Anda di halaman 1dari 15

Mengetahui Otitis Media Akut pada Anak

Glorya Nathasia Ahab

102014185

Kelompok C2

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Jl. Arjuna Utara No. 6, Jakarta 11510

Email : Glorya_ahab@yahoo.com

Abstrak
Otitis media akut pada anak merupakan keadaan yang sering teriak di Sumbatan tuba
Eustachius dan infeksi saluran nafas atas diketahui sebagai penyebab yang paling utama. Bentuk
dari tuba Eustachius pada anak yang pendek dan horizontal .,sebagai kunci yang mendasari
perkembangan otitis media akut. Diagnosis OMA berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik
dengan otoskopi dan adiologi. Penatalaksanaan adalah dengan terapi konservatif dan juga
operatif serta menghilangkan faktor resiko penyebabnya. Diagnosis dan penatalaksanaan yang
tepat sedini mungkin dapat mengurangi morbiditas dan mencegah terjadinya komplikasi

Kata Kunci : otitis Media Akut Supuratif, Anak, Penatalaksanaan

Abstract
Acute otitis media in children was a condition that often shouted at Eustachian tube blockage
and infection of the upper respiratory tract are known as the most important cause. The shape of
the Eustachian tube in children are short and horizontally., As a key underlying development of
otitis media akut.Diagnosis OMA based on history, physical examination and adiologi otoskopi.
Management is conservative and operative treatment as well as eliminating the risk factors
cause. Diagnosis and appropriate treatment as early as possible to reduce morbidity and prevent
complications.

Key Words : Acute otitis media Suppurative, Child, Treatment

Pendahuluan

Radang telinga atau otitis media adalah peradangan sebagian atau seluruh saluran mukosa
telinga tengah, tuba eustachius, antrum mastoid dan sel-sel mastoid. Hampir 70 % sering terjadi
pada anak-anak dan tidak sedikit mengalami gangguan pendengaran akibat penanganan yang
terlambat atau kronis. Otitis media sering sekali di awali dengan adanya infeksi pada saluran
napas seperti radang tenggorokan atau pilek yang menyebar ke telinga tengah melewati saluran
eustachius. Saat bakteri masuk melalui saluran tuba eustachius, dapat menyebabkan infeksi di
saluran tersebut. Sehingga terjadi pembengkakan di sekitar saluran, tersumbatnya saluran dan
terjadi reaksi peradangan. Dimana sel-sel darah putih untuk melawan bakteri. Maka akan
terbentuk nanah dalam telinga tengah. Selain itu pembengkakan jaringan sekitar saluran
eustachius menyebabkan lendir yang di hasilkan sel-sel di telinga tengah terkumpul di belakang
gendang telinga. Jika lendir dan nanah bertambah banyak, maka akan terganggu
pendengarannya, karena gendang telinga dan tulang-tulang kecil penghubung gendang telinga
dengan organ pendengaran di telinga dalam tidak dapat bergerak bebas. Ketahuilah kalau
kehilangan pendengaran yang dialami umumnya sekitar 24 desibel ( bisikan halus). Namun jika
terdapat cairan yang lebih banyak dapat menyebabkan gangguan pendengaran hingga 24 desibel
(kisaran pembicaraan normal). Selain itu telinga juga akan terasa nyeri. Dan yang paling berat,
adalah cairan tersebut dapat merobek gendang telinga karena tekanannya. Banyak yang membuat
pembagian dan klasifikasi otitis media. Secara mudah dapat kita sebutkan yaitu : otitis media
supuratif, dan otitis media non supuratif, otitis media serosa, otitis media sekretoria, otitis media
musinosa, otitis media efusi atau OME. Selain itu ada otitis media akut, sub akut biasanya
memiliki resiko rendah dan tinggi. Sedangkan otitis media kronik biasanya tipe aman dan
bahaya. Masing-masing golongan mempunyai bentuk akut dan kronik yaitu otitis media
supuratif akut (OMA) dan otitis media supuratif (OMSK/OMP). 1
Skenario

Seorang anak usia 3 tahun dibawa ibunya ke klinik anda dengan keluhan anak tiba-tiba menangis
menjerit di tengah malam. Suah 3 hari batuk pilek, demam.

Anatomi Telinga

Gambar 1.1
a.Telinga Luar
Telinga luar, yang terdiri dari aurikula (pinna) dan kanalis auditorius eksternus, dipisahkan
dari telinga tengan oleh struktur seperti cakram yang dinamakan membrana timpani (gendang
telinga). Telinga terletak pada kedua sisi kepala kurang lebih setinggi mata. Aurikulus melekat
ke sisi kepala oleh kulit dan tersusun terutama oleh kartilago, kecuali lemak dan jaringan bawah
kulit pada lobus telinga. Aurikulus membantu pengumpulan gelombang suara dan perjalanannya
sepanjang kanalis auditorius eksternus. Tepat di depan meatus auditorius eksternus adalah sendi
temporal mandibular. Kaput mandibula dapat dirasakan dengan meletakkan ujung jari di meatus
auditorius eksternus ketika membuka dan menutup mulut. Kanalis auditorius eksternus
panjangnya sekitar 2,5 sentimeter. Sepertiga lateral mempunyai kerangka kartilago dan fibrosa
padat di mana kulit terlekat. Dua pertiga medial tersusun atas tulang yang dilapisi kulit tipis.
Kanalis auditorius eksternus berakhir pada membrana timpani. Kulit dalam kanal mengandung
kelenjar khusus, glandula seruminosa, yang mensekresi substansi seperti lilin yang disebut
serumen. Mekanisme pembersihan diri telinga mendorong sel kulit tua dan serumen ke bagian
luar tetinga. Serumen nampaknya mempunyai sifat antibakteri dan memberikan perlindungan
bagi kulit.1

b.Telinga Tengah
Telinga tengah mengandung tulang terkecil (osikuli) yaitu malleus, inkus, stapes. Osikuli
dipertahankan pada tempatnya oleh sendian, otot, dan ligamen, yang membantu hantaran suara.
Ada dua jendela kecil (jendela oval dan dinding medial telinga tengah, yang memisahkan telinga
tengah dengan telinga dalam. Bagian dataran kaki menjejak pada jendela oval, di mana suara
dihantar telinga tengah. Jendela bulat memberikan jalan ke getaran suara. Jendela bulat ditutupi
oleh membrana sangat tipis, dan dataran kaki stapes ditahan oleh yang agak tipis, atau struktur
berbentuk cincin. anulus jendela bulat maupun jendela oval mudah mengalami robekan. Bila ini
terjadi, cairan dari dalam dapat mengalami kebocoran ke telinga tengah kondisi ini dinamakan
fistula perilimfe.Tuba eustachii yang lebarnya sekitar 1mm panjangnya sekitar 35 mm,
menghubngkan telingah ke nasofaring. Normalnya, tuba eustachii tertutup, namun dapat terbuka
akibat kontraksi otot palatum ketika melakukan manuver Valsalva atau menguap atau menelan.
Tuba berfungsi sebagai drainase untuk sekresi dan menyeimbangkan tekanan dalam telinga
tengah dengan tekanan atmosfer.1

c.Telinga Dalam
Telinga dalam tertanam jauh di dalam bagian tulang temporal. Organ untuk pendengaran
(koklea) dan keseimbangan (kanalis semisirkularis), begitu juga kranial VII (nervus fasialis) dan
VIII (nervus koklea vestibularis) semuanya merupakan bagian dari komplek anatomi. Koklea
dan kanalis semisirkularis bersama menyusun tulang labirint. Ketiga kanalis semisi posterior,
superior dan lateral erletak membentuk sudut 90 derajat satu sama lain dan mengandung organ
yang berhubungan dengan keseimbangan. Organ ahir reseptor ini distimulasi oleh perubahan
kecepatan dan arah gerakan seseorang.Koklea berbentuk seperti rumah siput dengan panjang
sekitar 3,5 cm dengan dua setengah lingkaran spiral dan mengandung organ akhir untuk
pendengaran, dinamakan organ Corti. Di dalam lulang labirin, namun tidak sem-purna
mengisinya,Labirin membranosa terendam dalam cairan yang dinamakan perilimfe, yang
berhubungan langsung dengan cairan serebrospinal dalam otak melalui aquaduktus koklearis.
Labirin membranosa tersusun atas utrikulus, akulus, dan kanalis semisirkularis, duktus koklearis,
dan organan Corti.1

Anamnesis
Anamnesis yang terarah diperlukan untuk menggali lebih dalam dan luas keluhan utama
pasien. Untuk menegakkan diagnosis suatu penyakit atau kelainan di telinga, hidung, dan
tenggorok. Pada anamnesis dapat kita lakukan secara autoanamnesis atau aloanamnesis mulai
dari identitas pasien, keluhan utama seperti adakah gangguan pendengaran (tuli), suara
berdenging (tinitus), rasa pusing yang berputar (vertigo), rasa nyeri dalam telinga (otalgia) dan
keluar cairan telinga (otore).1,2
Bila ada keluhan gangguan pendengaran, perlu ditanyakan apakah keluhan tersebut pada
satu telinga atau kedua telinga, timbulnya tiba-tiba atau bertambah berat secara bertahap
dan sudah berapa lama di derita. Adakah riwayat trauma kepala, telinga tertampar,
trauma akustik, terpajan bising, pemakaian obat ototoksik sebelumnya atau pernah
menderita penyakit infeksi virus seperti parotitis, influensa berat dan meningitis. Apakah
gangguan pendengaran ini diderita sejak bayi sehingga terdapat juga gangguan bicara dan
komunikasi. Pada orang dewasa tua perlu ditanyakan apakah gangguan ini lebih terasa
ditempat yang bising atau di tempat yang lebih tenang.
Pada keluhan telingan berbunyi, dapat berupa suara yang berdengung atau berdenging,
yang dirasakan di kepala atau di telinga, pada salah satu sisi atau kedua telinga. Apakah
tinitusnya ini disertai gangguan pendengaran dan adakah keluhan pusing yang berputar-
putar.
Keluhan rasa pusing yang berputar, apakah merupakan gangguan keseimbangan dan rasa
ingin jatuh yang disertai rasa mual, muntah, rasa penuh di telinga. Apakah keluhan ini
timbul saat posisi kepala tertentu atau saat merubah posisi kepala.
Nyeri didalam telinga, tanyakan nyeri itu pada telinga kiri atau kanan. Sudah berapa
lama, adakah nyeri alih (referred pain) dapat berasal dari gigi molar atas, dan lain-lain.
Sekret yang keluar dari dalam telinga, apakah keluar dari satu telinga atau kedua telinga
dan disertai nyeri atau tidak, sudah terjadi berapa lama. Sifat sekretnya seperti apa,
mukoid, serous, jernih atau purulen. Ada bercampur darah, bau busuk atau tidak.

Pemeriksaan Fisik
A.Pemeriksaan telinga
Untuk pemeriksaan telinga pasien duduk dengan posisi badan condong sedikit kedepan dan
kepala lebih tinggi sedikit dari kepala pemeriksa ini bertujuan untuk memudahkan melihat liang
telinga dan membran timpani. Alat-alat yang sering dipakai untuk melakukan pemeriksaan
telinga itu seperti : lampu kepala, corong telinga, otoskop, pelilit kapas, pengait serumen, pingset
telinga dan garputala. Otoscope untuk melakukanauskultasi pada bagian telinga luar.
Timpanogram untuk mengukur keseuaian dan kekakuan membran timpani.1,2
Pemeriksaan dimulai dengan melihat keadaan dan bentuk daun telinga, daerah belakang
daun telinga (retro-aurikuler) apakah terdapat peradangan atau sikatriks bekas operasi,
bentuk daun telinga normal atau abnormal : mikrotia, anotia, bat ear. Terlihat ada fistula
preaurikuler ( abses ada atau tidak ), fistula retroaurikuler ( abses ada atau tidak ), ada
tofus, benjolan, dan lain-lain. Caranya itu menarik daun telinga ke atas dan ke belakang.
Setelah itu priksakan liang telinga dengan memakai senter dan kaca pembesar untuk
melihat adakah lapang atau sempit liang telinganya, ada furunkel atau tidak, ada jaringan
granulasi atau tidak, ada serum atau tidak bagaimana apakah keras atau lunak, ada sekret
atau tidak banyak atau sedikit, sifatnya encer atau kental, serous, mukoid atau purulen
dan berbau atau tidak. Terdapat benda asing atau tidak sehingga membuat radang dan
edema ataukah tidak.
Selanjutnya pemeriksaan membran timpani dengan alat otoskop dengan teknik
memegangnya seperti pensil yang akan dilihat yaitu bentuk dari membran timpani utuh
atau perforasi, adakah refleks cahaya yang terjadi, kalau ada perforasi, dibagian mananya
sentral, marginal dan bersifat subtotal atau total. Dan warna membran retraksi atau
bulging.
B.Selain itu dilakukan uji pendengaran

Pengujian dengan memakai alat garputala untuk mengetahui jenis ketulian. Apakah tuli
konduktif atau tuli perseptif ( sensorineural). Uji penala yang akan dilakukan sehari-hari adalah
uji pendengaran rinne ( untuk tuli sensorineural) dan weber ( untuk tuli konduktif). 1,2

Pemeriksaan Penunjang
Karena ini adalah suatu peradangan pada telinga maka yang perlu di lakukan yaitu,
pemeriksaan laboratorium dengan pemeriksaan darah lengkap, pemeriksaan kultur untuk
mengetahui jenis bakteri atau jamur penyebab. Pemeriksaa serologi untuk mengetahui virus
penyebab. Dan lakukan foto rontgen pada telinga untuk melihat adakah trauma atau tidak.1,2

Diagnosis Banding
a.Miringitis Bulosa
Miringitis bulosa merupakan suatu miringitis akut yang ditandai oleh adanya pembentukan
bulla pada membran timpani. Myringitis bulosa dianggap sebagai penyakit self limiting disease,
kadang-kadang menjadi rumit oleh infeksi sekunder yang purulen. Namun komplikasi serius
seperti meningoensefalitis telah dilaporkan dalam beberapa kasus yang langka. Karakteristik
gambaran klinis pasien yaitu tiba-tiba nengalami sakit telinga yang parah atau otalgia. Pada
anak-anak dengan gejala otitis media akut biasanya tidak spesifik, karena mereka tidak dapat
mengungkapkan gejala atau asal usul rasa sakit. Dalam myringitis akut otalgia sifatnya
berdenyut. Nyeri biasanya terletak di dalam telinga, tetapi dapat menyebar ke ujung mastoid,
tengkuk, temporomandibula bersama wajah.3
Pada kebanyakan pasien nyeri mereda dalam satu atau dua hari, namun beberapa keluhan
biasanya dirasakan selama tiga hari sampai empat hari. Rasa sakit tidak sepenuhnya hilang
setelah myringotomi atau setelah bulla pecah spontan. Membran timpani kembali ke keadaan
normalnya dalam dua atau tiga minggu. Otoskopi menunjukkan suatu membran timpani
meradang dengan satu atau lebih bulla. Bulla ini penuh dengan cairan bening, agak kuning atau
perdarahan.3
Beberapa bulla hampir tidak bisa dibedakan dan beberapa menempati sebagian besar membran
timpani. Bulla yang muncul paling sering pada sisi posterior atau postero inferior membran
timpani atau pada dinding kanalis posterior. Bulla ini tampaknya hanya melibatkan lapisan
subepitel dari membran timpani. Myringitis bulosa sering terdeteksi hanya unilateral sedangkan
di beberapa penelitian proporsi infeksi bilateral tersebut telah 11-33%. Jika bulla pecah maka
debit serosanguineous durasi pendek muncul di saluran telinga, kecuali keadaannya menjadi
rumit oleh invasi bakteri saat discharge menjadi purulen. Peningkatan suhu tubuh biasanya
terlihat dalam perjalanan awal myringitis tersebut. Bulla paling sering menghilang dengan
sendirinya. Dalam sebagian besar kasus bulla berlangsung tiga atau empat hari.3

Diagnosis Kerja
Otitis Media Akut stadium Supurasi
a.Defenisi OMA

Penyakit otitis media akut (OMA) dengan stadium supurasi adalah peradangan akut sebagian
atau seluruh periosteum telingan tengah. Otitis media akut adalah keadaan terdapatnya cairan
didalam telinga tengah dengan tanda dan gejala infeksi, dan dapat di sebabkan oleh berbagai
kuman patogen. Termasuk streptococcus pneumoniae, haemophilus influenzae, streptococcus
pyogenes, moraxella cataralis, virus dan anaerob tertentu. Pada neonatus organisme enterik gram
negatif dapat pula menjadi organisme penyebab.4,2

b.Stadium OMA
Stadium Oklusi Tuba Eustachius
Tanda adanya oklusi tuba eustachius ialah gambaran retraksi membrane timpani akibat
terjadinya tekanan negative didalam telinga tengah, akibat absorbs udara. Kadang-kadang
membrane timpani tampak normal (tidak ada kelainan) atau berwarna kerut pucat. Efusi
mungkin telah terjadi, tetapi tidak dapat dideteksi. Stadium ini sukar dibedakan dengan
otitis media serosa yang disebabkan oleh virus atau alergi.4,2
Stadium Hiperemis
Pada stadium hiperemis, tampak pembuluh darah yang melebar di membrane timpani
atau seluruh membrane timpani tampak hiperemis serta edem. Secret yang telah terbentuk
mungkin masih bersifat eksudat yang serosa sehingga sukar terlihat.4,2
Stadium Supurasi
Edema yang terlihat pada mukosa telinga tengah dan hancurnya sel epitel superfisial,
sehingga terbentuknya eksudat yang purulent di kavum timpani, menyebabkan membrane
timpani menonjol (bulging) kearah liang telinga luar.4,2
Pada keadaan ini pasien tampak sangat sakit, nadi dan suhu meningkat, serta rasa nyeri
ditelinga bertambah hebat. Apabila tekanan nanah di cavum timpani tidak berkurang,
maka terjadi iskemia, akibat tekanan pada kapiler-kapiler, serta timbul tromboflebitis
pada vena-vena kecil dan nekrosis mukosa dan submukosa. Nekrosis ini pada membrane
timpani terlihat sebagai daerah yang lebih lembek dan berwarna kekuningan. Ditempat
ini akan terjadi rupture. Bila tidak dilakukan insisi membrane timpani (miringotomi) pada
stadium ini, maka kemungkinan besar membrane timpani akan rupture dan nanah keluar
dari liang telinga luar. Dengan melakukan miringotomi, luka insisi akan menutup
kembali, sedangkan apabila terjadi rupture, maka lubang tempat rupture (perforasi) tidak
mungkin menutup kembali.4,2

Gambar 1.2
Stadium Perforasi
Karena beberapa sebab seperti terlambatnya pemberian antibiotika atau virulensi
kuman yang tinggi, maka akan terjadi rupture membrane timpani dan nanah keluar
mengalir dari telinga tengah ke liang telinga luar. Anak yang tadinya gelisah sekarang
menjadi tenang, suhu badab turun dan anak dapat tertidur nyenyak. Keadaan ini disebut
dengan otitis media akut stadium perforasi.4,2

Stadium Resolusi
Bila membrane timpani tetap utuh, maka keadaan membrane timpani perlahan-lahan
akan normal kembali. Bila sudah terjadi perforasi, maka secret akan berkurang dan
akhirnya kering. Bila daya tahan tubuh baik atau virulensi kuman rendah, maka resolusi
dapat terjadi walaupun tanda pengobatan. OMA berubah menjadi OMSK bila perforasi
menetap dengan secret yang keluar terus menerus atau hiang timbul. OMA dapat
menimbulkan gejala sisa (sequele) berupa otitis media serosa bila secret menetap di
cavum timpani tanpa terjadinya perforasi.4,2
Etiologi

Kuman penyebab utama OMA ialah bakteri piogenik, seperti Streptokokus hemolitikus,
Stafilokokus aureus, Pneumokokus. Selain itu kadang-kadang ditemukan juga Hemofilus
influenza, Escherichia colli, Streptokokus anhemolitikus, Proteus Vulgaris dan Pseudomonas
auregenosa. Hemofillus influenza sering ditemukan pada anak yang berusia dibawah 5 tahun.4,2

Epidemiologi

Penyebab otitis media akut (OMA) dapat merupakan virus maupun bakteri. Pada 25% pasien,
tidak ditemukan mikroorganisme penyebabnya. Virus ditemukan pada 25% kasus ada dan
kadang menginfeksi telinga tengah bersama bakteri. Bakteri penyebab otitis media tersering
adalah Streptococcus pneumoniae, diikuti oleh Haemophilus influenzae dan Moraxella
cattarhalis. Yang perlu diingat pada OMA, walaupun sebagian besar kasus disebabkan oleh
bakteri, hanya sedikit kasus yang membutuhkan antibiotik. Hal ini dimungkinkan karena tanpa
antibiotik pun saluran Eustachius akan terbuka kembali sehingga bakteri akan tersingkir bersama
aliran lendir. Dengan demikian sebagaimana halnya dengan kejadian infeksi saluran pernapasan
atas (ISPA), otitis media juga merupakan salah satu penyakit yang menjadi langganan anak-anak.
Di Amerika Serikat, diperkirakan 75% anak mengalami setidaknya satu episode otitis media
sebelum usia tiga tahun dan hampir setengah dari mereka mengalaminya tiga kali atau lebih. Di
Inggris, setidaknya 25% anak mengalami minimal satu episode sebelum usia sepuluh tahun. Di
negara tersebut otitis media paling sering terjadi pada usia 3-6 tahun.4,2

Patogenesis

Otitis media sering diawali dengan infeksi pada saluran napas (ISPA) yang diebabkan oleh
bakteri, kemudian menyebar ke telinga tengah melewati tuba eustachius. Ketika bakteri
memasuki tuba eustachius maka dapat menyebabkan infeksi dan terjadi pembengkakan,
peradangan pada saluran tersebut. Proses peradangan yang terjadi pada tuba eustachius
menyebabkan stimulasi kelenjar minyak untuk menghasilkan sekret yang terkumpul di belakang
membran timpani. Jika sekret bertambah banyak maka akan menyumbat saluran eustachius,
sehingga pendengaran dapat terganggu karena membran timpani dan tulang osikel (maleus,
incus, stapes) yang menghubungkan telinga bagian dalam tidak dapat bergerak bebas. Selain
mengalami gangguan pendengaran, klien juga akan mengalami nyeri pada telinga.4,2
Otitis media akut (OMA) yang berlangsung selama lebih dari dua bulan dapat
berkembang menjadi otitis media supuratif kronis apabila faktor higiene kurang diperhatikan,
terapi yang terlambat, pengobatan tidak adekuat, dan adanya daya tahan tubuh yang kurang
baik.4,2
Gambar 1.3

Manifestasi Klinis

Gejala klinik OMA bergantung pada stadium penyakit serta umur pasien. Pada anak yang
sudah dapat berbicara keluhan utama adalah rasa nyeri di dalam telinga, keluhan di samping
suhu tubuh yang tinggi. Biasanya terdapat riwayat batuk pilek sebelumnya. 4,2

Pada anak yang lebih besar atau pada orang dewasa, selain rasa nyeri terdapat pula gangguan
pendengaran berupa rasa penuh di telinga atau rasa kurang dengar. Pada bayi dan anak kecil
gejala OMA adalah suhu tinggi dapat sampai 39,5oC(pada stadium supurasi), anak gelisah dan
sukar tidur, tiba-tiba anak menjerit waktu tidur, diare, kejang-kejang dan kadang-kadang anak
memegang telinga yang sakit. Bila terjadi rupture membrane timpani, maka secret mengalir ke
liang telinga, suhu tubuh turun dan anak tertidur tenang.4,2
Penatalaksanaan

a. Pengobatan OMA tergantung pada stadium penyakitnya

Pada stadium oklusi pengobatan terutama bertujuan untuk membuka kembali tuba
eustachius, sehingga tekanan negative di telinga tengah hilang. Untuk ini diberikan obat
tetes hidung. HCl efedrin 0,5% dalam larutan fisiologik (anak<12 tahun) atau HCl efedrin
1% dalam larutan fisiologik untuk yang berumur di atas 12 tahun dan pada orang dewasa.
Selain itu sumber infeki harus diobati. Antibiotika diberikan apabila penyebab penyakit
adalah kuman, bukan oleh virus atau alergi.2
Terapi pada stadium presupurasi ialah antibiotika, obat tetes hidung dan analgetika.
Antibiotika yang dianjurkan ialah dari golongan penisilin intramuscular agar didapatkan
konsentrasi yang adekuat di dalam darah, sehingga tidak terjadi mastoiditis yang
terselubung, gangguan pendengaran sebagai gejala sisa, dan kekambuhan. Pemberian
antibiotika dianjurkan minimal selama 7 hari. Bila pasien alergi terhadap penisilin, maka
akan diberikan eritromisin. Pada anak, ampisilin diberikan dengan dosis 50-100 mg/kg
BB per hari, dibagi dalam 4 dosis, atau amoksisilin 40 mg/kg BB/hari dibagi dalam 3
dosis, atau eritromisin 40 mg/kg BB/hari.2
Pada stadium supurasi selain diberikan antibiotika , idealnya harus disertai dengan
miringotomi, bila membrane timpani masih utuh. Dengan miringotomi gejala-gejala
klinis lebih cepat hilang dan rupture dapat dihindari.2
Pada stadium perforasi sering terlihat secret banyak keluar dan kadang terlihat secret
keluar secara berdenyut (pulsasi). Pengobatan yang diberikan adalah obat cuci telinga
H2O2 3% selama 3-5 hari serta antibiotika yang adekuat. Biasanya secret akan hilang dan
perforasi dapat menutup kembali dalam waktu 7-10 hari.2
Pada stadium resolusi, maka membrane timpani berangsur normal kembali, secret tidak
ada lagi dan perforasi membrane timpani menutup. Bila tidak terjadi resolusi biasanya
akan tampak secret mengalir diliang telinga luar melalui perforasi dimembran timpani.
Keadaan ini dapat disebabkan karena berlanjutnya edema mukosa telinga tengah. Pada
keadaan demikian dapat dilanjutkan sampai 3 minggu. Bila 3 minggu setelah pengobatan
secret masih tetap banyak, kemungkinan telah terjadi mastoiditis.2
Bila OMA berlanjut dengan keluarnya secret dari telinga tengah lebih dari 3 minggu,
maka keadaan ini disebut otitis media supuratif sub akut. Bila perforasi menetap dan
secret tetap keluar lebih dari satu setengah bulan atau dua bulan, maka keadaan ini
disebut otitis media supuratif kronik (OMSK). Pada pengobatan OMA terdapat beberapa
factor risiko yang dapat menyebabkan kegagalan terapi. Risiko tersebut digolongkan
menjadi risiko tinggi kegagalan terapi dan risiko rendah.2

b.Miringotomi

Miringotomi ialah tindakan insis pada pars tensa membrane timpani, agar terjadi drenase
secret dari telinga tengah ke liang telinga luar. Istilah miringotomi sering dikacaukan dengan
parasentesis. Timpanosintesis sebetulnya berarti pungsi pada membrane timpani untuk
mendapatakan secret guna pemeriksaan mikrobiologik(dengan semprit dan jarum khusus).2

Miringotomi merupakan tindakan pembedahan kecil yang dilakukan dengan syarat tindakan ini
harus dilakukan secara a-vue(dilihat langsung), anak harus tenang dan dapat dikuasai, sehingga
membrane timpani dapat dilihat dengan baik. Lokasi miringotomi ialah di kuadran posterior-
inferior. Untuk tindakan ini haruslah memakai lampu kepala yang mempunyai sinar cukup
terang, memakai corong telinga yang sesuai dengan besar liang telinga, dan pisau
khusus(miringotomi) yang digunakan berukuran kecil dan steril.2

Komplikasi

Apabila tidak diobati dengan cepat dan tepat, Otitis Media Akut dapat berkembang menjadi
Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK) dengan robekan gendang telinga menetap yang disertai
nanah yang keluar terus menerus atau hilang timbul. Apabila infeksi telinga berlangsung terus-
menerus, OMSK dapat menimbulkan kerusakan pada tulang pendengaran yang dapat
menimbulkan abses sub-periosteal, mastoiditis akut, dan Paralisis Nervus fasialis.5
Prognosis

OMA saat dapat di deteksi secara dini dan melakukan pengobatan yang tepat dan benar, maka
akan memberikan hasil yang baik. Bila di bandingkan dengan keterlambatan serta pemberian
pengobatan yang tidak adekuat pada OMA maka akan memberikan hasil yang buruk.5

Kesimpulan
Anak anak di bawah usia 5 tahun paling sering terkena penyakit otitis media akut. Untuk itu
bagi setiap orang tua harus lebih peka untuk memperhatikan setiap gejala sakit yang timbul pada
anak, agar segera di periksa dan di obati. Maka tidak terjadi komplikasi yang berat.
Sesuai dengan kasus yang kita bahas bersama maka, hipotesis tentang anak tersebut ialah benar
bahwa menderita penyakit otitis media akut pada stadium supurasi.

Daftar Pustaka

1. P. van den Broek, L. Feenstra: Buku saku ilmu kesehatan, hidung, dan telinga. Edisi 12.
Jakarta: EGC, 2009. Hal 1-2.

2. Sopardi AE, dkk. Buku Ajar ilmu kesehatan: telinga, hidung, tenggorok, kepala, dan
leher.Edisi 7. Jakarta: Balai penerbit FK UI; 2012. Hal 58-62

3. Di unduh dari : http://emedicine.medscape.com/article/858558-overview#a5 19 Maret


2017

4. Di unduh dari : http://mediskus.com/penyakit/otitis-media-akut-gejala-penyebab-


penatalaksanaan 19 Maret 2017

5. Hashisaki GT. Complications of chronic otitis media. In: Canalis RF Lambert PR.
eds. The Ear: Comprehensive Otology. Lippincott; 2011