitung jumlah leukosit tersebut? Ada cara yang
dapat digunakan dalam perhitungan sel darah tepi dengan cara mengambil
sampel darah. Pada perhitungan ini alat bantu yang disebut dengan pipet
Thoma. Prinsipnya ialah sel darah diambil dalam jumlah tertentu kemudian
diambil cairan pengencer, dalam hal ini ialah larutan Turk. Larutan ini dapat
melisiskan sel darah merah sehingga yang terlihat pada mikroskop hanya sel
darah putih/leukosit. Cairan pengencer ini dicampur dengan darah.

Bila darah diambil hingga skala 1 sedangkan pengencer diisi hingga angka 11,
maka pengenceran yang terjadi ialah sebesar 10 kali. Sedangkan bila darah
yang terambil jumlahnya hanya mencapai skala 0,5 sedangkan pengencer diisi
hingga angka 11, maka pengenceran terjadi sebanyak 20 kali. Setelah itu darah
akan diteteskan pada alat bantu pembaca yang disebut sebagai kamar hitung
Improved Neubauer.6

14
Pada kamar Hitung yang digunakan adalah empat kotak besar 1 x 1 mm yang
terdapat pada keempat sudut kamar hitung. Setelah meletakkan sampel darah,
maka dapat dibaca jumlah leukosit di bawah mikroskop. Hasil pembacaan
pada keempat kamar hitung dijumlahkan. Jumlah leukosit dalam tiap
mikroliter darah ialah jumlah leukosit pada keempat kamar hitung dikalikan
dengan faktor. Yang disebut dengan faktor ialah 1/volume kamar hitung x
jumlah pengenceran.5 Selain menggunakan pipet thoma, dapat pula digunakan
pipet sahli yang memiliki prinsip yang hampir mirip dengan pipet thoma.2,7

Gambaran yang khas pada demam berdarah lainnya adalah secara mikroskopis
ditemukan cukup banyak limfosit yang mengalami transformasi / limfosit
atipik (20-50% total limfosit). Limfosit ini berinti sel satu, dengan struktur
kromatin inti halus dan padat serta sitoplasma yang berwarna biru tua. Oleh
karena itu, gambaran ini disebut sebagai limfosit plasma biru.1

o Trombosit
Seperti yang telah dibahas di awal, terjadinya koagulasi merupakan salah satu
akibat dari aktivitas kompleks virus antibodi demam berdarah. Hal ini tentu
saja menyebabkan penurunan kadar trombosit / trombositopenia. Pada tiga
hari pertama umumnya jumlah trombosit masih dalam kadar yang normal.
Trombositopenia mulai tampak beberapa hari setelah panas, dan mencapai
titik terendah pada fase renjatan / shock. Kadar trombosit normal dalam darah
ialah 200.000-300.000/l. Penderita DBD umumnya mengalami penurunan
hingga angka 100.000/l. Bahkan DBD dengan renjatan bisa mengalami
trombositopenia lebih parah dari angka tadi.

Perhitungan kadar trombosit dapat dilakukan dengan pipet thoma maupun


pipet sahli. Namun perhitungan ini memerlukan ketelitian yang lebih tinggi.
hal ini disebabkan oleh sifat trombosit yang mudah rusak. Oleh karena itu
sebelum pemeriksaan, pipet harus dibilas dengan larutan pengencer. Dalam
pemeriksaan ini digunakan larutan amonium oksalat yang dapat melisis
eritrosit ataupun larutan Rees Ecker yang tidak melisis eritrosit. Cara
pengisian pada kamar hitung juga sama. Akan tetapi pada perhitungan

15
trombosit yang digunakan hanya 1 kotak besar 1 x 1 mm yang terletak tepat di
tengah kamar hitung.6

3. Pemeriksaan Serologi
Pemeriksaan yang dilakukan bisa meliputi uji HI, uji pengikatan komplemen, uji
neutralisasi, uji Mac. Elisa dan uji IgG Elisa Indirek. Dari kelima jenis, uji HI
(hemagglutination inhibition test) merupakan uji serologi yang paling banyak
dipakai secara rutin karena lebih sederhana, mudah, murah serta sensitif. Antibodi
HI ini dapat berada dalam kurun waktu yang sangat lama hingga lebih dari 50
tahun begitu seseorang mendapatkan infeksi demam berdarah.1

Antibodi ini timbal pada kadar yang terdeteksi yaitu titer 10 pada hari kelima
hingga hari keenam dari jalannya penyakit. Kadarnya akan meningkat bila
demam berdarah terus berlanjut (dapat mencapai 640 pada infeksi primer dan
10240 pada infeksi sekunder).

Pada infeksi akut, kadar titer yang mencapai 1280 dapat mengarahkan diagnosis
pada dugaan adanya infeksi baru. Titer HI yang tinggi ini akan bertahan hingga
tiga bulan sesudah infeksi dengan gejala penurunan yang tampak mulai pada hari
ke 30.

4. Radiologi
Kebocoran plasma dapat diamati melalui radiologi. Dengan pemeriksaan rontgen,
bisa terlihat dilatasi pada pembuluh darah paru di daerah sekitar hilus pulmonis.
Biasanya hal ini akan terlihat jelas. Selain itu kemungkinan lainnya ialah terisi
pleura oleh cairan yang disebut sebagai efusi pleura.1,2

Selain itu organ yang kemungkinan terkena dampak ialah jantung. Perbesaran
jantung dapat diukur dengan cardio thoraxic ratio pada hasil rontgen. Hasil CTR
yang lebih dari 0,5 dianggap sebagai perbesaran jantung. Efusi perikardium juga
mungkin terjadi. Di dalam gambaran hasil rontgen biasanya terlihat daerah hitam
yang disertai bercak.1

16
Hepatomegali dapat dilihat dengan menggunakan USG. Umumnya dianggap
hepatomegali bila pada USG didapati posisi hepar yang melewati arcus costae.
Dilatasi v. hepatika juga kemungkinan dapat mengikuti hepatomegali. Pada USG
juga bisa terlihat cairan dalam rongga peritonium yang ditandai dengan gambaran
usus yang terkumpul pada daerah medial abdomen. Kemungkinan terlihatnya
asites ialah diantara hati dan ginjal kanan.

Etiologi

Demam berdarah dengue disebabkan oleh virus dengue, yang termasuk dalam genus
Flavivirus, keluarga Flaviviridae. Falivivrus merupakan virus dengan diameter 30 nm
terdiri dari asam ribonukleat rantai tunggal dengan berat molekul 4 x 106.

Terdapat 4 serotip virus yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3 dan DEN-4 yang dapat
menyebabkan demam berdarah dengue. Keempat serotip tersebut ditemukan di
Indonesia, dengan DEN-3 merupakan serotip terbanyak.

Dalam laboratorium virus dengue dapat bereplikasi pada hewan mamalia seperti tikus,
kelinci, anjing dan kelelawar. Penelitian terhadap artropoda menunjukkan virus
dengue dapat bereplikasi pada nyamuk genus aedes (stegomyia) dan toxorhynchites. 8

Epidemiologi

Demam berdarah dengue tersebar di wilayah Asia Tenggara, Pasifik dan Karibia.
Indonesia merupakan wilayah endemis dengan sebaran di seluruh wilayah tanah air.
Penularan infeksi virus dengue terjadi melalui vector nyamuk genus Aedes (terutama
A.aegypti dan A. albopictus). Peningkatan kasus setiap tahunnya berkaitan dengan
sanitasi lingkungan dengan tersedianya tempat perindukan bagi nyamuk betina yaitu
bejana yang berisi air jernih.

Beberapa faktor diketahui berkaitan dengan peningkatan transmisi virus dengue yaitu:

1. Vektor: perkembangbiakan vektor, kebiasaan menggigit, kepadatan vektor di


lingkungan, transportasi vektor dari satu tempat ke tempat lain.

17
2. Pejamu: terdapatnya penderita di lingkungan atau keluarga, mobilisasi dan
paparan terhadap nyamuk, usia dan jenis kelamin.
3. Lingkungan: curah hujan, suhu, sanitasi, dan kepadatan penduduk.8

Patofisiologi

Hal utama yang terjadi pada patofisiologis DBD adalah meningkatnya permeabilitas
dinding pembuluh darah, menurunnya volume plasma, terjadinya hipotensi,
trombositopenia, dan diatesis hemoragik. Plasma merembes selama perjalanan
penyakit mulai dari permulaan masa demam dan mencapai puncaknya pada masa
renjatan atau syok. Nilai hematokrit meningkat bersamaan dengan menghilangnya
plasma melalui endotel dinding pembuluh darah. Nilai hematokrit yang meningkat
menimbulkan dugaan bahwa renjatan pada pasien DBD terjadi sebagai akibat dari
kebocoran plasma ke ekstravaskuler melalui kapiler yang rusak. Trombositopenia
merupakan kelainan hematologis yang sering ditemukan. Trombositopenia yang
timbul diduga akibat meningkatnya destruksi trombosit dan depresi dari fungsi
megakaryosit. Trombositopenia dan gangguan fungsi trombosit dianggap sebagai
penyebab utama terjadinya pendarahan pada DBD. Gangguan fungsi trombosit terjadi
melalui mekanisme gangguan pelepasan ADP, peningkatan kadar b-tromboglobulin
dan PF4 yang merupakan pertanda degranulasi trombosit. Selain trombositopenia,
kelainan sistem koagulasi darah juga berperan dalam pendarahan yang dialami
penderita DBD. Aktivasi koagulasi pada dengue terjadi melalui jalur ekstrinsik atau
tissue factor pathway.9

Pada infeksi dengue terbentuk antibodi yang terdiri atas imunoglobulin G atau IgG
yang berfungsi menghambat peningkatan replikasi virus dalam monosit, yaitu
enhancing antibody dan neutralising antibody. Dikenal 2 tipe antibodi berdasarkan
virion determinant specificity yaitu kelompok monoklonal reaktif yang mempunyai
sifat menetralisasi tetapi memacu replikasi virus. Antibodi non-netralisasi yang
dibentuk pada infeksi primer akan menyebabkan terbentuknya kompleks imun pada
infeksi sekunder dengan akibat memacu replikasi virus. Limfosit T memegang peran
penting dalam patogenesis DBD.10,11 Oleh rangsang monosit yang telah terinfeksi
virus dengue atau antigen virus dengue, limfosit manusia dapat mengeluarkan
interferon (IFN) alfa dan gamma. Padainfeksi sekunder oleh virus dengue serotipe

18
berbeda (DEN-1,2,3,4) dengan infeksi pertama, limfosit T CD4 berproliferasi dan
menghasilkan IFN alfa. IFN alfa itu merangsang sel yang terinfeksi virus dengue dan
mengakibatkan monosit memproduksi mediator yang menyebabkan kebocoran
plasma.

Gejala Klinis

Demam berdarah dengue ditandai dengan adanya beberapa manifestasi klinis yaitu
demam tinggi, terjadi pendarahan terutama pendarahan kulit, hepatomegali, dan
kegagalan peredaran darah. Demam tersebut merupakan gejala utama pada semua
penderita DBD dan datang secara mendadak disertai gejala klinis lainnya yang tidak
spesifik seperti nyeri punggung, tulang, sendi, otot, anoreksia, nyeri kepala,
leukopenia, trombositopenia, serta ada ruam. Demam akan memiliki durasi antara 2-7
hari sebelum diberi perawatan. Rata-rata keadaan umum penderita memburuk saat
demam menurun di antara hari ke-3 dan ke-7 sakit. Manifestasi pendarahan yang
paling sering ditemukan pada DBD adalah pendarahan kulit, memar, dan pendarahan
ditempat pengambilan darah vena. Kulit juga terasa lembab dan dingin, adanya
sianosis di dekat mulut, nadi menjadi cepat sehingga akhirnya terjadi penurunan
tekanan darah. Petekiae halus tersebar di anggota gerak, wajah, dan axilla sering
ditemukan pada masa dini demam. Pendarahan juga bisa terjadi di setiap organ tubuh
lainnya. Hal lain yang bisa ditemukan adalah hepatomegali. hepatomegali umumnya
dapat diraba pada saat awal penyakit dan pembesarannya tidak sejajar dengan berat
penyakit. Nyeri tekan yang ditemukan tidak disertai ikterus. Pada pemeriksaan
laboratorium akan terlihat turunnya jumlah trombosit dan meningkatnya nilai
hematokrit.12,13

Penatalaksanaan
Terapi untuk demam dengue adalah terapi suportif. Terapi suportif dapat dilakukan
dengan tetap memelihara volume cairan sirkulasi, karena hal tersebut merupakan hal
yang sangat penting dalam penanganan kasus DBD. Asupan cairan pasien DBD juga
harus tetap dijaga, terutama cairan oral. Jika asupan cairan oral pasien tidak mampu
dipertahankan, maka dibutuhkan suplemen cairan melalui intravena untuk mencegah

19
dehidrasi dan hemokonsentrasi yang bermakna. Terapi yang tepat dengan rancangan
tindakan yang dibuat sesuai pelaksanaannya.

Beberapa penanganan yang tepat untuk DBD pada kondisi yang berbeda:
1. Penanganan DBD tanpa syok
Penanganan ini digunakan sebagai petunjuk dalam memberikan pertolongan
pertama pada penderita DBD atau yang diduga DBD di Instalansi Gawat
Darurat dan juga dipakai sebagai petunjuk dalam memutuskan indikasi rawat.
Seseorang yang tersangka menderita DBD di ruang Gawat Darurat
dilakukan pemeriksaan hemoglobin (Hb), hematokrit (Ht), dan
trombosit, bila :
Hb, Ht, dan trombosit normal atau trombosit antara 100.000 150.000
pasien dapat dipulangkan dengan anjuran kontrol atau berobat jalan ke
poliklinik dalam waktu 24 jam berikutnya (dilakukan pemeriksaan Hb,
Ht Lekosit dan trombosit tiap 24 jam) atau bila keadaan penderita
memburuk segera kembali ke Instalansi Gawat Darurat.
Hb, Ht normal tetapi trombosit < 100.000 dianjurkan untuk dirawat.
Hb, Ht meningkat dan trombosit normal atau turun juga dianjurkan
untuk dirawat.

2. Pemberian cairan pada tersangka DBD di ruang rawat


Pasien yang tersangka DBD tanpa perdarahan spontan dan masif tanpa syok
maka di ruang rawat diberikan cairan infus kristaloid dengan jumlah seperti
rumus berikut ini :
Volume cairan kristaloid per hari yang diperlukan : 1500 + {20 x (BB
dalam kg - 20)}
Setelah pemberian cairan, dilakukan pemeriksaan Hb, Ht tiap 24 jam :
Bila Hb, Ht meningkat 10 20% dan trombosit < 100.000 jumlah
pemberian cairan tetap seperti rumus di atas tetapi pemantauan Hb, Ht
trombosit dilakukan tiap 12 jam.
Bila HB, Ht meningkat > 20% dan trombosit < 100.000 maka
pemberian cairan sesuai dengan protokol penatalaksanaan DBD
dengan peningkatan Ht > 20%.

20
3. Penanganan penderita DBD dengan hematokrit > 20%
Meningkatnya Ht > 20 % menunjukkan bahwa tubuh mengalami
defisit cairan sebanyak 5%. Pada keadaan ini terapi awal pemberian cairan
adalah dengan memberikan infus cairan kristaloid sebanyak 6 7 ml/kg/jam.
Pasien kemudian dipantau setelah 3 4 jam pemberian cairan. Bila terjadi
perbaikan yang ditandai dengan tanda-tanda hematokrit turun, frekuensi nadi
turun, tekanan darah stabil, produksi urin meningkat maka jumlah cairan infus
dikurangi menjadi 5 ml/kg/jam. 2 jam kemudian dilakukan pemantauan
keadaan tetap membaik maka pemberian cairan dapat dihentikan 24 - 48 jam
kemudian.

Apabila setelah pemberian terapi cairan awal 6 7ml/kgBB/jam tadi keadaan


tetap tidak membaik, yang ditandai dengan hematokrit dan nadi meningkat,
tekanan darah menurun, 20mmHg, produksi urin menurun, maka kita harus
menaikkan jumlah cairan infus menjadi 10 ml/kgBB/jam. 2 jam kemudian
dilakukan pemantauan kembali dan bila keadaan menunjukkan perbaikan
maka jumlah cairan dikurangi menjadi 5 ml/kgBb/jam tetapi bila keadaan
tidak menunjukkan perbaikan maka jumlah cairan infus dinaikkan menjadi 15
ml/kgBB/jam dan bila dalam perkembangannya kondisi menjadi memburuk
dan didapatkan tanda tanda syok maka pasien ditangani sesuai dengan
protokol tatalaksana sindroma syok dengue pada dewasa. Bila syok telah
teratasi maka pemberian cairan dimulai lagi seperti terapi pemberian cairan
awal.

4. Penanganan pendarahan spontan pada DBD


Perdarahan spontan dan masif pada penderita DBD dewasa adalah :
perdarahan hidung / epistaksis yang tidak terkendali walaupun telah diberikan
tampon hidung, perdarahan saluran cerna (hematemesis dan melena atau
hematoskesia), perdarahan saluran kencing (hematuria), perdarahan otak atau
perdarahan tersembunyi dengan jumlah perdarahan sebanyak 4 5
ml/kgBB/jam. Pada keadaan seperti ini jumlah dan kecepatan pemberian
cairan tetap seperti keadaan DBD tanpa syok lainnya. Pemeriksaan tekanan
darah, nadi, pernafasan dan jumlah urin dilakukan sesering mungkin dengan

21
kewaspadaan Hb, Ht, dan trombosit serta hemostase harus segera dilakukan
dan pemeriksaan Hb, Ht, dan trombosit sebaiknya diulangi setiap 4 6 jam.
Pemberian heparin dilakukan apabila secara klinis dan laboratoris didapatkan
tanda-tanda koagulasi intravaskulat diseminata (KID). Transfusi komponen
darah diberikan sesuai indikasi. FFP diberikan bila didapatkan defisiensi
faktor-faktor pembekuan (PT dan aPTT yang memanjang), PRC diberikan bila
nilai Hb kurang dari 10 g/dl. Transfusi trombosit hanya diberikan pada pasien
DBD dengan perdarahan spontan dan masif dengan jumlah trombosit <
100.000/mm3 disertai atau tanpa KID.

5. Penatalaksanaan sindroma syok dengue

Bila kita berhadapan dngan Sindroma Syok Dengue (SSD) maka hal pertama
yang harus diingat adalah bahwa renjatan harus segera diatasi dan oleh karena
itu penggantian cairan intravaskuler yang hilang harus segera dilakukan.
Angka kematian sindrom syok dengue sepuluh kali lipat dibandingkan dengan
penderita DBD tanpa renjatan, dan renjatan dapat terjadi karena keterlambatan
penderita DBD mendapatkan pertolongan/pengobatan, penatalaksanaan yang
tidak tepat termasuk kurangnya kewaspadaan terhadap tanda-tanda renjatan
dini, dan penatalaksanaan renjatan yang tidak adekuat.

Pada kasus SSD cairan kristaloid adalah pilihan utama yang diberikan. Selain
resusitasi cairan, penderita juga diberikan oksigen 2-4 liter/menit.
Pemeriksaan-pemeriksaan yang harus dilakukan adalah pemeriksaan darah
perifer lengkap (DPL), hemostasis, analisis gas darah, kadar natrium, kalium
dan klorida, serta ureum dan kreatinin. Pada fase awal, cairan kristaloid
diberikan sebanyak 10-20 ml/kgBB dan dievaluasi setelah 15-30 menit. Bila
renjatan telah teratasi (ditandai dengan tekanan darah sistolik 100 mHg dan
tekanan nadi lebih dari 20 mmHg, frekuensi nadi kurang dari 100 kali per
menit dengan volume yang cukup, akral teraba hangat, dan kulit tidak pucat
disertai diuresis 0,5-1 ml/kgBB/jam) jumlah cairan dikurangi menjadi 7
ml/kgBB/jam. Bila dalam waktu 60-120 menit kemudian tetap stabil
pemberian cairan menjadi 5 ml/kgBB/jam. Bila dalam waktu 60-120 menit
kemudian keadaan tetap stabil pemberian cairan menjadi 3 ml/kgBB/jam. Bila

22
24-48 jam setelah renjatan teratasi tanda-tanda vital dan hematokrit tetap stabil
serta diuresis cukup maka pemberian cairan perinfus harus dihentikan (karena
jika reabsorbsi cairan plasma yang mengalami ekstravasasi telah terjadi,
ditandai dengan turunnya hematokrit, cairan infus terus diberikan maka
keadaan hipervolemi, edema paru atau gagal jantung dapat terjadi).12

Pengawasan dini kemungkinan terjadinya renjatan berulang terus dilakukan


terutama dalam waktu 48 jam pertama sejak terjadi renjatan (karena selain
proses patogenesis penyakit masih berlangsung, ternyata cairan kristaloid
hanya sekitar 20% saja yang menetap dalam pembuluh darah setelah 1 jam
saat pemberian). Oleh karena untuk mengetahui apakah renjatan telah teratasi
dengan baik, diperlukan pemantauan tanda vital yaitu status kesadaran,
tekanan darah, frekuensi nadi, frekuensi jantung dan napas, pembesaran hati,
nyeri tekan daerah hipokondrium kanan dan epigastrik, serta jumlah diuresis.
Diuresis diusahakan 2 ml/kgBB/jam. Pemantauan kadar hemoglobin,
hematokrit dan jumlah trombosit dapat dipergunakan untuk pemantauan
perjalanan penyakit. Bila setelah fase awal pemberian cairan ternyata renjatan
belum teratasi, maka pemberian cairan kristaloid dapat ditingkatkan menjadi
20 30 ml/kgBB/jam dan kemudian dievaluasi setelah 20 30 menit. Bila
keadaan tetap belum teratasi, maka perhatikan nilai hematokrit. Bila nilai
hematokrit meningkat berarti perembesan plasma masih berlangsung maka
pemberian cairan koloid merupakan pilihan, tetapi bila nilai hematokrit
menurun, berati terjadi perdarah (internal bleeding) maka penderita diberikan
transfusi darah segar 10 ml/kgBB dan dapat diulang sesuai kebutuhan.

Komplikasi

Ada beberapa jenis komplikasi dan manifestasi klinis yang tidak lazim yang dapat
terjadi pada pasien demam berdarah dengue.2,5 Antara lain:
Enselopati dengue
Pada umumnya ensefalopati terjadi sebagai komplikasi akibat perdarahan yang
dialami oleh pasien. Gangguan seperti hipoksemia, hiponatremia atau pendarahan
dapat mencetuskan terjadinya ensefalopati. Melihat enselopati yang bersifat
sementara, maka dapat dilihat kemungkinan lain yaitu trmobosit pembuluh darah

23
di otak akibat dari koagulasi intravaskular. Virus dengue merupakan jenis virus
yang dapat menembus sawar darah otak namun sangat jarang menginfeksi jaringan
otak. Pada ensefalopati kesadaran pasien menurun menjadi kesadaran somnolen
yang dapat disertai dengan syok. Dalam keadaan seperti ini yang terutama ialah
mengatasi syok yang dialami oleh pasien terlebih dahulu kemudian perhatikan
kesadarannya. Jika syok teratasi namun kesadaran tetap menurun dapat dilakukan
pungsi lumbal. Pada ensefalopati dijumpai peningkatan SGOT/SGPT, penurunan
kadar gula darah serta alkalosis.2

Kelainan ginjal
Pada fase terminal dari penyakit demam berdarah dengue dapat terjadi gagal ginjal
yang bersifat akut. Yang perlu diperhatikan bahwa ini dimungkinkan oleh karena
terjadi syok yang dapat diatasi dengan penggantian volume cairan intravaskular
dengan bantuan infus. Setelah diberi infus kristaloid yang perlu diperhatikan ialah
diuresis pasien. Diusahakan agar diuresis dapat mencapai lebih dari1ml/kgBB/jam.
Keadaan syok yang berat dapat dijumpai acute tubular necrosis yang ditandai
dengan penurunan jumlah urin dan peningkatan kadar ureum dan kreatinin.

Udem paru
Merupakan komplikasi akibat pemberian cairan secara berlebih. Pemberian cairan
sesuai panduan pada hari ketiga hingga kelima umumnya tidak menyebabkan
udem pada paru oleh karena perembesan plasma masih terjadi. Namun bila terjadi
reabsorbsi plasma dari ruang ekstravaskular sementara pemberian cairan tetap
berlebih maka pasien dapat mengalami distress pada pernafasan disertai sembab
pada kelopak mata yang bisa ditunjang pada pemeriksaan radiologi terdapat
gambaran udem paru pada foto rontgen dada.7

Pencegahan

Tubuh seseorang yang pernah terinfeksi virus dengue akan timbul kekebalan untuk
virus tertentu yang terbagi lagi menjadi beberapa jenis atau tipe (serotype), sehingga
pada umumnya tidak akan terserang lagi untuk jenis serotype yang sama. Namun
masih ada kemungkinan untuk terserang virus dengan serotype yang berbeda. Oleh

24
karena itu pembuatan vaksin untuk virus tersebut masih sulit dilakukan karena adanya
perkembangan serotype virus dari waktu ke waktu.

Belum ada vaksin yang dapat menyembuhkan DBD secara langsung meskipun saat
ini sedang dikembangkan penelitian untuk menemukan vaksin tersebut. Oleh karena
itu, pencegahan terhadap virus dengue lebih diutamakan dengan membasmi vektor
pembawa virus yaitu Aedes aegypty. Pencegahan berkembangnya nyamuk Aedes
aegypti bisa dilakukan dengan tidak menyediakan tempat yang lembab dan berair
yang berpotensi menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk dan memberantas
sarang-sarangnya. Karena tempat berkembangbiaknya ada di rumah-rumah dan
tempat-tempat umum, setiap keluarga harus melaksanakan Pemberantasan Sarang
Nyamuk (PSN) secara teratur, sekurang-kurangnya seminggu sekali. Selain itu,
fogging (pengasapan) dan memutuskan mata rantai pembiakan aedes aegypti lewat
abatisasi juga harus dilakukan. Abatisasi adalah menggunakan sejenis insektisida
dengan merek dagang Abate sebanyak 1 ppm (per sejuta bagian) atau sesuai dengan
petunjuk setempat. Kegunaannya untuk mencegah larva berkembang menjadi nyamuk
dewasa.14

Untuk melindungi diri dari gigitan nyamuk, gunakan pakaian yang menutupi seluruh
tubuh. Bila perlu oleskan bahan-bahan yang berfungsi untuk mencegah gigitan
nyamuk dan minum ramuan yang secara empiris diketahui bisa mencegah dari gigitan
nyamuk. Bila perlu, tempat tidur ditutupi kelambu untuk melindungi diri dari gigitan
nyamuk.

Pada saat ini pemberantasan A. aegypti merupakan cara utama yang dilakukan untuk
memberantas demam berdarah dengue, karena vaksin untuk mencegah dan obat
untuk membasmi virusnya belum tersedia. Pemberantasan A. aegypti dapat dilakukan
terhadap nyamuk dewasa ataupun jentiknya. Pemberantasan nyamuk dewasa
dilakukan dengan cara penyemprotan dengan pengasapan atau fogging insektisida
yaitu:
Organofosfat misalnya malation, fenotrion
Pinetroid sintetik, misalnya lamda sihalotrin, permetrin
Karbamat

25
Pemberantasan jentik A. aegypti yang yang dikenal dengan istilah Pemberantasan
Sarang Nyamuk (PSN), dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut:
Kimia: pemberantasan larva dilakukan dengan larvasida yang dikenal
dengan abatisasi. Larvasida yang biasa digunakan adalah temefos.
Formulasi temefos yang digunakan adalah granules (sandgranules). Dosis
yang digunakan 1ppm atau 10gram (kurang lebih 1 sendok makan rata)
untuk setiap 1 liter air. Abatisasi dengan temefos tersebut mempunyai efek
residu 3 bulan.
Biologi: dengan memelihara ikan pemakan jentik, contohnya ikan guppy,
ikan cupang dan beberapa jenis ikan lainnya.
Fisik: cara ini dikenal dengan kegiatan 3M yaitu menguras, menutup dan
mengubur. Menguras bak mandi, bak WC, menutup tempat penampungan
iar, rumah tangga seperti tempayan, drum air, dan lain-lainnya serta
mengubur atau memusnahkan barang bekas yang bisa menjadi tampungan
air sementara seperti kaleng, ban, dan sebagainya. Pengurasan tempat
penampungan air perlu dilakukan secara teratur sekurang-kurangnya satu
kali dalam seminggu agar nyamuk tidak dapat berkembang biak ditempat
tersebut.11,14

Jika pelaksanaan pemberantasan sarang nyamuk ini dilakukan oleh seluruh


masyarakat di Indonesia, maka diharapkan nyamuk A. aegypti dapat terbasmi. Untuk
itu diperlukan usaha dan penyuluhan serta motivasi kepada masyarakat secara terus
menerus dalam jangka waktu yang lama, karena keberadaan jentik nyamuk tersebut
berkaitan dengan lingkungan juga perilaku masyarakat.

Prognosis

Infeksi dengue pada umumnya mempunyai prognosis yang baik, DF dan DHF tidak
ada yang mati. Kematian dijumpai pada waktu ada pendarahan yang berat, shock yang
tidak teratasi, efusi pleura dan asites yang berat dan kejang. Kematian dapat juga
disebabkan oleh sepsis karena tindakan dan lingkungan bangsal rumah sakit yang
kurang bersih. Kematian terjadi pada kasus berat yaitu pada waktu muncul komplikasi
pada sistem syaraf, kardiovaskuler, pernapasan, darah, dan organ lain.1

26
KESIMPULAN

Penyakit demam berdarah dengue adalah penyakit tropik yang disebabkan oleh infeksi
virus dengue dengan vektor nyamuk Aedes aegypti. Penyakit ini disertai gejala klinis
seperti sakit kepala, nyeri otot, sendi atau tulang, mual, dan terdapat pendarahan terutama
di bagian kulit. Dalam kondisi yang lebih lanjut, pasien DBD dapat terkena syok yang
berisiko pada kematian. Untuk mencegah pasien DBD hingga mengalami syok perlu
dilakukan penanganan yang cepat dan intensif seperti rawat inap di rumah sakit untuk
tetap mempertahankan keseimbangan cairan tubuh. Cara yang paling efektif untuk
mengindari penyakit DBD adalah dengan melakukan pencegahan keberadaan dan
perkembangbiakan vektor sedini mungkin melalui beberapa cara diantaranya adalah
fogging dan 3M.

DAFTAR PUSTAKA

1. Tumbelaka AR, Darwis D, Gatot D, dkk. Demam berdarah dengue. Jakarta: Balai
Penerbit FKUI; 2005.
2. Davey P, editors. At a glance medicine. Jakarta: EMS; 2006.h.298-300.
3. Capinera JL. Encyclopedia of entomology. 2nd ed. USA: Springer; 2008.h.841-3

4. Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I dkk. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam edisi V Jilid
III. Jakarta; Interna Publishing; 2009
5. Staf Pengajar Departemen Parasitologi FK UI Jakarta. Parasitologi Kedokteran edisi
IV. Jakarta; Balai Penerbit FK UI; 2008
6. Bagian Patologi Klinik Fakultas Kedokteran UKRIDA. Penuntun patologi klinik
hematologi. Jakarta: Biro Publikasi Fakultas Kedokteran UKRIDA; 2009.h.51-60.
7. Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia. Buku Ajar ilmu penyakit
dalam. edisi 5 jilid III. Jakarta: Interna Publishing; 2009.h.2773-9.
8. Mansjoer, Arif. Kapita Selekta Kedokteran edisi III jilid I. Jakarta; Balai Penerbit FK
UI; 2007.
9. Nimmanitya S. Dengue and dengue hemorrhagic fever. In: Cook GC. Mansons
tropical disease. London: WB Saunders Co.2000.p.721-9.
10. Sungkar S. Demam berdarah dengue. Jakarta: Yayasan Penerbitan Ikatan Dokter
Indonesia; 2002.h. 1-30.

27
11. Sudin Kesehatan Masyarakat Kotamadya Jakarta Pusat. Pencegahan dan
pemberantasan demam berdarah dengue di Indonesia. Jakarta: Departemen Kesehatan
RI; 2005.
12. World Health Organization. Dengue: guidelines for diagnosis, treatment, prevention
and control. France: WHO Press; 2009.h.8,15-7.
13. Clyde K, Kyle JL. Recent advances in deciphering viral and host determinants of
dengue virus replication and pathogenesis. J Virol:2006;80:11418-31.
14. Sutanto I, Ismid SI, Sjariffudin PK. Buku ajar parasitologi kedokteran. Ed ke 4.
Jakarta: Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.2008.h.265-8.

28