Anda di halaman 1dari 13

BAB I

KONSEP DASAR MEDIK


A. Definisi
Kista ovarii adalah suatu pertumbuhan abnormal jaringan pada
ovarium yang berbentuknya bulat, berisi cairan, biasanya bertangkai, dan
bisa tumbuh terus menjadi besar, jumlahnya dapat single maupun
multiple, dapat terjadi pada satu sisi atau dapat juga di kedua sisi kanan
kiri ovarium. Ovarium mempunyai potensial besar untuk menjadi tumor
neoplastik dan keganasaan, tumor neoplastik dapat bersifat kistik ovarii
dan solid tumor ovarii (Willam, 2007).
Kista ovarii merupakan benjolan yang berada di ovarium yang
dapat mengakibatkan pembesaran pada abdomen bagian bawah, dimana
pada kehamilan yang disertai kista ovarii seolah-olah terjadi perlekatan
ruang bila kehamilan mulai membesar (Prawirohadjo, 2010)..
Kista ovary merupakan suatu tumor, baik yang kecil maupun yang
besar, kistik atau padat, jinak atau ganas. Dalam kehamilan tumor
ovarium yang dijumpai yang paling sering adalah kista dermonal, kista
coklat atau kista lutein, tumor ovarium yang cukup besar dapat
disebabkan kelainan letak janin dalam rahim atau dapat menghalang-
halangi masuknya kepala kedalam panggul (Winjosastro. Et.all 2011
dalam Nurarif dan Hardhi 2015)
Jadi, dapat disimpulkan kista ovarium adalah kantong abnormal
yang berisi cairan atau neoplasma yang timbul di ovarium yang bersifat
jinak juga dapat menyebabkan keganasan.

B. Sifat Kista
1. Kista Fisiologis
Kista yang bersifat fisiologis lazim terjadi dan itu normal normal saja.
Sasuai suklus menstruasi, di ovarium timbul folikel dan folikelnya
berkembang, dan gambaranya seperti kista. Biasanya kista tersebut
berukuran dibawah 5 cm, dapat dideteksi dengan menggunakan
pemeriksaan USG, dan dalam 3 bulan akan hilang. Jadi ,kista yang
bersifat fisiologis tidak perlu operasi, karena tidak berbahaya dan tidak

1
menyebabkan keganasan, tetapi perlu diamati apakah kista tersebut
mengalami pembesaran atau tidak. Kista yang bersifat fisiologis ini
dialami oleh orang di usia reproduksi karena dia masih mengalami
menstruasi. Bila seseorang diperiksa ada kista, jangan takut dulu,
karena mungkin kistanya bersifat fisiologis. Biasanya kista fisiologis
tidak menimbulkan nyeri pada saat haid.
2. Kista Patologis (Kanker Ovarium)
Kista ovarium yang bersifat ganas disebut juga kanker ovarium.
Kanker ovarium merupakan penyebab kematian terbanyak dari semua
kanker ginekologi. Angka kematian yang tinggi karena penyakit ini
pada awalnya bersifat tanpa gejala dan tanpa menimbulkan keluhan
apabila sudah terjadi metastasis, sehingga 60-70% pasien dating pada
stadium lanjut, penyakit ini disebut juga sebagai silent killer. Angka
kematian penyakit ini di Indonesia belum diketahui dengan pasti.

C. Klasifikasi
1. Kista Folikel. Kista ini berasal dari
folikel de graf yang tidak sampai ber-
ovulasi namun tubuh terus menjadi
kista folikel, atau dari beberapa
folikel primer yang setelah tumbuh di
bawah pengaruh estrogen tidak
mengalami proses atresia yang lazim melainkan menjadi kista.
2. Kista Korpus Luteum. Dalam
keadaan normal korpus luteum
lambat laun mengecil dan menjadi
korpus albikans kadang-kadang
korpus luteum mempertahankan diri
(korpus luteum porsistens),
perdarahan yang sering terjadi di
dalamnya menyebabkan terjadinya kista dan berisi cairan yang
berwarna merah coklat karena darah tua.

2
3. Kista Teka Lutein. Kista ini biasanya bilateral dan bisa menjadi sebesar
tinju, tumbuhnya kista ini ialah akibat pengaruh hormon
koriongonadrotopin yang berlebihan dan dengan hilangnya mola atau
koreokarsinoma, ovarium mengecil spontan.
4. Kista Inkulsi Germinal. Kista ini menjadi karena invaginasi dan isolasi
bagian-bagian kecil dari epitel germinatikum pada permukaan
ovarium.
5. Kista Endometrium. Kista ini akibat
dari peradangan endometrium yang
berlokasi di ovarium.
6. Kista Stein Lavental. Kista ini kiranya
di sebabkan oleh gangguan
keseimbangan hormonal.
7. Kistoma Ovari Simplek. Kista ini
mempunyai permukaan rata dan halus, biasanya bertangkai, sering kali
bilateral dan dapat menjadi besar, di duga bahwa kista ini suatu jenis
kistodenoma serosum yang kehilangan epitel kelenjarnya berhubungan
dengan adanya tekanan cairan di dalam kista.
8. Kistadenoma Ovari Musinosim. Asal kista ini belum jelas di ketahui
dengan pasti, ada penulis yang berpendapat bahwa kista ini dari epitel
germinatikum.
9. Kistadenoma Ovari Serosum. Kista ini berasal dari epitel
germinatikum (permukaaan Ovarium).
10. Kista Dermoid. Kista ini di duga berasal dari sel telur melalaui proses
partogenesis (Wiknjosastro et al, 2008)

D. Proses Terjadinya Masalah


1. Faktor Presipitasi
Kista ovarium disebabkan oleh gangguan pembentukan hormon pada
hipotalamus, hipofisis dan ovarium (Nugroho, 2010).
2. Faktor Predisposisi
Beberapa teori menyebutkan bahwa penyebab tumor adalah bahan
karsinogen seperti rokok, bahan kimia, sisa-sisa pembakaran zat arang,
bahan-bahan tambang (Nugroho, 2010).
Beberapa faktor resiko berkembangnya kista ovarium, adalah wanita
yang biasanya memiliki:

3
a. Gaya hidup tidak sehat
Gaya hidup yang tidak sehat dapat memicu terjadinya penyakit
kista ovarium. Resiko kista ovarium fungsional meningkat dengan
merokok, resiko dari merokok mungkin meningkat lebih lanjut
dengan indeks massa tubuh menurun. Selain dikarenakan merokok
pola makan yang tidak sehat seperti konsumsi tinggi lemak, rendah
serat, konsumsi zat tambahan pada makanan, konsumsi alkohol
dapat juga meningkatkan resiko penderita kista ovarium (Bustami,
2011).
b. Riwayat kista terdahulu dan pada keluarga (keturunan)
Kista merupakan penyakit degeneratif atau bersifat keturunan.
Didalam tubuh kita memiliki gen-gen yang dapat berpotensi
memicu kanker, yaitu disebut dengan proto onkogen, karena suatu
sebab tertentu misalnya makanan yang bersifat karsinogen, polusi,
terpapar zat kimia atau karena radiasi, proto onkogen ini dapat
berubah menjadi onkogen, yaitu gen pemicu kanker.
c. Penderita kanker payudara yang pernah menjalani
kemoterapi (tamoxifen)
Tamoxifen dapat menyebabkan kista ovarium fungsional jinak,
biasanya selama menjalani kemoterapi biasanya dilakukan
penghentian pengobatan tersebut (William,2007).
d. Gangguan siklus menstruasi
Gangguan siklus menstruasi dengan jangka waktu yang sangat
pendek atau lebih panjang harus diwaspadai. Menstruasi di usia
dini yaitu 11 tahun atau lebih muda merupakan faktor resiko
berkembangnya kista ovarium, wanita dengan siklus menstruasi
tidak teratur juga merupakan faktor resiko kista ovarium
(Manuaba, 2010).
e. Pengobatan infertilitas
Pasien dirawat karena infertilitas dengan induksi ovulasi dengan
gonadotropin atau agen lainnya, seperti clomiphene citrate atau
letrozole dapat mengembangkan kista sebagai bagian dari sindrom
hiperstimulasi ovarium (William, 2007).
f. Pemakaian alat kontrasepsi hormonal

4
Wanita yang menggunakan alat kontrasepsi hormonal juga
merupakan faktor resiko kista ovarium, yaitu pada wanita yang
menggunakan alat kontrasepsi hormonal berupa implant, akan
tetapi pada wanita yang menggunakan alat kontrasepsi hormonal
berupa pil cenderung mengurangi resiko terkena kista ovarium.

3. Manifestasi klinik
Menurut Wiknjosastro et al. (2008), kebanyakan wanita yang memiliki
kista ovarium tidak memiliki gejala. Namun, kadang-kadang kista
dapat menyebabkan beberapa masalah seperti:
a. Bermasalah dalam pengeluaran urin secara komplit
b. Nyeri selama hubungan seksual
c. Massa di perut bagian bawah dan biasanya bagian-bagian organ
tubuh lainnya sudah terkena.
d. Gangguan nafsu makan
e. Nyeri hebat saat menstruasi dan gangguan siklus menstruasi.
f. Wanita post monopouse: nyeri pada daerah pelvic, disuria,
konstipasi atau diare, obstruksi usus dan asietas.

4. Pemeriksaan penunjang
Menurut Prawirohardjo (2010), menyatakan bahwa apabila pada
pemeriksaan ditemukan kista di rongga perut bagian bawah dan atau di
rongga panggul, maka setelah diteliti sifat-sifatnya (besarnya,
lokalisasi, permukaan, konsistensi, apakah dapat digerakkan atau
tidak), maka perlu ditentukan jenis kista tersebut. Dalam penegakan
diagnosa dapat dibantu dengan pemeriksaan lanjutan yang berupa:
a. Laparaskopi yaitu pemeriksaan ini sangat berguna untuk
mengetahui apakah sebuah kista berasal dari ovarium atau tidak,
serta untuk menentukan sifat-sifat kista.
b. Ultrasonografi yaitu dengan pemeriksaan ini dapat ditentukan letak
dan batas kista, apakah kista berasal dari uterus, ovarium, atau
kandung kencing, apakah kista atau solid, dan dapat pula
dibedakan antara cairan dalam rongga perut yang bebas dan yang
tidak.

5
c. Foto Rontgen yaitu pemeriksaan ini berguna untuk menentukan
adanya hidrotoraks. Selanjutnya, pada kista dermoid kadang-
kadang dapat dilihat adanya gigi dalam kista.
d. Parasentesis yaitu pungsi asites berguna untuk menentukan sebab
asites.
Perlu diperhatikan bahwa tindakan tersebut dapat mencemarkan
kavum peritonia dengan isi kista bila dinding kista tertusuk.

5. Komplikasi
Menurut Manuaba (2010), ada beberapa komplikasi yang terjadi pada
kista ovarii serta akibat dari komplikasi tersebut, sebagai berikut :
a. Perdarahan dalam kista
1) Perlahan menimbulkan rasa sakit
2) Mendadak terjadi nyeri akut pada abdomen
b. Torsi tangkai kista
1) Terjadi saat hamil atau pascapartum
2) Terjadi nyeri akut pada abdomen
c. Robekan dinding kista
1) Trauma langsung pada kista ovarii
2) Terjadi saat torsi kista
3) Menimbulkan perdarahan dan nyeri akut pada abdomen
d. Infeksi kista
1) Menimbulkan gejala dolor, kolor, dan fungsiolessa
2) Perut terasa tegang dan panas
3) Pemeriksaan laboratorium menunjukan adanya infeksi
(peningkatan angka leukosit)
e. Degenerasi ganas
1) Keganasan ovarium silent killer. Diketahui setelah stadium
lanjut sedangkan perubahannya tidak jelas.
Gejala keganasan kista ovarii :
a) Tumor cepat membesar
b) Berbenjol-benjol
c) Terdapat asites (pembesaran abdomen)
d) Tubuh bagian atas kering sedangkan bagian bawah terjadi
edema tungkai
f. Sindrom meig dan sindrom pseudo meig
1) Asites hidrothorak
2) Fibroma ovarii

6. Penatalaksanaan
Menurut Manuaba (2010), prinsip-prinsip dalam tatalaksana kista
ovarii adalah sebagai berikut :

6
a. Operasi untuk pengambilan tumor atau kista.
1) Karena kista dapat bertambah ukurannya menjadi besar.
2) Kemungkinan terjadi degenerasi ganas.
b. Saat operasi dapat didahului frozen section, untuk kepastian ganas
dan tindakan operasi lebih lanjut.
c. Hasil operasi harus dilakukan pemeriksaan PA (patologi anatomi),
sehingga kepastian klasifikasi tumor dapat ditetapkan untuk
menentukan terapi.
d. Operasi tumor atau kista ganas diharapkan debulking
(sitoreductive).
1) Pengambilan sebanyak mungkin jaringan tumor sampai dalam
batas aman, diameter sekitar 2 cm.
2) Lakukan TAH (Total Abdominal Histerektomi) dan Bil
OS omentektomi.
e. Setelah mendapatkan radiasi atau kemoterapi dapat dilakukan
operasi kedua, untuk mengambil sebanyak mungkin jaringan
tumor.

E. Diagnosa Keperawatan
Menurut Nugroho (2010), diagnosa yang dapat ditegakkan dalam kasus
kista ovarii, sebagai berikut :
1. Nyeri Akut Berhubungan Dengan Agen Cidera Fisik.
2. Defisit Perawatan Diri : Mandi Berhubungan Dengan Nyeri.
3. Resiko Infeksi Berhubungan Dengan Prosedur Tindakan Invasif.
4. Perubahan Nutrisi Kurang Dari Kebutuhan Berhubungan Dengan
Ketidakmampuan Mencerna Nutrisi Oleh Karena Faktor Biologis,
Psikologis Dan Ekonomi.
5. Resiko Konstipasi Berhubungan Dengan Pembedahan Abdominal.

7
F. Intervensi Keperawatan
Intevensi keperawatan dalam buku NIC NOC (2015 2017) dari

Bulechek (2016) sebagai berikut :

1. Nyeri Akut Berhubungan Dengan Agen Cidera Fisik


RENCANA KEPERAWATAN

Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi

NOC : NIC :
1. Lakukan pengkajian nyeri secara
1.Pain level komprehensif termasuk lokasi,
2.Pain control karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas
3.Comfort level dan faktor presipitasi
Setelah dilakukan tinfakan 2. Observasi reaksi nonverbal dari
keperawatan selama . Pasien tidak ketidaknyamanan
mengalami nyeri, dengan kriteria hasil: 3. Bantu pasien dan keluarga untuk
a. Mampu mengontrol nyeri (tahu mencari dan menemukan dukungan
penyebab nyeri, mampu 4. Kontrol lingkungan yang dapat
menggunakan tehnik mempengaruhi nyeri seperti suhu
nonfarmakologi untuk mengurangi ruangan, pencahayaan dan kebisingan
nyeri, mencari bantuan) 5. Kurangi faktor presipitasi nyeri
b. Melaporkan bahwa nyeri 6. Kaji tipe dan sumber nyeri untuk
berkurang dengan menggunakan menentukan intervensi
manajemen nyeri 7. Ajarkan tentang teknik non
c. Mampu mengenali nyeri (skala, farmakologi: napas dala, relaksasi,
intensitas, frekuensi dan tanda distraksi, kompres hangat/ dingin
nyeri) 8. Berikan analgetik untuk mengurangi
nyeri:...
d. Menyatakan rasa nyaman setelah 9. Tingkatkan istirahat
nyeri berkurang 10.Berikan informasi tentang nyeri seperti
e. Tanda vital dalam rentang normal penyebab nyeri, berapa lama nyeri akan
f. Tidak mengalami gangguan tidur berkurang dan antisipasi
ketidaknyamanan dari prosedur
11. Monitor vital sign sebelum dan sesudah
pemberian analgesik pertama kali

8
2. Defisit Perawatan Diri : Mandi Berhubungan Dengan Nyeri.
RENCANA KEPERAWATAN

Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi

NOC : NIC :

1. Self care : Activity of Daily Living Self Care assistane : ADLs


(ADLs) 1. Monitor kemempuan klien untuk
Setelah dilakukan tindakan keperawatan perawatan diri yang mandiri
selama . Defisit perawatan diri teratas 2. Monitor kebutuhan klien untuk alat-alat
dengan kriteria hasil: bantu untuk kebersihan diri,
a. Klien terbebas dari bau badan berpakaian, berhias, toileting dan
b. Menyatakan kenyamanan makan
terhadap kemampuan untuk 3. Sediakan bantuan sampai klien mampu
melakukan ADLs secara utuh untuk melakukan self-care.
c. Dapat melakukan ADLS dengan 4. Dorong klien untuk melakukan
bantuan aktivitas sehari-hari yang normal sesuai
kemampuan yang dimiliki
5. Dorong untuk melakukan secara
mandiri, tapi beri bantuan ketika klien
tidak mampu melakukannya
6. Ajarkan klien/ keluarga untuk
mendorong kemandirian, untuk
memberikan bantuan hanya jika pasien
tidak mampu untuk melakukannya
7. Berikan aktivitas rutin sehari- hari
sesuai kemampuan
8. Pertimbangkan usia klien jika
mendorong pelaksanaan aktivitas
sehari-hari

9
3. Resiko Infeksi Berhubungan Dengan Prosedur Tindakan Invasif.
RENCANA KEPERAWATAN

Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi

NOC : NIC :

1. Immune Status 1. Pertahankan teknik aseptif


2. Knowledge : Infection control 2. Batasi pengunjung bila perlu
3. Risk control 3. Cuci tangan setiap sebelum dan sesudah
Setelah dilakukan tindakan keperawatan tindakan keperawatan
selama pasien tidak mengalami 4. Gunakan baju, sarung tangan sebagai
infeksi dengan kriteria hasil: alat pelindung
a. Klien bebas dari tanda dan gejala 5. Ganti letak IV perifer dan dressing
infeksi sesuai dengan petunjuk umum
b. Menunjukkan kemampuan untuk 6. Gunakan kateter intermiten untuk
mencegah timbulnya infeksi menurunkan infeksi kandung kencing
c. Jumlah leukosit dalam batas 7. Tingkatkan intake nutrisi
normal 8. Berikan terapi antibiotik:........
d. Status imun, gastrointestinal, 9. Monitor tanda dan gejala infeksi
genitourinaria dalam batas sistemik dan lokal
normal 10.Pertahankan teknik isolasi k/p
11.Inspeksi kulit dan membran mukosa
terhadap kemerahan, panas, drainase
12.Monitor adanya luka
13.Dorong masukan cairan
14.Dorong istirahat
15.Ajarkan pasien dan keluarga tanda dan
gejala infeksi
16.Kaji suhu badan pada pasien
neutropenia setiap 4 jam

10
4. Perubahan Nutrisi Kurang Dari Kebutuhan Berhubungan Dengan
Ketidakmampuan Mencerna Nutrisi Oleh Karena Faktor Biologis,
Psikologis Dan Ekonomi.
RENCANA KEPERAWATAN

Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi

NOC: NIC :

1. Nutritional status: Adequacy of 1. Kaji adanya alergi makanan


nutrient 2. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk
2. Nutritional Status : food and Fluid menentukan jumlah kalori dan nutrisi
Intake yang dibutuhkan pasien
3. Weight Control 3. Yakinkan diet yang dimakan
Setelah dilakukan tindakan keperawatan mengandung tinggi serat untuk
selama.nutrisi kurang teratasi dengan mencegah konstipasi
kriteria hasil: 4. Ajarkan pasien bagaimana membuat
a. Albumin serum catatan makanan harian
b. Pre albumin serum 5. Monitor adanya penurunan BB dan
c. Hematokrit gula darah
d. Hemoglobin 6. Monitor lingkungan selama makan
e. Total iron binding capacity 7. Jadwalkan pengobatan dan tindakan
f. Jumlah limfosit tidak selama jam makan
8. Monitor turgor kulit
9. Monitor kekeringan, rambut kusam,
total protein, Hb dan kadar Ht
10. Monitor mual dan muntah
11. Monitor pucat, kemerahan, dan
kekeringan jaringan konjungtiva
12. Monitor intake nuntrisi
13. Informasikan pada klien dan keluarga
tentang manfaat nutrisi
14. Kolaborasi dengan dokter tentang
kebutuhan suplemen makanan seperti
NGT/ TPN sehingga intake cairan yang
adekuat dapat dipertahankan
15. Atur posisi semi fowler atau fowler
tinggi selama makan
16. Kelola pemberan anti emetik:....
17. Anjurkan banyak minum
18. Pertahankan terapi IV line

11
5. Resiko Konstipasi Berhubungan Dengan Pembedahan Abdominal.
RENCANA KEPERAWATAN

Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi

NOC: NIC :

1. Bowl Elimination 1. Manajemen konstipasi


2. Hidration 2. Identifikasi faktor-faktor yang
Setelah dilakukan tindakan keperawatan menyebabkan konstipasi
selama . Konstipasi pasien teratasi 3. Monitor tanda-tanda ruptur
dengan kriteria hasil: bowel/peritonitis
a. Pola BAB dalam batas normal 4. Jelaskan penyebab dan rasionalisasi
b. Feses lunak tindakan pada pasien
c. Cairan dan serat adekuat 5. Konsultasikan dengan dokter tentang
d. Aktivitas adekuat peningkatan dan penurunan bising usus
e. Hidrasi adekuat 6. Kolaburasi jika ada tanda dan gejala
konstipasi yang menetap
7. Jelaskan pada pasien manfaat diet
(cairan dan serat) terhadap eliminasi
8. Jelaskan pada klien konsekuensi
menggunakan laxative dalam waktu
yang lama
9. Kolaburasi dengan ahli gizi diet tinggi
serat dan cairan
10. Dorong peningkatan aktivitas yang
optimal
11. Sediakan privacy dan keamanan selama
BAB

12
DAFTAR PUSTAKA

Bustami. 2011. Penjaminan Mutu Pelayanan Kesehatan &


Akseptabilitasnya. Jakarta: Erlangga.

Bulechek, Gloria, dkk. 2016. Nursing Intervensi Classification (NIC) Edisi


Bahasa Indonesia. Singapore: Elsevier Singapore

Henderson, Christin J. 2005. Buku Ajar Konsep Kebidanan. Jakarta: EGC.

Manuaba, Ida Bagus Gede. 2010. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan & KB.
Jakarta: EGC.

Nugroho, Taufan. (2010). Kesehatan Wanita, Gender dan Permasalahannya.


Jogjakarta: Nuha Medika.

Nurarif Amin dan Hardhi Kusuma. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan


Berdasarkan Diagnosa Medis & NANDA NIC-NOC Edisi Revisi Jilid 1.
Jogjakarta: Mediaction

Prawirohardjo, Sarwono. 2010. Ilmu Kebidanan. Jakarta: PT Bina Pustaka.

Prawirohardjo, Sarwono. 2010. Ilmu Kebidanan. Jakarta: PT Bina Pustaka.

Wiknjosastro, H., Saifuddin, A.B., Rachimhadhi, T. (eds). 2008. Ilmu Kandungan.


Edisi 2. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo

Wiknjosastro, Prawirohardjo. 2005. Ilmu Kebidanan. Yogyakarta: Yayasan Bina


Pustaka

William Helm, C, 2007. American College of Obstetricians and Gynecologists


(online) http://emedicine.com diakses pada tanggal 11 Juli 2017

13