Anda di halaman 1dari 31

Lampiran Peraturan Direktur

Santosa Hospital Bandung Central


Nomor : /PER/DIR/SHBC/
/....
Tentang Pedoman Pengorganisasian
Instalasi Gawat Darurat

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Instalasi Gawat Darurat (IGD) merupakan salah satu unit pendukung di rumah sakit yang
sangat penting, dan menjadi salah satu indikator keberhasilan dalam penanganan pasien
terutama pasien dengan kegawatdaruratan yang memerlukan penanganan yang cepat dan
tepat di suatu rumah sakit. IGD Santosa Hospital Bandung Central (SHBC) merupakan
lini terdepan dalam pelayanan medik dan keperawatan dengan standar profesi tertinggi
sebagai bagian dari pelayanan rumah sakit yang memberikan suasana aman, nyaman,
efektif dan efisien.

B. Landasan Hukum
1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 tahun 2009, tentang Rumah Sakit.
2. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor : 0701/YAN
MED/RSKS/GDE/VII/1991 tentang Pedoman Pelayanan Gawat Darurat.
3. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.1333/Menkes/SK/XII/1999
Standar Pelayanan Rumah Sakit.

C. Kerangka Kerja (Framework)

1
RUANG LINGKUP
1. Planning
a. Penyusunan Pedoman Instalasi Gawat Darurat.
b. Pengorganisasian Instalasi Gawat Darurat.
Koordinasi dengan :
1) Komite Medik, Komite Keperawatan & Komite Etik RS.
2) Seluruh SMF.
3) Direktorat Medik & Keperawatan.
4) KPPI, K3RS, Quality Dept, KKP-MRK.
c. Penyusunan berbagai Kebijakan dan Prosedur.
d. Penyusunan berbagai Program.
2. Do
a. Melakukan pemilahan pasien (Triage).
b. Memberikan pelayanan terhadap pasien true & false emergency.

2
c. Bekerjasama dengan staff development melakukan pelatihan-pelatihan tentang kegawat-
daruratan baik untuk karyawan maupun masyarakat sekitar.

3. Study
a. Monitoring pengumpulan data indikator mutu dan performa.
b. Monitoring pengawasan lapangan.
c. Monitoring performance alat medik & teknologi.
d. Evaluasi SDM
e. Evaluasi Prosedur (SPO) & Kebijakan
f. Evaluasi Alat (Equipment)
g. Evaluasi Standar Profesi
h. Evaluasi Managerial Process
i. Evaluasi Data Indikator Klinis
Pada prinsipnya merupakan upaya pengolahan data hasil monitoring yang dilakukan staff
IGD bersama Supervisor IGD dan atasan struktural (manajer yanmed/senior manajer
medik) secara berkala dan ditentukan oleh manajer yanmed.

3. Action
Merupakan tindak lanjut (rekomendasi dan pelaksanaan rekomendasi) dari hasil pengolahan
data pada tahap evaluasi. Wujudnya dapat berupa suatu project, program tahunan, atau revisi
dari sistem (kebijakan dan prosedur), revisi dari metode, penambahan alat, SDM dan lain
sebagainya baik dari segi kuantitas maupun kualitas.

BAB II
GAMBARAN UMUM RUMAH SAKIT

3
Hadir di Kota Bandung, terletak di Jantung Kota Jln. Kebonjati No 38 Bandung, sebagai RS
swasta pertama di bandung bertaraf internasional. Santosa Hospital Bandung Central (SHBC)
adalah fasilitas layanan kesehatan yang mulai dioperasikan pada tanggal 16 Juli 2006 dengan
nama Santosa Bandung Internasional Hospital (SBIH) yang kemudian berubah menjadi
Santosa Hospital Bandung Central (SHBC). SHBC mempunyai luas area sebesar 1.3 HA
dengan luas bangunan 36.000 m terdiri atas 8 lantai ditambah dengan landasan helikopter dan
taman penyembuhan di lantai 9 (sembilan) serta area parkir yang luas.Santosa Hospital
Bandung Central (SHBC) adalah sebuah rumah sakit dengan fasilitas layanan kesehatan
dengan peralatan yang mutakhir, terutama untuk memberikan pelayanan kesehatan yang
berkualitas tinggi berdasarkan keselamatan pasien dan penyempurnaan berkesinambungan
kepada warga Bandung dan sekitarnya.

Sebagai rumah sakit yang memberikan jasa pelayanan profesional, SHBC memandang
penting sumber daya manusia sebagai daya sumber utama dalam pelayanan kami. Oleh
karena itu kami mempunyai komitmen yang kuat untuk selalu berusaha meningkatkan
kemampuan dan profesionalisme melalui pendidikan dan pelatihan yang berkesinambungan
baik di dalam maupun di luar negeri.

4
A. Struktur Organisasi Rumah Sakit

5
6
B. Struktur Organisasi Instalasi Gawat Darurat

MEDICAL SERVICES MANAGER

ACCIDENT & EMERGENCY UNIT MEDICAL COMMITTEE


SUPERVISOR

SECRETARY

NURSE COORDINATOR AMBULANCE SERVICE EMERGENCY PHYSICIAN

LOGISTICS & EQUIPMENT AMBULANCE DRIVERS QUALITY&OCC SAFETY

C. Uraian Tugas
HOUSEKEEPING OBSERVATION ROOM TRAUMA TEAM
1. Supervisor IGD
Tugas & Wewenang
a. Menyusun
NURSING STAFF perencanaan,TRAINING&DEVELOPMEN
pengorganisasian dan staffingPEDIATRIC
kegawatdarutan termasuk
& NEONATAL
T
terlibat dalam penyusunan kriteria staf profesional IGD serta proses perekrutan
staf.
b. Memimpin operasional sehari hari Instalasi Gawat Darurat.
c. Melakukan monitoring terhadap kinerja dan mutu dari pelayanan dan staf IGD serta
mengetahui dan berpartisipasi dalam program peningkatan mutu dan keselamatan
pasien di SHBC.
d. Melakukan evaluasi dan merencanakan tindak lanjut perbaikan berdasarkan hasil
evaluasi kinerja dan mutu dari pelayanan dan staf Instalasi Gawat Darurat.
e. Mengetahui dan berpartisipasi dalam program pencegahan dan pengendalian
infeksi serta keselamatan kerja SHBC.
f. Menjadi Koordinator Penanggulangan bencana dari Tim K3RS SHBC.

7
g. Melakukan koordinasi baik intern Instalasi Gawat Darurat maupun dengan
struktur lain (manajerial maupun klinis).
h. Membuat perencanaan pengembangan staf di Instalasi Gawat Darurat.

2. Koordinator Perawat IGD


Tugas & Wewenang
a. Melakukan perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, monitoring dan
evaluasi di bidang performance dan mutu pelayanan keperawatan gawat darurat.
b. Membantu Supervisor IGD dalam mengawasi kelancaran Pelayanan IGD.
c. Mengatur penjadwalan pelatihan staf keperawatan IGD sesuai dengan program
pengembangan kualitas SDM IGD yang ada.
d. Memantau dan membuat evaluasi kerja perawat di IGD untuk kemudian
diajukan ke supervisor IGD.

3. Dokter IGD
Tugas & Wewenang
a. Melakukan tugas kedokteran sesuai dengan SPO, Standar Profesi Medik Gawat
Darurat dan Kode Etik Kedokteran.
b. Melakukan pembinaan dan petunjuk kepada perawat IGD saat bertugas.
c. Mengisi laporan dinas baik dalam bentuk buku maupun di komputer, yang
disediakan.
d. Menjadi pimpinan sementara tim penanggulangan bencana rumah sakit sampai
tim sebenarnya di bawah koordinator penanggulangan bencana tim K3RS
datang di RS.
e. Berkonsultasi ke dokter spesialis jika ada kasus yang di luar kemampuan/
kompetensinya.

8
f. Selalu ingin belajar mengembangkan ilmu pengetahuan dan ketrampilannya,
sesuai dengan Evidence-based Medicine.
g. Merespon panggilan darurat jika terjadi kondisi gawat darurat di luar rumah
sakit yang memerlukan penanganan oleh dokter dan perawat.
h. Melakukan tugas kedokteran seperti : anamnesa, pemeriksaan fisik, diagnosa,
melakukan pemeriksaan tambahan, melakukan terapi dan tindakan bantuan
hidup dasar dan bantuan hidup lanjut.
i. Memberikan usulan perubahan standar profesi dan standar pelayanan gawat
darurat.

1. Perawat IGD
Tugas & Wewenang
a. Melakukan asuhan keperawatan yang meliputi kajian, diagnosis dan rencana
keperawatan gawat darurat serta mendokumentasikannya.
b. Melakukan instruksi dokter IGD dan berkolaborasi dengan dokter IGD dalam
pemberian pelayanan gawat darurat.
c. Melakukan pelayanan ambulan.
d. Melakukan tindakan life saving dalam keadaan dokter IGD masih
berhalangan dan dokter pengganti belum tiba.

5. Sekretaris IGD
Tugas & Wewenang
1. Menyusun pengarsipan, administrasi dan surat menyurat di IGD.
2. Membuat dokumentasi dalam bentuk laporan singkat disertai gambar-gambar
pada setiap laporan pelatihan baik internal maupun external yang diadakan
IGD.
3. Mengumpulkan, mengawasi dan mengetik jadwal dinas dokter IGD, dokter
ruangan, dokter spesialis, perawat IGD, driver ambulans, SOD, MOD,
kemudian mengawasi penulisan jadwal dinas di papan pengumuman.

9
4. Melakukan pengawasan terhadap inventaris IGD, bekerja sama dengan nurse
aid.
5. Mengawasi persiapan akreditasi dengan mengawasi kelengkapan dokumen
yang diperlukan.
6. Melakukan koordinasi langsung dengan koordinator keperawatan,
koordinator Ambulans, direktorat keperawatan, sekretariat direksi, SMF di
komite medik terutama dalam pembuatan jadwal dinas.

6. Tim Pelayanan Ambulans/Ambulance Service Team


Tugas & Wewenang
a. Menyusun perencanaan penggunaan ambulans.
b. Mereview pelaksanaan penggunaan ambulans.
c. Membuat pendokumentasian penggunaan ambulans.
d. Menyusun program upgrading/pelatihan di bidang transportasi pasien.
e. Menyusun kelengkapan transportasi pasien.
f. Mengawasi perlengkapan ambulans dan membuat mekanisme pengawasan
terhadap perlengkapan ambulans.
g. Mengusulkan strategi marketing ambulans SHBC.
h. Mengkoordinir jadwal dinas driver ambulans.

7. Tim Ruang Observasi/Observation Room Team


Tugas & Wewenang
1. Menyusun perencanaan, penggerakan dan pengawasan penggunaan ruang
observasi.
2. Menyusun kelengkapan ruang observasi.

8. Tim Trauma/Trauma Team


Tugas & Wewenang

10
Menyusun perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, monitoring dan evaluasi
mengenai penanganan trauma di IGD.

9. Tim Anak & Kelahiran/Pediatric & Neonatal Team


Tugas & Wewenang
Menyusun perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, monitoring dan evaluasi
mengenai Penanganan Kasus Pediatrik di IGD.

10. Tim Pelatihan dan pengembangan/Training&Development Team


Tugas & Wewenang
Menyusun perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, monitoring dan evaluasi
mengenai training dan development di IGD.

11. Tim Logistik dan peralatan/Logistics & Equipment Team


Tugas & Wewenang
Menyusun perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, monitoring dan evaluasi
mengenai logistik dan peralatan di IGD.

12. Tim Kerumahtanggaan/HousekeepingTeam


Tugas & Wewenang
Menyusun perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, monitoring dan evaluasi
mengenai penataan kerumah tanggaan di IGD.

11
BAB III
VISI, MISI DAN TUJUAN RUMAH SAKIT

A. Visi Misi dan Tujuan Rumah Sakit


1. Visi Rumah sakit
Menjadi rumah sakit bertaraf internasional unggulan di Indonesia.

2. Misi RS

12
a. Memberikan pelayanan medis dan keperawatan dengan standar professional
setinggi mungkin yang mengacu pada peningkatan mutu pelayanan dan
keselamatan pasien.
b. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan baik tenaga
medis maupun non medis.
c. Memberikan suasana pelayanan rumah sakit yang nyaman, ramah, efisien dan
efektif.

3. Tujuan RS
a. Menjadi Rumah sakit unggulan dalam pelayanan medis khususnya dalam bidang
kesehatan jantung dan saraf.
b. Menjadi Rumah sakit unggulan dalam bidang service excellence.
c. Menjadi Rumah Sakit dengan tingkat okupansi dan utilisasi yang tinggi: BOR
rata-rata 80% dan kunjungan rawat jalan 1000 perhari dalam jangka waktu 5
tahun.
d. Menjadi Rumah Sakit yang memiliki sumber daya manusia yang kompeten
melalui pendidikan dan pelatihan berkelanjutan.

B. Visi, Misi Dan Motto Unit Gawat Darurat /Accident & Emergency Unit
1. Visi dari Unit Gawat Darurat adalah :
Untuk menjadi Instalasi Gawat Darurat terbaik di Indonesia.

2. Misi dari Unit Gawat Darurat/Accident & Emergency Unit adalah :


a. Memberikan penanganan kegawat daruratan pasien berstandar internasional.
b. Mencapai angka kematian dan kecacatan minimal pada pasien yang datang dalam
keadaan gawat darurat.

13
c. Memberikan pelayanan transport pasien antara fasilitas dengan standar terbaik.
d. Memberikan kualitas pelayanan kedokteran, keperawatan dan administrasi terbaik
pada pasien gawat darurat.
e. Selalu mengikuti perkembangan terbaru dalam hal kedokteran dan keperawatan
gawat darurat.
f. Selalu menempatkan profesionalitas dan kepuasan konsumen sebagai prioritas
utama.
g. Motto dari Instalasi Gawat Darurat/Accident & Emergency Unit adalah Cepat,
Akurat, Aman dan Ramah/ Quick, Accurate, Safe and Friendly.

14
BAB IV
TATA HUBUNGAN KERJA

Mohon dilengkapi.

15
BAB V
RAPAT/PERTEMUAN

mohon dilengkapi.

BAB VI
POLA KETENAGAAN & KUALIFIKASI PERSONIL

A. Kualifikasi Personil

16
1. Supervisor IGD
a. Dokter dengan Pendidikan minimal Dokter Umum yang bekerja secara Purna
waktu.
b. Pernah mengikuti pelatihan penanggulangan kegawatdaruratan yang
diselenggarakan oleh kalangan profesi atau departemen kesehatan yaitu
PPGD,ATLS, ACLS, Hiperkes, dll.
c. Pengalaman minimal 3 tahun sebagai dokter di bidang gawat darurat.
d. Mempunyai Ijin kerja SIP, STR.
e. Dokter dengan Pendidikan minimal Dokter Umum yang bekerja secara Purna
waktu.
f. Pernah mengikuti pelatihan penanggulangan kegawatdaruratan yang
diselenggarakan oleh kalangan profesi atau departemen kesehatan yaitu
PPGD,ATLS, ACLS, Hiperkes, dll.
g. Pengalaman minimal 3 tahun sebagai dokter di bidang gawat darurat.
h. Mempunyai Ijin kerja SIP, STR.

2. Koordinator Perawat IGD


a. Perawat Senior dengan pendidikan minimal DIII Keperawatan.
b. Pernah mengikuti pelatihan penanggulangan kegawatdaruratan yang
diselenggarakan oleh kalangan profesi atau departemen kesehatan yaitu
PPGD, ATLS ACLS, 118 dan lain-lain.
c. Pengalaman 5 tahun sebagai perawat di Instalasi Gawat Darurat.

3. Dokter IGD
a. Dokter dengan Pendidikan minimal S1 Kedokteran Umum.
b. Pernah mengikuti pelatihan penanggulangan kegawatdaruratan yang
diselenggarakan oleh kalangan profesi atau departemen kesehatan yaitu
PPGD,ATLS, ACLS, Hiperkes, dll.
c. Pengalaman 1 tahun sebagai dokter Umum.

17
d. Mempunyai Ijin kerja SIP, STR.

4. Perawat IGD
a. Perawat dengan pendidikan minimal DIII Keperawatan.
b. Pernah mengikuti pelatihan penanggulangan kegawatdaruratan yang
diselenggarakan oleh kalangan profesi atau departemen kesehatan yaitu
PPGD,ATLS ACLS, 118 dll.
c. Pengalaman 2 tahun sebagai perawat di Instalasi Gawat Darurat.

5. Sekretaris IGD
Sekretaris IGD dijabat dengan pendidikan Minimal D3 bidang kesekretariatan,
komputer atau kesehatan masyarakat peminatan Keselamatan dan Kesehatan
Kerja (K3).

B. Distribusi Ketenagaan dan Pengaturan Jaga


1. Distribusi ketenagaan
Ketenagaan Jumlah
Supervisor IGD 1
Koordinator IGD 1
Sekertaris IGD 1
Dokter IGD 5
Perawat IGD 2
Pekarya 3

1. Pengaturan jaga
a. Pengaturan Dinas Dokter Jaga IGD
Daftar Dinas dibuat oleh Supervisor IGD.Daftar dinas untuk bulan
berikut disusun dan dibagikan kepada para dokter IGD dan koordinator
perawat IGD paling lambat tanggal 25 tiap bulannya (sudah disesuaikan
dengan jadwal cuti dan tugas belajar). Setiap hari tugas dinas dibagi
dalam 3 shift :
1) Pagi : 08.00 15.00
2) Sore : 15.00 22.00

18
3) Malam : 22.00 08.00
4) Broken : 11.00 19.00
Supervisor IGD membuat jadwal dinas dokter IGD berdasarkan sistim
rotasi dari dokter-dokter IGD. Setiap dokter bekerja 1 shift sehari dan
berturutan mulai dari shift pagi, keesokan harinya shift sore dan
keesokan harinya shift malam.

b. Pengaturan Dinas Perawat & Pekarya IGD


Koordinator Keperawatan IGD membuat daftar dinas harian setiap
bulan.Setiap hari tugas dinas dibagi dalam 3 shift :
1) Pagi : Jam 07.00 14.30
2) Sore : Jam 13.30 21.00
3) Malam : Jam 20.00 07.30
Daftar dinas dibuat 3 shift dalam sehari untuk satu bulan selambat-
lambatnya tanggal 25 dalam bulan berjalan, dimana sebelumnya
Koordinator Keperawatan IGD mendata tenaga yang akan bekerja dan
tenaga yang berhalangan bekerja. Adapun kebijakan pengaturan dinas
perawat di IGD :
1) Perawat mengisi permohonan off atau cuti dalam buku permohonan
off selambat-lambatnya tanggal 20 bulan berjalan.
2) Koordinator Keperawatan IGD mengatur perawat yang akan
mengambil off day paling banyak 5 orang setiap hari.
3) Jumlah perawat yang akan cuti dalam 1 bulan maksimal 4 orang yaitu
2 perawat dan 2 POS dan tidak mengambil cuti dalam hari / minggu
yang bersamaan.

19
4) Apabila perawat yang mengajukan off atau cuti melebihi ketentuan di
atas, maka Koordinator Keperawatan IGD akan mengadakan
perundingan dan memberikannya kepada yang lebih memerlukan.
Jumlah tenaga diatur agar supaya dapat memenuhi kebutuhan pelayanan
setiap shift, minimal 3 orang. Setiap shift dinas dipimpin oleh
penanggung jawab shift, yaitu perawat senior dengan tugas : memimpin,
mengkoordinasi sebagai triase officer II dan mengatur kelancaran
pelayanan keperawatan selama shift. Koordinator Keperawatan IGD
mengajukan ke Supervisor IGD untuk mendapat persetujuan. Supervisor
IGD menyetujui/mensahkan daftar dinas. Daftar dinas dibagikan ke
semua tenaga di IGD.

20
BAB VII
JENIS PELAYANAN
A. Triage
Triage adalah pelayanan yang diberikan terhadap semua pasien yang datang ke IGD,
terlepas bahwa nantinya akan menjadi pasien IGD ataupun bukan. Dalam triage,
dilakukan pengkajian oleh seseorang yang kompeten (bisa dokter atau perawat senior),
berdasarkan seperangkat kriteria Triage yang akan ditetapkan dalam SPO, menentukan
apakah pasien tersebut memerlukan penanganan segera atau tidak.
Pasien di IGD diberikan pelayanan berdasarkan hasil triage tersebut, dan pasien dengan
tingkat urgensi tinggi akan dilayani terlebih dahulu.
Hal ini akan diinformasikan kepada pasien baik tertulis di tempat pendaftaran maupun
secara lisan oleh petugas IGD.
Adapun beberapa kebijakan dalam pelayanan triase : (diambil dari kolom kebijakan pada SPO
Triase)
a. Triase dilakukan oleh dokter IGD atau perawat terlatih yang sedang bertugas.
b. Pada keadaan non bencana atau bencana multiple casualty, prioritas penanganan pasien
adalah yang tingkat kegawatannya lebih berat.
c. Pada keadaan bencana dengan tipe mass casualty, prioritas penanganan pasien adalah
pasien yang memiliki peluang lebih besar untuk diselamatkan.
d. Pasien yang ditangani di IGD akan dikategorikan Merah, Kuning, Hijau atau Hitam yang
ditandai di formulir medik Instalasi Gawat Darurat.
e. Respon time penanganan pasien :

21
Kategori Merah : langsung ditangani.
Katergori Kuning : 5 menit.
Kategori Hijau : 15 Menit.
Kategori Hitam : dibawa ke ruang jenazah dalam waktu max 120 menit.
f. Indikasi IGD non Medik.
Pasien berikut dilakukan asessment terlebih dahulu di IGD, walau tidak memiliki kondisi-
kondisi seperti disebut di atas :
a. Permintaan pasien ditangani di IGD.
b. Klinik yang sesuai dengan keperluan pasien tutup/tidak ada dokter yang berpraktek.
c. Pasien/keluarga kelihatan cemas.
d. Pasien yang akan masuk rawat inap dan belum ada pengantar dokter akredited
Santosa Hospital.
e. Pasien yang akan masuk rawat inap dengan surat pengantar dokter akredited Santosa
Hospital, namun bukan di tanggal yang sama dengan kedatangan pasien.
f. Pasien dengan disability (harus dengan stretcher/kursi roda) dan belum ada
appointment dengan dokter tertentu.
g. Pemeriksaan di area triase berupa kesadaran (AVPU), jalan napas, pernapasan, dan sirkulasi.
h. Seluruh proses triase tiap pasien berlangsung kurang dari 1 menit pada keadaan bencana
dan kurang dari 3 menit dalam keadaan non bencana.

B. Pelayanan Resusitasi & Kegawatdaruratan


1. Pelayanan Resusitasi Adult & Neonatus
Resusitasi merupakan penanganan keadaan gawat darurat, baik jantung maupun
trauma.
a. Kebijakan
1) Resusitasi dipimpin oleh tenaga dokter / perawat bersertifikat ACLS.

22
2) Resusitasi dilakukan sesuai guideline terbaru di bidang resusitasi.
3) Resusitasi dilakukan dengan memperhatikan aspek etik medik yang terkait
dengan masalah resusitasi.
4) Pelayanan resusitasi dewasa dan anak-anak dilakukan di ruang resusitasi.
5) Pelayanan resusitasi neonatus dilakukan di area resusitasi neonatus.

b. Sarana & Prasarana


1) Ruang Resusitasi dan area resusitasi khusus neonatus.
2) Troley Emergency (Crash Cart) lengkap dengan isi seperti tercantum dalam
lampiran 1.
3) Defibrillator Biphasic.
4) Patient Monitor.
5) Quick Lab dengan iStat.

c. Ketenagaan
1. Dokter IGD sesuai kualifikasi.
2. Perawat IGD sesuai kualifikasi.

C. Pelayanan Penanganan Trauma


1. Kebijakan
a. Penanganan kasus trauma sesuai protokol Advanced Trauma Life Support
terbaru.
b. Penanganan kasus trauma dilakukan di area trauma.
c. Konsul bedah dilakukan sesuai standar profesi medik /clinical pathway.

2. Sarana & Prasarana


a. Perlengkapan penanganan traume seperti tercantum dalam lampiran 2.

3. Ketenagaan
a. Dokter IGD sesuai kualifikasi.
b. Perawat IGD sesuai kualifikasi.

D. Pelayanan Penanganan Non Trauma


1. Kebijakan

23
a. Kasus non trauma dilayani di area yang terpisah dari area trauma.
b. Dokter IGD melakukan pengkajian medik gawat darurat sesuai standar
profesi.
c. Konsul dilakukan sesuai standar profesi dan clinical pathway.

2. Sarana & Prasarana


a. Nebulizer.
b. Cath lab untuk Primary PCI, serta pemasangan pacemaker.
c. Instalasi pelayanan intensif & semi intensif baik dewasa maupun anak-anak /
neonatus.

3. Ketenagaan
a. Dokter IGD sesuai kualifikasi.
b. Perawat IGD sesuai kualifikasi.

E. Pelayanan Observasi Pasien


1. Kebijakan
a. Observasi pasien di IGD dilakukan paling lama 2 jam. Pasien yang diobservasi
di IGD merupakan pasien IGD dan pasien rawat jalan yang belum ditetapkan
apakah akan dirawat atau tidak saat menunggu suatu intervensi sementara.
b. Indikasi pasien diobservasi di IGD adalah :
a. Rehidrasi
b. Terapi Trombolitik
c. Pasca Kejang
2. Ketenagaan
1. Dokter IGD sesuai kualifikasi.
2. Perawat IGD sesuai kualifikasi.

PELAYANAN EMERGENCY RESPONSE & MEDICAL EVACUATION


Kebijakan umum transportasi medik yang berlaku untuk seluruh proses transportasi medik.
1. Seluruh pasien yang akan dilakukan evakuasi dilakukan pengkajian terlebih
dahulu.
2. Pengkajian dilakukan oleh petugas yang akan mengawal (medical escorter)
3. Pengkajian meliputi :
a. Pengkajian medik standar, baik melalui anamnesis, pemeriksaan fisik maupun
studi dokumen penunjang dan surat-surat rujukan yang ada. Fokus pengkajian
pada riwayat singkat penyakit / kondisi pasien yang memerlukan transportasi,
beserta alasan transportasi dilakukan.
b. Untuk pasien evakuasi terencana :

24
- Kelayakan untuk transportasi. Dinilai apakan pasien stabil atau tidak
selama perjalanan.
- Kelayakan dari sudut prognosis, dokter escorter berhak mengeluarkan
opini terkait dengan hal ini kepada DPJP maupun keluarga / pasien,
namun keputusan akhir terletak di keluarga / pasien.
c. Untuk pasien evakuasi tidak terrencana (emergency call / emergency response)
:
- Tujuan (harus ke tempat yang mampu menangani pasien sesuai hasil
pengkajian medik yang dilakukan di tempat pasien / korban)
4. Persiapan, meliputi :
a. Mengisi checklist persiapan evakuasi, kecuali pada kasus emergency response.
b. Memastikan seluruh dokumen yang diperlukan tersedia. Dokumen yang harus
ada :
- Surat Rujukan (atau dapat digabungkan dengan Clinical summary)
- Clinical Summary / Resume Medik / Resume Pasien Pulang / Discharge
summary
- Dokumen penunjang (Diagnostic Imaging / Laboratorium / other
diagnostics) yang menunjang diagnosis pasien.
- Passport yang masih berlaku (untuk transportasi medik ke luar negeri)
baik pasien, escorter, maupun keluarga.
c. Mengetahui seluruh pihak keluarga yang akan menyertai proses transportasi.
d. Melakukan koordinasi dengan DPJP mengenai penyederhanaan jumlah line
yang ada di pasien, serta timing pemberian obat selama proses transportasi.
e. Melakukan koordinasi dengan pihak carrier, baik ambulans maupun pesawat /
helikopter.
f. Melakukan koordinasi dengan pihak penerima pasien. Memastikan bahwa
tem;pat tujuan siap meneripa pasien dengan kondisi seperti yang akan
ditransport.

5. Pelaksanaan
a. Pelaksanaan transportasi medik dilakukan sesuai rencana yang telah disusun,
dengan mempertimbangkan kebutuhan kesinambungan penanganan pasien.
b. Pelaksanaan transportasi medik dilakukan di bawah pengawasan petugas
transportasi medik yang kompeten.
c. Pelaksanaan transportasi medik menggunakan sarana transportasi yang sesuai
dengan kondisi pasien.
d. Pelaksanaan transportasi medik dilakukan dengan memperhatikan standar
profesi medik dan keperawatan yang berlaku di SHBC.

25
e. Pelaksanaan transportasi medik dilakukan dengan memperhatikan standar
keselamatan serta pencegahan dan pengendalian infeksi yang berlaku di
SHBC.
f. Proses monitoring dilakukan sesuai dengan kondisi pasien, selama perjalanan.
g. Setelah pasien tiba di rumah sakit / rumah sakit tujuan, maka dilakukan serah
terima yang lengkap antara petugas escorter dengan petugas penerima di
rumah sakit.

Pelayanan 24 Hour Outpatient Clinic


Pada hari libur maupun di malam hari dimana klinik umum SHBC tidak beroperasi, maka
IGD juga menyediakan pelayanan rawat jalan dokter umum. Sedangkan bilamana klinik
umum Instalasi rawat jalan beroperasi, maka IGD akan mengarahkan pasien untuk
berobat di klinik rawat jalan. Namun apapun kasusnya, semua pasien yang datang ke IGD
harus menjalani triage terlebih dahulu untuk ditentukan tingkat kegawatannya
BAB VIII
PATIENT AND SAFETY, INFECTION PREVENTION & CONTROL

A. Identifikasi Risiko Keselamatan


Risiko adalah potensi terjadinya kerugian yang dapat timbul dari proses kegiatan saat
sekarang atau kejadian di masa datang.
Resiko di IGD meliputi :
Resiko Keselamatan Pasien (Patient Safety)
1. Pasien jatuh.
2. Salah pemberian obat (dosis, rute, obat, pasien).
3. Salah pengambilan darah / spesimen klinis lainnya / tertukar.
4. Tindakan yang salah / dilakukan pada pasien yang salah.
5. Penanganan terlambat.

Risiko Keselamatan Staf (Staff Safety)


1. Tertusuk jarum suntik atau benda tajam lain.
2. Terpapar bahan kimia atau cairan tubuh pasien.
3. Terpapar infeksi terutama air-borne.
4. Low Back Pain karena proses mengengkat yang tidak tepat.
5. Security hazard dari pasien/pengunjung.

B. Manajemen Risiko/Risk Management

26
Manajemen risiko adalah pendekatan proaktif untuk mengidentifikasikan, mengevaluasi
dan memprioritaskan risiko untuk mengurangi risiko cedera dan kerugian pada pasien,
karyawan rumah sakit, pengunjung dan organisasi sendiri.
Upaya mengurangi risiko tersebut diantaranya adalah dengan :
1. Prosedur identifikasi pasien, komunikasi dan prosedur keselamatan lain.
2. Prosedur penanganan needle stick injury dan cairan tubuh lainnya.
3. Penyediaan dan pemakaian alat pelindung diri.
4. Pengkajian 4 tepat (tepat obat, tepat pasien, tepat dosis, tepat rute) dalam
pemberian obat.
5. Pembuatan signage.
6. Pelatihan teknik safety lifting.
7. Memastikan kecukupan tenaga.
8. Pengadaan, penyimpanan, pemakaian dan pembuangan B3 dengan sesuai prosedur.
9. Penanaman budaya safety, safety meeting & awareness.

C. Pencegahan dan Pengendalian Infeksi


Instalasi Gawat Darurat (IGD) menerapkan kebijakan dan prosedur pencegahan dan
pengendalian infeksi sesuai dengan kebijakan rumah sakit, dengan selalu berkoordinasi
dengan Komite Pencegahan dan Pengendalian Infeksi SHBC.
Beberapa aktivitas dasar sehubungan dengan pencegahan dan pengendalian infeksi
meliputi :
1. Pembudayaan cuci tangan sesuai ketentuan.
2. Penggunaan alat pelindung diri sesuai kebijakan SHBC.

27
BAB IX
PENGENDALIAN MUTU

A. Indikator Mutu
mohon dilengkapi, Misal :
Angka keterlambatan pelayanan gawat darurat (response time) = 5 menit

Response time penanganan kecelakaan kerja = 5 menit

Persentase door to needle dalam kasus ACS yang dilakukan dalam waktu 30 menit atau
kurang.

B. Monitoring
Data Monitoring
Monitoring dilakukan untuk memantau performa dan mutu pelayanan gawat darurat.
Untuk itu, maka ditetapkan beberapa indikator baik klinis maupun manajerial sebagai
berikut :

Input Proses Output


Mutu Persentase staff yang Angka keterlambatan Angka kematian
bekerja di IGD yang pelayanan gawat darurat di IGD (tidak
menguasai BLS (response time)= 5 menit termasuk DOA)
Prosentase perawat Response time
IGD yang memenuhi penanganan kecelakaan
kualifikasi kerja = 5 menit
Persentase dokter IGD Persentase Door to
yang memenuhi needle dalam kasus ACS
kualifikasi yang dilakukan dalam
waktu 30 menit atau
kurang

Performa Top 10 kasus terbanyak Jumlah pasien IGD

28
Monitoring dilakukan dengan mengintegrasikan pengumpulan data dalam aktivitas
sehari-hari, kemudian rekapitulasi dilakukan setiap bulan.

Process Monitoring
Selain daripada pengumpulan data tersebut, monitoring dilakukan juga dengan cara
melakukan pengawasan pelaksanaan SOP di lapangan oleh petugas IGD.

C. Evaluasi
Evaluasi dilakukan terhadap :
Data hasil monitoring
Data hasil monitoring dikumpulkan, disajikan dalam bentuk grafik, kemudian
dibandingkan dari bulan ke bulan dan dari tahun ke tahun. Data dibuat trend dan
dilakukan analisa setiap 3 bulan sekali.
Data dibandingkan dengan standar atau nilai yang diharapkan dari setiap indikator /
parameter yang diukur.
Analisa dilakukan untuk mencari penyebab dari penyimpangan yang ditemukan dari
proses pengumpulan data.

Hasil process monitoring


Selain melakukan analisa data indikator yang diukur, analisa juga dilakukan terhadap
data subyektif hasil pengawasan (observasi) pelaksanaan SPO di lapangan. Adapun
proses-proses yang esensial untuk dilakukan pengawasan di lapangan oleh supervisor
IGD dan tim quality IGD :
1. Proses penanganan kegawat daruratan di IGD.
2. Kelengkapan dan kebenaran pengisian rekam medik IGD.
3. Kelengkapan pengkajian medik / keperawatan gawat darurat.

Insiden/Kejadian
Setiap insiden, terutama yang berhubungan dengan pelayanan pasien di IGD, baik yang
terkait dengan profesi medik maupun keperawatan, kepuasan pelanggan, maupun
keselamatan pasien/staf dikumpulkan dan dicatat oleh SPI, kemudian dilakukan analisa
insiden. Untuk kejadian atau insiden keselamatan baik pasien, pengunjung maupun staf,

29
akan dilakukan grading oleh tim K3RS atau KKP-MRK. Bila grading biru atau hijau,
maka analisa dilakukan oleh supervisor IGD dengan cara investigasi sederhana.
Hasil analisa tersebut berbuah pada kesimpulan/rekomendasi.

Analisa Prospektif
Apabila IGD memiliki suatu program baru atau rencana perubahan alur proses, maka
dapat dilakukan analisa prospektif untuk alur proses yang akan dibuat/diterapkan.
Analisa prospektif dapat dilakukan dengan metode Failure Mode & Effect Analysis
(FMEA). FMEA juga dapat dilakukan untuk melakukan analisa standar profesi/clinical
pathway secara prospektif.

D. Pelaporan
Data hasil monitoring yang telah dianalisis dilaporkan kepada manager pelayanan medik
setiap bulannya, untuk ditindak lanjuti. Pelaporan meliputi total jumlah pasien, jumlah pasien
lama, jumlah pasien baru,jumlah pasien dengan kasus true emergency dan false
emergency,jumlah pasien yang rawat inap melalui IGD, jumlah pasien DOA,jumlah pasien
dengan penjamin umum dan kontraktor yang data tersebut di sajikan dalam bentuk power
point dengan perbandingan data 1 bulan sebelumnya serta bulan yang sama ditahun
sebelumnya serta pelaporan pemakaian ambulance meliputi ambulance
emergency,ambulance trasnport dan ambulance escort setiap bulannya.

BAB X
STAFF DEVELOPMENT

Setiap petugas yang ditempatkan di Instalasi Gawat Darurat harus melalui proses orientasi umum
yang diselenggarakan oleh Unit Staff Development dan orientasi khusus tentang pelayanan di
Instalasi Gawat Darurat.

A. Orientasi Umum

30
Merupakan orientasi yang ditujukan kepada setiap calon karyawan baru sebagai sarana
menyediakan informasi penting untuk memudahkan masa transisi orientee dengan lingkungan
pekerjaan baru.
Materi yang diberikan antara lain :
1. Visi, misi, dan struktur organisasi SHBC.
2. Company Profile dan Product Knowledge (hal-hal yang berkaitan dengan jenis-jenis
pelayanan yang ada di Santosa Hospital Bandung Central).
3. Sanitasi.
4. Management Keperawatan secara umum.
5. Peraturan Perusahaan dan Evaluasi Kinerja Karyawan.
6. Sistem Penggajian dan Fasilitas Kesehatan Karyawan.
7. Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Rumah Sakit.
8. Keselamatan dan Kesehatan Kerja Rumah Sakit (K3RS).
9. Sistem Informasi Rumah Sakit (IT).
10. Grooming dan Service Exellence.
11. Hospital Tour.

B. Orientasi Khusus
Mohon dilengkapi dengan orientasi khusus yang dilakukan di IGD.

DAFTAR PUSTAKA
1. Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit Depkes 2008.
2. Hospital Accreditation Standard 5th Edition - Joint Commission International.
3. Textbook Emergency Medicine A Comprehensive Study Guide Fifth Edition.
4. Buku Panduan Advanced Cardiac Life Support (ACLS) 2010.
5. Buku Panduan Advance Trauma Life Support (ATLS) Edisi 9 2013.

31