Anda di halaman 1dari 2

Dilema Etik Kasus Diabetes Adult

Onset, Pasien Kekurangan Nutrisi


RABU, 18 JULI 2012

KASUS
Ada seorang ibu berusia 84 tahun. Suaminya sudah meninggal 25 tahun lalu. Ibu
ini menderita "sakit tua", sudah beberapa tahun menggunakan kursi roda (sejak
terjatuh dan mengalami patah tulang panggul lebih dari 10 tahun lalu),
makan-minum harus disuapi. Seorang perawat mendampinginya 24 jam sehari. Tapi
pikirannya masih jernih, kemauannya keras, dan setiap hari masih membaca novel
berbahasa Inggris sampai beberapa minggu terakhir, setiap hari masih mengikuti
berita-berita di TV dengan penuh perhatian. Ia sudah naik haji 20 tahun lalu. Ia
punya beberapa putra, semuanya sudah berkeluarga, dan mempunyai beberapa cucu.
Sejak seminggu terakhir kondisi fisiknya sangat menurun. Ia tidak kuat lagi
duduk dan harus berbaring di tempat tidur. Tempat tidurnya tempat tidur khusus
untuk orang sakit dengan kasur decubitus. Ia tidak mau makan lagi (nafsu makan
tidak ada lagi), dan minum hanya 1 gelas air sehari. Ia tidak mau makan obat
sama sekali. Sekarang ia mengalami dehidrasi berat. Nadi kuat 80/menit,
pernafasan normal 20/menit, tensi 85/40, dan gula darah 85 mg/dl (ibu ini
menderita diabetes adult-onset). Tapi pikirannya tetap jernih (compos mentis)
dan kemauannya tetap keras. Ia berkeras tidak mau diinfus, apalagi dibawa ke
rumahsakit.
Sepanjang hidupnya ibu ini banyak menggunakan inteleknya, hidup dengan buku.
Sekalipun ia sudah Hajjah, namun sepanjang hidupnya hal-hal spiritual tidak
menonjol dalam kesadarannya, jarang menjadi pokok pembicaraannya. Ini terlihat
juga dalam keadaannya sekarang; tampaknya ibu ini mengalami konflik batin yang
hebat pada saat ini. Di satu pihak, di bawah-sadarnya tubuhnya sudah menolak
makanan sama sekali, tetapi di lain pihak, berkali-kali ia berkata: "Kenapa
kalian berkumpul di sini? Apakah kalian mengira saya akan mati? Saya belum mau
mati, saya masih ingin hidup." -- Saya pikir, keadaan mental inilah yang membuat
ibu ini bisa "bertahan" sampai sekarang. Kondisi kesadarannya sekarang
timbul-tenggelam antara menyadari lingkungannya dan mengenali orang-orang di
sekelilingnya--bahkan masih bisa bercanda--dan masuk ke dalam dunianya sendiri
(kata-katanya inkoheren, tidak realistik lagi) dan tidak lagi mengenali
orang-orang di sekelilingnya. Dan itu bisa terjadi bolak-balik beberapa kali
sehari. Kondisi fisiknya sangat lemah, kata-kata diucapkannya dengan susah
payah.
Ada dua dokter yang kebetulan merupakan sanak keluarga ibu ini, sebutlah dokter
A dan dokter B. Dokter A menyarankan, bagaimana pun juga ibu ini harus dibawa ke
rumah sakit, untuk dipasang infus dan maag-slang agar dapat dilakukan alimentasi
dengan segera; kalau perlu dipaksa, karena tempat yang terbaik untuk itu adalah
di rumah sakit. Dokter B menyarankan agar kondisi mental dan keinginan/kehendak
si ibu perlu juga diperhatikan dan dihormati; berdasarkan prinsip itu dokter B
menyarankan agar ibu ini diinfus saja di rumah dengan agak dipaksa (kalau memang
putra-putranya merasa perlu "melakukan sesuatu" untuk memuaskan batin
masing-masing); pemasangan maag-slang bisa ditunda, karena pasti ibu ini akan
berontak luar biasa kalau dipaksakan memasang maag-slang.
Saran-saran dari kedua dokter itu disampaikan secara terpisah; dokter A tidak
bertemu dengan dokter B. Sekarang yang mengalami dilema adalah putra-putranya.
Mereka bertengkar di antara sesamanya, tentang langkah apa yang perlu diambil
menghadapi kondisi ibu mereka seperti ini.
Pertanyaan etikal bagi kita: berhakkah seorang dokter memaksakan pendiriannya
(yang didasarkannya pada pengetahuannya yang adekuat tentang apa yang baik bagi
pasien) pada seorang pasien yang dalam keadaan compos mentis menolak segala
tindakan medis yang disarankan kepadanya; dengan kata lain, berhakkah seorang
dokter merampas hak seorang pasien (yang sadar) untuk menentukan nasibnya
sendiri? Bagaimana Anda sendiri akan bersikap/bertindak bila menghadapi kasus
seperti ini?