Anda di halaman 1dari 3

Diagnosis Skizofrenia Dalam DSM V dan Pengaruhnya pada

Penatalaksanaan Klinis
Definisi

Skizofrenia adalah deskripsi sindrom dengan variasi penyebab dan


perjalanan penyakit yang luas, serta sejumlah akibat yang tergantung pada
pertimbangan genetic, fisik dan sosial budaya. Skizofrenia merupakan sebuah
sindrom klinis dengan psikopatologi yang bervariasi dan sangat mengganggu yang
melibatkan fungsi kognitif, emosi, persepsi dan aspek lain dari perilaku.

Sejarah

Deskripsi tertulis mengenai gejala-gejala yang didapatkan saat ini pada


pasien dengan skizofrenia sudah dijelaskan oleh dokter-dokter Yunani dimana
pasien mengalami waham kebesaran, waham paranoia, dan penurunan fungsi
kognitif dan kepribadian. Benedict Morel (1809-1873) menggunakan istilah
demence pracoce untuk mendeskripsikan pasien yang perjalanan penyakitnya
dimulai pada masa remaja.

Emil Karepelin (1856-1926) mengartikan istilah demence pracoce menjadi


dementia precox, yang menekankan perubahan kognitif (demensia) dan awitan dini
(prekok) pada gangguan ini. Pasien dengan dementia precox dideskripsikan
memiliki perjalanan penyakit jangka panjang yang memburuk dengan gejala
halusinasi dan delusi.

Eugene Bleuler (1857-1939) pertama kali menggunakan istilah skizofrenia,


yang menggantikan dementia precox, dalam literature. Bleuler menjelaskan adanya
keretakan antara pikiran, emosi dan perilaku pada pasien dengan gangguan ini, dan
menekankan bahwa skizofrenia tidak harus mempunyai perjalanan penyakit yang
memburuk.

Bleuler mengidentifikasi gejala-gejala primer skizofrenia, yaitu gangguan


asosiasi pikiran, terutama asosiasi longgar, gangguan agektif, autism dan
ambivalensi (The Four As), dan gejala-gejala sekunder skizofrenia yaitu waham
dan halusinasi.
Epidemiologi

Skizofrenia merupakan gangguan psikotik yang paling sering ditemukan,


hamper 1% penduduk dunia menderita gangguan ini selama hidup mereka. Gejala
biasanya muncul pada usia remaja atau dewasa muda, awitan untuk laki-laki
berkisar antara 15-25 tahun dan 25-35 tahun untuk perempuan.

Angka fertilitas orang dengan skizofrenia sama dengan populasi umum, dan
terdapat peningkatan resiko sepuluh kali lebih besar bagi relasi tingkat pertama
dari orang dengan skizofrenia untuk mengalami gangguan tersebut.

Orang dengan skizofrenia lebih sering terlahir pada musim dingin dan awal
musim semi. Hal ini mungkin disebabkan oleh factor-faktor yang spesifik seperti
sebuah virus atau perubahan diet musiman. Ada beberapa studi yang menyatakan
bahwa komplikasi dalam masa kehamilan dan proses kelahiran, paparan terhadap
epidemi influenza atau gizi buruk maternal pada saat kehamilan, berpengaruh
terhadap etiologi skizofrenia melalui proses perkembangan neuro yang patologis,
namun mekanisme patofisiologinya yang spesifik masih belum diketahui.

Etiologi

Faktor Genetik:

Kemungkinan seseorang mengalami skizofrenia berkorelasi dengan


hubungannya dengan seorang relasi dengan gangguan tersebut (tingkat pertama).
Namun, tidak semua individu yang rentan secara genetic akan berkembang
menjadi skizofrenia. Telah ditemukan bahwa seseorang yang lahir dengan ayah
diatas usia 60 tahun rentan mengalami gangguan tersebut, hal ini mungkin
diakibatkan oleh kerusakan genetik dalam spermatogenesis pada pria yang berusia
lebih tua.

Faktor Biokimia:

Hipotesa Dopamin

Hipotesa dopamine menempatkan skizofrenia sebagai akibat dari terlalu


banyak aktivitas dopaminergik. Teori ini dikembangkan dari dua observasi,
pertama, efikasi dan potensi dari obat antipsikotik yang merupakan antagonis
reseptor dopamine, berkorelasi dengan kemampuannya untuk bekerja pada reseptor
dopamine tipe 2 (D2). Yang kedua, zat-zat yang meningkatkan aktivitas
dopaminergik seperti kokain dan amfetamin bersifat psikotomimetik.

Teori ini tidak mengelaborasi apakah hiperaktivitas dopaminergik ini


disebabkan oleh terlalu banyaknya pelepasan dopamine, terlalu banyaknya reseptor
dopamine, hipersensitifitas reseptor dopamine terhadap dopamine atau kombinasi
ketiga mekanisme tersebut.

Serotonin:

Hipotesa saat ini menempatkan ekses serotonin sebagai penyebab gejala-


gejala positif dan negative pada skizofrenia. Hal ini divalidasi oleh kerja antagonis
serotonin Clozapine dan antipsikotik golongan dua lainnya dalam mengurangi
gejala positif pada pasien kronik.

asd