Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH

EFEK FAKTOR UMUR DAN JENIS KELAMIN PADA


TAHAP PREANALITIK TERHADAP HASIL-HASIL PEMERIKSAAN
LABORATORIUM KLINIK

OLEH
SRI WAHYUNI
N11114003
KIMIA KLINIK A

FAKULTAS FARMASI
UNIVERASITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena
berkat limpahan Rahmat dan Karunia-Nya, penulis dapat menyelesaikan makalah
ini dengan sebaik-baiknya dan tepat pada waktunya.
Makalah ini membahas Mengenai efek faktor umur dan jenis kelamin pada
tahap preanalitik terhadap hasil-hasil pemeriksaan laboratorium klinik, untuk
memenuhi tuntutan tugas yang diberikan oleh dosen pembimbing mata kuliah
Kimia Klinik Dasar. Selain itu, makalah ini juga diharapkan mampu menjadi
sumber pembelajaran bagi kita semua.
Makalah ini dibuat dengan meninjau beberapa sumber, mengambil intisari
dan menghimpunnya menjadi kesatuan yang sistematis. Terimakasih penulis
ucapkan kepada semua pihak yang menjadi sumber referensi dalam pembuatan
makalah ini sampai dengan selesai. Terimakasih juga kepada dosen pembimbing
dan semua pihak yang terkait dalam pembuatan makalah ini.
Semoga makalah ini dapat berguna bagi pembaca sekalian. Penulis pribadi
menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik dari bentuk
penyusunan maupun materinya. Kritik konstruktif dari pembaca sangat penulis
harapkan untuk perbaikan di kemudian hari.

Makassar, 15 Februari 2017


Penulis

Sri Wahyuni

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................ i


DAFTAR ISI ............................................................................................... ii
BAB 1. PENDAHULUAN ......................................................................... 1
I.1 Latar Belakang ........................................................................... 1
I.2 Rumusan Masalah ...................................................................... 2
I.3 Tujuan Penulisan ........................................................................ 2
I.4 Metode Penulisan ....................................................................... 2
I.5 Manfaat Penulisan ...................................................................... 2
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA................................................................ 3
II.1 Laboratorium Klinik ................................................................. 3
II.2 Tahap-Tahap dalam Kegiatan Laboratorium ............................ 3
II.3 faktor umur terkait hasil tes pemeriksaan laboratorium klinik . 4
II.4 Pengaruh Jenis Kelamin Terkait Perubahan Klinik Hasil Uji
Laboratorium ........................................................................... 7
II.5 Faktor yang Mempengaruhi Keakuratan Hasil Laboratorium
........................... ...................................................................... 8
BAB III. PENUTUP ................................................................................... 10
III.1 Kesimpulan.............................................................................. 10
III.2 Saran ........................................................................................ 10
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................. 11

ii
BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Laboratorium klinik sebagai subsistem pelayanan kesehatan menempati posisi
penting dalam diagnosis invitro. Terdapat lima (5) alasan pemeriksaan laboratorium
diperlukan, yaitu : skrining, diagnosis, pemantauan progresifitas penyakit, monitor
pengobatan dan prognosis penyakit. Oleh karena itu setiap laboratorium harus dapat
memberikan data hasil tes yang teliti, akurat, sensitif, spesifik, cepat dan tidak mahal.
(Hartini, S., Maria Eka Suryani, 2016).
Mutu pelayanan di laboratorium berkaitan dengan data hasil uji analisa
laboratorium. Mutu pelayanan didasari penilaian hasil pelayanan laboratorium secara
keseluruhan, dan salah satu titik penting terletak pada mutu pemeriksaan atau
parameter yang diperiksa. Laboratorium dikatakan bermutu tinggi apabila data hasil
uji laboratorium tersebut dapat me-muaskan pelanggan dengan memperhatikan aspek-
aspek teknis seperti ketelitian (precision) dan ketepatan (accuracy) yang tinggi dapat
dicapai dan data tersebut harus tercatat dengan baik sehingga dapat dipertahankan
secara ilmiah. (Muslim, M., Kustiningsih, Y & Endah Yanuarti, 2015).
Pemeriksaan di laboratorium klinik terdiri dari 3 tahap yaitu tahap preanalitik,
anlitik dan tahap paska analitik (post analitik), dimana kesalahan lebih sering terjadi
pada tahap preanalitik dibandingkan tahap analitik. Pra analitik msangat menentukan
kualitas sampel meliputi kondisi pasien, cara dan waktu pengambilan sampel,
perlakuan terhadap proses persiapan sampel smpai selesai dikerjakan.
Faktor utama yang paling penting dalam menunjang hasil pemeriksaan
laboratorium adalah kondisi pasien dan cara pengambilan sampel, dimana yang
terkait dengan pasien antara lain: umur, jenis kelamin, ras, genetik, tinggi badan,
kondisi klinik, status nutrisi dan penggunaan obat. Dan faktor yang terkait dengan
laboratorium antara lain: cara pengambilan specimen, penanganan specimen, jenis
alat, dan teknik pengukuran (Depkes, 2010)
Jika umur dan jenis kelamin pasien berbeda maka patokan untuk hasil
analisis laboratorium berbeda pula, konsentrasi komponen yang terkandung dalam
cairan fisiologis tubuh manusia baik eksudat maupun transudat, serum atau

1
plasma, jika usianya berbeda maka konsentrasi komponen yang terdapat dalam
cairan tersebut berbeda, sama halnya dengan perbedaan jenis kelamin. Untuk itu
perlu dilakukan pemantauan khusus dan analisis yang tepat, dan perlu diketahui
pengaruhnya terhadap hasil laboratorium.
I.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas, maka muncul rumusan masalah sebagai berikut:
1. Apa itu pemeriksaan Klinik?
2. Apa tahap-tahap yang dilakukan dalam kegiatan laboratorium?
3. Bagaimana pengaruh faktor umur terhadap hasil uji pemeriksaan
laboratorium?
4. Bagaimana pengaruh jenis kelamin terkait perubahan klinik hasil uji
laboratorium?
5. Faktor apa saja yang mempengaruhi keakuratan hasil laboratorium?
I.3 Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini yaitu:
1. Untuk mengetahui tahapan dalam kegitan pemeriksaan di laboratorium
klinik
2. Untuk mengetahui pengaruh Umur terhadap hasil uji pemeriksaan
laboratorium.
3. Untuk mengetahui pengaruh jenis kelamin terkait perubahan klinik hasil
uji laboratorium.
4. Untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi keakuratan hasil
laboratorium.
I.4 Metode Penulisan
Metode yang penulis gunakan dalam penulisan makalah ini adalah melalui
pencarian materi pada buku, dan jurnal.
I.5 Manfaat Penulisan
Penulisan makalah ini ditujukan untuk memberikan pengetahuan kepada
seluruh pembaca mengenai efek faktor umur dan jenis kelamin pada
tahap preanalitik terhadap hasil-hasil pemeriksaan laboratorium klinik.

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Laboratorium Klinik


Laboratorium Klinik adalah laboratorium kesehatan yang melaksanakan
pelayanan pemeriksaan spesimen klinik untuk mendapatkan informasi tentang
kesehatan perorangan terutama untuk menunjang upaya diagnosis penyakit,
penyembuhan penyakit, dan pemulihan kesehatan. (Depkes, 2010)
II.2 Tahap-Tahap dalam Kegiatan Laboratorium
II.2.1 Tahap Pre analitik
Tahap pre analitik adalah tahap awal sampel untuk siap di periksa / di
analisa. Kelengkapan tahap pre-analitik perlu didukung dengan penerimaan dan
preparasi sampel oleh petugas atau staf laboratorium. Kelengkapan formulir
permintaan pemeriksaan, persiapan pasien, penanganan spesimen dan persiapan
sampel untuk analisa. Kesalahan pre analitik terjadi sebelum spesimen pasien
diperiksa untuk analitik oleh sebuah metode/instrument tertentu. Mencakup
permintaan uji, persiapan pasien, dan pengumpulan serta penanganan spesimen.
Kesalahan-kesalahan seperti itu mencakup juga kesalahan pengertian petugas
dalam membaca perintah, memerintahkan jenis uji yang tidak tepat, salah
identifikasi pasien, dan penyimpanan spesimen yang tidak baik (Depkes, 2004).
II.2.2 Tahap Analitik
Tahap analitik adalah tahap dalam pemeriksaan spesimen, dimana
spesimen di analisa/ diperiksa menggunakan suatu instrument atau metode
tertentu. Tahap ini meliputi persiapan reagen/media, pipetasi reagen dan sampel,
inkubasi dan pemeriksaan. Kesalahan terjadi selama proses pengukuran dan
disebabkan kesalahan acak atau kesalahan sistematis mencakup pemeliharaan dan
kalibrasi alat, uji kualitas reagen, uji ketepatan dan ketelitian (Depkes, 2004).
II.2.3 Tahap Post Analitik
Tahap post analitik adalah tahap akhir pemeriksaan yang berupa lembar
hasil pemeriksaan laboratorium. Hasil pemeriksaan laboratorium merupakan
bahan penunjang atau penentu diagnosis suatu penyakit. Tahap ini meliputi

3
pembacaan hasil (penghitungan, pengukuran, identifikasi dan penilaian) dan
pelaporan hasil (Depkes, 2004).
II.3 Efek Faktor Umur Terkait Hasil Tes Pemeriksaan Laboratorium Klinik
Umur berpengaruh terhadap kadar dan aktifitas zat dalam darah. Hitung
eritrosit dan kadar hemoglobin jauh lebih tinggi pada neonatus daripada dewasa.
Fosfatase alkali, kolesterol total dan kolesterol-LDL akan berubah dengan pola
tertentu sesuai dengan pertambahan umur (Joyce LeFever Kee, 2007).
Penuaan adalah proses metabolisme yang kompleks yang tidak
sepenuhnya dapat dipahami. Perubahan fisiologis yang kompleks terjadi selama
proses transisi dari bayi yang baru lahir hingga dewasa. Memahami efek usia
terhadap pemeriksaan laboratorium dapat meningkatkan ketepatan diagnostik.
Rentang acuan serum / plasma / analit urine yang diukur untuk orang dewasa
tersedia di laboratorium. Namun, standar acuan untuk usia tertentu tidak tersedia
(Dasgupta, A, Jorge L. Sepulveda, 2013).
II.3.1 Bayi yang baru lahir
Setelah kelahiran, pO2 darah arteri naik sekitar 80-90 mmHg. Konsumsi
oksigen secara signifikan lebih tinggi pada neonatus dibandingkan orang dewasa.
Konsentrasi asam urat menurun secara signifikan pada awal kelahiran dan usia 6
hari. Bayi sehat yang baru lahir cepat memetabolisme glukosa dan memiliki
konsentrasi bilirubin yang tinggi karena hati mereka belum mampu untuk
memecah atau mengkonversi bilirubin. Hiperbilirubinemia karena ikterus
fisiologis adalah kondisi umum pada bayi baru lahir dan biasanya sembuh dalam
waktu 5-7 hari setelah kelahiran. Namun, setelah lahir mungkin sulit untuk
membedakan fenomena fisiologis normal ini dari penyakit hemolitik (Dasgupta,
A, Jorge L. Sepulveda, 2013).
II.3.2 Masa anak-anak ke masa Pubertas
Dampak pertumbuhan terhadap hasil uji laboratorium. Dua minggu setelah
kelahiran, konsentrasi luteinizing hormone (LH) meningkat pada anak laki-laki
dan perempuan, tetapi konsentrasinya menurun pada masa prapubertas. Demikian
pula, follicle-stimulating hormone (FSH) mengalami peningkatan setelah
kelahiran namun menurun pada masa prapubertas. Berkurangnya konsentrasi LH

4
dan FSH pada periode remaja tidak cukup sensitif untuk membedakan antara
delay pubertas dan hipogonadisme. Konsentrasi estradiol meningkat saat bayi
baru di lahirkan tapi kosentrasi cepat menurun selama minggu pertama masa
prapubertas (0,5-5,0 ng / dL untuk anak perempuan dan 1,0-3,2 ng / dL untuk
anak laki-laki). Setelah usia 12 tahun, terjadi penurunan ALP pada anak
perempuan, dan penurunan ini jelas pada anak laki-laki setelah usia mereka 14
tahun. peningkatan Konsentrasi ALP tidak hanya terjadi selama pertumbuhan
normal, tetapi juga dalam pengaturan kanker tulang ganas (Kanker tulang
osteoblastik, osteomalacia, penyakit Paget, dan rickets). Konsentrasi ALP tiga kali
lipat lebih tinggi pada remaja dibandingkan dengan orang dewasa. Peningkatan
kreatinin terjadi antara usia 12 dan 19 tahun. Konsentrasi asam urat terus menurun
selama 10 tahun pertama (Dasgupta, A, Jorge L. Sepulveda, 2013).
II.3.3 Dewasa
Baik wanita maupun laki-laki, total kolesterol meningkat pada usia lanjut
(laki-laki usia 60 tahun dan wanita berusia 55 tahun). Pada dekade kedua
kehidupan, laki-laki memiliki puncak konsentrasi asam urat, yang tidak terdeteksi
pada wanita sampai dekade kelima (Dasgupta, A, Jorge L. Sepulveda, 2013).
II.3.4 Masa Menopause (Pre dan Post)
Pada wanita menopause terjadi peningkatan konsentrasi total kadar
kolesterol, hal ini berkaitan dengan menurunnya kadar estrogen. Kolesterol (HDL-
C) juga menurun hingga 30%. Transisi dari masa kemasa hingga tahap
pascamenopause. Sebuah korelasi yang kuat antara usia dan human chorionic
gonadotropin (HCG) yang diamati. Interpretasi yang akurat dari peningkatan
konsentrasi hCG sangat penting karena hCG ada selama masa kehamilan, kanker,
atau penyakit trofoblas. Pada wanita, konsentrasi hCG serum (batas referensi
hCG, 0,5 mIU/mL) digunakan baik untuk mengidentifikasi atau
mengesampingkan kehamilan. Peningkatan konsentrasi hCG dalam serum (0,5
mIU/mL) terjadi pada wanita antara usia 41 dan 55 tahun. Demikian, sangat
penting untuk membedakan asal hCG (plasenta vs hipofisis). Pada wanita pra dan
pascamenopause (41- 55 tahun), Studi menunjukkan bahwa konsentrasi FSH
dapat membantu menentukan asal hCG. Pada masa pra dan pasca menopause

5
wanita (41-55 tahun) konsentrasi hCG serum berkisar antara 5.0 dan 14.0 IU / L,
cutoff FSH dari 45,0 IU / L mengidentifikasi hCG dari plasenta asal dengan
sensitivitas 100% dan spesifisitas 75% (Dasgupta, A, Jorge L. Sepulveda, 2013).
II.3.5 Geriatri
Interpretasi temuan laboratorium pada geriatri sangat menarik karena
beberapa faktor yang meliputi (1) perubahan fisiologis yang secara alamiah terjadi
dengan penuaan yang sehat, (2) kondisi akut dan kronis (Penyakit ginjal, diabetes,
dan penyakit kardiovaskular), (3) diet, (4) gaya hidup, dan (5) rejimen obat.
Setelah usia 60 tahun, konsentrasi albumin menurun tiap 10 tahun terakhir,
dengan penurunan yang signifikan dicatat pada orang yang lebih tua dari 90 tahun.
Serum yang rendah akan konsentrasi kalsium dalam populasi geriatri paling sering
disebabkan karena konsentrasi albumin serum yang rendah. Gangguan besi,
seperti penurunan cadangan besi, Konsentrasi besi serum, dan jumlah besi
pengikat terjadi selama penuaan. Menipisnya simpanan zat besi diikuti oleh
peningkatan feritin serum dan penurunan transferin serum. konsentrasi GGT
meningkat selama proses penuaan. Hipokalsemia terjadi karena penurunan
simultan di serum pH dan peningkatan konsentrasi hormon paratiroidi. Dampak
umur signifikan terlihat pada elastisitas paru, fungsi alveoli, dan kekuatan
diafragma dan secara signifikan mengubah fungsi pernafasan. Dengan demikian,
individu mengalami penurunan tekanan parsial arteri oksigen dan peningkatan
tekanan karbon dioksida dan konsentrasi ion bikarbonat.
Meskipun usia dapat secara signifikan menjelaskan perbedaan Hasil uji
laboratorium klinis, kita harus mempertimbangkan efek tumpang tindih
disebabkan oleh penyakit, seperti obesitas dan hipertensi, dan / atau asupan
makanan yang tidak memadai ketika menafsirkan hasil laboratorium yang berada
di luar dari batas referensi. Hasil yang abnormal mungkin menyoroti proses
penyakit terkait usia yang membutuhkan intervensi klinis. Hal ini diperlukan
klinis untuk melakukan studi laboratorium yang difokuskan pada sistematis efek
penuaan pada analit serum / plasma / urine. Data yang dihasilkan akan berguna
bagi pengembangan efektif usia-spesifik cutoffs diagnostik (Dasgupta, A, Jorge L.
Sepulveda, 2013).

6
II.4 Pengaruh Jenis Kelamin Terkait Perubahan Klinik Hasil Uji
Laboratorium
Jenis kelamin meliputi banyak sekali kelenjar endokrin dan respon
metabolik yang kompleks. Perbedaan jenis kelamin dalam analit laboratorium
dapat dijelaskan melalui diferensial fungsi-fungsi organ endokrin dan massa otot
rangka. Rata-rata, pada wanita konsentrasi albumin, kalsium, magnesium,
hemoglobin, feritin, dan besi relative lebih rendah. Penurunan sirkulasi
konsentrasi besi disebabkan karena wanita kehilangan darah selama haid. Artinya
serum kreatinin dan kosentrasi cystatin C umumnya lebih rendah pada remaja
wanita dibandingkan dengan remaja laki-laki. Konsentrasi aldolase lebih tinggi
pada laki-laki setelah memasuki masa pubertas. konsentrasi ALP lebih tinggi pada
anak perempuan usia 10-11 tahun. Anak laki-laki usia 12, 13, 14, 15, dan 16, 17
tahun memiliki konsentrasi ALP lebih tinggi dibandingkan dengan anak
perempuan pada usia yang sama. Penurunan ALP Konsentrasi dimulai setelah usia
12 tahun untuk anak perempuan dan 14 tahun untuk anak laki-laki. wanita
menopause memiliki konsentrasi ALP lebih tinggi dibandingkan dengan laki-laki.
Serum konsentrasi bilirubin lebih rendah pada wanita karena penurunan
konsentrasi hemoglobin. Wanita memiliki Konsentrasi albumin yang lebih tinggi
dibandingkan dengan laki-laki pada usia yang sama. profil lipid sangat
dipengaruhi berdasarkan jenis kelamin. Perbedaan Konsentrasi total kolesterol
tidak hanya dipengaruhi oleh usia tetapi juga jenis kelamin. wanita muda dari usia
20 tahun memiliki konsentrasi kolesterol total yang lebih tinggi dibandingkan
dengan laki-laki usia yang sama. Namun, antara usia 20 dan 45 tahun, laki-laki
umumnya memiliki konsentrasi kolesterol total yang lebih tinggi daripada
perempuan. konsentrasi puncak lipid laki-laki terjadi antara usia 40 dan 60 tahun,
sedangkan konsentrasi lipid puncak perempuan terjadi antara usia 60 dan 80
tahun. Antara usia 30 dan 80 tahun, berarti HDL-C menurun sekitar 30% pada
wanita tetapi meningkat sebesar 30% pada laki-laki. Perempuan memiliki GGT
serum yang lebih tinggi dan tembaga dan jumlah retikulosit (karena peningkatan
omset eritrosit) dibandingkan dengan laki-laki (Dasgupta, A, Jorge L. Sepulveda,
2013).

7
II.5 Faktor Yang Mempengaruhi Keakuratan Hasil Laboratorium
Faktor-faktor yang mempengaruhi keakuratan hasil laboratorium lebih dari
akurasi analitis dan dapat diringkas sebagai berikut (Carraro, P., Plebani, M.,
2007) :
1. Sampel yang tepat dikumpulkan pada pasien yang tepat, pada waktu yang
tepat, dengan pasien yang persiapannya tepat.
2. Teknik yang tepat digunakan mengumpulkan sampel untuk menghindari
kontaminasi dengan cairan intravena, kerusakan jaringan, stasis vena
berkepanjangan, atau hemolisis.
3. Sampel benar diangkut ke laboratorium, disimpan pada suhu yang tepat,
diproses untuk analisis, dan dianalisis dengan cara yang menghindari
perubahan artifactual dalam diukur tingkat analit.
4. Uji analisis mengukur konsentrasi analit sesuai dengan level "true"
(Dibandingkan dengan pengukuran "gold standard") dalam batas diterima
secara klinis dari kesalahan (the total acceptable analytical error (TAAE)).
5. Laporan mencapai klinisi mengandung hasil yang tepat, bersama-sama
dengan informasi interpretatif, seperti berbagai referensi dan komentar
lainnya, membantu dokter dalam pengambilan keputusan proses.
Kegagalan pada setiap langkah ini dapat berakibat fatal atau menyesatkan
hasil laboratorium, kadang-kadang dengan hasil yang merugikan.
II.5.1 Kesalahan dalam Klinik Laboratorium
Kesalahan dapat terjadi pada semua langkah di laboratorium proses
pengujian, dan kesalahan tersebut dapat diklasifikasikan sebagai berikut (Carraro,
P., Plebani, M., 2007):
1. Langkah Pre-analitis, meliputi keputusan untuk tes, transmisi pesanan ke
laboratorium untuk analisis, persiapan pasien dan identifikasi,
pengumpulan sampel, dan pengolahan spesimen.
2. Assay Analytical, yang menghasilkan laboratorium hasil.
3. Langkah Post-analitis, yang melibatkan transmisi data laboratorium untuk
penyedia klinis, yang menggunakan informasi untuk pengambilan
keputusan.

8
Meskipun minimalisasi kesalahan analitis menjadi fokus utama dari
perkembangan di laboratorium kedokteran, kesalahan bisa terjadi pada langkah
lainnya. Analisis menunjukkan bahwa dalam laboratorium, kesalahan pra-analitis
menyumbang 62% dari semua kesalahan, dengan mewakili pasca-analitis 23%
dan analitis 15% dari semua kesalahan laboratorium. Yang paling umum
kesalahan pra-analitis termasuk urutan yang salah transmisi (pada frekuensi
sekitar 3% dari semua pesanan) dan hemolisis (sekitar 0,3% dari seluruh sampel).
Penyebab sering lain dari pra-analitis kesalahan adalah sebagai berikut (Carraro P,
Zago T, & Plebani M., 2012)
1. Kesalahan identifikasi Pasien
2. Kesalahan Tabung-mengisi, tabung kosong, tabung hilang, atau kontainer
sampel yang salah
3. Kontaminasi Sampel atau dikumpulkan dari infus rute
4. Suhu sampel yang tidak memadai.
Untuk meminimalkan kesalahan identifikasi, sistem perawatan kesehatan
menggunakan point-of-perawatan sistem identifikasi, yang biasanya melibatkan
berikut (Carraro, P., Plebani, M., 2007):
1. Perangkat genggam yang terhubung ke laboratorium sistem informasi
(LIS) yang obyektif dapat
2. Mengidentifikasi pasien dengan memindai pasien-terpasang bar code,
biasanya wrist band.
3. Perintah laboratorium sekarang dapat diambil dari LIS.
4. Idealnya, informasi koleksi, seperti tabung yang benar jenis, ditampilkan
dalam perangkat.
5. Label Bar-kode yang tercetak di sisi pasien, meminimalkan kemungkinan
lupa tempat menyimpan label pada sampel pasien yang salah. Kesalahan
analitis yang sebagian besar disebabkan oleh gangguan atau penyebab
belum diakui lainnya dari ketidaktelitian, sedangkan instrumen kesalahan
acak hanya menyumbang 2% dari semua kesalahan laboratorium dalam
satu studi.

9
BAB III
PENUTUP

III.1 Kesimpulan
Pemeriksaan klinik merupakan hal penting yang harus dilaksankan untuk
mengetahui kondisi kesehatan suatu individu, dimana tahapan yang paling
menentukan keabsahan suatu hasil pemeriksaan adalah tahap praanalitik, dimana
pada tahap ini kondisi pasien dan cara penanganan spesimen sampel harus
diperhatikan, dari uraian diatas, salah satu faktor yang mempengaruhi hasil
pemeriksaan klinis adalah umur dan jenis kelamin, dimana pada usia muda
kandungan baik pada serum ataupun cairan fisiologis tubuh lainnya berbeda
dengan orang dewasa begitupun dengan wanita berbeda dengan laki-laki.
Pemeriksaan laboratorium yang akurat dan ketelitian dalam tahap kegiatan di
laboratorium sangat penting untuk meminimalisir terjadinya kesalahan dalam
pemeriksaan di laboratorium klinik..
III.2 Saran
Dalam pemeriksaan laboratorium klinik sebaiknya dilakukan dengan
penuh ketelitian karena kesalahan sedikit saja dapat berakibat fatal, utamanya
dalam pemeriksaan laboratorium untuk kepentingan diagnosis suatu penyakit,
baik itu pada tahapan preanalitik, analitik, maupun post analitik.
Makalah ini masih jauh dari kata sempurna sehingga kritik dan saran yang
bersifat membangun sangat penulis harapkan.

10
DAFTAR PUSTAKA

Carraro P, Plebani M. 2007. Errors in a stat laboratory: types and frequencies 10


years later. Clin Chem, 53(7):1338_42.

Carraro P, Zago T, Plebani M. 2012. Exploring the initial steps of the testing
process: frequency and nature of pre-preanalytic errors. Clin Chem,
58(3):638_42.

Depkes. 2004. Pedoman Program Pemberantasan Penyakit ISPA untuk


Penanggulangan Pneumonia pada Balita. Jakarta: Departemen Kesehatan
Republik Indonesia.

Depkes. 2010. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor


1792/MenKes/SK/XII/2010 tentang Pedoman Pemeriksaan Kimia Klinik.
Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Hartini, S., Suryani, M.E. 2016. Uji Kualitas Serum Simpanan Terhadap Kadar
Kolesterol dalam Darah Di Poltekkes Kemenkes Kaltim. Jurnal Ilmiah
Manuntung, 2(1), 65-69.

Muslim, M., Kustiningsih, Y., & Yanuarti, E. 2015. Pemanfaatan Pool Serum
Sebagai Bahan Kontrol Ketelitian Pemeriksaan Glukosa Darah. Medical
Laboratory Technology Journal, 1(2), 54-60.

Dasgupta, A, Jorge L. Sepulveda. 2013. Accurate Results In The Clinical


Laboratory A Guide to Error Detection and Correction. Amsterdam:
Elsevier.

Kee, J. L. 1997. Buku Saku Pemeriksaan Laboratorium dan Diagnostik dengan


Implikasi Keperawatan, Edisi 2. Jakarta: EGC.

11