Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG


Irigasi berasal dari istilah irrigatie dalam bahasa Belanda atau irrigation
dalam bahasa. inggris. Jadi irigasi dapat diartikan sebagai usaha yang dilakukan
untuk mendatangkan air dari sumbernya guna keperluan pertanian,mengalirkan
dan membagi air secara teratur dan setelah digunakan dapat dipakai kembali.
Untuk memberikan pertumbuhan yang baik pada tanaman,maka perlu pemberian
air secara teratur. Untuk mencapai hal tersebut maka kita membutuhkan apa yang
disebut irigasi,yaitu usaha untuk mengambil air dari sumber air yang dala mini
adalah sungai dengan jalan membuat bangunan tempat pengambilan air yang
biasa kita sebut bendung,kemudian sumber air tersebut di alirkan kedaerah yang
dialiri, serta air tersebut harus dibagi-bagikan secara teratur.

1.1.1. Arti Irigasi


Irigasi merupakan suatu ilmu yang memanfaatkan air untuk
tanaman mulai dari tumbuh sampai masa panen. Air tersebut diambil dari
sumbernya, dibawa melalui saluran, dibagikan kepada tanaman yang
memerlukan secara teratur, dan setelah air tersebut terpakai, kemudian
dibuang melalui saluran pembuang menuju sungai kembali. Irigasi
dihendaki dalam situasi:
a) Bila jumlah curah hujan lebih kecil daripada kebutuhan tanaman
b) Bila jumlah curah hujan mencukupi tetapi distribusi dari curah hujan
tidak bersamaan dengan waktu yang dikehendaki tanaman.

1.1.2. Aspek Irigasi


Ada 2 aspek irigasi, yaitu :
a. Aspek Engeineering, menyangkut:
- Penyimpanan, penyimpangan dan pengangkutan

1
- Membawa air ke ladang pertanian
- Pemakaian air untuk persawahan
- Pengeringan air yang berlebihan
- Pembangkit tenaga air

b. Aspek Agricultural, menyangkut:


- Kedalaman pemberian air
- Distribusi air secara seragam dan berkala
- Kapasitas dan aliran yang berbeda
- Reklamasi tanah tandus (basah) dan tanah alkaline (kering)

1.1.3. Manfaat Irigasi


Adapun manfaat irigasi yang dapat kita ambil adalah:
a. Sistem dapat menjamin sepenuhnya persediaan air untuk tanaman
b. Sistem dapat menjamin waktu panen pada saat musim kering
c. Menjaga suhu tanah agar tetap dingin
d. Mencuci garam-garam yang berada didalam tanah
e. Memperkecil resiko rembesan air tanah
f. Agar tanah lebih mudah dikerjakan pada waktu membajak

1.2. MAKSUD DAN TUJUAN IRIGASI


Maksud daripada irigasi adalah sebagai suatu usaha yang dilakukan untuk
mendatangkan air atau menangkap air dari sumbernya guna keperluan pertanian.
Yang berkaitan dengan pembuatan sarana dan prasarana untuk mengalirkan atau
membagikan air secara teratur sera membuang kelebihan air yang tidak diperlukan
lagi oleh tanaman pertanian. Istilah pengairan sering terdengar dan dapat diartikan
sebagai usaha pemanfaatan air pada umumnya.
Tujuan direncanakan irigasi untuk membasahi tanah agar dicapai suatu
kondisi tanah yang baik untuk tanaman, dalam hal ini berkaitan dengan prosentase
kandungan air dan udara diantara butir-butir tanah serta untuk perbaikan tanah
yang melalui pengairan dapat mengalirkan bahan-bahan pupuk.

2
Maksud itu dapat dibagi dalam:
a. Membasahi tanah / memberi air
b. Merabuk / mengalirkan air, zat-zat dalam lumpur untuk tanaman
c. Mengatur suhu tanah
d. Kolmatase
- Pengaliran air mengandung kumpur ke daerah lebih rendah
- Mengisi rawa-rawa dan membasmi nyamuk
e. Membersihkan air kotor
f. Meninggikan air tanah
g. Menghindari gangguan dalam tanah
- Membasmi hama dalam tanah (tikus, ulat)
- Menghilangkan pengganggu dalam tanah / kadar garam (dinetralkan)

Secara tidak langsung pengairan irigasi dapat pula menunjang usaha


pertanian melalui berbagai cara, antara lain:
a. Pengaturan suhu tanah, misalnya suhu tanah yang terlalu tinggi maka dapat
diturunkan dengan cara mengalirkan air sehingga suhu tanah menurun.
b. Pembersihan racun tanah dengan cara menggenangi sawah dengan air untuk
melarutkan unsure racun kemudian air genangan dialirkan kembali melalui
saluran pembuang.
c. Memberantas hama dalam tanah dan yang bersarang dalam akar tanaman
dengan cara menggenangi sawah (flooding method) dengan air.
d. Mempertinggi permukaan air tanah, dengan perembesan melalui dinding
saluran, permukaan air tanah dapat dipertinggi.
e. Memungkinkan untuk mengambil air melalui akar-akarnya meskipun
permukaan tanah tidak basah.
f. Membersihkan buangan air kota dengan prinsip pengenceran karena tanpa
pengenceran air kotor dari kota akan berpengaruh buruk terhadap
pertumbuhan tanaman.
g. Kolmatase, yaitu menimbun tanah-tanah yang rendah dengan mengalirkan air

3
yang berlumpur dari akibat pengendapan lumpurnya sehingga elevasi tanah
yang rendah bertambah tinggi dan genangan air selanjutnya tidak akan dalam
dan memungkinkan dibuat di daerah pertanian.

1.3. LOKASI PERENCANAAN


Topografi daerah yang kurang menguntungkan mengakibatkan air hujan
yang jatuh dipermukaan tanah sebagian besar mengalir menuju tempat yang
rendah akibatnya tempat yang rendah berlebihan air,sehingga saat dataran yang
lebih tinggi memerlukan air maka harus mengambil air didaerah yang rendah,
sedangkan pengambilan air dar daerah yang rendah membutuhkan tenaga besar.
Oleh sebab itu timbulah pemikiran bahwa pembuatan irigasi sangat dibutuhkan
oleh petani.
Jika daerah yang akan di survey sudah di tentukan maka diadakan
fasibility study tentang pengembangan daerah :
a. Daerah tanpa fasilitas irigasi.
b. Daerah yang menggunakan air secara irasional.
c. Daerah yang pertahapan penggunaan airnya tidak stabil
Tabel saluran sekunder Bandar Baru, Arakundo, Tanjung Bintah, Paya Naden,
Madat dan Paya Demam.
NO. DAERAH IRIGASI LUAS AREA

1. BB.1. Kn 91,15 Ha
2. BB.2.A.Kn 22,76 Ha
3. BB.2.Kn 82,80 Ha
4. BB.3.Kn 13.00 Ha
5. BB.5.Kn 89.00 Ha
6. BB.5.Kr 6.60 Ha
7. BB.6.Kn 72.00 Ha
8. BB.7.Kn 131.25 Ha
9. BB.8.Kn 25.00 Ha
10. BB.9.Kn 68.00 Ha

4
11. BB.10.A.Kn 52,00 Ha
12. BB.10.B.Kn 64.25 Ha
13. BB.10.Kn 17.83 Ha
14. AK.2.Kr 57,25 Ha
15. AK.3.Kr 23.50 Ha
16. M.1.Kr 124.50 Ha
17. M.2.Kn 161,75 Ha
18. M.2.Kr 122,60 Ha
19. M.3.Kr 81,75 Ha
20. M.4.Kn.Kn 19,47 Ha
21. M.4.Kr.Kr 19,26 Ha
22. M.4.Kn.Kr 17,53 Ha
23. M.4.Kr.Kn 18,35 Ha
24. TB.1.Kn 18.45 Ha
25. P.1.Kr 96.00 Ha
26. P.1.Kn.A 82.00 Ha
27. P.1.Kn.B 82.26 Ha
28. PD.1.Kn 21.50 Ha
29. PD.2.Kn 49,05 Ha
30. PD.3.Kn 133.10 Ha
Total 1863,96 Ha

Gambar peta irigasi : D.I JAMBO AYE


Skema Jaringan Irigasi : BANDAR BARU, ARAKUNDO, TANJUNG
BONTAH, PAYA NADEN, MADAT Dan PAYA
DEMAM.
Luas Areal Irigasi : 1863,96 Ha
Air normal : 2,30 L/det/Ha

Untuk mendapatkan debit normal air yang akan dialiri keseluruhan


persawahan adalah:

5
(jumlah air bersih (Nfr) x Luas total area persawahan) : (e total) Effiensi irigasi
secara keseluruhan =
(2,30 L/det/Ha x 1863,96 Ha) : (0,9 x 0,9 x 0,8) = 6615,907 L/det
= 6,615907 m3/det
Pada debit intake yang cukup yaitu 8,000 m3/det. Jadi air yang akan dialiri
keseluruh persawahan mencukupi.
Q intake cukup Q normal air yang akan dialiri kepersawahan.
8,000 m3/det 6,616 m3/det

1.4. SASARAN YANG INGIN DICAPAI


Perencanaan irigasi pada Daerah irigasi Jambo Aye adalah untuk
merencanakan suatu sistem irigasi yang bermanfaat, tepat guna dan berhasil agar
persawahan dapat dialiri dengan debit air yang cukup dan dengan biaya yang
relatif minim (ekonomis) dan juga mendapatkan dimensi saluran yang efektif dan
ideal.

1.5. PRAKIRAAN HASIL


Perencanaan pembangunan irigasi bertujuan agar kebutuhan air dapat
terpenuhi dengan maksimal yang sesuai dengan areal pertanian yang sudah
ditentukan seperti :
Saluran Priemer didaerah Bandar Baru, Tanjung Antah, Paya Naden,
Madat, Paya Demam.
Saluran Sekunder didaerah Bandar Baru, Tanjung Antah, Paya Naden,
Madat, Paya Demam dan
Saluran Tersier didaerah Bandar Baru, Tanjung Antah, Paya Naden,
Madat, Paya Demam.

6
BAB II
PEMBAGIAN PETAK IRIGASI

2.1. TAHAP TAHAP PERENCANAAN IRIGASI


Dalam perencanaan irigasi maka perlu diadakan survey terlebih dahulu,
mengenai kondisi tanah pertanian dan kebutuhan air serta sumber air yang
dibutuhkan didaerah penyaluran yang akan dialiri irigasi. Tahap yang terpenting
dalam perencanaan irigasi adalah pengambilan data-data dalam penyusunan
perencanaan.
Dan saat ini permintaan masyarakat lokal untuk dibuatkan irigasi
merupakan hal yang paling pokok dalam perencanaan daerah irigasi. Dalam hal
ini penulis mencoba mengambil data pada lokasi:
Gambar Peta Daerah Irigasi : D.I JAMBO AYE
Gambar Sub Daerah Irigasi : BANDAR BARU, ARAKUNDO, TANJUNG
BONTAH, PAYA NADEN, MADAT Dan PAYA
DEMAM.
Skema Jaringan Irigasi : Sal. Sek.BANDAR BARU, Sal. Sek.
ARAKUNDO, Sal. Sek. TANJUNG BONTAH,
Sal. Sek. PAYA NADEN, Sal. Sek MADAT dan
Sal. Sek. PAYA DEMAM.
Luas Areal Irigasi : 1890,87 Ha
Kebutuhan Air Normal : 2,30 L/det/Ha

2.1.1. Survey Mengenai Keadaan Sekarang


Survey dilakukan untuk mengetahui sebab-sebab, Daerah tersebut
membutuhkan sarana irigasi agar pembangunan irigasi dilakukan tidak sia-
sia maka perlu ditinjau beberapa proses yaitu :
a. Menentukan luas daerah yang akan dialiri oleh irigasi.
b. Menentukan daerah yang akan disurvey serta wawancara dengan
masyarakat tani untuk mendapatkan data-data yang akurat terhadap
kebutuhan sarana irigasi yang dibutuhkan daerah pertanian baik secara

7
teknis perencanaan maupun kebutuhan masyarakat tani.
c. Memeriksa dan membuat perbandingan debit sumber air serta ukuran-
ukuran fasilitas yang telah ada dengan kebutuhan.

Adapun hal-hal yang mempengaruhi produktifitas pertanian yang


layak untuk diperhatikan dalam perencanaan adalah
1. Pengaruh Iklim
Iklim mempunyai kaitan dengan suhu udara yang berpengaruh pada
penguapan (evaporasi) dan transpirasi. Terjadinya perbedaan suhu
udara merupakan salah satu sebab terjadinya angin terhadap lajunya
penguapan.
2. Siklus Air
Hidrologi membuktikan adanya siklus air yang terjadi. Kebutuhan air
untuk pengairan tanaman pertanian dengan kwalitas dan kwantitas
yang tepat guna sasaran dapat meningkatkan produksi tanaman petani
secara maksimal menurut waktu yang diharapkan oleh kalangan
petani. Berhubung sirkulasi dan distribusi air di alam tidak merata atau
tidak sesuai dengan kebutuhan tanaman ditiap-tiap daerah pertanian
maka timbulah pemikiran agar irigasi dapat membagi rata kebutuhan
air menurut kebutuhan tanaman petani. Dengan adanya irigasi maka
yang memerlukan air dapat mengalirkan air kepertanian yang
dibutuhkan sedangkan yang airnya berlebih dapat membuangnya
melalui drainase sehingga usaha dan hasil produktivitas pertanian
dapat dilakukan secara maksimal.
3. Topografi
Topografi daerah yang kurang menguntungkan mengakibatkan air
hujan yang jatuh dipermukaan tanah sebagian besar mengalir menuju
tempat yang rendah akibatnya tempat yang rendah berlebihan air,
Sehingga saat dataran yang lebih tinggi memerlukan air maka harus
mengambil air dari daerah yang rendah sedangkan pengambilan air
dari daerah yang rendah membutuhkan tenaga besar oleh sebab itu

8
timbulah pemikiran bahwa pembuatan irigasi sangat dibutuhkan oleh
pertanian.

2.1.2. Penyusunan Daerah


Jika daerah yang akan disurvey sudah ditentukan maka diadakan
feasibility study tentang pengembangan daerah :
a. Daerah tanpa fasilitas irigasi.
b. Daerah yang menggunakan air secara irasional.
c. Daerah yang pertahapan penggunaan airnya tidak stabil.

2.1.3. Survey Kebutuhan Air


Survey ini dibagi 2 (dua) bagian yaitu :
a. Kebutuhan Air Di Persawahan
Kebutuhan air untuk persawahan di Daerah yang kecil diperkirakan
dari dalamnya kebutuhan air dikali dengan luas daerah irigasi dan
ditambah dengan kehilangan air dalam saluran.
b. Kebutuhan Air Di Ladang
Kebutuhan air diladang diperkirakan dengan mengalihkan
evapotranspirasi dengan luas Daerahnya.

2.1.4. Survey Saluran Irigasi Dan Drainase Yang Ada


Survey dilakukan untuk mengambil data mengenai air agar
diketahui banyaknya air yang tersedia untuk pertanian dan yang sanggup
di buang melalui drainase. Irigasi dan drainase mempunyai fungsi yang
saling mendukung dalam usaha mencapai hasil produktivitas yang optimal
bagi pertanian. Penetapan jaringan irigasi erat kaitannya dengan jaringan
drainase dan pada kondisi tertentu jaringan irigasi dan drainase dibuat
terpisah.
Saluran irigasi yang berfungsi ganda sebagai saluran pemberi dan
saluran drainase akan menimbulkan kesulitan pengoperasian. Mengingat
dasar penentuan kapasitas antara saluran pemberi dan saluran drainase

9
memang berbeda maka balk saluran maupun bangunan yang mempunyai
fungsi ganda akan menjadi sukar perhitungannya dan mahal biaya
pembuatannya. Jadi pada keadaan umum sebagai prinsip dikehendaki
adanya jaringan irigasi dan jaringan drainase yang terpisah. Karena saluran
drainase ditentukan berdasarkan jumlah volume air pada suatu daerah
yang harus dibuang dalam jangka waktu tertentu sedangkan saluran irigasi
ditentukan berdasarkan kebutuhan air maksimal untuk tanaman pertanian
dengan memperhatikan koefesiensi kehilangan air saat mencapai
tujuannya.

2.1.5. Survey Data Hidrologi Dan Metodologi


Data-data yang perlu dikumpul yaitu :
a. Data meteorologi meliputi curah hujan, suhu evaporasi, kecepatan
angin, suhu udara, kelembaban, lamanya penyinaran matahari.
b. Survey air tanah.
c. Survey kwalitas karena terkadang mengandung unsur berbahaya, bagi
tanaman dan suhu air yang terlalu dingin juga akan merusak hasil
produksi tanaman.

2.2. PEMBAGIAN DAERAH IRIGASI


Saluran induk adalah saluran yang mengambil air langsung dari bangunan
penangkap air yaitu bendung pada sungai. Daerah pengairan yang dilayani saluran
induk ini merupakan daerah irigasi yang disebut petak primer. Saluran sekunder
mengambil air dari saluran induk atau saluran primer dan melayani sebagian
daerah dalam petak primer. Daerah yang dilayani saluran sekunder disebut petak
skunder. Saluran tersier mengambil air dari bangunan pembagi pada saluran
skunder maupun pada saluran primer dan melayani suatu satuan luas yang disebut
petak tersier. Cabang saluran tersier ini merupakan saluran kwarter dan melayani
petak kwarter. Dalam suatu daerah irigasi, pembagian daerah kedalam petak yang
lebih kecil dengan maksud mencapai pembagian daerah yang ideal untuk
mendukung pengelolaan air yang efektif tidak selalu mudah berhubung keadaan

10
daerah yang sudah punya batas alam yang tidak beraturan. Agar pembagian air di
tiap sektor menjadi baik maka dibuat saluran sub untuk melayani petak sub
tersebut. Saluran kwarter dalam pembicaraan irigasi sering disebut dengan saluran
distribusi. Pengelolaan air pada tingkat tersier pada umumnya dilakukan oleh
petani dan kontrolnya dilakukan pemerintah.

2.3. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBUTUHAN AIR


Banyaknya kebutuhan air tergantung pada :
a. Jenis Tanaman.
Padi membutuhkan air lebih banyak dari pada jenis tanaman lainnya.
b. Jenis Tanah.
Tanah liat mempunyai kapasitas menahan air lebih tinggi dan
permeabilitas kecil. Pasir mempunyai kapasitas menahan air yang
lebih kecil dan permeabilitas yang lebih tinggi. Tanah liat
membutuhkan air lebih sedikit dibandingkan dengan tanah pasir, tanah
pada daerah tenggulon adalah gambut keabu-abuan.
c. Topografi.
Daerah yang permukaan tanahnya miring membutuhkan air yang lebih
banyak dibandingkan dengan dataran yang tanahnya datar sebab pada
daerah miring air yang mengalir dipermukaan lebih besar dari pada
yang meresap kedalam tanah. Sedangkan pada daerah datar yang
terjadi adalah sebaliknya.
d. Iklim.
Faktor iklim yang dominan dalam mempengaruhi kebutuhan air adalah
suhu. Semakin tinggi suhu maka semakin tinggi penguapan dan makin
besar pula kebutuhan air. Iklim pada daerah tenggulon adalah dingin.
e. Cara Bercocok Tanam.
Penanaman secara bergilir (rotasi), membutuhkan lebih sedikit air
maksimum yang harus dialirkan kesuatu lokasi disbanding dengan
penanaman serentak.

11
2.4. RANCANGAN SUMBER AIR DAN PENYALURAN AIR
Cara pemberian air harus diselidiki dengan memperhatikan hal-hal sebagai
berikut :
a. Jenis dan lokasi sumber air.
b. Cara penyaluran air dan fasilitas penyaluran air.
c. Sambungan sumber air dengan fasilitas penyaluran air dan besarnya air
yang dialirkan.
d. Cara memperbaiki suhu air, kwalitas air dan letak fasilitas-fasilitasnya.

2.4.1. Sumber Air Dan Cara Pengambilannya


Pemilihan sumber air hendaknya berdasarkan beberapa kondisi
dasar antara lain :
a. Debit minimum air yang tersedia cukup besar.
b. Jumlah air yang tersedia cukup besar.
c. Kwalitas dan suhu air yang baik.

2.4.2. Penyaluran Dan Distribusi Air


Penyaluran dapat digunakan dengan membuat saluran dan air
secara alamiah mengalir ke lokasi yang lebih rendah atau bersamaan
dengan pemompaan. Jika lokasi yang dialiri letaknya lebih tinggi dari
sumber air, maka terpaksa harus digunakan pompa untuk menaikkan air.

2.5. RANCANGAN KEBUTUHAN AIR


Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah :
a. Cara penentuan besarnya keperluan air, biasanya ditentukan
berdasarkan hasil yang diukur sebenarnya.
b. Penentuan air yang diperlukan untuk pengelolaan tanah.
c. Keperluan air untuk daerah yang luas.

2.6. SISTEM IRIGASI


Ada 5 (lima) jenis sistem irigasi yang telah ada, sistem yang akan dipakai
tergantung pada keadaan topografi, biaya serta teknologi yang ada.

12
2.6.1. Irigasi Gravitasi (Open Grafitasi Irrigation)
Sistem ini adalah sistem irigasi yang telah memanfaatkan gaya
tarik bumi untuk mengalirkan air. Air mengalir dari tempat yang tinggi
menuju tempat yang lebih rendah karena gaya grafitasi. Jenis irigasi yang
termasuk dalam sitem irigasi gravitasi adalah :
a. Irigasi genangan liar.
Air dialirkan kepermukaan sawah melalui sedikit bangunan pengatur,
terdiri dari beberapa jenis yaitu :
1. Irigasi tanah lebak (lebak tanah yang lebih rendah disepanjang sisi
sungai).
2. Irigasi banjir.
3. Irigasi pasang surut (tidak dikendalikan).
b. Irigasi genangan dari saluran.
Pemberian dan pembuangan air dapat dikendalikan sepenuhnya,
terbagi beberapa jenis pula yaitu :
1. Irigasi genangan.
2. Irigasi petak jalur.
3. Irigasi petak.
4. Irigasi alur dan gelombang.
Air dialirkan melalui alur-alur yang berada di sisi deretan tanaman.

2.6.2. Irigasi Bawah Tanah (Sup Surface Irrigation)


Air tanah dialiri melalui bawah permukaan tanah. Air dialirkan
melalui saluran-saluran dari sisi petak sawah. Akibat adanya air ini, muka
air tanah pada petak-petak sawah akan naik, kemudian air tanah akan
mencapai zona akaran secara kapiler. Dengan demikian tanaman
memperoleh air.

2.6.3. Irigasi Tetesan (Trickle Irrigation)


Sistem irigasi disalurkan melalui jaringan pipa dan di teteskan
tepat di sekitar perakaran tanaman. Irigasi ini juga menggunakan mesin
pompa air sebagai tenaga penggerak.

13
2.6.4. Irigasi Siraman (Closed Grafitation Irrigation)
Pada sistem ini air disalurkan melalui jaringan pipa, kemudian
disemprotkan ke permukaan tanaman. Irigasi ini juga menggunakan mesin
pompa air sebagai tenaga penggerak.

2.6.5. Irigasi Pasang Surut


Sistem irigasi ini memanfaatkan terjadinya surut air laut untuk
mengairi sawah, berbeda dengan irigasi pasang surut genangan liar, irigasi
pasang surut ini dapat dikendalikan sepenuhnya. Gravitasi sistem irigasi
yang dipakai dalam pengerjaan tugas ini adalah sistem irigasi dengan jenis
saluran irigasi genangan.
Air di salurkan ke saluran pembawa, dari saluran pembawa ini air
disadap menggenangi petak sawah tertinggi, kemudian mengalirkannya
sampai kepetak sawah yang paling rendah. Air yang berlebihan yaitu air
sisa yang mengalir dari petak sawah paling bawah/akhir dari suatu petak
tersier dibuang melalui saluran pembuang (drainase). ldealnya setiap
sawah mempunyai tempat penyadapan dan pembuangan sendiri.

2.7. JENIS SALURAN


Air yang dialiri dari sumbernya ke petak-petak sawah, dari petak sawah ke
saluran pembuangan seluruhnya melalui saluran irigasi. Dilihat dari fungsinya,
saluran dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok.

2.7.1. Saluran Pembawa


Mengaliri air dari sumber ke petak sawah, dilihat dari tingkat
percabangannya, saluran pembawa dibedakan menjadi :
a. Saluran primer, mengaliri air dari sumbernya dan membagikan ke
saluran-saluran sekunder.
Irigasi dari sungai biasanya dilakukan dengan mendirikan bendung
untuk menaikkan muka air dan menyadapnya melalui saluran yang
mengalirkan air kesaluran primer. Pertama dibahas dulu dari peta

14
situasi yang telah dibuat apakah kita memerlukan sebuah saluran
primer atau lebih. Jika lokasi yang akan dialiri terletak disepanjang sisi
sungai saja, maka cukup dibuat satu saluran primer saja.
Lain halnya jika lokasi itu berbentuk memanjang, yang menjurus ke
arah sungai, dalam hal ini sebaiknya beberapa saluran primer masing-
masing menerima air langsung dari sungai.
Biaya pembuatan akan bertambah tetapi akan tertutup dibanding
murahnya dengan biaya pembuatan saluran, karena saluran akan lebih
kecil dimensinya. Selain itu sebuah saluran primer yang harus
melayani lokasi yang panjang sekali harus berukuran besar dan
kehilangan energinyapun besar. Selanjutnya untuk saluran yang
demikian itu, biasanya memotong sungai atau saluran-saluran kecil
dan titik potong itu terpaksa di buat bangunan yang mahal untuk
mengalirkan saluran primer. Adapun daerah yang harus di alirkan
mempunyai kemiringan yang agak kecil sehingga air dapat langsung di
sadap dari sungai.
b. Saluran sekunder, membawa air dari saluran primer dan
membagikannya kesaluran-saluran tersier.
Dari saluran primer air akan disadap oleh saluran-saluran sekunder
untuk dialirkan daerah yang sedapat mungkin dikelilingi oleh saluran-
saluran alam dan digunakan untuk membuang air yang berlebihan.
Jalan raya, jalan kereta api dapat merupakan batas-batas yang baik
sebab dengan menggunakan jalan raya sebagai batas kita dapat
sekaligus menggunakannya sebagai jalan inspeksi dari saluran
sekunder. Untuk mengalirkan petak sekunder yang jauh dari bangunan
sadap, kita dapat menggunakan saluran muka sehingga kita tidak perlu
membuat bangunan yang mahal.
Saluran punggung yaitu saluran yang memotong/melintang terhadap
garis tinggi sedemikian rupa sehingga melalui titik tertinggi dari
daerah sekitar.
c. Saluran tersier, membawa air dari saluran sekunder dan membagikan

15
kepetak-petak sawah.
Dari saluran sekunder, air disadap oleh saluran tersier untuk petak
dengan luas yang sesuai dengan perencanaannya. sebagai batas petak
tersier yang terletak di sepanjang saluran primer dan menerima
langsung dari saluran tersier maka di gunakan saluran-saluran alam,
jalan-jalan, jalan kereta api dan tanah-tanah tinggi. Dalam hal ini,
saluran menerima air tanpa melalui saluran-saluran sekunder. Jika
saluran tersier disadap dari saluran sekunder yang merupakan saluran
garis tinggi maka saluran tersier dapat mengalirkan air dalam dua arah.

2.7.2. Saluran Pembuang


Saluran pembuang digunakan untuk membuang air yang
berlebihan dari petak sawah ke sungai. Saluran lembah yaitu saluran yang
memotong melintang terhadap garis tinggi, saluran lembah melalui lembah
dari ketinggian tanah-tanah setempat. Sungai-sungai atau saluran
pembuang biasanya merupakan saluran lembah.

2.8. JENIS BANGUNAN IRIGASI


Air dibagikan kesaluran-saluran atau petak sawah melalui bangunan-
bangunan irigasi, bangunan irigasi di kelompokkan dalam 2 (dua) kelompok.

2.8.1. Bangunan Pokok


a. Bangunan penangkap air yang fungsinya menghimpun air, misalnya
waduk dan bendungan.
b. Bangunan bagi yaitu bangunan tempat saluran yang lebih besar
membagikan air ke saluran-saluran yang lebih kecil.
c. Bangunan sadap yaitu bangunan tempat saluran primer atau sekunder
membagikan air ke petak sawah.
d. Bangunan pengukur untuk mengukur air yang dibagikan/disadap di
bangunan pembagi.

16
2.8.2. Bangunan Pelengkap
a. Bangunan persilangan yaitu sarana irigasi yang memotong sungai
untuk melintaskan air menyeberangi sungai atau jalan raya.
b. Bangunan terjun atau bangunan jungkir berfungsi sebagai pemusnah
energi berlebihan yang timbul akibat perbedaan tinggi muka air yang
besar.
c. Pintu bilas yaitu untuk menghanyutkan endapan ke saluran.
d. Bangunan peluap untuk membuang kelebihan debit air.

2.8.3. Nomenklatur
Nomenklatur adalah nama petunjuk (indeks) yang jelas dan singkat
dari suatu objek, yaitu petak atau saluran ataupun bangunan. Sehingga
akan memudahkan dalam pelaksanaan aksploitasi dan pemeliharaan dari
tiap-tiap bagian dari jaringan irigasi syarat-syarat dalam penentuan indeks
adalah sebagai berikut :
a. Sebaiknya terdiri dari satu huruf.
b. Huruf harus dapat menyatakan petak, saluran atau bangunan.
c. Letak objek dan saluran beserta arahnya.
d. Jenis saluran pengangkut dan pembuang.
e. Jenis bangunan untuk pembagian dan pemberian air dan talang siphon.
f. Jenis petak, primer atau sekunder.
Cara-cara pemberian nama
1) Bangunan utama : bendung, rumah pompa, pengambilan bebas dengan
namanya sesuai dengan nama kampung terdekat lokasi irigasi. Sungai
yang disadap airnya dengan kodenya.
2) Saluran induk namanya sesuai dengan nama sungai atau kampung
terdekat dan di imbuhi indeks angka 1, 2, 3 dan seterusnya yang
menyatakan ruas salurannya.
3) Saluran sekunder namanya yang sesuai dengan nama kampung, desa
atau kota terdekat.
4) Bangunan bagi/sadap dengan namanya sesuai dengan nama saluran

17
dihulunya dan di imbuhi indeks angka 1, 2, 3 dan seterusnya.
5) Bangunan silang seperti gorong-gorong, talang, jembatan dan siphon
namanya sesuai dengan letak bangunan pada ruas saluran.
6) Di dalam petak tersier diberi kotak berukuran panjang 3 cm dan lebar
1,5 cm. Dalam kotak ini diberi kode dari saluran mana petak tersebut
mendapat air irigasi. Arah saluran tersier kanan atau kiri dari bangunan
bagi/sadap dilihat dari aliran air kotak dibagi menjadi dua bagian, atas
dan bawah. Bagian bawah dibagi dua yaitu kanan dan kiri kolom
sebelah kiri menunjukkan luas petak dalam hektar dan kolom sebelah
kanan menunjukkan besar debit air yang diperlukan untuk menentukan
dimensi saluran tersier dalam liter/detik.
Contoh :

L . BR . 1 . Kn

311 Ha 0,816375 m3/det

Dimana :
L . BR . = Nama Saluran
Kn = Arah Sebelah Kanan
311 Ha = Luas Petak Area
0,816375 m3/det = Besarnya Debit dalam satuan m3 /det

18
BAB III
PERENCANAAN SALURAN

Saluran yang direncanakan dalam tugas ini adalah saluran Primer,


Sekunder dan saluran Tersier.

3.1 PERENCANAAN
Faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam perencanaan saluran adalah :
a. Dimensi saluran didasarkan pada kapasitas terbesar, yaitu kapasitas
pada musim kemarau.
b. Letak saluran pembawa harus sedemikian rupa sehingga seluruh areal
dapat dialiri. Untuk itu sedapat mungkin saluran di letakkan di
punggung bukit.
c. Saluran pembawa sedapat mungkin dipisahkan dari saluran pembuang.
Kecepatan pada saluran pembawa kecil sedangkan saluran pembuang
kecepatan besar.
d. Saluran primer mempunyai syarat syarat :
1). Saluran primer tidak terlalu panjang.
2). Kemiringan saluran harus kecil.
3). Usahakan aliran selalu lurus.

3.1.1. Kapasitas Saluran


Besarnya kapasitas saluran tergantung dari luas daerah yang akan dialiri.
Kapasitas saluran dapat dihitung dengan rumus :
Saluran induk :
Axa Axa
Q
e total e saluran induk / Primer x e saluran skunder x e saluran tersier

Contoh Soalnya :
A x a 1863,96 x 2,30
Q = 6615,907 L/det/Ha = 6,616 m3/det
e total 0,9 x 0,9 x 0,8

19
Axa Axa
Saluran skunder : Q
e total e saluran skunder x e saluran tersier

Contoh Soalnya :
A x a 1863,96 x 2,30
Q = 5954,317 L/det/Ha = 5,954 m3/det
e total 0,9 x 0,8

Ax a Ax a
Saluran tersier : Q
e total e saluran tersier

Contoh Soalnya :
A x a 1863,96 x 2,30
Q = 5358,885 L/det/Ha = 5,359 m3/det
e total 0,8

Dimana : Q = Debit Saluran (m3/detik).


A = Luas yang dialiri = 1863,96
NFR = Kebutuhan bersih (netto) air sawah = (2,30 lt/dt/ha).
e total = Effisiensi irigasi secara keseluruhan.
e Saluran induk/primer = 0,9
e Saluran skunder = 0,9
e Saluran tersier = 0,8

3.1.2. Menentukan Muka Air Tiap Saluran


1. Saluran Tersier
Tinggi muka air pada saluran tersier, ditentukan oleh letak sawah
tertinggi yang akan dialiri pada petak tersier, tinggi air yang tergenang
disawah diambil setinggi 0,10 m di tambah dengan panjang saluran
yang di alirkan dengan kemiringannya.
2. Saluran Skunder dan Saluran Primer
Untuk menetukan tinggi muka air saluran skunder adalah tergantung
tinggi muka air saluran tersier yang akan dialirkan oleh salurannya dan
tinggi muka air di hilir ditambah panjang saluran dikali kemiringan
salurannya.
3.2. MENENTUKAN DIMENSI TIAP SALURAN

20
Kapasitas aliran di suatu saluran dihitung dengan rumus sticler :
1) V = k.R 2/3 . I1/2
Dimana : V = Kecepatan Aliran
R = Jari-jari Hidrolis
I = Kemiringan Saluran
k = Koefisien kekasaran strickler
untuk k = 44,88 m1/3/dt. k = 45 m1/3/dt

Secara praktis dapat digunakan rumus :


2) V = 0,42 . Q 0,182

Rumus untuk menghitung/mendesain dimensi saluran dapat digunakan :


3) R = A / P
4) A = (b + m.h). h b = n.h
A = (n.h + m.h). h
A = (n + m). h2
5) P = b + 2.h m2 1

6) Q = V.A
Dimana :
I = Jari-jari Hidrolis (m)
A = Luas Penampang Q/V (m2)
w

I
P = Keliling Basah (m)
h
m

b
p
b = Lebar Dasar (m)
h = Tinggi Air (m)
m = Kemiringan Talut

21